Aleandra selalu percaya bahwa rumah tangga yang dia bangun bersama Raffael adalah sebuah permata yang tak lekang oleh waktu, berkilau sempurna tanpa cela. Setiap sudut apartemen mewah mereka di jantung kota Jakarta adalah saksi bisu tawa renyah, sentuhan lembut, dan janji-janji yang terucap di bawah rembulan. Aleandra, seorang arsitek lanskap dengan reputasi yang cukup disegani di kalangan atas, menganggap dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia. Dia memiliki segalanya: karier yang cemerlang, seorang suami tampan dan mapan yang-setidaknya di matanya-sangat mencintainya, dan seorang putra semata wayang, Arya, yang kini beranjak lima tahun, adalah jantung kehidupannya.
Rutinitas pagi mereka adalah potret ideal sebuah keluarga modern. Pukul enam, Aleandra sudah terbangun, menyiapkan sarapan ringan yang seringkali hanya berupa oatmeal dengan buah beri segar dan green tea untuk dirinya dan Raffael. Suaminya, seorang eksekutif muda di sebuah perusahaan multinasional, selalu tampil prima dengan setelan jas mahal dan senyum menawan yang seringkali membuat Aleandra berdebar seperti saat pertama kali mereka bertemu tujuh tahun lalu. Arya, dengan rambut cokelat acak-acakan dan mata bulat polosnya, akan bergabung di meja makan, sibuk dengan sereal kartun favoritnya. Aleandra akan mencium kening Arya sebelum dia berangkat ke sekolah dengan supir pribadi, lalu beralih kepada Raffael, merapikan dasinya, dan memberikan kecupan ringan di pipi suaminya. Mereka berdua akan berangkat kerja dengan mobil terpisah, menjalani hari yang sibuk, dan bertemu lagi di malam hari untuk makan malam, seringkali di restoran-restoran mewah, atau sesekali Aleandra memasak hidangan favorit Raffael.
Kehidupan Aleandra adalah tarian indah antara profesionalisme dan kehangatan keluarga. Klien-kliennya memujinya karena visinya yang inovatif dalam mengubah lahan kosong menjadi mahakarya hijau, sementara di rumah, dia adalah ibu yang penuh kasih dan istri yang setia. Dia tak pernah sekalipun meragukan kesetiaan Raffael. Pria itu selalu tampak begitu mencintainya, memujinya, bahkan terkadang mengirimkan bunga ke kantornya tanpa alasan khusus, hanya untuk menunjukkan betapa dia menghargai Aleandra. Teman-teman dekatnya seringkali iri, mengatakan bahwa Aleandra hidup dalam dongeng. Dan Aleandra, dalam kebodohannya, setuju.
Namun, dongeng itu mulai menunjukkan retakannya pada malam itu, malam yang seharusnya menjadi perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh. Aleandra telah merencanakan kejutan. Dia pulang kerja lebih awal, memasak steak wagyu yang paling disukai Raffael, menyalakan lilin aromaterapi, dan memilih gaun malam hitam yang pernah Raffael puji habis-habisan. Dia bahkan mematikan lampu ruang tamu, hanya menyisakan cahaya remang dari lilin, menciptakan suasana romantis yang sempurna. Pukul delapan malam, Raffael belum juga tiba. Aleandra mencoba menghubunginya, tetapi ponselnya langsung masuk ke kotak suara. Sebuah keanehan, karena Raffael biasanya akan mengirim pesan jika dia akan terlambat.
Pukul sembilan, kegelisahan mulai merayapi hati Aleandra. Dia mengirim pesan, "Sayang, kamu di mana? Makan malam sudah siap. Selamat ulang tahun pernikahan." Tak ada balasan. Pukul sepuluh, lilin sudah meleleh separuh, steak sudah dingin, dan jantung Aleandra berdetak tak keruan. Dia mencoba menghubungi teman-teman Raffael, kolega-koleganya, siapa pun yang mungkin tahu keberadaannya. Nihil.
Saat tengah malam hampir tiba, ponsel Aleandra akhirnya berdering. Nama Raffael tertera di layar. Sebuah desahan lega lolos dari bibir Aleandra. "Raffael, kamu di mana saja? Aku khawatir sekali!" serunya, suaranya sedikit bergetar karena campuran lega dan amarah.
Ada jeda sejenak. Lalu, suara Raffael terdengar, tetapi bukan suara yang biasa Aleandra dengar. Itu suara yang berat, serak, seolah dia baru saja menangis atau baru bangun tidur. "Aleandra... Maafkan aku. Aku ada pekerjaan mendadak di luar kota. Ada masalah besar di proyek kita. Aku harus langsung ke sana."
Mata Aleandra mengerjap. "Pekerjaan mendadak? Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa ponselmu tidak aktif?"
"Aku... aku tidak sempat. Semuanya serba cepat. Ponselku mati dan tidak ada charger. Aku baru bisa pinjam ponsel teman sekarang. Aku minta maaf, Aleandra. Aku tahu ini ulang tahun pernikahan kita. Aku akan menebusnya saat aku pulang." Suaranya terdengar meyakinkan, penuh penyesalan. Terlalu meyakinkan, pikir Aleandra.
"Baiklah," jawab Aleandra, berusaha menekan keraguan yang tiba-tiba muncul. Dia mencoba percaya, mencoba membuang pikiran buruk yang mulai berbisik di benaknya. Ini Raffael. Suaminya. Pria yang tak pernah sekalipun mengecewakannya. "Baiklah. Hati-hati di jalan. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," jawab Raffael, dan sambungan pun terputus.
Aleandra mematikan lilin, menyimpan makanan yang sudah dingin ke dalam kulkas, dan mengganti gaunnya dengan piyama. Dia berbaring di tempat tidur, mencoba tidur, tetapi otaknya terus memutar ulang percakapan itu. Ada sesuatu yang janggal. Cara Raffael berbicara, jeda-jeda aneh, dan alasan yang terkesan dibuat-buat. Raffael selalu membawa power bank atau charger cadangan. Dan pekerjaan mendadak di luar kota? Biasanya, dia akan diberitahu jauh-jauh hari jika ada perjalanan bisnis. Keraguan itu, meskipun kecil, mulai menancap kuat di hatinya.
Keesokan harinya, Aleandra bangun dengan perasaan tidak enak. Dia mencoba fokus pada pekerjaannya, tetapi pikirannya terus melayang kepada Raffael. Dia membuka laptopnya, tetapi bukannya email pekerjaan, tangannya mengetikkan nama Raffael di kolom pencarian internet, lalu nama perusahaannya. Dia mencari berita proyek mendadak, masalah besar. Tidak ada. Semuanya tampak normal.
Kegelisahan itu memuncak saat siang hari. Aleandra memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dia menelepon sekretaris Raffael, seorang wanita muda bernama Diana, yang selama ini selalu ramah padanya.
"Halo, Diana? Ini Aleandra."
"Oh, Ibu Aleandra! Ada yang bisa saya bantu?" suara Diana ceria seperti biasa.
"Maaf mengganggu, Diana. Raffael ada di kantor?" Aleandra mencoba terdengar santai, meskipun jantungnya berdegup kencang.
"Bapak Raffael? Tadi pagi Bapak datang sebentar, tapi beliau langsung pergi lagi, Bu. Katanya ada urusan penting di luar."
"Di luar kota?" Aleandra mencoba memancing informasi.
"Ehm... setahu saya tidak, Bu. Beliau hanya bilang ada pertemuan penting di salah satu restoran. Kenapa, Bu? Ada sesuatu yang mendesak?"
Dunia Aleandra terasa berputar. Raffael berbohong. Raffael tidak ke luar kota. Dia tidak ada pekerjaan mendadak. Ada pertemuan penting di restoran? Perut Aleandra serasa diaduk-aduk. Kepalanya berdengung. Apa yang disembunyikan Raffael?
"Tidak, Diana. Tidak ada apa-apa. Terima kasih," jawab Aleandra, lalu buru-buru menutup telepon.
Tangannya gemetar saat dia mencoba mengetikkan sesuatu di ponselnya. Restoran? Restoran apa? Dia mencoba mengingat semua restoran yang biasa Raffael kunjungi untuk pertemuan bisnis. Tidak ada yang terlintas di benaknya. Otaknya kosong, dipenuhi oleh satu pikiran: Raffael berbohong padanya.
Selama seminggu berikutnya, Raffael kembali ke rutinitasnya. Dia pulang ke rumah, bersikap seperti biasa, memeluk Aleandra, bermain dengan Arya. Dia bahkan membawa Aleandra makan malam di restoran mewah, mencoba "menebus" ulang tahun pernikahan mereka. Tetapi bagi Aleandra, setiap sentuhan Raffael terasa hambar, setiap perkataannya terasa palsu. Dia mengamati Raffael, mencoba menemukan celah, tanda-tanda kebohongan. Raffael tampak sedikit lebih lelah, sering melamun, dan sesekali ponselnya disembunyikan seolah takut Aleandra melihatnya. Insting Aleandra, yang selama ini terabaikan oleh cinta buta, kini menjerit-jerit.
Puncaknya terjadi pada suatu malam, saat Raffael tertidur pulas di sampingnya. Ponsel Raffael berkedip, menandakan ada pesan masuk. Aleandra tidak pernah menyentuh ponsel Raffael sebelumnya. Rasa hormat dan kepercayaan selalu menghalanginya. Tapi kali ini, dorongan untuk tahu kebenaran terlalu kuat. Dia meraih ponsel itu, tangannya gemetar.
Layar ponsel menunjukkan notifikasi dari aplikasi pesan. Nama pengirimnya adalah "Bidadariku".
Napas Aleandra tercekat. Bidadariku? Siapa ini? Dengan jantung berdebar kencang, ia membuka pesan itu.
Selamat pagi, Sayangku. Terima kasih untuk malam yang indah kemarin. Aku tidak sabar menunggu akhir pekan kita di Bali. Aku cinta kamu.
Sebuah foto terlampir di bawah pesan itu. Foto seorang wanita muda, cantik, dengan rambut panjang tergerai dan senyum menawan. Wanita itu berada di sebuah kamar hotel mewah, dan di belakangnya, samar-samar terlihat kemeja pria yang tergantung di kursi. Kemeja yang sangat familiar. Kemeja Raffael.
Dunia Aleandra runtuh. Kata-kata itu, foto itu, menamparnya telak. Bukan pekerjaan mendadak. Bukan masalah proyek. Raffael berselingkuh. Dan yang lebih menyakitkan, dia berselingkuh tepat di malam ulang tahun pernikahan mereka. Selama ini, dia hidup dalam sebuah kebohongan besar yang dibangun dengan begitu rapi.
Air mata mulai mengalir deras di pipi Aleandra, tanpa suara. Dia tidak ingin membangunkan Raffael. Dia menatap wajah suaminya yang tertidur pulas, wajah yang selama ini dia percaya, dia cintai, dia sayangi. Kini, wajah itu tampak asing, penuh kebohongan yang tak terucapkan. Pengkhianatan ini terasa lebih dalam daripada tusukan pisau. Itu adalah penghancuran total atas setiap kenangan, setiap janji, setiap momen kebahagiaan yang dia kira adalah nyata.
Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan mengunci pintunya. Di sana, di depan cermin, dia melihat pantulan dirinya. Wanita yang selama ini begitu percaya diri, kini tampak rapuh, hancur. Wajahnya pucat, matanya bengkak, dan air mata terus mengalir. Dia tidak menangis meraung, hanya isakan-isakan kecil yang lolos dari bibirnya, isakan-isakan yang penuh dengan rasa sakit, penyesalan, dan kemarahan yang membara.
Dia merasa konyol. Bagaimana dia bisa begitu buta? Bagaimana dia tidak melihat tanda-tanda itu? Kecurigaan kecilnya di awal, telepon Diana, dan kini, pesan dan foto itu. Semuanya adalah bukti yang telanjang, tetapi dia terlalu sibuk dalam mimpinya sendiri untuk menyadarinya.
Aleandra menghabiskan sisa malam itu di kamar mandi, mencoba menenangkan diri, mencoba berpikir. Apa yang harus dia lakukan? Marah? Menggugat cerai? Menghadapi Raffael? Pikiran itu terasa terlalu berat. Dia merasa mati rasa, seperti seluruh jiwanya telah direnggut.
Keesokan paginya, Aleandra bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menyapa Raffael, menyiapkan sarapan, dan mengantar Arya ke sekolah seperti biasa. Tetapi ada dinding tak terlihat yang berdiri di antara dia dan Raffael. Setiap sentuhan Raffael terasa menjijikkan, setiap perkataannya terasa seperti racun. Dia menjaga jarak, menghindari tatapan mata Raffael, dan mencari alasan untuk tidak berada di ruangan yang sama dengannya.
Raffael sepertinya tidak menyadari perubahan itu. Atau mungkin dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri untuk memperhatikan. Itu semakin menyakitkan Aleandra. Pria ini, suaminya, ayah dari putranya, tidak peduli. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Aleandra tahu.
Beberapa hari berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Aleandra berusaha mengumpulkan kekuatannya, menyusun kata-kata untuk menghadapi Raffael. Dia tidak ingin gegabah, terutama demi Arya. Dia harus memikirkan Arya.
Suatu sore, saat Arya sedang tidur siang dan Raffael belum pulang dari kantor, Aleandra memutuskan bahwa ini adalah saatnya. Dia akan menghadapi Raffael. Dia akan menuntut kejelasan. Dengan tangan gemetar, dia mengambil ponselnya dan mencari kontak "Bidadariku" di ponsel Raffael. Wanita itu adalah kunci dari semua kehancuran ini.
Dia menekan nomor itu. Jantungnya berdetak seperti genderang perang.
Setelah beberapa dering, sebuah suara wanita yang lembut, manja, dan sedikit genit menjawab, "Halo, Sayang? Kok tumben telepon pakai nomor lain?"
Darah Aleandra mendidih. "Ini bukan Sayangmu," suara Aleandra terdengar datar, nyaris tanpa emosi, meskipun di dalamnya ada badai yang mengamuk. "Ini Aleandra, istri sah dari Raffael."
Ada keheningan panjang di ujung sana. Lalu, suara wanita itu berubah menjadi panik. "A-Aleandra? Maksud Anda... Bu Aleandra? Istri Bapak Raffael?"
"Benar. Dan aku ingin kau tahu, aku sudah tahu semuanya. Semua kebohongan yang kalian berdua rangkai di belakangku."
"Saya... saya minta maaf, Bu. Saya tidak tahu kalau Bapak Raffael sudah menikah. Dia bilang dia single." Suara wanita itu terdengar gemetar, dan Aleandra bisa mendengar nada kepanikan yang jujur di sana.
Mata Aleandra menyipit. Bohong. Raffael tidak mungkin bilang dia single. Dia selalu memakai cincin pernikahannya. Foto-foto mereka berdua sering diunggah di media sosialnya, meskipun Raffael bukan orang yang terlalu aktif di sana. Apakah wanita ini benar-benar tidak tahu, atau dia hanya berpura-pura?
"Jangan berbohong padaku. Kalian berdua sudah sejauh ini. Jadi, katakan padaku, siapa kau? Dan apa maumu dari suamiku?" Aleandra mencoba mengendalikan emosinya, agar tidak terdengar histeris. Dia butuh informasi.
"Nama saya Nayla, Bu. Saya... saya hanya karyawan baru di kantor Bapak Raffael. Dia... dia bilang dia akan menceraikan istrinya. Dia bilang pernikahannya sudah lama tidak bahagia." Suara Nayla terdengar seperti akan menangis.
Setiap kata yang keluar dari bibir Nayla adalah pukulan telak bagi Aleandra. Tidak bahagia? Setelah semua pengorbanan yang dia lakukan? Setelah dia menunda mimpinya untuk membangun bisnis sendiri demi mendukung karier Raffael? Setelah dia rela mengurangi jam kerjanya demi mengurus Arya dan memastikan rumah mereka selalu nyaman bagi Raffael? Tidak bahagia? Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah dia dengar.
"Pernikahan kami sangat harmonis, Nayla. Sampai kau datang," Aleandra berkata dingin. "Kau tahu, pengorbanan yang kubuat untuk pria itu, tidak ada apa-apunya dibandingkan dengan kedatanganmu yang sesaat."
"Saya... saya tidak bermaksud begitu, Bu. Saya benar-benar tidak tahu. Bapak Raffael sangat meyakinkan. Dia bilang dia kesepian, dia butuh seseorang. Dia bilang Bapak dan Ibu sudah tidak tidur sekamar lagi."
Aleandra hampir saja tertawa getir. Omong kosong! Mereka tidur di ranjang yang sama setiap malam, sampai malam ulang tahun pernikahan mereka. Raffael telah menciptakan narasi kebohongan yang sempurna untuk memanipulasi wanita ini, dan mungkin, dirinya sendiri.
"Dengar, Nayla. Aku tidak tahu apa yang dia katakan padamu, tapi aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku tidak akan membiarkan ini berlanjut. Tinggalkan suamiku. Sekarang juga."
"Tapi, Bu... Bapak Raffael berjanji akan menikahi saya. Dia bilang dia mencintai saya," suara Nayla kini terdengar seperti rengekan, seperti anak kecil yang permennya direbut.
Janji? Cinta? Kata-kata itu begitu mudah keluar dari mulut Raffael, begitu mudah diucapkan kepada wanita lain. Air mata Aleandra kembali mengalir, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena kemarahan yang membara.
"Kau bisa percaya apa pun yang dia katakan, tapi aku sarankan kau berpikir dua kali. Karena pria yang berbohong kepada istrinya sendiri, tidak akan segan berbohong kepadamu juga. Jadi, jauhkan dirimu dari keluargaku. Ini peringatan pertama dan terakhirku."
Aleandra menutup telepon tanpa menunggu jawaban Nayla. Tangannya gemetar, tubuhnya dingin, tetapi ada perasaan puas yang aneh. Setidaknya, dia sudah melangkah. Dia sudah menghadapi salah satu dari mereka. Kini tinggal Raffael.
Malam itu, Raffael pulang seperti biasa, dengan senyum ramah yang kini terasa seperti topeng. Aleandra telah menyiapkan makan malam seperti biasa, tetapi dia tidak duduk di meja makan bersamanya. Dia memilih makan di dapur, beralasan dia sudah makan duluan. Raffael tampak sedikit bingung, tetapi tidak berkomentar.
Setelah Arya tidur, Aleandra duduk di ruang tamu, menyalakan lampu terang, dan menunggu Raffael. Dia tahu ini akan menjadi konfrontasi yang panjang dan menyakitkan.
Raffael muncul dari kamar mandi, mengenakan piyama, dan duduk di sofa di seberang Aleandra. "Kenapa kamu belum tidur, Sayang?" tanyanya, suaranya lembut.
Aleandra menatapnya lurus. Matanya kosong, tanpa kehangatan yang biasa Raffael lihat. "Kita perlu bicara, Raffael."
Raffael mengerutkan kening. "Ada apa? Kamu terlihat tidak baik-baik saja."
"Oh, ya? Apakah aku terlihat tidak baik-baik saja? Mungkin karena aku baru saja menemukan bahwa suamiku adalah seorang pembohong dan penipu."
Wajah Raffael berubah. Senyumnya lenyap, dan ekspresi bingung muncul di wajahnya. "Apa yang kamu bicarakan, Aleandra? Aku tidak mengerti."
Aleandra bangkit, berjalan ke arah meja kopi, dan meletakkan ponsel Raffael di sana, dengan layar yang menunjukkan pesan dari "Bidadariku" dan foto Nayla.
"Ini," kata Aleandra, suaranya tenang tetapi penuh ancaman. "Aku bicara tentang ini. Tentang 'pekerjaan mendadak di luar kota' yang sebenarnya adalah tidur dengan wanita lain di malam ulang tahun pernikahan kita. Tentang 'Bidadariku' yang bernama Nayla, seorang karyawan baru di kantormu, yang kau janjikan akan kau nikahi."
Raffael menatap ponsel itu, lalu ke Aleandra, wajahnya pucat pasi. Ekspresi terkejut dan ketakutan melintas di matanya. Dia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Raffael," Aleandra melanjutkan, air mata kini mulai menggenang di matanya, tetapi dia menahannya. Dia tidak akan menangis di depan pria ini. Dia tidak akan memberinya kepuasan itu. "Aku sudah bicara dengan Nayla. Dia bilang kau bilang padanya bahwa kau kesepian, bahwa pernikahan kita tidak bahagia, bahwa kau akan menceraikanku."
Raffael akhirnya menemukan suaranya, meskipun serak. "Aleandra, itu tidak benar. Aku... aku bisa menjelaskan semuanya."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan," ulang Aleandra, kini suaranya meninggi. "Semua sudah jelas. Kau mengkhianatiku. Kau menghancurkan segalanya. Kau membuatku merasa bodoh, konyol, karena selama ini aku percaya padamu. Aku mengorbankan begitu banyak hal untukmu, Raffael! Dan kau membalasnya dengan cara ini?"
"Aleandra, tolong dengarkan aku," Raffael beranjak dari sofa, mencoba mendekat. "Aku bersumpah, ini hanya kesalahan. Aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu, Aleandra. Hanya kamu."
Aleandra mundur selangkah. "Jangan sentuh aku. Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu. Cinta? Cinta macam apa ini? Cinta yang kau berikan pada wanita lain? Cinta yang kau berikan padaku adalah ilusi, Raffael. Sebuah kebohongan besar."
"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya... aku hanya tersesat, Aleandra. Aku berjanji akan mengakhirinya. Aku akan memutuskan hubungan dengannya. Kita bisa memperbaiki ini." Ada nada memohon dalam suaranya, tetapi Aleandra tidak lagi tergerak.
"Memperbaiki? Bagaimana kau bisa memperbaiki sesuatu yang sudah hancur berkeping-keping? Kau menghancurkan kepercayaanku, Raffael. Dan tanpa kepercayaan, tidak ada pernikahan." Aleandra menatapnya dengan tatapan tajam, penuh tekad yang dingin. "Aku ingin kau pergi. Malam ini."
Raffael terkesiap. "Pergi? Ke mana? Ini rumah kita."
"Bukan. Ini rumahku. Dan Arya. Kau bisa pergi ke mana pun kau mau. Tapi jangan pernah muncul di sini lagi, kecuali untuk mengurus perceraian kita. Dan untuk Arya, kau akan bertemu dengannya di luar. Aku tidak ingin dia melihatmu di sini, setelah semua kebohongan ini."
"Aleandra, jangan seperti ini. Aku mohon. Pikirkan Arya. Kita adalah keluarga." Raffael mencoba memainkan kartu Arya, tetapi Aleandra sudah kebal.
"Aku memikirkan Arya. Dan Arya tidak pantas memiliki ayah seorang penipu dan pembohong. Kau yang merusak keluarga ini, Raffael. Bukan aku."
Ketegasan Aleandra membuat Raffael menyadari bahwa ini bukan lagi gertakan. Matanya dipenuhi kepanikan yang nyata. "Aleandra, tolong... beri aku kesempatan lagi. Aku akan berubah. Aku akan membuktikan padamu."
"Terlambat, Raffael," Aleandra menggelengkan kepala. "Kepercayaan itu seperti kaca. Sekali pecah, tidak akan pernah bisa utuh kembali, meskipun kau mencoba merekatkannya. Aku sudah selesai. Kita sudah selesai."
Ada jeda panjang yang menyakitkan. Udara di antara mereka terasa tebal dengan pengkhianatan dan kehancuran. Raffael menatap Aleandra, mencoba menemukan celah, tetapi wajah wanita itu kini keras, dingin, dan asing baginya. Wanita yang selama ini begitu lembut, kini tampak seperti patung es.
"Baiklah," kata Raffael akhirnya, suaranya rendah dan penuh kekalahan. Dia tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa dia katakan untuk mengubah pikiran Aleandra. Tekad di mata Aleandra adalah final. Dia mengambil tas kerjanya, kunci mobilnya, dan beberapa barang yang tergeletak di ruang tamu.
Sebelum dia melangkah keluar, Raffael menoleh lagi kepada Aleandra. "Kau akan menyesal, Aleandra. Kau tidak akan bisa tanpaku. Kau bukan apa-apa tanpa aku."
Kata-kata itu, yang seharusnya menyakitkan, justru memicu percikan api di mata Aleandra. Kemarahan yang tadi terpendam kini membakar. "Kita lihat saja, Raffael," jawab Aleandra, suaranya tajam dan penuh keyakinan yang baru ditemukan. "Kita lihat saja siapa yang akan menyesal pada akhirnya. Aku akan membuktikan padamu dan pada seluruh dunia bahwa kau salah. Aku akan bangkit, menjadi lebih kuat, dan kau akan menjadi penonton dari semua kesuksesanku."
Raffael menatapnya dengan tatapan tak percaya, seolah dia tidak mengenali wanita di depannya. Lalu, dengan desahan berat, dia membalikkan badan dan melangkah keluar dari apartemen itu, meninggalkan Aleandra sendirian dalam keheningan yang memekakkan.
Saat pintu tertutup di belakang Raffael, Aleandra akhirnya membiarkan air matanya mengalir deras. Kali ini, air mata itu bukan hanya karena kesedihan, tetapi juga karena tekad yang membara. Dunianya memang hancur, tetapi dia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kehancuran itu. Demi Arya, demi harga dirinya, dan demi membalaskan sakit hati yang tak terhingga ini, Aleandra akan bangkit. Dia akan menunjukkan kepada Raffael dan mantan ibu mertuanya, yang selalu meremehkannya, bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar. Ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah awal dari sebuah babak baru, di mana Aleandra akan menulis ulang takdirnya sendiri.
Malam itu, setelah pintu apartemen menutup di balik punggung Raffael, keheningan yang sebelumnya menyesakkan kini terasa dingin dan hampa. Aleandra berdiri terpaku di ruang tamu, napasnya tersengal, dan seluruh tubuhnya bergetar. Dia sudah mengusirnya. Pria yang selama ini menjadi poros hidupnya, ayah dari putranya, kini tidak ada lagi di sisinya. Sebuah kekosongan yang menganga lebar tiba-tiba mengambil alih tempat di mana kebahagiaan palsu itu pernah bersemayam.
Air mata yang tertahan selama percakapan sengit itu akhirnya tumpah ruah. Aleandra tidak lagi menahannya. Dia jatuh berlutut di atas karpet Persia yang lembut, isakan-isakan pilu mengoyak dada. Ini bukan hanya tentang pengkhianatan Raffael; ini tentang kehilangan ilusi, tentang hancurnya mimpi yang telah dia bangun dengan hati-hati selama bertahun-tahun. Kenangan-kenangan manis, sentuhan lembut, janji-janji yang diucapkan di bawah rembulan, semuanya kini terasa seperti debu, menodai setiap sudut ingatannya.
"Aku bodoh!" bisiknya di antara isakan, tangannya mencengkeram erat gaun tidurnya. "Bagaimana aku bisa sebodoh ini?" Rasa sakit itu begitu intens, membakar dari dalam, seolah ada bara api yang melahap setiap sel di tubuhnya. Dia tidak tahu berapa lama dia menangis di sana, meringkuk dalam kegelapan dan kesepian yang baru. Waktu terasa berhenti, terlarut dalam kesedihan yang tak berujung.
Pikiran tentang Arya adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak sepenuhnya tenggelam. Putranya. Masih polos, masih tidur pulas di kamarnya, tidak tahu bahwa dunianya baru saja berubah drastis. Aleandra tahu dia harus kuat demi Arya. Dia harus bangkit. Tidak peduli seberapa hancur perasaannya, dia harus menunjukkan bahwa dia bisa bertahan, bahkan tanpa Raffael. Perkataan Raffael yang menusuk telinga-"Kau bukan apa-apa tanpaku"-terus terngiang, memicu api kemarahan di tengah puing-puing hatinya. Api itu, betapapun kecilnya, adalah satu-satunya yang memberinya kekuatan untuk bergerak.
Perlahan, dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Aleandra bangkit. Dia menyeret langkahnya ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang sembap dengan air dingin. Memandang pantulan dirinya di cermin, dia melihat seorang wanita dengan mata merah bengkak dan wajah pucat pasi. Tapi di balik kesedihan itu, ada kilatan tekad yang mulai menyala. Dia tidak akan menjadi korban. Dia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam. Dia akan membalas semua ini, dengan caranya sendiri.
Malam itu adalah malam tanpa tidur bagi Aleandra. Dia duduk di sofa ruang tamu, matanya terpaku pada kegelapan di luar jendela, otaknya berputar memikirkan langkah-langkah selanjutnya. Pertama, Arya. Dia harus melindungi Arya dari kehancuran ini. Putra kecilnya tidak boleh melihat ibunya rapuh, apalagi membenci ayahnya. Kedua, perceraian. Ini harus diselesaikan secepat mungkin. Ketiga, dan yang paling penting, dirinya sendiri. Dia harus membangun kembali kehidupannya, lebih kuat, lebih sukses, sehingga Raffael akan menyesal telah membuangnya.
Pagi menjelang. Matahari mengintip dari celah tirai, membawa cahaya baru yang terasa ironis dengan kegelapan di hati Aleandra. Dia menyiapkan sarapan untuk Arya seperti biasa, berusaha keras untuk tampil normal. Saat Arya muncul dengan rambut acak-acakan dan senyum ceria, jantung Aleandra terasa sakit, tetapi juga dipenuhi cinta yang melimpah. Arya adalah alasannya. Arya adalah kekuatannya.
"Mama, Papa mana?" tanya Arya polos, celotehan paginya yang biasa kini terasa seperti tusukan jarum.
Aleandra tersenyum paksa. "Papa sedang ada pekerjaan mendadak di luar kota, Sayang. Mungkin beberapa hari baru pulang." Itu adalah kebohongan pertama yang harus dia ucapkan demi melindungi putranya. Dia membenci dirinya sendiri karena itu, tetapi dia tahu ini adalah yang terbaik untuk saat ini.
Selama beberapa hari berikutnya, Aleandra bergerak seperti robot. Dia mengurus Arya, pergi bekerja, dan mencoba menjalani rutinitasnya. Namun, setiap momen terasa berat. Kantin kantor yang biasanya ramai terasa sunyi. Proyek-proyek yang dulu memicu semangatnya kini terasa hambar. Rasa kehilangan dan pengkhianatan terus menggerogotinya. Beberapa teman kerjanya, terutama Bianca, sahabat karibnya sejak kuliah, menyadari ada yang salah.
"Aleandra, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," Bianca mendekat di sela-sela jam makan siang. Bianca, dengan rambut ikal dan senyum hangatnya, selalu menjadi tempat Aleandra bersandar.
Aleandra hanya menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, Bianca. Hanya sedikit lelah."
Bianca memegang tangannya. "Aleandra, aku kenal kamu. Kamu bisa bercerita padaku."
Melihat tatapan tulus di mata Bianca, bendungan air mata Aleandra kembali nyaris jebol. Dia tahu dia tidak bisa menyembunyikannya lebih lama. Sore itu, setelah jam kerja usai, Aleandra meminta Bianca untuk menemaninya ke sebuah kafe sepi. Di sana, di antara hiruk pikuk kota yang mulai mereda, Aleandra menceritakan semuanya: dari kecurigaan awal, penemuan pesan di ponsel Raffael, panggilan ke Nayla, hingga konfrontasinya dengan Raffael dan pengusirannya.
Bianca mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah dari prihatin menjadi marah. Saat Aleandra selesai bercerita, Bianca membanting cangkir kopinya ke meja, nyaris membuatnya tumpah.
"Kurang ajar! Bajingan itu! Beraninya dia melakukan itu padamu?" seru Bianca, suaranya tertahan agar tidak menarik perhatian. "Aku tidak pernah menyangka Raffael sebrengsek itu. Aku selalu berpikir dia adalah pria yang sempurna."
"Aku juga," bisik Aleandra, air mata kembali membasahi pipinya. "Aku merasa seperti orang bodoh. Aku menghabiskan tujuh tahun hidupku untuknya, untuk membangun keluarga ini. Dan dia menghancurkannya dalam sekejap."
"Aleandra, dengarkan aku," Bianca meraih tangan Aleandra, menggenggamnya erat. "Kamu bukan orang bodoh. Kamu adalah korban dari kebohongan dan pengkhianatan. Dan pria itu, Raffael, dia akan menyesal. Aku bersumpah. Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik."
Dukungan Bianca terasa seperti embun di padang gersang. Aleandra tidak tahu betapa dia membutuhkan seseorang untuk berada di sisinya, untuk mengatakan bahwa dia tidak sendirian.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Bianca.
"Aku akan menceraikannya," jawab Aleandra dengan suara penuh tekad. "Dan aku akan memastikan dia membayar mahal untuk semua ini. Aku akan bangkit, Bianca. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku lebih dari cukup tanpa dia. Dia bilang aku bukan apa-apa tanpanya? Dia akan melihat."
Kilatan di mata Aleandra membuat Bianca tersenyum. "Itu Aleandra yang aku kenal! Wanita tangguh yang tidak pernah menyerah. Aku akan mendukungmu. Apa pun yang terjadi."
Langkah pertama adalah mencari pengacara. Dengan bantuan Bianca, Aleandra menghubungi seorang pengacara perceraian terkenal, Bapak Suryo, yang dikenal dengan ketegasannya dalam membela klien wanita. Pertemuan pertama mereka di kantor Bapak Suryo terasa berat. Aleandra harus mengulang kembali semua detail pengkhianatan Raffael, setiap kebohongan, setiap luka. Bapak Suryo mendengarkan dengan tenang, mencatat setiap poin dengan cermat.
"Jadi, Bu Aleandra, bukti yang Anda miliki adalah pesan dan foto di ponsel suami Anda, serta pengakuan dari wanita selingkuhan itu?" tanya Bapak Suryo, kacamatanya melorot di hidung.
"Ya, dan saya bersedia bersaksi di pengadilan jika diperlukan. Nayla juga, saya yakin dia akan bersaksi jika ditekan," jawab Aleandra, suaranya mantap.
"Baik. Bukti ini cukup kuat untuk mengajukan gugatan cerai dengan alasan perselingkuhan, yang akan memperkuat posisi Anda dalam pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak," jelas Bapak Suryo. "Namun, kita harus bersiap untuk perlawanan dari pihak suami Anda. Biasanya, dalam kasus seperti ini, mereka akan mencoba menyangkal atau membalikkan fakta."
Aleandra mengangguk. Dia sudah siap untuk itu. "Saya tidak peduli. Saya hanya ingin ini cepat selesai. Dan saya ingin hak asuh Arya sepenuhnya. Saya tidak ingin Arya tumbuh di lingkungan yang tidak sehat."
Bapak Suryo mengangguk setuju. "Itu wajar. Untuk sementara ini, sebaiknya Anda tetap di apartemen. Kita akan segera mengirimkan surat panggilan mediasi."
Proses perceraian dimulai. Beberapa hari kemudian, surat panggilan mediasi tiba di alamat Raffael. Reaksinya, seperti yang diprediksi, adalah kemarahan. Dia menelepon Aleandra berkali-kali, memaki, mengancam, dan memohon secara bergantian.
"Aleandra, apa-apaan ini? Gugatan cerai? Kau gila? Jangan mempermalukan kita!" teriak Raffael melalui telepon.
"Kau yang mempermalukan kita, Raffael. Sejak kau tidur dengan wanita lain," balas Aleandra dingin. "Aku sudah bilang, aku tidak akan mundur. Temui pengacaraku. Kita selesaikan ini baik-baik atau buruk."
Raffael terus mengancam akan mengambil Arya, akan menyulitkan hidup Aleandra, akan menyebarkan berita buruk tentangnya. Tetapi Aleandra sudah terlalu sakit untuk takut. Ancaman Raffael hanya memperkuat tekadnya. Dia menutup telepon, dadanya bergemuruh. Ini baru permulaan.
Ibu mertua Aleandra, Nyonya Karina, juga tidak tinggal diam. Nyonya Karina adalah wanita tua yang angkuh dan selalu meremehkan Aleandra. Sejak awal pernikahan, Nyonya Karina tidak pernah menyukai Aleandra, menganggapnya tidak cukup pantas untuk putranya yang "sempurna" itu. Dia seringkali melontarkan komentar sinis tentang latar belakang keluarga Aleandra yang tidak sekaya mereka, atau tentang karier Aleandra yang dianggapnya "tidak seprestisius" pekerjaan Raffael.
Beberapa hari setelah gugatan cerai dilayangkan, Nyonya Karina menelepon Aleandra.
"Aleandra! Apa yang kau lakukan pada putraku? Beraninya kau menggugat cerai Raffael? Kau tahu betapa malu keluarga kami?" suara Nyonya Karina melengking tinggi, penuh amarah.
"Putra Anda berselingkuh, Nyonya Karina. Dia menghancurkan rumah tangga ini," jawab Aleandra tenang, meskipun hatinya bergemuruh.
"Omong kosong! Raffael tidak mungkin melakukan itu! Dia anak baik-baik. Pasti kau yang memancingnya, kau yang tidak becus melayani suami! Kau pikir kau siapa? Kau itu bukan apa-apa tanpa Raffael!" Kata-kata Nyonya Karina menusuk, persis seperti yang dikatakan Raffael.
Mendengar itu, api kemarahan Aleandra menyala semakin terang. Dia sudah muak diremehkan. Dia sudah muak dituduh.
"Dengar, Nyonya Karina," kata Aleandra, suaranya kini penuh ketegasan yang dingin. "Saya tidak peduli apa pendapat Anda tentang saya. Yang jelas, putra Anda adalah seorang pengkhianat. Dan saya tidak akan menoleransi itu. Saya akan menceraikannya. Dan saya akan mendapatkan hak asuh Arya. Anda bisa terus membelanya, tetapi kebenaran akan terungkap."
"Beraninya kau bicara seperti itu pada ibu mertuamu? Kau akan menyesal, Aleandra! Aku akan memastikan kau tidak mendapatkan sepeser pun dari harta Raffael! Dan Arya akan ikut dengan ayahnya! Kau akan menjadi janda miskin yang kesepian!" ancam Nyonya Karina, tertawa mengejek.
"Kita lihat saja nanti, Nyonya Karina. Kita lihat siapa yang akan menjadi janda miskin. Dan saya bersumpah, saya akan memastikan Anda dan putra Anda melihat saya sukses, jauh di atas kalian. Kalian akan menjadi penonton kesuksesan saya." Aleandra menutup telepon tanpa menunggu balasan Nyonya Karina. Tangannya mengepal erat, matanya memancarkan tekad membara.
Ancaman dan penghinaan dari Raffael serta ibunya justru menjadi bahan bakar bagi Aleandra. Dia menyadari bahwa kesedihan tidak akan membawanya ke mana-mana. Yang dia butuhkan adalah kekuatan, strategi, dan rencana balas dendam. Bukan balas dendam yang merusak diri sendiri, tetapi balas dendam yang membangun dirinya menjadi versi yang lebih baik, lebih kuat, dan tak terjangkau oleh mereka.
Dia mulai mengubah dirinya, sedikit demi sedikit. Dia kembali berolahraga rutin, makan lebih sehat, dan tidur lebih awal-meskipun tidur nyenyak masih menjadi barang mewah baginya. Dia mulai fokus sepenuhnya pada pekerjaannya, melampaui ekspektasi klien, dan mengambil proyek-proyek yang lebih menantang. Dia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri, dan kepada dunia, bahwa dia bukan hanya "istri Raffael" atau "mantan istri Raffael", tetapi Aleandra, seorang arsitek lanskap berbakat yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Suatu hari, Aleandra memberanikan diri membuka kembali laptop lamanya. Laptop yang berisi semua ide, sketsa, dan rencana bisnisnya untuk mendirikan firma arsitektur lanskapnya sendiri. Dulu, dia menunda semua itu demi Raffael, demi "keluarga". Kini, tidak ada lagi alasan untuk menunda.
Dia menghabiskan malam-malamnya setelah Arya tidur untuk meninjau kembali proposal bisnisnya. Dia memperbarui riset pasar, menyempurnakan portofolio desainnya, dan mulai mencari tahu tentang legalitas mendirikan perusahaan. Tekadnya membara. Dia akan membangun kerajaan kecilnya sendiri.
Tentu saja, perjalanan ini tidak mudah. Ada hari-hari di mana dia merasa lelah hingga ke tulang, hari-hari di mana keraguan merayapi hatinya, dan hari-hari di mana kesedihan atas kehancuran rumah tangganya kembali menghantamnya seperti ombak. Namun, setiap kali dia melihat wajah polos Arya yang sedang tidur, atau mengingat perkataan Raffael dan Nyonya Karina yang meremehkan, semangatnya kembali bangkit.
Bianca adalah pilar dukungan utamanya. Dia sering datang untuk membantu Aleandra mengurus Arya, menemaninya saat dia sedang menggarap proyek, atau hanya sekadar mendengarkan keluh kesah Aleandra. Bianca bahkan membantu Aleandra dalam riset pasar untuk bisnis barunya, memberikan ide-ide segar dan semangat yang tak terbatas.
"Aleandra, kamu harus percaya pada dirimu sendiri," kata Bianca suatu malam, saat mereka sedang merencanakan logo untuk firma baru Aleandra. "Desainmu itu luar biasa. Klien-klienmu selalu memujimu. Ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada mereka semua siapa Aleandra yang sebenarnya."
Perkataan Bianca semakin membakar semangat Aleandra. Dia tahu ini akan menjadi jalan yang panjang dan penuh rintangan. Perceraiannya dengan Raffael akan menjadi sorotan di kalangan sosial mereka, dan Nyonya Karina pasti akan menyebarkan cerita versi mereka sendiri. Tapi Aleandra tidak peduli. Dia akan menghadapi semua itu.
Dia mulai membangun jaringan profesionalnya kembali. Menghadiri acara-acara industri, menghubungi kolega lama, dan bahkan mengambil kursus singkat tentang manajemen bisnis. Dia belajar tentang pajak, pemasaran, dan cara mengelola tim. Setiap pengetahuan baru adalah senjata baginya, setiap koneksi baru adalah peluang.
Aleandra juga mulai memperhatikan penampilannya lagi. Dulu, dia berdandan untuk Raffael, untuk membuatnya bangga. Sekarang, dia berdandan untuk dirinya sendiri. Dia membeli beberapa pakaian baru yang lebih modern dan profesional, memotong rambutnya dengan gaya yang lebih segar, dan mulai memakai riasan tipis yang menonjolkan fitur terbaiknya. Dia ingin terlihat kuat, percaya diri, dan tak tergoyahkan.
Setiap kali dia melewati cermin, dia tidak lagi melihat wanita yang hancur dan rapuh. Dia melihat seorang wanita yang sedang dalam proses transformasi. Seorang wanita yang, meskipun terluka parah, memiliki tekad baja untuk bangkit dari abu.
Persiapan untuk sidang perceraian pun terus berlanjut. Bapak Suryo mengumpulkan semua bukti, termasuk riwayat panggilan telepon dari Raffael yang berisi ancaman, dan bahkan mengutus tim investigator untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang Nayla dan hubungan mereka. Aleandra tahu bahwa Raffael akan mencoba untuk memutarbalikkan fakta, mungkin menuduhnya selingkuh balik, atau mengatakan bahwa dia adalah istri yang tidak peduli. Tapi Aleandra sudah siap. Dia tidak akan membiarkan kebohongan Raffael menang.
Momen tersulit adalah ketika Arya mulai bertanya tentang ayahnya yang tidak kunjung pulang. "Mama, Papa kapan pulang? Arya kangen Papa," kata Arya suatu malam, matanya berkaca-kaca.
Jantung Aleandra serasa diremas. Dia berlutut di hadapan putranya, memeluknya erat. "Papa... Papa ada pekerjaan yang sangat-sangat penting, Sayang. Tapi Papa pasti akan selalu mencintai Arya. Dan Mama juga akan selalu di sini untuk Arya."
Itu adalah kebohongan yang menyakitkan, tetapi Aleandra tahu itu demi kebaikan Arya untuk saat ini. Dia tidak ingin Arya melihat kebenciannya terhadap Raffael. Dia ingin Arya tumbuh dengan cinta dari kedua orang tuanya, meskipun mereka tidak lagi bersama. Aleandra memutuskan bahwa dia akan mencari psikolog anak untuk Arya ketika waktunya tiba, untuk membantu putranya melewati masa sulit ini.
Di tengah semua persiapan dan pergolakan emosional ini, ada satu hal yang terus menguatkan Aleandra: visi yang jelas tentang masa depannya. Dia membayangkan dirinya berdiri kokoh di puncak kesuksesan, dengan Arya di sisinya, dan Raffael-bersama Nyonya Karina-hanya bisa menatapnya dari kejauhan, menyesali keputusan mereka. Ini bukan hanya tentang uang atau status; ini tentang harga diri, tentang membuktikan bahwa dia adalah seorang wanita yang tangguh, mandiri, dan berhak mendapatkan kebahagiaan sejati.
Dia mulai mencari lokasi kantor kecil untuk firma barunya. Dia bahkan sudah punya nama: "Aleandra Greenworks". Nama itu bukan hanya merepresentasikan pekerjaannya sebagai arsitek lanskap, tetapi juga harapannya untuk menumbuhkan sesuatu yang baru dan indah dari kehancuran.
Meskipun hatinya masih berdarah, meskipun prosesnya akan sangat menyakitkan, Aleandra tahu dia berada di jalur yang benar. Setiap langkah kecil yang dia ambil, setiap air mata yang dia keringkan, setiap penghinaan yang dia terima, hanya semakin memperkuat tekadnya. Dia adalah phoenix yang bangkit dari abu, dan dia akan menunjukkan kepada dunia bahwa dia tidak akan pernah menyerah. Pertarungan belum usai, tetapi Aleandra sudah siap untuk menghadapi apa pun yang datang. Dia tidak lagi takut. Dia hanya merasa lapar akan keadilan dan kesuksesan.
Tiga bulan berlalu sejak malam Raffael meninggalkan apartemen. Tiga bulan yang terasa seperti sewindu bagi Aleandra. Proses perceraian mereka berjalan di tengah drama dan intrik yang Raffael dan Nyonya Karina ciptakan. Setiap sidang mediasi adalah medan perang emosional, di mana Raffael, didampingi pengacaranya yang licik, mencoba memutarbalikkan fakta, menuduh Aleandra sebagai istri yang tidak peduli, dan bahkan berusaha memenangkan simpati hakim dengan air mata palsu. Namun, Aleandra tidak gentar. Dia memiliki Bapak Suryo, pengacara berwajah dingin namun berhati baja, yang selalu siap dengan bukti dan argumen untuk membela hak-haknya.
Di ruang mediasi yang dingin itu, Aleandra harus menahan diri mati-matian saat Raffael dengan santainya menyebut Nayla sebagai "teman kantor biasa" dan hubungannya hanyalah "kesalahpahaman belaka." Jantung Aleandra bergemuruh marah, namun dia tahu ini bukan waktunya untuk beremosi. Dia membiarkan Bapak Suryo berbicara, menyajikan bukti pesan dan foto dari ponsel Raffael yang telah dia amankan, serta transkrip percakapan Aleandra dengan Nayla yang telah diverifikasi. Wajah Raffael yang awalnya penuh kepura-puraan, mendadak pucat pasi saat Bapak Suryo mengungkapkan detail-detail tersebut.
"Klien kami memiliki bukti kuat mengenai perselingkuhan Saudara Raffael dengan Saudari Nayla, yang telah berjalan selama beberapa waktu dan mencapai puncaknya pada malam ulang tahun pernikahan mereka," Bapak Suryo berkata dengan nada tenang namun menusuk. "Pengakuan dari Saudari Nayla sendiri, meskipun tidak secara langsung di persidangan, telah kami sampaikan dalam laporan investigasi terlampir."
Raffael menyela, "Itu semua bohong! Aleandra sengaja menjebakku!"
"Jebakan macam apa, Raffael?" Aleandra akhirnya tidak bisa menahan diri. Suaranya rendah, namun tajam. "Apakah aku yang memaksamu tidur dengan wanita lain? Apakah aku yang menuliskan janji manis di ponselmu?"
Hakim mediator segera menengahi. "Harap tenang, Ibu Aleandra, Saudara Raffael. Kita akan melanjutkan sesuai prosedur."
Setiap kali sidang berakhir, Nyonya Karina akan menghampiri Aleandra dengan tatapan menghina, melontarkan kalimat-kalimat pedas. "Janda gatal! Kau tidak akan dapat apa-apa! Anakku tidak akan jatuh miskin karenamu!"
Aleandra hanya membalas dengan senyum tipis yang penuh misteri. "Kita lihat saja nanti, Nyonya Karina. Saya tidak mengejar harta. Saya hanya mengejar keadilan." Kata-kata itu, yang dulu diucapkannya dalam emosi, kini terasa semakin nyata dan kuat dalam dirinya.
Di tengah pertarungan hukum yang menguras energi, Aleandra juga berjuang membangun kembali fondasi kehidupannya. Apartemen yang dulu terasa hampa tanpa Raffael, kini mulai diisi dengan suara-suara baru. Arya, yang perlahan mulai terbiasa dengan "perjalanan bisnis Papa yang panjang", menjadi pusat semestanya. Aleandra mendaftarkan Arya ke kelas menggambar dan menari, memastikan putranya tetap bahagia dan sibuk. Dia menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama Arya, membaca buku cerita, bermain puzzle, dan membangun benteng selimut di ruang tamu. Senyum polos Arya adalah obat terbaik bagi hatinya yang terluka.
Di sisi lain, dia tenggelam dalam impian barunya: Aleandra Greenworks. Dia menyewa sebuah studio kecil di kawasan bisnis yang sedang berkembang, jauh dari kantor lamanya dan kantor Raffael. Ruangan itu awalnya kosong, hanya dinding putih dan lantai beton. Namun, di mata Aleandra, itu adalah kanvas kosong yang siap diubah menjadi realitas. Dia menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan, mengecat, dan menata studio itu dengan perabot minimalis namun fungsional. Sebuah meja besar untuk menggambar sketsa, rak-rak buku penuh referensi botani dan desain lanskap, serta papan tulis besar untuk mencoret-coret ide-ide kreatifnya.
Modal awal? Itu menjadi tantangan terbesar. Meskipun dia memiliki tabungan pribadi, perceraian yang akan datang, meskipun belum final, sudah menguras sebagian besar dananya untuk biaya hukum. Dia tidak ingin meminta bantuan orang tuanya yang sederhana di kota kecil. Ini adalah pertempuran pribadinya, dan dia harus memenangkannya sendiri. Aleandra memutuskan untuk menjual beberapa perhiasan mahal yang Raffael berikan-cincin, kalung, dan anting-anting yang dulu adalah simbol cinta, kini hanya mengingatkannya pada kebohongan. Uang hasil penjualan perhiasan itu, meskipun tidak besar, cukup untuk membayar sewa studio selama beberapa bulan, membeli peralatan dasar, dan membiayai operasional awal.
Dia juga mulai menghubungi klien-klien lama yang dulu puas dengan pekerjaannya. Sebagian besar dari mereka menyambutnya dengan antusias, terutama setelah mendengar dia akan memulai firma sendiri. Reputasinya sebagai arsitek lanskap yang inovatif dan teliti telah tersebar luas. Namun, beberapa klien terkemuka, terutama yang memiliki koneksi dekat dengan keluarga Raffael atau ibu mertuanya, menarik diri. Mereka beralasan "situasi yang tidak kondusif" atau "masalah pribadi yang terlalu banyak." Itu adalah pukulan telak, tetapi Aleandra tidak menyerah. Dia tahu ini adalah bagian dari strategi Raffael dan Nyonya Karina untuk menjatuhkannya.
"Aleandra, kamu tidak perlu khawatir tentang klien-klien itu," kata Bianca, yang kini secara sukarela menjadi penasihat dan manajer sementara untuk Aleandra Greenworks. Bianca bahkan cuti dari pekerjaannya selama seminggu untuk membantu Aleandra menata studio dan membuat materi promosi awal. "Kita bisa mencari klien-klien baru. Mulai dari yang kecil, lalu kita buktikan kualitasmu. Kamu punya bakat, Aleandra. Itu tidak bisa diambil Raffael darimu."
Dengan semangat baru, Aleandra mulai merancang proposal untuk proyek-proyek yang lebih kecil: taman rumah pribadi, halaman perkantoran, atau bahkan lanskap untuk kafe-kafe baru. Dia menerapkan semua inovasi dan detail yang dulu hanya bisa dia impikan saat bekerja di perusahaan besar. Dia ingin setiap proyek kecilnya menjadi sebuah mahakarya, sebuah kartu nama yang akan menarik perhatian klien-klien yang lebih besar di kemudian hari.
"Bianca, aku ingin Aleandra Greenworks dikenal bukan hanya karena estetikanya, tapi juga karena nilai keberlanjutan dan fungsionalitasnya," Aleandra menjelaskan, saat mereka sedang menyusun daftar layanan. "Aku ingin mengintegrasikan konsep eco-friendly dan smart landscape."
"Ide bagus!" Bianca mengangguk penuh semangat. "Itu bisa jadi unique selling point kita. Di Jakarta, kesadaran akan lingkungan sedang meningkat. Kamu bisa menjadi pelopor di bidang itu."
Aleandra juga mulai rajin menghadiri pameran properti, seminar arsitektur, dan acara jejaring bisnis. Dia membagikan kartu namanya dengan bangga, memperkenalkan "Aleandra Greenworks" dengan senyum percaya diri. Awalnya, ada beberapa tatapan simpatik yang meremehkan, bisikan-bisikan tentang "perceraiannya dengan Raffael Prasetya," tetapi Aleandra belajar untuk mengabaikannya. Dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk membungkam mereka adalah dengan kesuksesan.
Salah satu momen penting dalam proses ini adalah ketika Aleandra bertemu dengan Bapak Danu, seorang kontraktor lanskap veteran yang dulu sering bekerja sama dengan perusahaan lamanya. Bapak Danu adalah pria paruh baya yang bijaksana, dengan kerutan di wajahnya yang menandakan pengalaman panjang di industri ini. Dia telah mendengar berita tentang perceraian Aleandra dan langkahnya untuk mendirikan firma sendiri.
"Aleandra," kata Bapak Danu saat mereka bertemu di sebuah pameran tanaman hias. "Saya dengar kamu sekarang berjuang sendiri. Saya kagum dengan keberanianmu."
"Terima kasih, Bapak Danu. Ini memang tidak mudah," jawab Aleandra tulus.
"Jalanmu pasti akan berat. Persaingan di industri ini sangat ketat, apalagi untuk nama baru. Tapi saya percaya padamu. Kamu punya bakat dan etos kerja yang kuat. Jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan. Saya punya banyak koneksi dan pengalaman. Mungkin kita bisa bekerja sama di beberapa proyek," tawar Bapak Danu, matanya memancarkan ketulusan.
Tawaran itu bagai angin segar bagi Aleandra. Bapak Danu adalah sosok yang sangat dihormati di industri, dan dukungannya berarti banyak. Itu adalah bukti bahwa tidak semua orang meremehkannya. Ada orang-orang yang masih percaya pada kemampuannya.
"Saya sangat menghargainya, Bapak Danu," Aleandra tersenyum. "Mungkin kita bisa mendiskusikan beberapa ide proyek kecil yang saya sedang kerjakan."
Pertemuan itu membuka jalan bagi Aleandra. Dengan bimbingan Bapak Danu, dia mulai mendapatkan proyek-proyek pertamanya sebagai Aleandra Greenworks. Meskipun proyeknya masih berskala kecil, Aleandra mengerjakannya dengan dedikasi penuh, seolah-olah itu adalah proyek senilai miliaran rupiah. Dia menghabiskan waktu berjam-jam di lapangan, mengawasi setiap detail, memastikan bahwa setiap tanaman tertanam dengan sempurna dan setiap elemen desain terwujud sesuai visinya.
Proyek pertamanya adalah taman kecil di sebuah kafe butik. Aleandra mendesainnya dengan konsep taman vertikal minimalis yang unik, menggunakan tanaman lokal yang mudah dirawat dan sistem irigasi hemat air. Hasilnya luar biasa. Pemilik kafe sangat puas, dan tak lama kemudian, foto-foto taman itu mulai beredar di media sosial, menarik perhatian banyak orang. Ini adalah kemenangan kecil pertamanya.
Namun, di tengah kesibukannya, Aleandra tidak pernah melupakan tujuan utamanya: memenangkan hak asuh penuh Arya dan memastikan Raffael mendapatkan pelajaran setimpal atas pengkhianatannya.
Sidang terakhir untuk hak asuh anak adalah yang paling emosional. Raffael, atas saran pengacaranya, mencoba menggambarkan Aleandra sebagai ibu yang sibuk, yang tidak punya waktu untuk Arya, dan bahwa dirinya, sebagai ayah, lebih stabil secara finansial dan mampu memberikan lingkungan yang lebih baik.
"Yang Mulia Hakim," kata pengacara Raffael, "Klien kami, Saudara Raffael, adalah seorang eksekutif sukses dengan penghasilan yang sangat memadai. Beliau memiliki rumah yang besar dan lingkungan yang stabil bagi anak. Sementara Ibu Aleandra, saat ini sedang merintis bisnis baru yang tentunya akan menyita banyak waktu dan perhatiannya. Kami khawatir, tumbuh kembang anak akan terabaikan."
Dada Aleandra bergemuruh. Ini adalah taktik kotor. Raffael tahu betapa dia mencintai Arya. Dia tahu betapa dia berjuang untuk menyeimbangkan semuanya.
Bapak Suryo berdiri dengan tenang. "Yang Mulia Hakim, kami memiliki bukti bahwa Saudara Raffael telah melakukan perselingkuhan, yang jelas-jelas merupakan pelanggaran serius dalam pernikahan. Lingkungan yang stabil? Apakah lingkungan yang penuh kebohongan dan perselingkuhan itu bisa disebut stabil bagi seorang anak?"
"Dan mengenai waktu dan perhatian, Yang Mulia," lanjut Bapak Suryo, menatap Raffael tajam. "Justru Ibu Aleandra yang selama ini selalu ada untuk Arya. Beliau yang mengurus semua kebutuhan Arya, mengantar dan menjemput sekolah, mendampingi Arya les, bahkan saat Saudara Raffael sedang sibuk dengan 'pekerjaan mendadak'nya."
Bapak Suryo kemudian menunjukkan rekaman CCTV dari sekolah Arya yang menunjukkan Aleandra selalu menjemput Arya, dan juga bukti kehadiran Aleandra di acara-acara sekolah Arya. Dia juga menyertakan surat rekomendasi dari guru Arya yang memuji dedikasi Aleandra sebagai seorang ibu.
Kemudian, datanglah momen yang paling dinanti Aleandra. Kesaksian Nayla. Setelah dibujuk oleh Bapak Suryo dan menghadapi ancaman tuntutan hukum karena terlibat dalam kasus perceraian, Nayla akhirnya setuju untuk memberikan kesaksian tertulis yang diserahkan oleh Bapak Suryo di hadapan hakim. Nayla menguraikan detail hubungannya dengan Raffael, pengakuan Raffael yang mengatakan akan menceraikan istrinya, dan janji-janji palsu yang dia berikan.
Ketika pengakuan Nayla dibacakan, wajah Raffael memucat dan keringat dingin membanjiri dahinya. Nyonya Karina yang duduk di sampingnya, tampak sangat terkejut dan marah, melirik Raffael dengan tatapan membunuh. Skandal ini, perselingkuhan Raffael, kini bukan lagi gosip bisik-bisik, melainkan fakta yang terungkap di hadapan hukum. Reputasi Raffael, yang dulu begitu ia banggakan, kini tercoreng.
Hakim mediator, setelah mempertimbangkan semua bukti, akhirnya menjatuhkan putusan. Hak asuh Arya sepenuhnya diberikan kepada Aleandra, dengan hak kunjungan terbatas bagi Raffael di bawah pengawasan. Untuk harta gono-gini, pengadilan memutuskan pembagian yang adil, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan yang Raffael inginkan. Namun, yang paling penting bagi Aleandra adalah kemenangan moralnya dan hak asuh Arya.
Saat putusan dibacakan, Aleandra merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. Rasa lega yang luar biasa membanjirinya. Dia memandang Raffael, yang kini tampak hancur, bukan karena patah hati, melainkan karena malu dan marah atas kekalahannya. Nyonya Karina menatap Aleandra dengan kebencian yang mendalam, tetapi Aleandra tidak peduli. Dia telah menang. Dia telah membuktikan bahwa dia bukan korban yang lemah.
Di luar ruang sidang, Aleandra dipeluk erat oleh Bianca. "Kamu berhasil, Aleandra! Kamu berhasil!" seru Bianca penuh haru.
Aleandra hanya bisa tersenyum. Air mata mengalir, tetapi kali ini adalah air mata kebahagiaan dan kelegaan. "Ini baru permulaan, Bianca," bisiknya. "Ini baru permulaan."
Setelah perceraian resmi, Aleandra merasakan kebebasan yang luar biasa. Dia tidak lagi terbebani oleh kebohongan dan sandiwara. Dia bisa bernapas lega, fokus sepenuhnya pada Arya dan Aleandra Greenworks.
Proyek-proyek kecil mulai berdatangan. Nama Aleandra Greenworks mulai dikenal. Dia merekrut dua asisten muda yang energik dan bersemangat, memberikan mereka kesempatan untuk belajar dan berkembang. Kantornya yang kecil mulai terasa hidup, dipenuhi dengan sketsa, contoh material, dan diskusi kreatif.
Raffael, di sisi lain, mulai merasakan dampak dari keputusannya. Skandal perceraian dan perselingkuhannya dengan Nayla, yang kini menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan sosialita Jakarta, mulai memengaruhi kariernya. Beberapa proyek besar yang dia tangani mulai goyah, dan rumor tentang kemungkinan pemecatannya dari perusahaan mulai beredar. Nyonya Karina pun tampak murung, seringkali terlihat sendiri di acara-acara sosial, menghindari pandangan simpati yang penuh ejekan.
Aleandra tidak merayakan kehancuran Raffael. Dia terlalu sibuk membangun dirinya sendiri. Namun, dalam hati kecilnya, ada kepuasan yang samar. Dia tidak pernah bermaksud jahat, tetapi dia ingin Raffael merasakan konsekuensi dari perbuatannya. Dia ingin Raffael menyadari bahwa dia telah kehilangan permata yang sesungguhnya.
Suatu sore, saat Aleandra sedang sibuk membuat desain lanskap untuk sebuah hotel butik, ponselnya berdering. Nama Raffael tertera di layar. Aleandra ragu, tetapi mengangkatnya.
"Aleandra..." suara Raffael terdengar lelah, jauh dari arogansi yang biasa dia tunjukkan. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi aku dengar tentang bisnismu. Selamat. Aku tidak menyangka kamu akan secepat ini."
Aleandra hanya diam, menunggu.
"Aku... aku menyesal, Aleandra," lanjut Raffael, suaranya sedikit serak. "Aku kehilangan banyak hal. Pekerjaanku sedang dalam bahaya. Nayla juga... dia pergi setelah tahu aku bangkrut. Aku kehilangan semuanya."
Hati Aleandra tidak lagi bergetar mendengar pengakuan itu. Tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk. Hanya kekosongan. "Kau kehilangan apa yang pantas kau dapatkan, Raffael," jawab Aleandra dengan suara datar. "Aku sudah bilang, kau akan menyesal. Dan sekarang, kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri."
"Aku bodoh, Aleandra," bisik Raffael. "Aku meremehkanmu."
"Ya, kau memang bodoh. Dan kau memang meremehkanku," jawab Aleandra. "Dan sekarang, aku sudah bukan siapa-siapamu lagi. Kau dan ibumu akan menjadi penonton dari kesuksesanku. Kau akan melihat bahwa aku bukan apa-apa tanpamu, tapi aku akan jauh lebih banyak darimu."
Aleandra menutup telepon, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Perkataan Raffael di malam itu, yang dulu begitu melukai, kini terasa hampa. Dia telah melewati badai, dan kini, benih-benih harapannya mulai tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Masa depannya, bersama Arya, tampak lebih cerah dari sebelumnya. Dia tahu perjuangan masih panjang, tetapi dia sudah siap. Dia adalah Aleandra, sang janda tangguh, yang bangkit dari puing-puing, membawa cinta sejati untuk putranya, dan membalas dendam dengan cara yang paling manis: kesuksesan yang tak terbantahkan.