Gadis yang masih setengah sadar itu masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Sementara pria cantik itu sudah mengeluarkan tas berwarna pink dengan gliter yang menghiasi, ia juga mengeluarkan beberapa sett make up untuk digunakan.
“Eh cantik, kok masih melamun? Ayo cepat mandi sana! Iih aku sudah dari pagi buta bangun tapi kamu masih enak – enakan tidur!”
“Berisik banget, sih, kamu! Saya juga nggak minta kamu buat datang pagi – pagi ke sini!”
“Idiih calon penganten nggak boleh galak deh. Udah cepet sana kamu mandi!”
Pria cantik itu terus saja berusaha membangunkan Elena yang sebenarnya masih ingin melanjutkan tidur. Entah mengapa ia ingin menghindari semua ini.
“Bentaran lagi deh, saya mau tidur sebentar. Sumpah ngantuk banget!”
Elena tidak menghiraukan suara aneh itu. Padahal ia laki – laki, tapi berlagak seperti wanita. Mimpi apa semalam hingga Elena bisa bertemu banci saat membuka mata.
Pria cantik dengan kaos ketat dan rok mini ketat itu berjalan menuju keluar kamar. Ia memakai heels dan membiarkan rambutnya tergerai. Baru saja keluar kamar, ia sudah bertemu dengan Hendrik yang sudah siap dengan setelan kemeja, hanya tinggal memakai jas, maka hari ini ayah Elena itu akan menjadi saksi atas pernikahan sang putri. Lalu, ia akan terbebas dari hutang sekaligus menjadi pria yang kaya tanpa harus bekerja.
“Heh mau kemana kamu? Sudah jam berapa ini?” tanya Hendrik.
“Aku mau ambil air untuk anakmu yang susah di atur itu,” ucap pria cantik itu dengan manja.
“Ngapain kamu liatin saya kaya gitu? Udah sana kerja yang bener. Bilangin sama Elena kalau pernikahannya sudah menghitung jam. Saya nggak mau tahu, kamu sudah dibayar untuk bekerja. Oh ya satu lagi, jadikan dia cantik dan sempurna! Supaya Darel dan para tamu pangling saat menemuinya.”
Hendrik meninggalkan pria cantik itu begitu saja. Sementara itu, si pria cantik memendam rasa amrahnya karena sudah diperlakukan seenaknya oleh ayah Elena.
Tadinya pria cantik itu ingin bertanya letak kamar mandi kepada Hendrik, tapi karena sikap dan responnya seperti itu, ia jadi mengurungkan niatnya. Lebih baik ia mengelilingi rumah sederhana yang tidak terlalu besar ini, untuk mencari letak kamar mandi. Daripada ia harus mendengar umpatan dan mendapatkan pandangan rendah lagi.
Pria dengan rambut panjang terurai menuju ke kamar Elena dengan jalan yang berlenggak – lenggok, ia mungkin sudah lupa akan jati dirinya, dan sudah menganggap bahwa dirinya adalah wanita. Walaupun wajahnya terlihat cantik karena make up, tetapi bentuk kaki dan tangannya jelas menunjukkan bahwa ia adalah laki – laki.
Ia masuk kembali ke kamar Elena dengan membawa gayung yang sudah terisi air. Perias pengantin itu tidak kehabisan akal untuk membangunkan calon pengantinnya. Terlebih ia menangani semua ini sendiri tanpa seorang asisten.
Pria cantik itu memasukkan sebagian tangannya ke dalam gayung yang berisi air, kemudian membuat cipratan kecil di wajah Elena.
“Hey Elena! Anak perawan bangun!”
Elena hanya menggeser posisi tidurnya tanpa membuka mata.
Tak kehabisan akal, kali ini cipratan air itu kini semakin banyak. Setelah hampir setengah gayung habis, Elena tidak juga mau bangun. Akhirnya keputusan terakhir akan ia lakukan, yakni menyebor sisa air ke wajah Elena yang masih terlelap.
“Elena kalau kamu nggak bangun, jangan salahkan aku kalau wajah, kasur dan bajumu akan basah kuyup! Aku hitung sampai tiga, jika hitungan ketiga kamu masih tidur, lihat ya kejutan di pagi ini.”
“Satu…”
Elena masih beleum merespon.
“Dua…”
Perempuan itu masih nyaman memeluk guling dan memeluknya.
“Ti… Tiga…”
Pria cantik yang hendak menuangkan seluruh isi air itu akhinya tidak ia lakukan. Akhirnya Elena terbangun.
Gerakannya jauh lebih cepat daripada gerak tangan pria cantik yang sedang memegangi gayung itu.
“Aduuh! Kamu itu beneran ganggu waktu tidur saya ya!” pekik Elena dengan kesal.
“Terserah kalau pun kamu emang mau marah sama aku. Aku di sini hanya menjalankan tugas dari Om Darel. Sudah cepat sana mandi.”
Elena tidak menghiraukan ucapan pria cantik itu, ia mengambil handuk yang terletak di belakang pintu lalu segera berjalan keluar untuk membersihkan tubuhnya.
“Eh tunggu!” ujar pria cantik.
“Apa lagi? Saya udah mau mandi, nih. Mau bikin mood mandi saya hilang, hah!”
“Jadi cewek galak banget. Untung cantik, pantas saja Om Darel tergila – gila sama kamu!”
“Udah cepetan mau ngomong apa?”
“Nih,” ucap pria cantik itu sembari menyerahkan scrub kopi dan body wash dengan wangi kopi juga. “Pakai ini saat kamu mandi, supaya kulitnya lebih sehat, mulus dan glowing. Jadi pengantin itu harus cantik. Ini juga gayungnya, sekalian untuk kamu mandi.”
Elena mengambil kasar benda yang diberikan oleh penata riasnya. Perasaannya campur aduk pagi ini. Ia berjalan ke kamar dengan bibir yang terus mengumpat. Dari mulai mengumpat ayah, perias banci itu hingga Darel si tua bangka yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Pria cantik itu langsung memalingkan wajah dari Elena, kembali ke meja rias dan menata alat make up yang akan ia gunakan untuk calon pengantinnya pagi ini.
***
Langit yang semula gelap kini berganti dengan warna yang lebih terang. Matahari pagi berhasil menembus celah jendela yang ada di kamar Elena. Perias alias pria cantik itu masih duduk menunggu Elena yang belum selesai mandi sembari memainkan ponselnya.
Ia mengunggah beberapa foto di akun khusus make up yang sudah ia rintis sejak nol. Sekalipun ia bukan wanita tulen, tapi sudah banyak yang jatuh cinta dengan hasil riasannya.
Hasil riasannya terlihat sederhana, elegant dan tidak terlalu norak. Selain itu, ia pun dikenal sebagai perias tegas dan ontime. Tidak pernah menyia – nyiakan waktu atau membuat pelanggannya kecewa. Maka dari itu, saat pagi tadi pria cantik itu sangat berusaha keras untuk membangunkan Elena. Mungkin itulah yang membuat Darel memilihnya untuk merias Elena.
Sudah hampir satu jam Elena belum kembali ke kamar. Pria cantik itu merasa gelisah, kemudian dengan cepat ia berjalan untuk mendatangi Elena.
KLEK.
Baru saja ia akan keluar, Elena sudah masuk. Ia nampak wangi dan segar, menggunakan celana pendek dan tanktop berwarna hitam. Rambutnya yang basah ditutupi oleh handuk agar cepat kering. Terlihat leher yang putih, mulus dan jenjang dari gadis itu. Elena sama sekali tidak merasa sungkan, sebab ia tahu bahwa lelaki yang bersamanya itu hanyalah pria dengan sebuah kelainan.
“Elena, sudah jam berapa ini? Lama banget di kamar mandinya.”
“Yang suruh saya untuk pake scrub siapa? Saya mandi biasa aja bisa sampai satu jam, apalagi ditambah dengan ritual pakai scrub segala. Nggak usah protes deh!” pekik Elena, kemudian ia menutup pintu.
“Makanya kalau dibangunin ya langsung bangun. Waktu nggak akan ngaret kaya gini kalau kamu tepat waktu!” seru pria cantik itu.
“Bawel banget, sih!”
Elena yang sejak pagi sudah sebal, semakin dibuat kesal oleh ocehan pria cantik itu yang semakin menjadi – jadi.
“Ya udah sini kamu duduk. Nurut dan ikutin semua arahanku kalau hasil make up kamu ingin sempurna. Dilarang protes!”
Elena mengikuti arahan dari pria cantik itu. Kini, ia duduk menghadap cermin dengan beberapa jumlah sorot lampu yang membuat matanya silau.
“Sebelum aku rias, apa ada permintaan? Soalnya Om Darel menyerahkan konsep make up sesuai dengan yang kamu minta aja.”
“Terserah kamu aja. Saya nggak niat nikah, jadi mau saya di make up kaya apa juga, saya nggak peduli.”
“Astaga ini penganten emang batu banget kalau dikasih tau! Aku kasih tau ya ke kamu, menikah itu seumur hidup sekali. Siapapun itu jodoh kamu, ya kamu harus terima dan maksimal menjalankan prosesnya.”
Elena yang merasa panas mendengarkan ocehan sang perias, bangkit dari duduknya untuk mengambil ponsel beserta earphone. Dari pada mendengarkan ucapan si banci yang berisik itu, lebih baik ia mendengarkan musik.
“Nggak usah nasehatin orang, deh! Perbaiki aja diri kamu sendiri baru nasehatin orang!” seru Elena sebelum memasak earphone di kedua telinganya.
KLEK.
Suara pintu terbuka, baru saja Elena ingin menikmati paginya. Seorang lelaki membuka pintu dan berjalan ke arahnya.
“Elena, sudah jam berapa ini? Harusnya jam segini kamu sudah siap. Lihat ayah, sudah siap sejak pagi buta. Kamu itu akan menikah, jadi jangan pernah bermain – main dengan pernikahan ini.”
“Kalau bukan karena ayah, aku juga nggak sudi menikah dengan tua bangka itu.”
“Jaga ucapanmu, Elena! Kamu sudah memutuskan, dan keputusan itu harus kamu jalani sekarang!” teriak Hendrik. Lelaki itu meninggalkan Elena kembali berdua dengan penata rias di dalam kamar.
Mendengar itu Elena hanya memasang wajah yang ditekuk. Mentalnya benar – benar kacau pagi ini. Kalau saja ia punya mesin waktu, mungkin gadis itu akan melewati fase ini. Bahkan mungkin ia bisa kembali ke masa lalu, agar ikatan janji antara ayahnya dengan Darel tidak pernah terjadi.
“Sudahlah, cantik, sekarang fokus dan lihat wajahmu ke cermin. Pernikahan ini sudah jadi takdir dan kamu nggak bisa menghindarinya.”
Kali ini Elena malas menanggapi ocehan pria yang berlagak seperti wanita itu. Elena hanya menatapa dirinya di depan cermin, sembari memerhatikan sapuan dan olesan make up di wajahnya.
“Kamu nggak meminta request apapun untuk pernikahan hari ini, cantik? Kamu yakin?”
“Udah berapa kali saya bilang, terserah kamu aja. Saya juga terpaksa ngejalanin semua ini.”
“Oke, kalau gitu, biar semuanya terserah aku aja ya mau rias kamu kaya gimana juga.”
“Hm,” ucap Elena yang kini sudah memainkan ponselnya.
“Tema untuk wajahmua sepertinya lebih cocok dengan make up soft dan flawlesh. Tetap terlihat sederhana tetapi juga mewah. Pasti nanti kamu akan terlihat cantik dan tentunya Om Darel pun akan terpesona dengan hasil make up ini. Hihihihi,” ucap pria cantik itu diakhiri dengan tawa yang membuat Elena geli mendengarnya.
Pria cantik memulai dengan mengoleskan primer di wajah Elena, kemudian fondation, cream blush on, conturing, bedak tabur dan produk lainnya yang dibutuhkan di wajah calon pengantin itu. Tak lupa ia membuat alis dan membingkainya, serta memberikan eyeshadow dan gliter di kelopak matanya. Terakhir, ia mengoleskan lipstik dengan warna pink agak peach untuk menambah keanggunan di wajahnya.
Setelah make up seleai, pria cantik itu menata rambut Elena yang sudah mulai kering. Menyisirinya dan membuat sanggul di kepala Elena. Gaya rambut chignon sangat cocok untuk rambut Elena yang panjang dan bervolume. Di akhir, tak lupa sang perias itu meletakkan beberapa bunga kecil di sanggul Elena sebagai pemanis.
“Nah, selesai,” ucap pria cantik itu.
Elena takjub melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Ia merasa bahwa yang berada di sana bukanlah dirinya.
Elena mencoba menghadap ke kanan lalu kiri, untuk memastikan ternyata pantualn perempuan yang ada di sana memang dirinya sendiri.
“Gimana? Cantik bukan?” tanya pria cantik itu, sembari meletakkan jemarinya di dagu Elena yang terbelah.
Elena hanya mematung, ia ingin mengakui bahwa hasil riasannya sempurna, tetapi rasa gengsi mengusai hatinya.
Setelah make up, Elena diarahkan untuk memakai gaun pengantin yang sudah dibelikan Darel tanpa sepengatahuan Elena dan Hendrik.
“Hey cantik, sekarang kamu pakai gaun ini ya.”
Elena hanya takjub dengan gaun yang dibawa oleh pria cantik itu. Ia sudah bisa menebak bahwa gaun yang dipakainya bukanlah gaun murahan.
Gaun dengan warna putih cantik dan panjang menyapu lantai. Pikiran Elena sudah menerawang jauh pasti ia kan terlihat cantik dan anggun saat menggunakan gaun itu. Untuk pertama kalinya, Elena menuruti apa yang diperintahkan oleh perias itu tanpa menolaknya. Ia memasukkan bagian tangan secara bergantian, hingga gaun itu telah melekat di tubuhnya.
Elena melihat dirinya kembali di depan cermin. Kali ini penampilannya benar – benar seperti putri di dalam dongeng. Sayangnya, bukan pangeran tampan yang akan menikahninya. Melainkan hanya pria gendut yang lebih layak disebut sebagai si buruk rupa.
“Sekarang, aku mau ambil gambar kamu ya untuk arsipku.”
Pria cantik itu menyalakan ring light dan mulai memotret Elena. Ia mengarahkan gaya agar Elena tersenyum dan menempelkan jemarinta di dekat wajah.
“Senyum cantik, 1 2 3, oke sempurna!”
“Dekatkan jarinya, cantik, siap ya. Aku potret, 1 2 3, percfect!”
Setelah melihat ulang hasil foto tersebu, si pria cantik mulai merasa puas.
“Jangan kirim foto saya ke tua bangka itu ya!” perintah Elena.
Pria cantik itu hanya tersenyum. “Ngapain juga aku kirim foto ke dia, nanti malam juga dia bakal unboxing kamu!”
“Jaga ucapan kamu!”
Pria cantik itu hanya tersenyum, sembari merasa geli membayangkan malam pertama calon pengantin yang ada di hadapannya dengan Om Darel, pria dengan tubuh gendut itu.
“Sssst, nggak boleh marah – marah, nanti cantiknya bisa hilang, lho!” ucap si perias dengan surasa berbisik.
Elena hanya memalingkan wajah dari pria cantik yang ada di hadapannya.
***
KLEK.
Pintu kembali dibuka. Sesuai dugaan Elena, Hendrik kembali membuka pintu untuk memastikan apakah putrinya sudah selesai di make up atau belum.
Saat membuka pintu, Hendrik terpaku dengan kecantikan putrinya. Lelaki itu sama sekali tak mengedipkan kedua matanya. Ia memandangi Elena dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Amazing! Putri ayah cantik sekali,” puji Hendrik di depan Elena.
“Tentu saja om, kan aku yang buat dia jadi cantik,” balas pria cantik yang sedang mengembalikan alat make up ke dalam tasnya.
“Diam kamu! Saya nggak bicara sama kamu!” pekik Hendrik dengan tatapan sinis, kemudian ia mengalihkan lagi pandangan kepada Elena.
“Sudah siap, Elena?”
“Hm,” jawab putrinya singkat.
“Orang suruhan Darel sudah datang dan menjemput kita dengan mobil. Setelah dia selesai mengemasi barang – barangnya, ayo kita berangkat ke hotel.”
“Hah, hotel?”
“Iya hotel. Kamu akan menikah di hotel bersama Darel! Nggak usah banyak protes, lakukan saja yang sudah menjadi keewajibanmu.”
Suasana seketika menjadi hening. Elena lagi dan lagi tidak punya pilihan, selain menjalankan perannya dengan baik mulai hari ini, meskipun dengan perasaaan terpaksa.