Bab 2

Satu bulan sebelum Prolog...

Siang itu, terik matahari tak terasa membakar kulit. Awan hitam berarak mendominasi langit Jakarta. Kilatan petir sambar menyambar di kejauhan,  menjadikan keadaan Ibukota yang biasanya ramai oleh lalu lalang manusia juga kendaraan, kini mendadak sepi dan lengang. Semua makhluk berduyun-duyun mencari tempat untuk berteduh.

Lapak pasar kaki lima terpaksa membenahi sejenak barang dagangan mereka karena tak mau merugi.

Angin yang bertiup semilir perlahan mulai menunjukkan taringnya. Mengaduk-aduk beberapa kawasan Ibukota dengan terpaan hebat. Rumah-rumah tertutup rapat. Berharap badai akan segera berhenti.

Sementara itu, seorang lelaki berperawakan jangkung dengan kulitnya yang putih bersih terlihat berdiam diri di dalam pertokoan besi.

Tubuh lelaki itu menggigil.

Bibirnya yang gemetar terus bergerak melafalkan dzikir-dzikir memohon perlindungan.

Dia semakin merapatkan sweaternya. Sebuah pakaian usang berwarna putih dengan beberapa bercak luntur di punggung. Sweater hadiah dari Abi ketika dirinya berhasil menjadi Hafiz Qur'an.

"Mas, masuk aja ke dalam, hujannya deras banget," sapa salah satu pekerja di toko besi.

Lelaki itu tersenyum ramah dengan anggukan kecil kepalanya. "Iya, terima kasih, Mas. Tapi saya lagi menunggu orang, mungkin sebentar lagi orang yang saya tunggu itu datang," jawab si lelaki bersweater putih tadi. Logat khas jawa terdengar jelas dari setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya.

"Oh gitu. Mas orang jawa ya?" tanya si karyawan toko besi itu.

"Iya, Mas. Saya baru sampai tadi pagi di Jakarta, mau silaturahmi ke tempat saudara,"

"Jawanya mana Mas?"

"Jogja, Mas. Pesisir pantai Parang teritis,"

"Oh..." si karyawan manggut-manggut seraya menghisap dalam-dalam batang rokok di tangannya. "Kalau saya dari Tegal, rokok Mas?"

"Oh, terima kasih. Tapi saya tidak merokok," tolak lelaki bersweater itu dengan sopan.

Ponsel yang bergetar di saku celana bahannya membuat si lelaki bersweater itu mengalihkan perhatiannya sejenak dari si karyawan toko. "Permisi Mas, saya mau angkat telepon dulu," katanya sambil mengangkat telepon.

"Halo, Rakha? Kamu dimana? Mas sudah di daerah terminal pasar baru," teriak seorang lelaki di seberang telepon. Hujan deras di luar membuat suaranya tersaingi.

"Assalamualaikum, njeh Mas. Saya sedang berteduh di toko besi dan bangunan yang jaraknya tidak jauh dari Masjid di dekat terminal," jawab laki-laki bersweater putih yang bernama Rakha itu. Dahi Rakha mengernyit kala sambaran petir baru saja terdengar di langit.

"Yowes, Mas Otw ke sana, tunggu yo,"

"Njeh Mas, Assalamualaikum,"

Klik!

Astagfirullah.

Rakha bergumam dalam hati kala salamnya tak lebih dulu di jawab oleh sang Kakak Ipar.

Tak berselang lama, sebuah mobil bak butut terlihat memasuki area toko besi itu. Rakha tersenyum sumringah. Akhirnya, orang yang dia tunggu-tunggu sejak tadi datang juga.

Lelaki berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang terlihat turun dari mobil bak tersebut. Dia adalah Wisnu, Kakak ipar Rakha.

Kedua Kakak beradik itu pun saling melepas rindu sejenak dengan berpelukan dan saling bertanya kabar hingga setelahnya Wisnu langsung mengajak Rakha beranjak dari toko itu.

Mereka pergi setelah mengucapkan terima kasih pada si karyawan toko besi atas izin yang dia berikan pada Rakha untuk berteduh.

Mobil reot itu melaju perlahan membelah jalanan Ibukota.

Menuju sebuah rumah sakit elit di pusat Jakarta.

*****

"Kondisi kesehatan Mbakmu semakin buruk dari hari ke hari, Kha. Jujur, Mas sudah tak sanggup menanggung biaya rumah sakit, karena tidak semua biayanya di tanggung penuh oleh pemerintah. Terkadang ada saja beberapa obat-obatan yang harus Mas tebus dengan uang pribadi Mas. Bahkan tak jarang jumlahnya bisa sampai jutaan rupiah. Hutang Mas sudah menggunung. Belum lagi biaya sekolah Runi,"

Rakha termangu seorang diri.

Dia duduk tepekur di salah satu bangku tunggu di depan ruangan ICU. Sebuah ruangan dimana seorang perempuan bernama Siti Mutiah berada. Seorang perempuan sholehah yang kini terbaring lemah akibat penyakit yang di deritanya.

Sudah hampir dua bulan Siti terbaring kaku di rumah sakit setelah cidera otak yang dia alami karena terjatuh di kamar mandi ketika tiba-tiba penyakitnya kumat.

Dokter bilang, saat ini kondisi Siti semakin parah.

Rakha sengaja di kirim ke dua orang tuanya di kampung untuk membantu meringankan beban Wisnu di Jakarta.

Ke dua orang tua mereka tak mampu membantu lebih jauh dikarenakan kondisi keuangan keluarga yang memang serba kekurangan. Belum lagi dengan yayasan yatim piatu sederhana yang selama ini mereka kelola di kampung halaman.

Sudah beberapa bulan Yayasan mereka tak mendapatkan subsidi dari pemerintah setempat ditambah berkurangnya donatur menjadikan beban hidup Ummi Salamah dan Abi Amir semakin berat.

Sebagai satu-satunya anak lelaki di dalam keluarga, jadilah sepatutnya Rakha menjelma sebagai tulang punggung keluarga.

Seharusnya sudah sejak dulu dia bisa membantu keuangan keluarganya kalau saja dia tidak memaksakan kehendak untuk terus melanjutkan kuliah ke Kairo.

Sebagai seorang siswa berprestasi, Rakha berhasil meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Al-Azhar, Kairo.

Hal tersebut sempat mendapat pro dan kontra dari pihak keluarga. Adik-adik perempuan Rakha tak ada yang setuju jika Kakak lelaki satu-satunya itu pergi ke Kairo. Mereka takut pendidikan mereka terancam berhenti karena tak ada yang membiayai. Sebab selama ini, Rakhalah yang membiayainya.

Rakha yang sebelumnya menyambi bekerja sebagai tenaga pengajar di pesantren tempat dirinya menempuh pendidikan.

Otak Rakha yang kelewat cerdas membuat lelaki berwajah tampan itu di tunjuk sebagai guru pembimbing dalam menghafal Quran dan Hadist bagi para siswa dan siswi yang menjadi adik kelasnya di pesantren.

Karena itulah Rakha di gaji.

Upahnya saat itu benar-benar bermanfaat untuk membantu Abi membiayai sekolah Aminah dan Latifah, ke dua adik Rakha yang kini tinggal di kampung.

Awalnya, Rakha memang sempat maju mundur untuk menerima beasiswa ke Al-Azhar itu. Rasanya sangat tidak mungkin jika dia membiarkan adik-adiknya terlantar di sini sementara ke dua orang tuanya yang telah renta tak mungkin bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat.

Tapi lagi-lagi, Allah menunjukkan kuasanya melalui tangan-tangan malaikat berwujud manusia yang dengan baiknya menjadikan yayasan milik keluarganya sebagai salah satu yayasan yatim piatu yang terpilih untuk menerima donasi bantuan tetap setiap bulannya. Donasi itu masih berlanjut hingga sekarang.

Pada akhirnya, Rakha pun bisa mengejar impiannya untuk mengenyam pendidikan di Al-Azhar.

Empat tahun berjuang hidup di Kairo, Rakha berhasil lulus dengan meraih predikat cumlaude dan mendapat hadiah berupa paket umrah dari pihak Al-Azhar yang dia berikan pada ke dua orang tuanya.

Saat ini, Rakha memang masih menganggur.

Sejauh ini, dia hanya mengisi kajian atau ceramah dari satu masjid ke masjid lain di Kampung halamannya dan mendapat imbalan ala kadarnya, alias seikhlasnya.

Namun, mengingat kondisi sang Kakak sekarang, Rakha sadar bahwa dirinya harus segera mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap. Dia tak mungkin hanya menyandarkan diri pada penghasilannya yang tak tentu sebagai seorang penceramah junior.

Mungkin ada baiknya dia harus bertindak cepat.

Saat itu, Rakha baru saja berniat untuk mencari lowongan pekerjaan di internet melalui ponselnya. Tapi sapaan sang Kakak ipar dari arah samping membuatnya urung melakukan niatnya.

"Kha, maaf nih, kebetulan Mas ada borongan malam ini, mengantar sembako ke Bekasi. Kamu bisa pulang sendirikan? Nih alamat rumah, Mas. Runi ada kok di rumah," ucap Wisnu seraya memberikan secarik kertas bertuliskan alamat kontrakannya di daerah Mampang.

Rakha mengangguk disertai senyuman tipis. "Mas nggak usah khawatir, saya bisa jaga diri, Mas yang hati-hati,"

"Okelah kalau begitu, Mas jalan duluan ya?"

"Njeh, Mas,"

Rakha masih memperhatikan kepergian sang Kakak Ipar sampai bayangan lelaki itu menghilang di sudut koridor rumah sakit ketika di waktu yang bersamaan, tepatnya dari arah berlawanan, terlihat dua orang manusia keluar dari sebuah ruangan periksa.

"Apa kita perlu kasih tau ke Mamah sama Papah kalau aku hamil, Nan?" ucap sang perempuan. Wajahnya tampak kusut.

"Ya nggak usahlah. Ngapain di kasih tahu, dua minggu lagi kitakan mau nikah. Toh orang-orang nggak akan tahu kalau kamu udah hamil duluan," sahut si lelaki.

Percakapan dua manusia itu di tangkap jelas oleh indra pendengaran Rakha. Membuat lelaki pemilik hidung mancung itu tersenyum miris seraya beristighfar dalam hati.

Dunia memang sudah benar-benar kacau. Sebab Zina sudah semakin merajalela di muka bumi. Dan itu menjadi salah satu pertanda akhir jaman.

Semoga Allah SWT menjauhkan hamba dari perbuatan Zina...

Doa Rakha dalam hati.

Rakha kembali tenggelam dalam lamunannya. Memikirkan nasib sang Kakak, Siti.

Berhubung saat itu koridor rumah sakit sepi, jadilah bunyi dering ponsel yang berasal dari saku celana jeans si lelaki yang melintas bersama kekasihnya dihadapan Rakha kembali mengalihkan perhatian Rakha.

"Nyokap aku telepon, sayang. Aku angkat dulu sebentar ya?" ucap si lelaki. Dia beringsut menjauhi kekasihnya dan berdiri tepat membelakangi Rakha.

Si perempuan hanya mengangguk pelan lalu duduk di salah satu kursi kosong, tak jauh dari tempat Rakha duduk.

"Halo Beb? Ada apaan sih? Aku kan udah bilang jangan telepon aku duluan kalau bukan aku yang hubungi kamu," bisik si lelaki pada si penelepon. Sesekali dia melirik sekilas ke arah sang perempuan di ujung koridor.

"Apa? Jemput? Sekarang?" suara si lelaki tampak di buat-buat. Dia berteriak keras seolah berharap sang kekasihnya di sana bisa mendengar percakapannya di telepon saat itu.

"Oke-oke, Nando ke sana sekarang," ucap lelaki itu lagi.

Laki-laki itu menyudahi pembicaraannya di telepon. Dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana jeans belelnya lalu beranjak kembali mendekati sang perempuan.

"Sayang, maaf banget nih, aku nggak bisa nganterin kamu pulang kayaknya, Nyokap aku minta jemput sekarang,"

Lagi-lagi Rakha tersenyum miris. Meski tatapannya tak sama sekali beralih dari layar ponselnya, tapi Rakha tidak tuli. Dia mendengar semua isi percakapan laki-laki buaya darat itu dihadapannya tadi.

Lagipula, tidak ada ceritanya seorang anak memanggil seorang Ibu dengan panggilan Beb.

Sungguh kasihan nasib wanita itu. Sudah di rusak, di hamili, di bohongi pula. Semoga saja Allah bisa menunjukkan kuasanya untuk menolong wanita itu dari laki-laki brengsek macam kekasihnya saat ini.

Harap Rakha membatin.

"Terus aku pulang gimana? Di luarkan hujan," bantah si perempuan tidak terima. "Kalau nggak aku ikut kamu aja deh jemput nyokap kamu,"

"Eh jangan, aku takut kelamaan nanti kamu malah pulang kemaleman. Aku pesenin taksi online ya, nanti kamu aku turunin di depan halte rumah sakit, kamu tunggu taksi onlinenya di sana, gimana?" saran si lelaki.

"Tau ah! Terserah kamu aja!"

"Yeee, jangan ngambek dong, jelek tau!"

Si perempuan terlihat merajuk. Dia berjalan cepat meninggalkan si lelaki yang mengejarnya di belakang.

Dan ketika si perempuan melangkah dan berjalan ke arah Rakha, entah kenapa tiba-tiba saja kepala lelaki itu mendongak, seolah ada yang menuntunnya agar bergerak lalu menatap ke arah si perempuan.

Dan di waktu yang bersamaan si perempuan pun sempat menoleh sekilas ke arah Rakha. Tatapan ke duanya sempat bertemu satu sama lain.

Meski Rakha langsung menghindar seraya berucap istighfar dalam hati. Sebagai seorang lelaki sudah seharusnya dia menjaga pandangannya dari yang tidak halal baginya. Bagaimana mungkin dia bisa terperdaya oleh tipu daya setan?

Tapi anehnya, ada satu hal yang membuat Rakha seperti teringat pada seseorang ketika dia melihat wajah perempuan itu dengan cukup jelas tadi.

Kenapa wajah perempuan itu tampak tidak asing? Apa mungkin saya dan dia sempat bertemu sebelum ini? Tapi kapan? Dimana...

Atau...

Rakha menggeleng.

Sebersit bayangan seorang peri kecil hadir dalam ingatannya.

*****

Hujan masih mengguyur daerah sekitar Jakarta bahkan hingga hari sudah semakin gelap.

Rakha keluar dari rumah sakit sambil berlari kecil. Dia menutupi kepalanya dengan ke dua tangan. Meski hal itu tak banyak membantu. Tubuh dan sebagian rambutnya tetap saja kuyup.

Seorang lelaki tua terbatuk-batuk dari dalam sebuah mobil box hitam yang terparkir di tepi trotoar sekitar rumah sakit. Jaraknya tak jauh dari halte.

Kaca jendelanya terbuka hingga air memenuhi bagian kemudinya. Karena jarak antara Rakha dengan mobil itu cukup dekat, Rakha bisa melihat dengan jelas, batuk si Bapak tua itu tampaknya sangat serius karena sampai mengeluarkan darah.

Sisi kemanusiaan dalam diri Rakha pun tergugah melihatnya.

"Assalamualaikum, Pak, Bapak kenapa? Ada yang bisa saya bantu, Pak?" sapa Rakha sembari menyentuh bahu si lelaki tua yang tampak kelelahan akibat batuknya yang tak kunjung reda. Seluruh mulutnya sudah penuh oleh darah segar. Bahkan sebagian mengalir keluar dari sudut kiri bibirnya.

"Nak... Tolong saya, Nak... Saya masih harus mengantar barang malam ini, kalau tidak saya kerjakan, atasan saya tidak akan membayar upah saya, saya harus segera membeli obat, Nak..." racau si Bapak tua itu. Keputusasaan membuat lelaki tua itu mengesampingkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi menimpanya. Bagaimana jika lelaki yang dia mintai tolong saat ini adalah orang jahat? Jakarta itu keras bukan? Namun, imannya pada sang khaliklah yang membuatnya memilih untuk tetap berprasangka baik pada siapapun manusia asing yang dia temui di jalan.

"Ta-tapi apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Bapak?" tanya Rakha terbata. Tubuhnya sudah sepenuhnya basah.

"Kamu bisa menyetir mobil?"

"Bi-bisa Pak," Rakha mengangguk meski ragu.

"Kalau begitu, tolong antarkan saya ke alamat ini, supaya saya bisa segera menyelesaikan pekerjaan saya malam ini. Saya akan menunjukkan jalannya nanti," lelaki tua itu memberikan sebuah kertas yang bertuliskan alamat seseorang.

"Baik, Pak," tanpa pikir panjang, Rakha menyanggupi untuk membantu. Untungnya Rakha cukup mahir mengendarai mobil.

Bismillah.

Rakha mulai menyalakan mesin mobil setelah dia menduduki posisi si Bapak tua tadi yang kini duduk di sampingnya. Ke dua mata lelaki tua itu tampak terpejam. Sepertinya dia benar-benar kelelahan.

Sebuah sedan hitam terlihat melaju kencang menembus lampur merah.

Sedan hitam itu datang berlawanan arah dari laju mobil yang dikendarai Rakha.

Mendekati halte, mobil itu tiba-tiba saja menukik tajam.

Sementara itu, mobil box yang berada tak jauh dari halte bergerak di waktu yang bersamaan.

Si pengendara sedan hitam terkejut ketika niatnya semula untuk menabrak seorang wanita lain yang kini berdiri di depan halte terhalang oleh Mobil box yang tiba-tiba bergerak.

Kecelakaan pun tak dapat terelakkan.

Sedan hitam itu menyenggol mobil box dengan kencangnya.

Kemudi di tangan Rakha kehilangan kendali. Bahkan saat itu rem yang berkali-kali Rakha injak tidak juga berfungsi.

Mobil box hitam itu tergelincir hingga beberapa meter kebelakang akibat jalanan yang licin.

Wajah Rakha langsung kaku dan pias. Berkali-kali hatinya meneriakkan kalimat-kalimat dzikir. Bibirnya mendadak kelu dengan tangan yang gemetar dan masih berusaha mengambil alih kembali kemudi. Meski hal itu gagal dia lakukan.

Mobil yang dikendarainya terbalik setelah sempat menghantam besi halte yang berada di depan rumah sakit. Tubuh Rakha terpental keluar dan jatuh di aspal jalanan yang jaraknya cukup jauh dari halte.

Kondisi mobil box yang dikendarainya ringsek di bagian belakang dan depan. Asap mengepul dari kap mobil yang terbuka.

Dalam kabut yang memenuhi penglihatannya saat itu, Rakha sempat melihat ada sesosok tubuh lain yang terpental dari arah halte yang sempat ditabraknya.

Ya Allah, apa yang sudah terjadi?

Rakha tak mampu bergerak dari posisinya. Kerumunan orang tampak merangsek mengelilingi mobil box dan seseorang lain di tepi halte itu yang menjadi korban.

Dalam samar, Rakha hanya bisa menangkap untaian panjang rambut si korban di tepi halte itu.

Apa dia seorang wanita?

Rakha hanya bisa menerka-nerka tanpa bisa melakukan tindakan lebih jauh.

"Mas-mas, bangun Mas! Woy, ada korban lain di sini,"

Itulah teriakan salah satu warga yang berhasil ditangkap indra pendengarannya sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi gelap.

Bab 3

Rakha baru saja terbangun pasca kecelakaan yang dialaminya tadi malam.

Bertempat di rumah sakit yang sama dengan tempat Siti dirawat, Rakha mendapat penanganan medis meski luka-luka yang dideritanya tidak berat.

Dia hanya mendapat beberapa luka jahitan di kepala dan siku. Selebihnya tak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Akhirnya kamu siuman juga, Kha..." sambut sebuah suara yang jelas Rakha kenal, suara Wisnu sang Kakak ipar.

Rakha mendapati Wisnu berdiri di sisi brankar rumah sakit yang ditempati Rakha di ruang UGD. Wajah lelaki itu tampak kusut.

"Saya di mana Mas? Apa yang terjadi?" ucap Rakha dengan suara serak. Rasa nyeri di kepalanya membuat Rakha agak kesulitan mengingat apa yang telah terjadi.

"Kamu di rumah sakit sekarang. Semalam kamu kecelakaan. Ada mobil box hitam yang menabrakmu," jawab Wisnu apa adanya.

Rakha mengerutkan kening. Otaknya mencoba mencerna ulang kalimat Wisnu.

Kecelakaan...

Mobil box hitam...

Astagfirullah al-adzim...

Walau belum sepenuhnya mengingat dengan baik, entah kenapa, Rakha merasa apa yang dikatakan Wisnu itu tidak benar.

"Tadi polisi sudah menjelaskan semuanya pada Mas dari bukti di TKP dan keterangan saksi warga sekitar. Ada sebuah mobil box hitam yang dikendarai oleh seorang laki-laki tua bernama Bapak Ahmad. Polisi menduga, Bapak Ahmad kehilangan keseimbangan saat mengemudi sehingga menyebabkan mobilnya tergelincir dikarenakan dia mengidap penyakit berat. Bapak Ahmad menderita penyakit TBC, dia meninggal di tempat kejadian setelah mobil yang dia kendarai menabrakmu dan seorang wanita bernama Rania di halte dekat Rumah sakit," jelas Wisnu panjang lebar.

"Innalillahi wainna ilaihi rajiun..." gumam Rakha pelan. Takdir Allah memang tidak ada yang bisa menebak. Nyatanya, malam tadi adalah detik-detik waktu kehidupan Bapak Ahmad berakhir di dunia. Dan tentunya, malam tadi malaikat maut sudah berada begitu dekat dengan Bapak Ahmad maupun Rakha sendiri.

Pelupuk mata lelaki berumur 27 tahun itu pun menghangat. Menjadi sebuah pelajaran berharga bagi Rakha bahwa sudah sepatutnya manusia itu selalu mengingat akan kematian. Karena maut tak mampu ditebak kapan datangnya. Bisa saja hari ini kita masih bisa tertawa bersama kawan sejawat, membicarakan lelucon konyol bersama, tapi siapa yang tahu jika hari esok, justru diri kita sudah terbujur kaku di liang lahat.

Bisa saja pagi ini kita masih bisa menikmati senyuman keluarga kita sebelum berangkat mencari nafkah. Mencium kening istri dan meneriakkan kata cinta, tapi siapa yang tahu jika satu jam setelahnya kita mendapat kabar bahwa istri yang pagi tadi masih kita rasakan kehangatan pelukannya dan manis senyumannya, kini telah pergi untuk selama-lamanya.

Wallahu, maut, rejeki dan jodoh semua adalah rahasia mutlak sang maha pencipta. Manusia hanya bisa berusaha untuk tidak lalai dalam melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah yang taat. Hingga pada saatnya tiba nanti, kita memiliki cukup bekal untuk menghadap-Nya.

"Ya sudah, Mas mau menyelesaikan administrasimu dulu. Kata dokter luka yang kamu derita tidak serius, kamu sudah diperbolehkan pulang begitu siuman,"

"Mas," panggil Rakha saat Wisnu hendak pergi. Perlahan, Rakha mulai mengingat kronologi kejadian kecelakaan yang dialaminya malam tadi.

Tubuh Wisnu pun berbalik dengan cepat. "Ya, ada apa?"

Rakha menatap Wisnu dengan penuh keraguan. Semua kronologi kejadian yang dikatakan Wisnu jelas tidak benar. Dan Rakha bukan seorang manusia culas yang akan menyembunyikan kebenaran begitu saja. Setidaknya, dia masih memiliki tanggung jawab agar pihak kepolisian tidak menimpakan segala kesalahan pada Pak Ahmad.

"Sebenarnya, malam tadi, yang mengendarai mobil box hitam itu bukan Pak Ahmad, Mas, ta-tapi... Saya Mas..." ucap Rakha terbata.

Wajah Wisnu yang tadinya mulai tenang terlihat panik kembali. Lelaki berjanggut tipis itu sangat terkejut mendengar pengakuan Rakha.

Wisnu langsung celingukan mengamati keadaan sekitar, memastikan tak ada polisi atau siapapun yang mendengar pengakuan konyol Rakha. Ditariknya gorden pembatas brankar di ruang UGD tersebut untuk melindungi percakapan mereka dari pihak luar.

"Apa yang kamu katakan Rakha? Jangan bercanda!" bentak Wisnu setengah berbisik. Matanya melotot menatap garang ke arah Rakha.

"Sungguh, saya tidak sedang bercanda, Mas. Saya serius,"

Hingga akhirnya, Rakha pun menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya dia alami. Juga tentang sebuah mobil sedan lain yang lebih dulu menghantam mobil box milik Pak Ahmad dari arah berlawanan hingga dirinya kehilangan kendali akibat jalanan yang licin dan pedal rem yang bermasalah.

"Nggak ada yang tahu menahu tentang mobil sedan itu di TKP, semua kesalahan merujuk pada Pak Ahmad sebagai pengendara mobil box itu, Kha! Udah deh, kamu nggak usah ngada-ngada! Nggak usah buat masalah ini jadi tambah runyam!" bantah Wisnu setengah kesal. Dia benar-benar tak menyangka jika kenyataannya justru adik iparnya sendirilah yang seharusnya menjadi tersangka dalam hal ini.

"Tapi saya tidak mungkin diam saja, Pak Ahmad sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, Mas..."

"Ssssttt... Jangan keras-keras bicaranya! Polisi masih ada diluar!" Wisnu buru-buru mengunci mulut Rakha dengan tangannya membuat Rakha bungkam seketika.

Wisnu menarik kembali tangannya dari wajah Rakha. Dihempasnya kuat-kuat seluruh karbondioksida yang tiba-tiba membuat dadanya sesak melalui mulut. Dia berdiri dengan berkacak pinggang di sisi brankar Rakha.

"Sekarang gini aja deh, Kha, demi Mas, demi Mbakmu, ada baiknya kita merahasiakan hal ini," suara Wisnu kali ini terdengar melemah seiring dengan keputusasaan yang menyergap dirinya tanpa ampun. Masalah dalam hidupnya sudah cukup berat, tak sampai hati jika dirinya kini harus melihat sang adik ipar terlibat urusan hukum. Sebab Wisnu tahu betul perangai Rakha, dia itu laki-laki sholeh dan baik. Rakha bukan pecundang yang akan diam saja ketika melihat hal-hal buruk terjadi di sekitarnya. Rakha adalah seorang lelaki sejati dalam pandangan kacamata seorang Wisnu. Sebab itulah, Wisnu perlu bicarakan masalah ini secara baik-baik dengan Rakha agar dia mengerti dan tidak melakukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri.

"Polisi sudah menutup kasus ini karena dianggap tersangka atas kasus ini sudah tiada, yaitu Pak Ahmad. Polisi mengatakan seandainya pun pihak keluarga korban menuntut ganti rugi, silahkan langsung datangi pihak keluarga Pak Ahmad. Mas sudah bilang kalau Mas tidak akan menuntut apa-apa sebab Mas tahu keluarga Pak Ahmad berasal dari keluarga tidak mampu seperti kita. Tapi Mas tidak tahu bagaimana dengan keluarga Rania, yang Mas tahu, Rania berasal dari kekuarga terpandang di Jakarta. Ayahnya pemilik perusahaan Dirgantara, seandainya mereka sampai tahu kalau tersangka yang sudah menabrak anaknya masih hidup, pasti mereka akan mengusut tuntas kasus ini karena mereka berkuasa. Kamu mau dijebloskan ke dalam penjara sama mereka? Kalau hal itu sampai terjadi, bagaimana nasib Mbakmu? Sementara Mas di sini hanya bisa mengandalkanmu untuk membantu Mas membiayai pengobatan Siti. Tolong Rakha, Allah juga maha tahu, Runi masih butuh sosok ibunya..."

Hati Rakha terenyuh mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Wisnu. Bahkan dia pun tak sanggup menahan air matanya saat dilihatnya kini Wisnu menangis di hadapannya. Rakha tidak menyalahkan keputusan Wisnu, namun sisi lain dihatinya merasa tidak terima jika dia harus menyembunyikan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.

Dan lagi, mengenai pemilik sedan hitam itu, alangkah berdosanya dia telah lari dari tanggung jawab akan kesalahan yang dia perbuat, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Meski dia tak bermaksud melakukan hal itu dengan sengaja, setidaknya dia harus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami para korban.

"Baiklah, Mas. Rakha akan menuruti apa kata, Mas..." ucap Rakha pada akhirnya. Dia tak punya pilihan lain.

"Kalau begitu, jika nanti polisi sampai datang menemuimu, bilang saja kamu tidak tahu menahu masalah mobil box milik Pak Ahmad, yang kamu tahu, mobil itu tiba-tiba menabrakmu saat kamu sedang menunggu angkutan umum di halte, mengerti Rakha?"

Rakha mengangguk pasrah.

"Kalau begitu, Mas keluar sebentar untuk mengurus administrasimu,"

"Mas," panggil Rakha lagi.

"Apalagi?"

"Bagaimana kondisi Rania sekarang?" tanya Rakha dengan segala pikirannya yang berkecamuk. Dia sadar betul, seandainya dia tidak membanting setir ke arah halte, ada kemungkinan wanita bernama Rania itu tak akan menjadi korban malam tadi. Ini jelas murni kesalahannya.

"Rania masih koma, tapi masa kritisnya sudah lewat, dia masih di ruang ICU," jawab Wisnu sebelum benar-benar berlalu dari ruang UGD.

Ya Allah... Selamatkan Rania...

Jangan buat perasaan bersalah hamba semakin menjadi-jadi seandainya hal terburuk sampai menimpa Rania...

Hamba mohon...

Bisik Rakha membatin.

Sepertinya, dia harus memastikan kondisi Rania sendiri.

Supaya hatinya bisa lebih tenang.

******

Rakha masih berdiri mematung di depan pintu ruangan ICU dimana di sana tampak sesosok tubuh lemah seorang perempuan bernama Rania tengah terbaring.

Tubuhnya di penuhi oleh selang infus dan alat bantu pernapasan.

Karena saat itu posisi Rakha memang terlampau jauh ditambah terhalang oleh kaca pembatas ruangan, jadilah wajah perempuan itu tak mampu dia tangkap dengan sempurna. Tapi meskipun begitu, Rakha tetap berharap keajaiban itu terjadi. Dimana Rania bisa melewati masa-masa kritis dan sembuh total seperti sedia kala.

Beberapa orang yang tiba-tiba datang dari arah koridor kanan tempat Rakha berdiri menyita perhatian Rakha. Dia langsung merangsek pergi dari depan pintu ruangan ICU Rania karena dia berpikir kalau segerombol orang itu adalah keluarga Rania. Rakha duduk di sebuah bangku tunggu tak jauh dari sana. Hanya sekedar memastikan apa benar mereka adalah keluarga Rania.

Dari penampilannya mereka terlihat seperti orang-orang berpendidikan dan yang pasti mereka terlihat layaknya orang-orang kaya kebanyakan.

Dan benar saja dugaan Rakha bahwa mereka adalah anggota keluarga Rania karena saat pintu ruangan ICU terbuka, seorang laki-laki tertua di sana langsung memberondong sang dokter dengan berbagai pertanyaan.

"Untuk saat ini Rania belum bisa dijenguk karena kondisinya belum stabil pasca operasi tadi, tapi masa kritisnya sudah lewat. Dan ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan pada Bapak dan Ibu mengenai Rania," jelas sang Dokter saat itu. Rakha sengaja melebarkan telinga untuk mengetahui kondisi Rania lebih lanjut.

Kalimat Dokter itu terhenti saat tiba-tiba seorang lelaki lain berhambur ke arah mereka. Wajahnya tampak pucat pasi. Bahkan matanya sedikit berair. Keadaannya tampak kacau.

Kedua mata Rakha terbelalak saat dilihatnya sosok laki-laki itu.

"Om, Tante, bagaimana kondisi Rania? Maafin Nando, Om, Tante, karena tadi malam Nando nggak mengantar Rania pulang..." ucap suara lelaki itu dengan nada parau. Wajahnya tampak sangat ketakutan.

"Masa kritis Rania sudah lewat Nando, sudah tak apa-apa. Tidak usah menyalahkan dirimu. Ini musibah," sahut seorang lelaki yang dipanggil Om oleh Nando. Rakha menebak kalau lelaki itu pasti Ayah Rania. "Oh ya, Dok, apa yang tadi ingin Dokter katakan," lanjut si lelaki paruh baya itu yang kembali mengalihkan perhatiannya pada sang dokter.

"Jadi, begini Pak, Bu, dari hasil pemeriksaan yang sudah kami lakukan terhadap Rania, kami mengetahui bahwa saat ini, Rania sedang mengandung, usia kandungannya sudah memasuki dua bulan,"

Deg!

Bukan hanya keluarga Rania yang terkejut, tapi Rakha lebih terkejut lagi.

Ya Allah, jadi... Jadi...

Rania itu adalah perempuan yang sama dengan yang aku lihat sebelumnya di rumah sakit semalam?

Pikir Rakha membatin.

Dan keterkejutan Rakha belum selesai sampai di situ karena adegan drama yang terjadi di depan ruangan ICU saat itu masih terus berlanjut bahkan terlihat semakin menegangkan.

Sebuah pukulan keras mendarat mengenai rahang Nando dari seorang lelaki lain yang sepertinya memiliki umur tak jauh dengan Rakha. Laki-laki itu terlihat sangat marah.

"Brengsek! Jadi lo udah hamilin adik gue?" sentaknya pada Nando yang sudah tersungkur di lantai rumah sakit.

"Dev! Sudah Dev! Tahan emosi kamu, ini rumah sakit!" teriak wanita paruh baya lain sembari menangis terisak. Dia menahan tangan putranya yang hendak melayangkan sebuah pukulan lagi pada Nando.

"Sumpah! Sumpah demi Tuhan, Kak! Nando nggak tahu apapun mengenai kehamilan Rania! Bukan Nando yang udah hamilin Rania, Nando bener nggak tahu apa-apa," teriak Nando membela diri. Dia menyembunyikan wajahnya dengan siku, takut-takut terkena pukulan secara tiba-tiba lagi.

Rakha langsung berdiri dari duduknya, ke dua tangannya terkepal keras di sisi tubuhnya. Laki-laki bernama Nando itu benar-benar brengsek! Bagaimana bisa dia berbohong padahal dia pelakunya. Bahkan sampai membawa nama Tuhan untuk menutupi kebohongannya! Sungguh keterlaluan. Besar sekali keinginan Rakha untuk memberitahu kebenaran itu, tapi sekelebat bayangan Mba Siti dan Mas Wisnu juga keponakannya Runi seolah membuat langkah kaki Rakha memberat dan kaku.

Rakha sadar, dirinya bukan siapa-siapa.

"Tahan emosi kamu, Dev! Kita tidak bisa melimpahkan kesalahan begitu saja pada Nando, sebelum mendengar penjelasan dari Rania sendiri," ucap laki-laki paruh baya tadi.

"Tapi sejak awal kita tahu kalau Rania selama ini cuma menjalin hubungan serius sama dia Pah! Sejak awal Dev kan udah bilang, laki-laki ini brengsek! Dia nggak pantes buat Rania! Kenapa sih nggak ada yang mau dengerin Dev?"

"Kita tunggu sampai Rania sadar, jangan main hakim sendiri,"

"Kalau sampai hal itu terbukti, abis lo sama gue!" ancam laki-laki bernama Dev itu pada sosok Nando yang baru saja bangkit dari lantai.

"Rania itu punya banyak temen lelaki, Kak! Nando nggak terima diperlakukan seperti ini!" sentak Nando yang tiba-tiba melawan.

"APA MAKSUD LO NGOMONG KAYAK GITU?" emosi Dev kembali meluap.

"Bisa ajakan Rania hamil sama laki-laki lain,"

"BRENGSEK!"

"DEV! UDAH!"

Saat itu, Rakha masih di sana.

Masih terus menyaksikan betapa dirinya lemah untuk sekedar mengungkap kebenaran yang dia ketahui.

Tapi sungguh, hal ini benar-benar diluar kuasanya.

Ya Allah, ampuni hambamu yang lemah ini...

Rakha hanya berharap, semoga Rania cepat sadar. Agar kebenaran segera terbongkar.

Sebuah panggilan dari ponselnya mengalihkan perhatian Rakha sejenak dari keributan di depan ruang ICU itu.

Dia mendapati nomor baru tertera di layar ponselnya saat itu.

Tanpa pikir panjang, Rakha pun mengangkatnya.

"Assalamualaikum, ini siapa ya?" tanya Rakha sopan.

"Hallo, selamat pagi. Kami dari perusahaan Dirgantara Grup. Apa benar kami sedang bicara dengan pemilik akun email Rakha_AlFarizi@gmail.com yang malam tadi sudah mengisi kuisioner yang diadakan perusahaan kami?"

"Ya, benar, saya pemilik akun email itu,"

"Kalau begitu, selamat ya Pak, anda terpilih sebagai salah satu calon peserta interview di perusahaan kami untuk menempati posisi jabatan sebagai staff HRD di perusahaan Dirgantara Grup. Karena hasil pengisian kuisioner anda semuanya benar dan tepat. Anda kami undang untuk melakukan interview lusa nanti. Silahkan datang pukul delapan pagi dengan membawa serta CV lengkap dan data diri anda. Untuk keterangan lebih lanjut, nanti akan di jelaskan sebelum interview dimulai, demikian infomasi dari kami, apa ada yang ingin di tanyakan?"

"Oh, tidak ada Mba. Terima kasih atas informasinya. Sudah cukup jelas,"

"Kalau begitu, kami nantikan kehadiran anda lusa nanti di kantor kami, selamat pagi,"

Tut! Tut! Tut!

Sambungan telepon itu pun terputus.

Dengan pikiran Rakha yang masih terpecah belah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED