Dua orang pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam nampak terengah-engah setelah menghabiskan waktu setengah jam bermain kucing-kucingan dengan seorang gadis yang diperintahkan oleh atasan mereka untuk mereka tangkap. Sayangnya, gadis yang mereka incar tampaknya sangat pintar melarikan diri hingga sulit bagi mereka untuk menyeretnya. Salah satu dari mereka kemudian mengambil ponsel, berusaha menghubungi sang atasan agar mereka diberi waktu lebih banyak untuk bisa membawa gadis malang yang dijadikan tebusan hutang oleh ayah kandungnya sendiri itu.
“Halo Bos. Gadis itu kabur Bos, kami kehilangan jejaknya,” ujar pria itu dengan nafas terengah karena kelelahan. Malang baginya saat tak ada rasa kasihan yang ia dapatkan dari seberang sana. Ia memejamkan mata dan menjauhkan ponselnya saat seseorang yang ia sebut sebagai Bos malah membalasnya dengan nada tinggi.
“Aku tidak mau tahu, bawa dia ke hadapanku malam ini atau semua hutang Hendrik akan aku potong dari gaji kalian!”
Panggilan itu langsung terputus begitu saja. Tak ingin mendapat masalah lebih lanjut, mereka akhirnya kembali berlari mencari gadis yang melarikan diri dari mereka sejak tadi.
Elena menghela nafas lega setelah orang-orang yang mengincarnya terlihat menghilang dari hadapannya. Akh, sial sekali nasibnya belakangan ini. Padahal baru saja ia bisa hidup tenang setelah pisah rumah dengan Hendrik , ayah tak warasnya yang suka meminjam uang pada rentenir hanya untuk judi dan mabuk-mabukan, setelah mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di salah satu club malam. Tapi bukannya hidup tenang, sekarang ia malah ikut dikejar oleh dua orang yang mengaku sebagai suruhan rentenir gila itu. Elena sudah berniat baik dengan menyicil uang yang dipinjam sang ayah. Namun betapa kagetnya ia saat ternyata jumlah hutang beserta bunganya lebih dari yang ia bayangkan. Elena semakin dibuat kaget saat mereka dengan gamblangnya mengatakan bahwa ia telah dijadikan ayahnya sebagai bayaran atas hutang-hutangnya dan harus mau menikah dengan bos mereka jika hingga tenggat waktu yang ditentukan gadis itu belum juga bisa melunaskan hutang ayahnya. Tentu saja Elena langsung kabur mendengar hal itu, mana mau ia menikah dengan pria jelek tua bangka. Apa lagi bersanding dengannya yang cantik dan bertubuh bagus ini di atas pelaminan. Aih, Elena bisa gila kalau hal itu benar-benar terjadi.
Sekali lagi Elena mengintip dari balik semak tempat ia bersembunyi dari kejaran dua orang bertubuh kekar tadi. Setelah memastikan bahwa mereka benar-benar pergi, Elena akhirnya keluar dari persembunyiannya dan melangkah cepat entah kemana. Ia tidak bisa pulang lagi ke rumah lamanya atau keberadaannya akan langsung ditemukan lalu ia akan diseret dan dinikahkan paksa dengan rentenir tua itu. Tidak, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia harus mencari tempat lain untuk ditinggali sementara waktu.
Sepanjang jalan Elena habiskan untuk memaki nasibnya yang buruk. Jangan tanya penampilannya, matanya bahkan berubah hitam karena make up-nya pun luntur, rambut panjang bergelombang yang mulanya ia cepol rapi kini terurai berantakan, dress ketat atas lutut yang ia kenakan juga tampak kusut. Tak sampai di situ saja, kesialan sepertinya enggan meninggalkan gadis itu, terbukti dari teriakan keras yang keluar dari bibir mungil merah meronanya saat tumit high heelsnya patah.
Dengan rasa jengkel yang teramat sangat, gadis berusia 23 tahun itu akhirnya mengangkat high heelsnya dan melemparkannya sembarangan. Ia berniat melangkahkan kakinya kembali, namun tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya.
“Mampus aku,” umpat Elena dalam hati. Ia menelan ludah gugup saat di depannya berdiri sesosok pria bertubuh kekar. Pria yang sama dengan yang mengejarnya mati-matian tadi, pria yang sama yang mengatakan akan menjadikannya sebagai istri dari atasannya, dan pria itu ... kini berdiri di depannya dengan seringai lebar di wajahnya yang memiliki bekas luka.
“Ada kucing besar!” teriak Elena berusaha mengalihkan perhatian. Ia tertawa canggung saat pria di hadapannya tidak tertipu sama sekali. Tepat saat gadis itu berbalik berniat kabur, tubuh mungilnya menabrak satu orang lagi yang tubuhnya sama kekarnya dengan yang tadi. Akhirnya gadis itu hanya bisa berteriak minta dilepaskan saat tubuhnya dipanggul bak sekarung beras.
Elena mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina ambernya. Ia bangkit dari baringnya, seketika tersentak saat di hadapannya tersaji adegan klise yang sering ia tonton di dalam drama. Ayahnya yang sedang berlutut di hadapan seorang pria jelek, buncit, dekil, dan berumur.
Elena menghela nafas saat lagi-lagi ia harus ikut memikul beban Hendrik , ayahnya. Sial sekali hidupnya terlahir sebagai anak dari pria bajingan itu. Selain menitipkan benih pada mendiang ibunya hingga akhirnya membentuk dirinya, Elena tidak tahu lagi apa fungsi dari ayahnya yang sejatinya tak mau ia akui sebagai ayah itu.
“Oh kau sudah sadar?” tanya pria buncit yang Elena yakini sebagai rentenir yang meminjamkan uang pada ayahnya.
“Belum,” jawab Elena kesal. Bukan salahnya juga kan? Sudah tahu mata gadis itu terbuka lebar sekarang, untuk apa lagi bertanya dia sudah sadar atau belum?
“Hei bocah! Kau sudah dijadikan ayahmu sebagai jaminan atas hutang-hutangnya. Semua itu sudah tertera di atas materai, aku bisa memasukkannya ke penjara kalau kau tidak bersedia melunasi hutangnya.”
Elena berdecak kesal. Semakin kesal saat Hendrik menatapnya memelas, seolah berharap putri satu-satunya itu akan mengasihaninya.
“Aku bersedia, tapi aku butuh waktu untuk itu. 500 juta itu bukan uang yang sedikit paman!”
Alis pria buncit itu berkedut saat panggilan aneh itu diberikan padanya.
“Namaku Darel jangan panggil paman. Aku tidak setua itu. Umurku baru 45 tahun,” sahut pria buncit itu memperkenalkan diri. Elena menatap jijik pria tua di depannya itu.
“45 tahun paman bilang tidak tua? Ayahku saja baru 43 tahun. Paman gila ya?”
Darel menyikut perut dua anak buahnya saat terdengar tawa dari mulut mereka. Ia berdehem kemudian, berusaha menunjukkan wibawa di depan Elena.
“Terserah, yang penting sekarang adalah kau harus menjadi istriku untuk melunasi hutang ayahmu. Mau tidak mau, suka tidak suka, kau harus melakukannya.”
Elena menangis di dalam hati mendengar kalimat yang keluar dari mulut Darel. Seandainya tak ada undang-undang tentang pembunuhan maka pasti berita tentang pria buncit yang terkapar mati akan diberitakan di televisi besok pagi.
“Tidak! Aku tidak mau, yang benar saja paman? Masa kau mau menikahi wanita yang lebih pantas jadi anakmu!”
“Iya atau tidak?”
Elena menatap wajah ayahnya yang memelas. Tuhan, kenapa tidak Engkau berikan Elena hati yang keras agar mengabaikan wajah pria yang selalu menyusahkannya itu! Tapi tidak, biar bagaimanapun, Elena tidak bisa mengelak kalau yang ia miliki sekarang hanya ayahnya saja. Dengan berat hati, ia kemudian mengangguk pelan, membuat Darel tersenyum lebar di posisinya.
“Baiklah, tapi ada syaratnya! Paman tidak akan mendapatkan keperawananku sebelum perut buncit itu berubah sixpack!”
“Hey bocah, syarat macam apa yang kau ucapkan? Yang punya hutang itu ayahmu! Bukan aku! Enak saja kau berikan aku syarat macam itu!”
“Jika paman tidak mau ya sudah. Aku tidak mau menikah dengan paman. Hutang Ayahku akan aku cicil dari gaji bulananku!”
“Hahaha ... Memangnya hutang ayahmu cuma ratusan ribu? Hutang Ayahmu, itu ratusan juta! Kau tidak mampu melunasinya!”
“Entah itu aku butuh puluhan tahun atau seumur hidupku pun akan aku lakukan untuk membayar hutang Ayahku!” Elena berjalan mendekati Darel sambil merapikan rambutnya dengan manja, kemudian mengibaskan rambut panjangnya ke wajah Darel, sehingga Darel bisa mencium harum rambut Elena. Melihat kemolekan tubuh Elena dari dekat, Darel langsung tergila-gila.
“Apakah paman mau aku membayar hutang Ayahku dengan cara mencicil?” Elena memegang pundak Darel dan berbicara dengan manja.
“Eng—enggak!” Darel gelagapan ketika Elena mendekati dirinya tanpa jarak.
“Jadi apakah paman mau menikahiku dengan menerima syaratku?” Elena mengusap dada Darel dan turun ke perut buncit Darel sambil berkata, “Untuk itu, menghilangkan ini!” Elena mencubit perut buncit Darel.
“Aw ....” Darel kesakitan karena di cubit Elena.
“Setelah itu paman bisa memilikiku seutuhnya,” Elena berbisik manja di telinga Darel.
“I—iya ... Mau!” tanpa pikir panjang Darel mengiyakan persyaratan Elena.
“Paman memang terbaik,” Elena berbisik sekali lagi di telinga Darel, membuat Darel semakin mabuk kepayang dengan aroma harum dari parfum yang melekat di tubuh Elena.
Tubuh bagai gitar Spanyol, kulit putih mulus, dan wajah cantik Elena adalah aset satu-satunya yang Elena miliki.
Elena perlahan melangkah menjauhi Darel.
“Tunggu!” Darel menghentikan langkah Elena dengan memegang tangan gadis dihadapannya itu.
“Satu Minggu lagi kita akan selenggarakan resepsi pernikahan yang mewah untuk kita! Biarkan orang-orangku mengantar kalian pulang. Ini untukmu membeli parfum yang seperti kau pakai. Aku sangat menyukai harumnya,” Darel mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya.
Seketika mata Hendrik terbelalak memandang lembaran uang tersebut.
“Tidak paman, terima kasih! Aku masih sanggup membelinya sendiri,” Elena menolak uang Darel.
“Kalau kau masih menolak, maka hutang Ayahmu hari ini akan ku naikan bunganya!” Darel memberikan uang tersebut kepada Elena. Dengan berat hati, Elena menerima uang tersebut.
Elena dan Hendrik diantar oleh dua orang anak buah Darel. Sesampai di rumah, Hendrik langsung meminta uang tersebut.
“Mana uangmu tadi?”
“Uang ini maksud Ayah?” Elena menunjukkan uang pemberian Darel.
“Mana!” Hendrik berusaha mengambil uang dari tangan Elena tetapi ditepis oleh Elena.
“Sebenarnya apa yang ada di kepala Ayah? Tega sekali Ayah menjadikan aku sebagai jaminan hutang-hutang Ayah sama pria tua, jelek, kucel, hitam, perut buncit kaya’ Darel! Astaga Ayah, maksud Ayah apa coba!” Elena yang memiliki watak keras kepala kini sedang menceramahi sang ayah dengan emosi yang memuncak.
“Maafin Ayah, Nak!” Hendrik hanya tertunduk polos bagai anak kucing yang sedang dimarahi majikannya.
“Oh sial! Wajah polos itu lagi, sekali-kali kalau aku sedang marah jangan tunjukkan ekspresi wajah seperti itu bisa nggak sih, Yah! Sudahlah Ayah memang hebat untuk berakting. Aku mau tidur, jangan ganggu aku! Jika ayah mau makan, bikin sendiri mie instan di dapur!” Elena berjalan ke kamarnya.
“Tapi uangnya bagi Ayah sedikit dong!” Hendrik membuntuti Elena yang mau masuk ke dalam kamar.
“Tidak!” Elena menutup pintu kamar dengan keras, tepat di depan Hendrik.
Di dalam kamar, Elena masih ngomel karena kecewa dengan keputusan sang ayah hingga dia tertidur karena kecapekan.
Keesokan harinya, masih sangat pagi tiba-tiba ada beberapa paket datang ke rumah sederhana Elena dan Hendrik. Dari paket kosmetik, perhiasan, tas branded, sepatu hak tinggi, dan satu koper dress import. Kurir yang mengantarkan paket tersebut mengatakan bahwa itu kiriman dari Darel.
Begitu pula dengan hari-hari berikutnya, setiap hari datang berbagai paket untuk Elena. Hingga tibalah satu Minggu yang dijanjikan.
Elena yang lupa jika hari ini hari pernikahannya tiba-tiba dibangunkan oleh pria berparas cantik.
“Hay gadis kecil, cepat bangun! Hari ini hari pernikahanmu, cepat mandi dan kita pergi ke hotel!”
“Hah, siapa kamu! Kenapa kamu bisa masuk kamarku tanpa ijin?” Elena yang baru bangun dibuat kaget dengan pria cantik itu.
“Bangun ... Bangun! Ayo mandi, hari ini hari pernikahanmu, ayo bangun!” Pria itu menarik selimut Elena.
“Pernikahan?” Elena masih tampak berpikir keras.
“Astaga cantik! Iya pernikahanmu dengan Om Darel, nanti sore akan di adakan resepsi di hotel bintang lima. Aku ke sini untuk menjemputmu.”
“Oh my God!!”
Gadis yang masih setengah sadar itu masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Sementara pria cantik itu sudah mengeluarkan tas berwarna pink dengan gliter yang menghiasi, ia juga mengeluarkan beberapa sett make up untuk digunakan.
“Eh cantik, kok masih melamun? Ayo cepat mandi sana! Iih aku sudah dari pagi buta bangun tapi kamu masih enak – enakan tidur!”
“Berisik banget, sih, kamu! Saya juga nggak minta kamu buat datang pagi – pagi ke sini!”
“Idiih calon penganten nggak boleh galak deh. Udah cepet sana kamu mandi!”
Pria cantik itu terus saja berusaha membangunkan Elena yang sebenarnya masih ingin melanjutkan tidur. Entah mengapa ia ingin menghindari semua ini.
“Bentaran lagi deh, saya mau tidur sebentar. Sumpah ngantuk banget!”
Elena tidak menghiraukan suara aneh itu. Padahal ia laki – laki, tapi berlagak seperti wanita. Mimpi apa semalam hingga Elena bisa bertemu banci saat membuka mata.
Pria cantik dengan kaos ketat dan rok mini ketat itu berjalan menuju keluar kamar. Ia memakai heels dan membiarkan rambutnya tergerai. Baru saja keluar kamar, ia sudah bertemu dengan Hendrik yang sudah siap dengan setelan kemeja, hanya tinggal memakai jas, maka hari ini ayah Elena itu akan menjadi saksi atas pernikahan sang putri. Lalu, ia akan terbebas dari hutang sekaligus menjadi pria yang kaya tanpa harus bekerja.
“Heh mau kemana kamu? Sudah jam berapa ini?” tanya Hendrik.
“Aku mau ambil air untuk anakmu yang susah di atur itu,” ucap pria cantik itu dengan manja.
“Ngapain kamu liatin saya kaya gitu? Udah sana kerja yang bener. Bilangin sama Elena kalau pernikahannya sudah menghitung jam. Saya nggak mau tahu, kamu sudah dibayar untuk bekerja. Oh ya satu lagi, jadikan dia cantik dan sempurna! Supaya Darel dan para tamu pangling saat menemuinya.”
Hendrik meninggalkan pria cantik itu begitu saja. Sementara itu, si pria cantik memendam rasa amrahnya karena sudah diperlakukan seenaknya oleh ayah Elena.
Tadinya pria cantik itu ingin bertanya letak kamar mandi kepada Hendrik, tapi karena sikap dan responnya seperti itu, ia jadi mengurungkan niatnya. Lebih baik ia mengelilingi rumah sederhana yang tidak terlalu besar ini, untuk mencari letak kamar mandi. Daripada ia harus mendengar umpatan dan mendapatkan pandangan rendah lagi.
Pria dengan rambut panjang terurai menuju ke kamar Elena dengan jalan yang berlenggak – lenggok, ia mungkin sudah lupa akan jati dirinya, dan sudah menganggap bahwa dirinya adalah wanita. Walaupun wajahnya terlihat cantik karena make up, tetapi bentuk kaki dan tangannya jelas menunjukkan bahwa ia adalah laki – laki.
Ia masuk kembali ke kamar Elena dengan membawa gayung yang sudah terisi air. Perias pengantin itu tidak kehabisan akal untuk membangunkan calon pengantinnya. Terlebih ia menangani semua ini sendiri tanpa seorang asisten.
Pria cantik itu memasukkan sebagian tangannya ke dalam gayung yang berisi air, kemudian membuat cipratan kecil di wajah Elena.
“Hey Elena! Anak perawan bangun!”
Elena hanya menggeser posisi tidurnya tanpa membuka mata.
Tak kehabisan akal, kali ini cipratan air itu kini semakin banyak. Setelah hampir setengah gayung habis, Elena tidak juga mau bangun. Akhirnya keputusan terakhir akan ia lakukan, yakni menyebor sisa air ke wajah Elena yang masih terlelap.
“Elena kalau kamu nggak bangun, jangan salahkan aku kalau wajah, kasur dan bajumu akan basah kuyup! Aku hitung sampai tiga, jika hitungan ketiga kamu masih tidur, lihat ya kejutan di pagi ini.”
“Satu…”
Elena masih beleum merespon.
“Dua…”
Perempuan itu masih nyaman memeluk guling dan memeluknya.
“Ti… Tiga…”
Pria cantik yang hendak menuangkan seluruh isi air itu akhinya tidak ia lakukan. Akhirnya Elena terbangun.
Gerakannya jauh lebih cepat daripada gerak tangan pria cantik yang sedang memegangi gayung itu.
“Aduuh! Kamu itu beneran ganggu waktu tidur saya ya!” pekik Elena dengan kesal.
“Terserah kalau pun kamu emang mau marah sama aku. Aku di sini hanya menjalankan tugas dari Om Darel. Sudah cepat sana mandi.”
Elena tidak menghiraukan ucapan pria cantik itu, ia mengambil handuk yang terletak di belakang pintu lalu segera berjalan keluar untuk membersihkan tubuhnya.
“Eh tunggu!” ujar pria cantik.
“Apa lagi? Saya udah mau mandi, nih. Mau bikin mood mandi saya hilang, hah!”
“Jadi cewek galak banget. Untung cantik, pantas saja Om Darel tergila – gila sama kamu!”
“Udah cepetan mau ngomong apa?”
“Nih,” ucap pria cantik itu sembari menyerahkan scrub kopi dan body wash dengan wangi kopi juga. “Pakai ini saat kamu mandi, supaya kulitnya lebih sehat, mulus dan glowing. Jadi pengantin itu harus cantik. Ini juga gayungnya, sekalian untuk kamu mandi.”
Elena mengambil kasar benda yang diberikan oleh penata riasnya. Perasaannya campur aduk pagi ini. Ia berjalan ke kamar dengan bibir yang terus mengumpat. Dari mulai mengumpat ayah, perias banci itu hingga Darel si tua bangka yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Pria cantik itu langsung memalingkan wajah dari Elena, kembali ke meja rias dan menata alat make up yang akan ia gunakan untuk calon pengantinnya pagi ini.
***
Langit yang semula gelap kini berganti dengan warna yang lebih terang. Matahari pagi berhasil menembus celah jendela yang ada di kamar Elena. Perias alias pria cantik itu masih duduk menunggu Elena yang belum selesai mandi sembari memainkan ponselnya.
Ia mengunggah beberapa foto di akun khusus make up yang sudah ia rintis sejak nol. Sekalipun ia bukan wanita tulen, tapi sudah banyak yang jatuh cinta dengan hasil riasannya.
Hasil riasannya terlihat sederhana, elegant dan tidak terlalu norak. Selain itu, ia pun dikenal sebagai perias tegas dan ontime. Tidak pernah menyia – nyiakan waktu atau membuat pelanggannya kecewa. Maka dari itu, saat pagi tadi pria cantik itu sangat berusaha keras untuk membangunkan Elena. Mungkin itulah yang membuat Darel memilihnya untuk merias Elena.
Sudah hampir satu jam Elena belum kembali ke kamar. Pria cantik itu merasa gelisah, kemudian dengan cepat ia berjalan untuk mendatangi Elena.
KLEK.
Baru saja ia akan keluar, Elena sudah masuk. Ia nampak wangi dan segar, menggunakan celana pendek dan tanktop berwarna hitam. Rambutnya yang basah ditutupi oleh handuk agar cepat kering. Terlihat leher yang putih, mulus dan jenjang dari gadis itu. Elena sama sekali tidak merasa sungkan, sebab ia tahu bahwa lelaki yang bersamanya itu hanyalah pria dengan sebuah kelainan.
“Elena, sudah jam berapa ini? Lama banget di kamar mandinya.”
“Yang suruh saya untuk pake scrub siapa? Saya mandi biasa aja bisa sampai satu jam, apalagi ditambah dengan ritual pakai scrub segala. Nggak usah protes deh!” pekik Elena, kemudian ia menutup pintu.
“Makanya kalau dibangunin ya langsung bangun. Waktu nggak akan ngaret kaya gini kalau kamu tepat waktu!” seru pria cantik itu.
“Bawel banget, sih!”
Elena yang sejak pagi sudah sebal, semakin dibuat kesal oleh ocehan pria cantik itu yang semakin menjadi – jadi.
“Ya udah sini kamu duduk. Nurut dan ikutin semua arahanku kalau hasil make up kamu ingin sempurna. Dilarang protes!”
Elena mengikuti arahan dari pria cantik itu. Kini, ia duduk menghadap cermin dengan beberapa jumlah sorot lampu yang membuat matanya silau.
“Sebelum aku rias, apa ada permintaan? Soalnya Om Darel menyerahkan konsep make up sesuai dengan yang kamu minta aja.”
“Terserah kamu aja. Saya nggak niat nikah, jadi mau saya di make up kaya apa juga, saya nggak peduli.”
“Astaga ini penganten emang batu banget kalau dikasih tau! Aku kasih tau ya ke kamu, menikah itu seumur hidup sekali. Siapapun itu jodoh kamu, ya kamu harus terima dan maksimal menjalankan prosesnya.”
Elena yang merasa panas mendengarkan ocehan sang perias, bangkit dari duduknya untuk mengambil ponsel beserta earphone. Dari pada mendengarkan ucapan si banci yang berisik itu, lebih baik ia mendengarkan musik.
“Nggak usah nasehatin orang, deh! Perbaiki aja diri kamu sendiri baru nasehatin orang!” seru Elena sebelum memasak earphone di kedua telinganya.
KLEK.
Suara pintu terbuka, baru saja Elena ingin menikmati paginya. Seorang lelaki membuka pintu dan berjalan ke arahnya.
“Elena, sudah jam berapa ini? Harusnya jam segini kamu sudah siap. Lihat ayah, sudah siap sejak pagi buta. Kamu itu akan menikah, jadi jangan pernah bermain – main dengan pernikahan ini.”
“Kalau bukan karena ayah, aku juga nggak sudi menikah dengan tua bangka itu.”
“Jaga ucapanmu, Elena! Kamu sudah memutuskan, dan keputusan itu harus kamu jalani sekarang!” teriak Hendrik. Lelaki itu meninggalkan Elena kembali berdua dengan penata rias di dalam kamar.
Mendengar itu Elena hanya memasang wajah yang ditekuk. Mentalnya benar – benar kacau pagi ini. Kalau saja ia punya mesin waktu, mungkin gadis itu akan melewati fase ini. Bahkan mungkin ia bisa kembali ke masa lalu, agar ikatan janji antara ayahnya dengan Darel tidak pernah terjadi.
“Sudahlah, cantik, sekarang fokus dan lihat wajahmu ke cermin. Pernikahan ini sudah jadi takdir dan kamu nggak bisa menghindarinya.”
Kali ini Elena malas menanggapi ocehan pria yang berlagak seperti wanita itu. Elena hanya menatapa dirinya di depan cermin, sembari memerhatikan sapuan dan olesan make up di wajahnya.
“Kamu nggak meminta request apapun untuk pernikahan hari ini, cantik? Kamu yakin?”
“Udah berapa kali saya bilang, terserah kamu aja. Saya juga terpaksa ngejalanin semua ini.”
“Oke, kalau gitu, biar semuanya terserah aku aja ya mau rias kamu kaya gimana juga.”
“Hm,” ucap Elena yang kini sudah memainkan ponselnya.
“Tema untuk wajahmua sepertinya lebih cocok dengan make up soft dan flawlesh. Tetap terlihat sederhana tetapi juga mewah. Pasti nanti kamu akan terlihat cantik dan tentunya Om Darel pun akan terpesona dengan hasil make up ini. Hihihihi,” ucap pria cantik itu diakhiri dengan tawa yang membuat Elena geli mendengarnya.
Pria cantik memulai dengan mengoleskan primer di wajah Elena, kemudian fondation, cream blush on, conturing, bedak tabur dan produk lainnya yang dibutuhkan di wajah calon pengantin itu. Tak lupa ia membuat alis dan membingkainya, serta memberikan eyeshadow dan gliter di kelopak matanya. Terakhir, ia mengoleskan lipstik dengan warna pink agak peach untuk menambah keanggunan di wajahnya.
Setelah make up seleai, pria cantik itu menata rambut Elena yang sudah mulai kering. Menyisirinya dan membuat sanggul di kepala Elena. Gaya rambut chignon sangat cocok untuk rambut Elena yang panjang dan bervolume. Di akhir, tak lupa sang perias itu meletakkan beberapa bunga kecil di sanggul Elena sebagai pemanis.
“Nah, selesai,” ucap pria cantik itu.
Elena takjub melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Ia merasa bahwa yang berada di sana bukanlah dirinya.
Elena mencoba menghadap ke kanan lalu kiri, untuk memastikan ternyata pantualn perempuan yang ada di sana memang dirinya sendiri.
“Gimana? Cantik bukan?” tanya pria cantik itu, sembari meletakkan jemarinya di dagu Elena yang terbelah.
Elena hanya mematung, ia ingin mengakui bahwa hasil riasannya sempurna, tetapi rasa gengsi mengusai hatinya.
Setelah make up, Elena diarahkan untuk memakai gaun pengantin yang sudah dibelikan Darel tanpa sepengatahuan Elena dan Hendrik.
“Hey cantik, sekarang kamu pakai gaun ini ya.”
Elena hanya takjub dengan gaun yang dibawa oleh pria cantik itu. Ia sudah bisa menebak bahwa gaun yang dipakainya bukanlah gaun murahan.
Gaun dengan warna putih cantik dan panjang menyapu lantai. Pikiran Elena sudah menerawang jauh pasti ia kan terlihat cantik dan anggun saat menggunakan gaun itu. Untuk pertama kalinya, Elena menuruti apa yang diperintahkan oleh perias itu tanpa menolaknya. Ia memasukkan bagian tangan secara bergantian, hingga gaun itu telah melekat di tubuhnya.
Elena melihat dirinya kembali di depan cermin. Kali ini penampilannya benar – benar seperti putri di dalam dongeng. Sayangnya, bukan pangeran tampan yang akan menikahninya. Melainkan hanya pria gendut yang lebih layak disebut sebagai si buruk rupa.
“Sekarang, aku mau ambil gambar kamu ya untuk arsipku.”
Pria cantik itu menyalakan ring light dan mulai memotret Elena. Ia mengarahkan gaya agar Elena tersenyum dan menempelkan jemarinta di dekat wajah.
“Senyum cantik, 1 2 3, oke sempurna!”
“Dekatkan jarinya, cantik, siap ya. Aku potret, 1 2 3, percfect!”
Setelah melihat ulang hasil foto tersebu, si pria cantik mulai merasa puas.
“Jangan kirim foto saya ke tua bangka itu ya!” perintah Elena.
Pria cantik itu hanya tersenyum. “Ngapain juga aku kirim foto ke dia, nanti malam juga dia bakal unboxing kamu!”
“Jaga ucapan kamu!”
Pria cantik itu hanya tersenyum, sembari merasa geli membayangkan malam pertama calon pengantin yang ada di hadapannya dengan Om Darel, pria dengan tubuh gendut itu.
“Sssst, nggak boleh marah – marah, nanti cantiknya bisa hilang, lho!” ucap si perias dengan surasa berbisik.
Elena hanya memalingkan wajah dari pria cantik yang ada di hadapannya.
***
KLEK.
Pintu kembali dibuka. Sesuai dugaan Elena, Hendrik kembali membuka pintu untuk memastikan apakah putrinya sudah selesai di make up atau belum.
Saat membuka pintu, Hendrik terpaku dengan kecantikan putrinya. Lelaki itu sama sekali tak mengedipkan kedua matanya. Ia memandangi Elena dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Amazing! Putri ayah cantik sekali,” puji Hendrik di depan Elena.
“Tentu saja om, kan aku yang buat dia jadi cantik,” balas pria cantik yang sedang mengembalikan alat make up ke dalam tasnya.
“Diam kamu! Saya nggak bicara sama kamu!” pekik Hendrik dengan tatapan sinis, kemudian ia mengalihkan lagi pandangan kepada Elena.
“Sudah siap, Elena?”
“Hm,” jawab putrinya singkat.
“Orang suruhan Darel sudah datang dan menjemput kita dengan mobil. Setelah dia selesai mengemasi barang – barangnya, ayo kita berangkat ke hotel.”
“Hah, hotel?”
“Iya hotel. Kamu akan menikah di hotel bersama Darel! Nggak usah banyak protes, lakukan saja yang sudah menjadi keewajibanmu.”
Suasana seketika menjadi hening. Elena lagi dan lagi tidak punya pilihan, selain menjalankan perannya dengan baik mulai hari ini, meskipun dengan perasaaan terpaksa.