Keira hanya bisa menelan ludah. Semua mata di ruangan itu, dari level manajer hingga staf junior, menatapnya seolah ia baru saja memenangkan undian miliaran. Atau seolah ia adalah penyebab kerugian perusahaan.
Aksel sudah berjalan menuju lift eksklusifnya, tanpa menoleh, yakin seratus persen bahwa Keira akan mengikutinya. Pria itu memang selalu seperti itu-mengambil keputusan, mengharapkan kepatuhan, tanpa perlu basa-basi.
Keira mengekor, jantungnya berdetak kencang seperti drum solo. Begitu mereka masuk ke lift dan pintu perak itu tertutup, Keira langsung merasa tercekik. Lantai 30. Lantai teratas. Lantai kekuasaan. Dan sekarang, ia terkunci di kotak logam sempit bersama Aksel.
Keira mencoba mengatur napasnya. "Ada urusan apa, Pak Aksel? Apa ada kaitannya dengan restrukturisasi?" tanyanya, berusaha keras agar suaranya terdengar profesional dan tidak bergetar.
Aksel menekan tombol berhenti darurat di tengah perjalanan mereka naik. Lift itu bergetar sebentar, lalu berhenti total.
"Restrukturisasi?" Aksel menoleh, tatapannya menghanguskan. "Kamu pikir saya memanggilmu ke kantor saya yang paling pribadi hanya untuk urusan laporan keuangan?"
Keira mundur selangkah, menempel ke dinding lift. "Lalu apa? Kalau Bapak mau membahas semalam, aku sudah bilang, aku tidak akan bicara dengan siapa pun. Aku akan-"
"Dengar," potong Aksel dingin. "Saya tidak peduli dengan janji-janji bodohmu. Saya hanya peduli pada reputasi dan aset saya."
Aksel mendekat, tatapannya menyapu wajah Keira. "Kamu menolak uang saya pagi ini. Itu membuat saya curiga."
"Curiga apa?" Keira balas menatap, marah dan lelah. "Curiga aku mau menjebak Bapak? Aku sudah kehilangan pekerjaan, ditinggalkan tunangan, apa lagi yang bisa Bapak ambil dariku sampai Bapak harus curiga begini?"
"Semua orang bisa berbohong," kata Aksel, sama sekali tidak terpengaruh oleh air mata Keira yang mulai menggenang. "Dengar baik-baik. Ini yang akan kita lakukan. Kamu akan menandatangani Perjanjian Kerahasiaan. Malam itu tidak pernah terjadi. Dan di kantor, kamu bertindak seperti staf biasa. Tidak ada tatapan aneh, tidak ada kecanggungan. Paham?"
Keira menggertakkan giginya. "Perjanjian Kerahasiaan? Kenapa aku harus repot-repot menandatangani itu kalau Bapak sudah tahu aku tidak akan bicara?"
"Karena saya butuh jaminan legal. Dan kedua," Aksel menyalakan kembali lift dan melanjutkan perjalanan mereka, "kamu sekarang adalah anggota tim saya. Saya menunjukmu sebagai Asisten Proyek A-1 mulai hari ini. Ini proyek paling krusial perusahaan. Ini bukan promosi, ini pekerjaan darurat."
Keira benar-benar terkejut. "Aku? Proyek A-1? Tapi aku dari bagian pemasaran retail!"
"Pemasaran dan negosiasi. Itu yang kamu lakukan. Sekarang kamu akan melakukannya di level yang berbeda. Di mata semua orang, kamu sudah jadi orang penting. Ini akan menjelaskan kenapa kamu dekat dengan saya. Itu akan membungkam gosip apapun sebelum dimulai."
Keira terdiam saat lift terbuka di lantai 30. Ini bukan sekadar ancaman, ini adalah pemaksaan. Aksel memaksanya masuk ke lingkaran dalam, menempatkannya di bawah pengawasannya, di bawah ancaman hukum, dan memberinya tanggung jawab besar yang ia sama sekali tidak siap emban.
Keira terpaksa mengikuti Aksel ke dalam kantornya. Ruangan itu luas, didominasi warna gelap dan pemandangan kota yang menakjubkan. Ada aura dingin dan kekuasaan di setiap sudut.
Aksel langsung duduk di kursi besarnya dan membuka laci. Ia mengeluarkan sebuah berkas tebal.
"Duduk," perintah Aksel, menunjuk kursi di depan meja. "Baca ini. Setiap kata. Tidak ada pengecualian."
Berkas itu adalah Perjanjian Kerahasiaan (PK) yang tebalnya seperti novel. Isinya rumit, penuh jargon hukum yang Keira tidak pahami, tapi intinya jelas: jika ia berani membocorkan hubungan mereka, Aksel berhak menuntutnya sampai ia bangkrut tujuh turunan.
Saat Keira membaca, Aksel hanya menatapnya. Tatapan itu terasa memberatkan. Itu bukan tatapan CEO kepada staf, itu tatapan pengawas kepada tawanan.
"Kenapa Bapak sebegitu takutnya dengan skandal?" Keira bertanya, tanpa mengangkat kepala dari kertas.
Aksel menghela napas, seolah Keira menanyakan pertanyaan paling bodoh di dunia. "Ini bukan soal takut, ini soal profesionalitas. Perusahaan sedang negosiasi besar dengan investor asing. Skandal pribadi saya bisa membuat mereka mundur. Itu bukan hanya merusak reputasi saya, tapi merusak hidup ribuan karyawan yang kamu khawatirkan tadi pagi."
Keira terdiam. Penjelasan itu masuk akal, tapi tetap tidak menghilangkan rasa pahit di hatinya.
"Baiklah, aku akan tanda tangan," kata Keira, meraih pena. "Tapi aku punya syarat."
Aksel menyeringai tipis, ekspresi yang langsung membuat Keira merasa bodoh. "Kamu dalam posisi apa menuntut syarat, Keira?"
"Aku tidak dibayar untuk menutupi kesalahan Bapak," balas Keira tegas. "Aku akan melakukan Proyek A-1 dengan gaji dan tunjangan yang sesuai, bukan hanya gaji staf retail lama. Dan aku tidak mau ada lagi uang 'kompensasi' yang Bapak tawarkan. Aku hanya menerima gaji."
Aksel menatap Keira sejenak, tampaknya mengukur ketegasan di matanya. "Baik. Gaji Proyek A-1 akan disesuaikan dengan standar yang berlaku. Sekarang tanda tangan."
Keira menandatangani PK itu dengan rasa ngeri. Selesai. Secara hukum, ia sekarang terikat dengan rahasia CEO-nya.
"Selesai. Aku akan mulai bekerja sekarang," kata Keira, berdiri.
"Tunggu," kata Aksel, "kamu harus duduk di sini mulai sekarang. Saya tidak bisa membiarkan kamu bekerja di lantai lain. Terlalu berisiko."
Aksel menunjuk sebuah meja kerja yang baru saja diatur, tepat di sudut kantornya. "Ini adalah ruang kerjamu. Kamu tidak pergi ke mana-mana tanpa izin saya."
Keira merasa seperti dikandangin. Ia tahu Aksel tidak hanya melindunginya dari media, tapi juga mengawasi Keira agar ia tidak berbuat macam-macam.
Meskipun Keira dan Aksel sudah membuat "kesepakatan" dan Keira sudah dikurung di lantai 30, gosip tentang Keira ternyata menyebar secepat kilat.
Saat jam makan siang, Keira harus turun ke kafetaria kantor. Ia harus makan, lagipula ia belum sarapan.
Begitu ia masuk ke kafetaria, kebisingan obrolan langsung mereda. Keira merasa seperti artis yang baru saja difoto tanpa busana. Para karyawan menatapnya dengan campuran iri, jijik, dan penasaran.
"Keira! Lo beneran diangkat jadi asisten CEO?" Desi menghampirinya, matanya melotot.
"Iya, Des. Proyek A-1," jawab Keira, mencoba bersikap normal sambil mengantri makanan.
"Gila! Kenapa mendadak? Lo kan cuma dari pemasaran retail," seorang staf lain menyahut sinis. "Kemarin katanya lo keluar dari mobil yang supermewah banget di basement VVIP. Mobil Aksel, kan?"
Keira merasa wajahnya memanas. Mereka melihatnya. Tentu saja, mobil semewah itu tidak mungkin luput dari mata orang kantor.
"Aku cuma... menumpang," Keira berbohong, berusaha terdengar meyakinkan. "Aku harus segera ikut rapat dadakan sama Pak Aksel pagi-pagi, jadi dijemput supirnya."
"Dijemput supir? Sampai bajumu robek di bahu begitu?" sindir seorang manajer dari departemen keuangan. Semua orang tertawa kecil, tawa sinis yang membuat telinga Keira berdenging.
Desi menarik Keira menjauh. "Keira, lo harus hati-hati. Gosipnya nggak enak. Mereka bilang lo 'menjual' diri buat dapat posisi itu. Apalagi Aksel terkenal tidak pernah melihat wanita dua kali. Ini aneh banget."
Keira menunduk, menggenggam erat nampan makanannya. Hatinya sakit. Ia bekerja keras untuk naik jabatan. Tapi satu malam bodoh, satu botol minuman sialan, dan semua usahanya dihancurkan oleh rumor murahan. Ia tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Itu memang terlihat sangat mencurigakan.
Saat Keira kembali ke lantai 30, ia sudah bertekad. Ia harus membuktikan diri dalam Proyek A-1.
Ia masuk ke kantor Aksel yang hening. Aksel sedang menerima telepon penting. Keira duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai mempelajari berkas Proyek A-1. Itu adalah proyek negosiasi penjualan saham mayoritas ke investor asing untuk menyelamatkan perusahaan. Tugas yang sangat berat.
Keira membaca detailnya. Ia menyadari satu hal: Proyek ini tidak akan berhasil tanpa pemikiran kreatif di luar kotak. Dan Keira, dengan latar belakang pemasaran retail-nya yang selalu berhubungan langsung dengan konsumen, mungkin punya sudut pandang yang Aksel-si Tangan Besi-tidak miliki.
Saat Aksel menutup telepon, ia menatap Keira yang fokus pada laptop.
"Kamu sudah baca berkasnya?" tanya Aksel.
"Sudah, Pak. Menurutku, rencana negosiasi ini terlalu fokus pada angka dan kurang pada janji masa depan yang bisa dipasarkan," kata Keira, tanpa ragu. Ia harus bersikap berani. Ini adalah pekerjaan, bukan drama.
Aksel menyilangkan tangan di dada, mendengarkan.
"Investor asing itu butuh janji yang bisa dijual di pasar mereka. Angka kerugian kita memang besar, tapi kita punya potensi pasar domestik yang belum dieksplorasi. Kita bisa jual itu."
Aksel terdiam lama, memandangi Keira. Keira bersiap untuk dimarahi karena terlalu lancang.
Namun, Aksel hanya mengangguk pelan. "Menarik. Masukkan saranmu itu dalam bentuk proposal singkat, Keira. Saya mau lihat hari ini juga."
Meskipun Aksel tampak serius dan profesional, Keira melihat ada sorot mata lain saat Aksel menatapnya, sorot mata yang bukan dari seorang CEO kepada staf. Sorot mata yang mengatakan, Saya melihatmu. Dan saya tahu apa yang kita lakukan semalam.
Ketegangan di antara mereka berdua tidak hanya disebabkan oleh rahasia kotor itu, tapi juga oleh jarak status yang sangat jauh. Keira sekarang harus berjalan di antara dua garis: garis profesionalitas di siang hari dan garis rahasia kelam di malam hari. Ia harus sangat berhati-hati, karena satu langkah salah, ia bisa jatuh dan menghancurkan dirinya sendiri, atau lebih buruk lagi, menghancurkan perusahaan yang sudah di ujung tanduk ini.
Keira duduk di meja barunya di sudut kantor Aksel, laptop menyala, tetapi pikirannya terasa beku. Ia sudah mengirimkan draf proposalnya tentang potensi pasar domestik kepada Aksel. Respons Aksel sangat minim, hanya anggukan singkat yang ambigu, yang entah berarti setuju atau meremehkan.
Ia mencoba fokus pada angka-angka Proyek A-1, tetapi sulit sekali. Setiap kali ia mengangkat kepala, ia melihat Aksel, yang duduk di belakang meja besarnya, sibuk dengan telepon atau dokumen. Rasanya seperti ada spotlight yang mengarah padanya, diawasi setiap detik oleh pria yang semalam... ah, lupakan.
Keira meraih ponselnya untuk mengecek email. Tidak ada yang penting, hanya notifikasi tagihan yang jatuh tempo. Hidupnya memang selalu dikejar-kejar tagihan, dan kini ditambah dengan utang rahasia pada CEO-nya sendiri.
Tiba-tiba, interkom berbunyi. Suara Aksel terdengar dingin, meskipun Keira hanya berjarak beberapa meter.
"Keira, ke sini sebentar."
Keira meletakkan pena dan berjalan mendekat. Aksel meletakkan berkas di depannya. Itu adalah salinan Perjanjian Kerahasiaan yang ia tanda tangani kemarin.
"Ada yang kurang jelas?" tanya Keira.
"Ini kurang mengikat," kata Aksel, sorot matanya tajam. "Saya sudah berkonsultasi dengan pengacara saya. Kami perlu menambah klausul yang lebih keras mengenai pelanggaran. Ini bukan hanya denda. Ini akan melibatkan tuntutan pidana jika kamu terbukti membocorkan informasi."
Keira terkejut. "Tuntutan pidana? Pak Aksel, aku sudah bilang aku tidak akan bicara! Bapak seolah berpikir aku ini pembunuh berantai yang akan menghancurkan hidup Bapak!"
Aksel bersandar di kursinya, memasang wajah tanpa emosi yang ia kuasai. "Dengarkan saya, Keira. Ini bukan tentang kepercayaan. Ini tentang perlindungan aset. Jika ada satu saja celah, pengacara musuh bisa masuk. Dan saat ini, kamu adalah celah terbesar saya."
Ia menunjuk pasal baru yang ditambahkan, yang intinya menyatakan bahwa jika Keira melanggar PK, seluruh asetnya, bahkan gaji Proyek A-1-nya, akan disita sebagai jaminan, dan ia bisa menghadapi tuntutan hukum di pengadilan.
"Aku tidak punya aset apa-apa, Pak! Aku hanya punya hutang!" protes Keira, merasa terpojok.
"Itu tidak masalah. Selama kamu diam, berkas ini hanya akan menjadi tumpukan kertas," ujar Aksel. "Tanda tangani. Sekarang."
Keira merasa tangan dan kakinya dingin. Ini adalah tekanan yang luar biasa. Ia adalah pion di papan catur Aksel. Ia meraih pena, tangannya sedikit bergetar, dan membubuhkan tanda tangan di sebelah pasal-pasal baru yang mengerikan itu. Setelah ia selesai, Aksel mengambil berkas itu kembali, menyimpannya di brankas digitalnya.
"Bagus," kata Aksel, kembali fokus pada laptopnya. Itu adalah akhir dari diskusi. Keira kembali ke mejanya, merasa dirinya baru saja menjual jiwanya demi sebuah pekerjaan yang belum tentu ia pertahankan.
Sore itu, suasana di kantor Aksel terasa lebih tenang. Aksel sedang menerima telepon penting di sofa sudut, suaranya pelan dan tertutup. Keira sibuk menyusun data pasar untuk proposalnya.
Tiba-tiba, ponsel Aksel yang tergeletak di meja bergetar, menampilkan notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Keira tidak bermaksud mengintip, tetapi layar pop-up itu terbuka lebar.
Pesan itu bertuliskan: Laporan sudah saya terima. Staf Marketing Retail bernama Keira Anjani memang mabuk berat setelah menerima telepon yang berisi berita buruk soal utang keluarga dan ditinggalkan tunangan. Tidak ada indikasi ia sengaja menjebak.
Mata Keira membelalak. Ia membaca pesan itu dua kali untuk memastikan. Laporan sudah saya terima.
Aksel ternyata menyewa orang untuk menyelidikinya. Aksel tidak percaya padanya sedikit pun. Setelah ia bersumpah tidak akan bicara, setelah ia menolak uang tutup mulut, Aksel tetap memperlakukannya sebagai ancaman yang harus ditelusuri riwayatnya.
Rasa marah dan sakit hati bercampur aduk. Jadi, Aksel sudah tahu semua kelemahannya: utangnya, depresinya, ditinggalkan tunangan. Aksel tahu Keira benar-benar dalam titik terendah, dan ia menggunakan informasi itu untuk memperketat kendali atas Keira.
Ketika Aksel kembali dari sofa, ia tampak lebih santai.
"Proposalmu cukup bagus, Keira," puji Aksel, nadanya sedikit lebih lunak dari biasanya. "Kita akan gunakan beberapa poinmu. Sekarang, tolong siapkan ringkasan tentang potensi kerugian jika kita kehilangan pasar di sektor B."
"Baik, Pak," jawab Keira, suaranya datar.
Aksel menyadari nada dingin itu. "Ada masalah?"
Keira menatapnya lurus. Ia tidak bisa menanyakan tentang pesan tadi, itu akan membuktikan ia mengintip. Ia harus menahannya. "Tidak ada, Pak. Hanya sedikit pusing."
"Kalau begitu, kamu boleh pulang lebih cepat hari ini," kata Aksel. "Besok kita harus terbang pagi ke Singapura untuk bertemu tim investor. Istirahatlah."
Keira mengangguk, mengambil tasnya. Saat ia berjalan keluar, ia bisa merasakan tatapan Aksel di punggungnya. Tatapan yang sekarang terasa ganda: CEO yang mengawasi aset, dan pria yang tahu semua rahasia tergelapnya.
Keira tiba di kos-kosannya dengan hati yang berat. Begitu ia membuka pintu, ia melihat ada amplop putih yang diselipkan di bawah pintu.
Itu surat tagihan dari leasing motornya yang sudah tertunggak dua bulan, dan sebuah kartu pos. Kartu pos itu bergambar Malioboro, dikirim dari kampung halamannya.
Ia membuka kartu pos itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan itu milik Ibu tirinya.
Keira sayang, Ibu tahu kamu pasti sudah sukses di Jakarta. Keluarga di sini sedang butuh uang mendesak untuk biaya operasi Ayahmu. Pinjaman yang kamu jamin atas nama Ayah sudah jatuh tempo, dan sekarang bunganya makin besar. Tolong segera kirimkan uangnya. Jangan sampai kita malu di kampung karena Ayahmu masuk penjara gara-gara utang.
Dunia Keira terasa runtuh. Ayahnya sakit. Ayah tiri dan ibu tirinya malah membebaninya dengan utang yang harus ia tanggung. Inilah alasan kenapa ia sampai nekat mabuk. Tekanan finansial yang mencekiknya.
Keira menghitung uang di dompetnya. Tidak cukup. Bahkan setelah ia menerima gaji besarnya di Proyek A-1 pun, uang itu mungkin hanya akan cukup untuk membayar sebagian utang itu.
Ponselnya berdering. Itu nomor yang tidak ia kenal.
"Halo?"
"Keira? Ini aku, Bima."
Bima. Mantan tunangannya. Pria yang meninggalkannya karena memilih wanita yang lebih kaya.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Keira, suaranya tajam.
"Tenang, Keira. Aku cuma mau tanya," suara Bima terdengar licik. "Aku dengar-dengar dari temanku di Sagara Jaya, kamu sekarang sudah jadi orang penting, ya? Asisten CEO? Itu Aksel Sanjaya, kan?"
"Bukan urusanmu," Keira menggigit bibir.
"Oh, tentu saja urusanku. Aku dengar dia orang kaya, super kaya. Pasti kamu punya akses ke dia, kan?" Bima terdengar seperti lintah darat. "Dengar, Keira. Aku sedang butuh modal cepat. Kalau kamu mau bantu aku mengenalkan ke dia, atau paling tidak pinjamkan uang dari gajimu yang pasti gede itu, aku janji utang keluarga kita yang dulu, yang dijamin sama kamu, akan aku bereskan."
Keira tertawa sinis. "Kamu pikir aku bodoh, Bima? Utang itu kamu yang buat, dan sekarang kamu mau aku menyeret CEO-ku ke masalahmu? Kamu pergi sana!"
"Tunggu, Keira! Jangan tutup teleponnya!" Bima berteriak. "Aku tahu kamu dekat sama dia sekarang. Jangan sampai aku membocorkan ke teman-teman kantor, kenapa kamu mabuk di kelab hari itu! Atau lebih parah, kalau aku kasih tahu tunangan baruku kalau kamu sudah naik jabatan lewat jalan pintas!"
Ancaman itu membuat Keira terdiam. Mantan tunangannya kini menjadi pemeras. Ia benar-benar sampah.
"Aku tidak ada urusan sama Bapakmu, Bima. Jangan pernah hubungi aku lagi," kata Keira, lalu mematikan telepon.
Keira duduk di lantai kos-kosannya, air mata mengalir deras. Aksel sudah mengikatnya secara hukum dan ia mengawasi semua gerak-geriknya. Sementara itu, utang keluarga dan ancaman dari Bima mulai menyeretnya dari belakang.
Ia terjebak. Di depan, ia harus menjadi staf yang brilian di mata Aksel, orang yang baru ia tiduri. Di belakang, ia harus berjuang sendirian melawan utang, keluarga yang menuntut, dan mantan yang memeras.
Keira menyeka air matanya. Ia harus kuat. Tidak ada waktu untuk patah hati. Besok pagi, ia harus terbang ke Singapura bersama Aksel, dan ia harus terlihat sempurna.
Ia membuka laptopnya kembali, mulai menyusun proposal untuk Aksel. Ia tahu, satu-satunya jalan keluar adalah uang. Dan uang hanya bisa didapatkan jika ia berhasil dalam proyek ini, di bawah pengawasan ketat CEO-nya. Ya, Pak Aksel, pikir Keira. Aku terikat padamu sekarang, dan kamu akan melihat betapa bagusnya aku, meski aku harus menjual jiwaku.