‘Mengapa harus aku yang berkorban, mengapa ginjalku yang harus dijadikan pengganti apa yang Ayah dan Kakakku lakukan, tidak adil. Bajingan mereka.’ ucap Dara dalam hati, ia marah, kesal, tapi apa yang bisa ia lakukan selanjutnya selain menjalani sisa hidup dengan satu ginjal yang ada di tubuhnya. Hidupnya tak semulus yang bisa dilihat orang, menjadi anak seseorang yang misterius dari pekerjaan yang dijadikan penopang hidup, membuat wanita dua puluh tahun itu terpaksa ikut berkorban.
Kondisinya belum pulih benar, tapi, ayah dan kakaknya sudah memaksanya untuk ikut ke satu tempat yang nantinya, akan menjadi tempat dirinya tinggal hingga ayah dan kakaknya itu kembali setelah perjalanan bisnis, katanya, yang ada akhirnya disangsikan oleh Dara.
“Pelan-pelan, tangan Kakak menyakiti lenganku.” ucapnya ketus. Pria itu tak peduli, ia terus menyeret Dara setelah mereka tiba di satu rumah besar dengan pilar tinggi bercat putih, luas halamannya saja bisa muat untuk memarkirkan sepuluh mobil, bagaimana dalamnya. Dara berjalan sembari membawa tas pakaiannya. Pintu bercat coklat itu terbuka lebar setelah dibukakan dua pria bertubuh tinggi besar dengan pakaian serba hitam. Dara memindai sekitar saat sudah berada di dalam rumah itu, begitu megah, lukisan mahal, sofa mewah, bahkan guci besar yang ditaksir Dara harganya pasti ratusan juta rupiah, terpajang di sudut ruangan.
“Silakan duduk, saya akan panggilkan Tuan besar,” ucap wanita yang beberapa kali melirik ke Dara yang tampak ketakutan di tangkap oleh matanya. Wanita itu masuk ke dalam rumah, ketiga orang itu duduk. Tak berselang lama, seorang pria bertubuh tinggi besar dengan rambut sudah memutih berjalan menghampiri, tak ada senyuman, bahkan tatapannya dingin, aura kekejaman tampak di wajah itu. Dara gemetar pelan, ia takut.
“Tuan Azyar,” sapa ayah Dara yang hendak berpelukan namun pria bernama Azyar itu mengangkat tangan yang menandakan tak perlu melakukan hal itu. Ia meletakkan satu kertas yang dari bentuknya Dara sudah tau jika itu cek ke atas meja. Ayah Dara segera menerima dan tersenyum.
“Saya percayakan putri saya ke Tuan Azyar, terima kasih atas segalanya, Tuan,” ucap ayah kandung Dara yang membuat kedua mata wanita itu terbelalak.
“A-ayah, apa-apaan? Kakak… Kak… apa maksudnya!” teriak Dara dengan kedua mata berkaca-kaca.
“Diam, Dara. Jangan bikin Ayah dan Kakakmu malu. Turuti kemauan Tuan Azyar, apa pun.” geramnya. Bak disambar petir, Dara begitu lemas, sudah jelas dan pasti jika ia dijual ke pria tua di dekatnya itu. Air mata Dara luruh, ia menarik ujung kemeja yang dikenakan ayahnya sambil terus menatap memohon untuk tidak benar-benar melakukan hal itu.
“Lepas.” Pelotot ayah Dara sambil menepis tangan putrinya. “Kamu tetap di sini, Dara,” lanjut pria itu sambil pamit berlalu. Azyar memanggil wanita yang tadi sempat Dara temui, lalu memerintahkan untuk membawa ke dalam area rumah itu.
“Dara, ayo,” ajak sopan wanita itu. Dara bingung, mengapa nada bicaranya baik, tak kejam, sadis atau ketus. “Ayo, Nak,” lanjut wanita itu. Dara semakin bingung, ia lalu beranjak pelan sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Dara sempat bertemu tatap dengan Azyar yang begitu beraura dingin.
“Jauhkan dari Dastan, Tina. Saya tidak mau Dastan—“
“Baik Tuan, saya paham,” jawab wanita bernama Tina itu.
‘Dastan? Siapa Dastan?’ pikir Dara sambil berjalan bersama Tina semakin ke dalam area rumah itu. Dara dan Azyar masih terus beradu tatap hingga Azyar berjalan ke arah pintu dan berlalu cepat masuk ke dalam mobil. Dara dan Tina menaiki anak tangga berlantai marmer. Dengan lembut, Tina juga menggenggam jemari tangan Dara.
“Pelan-pelan, apa masih terasa efek operasi besar kamu, Dara?” pertanyaan Tina membuat Dara terkesiap. “Sudah, lupakan, yang pasti, ingat apa kata Tuan Azyar tadi, Bibi akan menjauhkanmu dari Dastan sebisa Bibi, walau rasanya susah.” Tina membuka pintu kamar yang berada di sebelah kanan lantai dua rumah itu.
“Dastan? Siapa dia?” tanya Dara sambil berjalan masuk, kamar itu besar, bersih dan wangi. Ada vas bunga berisi mawar merah, Tina tidak menjawab pertanyaan Dara.
“Ini kamar kamu, semoga betah tinggal di sini, ya, panggil Bibi kalau butuh sesuatu.” Tina menggenggam jemari tangan Dara seraya tersenyum.
“Bi… fungsi dan tujuan saya di sini apa?” Wajah Dara tampak khawatir. Bibi menggelengkan kepala. Ia sendiri tidak tau, ia hanya menjalankan perintah Azyar.
“Tuan Azyar baru berangkat ke Hongkong, entah kapan pulangnya. Kalau Dara bosan, Bibi ada di belakang. Dapur atau di pavilion tempat Bibi tinggal. Makan malam jam tujuh, Bibi masak selalu mendadak, karena Dastan maunya makanan baru masak dan malam ini jadwal ia pulang ke rumah setelah dua minggu tidak pulang,” sambung bibi lagi.
Dara mengangguk walau masih butuh jawaban atas pertanyaan siapa Dastan? Tapi ia urung tanyakan lagi ke Tina. Pintu kamar ditutup, Dara duduk perlahan sembari meringis, sejak setibanya di rumah itu, terasa sakit di jahitan bekas operasi pengangkatan satu ginjalnya. Ia membuka tas selempang kecil miliknya, mengambil sebutir obat penghilang rasa sakit yang seharusnya ia sudah minum dua jam lalu. Kedua matanya menangkap air mineral botol tertata di atas kulkas kecil, ia berjalan perlahan dengan tangan memegang luka bekas operasi, dengan cepat ia membuka lalu menenggak air putih itu.
“Arghhh… kenapa sakit banget, ya ampun,” lirihnya sembari meringis, langkah kakinya ia tapaki pelan di lantai marmer dingin itu menuju ke ranjang. Napas Dara berat, ia masih menahan sakit sambil menunggu efek obat bekerja di tubuhnya.
Dalam diamnya, Dara menatap ke arah luar jendela yang menunjukkan pemandangan halaman luas rumah itu. Ia tak tau, akan berapa lama berada di rumah itu dan apa fungsinya, bahkan, sang ayah tak memberi tahukan jawabannya. Hanya helaan napas panjang mewakilkan kegundahan hatinya.
Malam menjelang, Dara sudah selesai membersihkan diri, begitu hati-hati ia mandi karena luka operasi masih tertutup perban yang belum ia lepas jahitannya juga. Dres selutut warna putih dikenakannya dengan perlahan, menghindari luka pada perutnya.
“Bunda, kenapa Ayah nggak biarin Dara ikut Bunda juga? Kenapa harus hidup dengan satu ginjal? Ini menyiksa Dara?” Kedua bahunya merosot saat sedang duduk sambil menyisir rambut hitam panjang miliknya di depan meja rias.
“Dara,” suara Tina memanggil dari luar. Dara beranjak perlahan lalu berjalan ke arah pintu.
“Iya, Bi,” jawabnya setelah pintu terbuka.
“Ayo makan? Bibi sudah selesai masak,” ajaknya. Dara mengangguk, ia berjalan keluar kamar itu bersama Tina, menuruni anak tangga perlahan. Tina melirik sekilas, karena Dara memegang pinggang sebelah kiri. “Apa… sakit?” tanyanya. Dara menoleh cepat.
“Bi Tina, tau kalau saya—“
“Tau. Tuan Azyar bilang. Apa masih sakit, baru satu minggu lalu, kan?” Tina membantu Dara berjalan karena tampaknya begitu tak nyaman. Dara hanya menjawab dengan anggukan. Langkah kaki keduanya tiba di ujung tangga, mendadak suara itu terdengar menggema dengan sosok yang muncul secara mendadak.
“Bi Tina! Apa makan mal—“ ucapannya terhenti. Dastan, ia berjalan masuk dengan tatapan yang bertemu dengan netra Dara yang mendadak tubuhnya gemetar saking takutnya melihat pria itu. “Siapa dia! Papa bawa pelacurnya lagi ke rumah ini!” Tanpa menunggu sabar, Dastan berjalan mendekat lalu menarik tangan Dara kasar, dibawanya ke tengah ruang utama rumah.
“Dastan… jangan kasar-kasar,” ucap Tina pelan. Dastan melisik wajah Dara lalu memindah tubuh wanita itu juga. “Boleh juga kali ini selera tua Bangka itu,” ucapnya di akhirnya senyum licik. Dara membuang pandangan, Dastan pasti tau jika Dara gemetar.
“Siapa nama kamu!” tanya Dastan dengan suara berat dan tatapan tajam.
“D-dara,” jawabnya berbisik. Kedua mata Dara melotot tajam saat tangan Dastan berada di tubuhnya yang tak seharusnya ia letakkan di sana.
“Dastan, jangan,” lirih Tina yang panik. Dastan meremas, hingga membuat Dara terpejam takut dan mencoba melepaskan tangan Dastan dari dua gunung kembar miliknya.
“Kenapa? Kamu pelacurnya Papa, ‘kan? Ssshh… harus dicoba dulu, sebelum tua bangka itu yang main.”
Dara semakin takut, tubuhnya juga gemetar dengan mata terpejam. Lalu dengan santai, Dara di dorong Dastan hingga terjerembab di lantai, Dara meringis, hingga menekuk tubuhnya. Tina menghampiri, ia membantu Dara berdiri, keringat dingin muncul di wajah Dara yang menahan sakit.
“Dastan, panggil dokter, tolong…” pinta Tina. Dastan diam, ia melirik dingin lalu melihat darah merembes dari pakaian yang dikenakan Dara. Dari dapur muncul dua remaja, anak Tina bernama Asri dan Asta.
“Bu,” ucap Arta yang terkejut karena melihat Dara meringis menahan sakit hingga mengerang.
“Dastan!” panggil Tina dengan nada tinggi. Dastan tak acuh, ia berjalan ke arah tangga, untuk menuju ke kamarnya sambil melepaskan jas, menyisakan kemeja putih dengan Holster yang di kanan kirinya terselip dua senjata api.
“Asta, ambil HP Ibu di pavilion. Telepon dokter Samuel, cepat!” perintah Tina. Asri mengambil bantal sofa, lalu merebahkan tubuh Dara. Tina mengambil gunting, dengan cepat merobek dres itu, dan terkejut saat melihat perban sudah berubah warna merah. Dara masih meringis, dan bulir keringat dingin terlihat membasahi keningnya.
Dastan menatap ke arah bawah sebelum membuka pintu kamar. Ia diam, namun terus memperhatikan dari atas pagar pembatas lantai dua. Tina dan Asri sibuk mengambil baskom berisi air dan waslap kecil, Asri juga menutupi pinggang ke bawah Dara yang tak tertutupi apa pun dengan selimut yang ada di lemari penyimpanan dekat gudang belakang. Dara merintih sambil menangis.
‘Pelacur minta dikasihani, bagus aktingnya.’ ucap Dastan dalam hati sambil membuka pintu kamar.
Dara duduk di meja makan bersama Tina, suami serta kedua anaknya bernama Asri dan Arta–mereka kembar–Dara tersenyum sambil memakan kue yang baru selesai dipanggang, bolu pisang. Dari wanginya Dara sudah suka, ditambah saat pertama kali ia mencicipi, senyum langsung mengembang dari bibir merah mudanya.
"Apa kamu suka Dara? Ibuku paling jago bikin kue ini," ucap Asri yang berusia dua tahun lebih muda dari dirinya.
"Suka. Banget. Aku baru pertama kali mencicipi ini, Ibu kamu pintar bikin kuenya, terima kasih, Bi," ucap Dara sopan dengan kepala tertoleh ke arah Tina yang tersenyum menatapnya.
"Iya." jawab Tina. "Asri, siapin bahan makan malam untuk den Dastan, dia bilang malam ini pulang," ujar Tina lagi.
"Iya Bu, Asri ke dapur ya." Asri menuju ke dapur kotor, ia mulai menyiapkan bahan makanan yang akan dimasak Ibunya untuk tuan muda Dastan yang sesekali Tina memanggilnya dengan sapaan 'den'.
"Dastan siapa sebenarnya, Bi?" tanya Dara, ia kembali memasukan sepotong kue ke dalam mulutnya. “Semalam, Dara nggak ingat apa-apa setelah… pingsan,” lanjutnya.
"Oh iya, Bibi lupa ya cerita ke kamu. Pertama-tama, Bibi minta maaf karena semalam, perlakukan den Dastan buruk ke kamu. Beruntung ada Samuel, dokter keluarga sekaligus sahabat den Dastan." Tina menggenggam jemari Dara. "Tuan besar punya anak laki-laki, namanya Dastan, usianya lebih tua dari Dara, dia memang jarang pulang. Kalau pun pulang paling cuma untuk singgah sebentar, nggak tau untuk apa dan hanya di dalam kamar dan kalau mau makan baru ke sini. Dastan anak tunggal, tapi tidak dimanja oleh tuan Azyar. Justru mereka kurang akur."
"Kerjanya apa, Bi? Sampai sibuk seperti itu," tanya Dara kemudian meneguk air lemon buatan Asri. Tina diam, ia bingung harus menjawab apa, lalu beranjak dan menuju ke dapur kotor, sedangkan Dara juga tak mau memaksa Tina memberikan jawaban. Inti dari perkataan Tina adalah ‘Dastan berbahaya’.
Malam tiba, Dara sedang duduk di sofa ruang TV, tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan di sana bahkan, saat ia ingin membantu Tina mengerjakan pekerjaan rumah, tak diperbolehkan. Beberapa kali ia mendengkus, terasa bosan. Tangannya mengusap perut yang masih dililit perban besar, ia tak merasakan sakit yang teramat sangat perih, setelah Tina memberikan obat yang diresepkan Samuel.
Suara pintu terbuka terdengar, Dara melihat ke jam berdiri berukuran besar yang diperkirakan Dara, terbuat dari kayu mahal, menunjukkan angka delapan. Ia menoleh saat derap langkah tegap pria itu berjalan masuk ke dalam rumah. Ia menatap tajam, sorot mata mematikan itu tak kuasa membuat Dara terus menatap, ia dengan cepat memalingkan muka.
“Bi Tina!” teriak Dastan. “Kenapa pelacur ini masih di sini!” lanjutnya. Tina berjalan dari arah belakang.
“Den Dastan, itu tidak sopan. Jaga ucapan kamu,” tegur Tina sembari mengambil jas yang dilemma sembarangan oleh Dastan.
“Saya tidak mau ada dia di sini. Bisa hilang selera makan saya!” masih membentak dengan nada tinggi. Dastan lalu menatap lekat Dara yang masih memalingkan wajah. Dara yang sadar diri, ia beranjak. Namun tangannya dicekal cepat Dastan. Ia membuat Dara menghadap ke wajahnya. “Kamu pikir, akan mudah tinggal di sini, mulai malam ini, jangan keluar kamar sebelum saya selesai makan atau pergi dari sini. Terserah kamu mau kelaparan atau kehausan. Sekali kamu keluar kamar–” Dastan mengeluarkan glock dari sarung senjata yang melingkar di pinggangnya. Ia todongkan ke leher Dara yang panik lalu kedua matanya sudah berkaca-kaca. “Peluru ini akan mudah bersarang di kepala kamu. Murahan.” Ia menghina Dara, sedetik kemudian mendorong tubuh mungil Dara hingga tersungkur. Dara meringis, ia memegang perutnya. Tak banyak kata, ia beranjak, berjalan ke arah kamarnya di lantai dua. Sementara Dastan berjalan ke meja makan setelah meletakkan pistol di atas meja, melinting lengan kemeja putih pres badan yang ia kenakan hingga ke siku, kemudian duduk di kursi meja makan dengan Tina yang sudah menyiapkan makanan untuknya.
“Den Dastan, jangan kasar sama wanita di rumah ini, apa den Dastan lupa?” lirik Tina. Dastan tak acuh, ia menikmati masakan Tina yang sesuai dengan seleranya. “Den Samuel bilang, kalau luka jahitan bekas operasi Dara, bisa terbuka kalau–”
Dastan melirik tajam ke Tina. “Samuel mau merawat Dara maksud Bibi? Ck, bagus lah. Suruh Samuel bawa gadis itu pergi dari rumah ini. pengganggu. “
“Bukan, den Samuel bilang, kalau tim dokter yang mengoperasi Dara, tidak benar menjahit lukanya, malah den Samuel mau melakukan pemeriksaan lebih lanjut, takut ada infeksi dan–” Tina menghentikan ucapannya. Dastan menoleh, menunggu kelanjutan kalimat Tina. “Mau periksa apa ginjal satunya berfungsi baik. Manusia yang hidup dengan satu ginjal itu harus berkali-kali lipat menjaga kesehatannya. Tidak peduli kal–”
“Bi. Saya tidak peduli. Mau dia nggak punya jantung, atau mata sekali pun. Pelacur tetaplah pelacur. Papa tolol banget punya pelacur sakit-sakitan,” gumamnya. Tina menghela napas, susah berbicara dengan Dastan.
Selesai makan, Dastan berjalan ke kamarnya, ia ingin segera mandi karena hari itu, begitu lelah menjalankan pekerjaannya. Memantau dan melakukan hal kotor yang baginya, bukan jadi pilihan, tapi memang ia ingin lakukan. Air shower mengucur deras, membasahi kepala hingga ujung kakinya. Dastan mendongak, teringat bagaimana ia beberapa jam lalu baru menghabisi orang-orang yang mengusik kegiatan bisnis ilegalnya. Tangan Dastan terangkat, ia bersihkan dengan air juga sabun, ada sedikit bercak darah setelah ia menusuk dua orang tanpa ampun di tempat persembunyiannya. Di mana pun kita berada, akan selalu ada mafia yang berkamuflase menjadi siapa saja. Pun Dastan bersama timnya. Ia dijuluki The Black Wings, manusia tanpa rasa takut dengan nyawa banyak. Sayap hitamnya jika sudah mengembang, mampu membuat semua musuhnya bertekuk lutut.
Dastan berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang hingga lutut, dan tangannya yang mengusak rambutnya yang setengah kering dengan handuk kecil kemudian ia lempar handuk kecil ke sembarang arah. Tangannya mengambil sebatang rokok juga pemantik, ia membakar rokok kemudian dihisapnya dalam. Asap tebal mengepul ke udara dari bibir merah dengan bagian bawah yang tebal. Jemari tangan kirinya menekan satu tombol di kibor komputer, serentak lima layar komputer menyala. Dastan mengambil celana boxer, setelahnya kembali duduk di kursi kebanggannya, tanpa mengenakan kaos. Jemarinya mengetik beberapa huruf dengan rokok terselip di sudut bibirnya. Senyum smirk, muncul saat ia bisa melihat target yang sedang ia incar.
Dastan melakukan sambungan telepon kepada salah satu anak buahnya yang bertugas di lapangan, jemarinya menyentil ujung rokok supaya abu jatuh ke asbak terbuat dari kaca di sebelah kirinya. “Hm. Sudah kalian pantau, kamar nomor berapa?” tanya Dastan sambil bicara dengan earphone wireless yang terpasang di telinga kanan.
“Sudah. Saya akan kirim nomor kamar dia. Dan, maau tuan Dastan, apa anda yakin akan menghabisi dia?” terdengar ragu anak buah Dastan. Mendadak aura Dastan berubah menjadi penuh amarah.
“Apa kamu yang mau saya habisi. Mudah bagi saya untuk melakukannya.”
Tak ada kata-kata lain selain ‘maaf’ yang terucap dari anak buahnya. Dastan melanjutkan bicara, jika ia meminta anak buah lainnya, menjaga di pelabuhan, barang yang diselundupkan Dastan, harus lolos masuk tanpa di tahan.
“Baik, Tuan,” jawab pria di seberang. Dastan melempar sembarangan earphone wireless itu, dihisapnya rokok begitu dalam, asap kembali terbang tinggi setelah ia hembuskan.
Pintu kamarnya terbuka, Dastan sudah siap dengan tangan yang memegang senjata di bawah meja kerjanya. Samuel, sahabat yang juga seorang dokter bedah, masuk perlahan ke dalam kamar yang juga ruang kerja Dastan. “Orang gila! Lo dorong lagi Dara! Luka dia terbuka lagi. Tolol!” maki Samuel sambil mengeplak kepala Dastan.
“Setan! Lo urus sana! Ngapain lo masuk ke sini!” Dastan beranjak, ia menendang tukai Samuel.
“Iya. Gue mau bawa ke rumah sakit. Dia harus dibedah ulang. Gue udah telepon Ayah Azyar. Dia setuju dan minta Dara jauh dari lo. Dia manusia, Das, perempuan. Lo bajingan, tapi lihat-lihat siapa yang lo sakiti.” Samuel terus sewot. Dastan tak peduli. Ia kembali duduk di kursi, lalu kembali memantau ‘mangsa’.
“Igo dan Marlon mau ke sini. Ajak kita berdua ke tempat lo,” lanjut Samuel.
“Tempat yang mana. Klub yang legal atau ilegal.” lirik Dastan sombong.
“Lo tau Igo, dia mau yang mana, kan?!” sinis Samuel.
“Okey. Gue siapin ruangannya. Muel…,” panggil Dastan.
“Hm.” Samuel masih bersedekap sambil berdiri di dekat kursi yang diduduki Dastan, kedua matanya juga memantau apa yang Dastan lihat.
“Gue butuh obat itu. Besok gue mau keluar kota, ada misi di sana dan–”
“Das. udah lah, cukup lo ada dunia gelap kayak gini. Bokap lo udah capek lihat lo ada di hidup kayak gini,” keluh Samuel.
“Nggak. Lo udah tau apa alasan gue, kan? Buat apa gue berhenti kalau emang kematian terus ada disekeliling gue. Ayah juga nggak peduli gue mau hidup atau nggak, kan?” jawab Dastan tanpa memalingkan wajah dari layar komputer yang menampilkan banyak gambar.
“Bokap lo aja udah berhenti lama dari dunia kayak gini, Das. Belasan tahun, semenjak–” Samuel menghentikan kalimatnya. Ia tak tega melanjutkan lagi. “Intinya, kita semua peduli sama nyawa lo meskipun lo sendiri nggak sayang sama nyawa lo. Gue pamit, mau bawa Dara ke rumah sakit. Dan… tolong, ke begoan lo nyakitin perempuan, jangan lo lampiaskan ke cewek sakit kayak Dara. Lo bebas main cewek di mana-mana, tapi di rumah ini, udah jelas peraturannya, ‘kan? Gue bakal ingetin lo terus kalau lo lupa. Atau, Igo yang bakal ingetin lo.” ancam Samuel. Dastan tak menjawab, ia diam seribu bahasa. Samuel berjalan keluar kamar, Dastan menghela napas, tangan kanannya meraba tiap bekas luka yang ada di tubuhnya, termasuk bekas luka di lengan kiri, melintang hingga ke punggung kiri. Ia memejamkan kedua matanya, mengingat tragedi itu yang membuatnya, mengawali semuanya menjadi Dastan sang penguasa kegelapan dunia bawah tanah.
Dara tak berani keluar kamar, ia ingat pesan Dastan. Sayup-sayup ia mendengar suara Dastan berbicara entah dengan siapa. Perut Dara lapar, ia juga belum minum obat. Setelah tiga hari kembali di rawat oleh Samuel di rumah sakit tempat ia bekerja, Dara diminta kembali pulang ke rumah Azyar karena Dara sudah 'Ia beli', padahal Samuel sudah membujuk supaya Dara tinggal di apartemennya saja.
Perlahan Dara membuka pintu kamar, masa bodoh dengan ancaman Dastan, ia tak kuat, perutnya perih. Suasana rumah temaram, hanya lampu dapur yang tampak menyala terang. Dara melihat sekitar, Dastan tak nampak. Ia mengelus dada mengucap syukur. Langkah kakinya menuruni tangga perlahan, lantai marmer terasa dingin di telapaknya, namun ia abaikan.
Dara celingukan setelah tiba di dapur, membuka lemari penyimpan makanan, ia melihat mie instan. Senyumnya merekah, lama sudah ia tak menikmati makanan itu. Dalam hati ia berdoa, supaya tak masalah dengan kesehatannya setelah makan mie.
Tangannya meraih panci kecil, mengisi dengan air lalu nyalakan kompor. Tak sampai lima menit, ia sudah duduk dengan semangkuk mie rebus dengan telur yang siap disantap. Rasanya ia begitu bahagia, asap mengepul dari mangkok, ia meniup pelan, lalu mulai menikmati makan malamnya di jam satu malam.
Tak henti senyum mengembang dari wajahnya, rambut panjang sebahu, ia kuncir jadi satu ke atas, membuat wajah yang penuh peluh karena efek menikmati mie kuah hangat, justru memancarkan aura cantik yang membuat Dastan diam terpaku.
Sejak awal ia memantau Dara dari depan kamarnya, karena gelap, Dara tak bisa melihat Dastan, apalagi saat itu Dastan memang bersembunyi saat suara pintu kamar Dara terbuka. Dari depan kamar Dastan, juga mengarah lurus ke dapur, jadi ia bisa melihat dengan jelas.
Dastan mengendap-ngendap, begitu pelan tanpa suara membuka pintu rahasia di dalam rumah itu yang ada di balik rak buku dekat kamarnya. Tiba di dalam, ia menyalakan lampu. Kedua mata elangnya memindai, senjata mana yang akan ia gunakan untuk aksinya malam itu. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis, ia meraih dua buah belati yang diselipkan pada pinggangnya, dan satu buah Glock andalan dengan ukiran namanya di senjata itu.
Dastan menggeser posisi ke arah lemari pakaian, ia meraih jaket kulit warna hitam, topi, dan sarung tangan kulit warna hitam. Ponselnya bergetar pada saku celana, ia merogohnya.
"Das, di mana? Igo udah ngajak jalan sekarang, nih?" tanya Marlon begitu heboh.
"Kalian duluan, setelah selesai, gue langsung ke sana." Dastan segera bersiap, ia keluar dari ruangan itu setelah memantau keadaan dari layar CCTV, Dara masih menikmati makan malamnya.
"Lo mau apa, Das!" tanya Igo sambil berteriak.
"Ada klien, gue harus bersihin sesuai permintaan dia." Dastan lalu berjalan dengan santai menuruni anak tangga sambil menyudahi bicara dengan Marlon. Dara terkejut, ia diam mematung, takut jika Dastan kembali berbuat kasar padanya. Debaran jantung Dara tak karuan, telapak tangannya dingin, juga berkeringat.
Dastan berjalan ke arah kulkas, mengambil satu kaleng bir dingin lalu dengan cepat meneguk hingga tandas. Ia meletakkan kaleng kosong itu di dekat mangkok mie instan yang Dara makan.
"Di rumah ini, nggak ada yang gratis." Tangan Dastan mencengkram rahang Dara, mata mereka saling bertemu, tajamnya sorot mata Dastan membuat Dara menatap ke arah lain. Dastan melepaskan dengan kasar wajah Dara hingga kepala belakangnya terbentur sandaran kursi cukup keras. Ia berdesis menahan nyeri. Dastan berjalan dengan angkuh ke arah pintu keluar dari rumah megah itu. Anak buahnya sudah menyiapkan kendaraan yang akan digunakan Dastan melancarkan misinya.
Dara mengatur napasnya sambil memejamkan mata. Ia beranjak cepat, mencuci mangkok bekas ia makan, membuang kaleng bir bekas Dastan lalu berjalan kembali ke kamar sambil membawa satu botol air mineral, ia harus minum obat karena sudah lewat dari waktu yang ditentukan Samuel.
***
"Argh! Bangsat!" teriak pria yang sudah duduk terikat di kursi. Dastan duduk di hadapan pria itu dengan santai tapi tatapannya menghunus tajam ke arah target yang kliennya minta untuk Dastan singkirkan.
"Lepasin!" teriaknya. Dastan tertawa sinis. Ia tak banyak bicara, tangannya sudah memegang glock, namun kali ini ia menambahkan peredam suara.
"Nyawa itu mahal. Yang mati, tidak akan bisa hidup lagi. Yang pergi selamanya, tidak akan kembali lagi." Dastan menodongkan pistol tepat ke arah dada pria yang mulai panik. Ia memohon Dastan melepaskannya. Bahkan akan membayar lebih dari klien yang meminta pria itu mati. Sudut bibir Dastan terangkat tipis, tak ada senyuman hangat. "Siapa yang menyuruh anda menyelundupkan kokain itu. Apa anda tau, klien saya bukan orang sembarangan. Kokain itu ... yang anda selundupkan, sudah membuat anggota klien saya mati. Dan... ya... saya hanya mewakilkan klien saya membalaskan dendamnya. Jangan pernah bermain kotor sendirian, apalagi sampai membuat orang lain tidak bersalah, menjadi korban. Ini ... hukumannya." Tanpa hitungan mundur, Dastan yang juga seorang pembunuh bayaran, menghabisi pria itu tepat di depan matanya. Darah keluar dari mulut korban, Dastan beranjak. Ia merapikan senjata, kemudian ia masukkan ke dalam tas hitam yang ia bawa. Dua anak buahnya diperintahkan mengabadikan mayat itu lalu kirim ke klien sebagai bukti.
Dastan sudah berada di balik kemudi, ia melepas topi, sarung tangan, juga jaket kulit yang dikenakannya. Ia lembar ke jok belakang secara sembarang. Tangan kiri merapikan rambutnya, kaki kanan menginjak pedal gas begitu dalam, jam sudah menunjukkan di angka tiga dini hari. Mobil sedan mewah itu melesat cepat menuju ke klub malam miliknya.
Tiba di sana, Dastan berjalan angkuh masuk ke dalam klub. Dentuman suara musik yang dimainkan DJ terkenal, membuat semarak pengunjung klub yang seolah lupa waktu. Ia tersenyum tipis saat melihat tiga sahabatnya duduk di tempat khusus yang sudah dipesan.
"Dastan!" sapa Igo sambil beranjak. Ia memeluk erat Dastan yang tinggi tubuhnya hampir sejajar dengannya.
"Popeye balik juga," balas Dastan. Mereka melepaskan pelukan. Lalu duduk berhadapan dengan meja kecil bulat sebagai pemisah.
"Lo habis ngapain," tanya Samuel sambil menyesap minuman dengan kadar alkohol rendah. Ia tak kuat minum, beda dengan Dastan dan Marlon, bahkan Igo, ia bersih, tak akan mau minum alkohol.
"Ada bisnis," jawab Dastan kemudian meneguk minuman pesanannya. "Kalian masih lama, kan? Gue minta waktu satu jam." Dastan beranjak. Igo yang curiga, segera menarik kerah kaos yang dikenakan Dastan.
"Lo main cewek di depan mata gue. Gue seret lo keluar dari tempat lo ini. Gue bikin malu sampai ke akar-akar." tegur Igo dengan tatapan serius. Samuel dan Marlon hanya bisa tertawa. Dastan di singa liar, akan ciut hanya dengan gertakan Igo sang serigala Alpha pemimpin pasukan.
"Ck. Gue butuh, Go," rengek Dastan.
"Nggak lo lakuin selama gue lagi balik di darat." pelototnya. Dastan kembali duduk, ia menghela napas panjang. Tak lama tiga anak buah Dastan yang bekerja di klub itu, menghampiri.
"Ada apa?" Dastan kembali beranjak.
"Tuan. Anak buah Steve, berulah di sini. Mereka sudah kami usir dan sekarang, transaksi di area belakang klub ini, tuan." Laporan itu sontak membuat mereka berempat saling menatap kompak.
"Cari mati." gumam Dastan sambil berjalan lebih dulu. Disusul Samuel, Marlon, terakhir Igo berjalan paling belakang. Tangan masing-masing dari mereka sudah berada pada gagang senjata yang selalu mereka bawa dipinggang.
"Das, inget peraturannya." Suara berat Igo terdengar bagai perintah, bukan peringatan.
"Yeah," jawab Dastan sambil membuka pintu belakang klub. Marlon mengunci dari luar. Keempatnya sudah berdiri bersisian dengan tangan terangkat serempak, menodongkan senjata masing-masing ke arah anak buah Steve.
"Dastan! Long time no, see!" teriak pria plontos dengan pakaian serba hitam sambil mengangkat tangan ke udara, menunjukkan bungkusan narkotika di tangan. Mata Samuel mengarah ke CCTV yang sudah dimatikan anak buah Dastan lainnya.
"Shut up ...." Dastan bicara sambil tertawa remeh. Lalu, keempatnya segera menembakkan peluru ke arah tangan juga kaki dua anak buah Steve yang sedang transaksi dengan tiga konsumen yang bukan pengunjung klub. Erangan terdengar kencang, darah bersimbah. Dastan melangkah mendekat, berjongkok pada pria plontos itu, lalu menodongkan senjata ke arah dagu. "Bilang sama Steve..., jangan bawa sampah ke tempat gue, dan... transaksi di tempat gue. Atau... gue bersihin sampah yang dia kirim sampai tidak ter-si-sa." ancam Dastan. Ia beranjak, berjalan ke arah tiga sahabatnya, lalu Igo memerintahkan anak buah Dastan membawa lima orang yang baru saja mereka lukai ke markas Steve, sementara ia, Dastan, Samuel dan Marlon, kembali masuk ke dalam klub.
***
Di dalam kamar, Dastan menghisap rokok yang sudah dua batang ia bakar. Tangan kanannya memegang ponsel yang menempel di telinga. "Saya tidak mau tau, kalau besok orang itu masih tidak mau mengaku, saya yang turun tangan. Jangan seperti baru pertama kali kalian semua main seperti ini. Buat dia mengaku sebelum saya yang bertindak!" ucap Dastan sambil meletakan ponselnya kasar ke atas meja kerja di kamarnya. "lubang semut juga bisa gue temuin,” gumamnya lalu tertawa pelan sambil mulai kembali mencari mangsanya, kedua mata memantau lima layar monitor bersamaan. Ia bekerja di kamarnya seorang diri. Kecerdasannya dalam urusan IT tidak diragukan. Memecahkan kode-kode rahasia, sudah jajanan recehnya, menemukan orang yang hilang tanpa sebab atau menghilang karena sengaja, ia bisa temukan. Ia semacam eagle eye dengan sayap hitam yang keji jika sudah menemukan mangsanya. Sebuah misi selesai, maka kliennya tak segan-segan membayar mahal untuk usahanya itu.
Dastan mematikan puntung rokok. Ia beranjak dengan tubuh bagian atas sudah ia tanggalkan pakaiannya, hanya menyisakan celana panjang. Tubuh atletisnya ia dapat karena mendalami bela diri Judo, taekwondo, tinju, dan menembak. Itu semua ia lakukan selain untuk pekerjaan, untuk dirinya sendiri yang di luar sana tak sedikit musuh yang menginginkan dirinya mati.
"Wanita simpanan Papa masih di kamarnya, ‘kan?" tanya Dastan saat makan siang ditemani Arta dan Asri yang duduk diam di dekat Dastan–satu meja makan.
"Iya, den," jawab Tina.
"Oh." Dastan lalu makan dengan sayur serta lauk yang disiapkan Tina.
"Asri, Arta, kalian nggak makan?" tanya Dastan pelan.
"Udah, den, tadi bareng sama Kak Da—"
"Jangan sebut perempuan simpanan Papa itu di sini. Tua Bangka, simpan perempuan bayaran di sini. Bodoh." ucap Dastan asal. Asri dan Arta menatap ke arah ibunya yang mengkode kedua anaknya untuk diam saja, tidak menyanggah ucapan Dastan.
"Sampai kapan perempuan simpanan itu di sini, Bi." Dastan minum air putih di gelas yang sudah disiapkan Tina.
"Belum tau, den," jawab Tina.
"Oh." jawab Dastan singkat lagi. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu, lalu tidak lama memperlihatkan ke Asri dan Arta.
"Uang jajan buat kalian. Beli baju baru sana. Saya nggak mau besok lihat kalian pake baju model kuno kayak gini. Bilang kalo kurang." ucap Dastan sambil menunjuk pakaian saudara kembar itu, lalu beranjak, berjalan meninggalkan area meja makan. "Makasih udah temenin saya makan walau kalian diam kayak manekin. Itu uang jajan hadiah dari saya." sambung Dastan sebelum lanjut berjalan menuju ke kamarnya.
"Berapa yang dikasih sama Dastan lagi?" tanya Tina ke kedua anak kembarnya.
"Sepuluh juta, Bu," jawab Arta. Tina menggeleng heran.
"Kalau kalian nggak habisin uang itu, disimpan saja. Takut suatu saat dibutuhkan, entah sama siapa. Beli baju besok, di tempat yang biasa Dastan kasih tau," ucap Tina sambil membereskan piring bekas makan Dastan.
"Iya, Bu," jawab keduanya kompak.
Sementara itu, di dalam kamar Dara, gadis itu meringkuk, di dalam selimutnya. Mencoba memejamkan mata, karena efek obat yang ia minum membuatnya mengantuk, namun ia mendengar suara erangan dan makian dari kamar Dastan. Dara terus mendengarkan hingga perlahan suara itu tak terdengar lagi.
“Apa yang terjadi sama kamu, Dastan, apa hidupnya kacau? Sama sepertiku?” gumamnya lalu tak lama ia terlelap.