Bab 1

Jakarta memang tidak pernah terlepas dengan dunia malamnya yang seakan tak pernah mati, sama seperti perempuan berparas cantik bertubuh seksi yang sudah terbiasa dengan kehidupan malam yang gemerlap.

Tak perlu menggunakan pakaian yang minim dan nyaris menampakkan seluruh tubuh, Clarissa hanya cukup memakai off the shoulder lace crop top berwarna hitam, di padukan dengan rok jeans ketat di atas lutut beraksen sobek di bagian pahanya. Tidak terlalu mencolok, tapi berhasil menjadi pusat perhatian para lelaki tampan dari yang muda hingga tua yang berada di dalam klub malam tersebut.

Tanpa ragu, Clarissa melenggang santai melewati kerumunan manusia yang sedang meliuk liukkan tubuh mereka di iringi dentuman musik yang dibawakan oleh DJ perempuan yang berpenampilan sangat seksi.

Dengan sikapnya yang terkenal dingin, Clarissa mendatangi sebuah meja VIP yang tengah diduduki oleh seorang dua orang perempuan beda usia serta satu laki laki berusia yang hampir memasuki kepala empat yang tengah duduk sambil memangku seorang perempuan muda di antaranya.

'Cih! Aku akan merebut semuanya dari kamu, agar kamu tahu kehilangan sesuatu yang berharga itu sangat menyakitkan,' batin Clarissa menyeringai.

"Hei, Sayang. Kamu sudah di sini? Madam kira kamu tidak akan datang biasanya," ucap perempuan paruh baya yang menggunakan full make up yang sering di panggil sebagai Madam sambil berdiri mendekati Clarissa.

Clarissa tersenyum tipis, lalu menarik tubuh Madam dan mencium pipi kiri dan kanan madam secara bergantian.

"Ya, sepertinya aku harus datang." Melirik perempuan yang sedang beraksi menggoda pria matang yang kini justru mengarahkan tatapan laparnya pada Clarissa.

"Sini, duduk." Madam menarik tangan Clarissa dan mendaratkan pantatnya di atas sofa empuk berwarna coklat itu. "Tuh diminum. Madam pesan khusus untuk kamu loh." Mengarahkan wajahnya pada meja yang telah tersedia beberapa botol minuman alkohol dengan berbagai merek ternama serta gelas kaca berkaki.

Clarissa sendiri sebenarnya tidak terlalu suka mengkonsumsi alkohol. Selain tidak bisa minum, dia juga harus mengontrol kesadarannya agar pekerjaannya berjalan dengan baik. Tapi, demi menjaga jaga dari cibiran rekan lainnya, Clarissa terpaksa meneguk sedikit minuman itu .

"Jadi, aku free malam ini, Madam?" Mengambil gelas kaca yang telah berisi minuman alkohol dengan begitu elegan.

Madam memainkan bola matanya ke kiri dan kanan dengan bibir yang bergerak maju mundur seakan sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan dari 'anak asuh' kesayangannya itu.

Mendengar kata free, entah kenapa laki laki yang duduk di hadapannya itu segera bersemangat, matanya berbinar binar seolah mendapat santapan daging segar di depan matanya. Bahkan kini tangannya mendorong tubuh perempuan yang sejak tadi bergerak menggodanya dan nyaris membangkitkan keperkasaannya, hingga perempuan yang berpakaian seperti menggunakan handuk itu turun secara paksa.

"Kenapa? Aku lagi membangkitkan hasratkmu," ucapnya dengan nada yang di buat semanja mungkin.

Tak menghiraukan perempuan yang telah dipilihnya itu, laki laki itu justru mengulurkan tangannya pada Clarissa. "Temani aku malam ini, Babby."

"Tapi, Chris. Malam ini aku yang bertugas memuaskanmu, kamu sendiri yang sudah memilihku dari Madam. Kamu tidak bisa seenaknya begitu saja," teriak perempuan itu dengan api amarah yang berkobar kobar.

"Aku sudah tidak bergairah denganmu, Eliza." Laki laki bernama Chris itu melemparkan tatapan jijik pada Eliza.

Eliza menggeram kesal, sebelah kakinya menghentak keras lantai bangunan itu. "Memangnya aku kurang seksi seperti apa lagi? Nanti saat kita di kamar, kamu bisa melihat semua aset milikku yang indah ini. Ayolah, Chris. Kita bisa pergi sekarang juga jika kamu mau." Kata kata menjijikkan itu meluncur bebas dari mulut Eliza--perempuan yang telah menjebak Clarissa enam bulan yang lalu, sampai akhirnya Clarissa membenci tubuhnya sendiri dan memilih untuk bekerja menjadi wanita pemuas nafsu birahi pria hidung belang.

Seringai licik tercetak jelas di wajah Clarissa. Sudut bibir menawannya tertarik ke atas menyaksikan drama yang sedang di gelar oleh mantan temannya itu.

"Heem... sepertinya aku butuh beristirahat malam ini." Clarissa menyentuh ujung jari jari Chris sekilas. Dirinya berniat berdiri dari duduknya. Sampai tangan Madam menghentikannya.

"Clarissa, sebenarnya ada satu pelanggan kamu yang sudah membayar full, bahkan dua kali lipat." Madam mendekatkan bibirnya di telinga Clarissa. Berniat untuk menyembunyikannya dari Eliza dan Chris.

Jelas saja Clarissa bersemangat mendengar kata 'dua kali lipat' dalam ucapan Madam itu. Tapi, bukan Clarissa namanya jika tidak bisa menyembunyikan ekspresi girangnya karena akan menerima pundi pundi rupiah yang mengalir deras di rekeningnya. "Katakan dimana alamatnya, Madam."

Madam menggelengkan kepalanya, lalu ia mengarahkan wajahnya ke sisi kanan Clarissa. "Kamu sudah di jemput sejak tadi."

Clarissa segera mengikuti pergerakan arah wajah Madam, di sana matanya bisa melihat seorang laki laki dengan setelan serba hitam, berkepala plontos lengkap dengan kacamata yang menyangkut di batang hidungnya.

'Astaga, menyeramkan sekali. Masa iya aku harus melayani orang seperti itu. Pasti misiku sulit untuk berjalan lancar ini,' batin Clarissa dengan perasaan was was.

"Pergilah, layani dia dengan baik. Bukan tidak mungkin kamu bisa mendapatkan bonus darinya, sayang." Madam mengedipkan sebelah matanya pada Clarissa.

Clarissa tidak akan menolak siapa pun pelanggan yang berani membayarnya lebih, apalagi dua kali lipat seperti ini. Pasalnya, tarif dalam satu kali kencan saja, dirinya mematok harga puluhan juta, mengingat pamor Clarissa semakin melejit setelah bergabung menjadi anak asuh Madam, menggeser posisi Eliza yang hanya bertarifkan belasan juta saja. Clarissa menganggukkan kepalanya, dan segera berdiri untuk menjalankan pekerjaan rutinnya yang hampir setiap malam tidak pernah absen.

"Oh, akhirnya kamu setuju, Babby." Chris tanpa aba aba memeluk tubuh Clarissa yang hendak berjalan melewatinya.

"Sialan!" guman Clarissa kesal sambil mendorong paksa dada Alex. "Lepasin aku. Aku harus pergi."

Chris tak menghiraukan ucapan Clarissa yang masih terdengar jelas di telinganya. Dengan nafsu yang sudah di ubun ubun, Chris mencecap bibir menawan Clarissa. Membuat Madam menggelengkan kepalanya dengan kelakuan laki laki yang telah memiliki istri dan seorang anak itu.

"Bajingan, lepas!" Kembali Clarissa mendorong kasar dada Chris hingga bibirnya berhasil bebas dari lumatan kasar Chris.

Buuuk!

Tubuh Chris jatuh ke lantai saat seorang pria berkepala plontos bertubuh kekar itu menghantam wajah Chris yang dipenuhi dengan hasrat menggebu itu.

"Dia milik bosku, malam ini. Jangan berani menyentuhnya lagi," geram laki laki itu.

'Haah? Bos? Ternyata dia hanya bodyguard laki laki hidung belang yang telah membayarku dua kali lipat?' batin Clarissa terperangah.

Tak ingin berlama lama lagi di sana, setelah puas menghantam Chris, laki laki itu meminta Clarissa untuk mengikutinya keluar dari dalam bangunan klub mewah nan berkelas itu.

Kini Clarissa telah berada di dalam sebuah mobil sporty yang di kendarai bodyguard pelanggannya malam itu. Sambil sedikit meringis akibat luka di bibir dalamnya karena gigitan kasar Chris beberapa saat tadi, Clarissa memberanikan diri untuk bertanya pada bodyguard tersebut.

"Kalau aku boleh tahu, siapa bosmu itu?"

Laki laki berwajah garang itu melirik Clarissa dari balik kaca spion tengah yang ada di dalam mobil tersebut. Tidak ada senyum di wajahnya, tidak ada ekspresi amarah juga di sana, membuat Clarissa bergedik ngeri menyaksikan tatapannya. Padahal, laki laki itu menggunakan kacamata hitam, tapi rasanya Clarissa seolah akan dikuliti oleh laki laki itu.

'Gila, ini bodyguard mengerikan sekali sih. Untung saja pelanggannya bukan dia, bisa kalang kabut aku di buatnya,' batin Clarissa.

Jarak dari klub mewah tempat dirinya bertemu Madan hingga ke hotel bintang lima itu tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja, dan mereka telah tiba.

Seperti biasanya, sebelum memasuki hotel yang akan menjadi tempatnya mengais pundi rupiah, Clarissa selalu menggunakan kacamata hitam dan mengikat rambutnya ke atas. Untuk apa? Entahlah, yang jelas Clarissa selalu menyukai gayanya tersebut sebelum menyambut pelanggannya dari dalam kamar hotel.

Tanpa banyak bicara, Clarissa mengikuti pergerakan langkah bodyguard tersebut yang membawanya hingga berada di lantai dua puluh dua. Langkah Clarissa melambat saat tubuh bodyguard itu berhenti tepat di depan pintu yang di yakini Clarissa adalah President suite, kamar dengan pelayanan lengkap nomor satu di hotel tersebut.

Entah kenapa nyali Clarissa sedikit menciut seketika, padahal ini bukan untuk yang pertama kalinya dirinya akan bertemu dengan pelanggan kaya rayanya. Namun, ini baru yang kedua kalinya Clarissa menginjakkan kakinya di President suite hotel untuk memuaskan hasrat pelanggannya, setelah malam sial yang merenggut paksa keperawanannya enam bulan yang lalu. Sebelumnya, para pelanggan Clarissa hanya akan menyiapkan kamar hotel dengan fasilitas terbaik nomor dua. Hal ini membuat Clarissa berpikir, apakah pelanggannya orang yang sama dengan malam itu--laki laki tua bajingan yang tidak memiliki hati saat mencumbuinya secara brutal.

"Silahkan masuk, Nona," ucap bodyguard itu setelah pintu kamar tersebut terbuka dari dalam dan menampilkan seorang pria berpakaian formal dengan wajah yang terlihat tampan.

Clarissa segera tersadar dari lamunan menjijikkan enam bulan yang lalu. Rasanya saat ini juga Clarissa ingin memaki semua laki laki yang bertemu dengannya. Tapi, melihat kegarangan wajah laki laki di hadapannya membuat Clarissa mengurungkan niatnya.

"Ya." Menampilkan senyum palsu di wajahnya, lalu menatap laki laki lainnya yang sedang menatapinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Clarissa?" tanya laki laki yang berdiri di balik pintu dari arah dalam.

"Yes, i'm," sahut Clarissa tanpa melepas kacamatanya.

'Benar itu dia. Tidak aku sangka penampilannya berubah derastis. Sikapnya juga terlihat lebih dingin, mengalahkan dinginnya suhu ruangan di dalam,' batin laki laki itu dengan sebelah alis yang terangkat.

Melihat pelanggannya itu terdiam beberapa saat, akhirnya Clarissa sengaja mengeluarkan suara deheman, lalu melepaskan ikat rambutnya, membiarkan rambut panjang bergelombangnya terurai begitu saja. Ini juga termasuk dalam trik yang dilakukan Clarissa dalam menarik perhatian pelanggannya. Apakah Clarissa semurah itu pada pria asing? Jawabannya hanya menunggu beberapa saat lagi, dan kita semua akan mengetahuinya.

"Sorry. Ayo masuk, kau sudah di tunggu." Laki laki itu melebarkan tangan kanannya untuk menghormati kedatangan Clarissa.

'Ha? Jadi bukan dia juga pelangganku? Ini apa apaan? Kenapa aku merasa di permainkan seperti ini?' batin Clarissa mulai kesal.

Tak ingin terburu buru dalam mengambil kesimpulan, Clarissa kembali melangkahkan kakinya, memasuki ruangan termewah di dalam hotel tersebut. Dari balik kacamatanya, Clarissa mengedarkan matanya, mengagumi setiap keindahan nuansa keemasan di dalamnya dengan berbagai fasilitas yang membuatnya takjub.

Langkah kaki Clarissa saat ini telah membawanya ke dalam salah satu kamar, dan kembali terhenti begitu mendengar sapaan laki laki yang menyambutnya dengan seseorang yang tampak duduk di sofa tunggal di dalam kamar itu.

"Tuan Muda, Nona Clarissa telah berada di sini," ucap laki laki bersetelan formal itu.

"Pergilah. Dan jangan ganggu waktuku sampai aku yang memintamu untuk kemari." Suara bariton yang mendominasi kamar berukuran luas itu mampu membuat Clarissa penasaran pada sosok laki laki yang di panggil tuan muda itu. Pasalnya, laki laki tersebut sedang menutup wajahnya dengan majalah bisnis yang sedang berada ditangannya..

"Baik, Tuan Muda." Menundukkan kepalanya sopan, lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.

Tanpa menunggu aba aba, Clarissa berjalan mendekati Tuan Muda yang belum di kenali namanya itu.

"Selamat malam, Tuan Muda," ucap Clarissa di iringi dengan kacamatanya yang terangkat ke atas.

Perlahan majalah yang menutupi wajah laki laki itu menyingkir dan menampilkan keseluruhan wajah sang tuan muda.

'Ah sial, kenapa tampan sekali pelangganku kali ini.'

Clarissa menelan salivanya kasar, senyum tipis di bibirnya terurai dengan kedua mata yang tertunduk ke bawah untuk menghilangkan rasa kagumnya itu. Bagaimana pun juga, Clarissa tidak akan pernah ingin melibatkan hati dan perasaannya pada setiap pelanggannya. Baginya, tidak ada satu pun laki laki yang pantas untuk menerima perasaan cintanya, setelah kejadiaan malam itu.

"Anda terlambat, Nona." Seringai licik terlihat jelas di wajah pelanggan Clarissa.

"Benarkah? Apa itu menjadi masalah buat anda, Tuan Muda?" sahutnya santai.

Laki laki yang menggunakan bathrobe berwarna putih itu berdiri dari duduknya, mendekati Clarissa lalu berjalan mengitari tubuh seksi nan menggoda milik Clarissa.

"Aku membayar mahal untukmu, apakah pantas aku menerima keterlambatanmu ini?"

"Aku bisa mengganti rugi keterlambatanku ini, Tuan Muda. Anda tenang saja." Suara Clarissa di buat setenang mungkin, padahal rasa gugupnya mulai menjalar ke tubuhnya, karena secara tak sengaja hidungnya mencium aroma maskulin yang dominan dari tubuh pelanggannya itu.

Laki laki itu menghentikan pergerakan kakinya tepat di belakang Clarissa. Perlahan tangannya menyibak rambut panjang bergelombang Clarissa dan meletakkannya kedepan, lalu mendekatkan wajahnya di tengkuk Clarissa, sambil berbisik, "Katakan padaku, bagaimana caramu akan menggantinya?"

Seketika sekujur bulu roma Clarissa berdiri saat merasakan hangat napas yang keluar dari melalui hidung dan mulut pelanggan muda dengan sejuta pesonanya itu.

Cup!

Ciuman lembut nan basah itu mendarat di leher jenjang Clarissa dari arah belakang, membuat Clarissa menggerakkan sedikit kepalanya karena sensasi geli yang dirasakannya.

'Sial, kenapa aku jadi lemah seperti ini? Sadar Clarissa, sadar. Bukan dia yang harus memulai permainannya, tapi kamu? Kamu harus menjalankan misi seperti biasanya,' batin Clarissa menyadarkan kembali kewarasannya yang nyaris terbuai.

"Katakan, Honey. Cara apa yang akan kamu gunakan, heum?"

Bab 2

Clarissa membalikkan tubuhnya secara tiba tiba hingga membuat keduanya beradu tatap. "I'm Clarissa. Don't call me Baby or Honey." Lalu kembali berbalik badan dan berjalan ke depan.

Tas yang Clarissa bawa dia letakkan di atas meja bundar yang cukup besar yang terisi dua botol red wine dan dua gelas kaca berkaki di sana. Clarissa duduk di atas sofa tunggal yang sebelumnya di tempati oleh pelanggannya yang belum dia ketahui namanya itu.

Sebelah kakinya terangkat untuk ia letakkan di atas paha, menampilkan jenjang paha mulus nan putih bersih yang mampu menggoda iman siapa pun. Rambutnya yang tergerai kedepan, dia rapikan ke belakang membuat seluruh pundaknya terekspos jelas tanpa sehelai benang pun yang mengganggu.

"Ingin minum terlebih dahulu, Tuan muda?" katanya tersenyum tipis. Setipis sehelai tisu.

Laki laki berparas tampan nan rupawan itu memiringkan wajah sambil bersedekap di dada. Sudut alisnya terangkat melihat ekspresi wajah Clarissa yang sulit ditebak. Tidak seperti perempuan perempuan 'panggilan' lainnya yang dengan malu malu akan segera naik ke atas tubuhnya. 'Kenapa dia terlihat begitu tenang? Padahal, sebelumnya dia sangat ketakutan. Apa dia memang sudah menggeluti dunia malam dengan sangat baik?' batin laki laki itu.

Sementara, di ujung sana, Clarissa sedang sibuk menuangkan red wine ke dalam dua gelas itu secara bergantian.

"Apa ini bagian dari permintaan maafmu karena terlambat?" tanya laki laki itu, melangkah mendekati Clarissa.

Clarissa berdiri, tangannya sudah berada di dada sang pelanggan, perlahan bergerak naik dan merapikan ujung bathrobe yang dikenakan laki laki itu, dan matanya tetap tertuju pada netra pekat dihadapannya.

Seakan tak sanggup lagi untuk menahan hasrat didalam dirinya. Laki laki itu langsung menangkup wajah Clarissa dan menciuminya dengan lahap.

Clarisaa nyaris terjatuh jika saja tidak ada sofa di belakangnya yang menjadi sandaran untuknya.

'Berhasil. Akhirnya terpancing juga,' batin Clarissa menyeringai. Terjatuh ke atas sofa memang bagian dari rencananya, meski pun berciuman tidak masuk dalam misinya, tapi Clarissa tetap melakukannya dengan terpaksa demi mencapai tujuan utamanya.

Laki laki itu terlalu sibuk menikmati cumbuannya pada Clarissa, sampai dia tidak mengetahui pergerakan tangan Clarissa yang sedang memasukkan sesuatu ke dalam gelas kaca yang terletak di sampingnya.

Tangan Clarissa langsung mendorong dada laki laki itu hingga tautan kedua bibir mereka terlepas. "Slow down." Menyeka bibir bawahnya yang terasa membengkak. "Masih ada beberapa jam untuk menikmatinya," sambungnya.

Tangan Clarissa beralih mengambil dua gelas yang telah terisi cairan red wine di dalamnya. Lalu memberinya pada laki laki itu.

"Aku suka caramu merayuku," kata laki laki yang di panggil dengan sebutan tuan muda itu, sambil menerima gelas berisi red wine didalamnya.

Keduanya saling bersulang. Tanpa ragu si tuan muda meneguk hingga tandas red wine yang memiliki kadar alkohol cukup tinggi itu.

Sementara Clarissa, diam diam dia memperhatikan wajah pelanggannya yang mulai memerah akibat rasa panas yang menjalar di tubuhnya.

"Cantik," kata laki laki itu mendekatkan wajahnya pada pundak Clarissa. "Apa malam itu jembatan untuk kamu menjadi seperti ini, heum?" Lalu mengecup basah pundak Clarissa. Suaranya sudah terdengar parau akibat kesadaran yang sebentar lagi akan menghilang.

Clarissa terkejut, dia menerka nerka maksud ucapan pelanggan tampannya itu. "Siapa kamu? Malam apa yang kamu maksud?" tanyanya berusaha tenang. Meski pun sebenarnya Clarissa mulai khawatir jika laki laki tersebut adalah mantan pelanggannya yang mulai mencurigai cara kerja dirinya dalam melayani laki laki hidung belang.

Laki laki itu terkekeh pelan, kepalanya menyandar di pundak mulus Clarissa. Sesekali dia mencium leher jenjang Clarissa. "Sudah ku duga, kamu sudah lupa dengan kejadian itu."

Clarissa menoleh ke samping, mendapati laki laki itu yang mulai terpejam dan tubuh yang lunglai. Sebelum dia benar benar tidak sadar, Clarissa ingin memastikan siapa sebenarnya pelanggannya ini.

"Sebutkan namamu, Tuan muda," bisiknya di telinga sang pelanggan dengan suara yang dibuat mendesah, untuk memancing laki laki itu.

"Tidur denganku, sekarang, Honey," katanya seraya menarik tangan Clarissa.

"Katakan dulu namamu. Aku tidak suka berhubungan dengan laki laki yang namanya sendiri tidak aku tahu."

"Arga," katanya dengan tubuh yang nyaris terjatuh di lantai karena reaksi obat tidur yang Clarissa masukkan kedalam gelas red wine milik laki laki itu.

Sambil menahan tubuh laki laki yang bernama Arga itu, Clarissa mencari kembali ingatannya yang tersimpan dalam memori kepalanya.

"Kejadian malam itu?" gumannya dengan bola mata yang memutar. "Arga? Siapa dia sebenarnya?" sambungnya bertanya pada diri sendiri.

Setelah beberapa detik tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, Clarissa segera membawa tubuh Arga mendekat ke atas kasur dengan sedikit menyeret paksa.

"Argh... Berat sekali. Kenapa harus ambruk sebelum sampai ranjang segala. Menambah pekerjaanku saja," gerutunya sambil melepaskan kasar tubuh Arga ke atas ranjang.

Dengan hati hati, Clarissa merapikan tubuh Arga di atas kasur. Melepaskan sepatu yang masih terpasang utuh di kedua telapak kakinya. Di sinilah Clarissa akan melancarkan aksinya. Mulai dari dasi, kemeja hingga celana yang dikenakan Arga, dia tanggalkan semuanya. Menyisakan celana dalam saja. Lalu, Clarissa mengacak acak alas kasur persis seperti habis melakukan kegiatan panas di atasnya.

Clarissa menghentikan pergerakan tangannya ketika matanya tak sengaja melihat jelas wajah Arga dalam jarak yang sangat dekat. Sekali lagi, dia mencoba untuk mengingat kembali sosok Arga yang sepertinya pernah bertemu dengannya.

"Ah, terserah. Aku tidak akan peduli. Siapa pun kamu, yang pasti kita tidak pernah memiliki hubungan apa pun."

Ya, beginilah cara Clarissa dalam menggeluti pekerjaannya yang kotor. Meski pun menjadi 'kupu kupu malam' kelas atas. Nyatanya, selama enam bulan terakhir Clarissa tidak sekali pun berhubungan badan dengan para pelanggannya. Dia terpaksa melakukan ini semua hanya untuk meraup pundi pundi rupiah dan menjatuhkan Eliza, mantan sahabatnya yang telah menjualnya pada pria tua bajingan yang merenggut keperawanannya secara brutal enam bulan yang lalu.

Entah sampai kapan Clarissa akan berhenti dan meninggalkan dunia malam yang kelam ini. Di usianya yang masih sangat muda, Clarissa harus terjerumus pada pekerjaan yang telah merusak martabatnya sebagai seorang perempuan.

Clarissa duduk di tepi ranjang. Merentangkan kedua tangannya ke atas guna merenggangkan otot ototnya. Tak ingin meninggalkan curiga bagi para pengawal Arga, dia harus menunggu setidaknya empat jam lagi sebelum benar benar terbebas dari sana.

Tidak banyak yang Clarissa lakukan di sana. Hanya duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Tak lupa earphone yang terpasang di telinganya. Seperti itu saja selama kurang dari dua jam.

Di saat saat seperti ini, Clarissa akan selalu teringat pada ibunya. Penyesalan akan selalu mampir untuk membuatnya menangis tersedu. Seperti sekarang, Clarissa pergi ke balkon untuk menikmati udara dinginnya malam yang menusuk hingga ketulang.

"Rissa rindu mama," gumamnya seraya meringkuk di sudut pembatas. "Kalau mama tahu Rissa seperti ini, apa mama masih akan menganggap Clarissa anak?"

Hati Clarissa teriris iris saat bayangan wajah ibunya melintas begitu saja, bersamaan dengan kenangan indah masa kecilnya yang begitu bahagia. Di balik sosoknya yang dingin, Clarissa hanyalah seorang perempuan biasa yang mudah menangis dan sensitif jika sudah membahas soal keluarga, terutama ibu.

Hampir satu jam Clarissa duduk di balkon, tak peduli dengan tubuhnya yang mulai membeku, dia nyaris saja tertidur jika suara nada dering ponsel dari dalam kamar tak berbunyi.

Clarissa buru buru mencari asal suara untuk mematikannya, agar Arga tak terganggu dan tersadar dari tidurnya.

Clarissa sedikit mengerutkan dahinya saat nama 'My Soul' tampil di layar kaca ponsel milik Arga yang kini berada di tangannya.

"Cih! Ternyata dia sudah beristri. Dasar pria brengsek. Sudah punya yang free di rumah, masih mau yang berbayar. Astaga, rasanya, ingin sekali aku meludahinya," guman Clarissa menggeram sambil menatap tajam Arga yang masih tertidur pulas dalam keadaan nyaris telanjang.

Baru saja Clarissa ingin meletakkan ponsel itu kembali, sebuah pesan singkat tiba tiba masuk dan muncul di layar utama ponsel milik Arga dan tak sengaja terbaca oleh Clarissa.

[Siapa pun itu, tolong jawab panggilanku. Aku tahu Arga sedang di hotel malam ini. PENTING!]

"Gila sekali orang ini, kuat sekali nyalinya. Sudah tahu suaminya keluar masuk kamar hotel, tapi masih sanggup bertahan." Entah pujian atau cibiran yang Clarissa katakan, yang pasti dia harus mengakui jika pengirim pesan tersebut bermental baja.

Hanya hitungan detik, ponsel kembali berdering. Ragu ragu Clarissa membiarkan deringan tersebut bersuara, sampai akhirnya dia beranikan diri untuk menjawab panggilan tersebut karena ada embel embel 'penting' di penghujung pesan yang tak sengaja dia baca.

"Hallo," kata Clarissa setelah menggeser tombol gagang telpon berwarna hijau di dalam layar ponsel tersebut.

"Dimana Arga?"

Bab 3

"Dimana Arga?" Suara dari dalam ponsel menyambar telinga Clarisa. Nadanya tidak marah, hanya saja, lebih ke arah panik.

Sesaat Clarissa terdiam, sampai suara di seberang sana menginterupsi pendengarannya. "Aku tahu dia sedang tidur denganmu. Berikan ponselnya pada Arga. Aku ingin bicara."

"Dia baru saja tertidur, aku takut membangunkannya," dusta Clarissa seraya menatap Arga dengan seksama.

"Dasar tidak berguna!" Kali ini suaranya meninggi di iringi getaran hebat di dalamnya. Jika Clarissa boleh menebak, perempuan yang tidak dia kenali itu sedang menangis. "Katakan padanya, datang kerumah sakit sekarang juga, kalau menurutnya mama masih penting di bandingkan perempuan perempuan yang dia tiduri."

Sambungan telpon terputus begitu saja dari seberang sana.

Clarissa membanting ponsel itu kembali ke atas nakas. Sedikit kesal karena dirinya yang mendapat tuduhan telah 'ditiduri' oleh Arga.

"Sialan," umpatnya pelan.

Clarissa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah cukup waktunya berada di sana, dia akan kembali ke apartemen untuk beristirahat.

Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar saat tangannya sudah bersiap untuk membukanya. Entah kenapa, Clarissa merasa akan menjadi jahat jika tidak menyampaikan pesan dari perempuan yang dia yakini sebagai istri dari Arga. Apa lagi perempuan itu juga menyuruh Arga untuk datang ke rumah sakit. Itu artinya, ada masalah serius dengan orang tua Arga.

Clarissa memang akan selalu begitu jika sudah membahas sosok seorang ibu. Dia membayangkan apa jadinya dirinya jika berada di posisi istri Arga.

Dengan berat hati, Clarissa memutar langkahnya kembali. Meletakkan kembali tas miliknya di tempat sebelumnya. Mengacak acak rambutnya sedikit, mengambil ponsel milik Arga dan naik ke atas kasur dengan posisi setengah berbaring di sebelah Arga.

'Menjijikkan!' cibirnya dalam hati. 'Kalau bukan mendesak, mana mau aku berposisi seperti ini. Ciih!'

"Tuan muda, Tuan muda," panggilnya pelan seraya memukul menepuk lembut pipi Arga beberapa kali.

"Tuan muda, bangunlah. Orang tuamu sedang berada di rumah sakit." Clarissa masih berusaha untuk menyadarkan Arga yang berada di bawah kendali obat tidur.

Sepertinya akan susah untuk membangunkan laki laki itu. Mengingat, efek yang terkandung dalam obat tidur tersebut sangatlah kuat. Clarissa sendiri sampai tak yakin jika Arga akan bisa bangun dalam hitungan menit.

Sekarang Clarissa mengutuk habis cara kerja obat tidur yang telah dia gunakan itu. Seharusnya jiak dia hanya memasukkan setengah saja, mungkin tidak akan sesusah ini untuk menyadarkan kembali Arga.

"Sial. Terpaksa aku harus gunakan satu satunya cara untuk membangunkannya. Semoga saja berhasil."

Perlahan Clarissa semakin mendekat pada Arga, hingga mengikis jarak yang tersisa antara mereka. Claridsa menarik napas panjang lalu menghelanya perlahan.

Cup!

Dia mencium bibir Arga dengan sebelah tangannya menekan hidung mancung laki laki itu.

Sekian detik tak ada reaksi dari Arga, membuat Clarissa menarik kembali kepalanya ke belakang dan tangannya terlepas dari hidung Arga.

Setelah menghirup oksigen banyak banyak, Clarissa mengulanginya lagi. Kali ini cukup lama, matanya sampai terpejam sendiri karena merasa seperti orang bodoh. Dan tangannya terlepas dari hidung Arga karena tak tega menyiksanya seperti itu.

Tiba tiba saja tubuh Clarissa yang setengah berbaring itu, langsung terjatuh di dada bidang Arga, saat tangan kekar itu melingkar sempurna dipunggungnya.

Mata Clarissa terbuka paksa, dia bahkan terbelalak melihat netra pekat milik Arga sedang mengamatinya. 'Ya Tuhan, sejak kapan dia bangun? Argh! Kacau ini.' Menjerit dalam hati.

Clarissa ingin segera melepaskan diri dari tautan bibir yang terjadi secara terpaksa itu. Sayangnya, Arga justru bergerak cepat merubah posisi keduanya hingga tubuh Clarissa berada di bawah kungkungannya, tanpa melepaskan ciuman panjang yang membuat Arga semakin bergairah.

Merasa akan kehabisan oksigen, Clarissa memukul mukul dada laki laki itu dengan menggelengkan kepalanya, sampai akhirnya Arga memberinya kesempatan untuk menghirup oksigen secara gratis.

Nafas Clarissa terengah-engah, bersamaan dengan detak jantungnya yang memompa berkali kali lipat lebih cepat dari biasanya.

"Apa kamu belum puas, Honey? Katakan, apa aku sangat payah sampai kamu harus mengambil kesempatan disaat aku sedang merasa mengantuk seperti ini?" Suara serak Arga membuat Clarissa ingin segera memaki laki laki itu.

'Ya! Kamu memang payah dan bodoh karena sudah tertipu dengan trik yang aku mainkan,' batin Clarissa mencemooh William.

"Tentu saja aku puas, Tuan muda. Hanya saja ..." Clarissa sengaja menggantungkan ucapannya, membuat Arga menaikkan sudut alisnya karena penasaran.

"Tadi ada panggilan masuk di ponselmu, Tuan muda. Dan aku terpaksa menjawabnya karena sudah dua kali berdering." Clarissa menampilkan wajah penyesalan dan tak berani untuk memandang mata Arga. Padahal, itu semua hanya akting belaka.

"Siapa?" tanya Arga dengan tatapan tak terbaca.

"Sepertinya istrimu, Tuan muda."

"Istriku?"

Clarissa mengangguk samar, lalu kembali menjelaskan pada Arga. "Dia bilang, memintamu untuk segera datang ke rumah sakit kalau mamamu masih penting di bandingkan perempuan yang kamu tiduri."

Segera Arga menyingkir dari hadapan Clarissa, lalu mengambil ponsel miliknya dari tangan Clarissa dan duduk di tepi ranjang.

Jari jari tangannya bergerak menyapu layar ponsel untuk memastikan siapa yang sudah berbicara pada Clarissa.

Matanya membulat sempurna saat membaca isi beberapa pesan singkat masuk di ponselnya. Dengan tergesa Arga mengambil kemeja dan celananya yang teronggok di lantai, lalu memakainya dengan rapi.

"Maaf, aku harus pergi," katanya pada Clarissa dengan wajah yang panik. "Aku akan meminta orangku untuk mengantarmu."

Clarissa turun dari atas kasur, berdiri di tepi ranjang sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu repot, Tuan muda. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula, aku sudah terbiasa," katanya.

Arga mengambil jas kerjanya yang tergantung rapi di tempat khusus dengan buru buru, lalu mengeluarkan segepok uang dari dalamnya.

"Ini untukmu, anggap saja sebagai permintaan maafku karena tidak bisa mengantarmu pulang." Lalu mencium dahi Clarissa. "Jaga dirimu baik baik," sambungnya sebelum pergi dari sana.

Tubuh Clarissa membatu di tempat. Untuk pertama kalinya dia mendapat perlakuan khusus dari laki laki yang berniat akan menikmati tubuhnya saja. Baru kali ini pula Clarissa merasa jika dirinya begitu di hargai sebagai seorang perempuan normal, bukan perempuan 'bayaran' seperti yang di lakukan pelanggannya yang lain.

'Sadar, Rissa. Sikap manisnya hanya untuk menutupi belangnya. Lagi pula, dia itu bajingan. Bisa bisanya meninggalkan istrinya di rumah dan lebih memilih untuk membayar perempuan lain. Cih, menjijikkan.'

Clarissa menyadarkan dirinya sendiri sambil memperhatikan segepok uang pecahan seratus ribu yang berjumlah kurang lebih sepuluh juta. Dan itu dia dapatkan sebagai bonus, di luar tarif yang telah di tetapkan oleh Madam.

"Mission complete," gumannya seraya mengibaskan segepok uang di depan wajahnya. Tak lupa seringai terpahat jelas di sana.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED