Detak jantung Clara berpacu seperti genderang perang dalam dadanya, mengalahkan irama lagu lembut yang mengalun dari radio di dapur. Senyum merekah di bibirnya, begitu lebar hingga terasa sakit. Tangannya gemetar saat memegang alat uji kehamilan yang menunjukkan dua garis merah tegas. Positif. Hamil. Kata itu, yang selama delapan tahun hanya menjadi mimpi bisu, kini nyata, bergetar dalam setiap serat tubuhnya.
Selama delapan tahun terakhir, hidup Clara adalah sebuah rahasia. Pernikahannya dengan David, seorang pengusaha muda yang sedang naik daun, dilangsungkan secara diam-diam. Tidak ada pesta megah, tidak ada gaun putih yang menjuntai, hanya sumpah setia di hadapan beberapa saksi terdekat dan wali. David selalu punya seribu alasan mengapa pernikahan mereka harus dirahasiakan. "Ini demi karierku, Clara," katanya dulu, dengan tatapan serius yang selalu berhasil meluluhkan hatinya. "Publik belum siap menerima ini. Aku butuh waktu untuk membangun fondasi yang kuat, lalu kita akan mengumumkan semuanya."
Clara percaya. Ia percaya pada cinta David, pada janji-janji masa depan yang dilukisnya dengan begitu indah. Ia memendam kerinduan akan pengakuan, menelan pil pahit ketika melihat David berinteraksi dengan wanita lain di acara-acara publik, bahkan ketika berita gosip tentang David dan kolega wanita muncul di majalah hiburan. Clara selalu menghibur diri, "Ini hanya bagian dari sandiwara. Sebentar lagi, semua akan berakhir. Sebentar lagi, David akan mengumumkan kita."
Dan kini, dengan dua garis merah itu, Clara merasa saatnya telah tiba. Ini adalah kuncinya, tiketnya menuju kehidupan yang diidamkannya. Seorang anak. Bagaimana mungkin David bisa menyembunyikan seorang anak? Bagaimana mungkin David tidak mengumumkan pernikahan mereka ketika ada buah hati yang akan lahir? Kegembiraan membanjiri dirinya, melenyapkan semua keraguan dan kecemasan yang selama ini bersarang di hatinya. Ia membayangkan wajah David saat diberitahu kabar bahagia ini. Pasti David akan melompat kegirangan, memeluknya erat, dan tanpa ragu, langsung menelepon orang-orang terdekatnya untuk mengumumkan kabar baik ini, sekaligus kabar tentang pernikahan mereka.
David pulang larut malam, seperti biasa. Clara sudah menunggu di ruang tamu, jantungnya berdebar kencang. Ia sudah menyiapkan makan malam favorit David, masakan Italia dengan aroma basil dan tomat yang menggoda. Rumah itu hangat, diterangi lampu temaram yang menciptakan suasana romantis. Clara memakai gaun sederhana namun anggun, rambutnya terurai indah, dan wajahnya berseri-seri. Ia ingin momen ini sempurna.
Ketika David masuk, wajahnya tampak lelah. Ia melepas jasnya, melonggarkan dasinya, dan menghela napas panjang. "Maaf terlambat, Clara. Ada rapat penting."
"Tidak apa-apa, David," jawab Clara, suaranya sedikit bergetar karena antusiasme yang tertahan. "Aku sudah menyiapkan makan malam. Ayo makan dulu."
Selama makan malam, Clara mencoba mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan berita besar itu. Namun David terlihat sibuk dengan ponselnya, sesekali menjawab panggilan telepon atau membalas pesan. Perhatiannya terpecah, seolah pikirannya melayang jauh. Clara menelan kekecewaan kecil yang muncul, meyakinkan dirinya bahwa ini hanya kelelahan biasa.
Setelah makan, David beranjak ke ruang kerjanya. Clara mengikutinya, membawa secangkir teh herbal hangat. "David," panggilnya lembut, meletakkan cangkir di meja.
David mendongak dari layar laptopnya. "Ya, Clara?"
"Ada yang ingin aku bicarakan," kata Clara, tangannya meremas ujung gaunnya. Ini dia. Momennya. Ia mengambil napas dalam-dalam. "Aku... aku hamil, David."
Ada jeda hening yang panjang. Detik-detik terasa membeku. Mata David yang semula fokus pada layar, kini menatap Clara. Bukan dengan kegembiraan yang diharapkan Clara, bukan dengan senyuman lebar, melainkan dengan keterkejutan yang samar, lalu diikuti oleh ekspresi tidak percaya yang dingin.
"Apa?" Suara David terdengar datar, nyaris berbisik.
Hati Clara mencelos sedikit, namun ia berusaha menepisnya. Mungkin David terkejut karena ini kabar bahagia yang tak terduga. "Ya, David. Kita akan punya bayi." Senyumnya mengembang lagi, mencoba menularkan kebahagiaannya.
David bangkit dari kursinya, berjalan mendekat. Ia tidak memeluk Clara, tidak menciumnya, seperti yang Clara bayangkan. Ia hanya berdiri di hadapannya, tatapannya menyusuri wajah Clara, lalu beralih ke perutnya. "Bagaimana bisa?" tanyanya, nada suaranya kini sedikit lebih keras, terdengar seperti tuduhan.
Pertanyaan itu membuat Clara membeku. Bagaimana bisa? Apa maksudnya? "Bagaimana bisa? Ya, seperti pasangan pada umumnya, David. Kita menikah..."
"Tidak, bukan itu maksudku!" David memotong, suaranya naik satu oktaf. Ia berbalik, berjalan mondar-mandir di ruangan kecil itu. "Kita sudah sepakat, bukan? Aku sudah bilang, ini bukan waktu yang tepat untuk memiliki anak! Kita sudah membahas ini!"
Clara merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Kesepakatan? David tidak pernah menyebutkan "kesepakatan" tentang tidak memiliki anak. David hanya selalu berkata "belum waktunya" untuk mengumumkan pernikahan mereka. Pikiran Clara kacau. "Tapi David... kita sudah menikah delapan tahun. Kapan waktunya akan tiba? Dan ini... ini bukan sesuatu yang bisa direncanakan sepenuhnya. Ini adalah berkah..."
David tiba-tiba berhenti, menatap Clara dengan pandangan tajam yang belum pernah Clara lihat sebelumnya. Ada kemarahan yang membara di matanya, bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang membuat Clara merinding. "Berkah? Ini adalah bencana, Clara!"
Kata-kata itu menghantam Clara seperti pukulan telak. Napasnya tercekat. "Bencana?" ulangnya, suaranya nyaris tak terdengar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ya! Bencana! Kau tahu seberapa keras aku bekerja untuk membangun perusahaan ini? Seberapa banyak yang harus aku korbankan? Reputasiku sedang dipertaruhkan! Aku akan segera menandatangani kontrak besar dengan investor asing, dan berita tentang pernikahan rahasia... dan sekarang anak? Itu akan menghancurkan segalanya!" David membentak, suaranya memenuhi ruangan.
Clara tidak bisa bernapas. Semua gambaran indah tentang masa depan yang baru saja ia lukis, hancur berkeping-keping di hadapannya. Ia merasa dipermainkan, diinjak-injak. "Jadi... jadi selama ini aku hanya dijadikan pengganti?" bisiknya, suaranya sarat dengan kepedihan. "Pengganti untuk apa, David? Untuk siapa?"
David terdiam sesaat, menghindari tatapan Clara. Ia mengusap wajahnya kasar. "Clara, ini bukan tentang pengganti. Ini tentang prioritas. Aku punya ambisi, aku punya tujuan. Aku sudah menjelaskan ini dari awal!"
"Menjelaskan apa? Menjelaskan bahwa aku adalah rahasia yang harus kau sembunyikan selama delapan tahun? Menjelaskan bahwa aku tidak pernah berarti apa-apa bagimu selain seorang istri bayangan yang bisa kau panggil kapan saja, dan kau singkirkan kapan saja?" Suara Clara naik, air mata mengalir deras di pipinya. Kemarahan mulai membakar hatinya, mengalahkan rasa sakit.
"Jangan drama, Clara!" David mendekat, meraih lengannya. "Mari kita bicarakan ini baik-baik. Kita bisa mencari solusi. Mungkin... mungkin kita bisa..."
Clara menarik lengannya dengan kasar. Ia sudah tidak tahan. Kata-kata David menusuknya, membuatnya muak. Ia menatap David dengan mata merah, penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, David. Tidak ada solusi. Aku sudah muak dengan semua rahasia ini. Aku muak dengan menjadi bayanganmu."
David menatapnya, ada kilatan amarah di matanya. "Jadi, apa maumu, Clara? Mau mengancamku dengan kehamilan itu?"
Kata-kata David seperti percikan api yang menyulut kemarahan Clara. Ia tersenyum getir, senyum yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. "Mengancam? David, aku hanya ingin hakku. Hak untuk diakui sebagai istrimu. Hak untuk anak ini memiliki seorang ayah yang tidak malu mengakuinya. Tapi sepertinya, itu terlalu besar untukmu." Ia mengambil napas dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Kalau begitu, aku tidak ingin apa-apa lagi darimu."
David menatapnya tidak percaya. "Apa maksudmu?"
"Aku menggugat cerai kamu, David." Kata-kata itu meluncur dengan tegas dari bibir Clara, mengejutkan dirinya sendiri. Ada rasa lega yang aneh setelah mengatakannya, bercampur dengan ketakutan yang mencekam.
Wajah David langsung memucat. Ia terpaku, seolah disambar petir. Lalu, kemarahan yang sebelumnya terpendam, meledak. "Cerai?! Kau gila, Clara?! Setelah semua yang kita lalui?! Setelah aku memberikanmu segalanya?!"
"Memberikan segalanya?!" Clara tertawa hampa. "Kau memberiku penantian, David! Kau memberiku janji kosong! Kau memberiku delapan tahun hidupku di balik bayang-bayang!"
Kemarahan David memuncak. Ia tidak bisa lagi mengendalikan diri. Dalam sekejap, ia mendekat, meraih bahu Clara dengan kasar. "Kau tidak akan bisa melakukan ini, Clara! Kau tidak akan bisa menceraikanku! Kau milikku! Kau tahu itu!" Cengkeramannya menguat, menyakitkan.
Clara berusaha melepaskan diri, namun David semakin erat mencengkeramnya. Matanya memerah, napasnya memburu. "Lepaskan aku, David! Jangan sentuh aku!"
David seolah tidak mendengar. Kemarahan dan kepanikan menguasai dirinya. Ia mencengkeram Clara, mengguncangnya, seolah ingin menyadarkan wanita itu dari apa yang David anggap sebagai kegilaan. "Pikirkan baik-baik, Clara! Kau akan menyesalinya! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
Rasa sakit dan ketakutan menyelimuti Clara. Ia berjuang, berteriak, namun David semakin kehilangan kendali. Cengkeraman David semakin kuat, menarik tubuh Clara hingga Clara jatuh, kepalanya membentur sudut meja yang keras. Rasa sakit yang tajam menjalar, diikuti oleh kegelapan yang pekat.
Ketika Clara membuka matanya, ia berada di rumah sakit. Aroma antiseptik menusuk hidungnya. Ada rasa sakit yang luar biasa di kepalanya dan di bagian bawah perutnya. Di samping ranjang, seorang dokter wanita menatapnya dengan ekspresi prihatin.
"Nyonya Clara, Anda sudah sadar," kata dokter itu lembut. "Bagaimana perasaan Anda?"
Clara mencoba berbicara, namun suaranya tercekat. "Anakku... bagaimana anakku?" Tiba-tiba, ia teringat semua yang terjadi. Pertengkaran dengan David, benturan, rasa sakit...
Dokter menghela napas. "Saya turut berduka, Nyonya Clara. Anda mengalami pendarahan hebat. Kami berhasil menyelamatkan satu dari dua janin Anda."
Dunia Clara runtuh lagi. Satu dari dua janin? Ia mengandung kembar? Dan kehilangan satu? Rasa sakit fisik tidak sebanding dengan hantaman emosional yang ia rasakan. Tangannya terangkat, menyentuh perutnya yang masih terasa kosong sekaligus nyeri. Air mata mengalir tanpa henti. Satu janinnya... David... kekerasan David...
"Suami Anda, Tuan David, ada di luar. Dia sangat khawatir," kata dokter itu.
Mendengar nama David, seluruh tubuh Clara menegang. Khawatir? Setelah apa yang dilakukannya? Clara merasakan gelombang kemarahan yang dingin dan tajam. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk pria itu. Hanya ada kebencian yang mendalam, dan kekosongan yang menganga di hatinya akibat kehilangan yang tak termaafkan.
Sejak hari itu, Clara bukan lagi Clara yang dulu. Wanita patuh, lembut, dan penuh cinta yang selalu mendambakan pengakuan David, kini telah mati. Di tempatnya, bangkitlah sesosok wanita yang dingin, tak acuh, dan penuh tekad. Tekad untuk melindungi apa yang tersisa darinya, dan untuk membuat David merasakan setiap tetes penderitaan yang ia alami.
David mencoba mendekati Clara, memohon maaf, menjelaskan bahwa ia tidak sengaja, bahwa itu adalah luapan emosi sesaat. Ia datang setiap hari ke rumah sakit, membawa bunga, makanan, dan kata-kata penyesalan. Namun, Clara hanya menatapnya dengan mata kosong, tak berekspresi. Kata-kata maaf David terdengar hampa di telinganya. David telah mengambil sesuatu yang tidak akan pernah bisa dikembalikan. Ia telah merenggut salah satu nyawa mungil yang tumbuh di rahimnya, dan menghancurkan jiwanya.
Rasa bersalah mulai menggerogoti David. Ia melihat perubahan drastis pada Clara. Istrinya yang dulu selalu ceria dan penuh perhatian, kini bergeming. Tatapan matanya tajam, dingin, dan penuh jarak. David mencoba menyentuh tangannya, namun Clara menariknya seolah disentuh benda panas.
"Clara, tolong... maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang merasukiku," David memohon, suaranya parau.
Clara akhirnya berbicara, suaranya serak dan datar, tanpa emosi. "Kau telah membunuh anakku, David. Salah satu dari mereka. Kau telah menghancurkan harapan dan impianku. Kau pikir maafmu bisa mengembalikan semua itu?"
David tersentak. Kata-kata Clara menusuknya bagai belati. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan fatal. Kesalahan yang tidak mungkin dimaafkan. Ia melihat pantulan dirinya di mata Clara-seorang monster. Rasa bersalah itu kini tak hanya menggerogoti, tetapi juga mencekiknya. Ia telah menghancurkan hidup wanita yang dulu sangat ia cintai, dan kini, ia harus hidup dengan konsekuensinya. Konsekuensi dari rahasia yang ia jaga, ambisi yang ia kejar, dan kekerasan yang ia lakukan.
Clara tidak lagi patuh. Ia tidak lagi lemah lembut. Ia adalah badai yang tenang, siap untuk melepaskan segala amarah dan kepedihan yang terpendam. David telah menciptakan monster dari wanita yang paling mencintainya. Dan kini, monster itu akan kembali menghantuinya.
Dalam beberapa minggu setelah kepulangan Clara dari rumah sakit, suasana di antara mereka menjadi neraka. Rumah yang dulunya dipenuhi kehangatan, kini terasa seperti kuburan es. Clara berbicara hanya jika diperlukan, dan itu pun dengan nada dingin, sarat akan kebencian. David berusaha keras untuk memperbaiki semuanya, menawarkan apa saja yang bisa ia berikan. Ia bahkan mulai berani berbicara tentang mengumumkan pernikahan mereka ke publik.
"Clara, kita bisa umumkan pernikahan kita sekarang. Aku akan mengadakan konferensi pers. Aku akan mengatakan semuanya. Aku akan memperbaikinya," David mencoba membujuk, putus asa.
Clara hanya menatapnya dengan sinis. "Terlambat, David. Jauh terlambat. Kau pikir dengan mengumumkan pernikahan itu sekarang, semua akan kembali seperti semula? Kau pikir itu bisa mengembalikan anakku yang hilang?"
Setiap kata Clara adalah sabetan pedang. David merasa tak berdaya. Ia terjebak dalam jebakan yang ia ciptakan sendiri. Ambisinya, rahasianya, dan keegoisannya telah merenggut kebahagiaannya, dan kini, ia harus menghadapi konsekuensinya.
Clara mulai menyusun rencananya. Ia mencari pengacara terbaik, mengumpulkan semua bukti yang diperlukan untuk gugatan cerainya. Ia tidak hanya ingin bercerai; ia ingin David merasakan penderitaan yang sama, atau bahkan lebih, dari apa yang telah ia rasakan. Ia akan memastikan David kehilangan segalanya, sama seperti ia kehilangan salah satu janinnya.
Di balik wajah dingin dan tak acuhnya, ada api dendam yang membara. Clara adalah wanita yang berbeda. Ia telah melewati batas penderitaan yang tak terbayangkan, dan ia telah kembali sebagai kekuatan yang tak bisa dihentikan. David telah menyalakan api itu, dan kini, ia harus bersiap untuk terbakar. Kejutan demi kejutan memang menghantam David, namun kejutan yang paling besar adalah transformasi Clara. Wanita yang dulu ia anggap lemah, kini adalah ancaman terbesarnya. Dan David, yang selalu mengendalikan segalanya, kini merasa dirinya tidak lagi memegang kendali. Ia hanya bisa menatap, dihantui oleh rasa bersalah yang menggerogoti dan ketidakpastian akan masa depan yang suram.
Suasana di rumah mewah David dan Clara telah berubah menjadi kuburan es, bahkan lebih dingin dari sekadar dingin. Setiap sudut, setiap celah, seolah menyimpan cerita bisu tentang kebahagiaan yang terenggut dan mimpi yang hancur. Clara bergerak di dalamnya seperti bayangan, tanpa suara, tanpa jejak emosi yang terlihat. Dulu, rumah ini adalah sarang kehangatan, tempat tawa dan bisikan mesra bergaung. Sekarang, yang ada hanyalah keheningan menusuk, sesekali dipecahkan oleh suara piring beradu di dapur atau derit pintu kamar.
Sejak ia kembali dari rumah sakit, Clara telah membangun dinding tak kasat mata di sekelilingnya. Dinding itu terbuat dari rasa sakit, kekecewaan, dan kebencian yang mendalam. David mencoba menembusnya, setiap hari, dengan usaha yang terasa semakin sia-sia. Ia membawakan sarapan ke tempat tidur, meskipun Clara hanya menyentuhnya sedikit. Ia mencoba memulai percakapan di meja makan, yang selalu berakhir dengan keheningan canggung atau jawaban singkat yang dingin dari Clara.
"Clara, bagaimana tidurmu semalam?" David bertanya suatu pagi, saat mereka duduk di meja makan yang panjang dan dingin. Aroma kopi yang baru diseduh tidak mampu menghangatkan suasana.
Clara tidak mendongak dari cangkir tehnya. "Baik."
"Aku... aku sudah mengatur jadwal untuk kita ke konselor pernikahan. Mungkin kita bisa bicara dengan seseorang, Clara. Mungkin itu bisa membantu kita melewati ini." Suara David penuh harapan, atau lebih tepatnya, keputusasaan.
Clara meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati, pandangannya tajam menembus David. "Untuk apa, David? Untuk membicarakan bagaimana kau menghancurkan hidupku? Untuk membicarakan bagaimana kau membunuh salah satu anakku? Kau pikir konselor bisa mengembalikan itu semua?" Nada suaranya datar, namun ada kekuatan yang mengerikan di baliknya, kekuatan yang membuat David merinding.
David tersentak, wajahnya memucat. Kata-kata "membunuh anakku" selalu menghantamnya seperti palu godam, menghidupkan kembali adegan mengerikan malam itu. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata Clara yang penuh tuduhan. "Aku... aku tidak bermaksud, Clara. Itu kecelakaan. Aku panik, aku marah..."
"Panik? Marah?" Clara tertawa kecil, tawa yang tak mengandung sedikit pun humor, justru terdengar seperti geraman. "Orang yang panik tidak akan mencekik istrinya sampai pingsan. Orang yang marah tidak akan membuat istrinya kehilangan nyawa bayi tak berdosa. Kau adalah monster, David. Dan aku tidak akan pernah melupakannya."
Setelah itu, Clara bangkit dari meja tanpa menyelesaikan sarapannya, meninggalkan David sendirian dalam keheningan yang menyesakkan. David menatap punggung Clara yang menjauh, rasa bersalah menggerogotinya semakin dalam. Ia tahu Clara benar. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk perilakunya malam itu. Ia telah kehilangan kendali, dan akibatnya adalah kehancuran yang tak dapat diperbaiki. Ia merindukan Clara yang dulu, Clara yang patuh, Clara yang lembut, Clara yang mencintainya tanpa syarat. Tapi Clara itu sudah mati, terkubur di bawah puing-puing kekejaman David.
David mencoba segala cara untuk memperbaiki keadaan. Ia menawarkan untuk mengumumkan pernikahan mereka, bahkan mengadakan konferensi pers mendadak untuk membersihkan namanya dan mengakui Clara di hadapan publik.
"Aku sudah bicara dengan tim humasku, Clara. Kita bisa mengumumkannya besok. Aku akan bicara tentang bagaimana kita telah menikah selama delapan tahun, bagaimana kita ingin menjaga privasi, dan sekarang kita siap berbagi kebahagiaan ini dengan dunia," David menjelaskan, mencoba terlihat meyakinkan.
Clara hanya menatapnya dengan tatapan kosong, nyaris muak. "Untuk apa, David? Untuk menyelamatkan mukamu di hadapan publik? Kau pikir itu bisa mengubah apa pun? Kau pikir aku peduli lagi tentang pengakuanmu?"
"Tapi Clara, ini yang selalu kau inginkan, bukan? Pengakuan! Aku melakukannya untuk kita!" David memohon, frustrasi mulai merayapi dirinya.
Clara tersenyum sinis. "Terlambat. Jauh, jauh terlambat. Dulu, mungkin itu akan berarti segalanya bagiku. Tapi sekarang? Sekarang itu hanya sampah. Sama seperti janji-janji kosongmu yang lain."
Setiap penolakan Clara adalah pukulan telak bagi ego David. Ia merasa dirinya benar-benar kehilangan pegangan. Ia, David Alexander, pria yang terbiasa mengendalikan segalanya-bisnisnya, karyawannya, bahkan kehidupan pribadinya-kini tak berdaya di hadapan istrinya sendiri. Wanita yang selama ini ia anggap lemah dan patuh, telah berubah menjadi sosok yang kebal terhadap segala rayuan dan ancamannya.
Clara menghabiskan sebagian besar waktunya di kamarnya, yang kini terasa seperti benteng pribadinya. Ia membatasi interaksi dengan David seminimal mungkin. Bahkan saat David mencoba masuk ke kamar untuk berbicara, Clara akan menguncinya. David merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Suatu sore, David melihat Clara berbicara di telepon di ruang tamu. Suara Clara rendah, hampir berbisik, namun ada ketegasan yang David tidak kenali. "Ya, aku ingin yang terbaik. Aku tidak peduli berapa biayanya. Aku ingin memastikan dia kehilangan segalanya. Setiap sen."
Jantung David mencelos. Ia tahu Clara sedang berbicara tentang dirinya. Clara sedang mencari pengacara untuk gugatan cerainya, dan ia menginginkan kehancuran total bagi David. Rasa dingin merayapi punggung David. Ia menyadari betapa seriusnya Clara. Ini bukan lagi sekadar ancaman, ini adalah perang yang Clara nyatakan.
Malam harinya, David mencoba menghadapi Clara lagi. Clara sedang membaca buku di sofa, wajahnya tenang namun matanya penuh dengan kedinginan yang menusuk.
"Clara, aku dengar tadi kau bicara di telepon," David memulai, suaranya berusaha terdengar tenang.
Clara mengangkat alisnya, pandangannya tidak bergeser dari buku. "Lalu?"
"Kau... kau benar-benar ingin melakukan ini? Gugatan cerai? Kau ingin menghancurkan aku?" Suara David mulai bergetar.
Clara menutup bukunya, meletakkannya di pangkuan. Ia menatap David lurus di mata, tatapannya begitu tajam hingga David merasa seperti sedang dihakimi. "Kau sudah menghancurkan dirimu sendiri, David. Aku hanya memastikan kau menuai apa yang kau tabur. Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup tenang setelah semua yang kau lakukan padaku? Setelah kau membunuh anakku?"
David mencengkeram kepalanya, frustrasi dan putus asa. "Clara, aku sudah minta maaf berkali-kali! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi! Aku benar-benar menyesal!"
"Penyesalanmu tidak akan mengembalikan anakku," balas Clara datar. "Dan penyesalanmu tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hatiku."
"Tapi kita punya satu anak lagi, Clara! Anak kita yang masih hidup! Kau tidak memikirkan dia? Kita harus menjaga keluarga ini tetap utuh demi dia!" David mencoba memprovokasi, berharap kata-kata itu akan menyentuh sisi keibuan Clara.
Namun, mata Clara hanya berkilat tajam. "Justru karena dia, David. Karena anakku yang satu ini, aku harus pergi darimu. Aku tidak ingin dia tumbuh dalam lingkungan yang penuh kebohongan dan kekerasan. Aku tidak ingin dia memiliki ayah yang seperti kau."
Kata-kata itu menghantam David seperti pukulan keras. Ia merasa dihina, direndahkan. Ia adalah seorang pebisnis sukses, pria yang dihormati, namun di mata istrinya sendiri, ia hanyalah monster yang tidak layak menjadi ayah.
Seiring berjalannya hari, David merasa dirinya semakin tertekan. Tekanan dari Clara yang dingin dan tak acuh, ditambah dengan tekanan pekerjaan yang menumpuk, mulai memakan dirinya. Ia sering melewatkan makan, tidurnya tidak nyenyak, dan wajahnya terlihat semakin pucat dan lelah. Rekan-rekan kerjanya mulai memperhatikan perubahannya. David yang dulu bersemangat dan penuh energi, kini sering melamun dan mudah marah.
Suatu pagi, di kantor, asisten David, Sandra, mengetuk pintu ruangannya. "Tuan David, ada panggilan dari pengacara Nyonya Clara. Mereka ingin menjadwalkan pertemuan awal."
David menghela napas berat. "Katakan aku sibuk."
"Mereka bersikeras, Tuan. Mengatakan ini adalah masalah mendesak."
David tahu ia tidak bisa menghindar selamanya. Ia harus menghadapi kenyataan ini. "Baiklah. Jadwalkan sore ini. Sendiri saja." Ia tidak ingin pengacaranya ikut campur dulu. Ia masih menyimpan secercah harapan bahwa ia bisa membujuk Clara untuk berubah pikiran.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah kantor pengacara yang mewah dan modern. Clara sudah duduk di sana, di samping seorang wanita paruh baya berambut perak yang memancarkan aura ketegasan dan kecerdasan. Wanita itu adalah Sarah Wijaya, salah satu pengacara perceraian terbaik di kota. David duduk di seberang mereka, sendirian.
Sarah membuka percakapan dengan nada formal. "Tuan Alexander, terima kasih sudah hadir. Nyonya Clara telah mengajukan gugatan cerai atas dasar KDRT dan ketidaksetiaan. Selain itu, Nyonya Clara juga menuntut hak asuh penuh atas anak yang sedang dikandungnya, serta tunjangan yang signifikan."
David menegang. KDRT? Ketidaksetiaan? Ia tidak pernah berselingkuh secara fisik, meskipun ia tahu ia telah berlaku tidak setia secara emosional dengan menyembunyikan pernikahannya. Tapi KDRT... itu adalah hal yang sangat serius.
"KDRT? Itu kecelakaan! Aku tidak pernah berniat menyakitinya!" David membela diri, menatap Clara.
Clara tidak membalas tatapannya. Sarah-lah yang menjawab. "Tuan Alexander, Nyonya Clara memiliki laporan medis lengkap yang menunjukkan cedera kepala dan pendarahan hebat akibat kekerasan fisik. Selain itu, ada saksi mata di rumah sakit yang melihat kondisi Nyonya Clara saat dibawa masuk. Dan yang lebih parah, kehamilan Nyonya Clara adalah kembar, dan akibat insiden itu, salah satu janinnya meninggal dunia. Itu adalah bukti yang sangat kuat untuk kasus KDRT yang fatal."
David merasa darahnya berdesir dingin. Ia tahu itu, ia tahu Clara kehilangan satu janin. Tapi mendengar pengacara itu mengatakannya dengan begitu gamblang, dengan penekanan pada kata "meninggal dunia" dan "fatal", membuat semua rasa bersalah itu kembali menghantamnya seperti gelombang pasang. Ia melirik Clara, yang kini menatapnya dengan tatapan kosong, tanpa belas kasihan.
"Mengenai ketidaksetiaan," Sarah melanjutkan, tanpa memberi David waktu untuk mencerna. "Kami memiliki bukti kuat bahwa Tuan Alexander telah menjalin hubungan dekat dengan beberapa wanita lain selama delapan tahun pernikahan Anda, meskipun Anda tidak pernah mengakui Nyonya Clara sebagai istri Anda di depan publik. Ini termasuk bukti foto, rekaman percakapan telepon, dan kesaksian dari beberapa pihak."
David merasa lemas. Bagaimana Clara bisa mendapatkan semua itu? Ia selalu sangat berhati-hati. Kecurigaan muncul di benaknya. Mungkinkah Clara selama ini mengumpulkan bukti? Mungkinkah Clara sudah tahu tentang hubungannya dengan wanita lain, meskipun David mengira ia menyembunyikannya dengan rapi?
"Nyonya Clara menuntut tunjangan finansial yang mencakup kompensasi atas penderitaan emosional dan fisik, dukungan anak yang sangat tinggi, serta bagian yang signifikan dari aset-aset perusahaan Anda," Sarah menyimpulkan, nadanya lugas dan tanpa kompromi.
David tidak bisa menahan diri lagi. Ia menatap Clara, suaranya tercekat. "Clara, kau tidak bisa melakukan ini! Kau akan menghancurkan segalanya! Kita bisa bicarakan ini! Aku akan memberikanmu apa pun yang kau mau, tapi jangan hancurkan perusahaanku!"
Clara akhirnya berbicara, suaranya rendah dan penuh dendam. "Kau menghancurkan hidupku, David. Kau menghancurkan anakku. Sekarang giliranmu untuk merasakan apa itu kehancuran. Aku ingin kau kehilangan segalanya. Aku ingin kau merasakan penderitaan yang sama persis seperti yang aku rasakan."
David melihat api di mata Clara, api yang dulu ia kira sudah padam. Api itu kini membakar, lebih kuat dari sebelumnya. Ia melihat tekad yang tak tergoyahkan. David tahu, Clara serius. Ini bukan gertakan. Clara akan melumpuhkannya.
Sarah mengakhiri pertemuan itu dengan memberikan David setumpuk dokumen hukum. "Saya sarankan Anda segera mencari pengacara terbaik, Tuan Alexander. Kasus ini akan menjadi sangat rumit."
Keluar dari kantor pengacara itu, David merasa dunia berputar. Ia tidak pernah membayangkan Clara akan menjadi sekuat ini, sekejam ini. Ia telah meremehkannya, menganggapnya hanya sebagai wanita lemah yang akan selalu patuh. Kini, ia harus membayar mahal untuk kesalahannya.
David segera menghubungi pengacaranya sendiri, seorang pria tua berpengalaman bernama Pak Surya. Pak Surya mendengarkan ceritanya dengan ekspresi serius, sesekali mengangguk.
"Ini kasus yang sangat berat, David," kata Pak Surya setelah David selesai berbicara. "Bukti KDRT dengan kematian janin adalah tuduhan yang sangat serius, bisa berujung pada konsekuensi pidana selain perdata. Dan bukti ketidaksetiaan itu... Nyonya Clara sepertinya sudah merencanakan ini dengan sangat matang."
"Maksud Anda, dia sudah tahu semua ini? Tentang wanita lain, tentang semuanya?" David bertanya, suaranya frustrasi.
"Kemungkinan besar begitu," jawab Pak Surya. "Wanita tidak sebodoh yang kita kira, David. Mereka seringkali lebih jeli daripada yang kita duga. Dan ketika mereka merasa dikhianati, mereka bisa menjadi sangat berbahaya."
Kata-kata Pak Surya menghantam David. Clara memang jeli. Clara memang berbahaya. David telah menciptakan monster dari wanita yang paling mencintainya. Dan kini, monster itu akan kembali menghantuinya.
Beberapa hari berikutnya, berita tentang gugatan cerai David Alexander, pengusaha muda yang sedang naik daun, mulai menyebar di kalangan terbatas. Meski belum dipublikasikan secara luas, gosip mulai beredar di kalangan pebisnis dan sosialita. David merasa pandangan mata orang-orang di kantornya berbeda. Ada bisikan-bisikan, tatapan kasihan, atau bahkan tatapan menghakimi. Reputasinya mulai tercoreng, bahkan sebelum kasusnya dimulai di pengadilan.
David mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi pikirannya selalu melayang ke Clara. Ia memikirkan semua yang telah ia lakukan, semua janji yang ia ingkari, semua penderitaan yang ia sebabkan. Ia melihat Clara yang sekarang-dingin, kejam, dan penuh kebencian-dan ia tahu bahwa ia adalah penyebabnya. Rasa bersalah yang menggerogoti semakin kuat, menelannya dalam-dalam.
Suatu malam, David tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil sebotol wiski dari lemari bar, dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia duduk di ruang tamu yang gelap, ditemani kesunyian dan pikiran-pikirannya yang berpacu. Ia memikirkan kembali delapan tahun pernikahannya dengan Clara. Delapan tahun yang ia sembunyikan, delapan tahun yang ia anggap remeh.
Clara selalu ada di sana. Selalu mendukungnya, selalu merawatnya, selalu menunggunya pulang. Clara tidak pernah mengeluh, tidak pernah menuntut. Ia selalu tersenyum, bahkan saat David tahu ia telah menyakitinya. Clara adalah fondasi yang kokoh di tengah kehidupannya yang penuh gejolak. Dan David, dalam kebutaannya akan ambisi, telah menghancurkan fondasi itu.
Ia telah mengejar bayangan kesuksesan, mengorbankan hal yang paling berharga. Ia telah menipu Clara, berbohong padanya, dan akhirnya, melukainya secara fisik dan emosional hingga batas yang tak termaafkan. Rasa sesal yang mendalam mencengkeram hatinya. Ia ingin waktu bisa diputar kembali. Ia ingin bisa memperbaiki semuanya. Tapi ia tahu, itu mustahil.
David menatap gelas wiskinya, pantulan cahaya lampu jalan dari luar jendela berkedip di permukaannya. Ia melihat wajahnya sendiri, dipenuhi bayangan dan keputusasaan. Ia telah menciptakan nerakanya sendiri. Dan neraka itu, kini, mulai menelan dirinya hidup-hidup.
Di sisi lain rumah, di kamarnya yang terkunci, Clara sedang membelai perutnya yang mulai membesar. Ada kehangatan di sana, harapan kecil yang masih bertahan di tengah badai. Anak ini, satu-satunya yang tersisa, adalah alasannya untuk tetap kuat. Ia adalah satu-satunya cahaya di kegelapan yang diciptakan David.
Air mata Clara tidak lagi menetes. Ia telah kehabisan air mata untuk David. Kini, yang ada hanyalah tekad baja. Ia akan melindungi anak ini dengan seluruh kekuatannya. Dan ia akan memastikan David membayar harga yang setimpal. Bukan hanya untuk dirinya, bukan hanya untuk anak yang hilang, tetapi juga untuk setiap tetes air mata dan setiap detik kesakitan yang ia rasakan selama delapan tahun di balik bayangan.
Clara memejamkan mata, membayangkan hari ketika David akan berdiri di hadapan pengadilan, reputasinya hancur, kekayaannya terkikis. Itu adalah satu-satunya hal yang memberinya kekuatan untuk melanjutkan. David telah menyalakan api di dalam dirinya. Dan api itu, kini, akan membakar habis semua yang menghalanginya.
Ia telah melalui neraka, dan ia telah kembali. Ia adalah wanita baru, seorang ibu yang patah hati namun tak tergoyahkan. David telah menghancurkannya, namun juga telah menempanya menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih keras, dan lebih berbahaya. Perang telah dimulai, dan Clara bersumpah, ia akan menjadi pemenangnya.
Ruang sidang itu megah, dengan dinding panel kayu gelap dan langit-langit tinggi yang menambah kesan formalitas. Bau kertas lama bercampur dengan aroma disinfektan, menciptakan suasana yang kaku dan mencekam. Hari itu adalah hari pertama persidangan perceraian David Alexander dan Clara Wijaya. Media sudah menunggu di luar, bagai serigala lapar mengendus mangsa. Meskipun David telah berusaha keras membendung informasi, berita tentang gugatan cerai pengusaha muda itu, yang melibatkan tuduhan KDRT dan perselingkuhan, mulai menyebar bagai api di media sosial.
David duduk di sisi kanannya, di samping pengacaranya, Pak Surya. Wajahnya tegang, sorot matanya lelah. Ia mengenakan setelan jas mahal, namun aura percaya dirinya yang dulu begitu terpancar, kini digantikan oleh kegelisahan yang nyata. Sesekali ia melirik ke sisi kiri ruangan, tempat Clara duduk.
Clara, di sisi lain, tampak seperti patung. Ia mengenakan setelan blus sutra berwarna krem dan rok pensil hitam, rambutnya ditata rapi, dan wajahnya dipulas riasan tipis yang menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. Perutnya yang mulai membuncit sedikit terlihat di balik blusnya, sebuah pengingat nyata akan alasan utama semua kehancuran ini. Ia duduk tegak, bahunya ditarik ke belakang, memancarkan ketenangan yang aneh, nyaris menakutkan. Di sampingnya, Sarah Wijaya, pengacaranya, sesekali membisikkan sesuatu, dan Clara hanya mengangguk tanpa ekspresi. Tidak ada sedikit pun jejak ketakutan atau keraguan di wajahnya. Hanya ada dinginnya tekad.
Hakim memasuki ruangan, dan semua orang berdiri. Setelah formalitas pembukaan, Sarah Wijaya, pengacara Clara, berdiri untuk menyampaikan pernyataan pembuka. Suaranya jelas, lugas, dan penuh keyakinan.
"Yang Mulia Hakim, dan hadirin sekalian," Sarah memulai, suaranya memenuhi ruangan. "Klien kami, Nyonya Clara Wijaya, mengajukan gugatan cerai terhadap Tuan David Alexander atas dasar kekerasan dalam rumah tangga yang fatal dan ketidaksetiaan yang terus-menerus selama delapan tahun pernikahan yang disembunyikan."
David mendengus pelan, namun Pak Surya menahannya dengan tatapan peringatan.
"Delapan tahun," Sarah melanjutkan, nadanya menekankan setiap kata. "Delapan tahun Nyonya Clara hidup dalam bayangan, sebagai istri yang tidak diakui, menelan semua janji kosong tentang pengakuan publik. Ia menanggung semua itu karena cinta dan kepercayaan yang tulus kepada suaminya. Namun, cinta dan kepercayaan itu dihancurkan secara brutal, bukan hanya oleh perselingkuhan berulang yang dilakukan Tuan Alexander, tetapi puncaknya, oleh tindakan kekerasan yang mengerikan yang dilakukan Tuan Alexander terhadap klien kami, yang menyebabkan Nyonya Clara harus kehilangan salah satu dari dua janin kembar yang ia kandung."
Suara-suara berbisik mulai terdengar di ruang sidang. Anggota pers, yang duduk di barisan belakang, mulai menulis dengan cepat. David mengepalkan tangannya di bawah meja. Tuduhan itu... begitu telanjang dan menyakitkan.
Sarah melanjutkan dengan menjelaskan secara rinci malam kejadian. Ia memaparkan laporan medis, kesaksian paramedis yang membawa Clara ke rumah sakit, dan bukti-bukti lain yang dikumpulkan. Ia bahkan menyertakan rekaman suara dari percakapan telepon yang diyakini David sebagai miliknya, di mana ia terdengar sedang berbicara dengan wanita lain, membahas rencana perjalanan, atau hal-hal pribadi yang seharusnya hanya ia bicarakan dengan Clara. Entah bagaimana Clara bisa mendapatkan rekaman-rekaman itu, David tidak tahu. Pikiran tentang Clara yang diam-diam mengumpulkan bukti selama ini membuat bulu kuduknya merinding. Ia menyadari, Clara bukan wanita polos yang ia kenal. Clara adalah sosok yang licik dan sangat cerdik.
Ketika giliran Pak Surya, pengacara David, tiba, ia mencoba meredakan situasi. "Yang Mulia, kami mengakui adanya pertengkaran yang terjadi malam itu. Namun, ini adalah insiden yang tidak disengaja, sebuah reaksi spontan akibat tekanan emosional. Tuan Alexander sangat menyesali kejadian itu dan telah meminta maaf berkali-kali kepada Nyonya Clara. Mengenai tuduhan ketidaksetiaan, itu hanyalah kesalahpahaman. Tuan Alexander adalah seorang pebisnis yang sering bertemu dengan banyak klien wanita, dan itu bisa disalahartikan."
"Lalu mengapa Tuan Alexander tidak pernah mengakui pernikahannya selama delapan tahun, Pak Surya?" Sarah menyela, nadanya tajam. "Apakah itu juga kesalahpahaman?"
Pak Surya tergagap sedikit. "Itu... itu adalah keputusan bersama, Yang Mulia, demi menjaga privasi dan fokus pada karier Tuan Alexander yang sedang berkembang."
Clara mengangkat kepalanya, pandangannya menembus David. David merasa seolah jutaan mata menghakiminya. Argumen Pak Surya terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri.
Setelah pernyataan pembuka, Clara dipanggil ke kursi saksi. Ia berjalan perlahan, dengan langkah tenang dan mantap. David menatapnya, ada perpaduan rasa takut dan kekaguman yang aneh. Wanita ini, yang ia remehkan, kini berdiri di hadapannya sebagai penuntut utama, siap menghancurkan segalanya.
Sarah memulai dengan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana Clara dan David bertemu, bagaimana hubungan mereka berkembang, dan mengapa pernikahan mereka dirahasiakan. Clara menjawab dengan suara yang jelas, tenang, dan tanpa emosi. Ia menceritakan setiap detail, setiap janji palsu, setiap pengkhianatan yang ia rasakan.
"Nyonya Clara," Sarah bertanya, suaranya lembut namun kuat. "Bisakah Anda menceritakan apa yang terjadi pada malam kejadian kekerasan itu?"
Clara menarik napas dalam, matanya menatap kosong ke depan, seolah melihat kembali kejadian mengerikan itu. "Saya memberanikan diri memberitahu David tentang kehamilan saya. Saya pikir, dengan adanya anak, ia akan akhirnya mengumumkan pernikahan kami. Namun, reaksinya... ia menyebut kehamilan itu sebagai bencana. Ia marah, ia membentak saya. Saya bilang saya ingin bercerai. Lalu, ia... ia kehilangan kendali. Ia mencekik saya, mengguncang saya, dan saya terjatuh, kepala saya membentur meja. Setelah itu, semuanya gelap."
Ruang sidang hening. Beberapa orang terdengar terisak. David menatap Clara, wajahnya pucat pasi. Ia ingin berteriak, mengatakan itu tidak seperti itu, ia tidak sengaja. Tapi kata-kata Clara terdengar begitu meyakinkan, begitu nyata.
"Dan apa yang Anda rasakan ketika mengetahui Anda kehilangan salah satu janin Anda?" Sarah bertanya, suaranya sedikit bergetar, memancing emosi.
Clara mendongak, matanya yang dingin bertemu dengan mata David. "Saya merasa hancur. Seperti sebagian dari jiwa saya dicabut. Saya mengandung kembar, David. Dua nyawa mungil yang tumbuh di rahim saya. Dan karena kekejamannya, saya kehilangan salah satunya." Ia berhenti sejenak, suaranya nyaris berbisik. "David telah membunuh anak saya."
Kata-kata itu bergema di ruang sidang. David merasa seperti ditusuk ribuan jarum. Rasa bersalah menghantamnya dengan kekuatan yang luar biasa, membuatnya mual. Ia mengepalkan tangan, menunduk, tidak sanggup lagi menatap Clara. Ia tahu, kata-kata itu akan terus menghantuinya seumur hidup.
Ketika Pak Surya mendapat giliran untuk menyilangkan Clara, ia berusaha keras untuk menggoyahkan kesaksiannya.
"Nyonya Clara, apakah benar Anda dan Tuan Alexander sering bertengkar sebelum insiden itu?"
"Setiap pasangan pasti bertengkar, Tuan Pengacara. Tapi tidak pernah sampai pada kekerasan fisik seperti itu," jawab Clara tenang.
"Anda mengatakan Tuan Alexander mencekik Anda. Apakah ada bukti fisik lain selain laporan medis yang menyatakan Anda cedera kepala? Apakah ada memar di leher Anda?"
Clara mengangkat bahu. "Saat itu saya tidak berpikir untuk mencari bukti memar di leher. Saya panik, saya sakit, saya hanya ingin anak saya selamat."
"Jadi, ini hanya kesaksian Anda yang tidak didukung bukti lain untuk bagian mencekik?" Pak Surya menekan.
Sarah Wijaya segera menyela. "Yang Mulia, pertanyaan ini bersifat spekulatif dan mencoba meragukan kesaksian yang sudah jelas."
Hakim mengangguk. "Keberatan diterima. Lanjutkan, Pak Surya."
Pak Surya mencoba strategi lain. "Nyonya Clara, bukankah Anda sendiri yang mengajukan gugatan cerai? Bukankah itu berarti Anda tidak ingin melanjutkan pernikahan ini sejak awal?"
Clara tersenyum tipis, senyum yang dingin. "Saya ingin melanjutkan pernikahan ini jika David mengakui saya. Saya ingin anak saya memiliki ayah yang bangga padanya. Tetapi ketika saya menyadari bahwa saya hanyalah rahasia yang tidak penting, dan bahwa David bisa melakukan kekerasan seperti itu, saya tahu saya harus pergi. Demi diri saya, dan demi anak saya yang masih hidup."
Kesaksian Clara berlanjut selama berjam-jam, setiap detail yang ia sampaikan, setiap kalimat yang ia ucapkan, seolah-olah mengukir luka baru di hati David. Clara tidak menangis, tidak menjerit. Ia hanya berbicara dengan suara datar, namun dengan setiap kata, ia melukiskan gambaran David sebagai pria yang kejam, egois, dan tidak berperasaan.
Setelah Clara, beberapa saksi lain dipanggil, termasuk dokter yang merawat Clara, perawat yang melihat kondisinya, dan bahkan beberapa teman Clara yang bersaksi tentang bagaimana Clara selalu tampak murung dan menyembunyikan pernikahannya. Sarah Wijaya membangun kasus yang sangat kuat, menunjukkan pola penipuan, pengabaian, dan akhirnya kekerasan yang dilakukan David.
Ketika giliran David dipanggil ke kursi saksi, ia merasa lumpuh. Kakinya terasa berat, jantungnya berdebar kencang. Ia duduk di sana, di tempat yang sama persis seperti Clara, namun ia tidak memiliki ketenangan yang sama.
Pak Surya memulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk menggambarkan David sebagai seorang pebisnis yang sibuk, seorang pria yang berjuang keras untuk keluarganya, dan bahwa insiden itu hanyalah sebuah kesalahan yang tidak disengaja.
"Tuan Alexander," Pak Surya bertanya, "Bisakah Anda jelaskan mengapa pernikahan Anda dengan Nyonya Clara tidak diumumkan secara publik?"
David mengambil napas dalam-dalam. "Itu... itu demi karier saya, Pak Surya. Saya sedang membangun perusahaan, dan saya tidak ingin kehidupan pribadi saya mengganggu fokus publik. Kami berdua sepakat untuk menjaga privasi."
"Benarkah begitu, Tuan Alexander?" Sarah Wijaya menyela, berdiri untuk menyilangkan David. Suaranya terdengar merendahkan. "Nyonya Clara bersaksi bahwa ia tidak pernah menyepakati hal itu. Ia bersaksi bahwa ia selalu mendambakan pengakuan sebagai istri Anda. Siapa yang harus kami percaya?"
David merasa terpojok. "Saya... saya bersumpah kami sepakat."
"Apakah Anda memiliki bukti tertulis dari kesepakatan itu, Tuan Alexander?"
David terdiam. Tentu saja tidak.
"Baik. Mari kita beralih ke malam kejadian. Tuan Alexander, Anda mengakui adanya pertengkaran dengan Nyonya Clara. Bisakah Anda ceritakan apa yang terjadi setelah Nyonya Clara menyatakan ingin bercerai?"
David ragu. Ia tahu ini adalah momen krusial. Ia harus meyakinkan hakim bahwa ia tidak sengaja. "Saya... saya marah, Nyonya Pengacara. Saya tidak bisa menerima perkataannya. Saya memegang tangannya, saya ingin menahannya, saya ingin ia berpikir ulang. Saya... saya tidak tahu bagaimana ia bisa jatuh. Saya tidak pernah berniat menyakitinya. Saya panik."
Sarah menatapnya dengan tatapan meragukan. "Tuan Alexander, laporan medis menyatakan Nyonya Clara mengalami cedera kepala akibat benturan keras. Apakah memegang tangan bisa menyebabkan cedera sefatal itu?"
David menggeleng. "Saya tidak tahu. Saya... saya tidak melihatnya jatuh dengan jelas. Itu sangat cepat."
"Tuan Alexander, apakah Anda tahu Nyonya Clara sedang mengandung kembar saat itu?" Sarah bertanya, nadanya dingin dan menusuk.
David terdiam. Ia menatap Clara, yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Saya... saya tidak tahu. Saya tidak pernah diberitahu."
"Tidak tahu?" Sarah tertawa sinis. "Padahal Nyonya Clara bersaksi bahwa ia memberitahu Anda tentang kehamilannya sebelum insiden itu. Dan Anda justru menyebutnya bencana. Apakah Anda ingat mengatakan itu, Tuan Alexander?"
David merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya. Ia ingat. Ia ingat setiap kata yang keluar dari mulutnya malam itu. "Saya... saya sedang tertekan, Nyonya Pengacara. Ada masalah bisnis besar. Saya... saya tidak berpikir jernih."
"Jadi, Anda sedang tertekan, dan respons Anda adalah menyebut kehamilan istri Anda sebagai bencana, lalu melakukan kekerasan fisik padanya hingga ia kehilangan salah satu janinnya? Apakah itu yang ingin Anda katakan kepada pengadilan, Tuan Alexander?"
David merasa tenggorokannya tercekat. Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap Clara, yang wajahnya masih tak berekspresi, namun matanya memancarkan kepuasan yang samar. David menyadari, setiap argumennya, setiap pembelaannya, justru membuat dirinya semakin terpojok. Clara telah menyiapkan perang ini dengan sempurna, dan David, dalam kebutaannya, tidak melihatnya datang.
Persidangan berlangsung selama beberapa minggu. Setiap hari, detail-detail mengerikan terungkap. Bukti-bukti yang dikumpulkan Clara, dengan bantuan Sarah Wijaya, sangat teliti dan menghancurkan. Rekaman telepon David dengan wanita lain, pesan singkat yang bersifat pribadi, bahkan laporan detektif swasta yang menyertainya, semuanya disajikan tanpa ampun. Reputasi David yang dulu cemerlang, kini tercoreng parah. Berita tentang persidangan ini menjadi santapan empuk media, dengan judul-judul sensasional yang merendahkan David.
Perusahaan David mulai terpengaruh. Investor mulai menarik diri, saham perusahaannya anjlok. Proyek-proyek besar yang semula ia harapkan akan membawa perusahaannya ke puncak, kini terancam gagal. Tekanan dari Clara, persidangan yang berlarut-larut, dan kehancuran reputasi, membuat David berada di ambang batas.
Suatu malam, David pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ia menemukan Clara duduk di ruang tamu, sedang menonton berita di televisi. Berita utama adalah tentang persidangan mereka. Wajah David terpampang di layar, diikuti dengan komentar-komentar negatif tentang dirinya.
"Kau senang sekarang, Clara?" David bertanya, suaranya serak karena wiski. "Kau senang melihatku hancur?"
Clara tidak mengalihkan pandangannya dari televisi. "Ini baru permulaan, David. Ini baru sedikit dari apa yang harus kau rasakan."
David berjalan mendekat, oleng sedikit. "Kau telah mengambil segalanya dariku! Reputasiku, bisnisku... bahkan hidupku!"
Clara akhirnya menoleh, matanya berkilat dingin. "Kau yang mengambilnya dariku, David. Kau mengambil delapan tahun hidupku. Kau mengambil anakku. Jangan berani-beraninya kau mengeluh, David. Kau sendiri yang menciptakan neraka ini."
Mendengar kata-kata itu, David merasakan kemarahan yang membara. Tapi kali ini, ia tahu ia tidak bisa melakukan apa pun. Clara bukan lagi wanita yang bisa ia kendalikan. Ia adalah tembok yang tak bisa ditembus. Ia adalah cerminan dari kehancuran yang David sebabkan.
Beberapa hari kemudian, di persidangan, tiba saatnya putusan dibacakan. Ruang sidang penuh sesak. Udara terasa berat, penuh ketegangan. David duduk di kursinya, jantungnya berdegup tak karuan. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia telah melihat semua bukti yang disajikan, mendengar semua kesaksian. Ia tahu ia kalah.
Hakim membuka berkas di hadapannya, dan mulai membacakan putusan. Suaranya formal dan tegas.
"Setelah mempertimbangkan semua bukti dan kesaksian yang diajukan di persidangan, pengadilan memutuskan bahwa gugatan cerai yang diajukan oleh Nyonya Clara Wijaya terhadap Tuan David Alexander diterima sepenuhnya."
Suara-suara berbisik langsung memenuhi ruangan. David merasa dunianya runtuh. Ia resmi bercerai.
"Pengadilan juga menemukan Tuan David Alexander bersalah atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan cedera fisik serius pada Nyonya Clara Wijaya, dan yang lebih parah, menyebabkan Nyonya Clara Wijaya kehilangan salah satu janinnya."
David menundukkan kepala. Rasa malu dan rasa bersalah yang tak tertahankan membanjiri dirinya.
"Sehubungan dengan hal tersebut, pengadilan memutuskan bahwa hak asuh penuh atas anak yang sedang dikandung oleh Nyonya Clara Wijaya diberikan sepenuhnya kepada Nyonya Clara Wijaya. Tuan David Alexander tidak memiliki hak kunjungan, kecuali jika ada persetujuan tertulis dari Nyonya Clara Wijaya di kemudian hari."
Hati David mencelos. Hak asuh penuh? Ia tidak akan bisa melihat anaknya? Ini adalah hukuman terberat baginya. Ia tidak hanya kehilangan istrinya, tetapi juga kesempatan untuk menjadi ayah bagi anak yang masih hidup. Ia menatap Clara, yang masih duduk tegak, tanpa reaksi. Clara telah menang.
"Selain itu," Hakim melanjutkan, "Tuan David Alexander diwajibkan untuk membayar tunjangan anak yang sangat besar, serta kompensasi atas penderitaan fisik dan emosional Nyonya Clara Wijaya. Dan yang paling penting, Nyonya Clara Wijaya berhak atas 50% dari total aset perusahaan yang dimiliki oleh Tuan David Alexander."
David tersentak. 50% dari total aset perusahaan? Itu akan menghancurkan perusahaannya! Itu akan melumpuhkannya! Ia telah kehilangan segalanya.
Putusan itu dibacakan hingga selesai. David hanya bisa mendengarkannya, tubuhnya terasa dingin. Ia menatap Clara sekali lagi. Mata Clara yang dulu penuh cinta, kini memancarkan kemenangan yang dingin dan tak terbantahkan. Ia telah berhasil menghancurkan David, persis seperti yang ia inginkan.
Setelah Hakim mengetuk palu, ruang sidang langsung riuh. Juru kamera dan wartawan berusaha masuk, berteriak-teriak meminta pernyataan. Pak Surya segera menarik David keluar dari kerumunan, melindungi dirinya dari serbuan media.
David tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan, lunglai, merasa kosong. Ia telah kehilangan segalanya. Reputasinya hancur, perusahaannya terancam, dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan anak-anaknya. Ia telah membangun kerajaannya di atas kebohongan dan pengkhianatan, dan kini, kerajaannya telah runtuh.
Di sisi lain, Clara keluar dari ruang sidang dengan kepala tegak. Ia dikelilingi oleh pengacaranya, Sarah Wijaya, dan beberapa staf. Ia tidak menanggapi pertanyaan wartawan, namun senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. Ia telah mendapatkan keadilan. Ia telah mendapatkan balas dendamnya.
Namun, di balik kemenangan itu, ada luka yang tak akan pernah sembuh. Luka kehilangan salah satu anaknya, luka delapan tahun pengkhianatan. David memang hancur, namun kehancuran Clara tidak akan pernah bisa sepenuhnya pulih. Ia telah memenangkan pertempuran, tetapi perang di hatinya masih panjang. Ia harus hidup dengan kehilangan itu, namun kini, ia akan hidup sebagai wanita bebas, tanpa bayang-bayang David, dan dengan satu tujuan tunggal: membesarkan anaknya yang tersisa, jauh dari monster yang pernah ia cintai.