Bab 2

"Bukankah sudah kukatakan untuk berhati-hati, tugasmu untuk menangkap George bukan untuk membunuhnya. Mencari bukti untuk menjeratnya!" kesal Kolonel Radit. Ia datang untuk membebaskannya. Mereka berjalan keluar drai kantor polisi.

"Kita sudah mendapatkan buktinya, barang-barang itu ada di sana!" sahut Danny enteng.

"Ya, dan kau selamat karena itu. Kau tahu siapa dia kan, ayahnya adalah salah satu pejabat tinggi di Negara ini, itu sebabnya kau tidak boleh membunuhnya!" sahut Kolonel Radit menjelaskan kembali.

Danny hanya diam saja berjalan menuju sebuah mobil. "Kau beruntung, karena jasamu dan juga bukti-bukti itu kau hanya mendapat blacklist dari Negara ini. Seharusnya kau bisa saja dihukum mati atau dipenjara seumur hidup!" seru Kolonel Radit seraya membuka pintu mobil, dan menghempaskan diri di balik kemudi. Danny juga melakukan hal yang sama, ia menaruh dirinya di samping pria itu.

"Aku tak berharap bisa kembali ke sini!" jawabnya datar. Kolonel Radit menatapnya sejenak lalu mulai menyalakan mesin mobil seraya menggeleng.

Danny menatap lurus ke depan, kembali mengingat setiap detail kata yang diucapkan oleh George. Sebenarnya ia juga tak berniat membunuh bajingan kecil itu, tapi ucapan pria itu tentang ayahnya membuatnya tak mampu menguasai amarah. Ia memejamkan mata, sebuah bayangan muncul di benaknya.

Wajah ayahnya!

Melihat raut ayahnya ia memang ragu jika ayahnya bunuh diri. Tapi semua bukti yang ditemukan di tempat kejadian, tak ada apa pun yang mengarah ke sebuah pembunuhan. Peluru yang menembus pelipisnya adalah peluru dari pistolnya sendiri, dan dari letaknya, memang seperti bunuh diri. Tak ada sidik jari orang lain, selain sidik jari ayahnya.

Kolonel Radit melirik pemuda di sisinya yang terlihat tengah mengingat sesuatu sambil memejamkan mata. Tapi ia tak bertanya.

Jakarta, Indonesia

Danny sedang menggosok gigi ketika seseorang menekan bel apartemennya. Ia menoleh, lalu melanjutkan kegiatannya. Sialnya, suara bel kembali mengganggunya. Ia pun keluar dari kamar mandi untuk membuka pintu, sikat gigi masih di tangannya dan mulutnya masih berbusa oleh pasta gigi. Ia berjalan sambil mengencangkan handuk yang melilit pinggangnya, ketika pintu terbuka ia terdiam melihat sosok yang berdiri di depan pintunya dengan senyum yang mengembang.

"Karen!" desisnya.

"Hai!" sapa gadis itu lalu mengecup pipinya, Danny masih mematung ketika gadis itu melewatinya menerobos masuk meninggalkan kedua bodyguardnya bersiaga di depan pintu. Danny segera menutup pintunya dan berjalan ke arah kamar mandi lagi.

"Kau sudah pulang tapi tidak meneleponku?" protesnya.

"Maaf, aku terlalu lelah. Jadi aku lupa!" jawabnya.

"Selalu itu yang jadi alasanmu!"

Karen adalah putri tunggal Menteri Pertahanan, Jendral Purnawirawan Albert Johannes Martin. Ia sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Danny dan bermimpi menjadi istrinya, pada kenyataannya Danny memang tak pernah lama menjalin hubungan dengan wanita sebelum dengan dirinya.

"Kau tahu aku tidak pergi untuk berlibur kan?" jawab Danny lalu melanjutkan menggosok giginya, Karen menyusulnya ke kamar mandi. Berdiri bersandar bingkai pintu. "Aku sudah dengar apa yang terjadi di sana!"

"Sepertinya beritanya cepat menyebar ya?" sahut Danny di sela-sela kegiatannya.

"Kau tahu, kau sudah seperti selebriti di media!" keluh Karen. Danny mengeluarkan tawa kecil seraya mencuci sikat giginya lalu menaruhnya di tempatnya. Berkumur dan mencuci mukanya, Karen memperhatikannya. Menatap punggungnya yang kekar, kulitnya yang berwarna coklat maskulin meski ada beberapa bekas luka di sana tapi itu tak mengurangi daya pikatnya. Perlahan Karen mendekat dan menyentuh punggungnya tapi seketika Danny menoleh menangkap tangannya seraya berdesis. "Karen!"

"Memangnya kau tak merindukan aku?" bisik Karen meletakan telapak tangannya di dada Danny yang keras.

"Ehhh ... aku sedang terburu-buru, sebaiknya kau menunggu di luar. Ok!" sahut Danny seraya membalikkan tubuh Karen dan mendorongnya lembut keluar kamar mandi, lalu dengan segera ia menutup pintu dan menguncinya sebelum Karen sempat berbalik dan protes. Danny terdiam sejenak di balik pintu karena ia tahu Karen masih berdiri di sana, setelah ia mendengar langkah kaki gadis itu meninggalkan kamar mandi ia pun mulai mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sementara Karen mengobrak-abrik dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa di sulapnya menjadi sarapan pagi. Tapi sayangnya tak ada apa pun di sana kecuali beberapa buah dan minuman di dalam lemari es. Tentu saja, Danny tinggal sendiri jadi ia tak mungkin memasak kan! Apalagi dengan profesinya.

Danny keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, ia memperhatikan Karen yang sedang terlihat bingung di dapurnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya membuat Karen menoleh. Gadis itu terpaku, bukan karena kaget oleh sapaan Danny tapi karena terkesima melihat kekasihnya yang selalu terlihat memesona itu.

"Kau sedang apa di dapurku?" tanya Danny sekali lagi membuat Karen tersentak.

"Eh, eee ... aku ... sedang mencoba memasak untukmu. Tapi tak ada yang bisa aku masak untuk sarapan, sepertinya lain kali aku harus membawa bahan makanan sendiri!"

Danny terlihat heran mendengar jawaban gadis itu. "Sejak kapan kau bisa memasak, setahuku kau bahkan tak pernah menyentuh dapur?" tanyanya setengah menyindir.

"Selama kau di Swiss aku belajar memasak dari Bibi'. Bahkan aku juga sudah bisa menyetrika baju loh!" sahut Karen menyatukan kedua tangannya di bawah dagu bagian kanan dengan ekspresi pamer.

"Tidak perlu, aku sudah cukup terlambat, sebaiknya kau pulang!" tolak Danny dengan nada dingin.

Karen malah memasang wajah masam dan kecewa, ia sedikit menundukkan kepalanya. "Aku kan hanya ingin menyenangkanmu!"

Danny melihat kekecewaan itu dari nada suaranya, lalu ia melangkah mendekatinya. Menyekop wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya yang kekar. "Bukannya aku tidak mau, aku senang kau mau melakukannya untukku. Tapi hari ini aku benar-benar terburu-buru, begini saja... bagaimana kalau nanti malam kita dinner di luar. Aku akan menjemputmu jam 7, ok!"

Karen langsung tersenyum. "Benarkah?" tanyanya meyakinkan. Danny mengangguk. "Ok, tapi jangan terlambat. Awas ya kalau terlambat!" ancamnya.

Danny tersenyum. "Tidak akan!" janjinya. Mereka keluar bersama dari gedung itu tapi memasuki mobil masing-masing, Danny segera meluncur ke Departemen.

Di sebuah ruangan Danny termenung, ia kembali teringat percakapannya dengan George sewaktu di Swiss tentang ayahnya. Selama ini nuraninya memang menyangkal kalau ayahnya melakukan semua kejahatan itu, ia kenal siapa ayahnya, ayahnya yang menjadikannya seperti sekarang. Karena asyik memikirkan hal itu ia sampai tidak sadar kalau Frans sudah ada di hadapannya.

Melihat sahabatnya melamun Frans menjentikkan jarinya di depan Danny, membuatnya terjaga.

"Kau baik-baik saja, kawan?" tanyanya seraya duduk di kursi di depan Danny.

"Tidak, aku tidak yakin kalau sekarang aku baik-baik saja!" sahutnya.

"Bisa kulihat, tapi aku maklum kau baru saja menyelesaikan tugas berat. Mungkin otakmu butuh sedikit dibersihkan!" cibirnya.

Danny merengut kesal, "Kau pikir aku gila!"

Frans tertawa sejenak. "Apa yang mengganggumu?"

Danny menatap sahabatnya. "Frans, aku butuh bicara denganmu di luar. Penting!" tegasnya memaksa.

"Apa!" seru Frans membuat beberapa orang menatap mereka. Tapi baik Danny mau pun Frans tak terlalu memedulikan itu.

"Itu yang dikatakan George padaku, dari awal aku selalu percaya ayahku tidak bersalah!" sahutnya.

Mereka duduk di kedai kopi tak jauh dari Kementerian Pertahanan, menikmati secangkir kopi hitam.

"Aku juga berpikiran sama, ayahmu adalah orang yang baik. Rasanya memang sulit dipercaya dengan semua tuduhan itu. Mungkin memang benar ayahmu hanyalah korban!" tukas Frans memainkan jarinya di cangkir yang ia pegang.

"Tapi siapa yang melakukannya, dan kenapa ayahku?" heran Danny.

"Ayahmu adalah seorang hakim tinggi, dia sangat berpengaruh dalam segala bidang di pengadilan. Terutama kriminalitas, mungkin saja ... ayahmu mengetahui sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui!" Frans menyesap minumannya.

Danny membulatkan matanya, menatap sahabatnya dalam. Kenapa ia tak berpikir sampai ke sana?

"Kau benar, kenapa aku bodoh sekali. Frans, sepertinya aku akan membutuhkan banyak bantuanmu!"

"Anytime!" sahut Frans menjinjing satu alis tanpa menurunkan cangkir dari mulutnya.

Sarah Hartono sedang sibuk di depan komputernya, kedua tangannya di atas keyboard mengetik sesuatu ketika sebuah surat kabar terbanting di mejanya. Ia sedikit tersentak menatap surat kabar itu lalu menoleh orang yang membantingnya, Roni Sanjaya, sang bos.

"Lihatlah, kita ketinggalan berita penting!" kesalnya. Sarah kembali menatap headline surat kabar itu dengan gambar seorang pria yang wajahnya tak asing baginya meski dirinya belum pernah bertatap muka langsung. Ia mendesah kesal.

"Bos, lalu apa hubungannya denganku. Kau tahu sendiri kan, Ronald yang bertugas mengejar berita ini masih terjebak di rumah sakit Swiss. Jadi ya ... wajar saja kalau kita sedikit ketinggalan!"

"Wajar? Itu adalah pikiran orang yang tidak mau maju. Setidaknya kau atau siapa bisa mengambil alih tugasnya!" gerutunya kesal.

"Aku sedang sibuk menyiapkan beritaku!" dalih Sarah.

"Aku tidak butuh berita wisatamu, aku ingin berita yang bisa menggelegar. Dan saat ini, dia!" tunjuk Roni pada gambar Danny. "Adalah topik yang sedang hangat, kalau kau bisa mencari berita yang heboh tentangnya aku akan memberimu tempat khusus di kantor ini. Bagaimana?" tawar Roni. Sarah membelalak lebar menatap bosnya. "Aku!" serunya menunjuk hidung sendiri.

"Kau tidak mau?"

"Tapi berita kriminal itu ...."

"Kau bisa mencari berita lainnya tentang dia kan, tentang asmaranya atau apa. Cari tahulah sendiri!" potong Roni.

"Tapi, Bos ...."

"Kau tak mau dipromosikan?" tawarnya,

"Ehm ....”

"Aku tidak peduli, aku mau berita eksklusif tentang dia dan tak ada penolakan. Atau kau, kehilangan pekerjaanmu!" seru Roni lalu menyingkir dari meja Sarah. Beberapa pasang mata mengarah ke mejanya termasuk Aldo. Fotografer yang selalu mendampinginya.

Sarah mendesah panjang seraya memegang kepalanya, sedikit menjambaknya. Ia melirik gambar Danny. "Kau pikir siapa dirimu, memangnya apa hebatnya kau? Kau itu ... tidak lebih hanya sekedar prajurit yang suka mencari sensasi!" omel Sarah pada gambar Danny di atas mejanya. "Aku baru saja mau ambil cuti!" keluhnya menyandarkan dirinya di sandaran kursi.

Danny Hatta memang sering muncul di surat kabar menghiasi kolom crime, aksinya yang terbilang nekat dan gila memang cukup menyita perhatian beberapa surat kabar ternama. Dia bahkan pernah mendekam di penjara di beberapa negara tempatnya bertugas, tapi pada akhirnya ia selalu dibebaskan oleh profesinya sendiri.

Bab 3

Karen sibuk memilih gaun yang pas

untuknya, semua gaun memang cocok di tubuhnya tapi ia tak mau tampil jelek

malam ini. Danny selalu terlihat menawan memakai setelan apa pun, apalagi

mereka sudah lama tidak pergi bersama. Ia ingin menjadi pasangan yang sempurna

untuk kekasihnya.

Danny duduk di ruang tamu rumah Menteri Pertahanan. Segelas orange jus

masih utuh di meja, sudah tak heran kalau ia harus menunggu lama ketika Karen

sedang berdandan. Biasanya malah menghabiskan bergelas-gelas minuman, tapi

malam ini ia tak menyentuh gelas yang tersaji untuknya. Sesekali ia melirik

arloji di pergelangan tangannya, ia datang lebih awal dari janjinya tapi ini

juga hampir setengah jam ia menunggu Karen mempersiapkan diri. Mau secantik apa

gadis itu pergi dinner dengannya, ia jadi penasaran?

Suara langkah kaki pelan menuruni tangga, Danny berdiri dan menoleh ke sana. Terlihat Karen sudah sampai di ujung anak tangga dan berjalan

menghampirinya, ia mengenakan gaun merah maroon yang membuatnya semakin cantik.

Hanya dihiasi dengan anting bermata berlian merah muda yang pernah Danny berikan padanya sewaktu pulang dari Tiongkok. Rambutnya yang indah ia buat ikal di bagian bawah dan dibiarkan terurai saja. Danny terpaku melihatnya, Karen memang cantik dan sempurna. Banyak anak pejabat tinggi dan juga pengusaha kaya raya

mencoba merebut hatinya, tapi gadis itu malah memilih dirinya sebagai kekasihnya meski dia juga tahu kalau dirinya sering bertemu banyak wanita di setiap tempat ia bertugas.

"Kurasa kita hanya akan dinner, kenapa kau berdandan seperti itu?" tanya Danny.

"Ada sedikit perubahan rencana, aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Devina. Kita ke sana saja ya!" sahutnya dengan nada manja.

"Pesta ulang tahun?" desis Danny melirik kado di tangan Karen.

Gadis itu mengangguk dengan senyuman dan Danny hanya mendesah. Pesta ulang

tahun para gadis, itu pasti akan sangat membosankan. Karen langsung menggandeng

lengan Danny dan menyeretnya berjalan keluar, ketika sampai di depan rumah ia menunjuk kedua bodyguardnya.

"Jangan ada yang mengikutiku atau aku akan menyuruh Danny membunuh kalian!" ancamnya.

"Tapi Nona!" protes salah satunya.

"Kalian mau aku adukan macam-macam pada papaku?"

Keduanya diam dan saling melirik, Karen menyeret Danny ke mobilnya.

Sementara kedua bodyguardnya hanya mampu memandang, tapi sejujurnya mereka

tidak khawatir karena anak majikannya pergi bersama kekasihnya yang sudah pasti

lebih mampu menjaga gadis itu.

"Kau tak seharusnya mengancam mereka seperti itu, jika aku membunuh mereka papamu akan melemparku ke penjara!" protes Danny.

Karen tertawa. "Papa tidak akan lakukan itu, bukannya kau sudah sering membunuh orang?" guraunya.

Mereka memasuki mobil Danny.

"Oya, Papa masih ada urusan di perbatasan. Katanya besok sore baru pulang,

jadi ... kita bisa pulang telat!" manjanya dengan menyelipkan angan apa saja yang bisa ia lakukan bersama Danny melalui ekspresinya.

"Tetap saja aku akan membawamu pulang tepat waktu!" sahut Danny seraya mulai menjalankan mobilnya.

"Ah, kau sama kolotnya dengan Papa. Mungkin itu sebabnya dia menyukaimu!" dengus Karen. Mimiknya berubah muram, tapi ada gurauan dalam kalimatnya.

Danny mengerutkan dahi. "Aku tidak kolot!" protesnya.

"Itu menurutmu!" timpal Karen, akhirnya Danny memilih diam saja. Kalau ditanggapi terus itu tidak akan ada habisnya.

Mereka memasuki hotel tempat diadakannya pesta ulang tahun itu, di sana

sudah penuh dengan tamu undangan. Terutama para gadis, dan mereka pasti akan memamerkan

segala yang mereka miliki. Mulai dari koleksi terbaru hingga gebetan terbaru,

Karen melambaikan tangan ke arah Devina dan teman-teman yang lain. Mereka

membalasnya, Karen pun menyeret Danny menghampiri mereka. Ia cipika-cipiki

dengan Devina seraya mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kadonya.

"Aku terlambat ya, maaf!" seru Karen.

"Tidak apa-apa, baru saja dimulai!" sahut Devina lalu ia melirik Danny yang hanya berdiri mengantongi tangannya. Lalu Karen mengenalkan Danny pada mereka semua, meski sebagian besar mereka sudah tahu walaupun tak

pernah bertatap muka langsung. Devina menyeret Karen sedikit menjauh dari Danny.

"Dia lebih tampan aslinya ya!"

"Memangnya ada yang palsu?"

"Bukan ... aku kan belum pernah bertemu langsung dengannya. Sayang sekali dia pacarmu!"

"Kau jangan pernah bermimpi untuk merebutnya dariku ya?"

Danny melirik kedua gadis itu yang tengah bisik-bisik, sepertinya mereka sedang asyik. Ia memutar pandangannya, lalu berjalan menjauh. Mencari sesuatu yang bisa membasahi kerongkongannya yang mengering, ia memungut segelas cairan merah di dalam gelas. Diciumnya aroma cairan itu dengan hidungnya, itu bukan red wine seperti keinginannya. Tapi tak apalah daripada kehausan, itung-itung untuk melegakan

kerongkongannya.  Ia pun menyeruput

minuman itu, itu hanya softdrink. Ia kembali mengamati beberapa orang yang asyik dengan teman masing-masing.

Sarah dan Aldo yang kebetulan datang untuk meliput terlihat celingukan, Sarah mencari Devina yang berulang tahun. Ia tahu kalau Devina adalah teman Karen, Karen dan Danny pasti datang ke acara itu.

Sementara Aldo akhirnya menemukan

beberapa selebriti yang diundang di sana, asyik mengambil gambar mereka. Ruangan

itu cukup sesak dengan para gadis yang bersendau-gurau, Danny mulai bosan. Ia

memutuskan untuk menyelinap keluar, mencari celah untuk bisa kabur sementara Sarah berjalan celingukan seraya menyusuri celah yang berdesak-desakan. Karena terlalu penuh kakinya menjagal sesuatu, seperti kaki seseorang. Ia pun hampir terjatuh, untungnya tubuhnya malah menabrak seseorang yang dengan refleks

menangkapnya.

Suara pecahan kaca di lantai dari

gelas yang dipegang orang itu membuat beberapa pasang mata menatap diam. Tapi

Sarah segera tersadar dan menjauhkan dirinya dari orang itu. Ia menatap orang yang ditabraknya dengan ekspresi tercengang, dilihatnya leher dan baju orang itu basah. Kemeja putihnya jadi berwarna merah, pasti dia akan marah besar.

Membunuhnya mungkin, Danny mengalihkan pandangannya dari pakaiannya sendiri ke

wanita yang baru saja ditangkapnya itu. Tatapannya begitu tajam, membuat tubuh

Sarah gemetaran.

"A ... a ... ma-maaf. Aku ...!"

"Apa kau tidak bisa berjalan dengan baik?" hardik Danny.

"Maaf, tadi aku tersandung!"

Danny menatapnya lebih tajam, tapi ia tak mengucap apa pun lagi. Malahan berbalik dan melangkah meninggalkannya, membuat Sarah jadi heran. Ia pikir pria itu akan marah besar, mengamuk atau apa. Tapi rupanya ia masih bisa menjaga imejnya di depan umum seperti itu. Sarah jadi penasaran, makanya ia mengejar.

"Hei tunggu, hei!"

Tapi Danny tetap saja tak menyahut, ia terus berjalan menjauh.

"Hei, Danny Hatta. Kurasa kau punya telinga!" seru Sarah membuat Danny harus menghentikan langkahnya. Sarah berjalan melewatinya dan

berhenti di hadapannya, Danny kembali menatapnya.

"Kau mau berkata kalau aku tuli?" desis Danny.

"Eh ... hee ... eee ... he ... bukan begitu. Hanya... tadi aku memanggilmu tapi kau tak menyahut, jadi ...!"

"Jadi kau bisa seenaknya mengataiku tuli?" potong Danny.

"Bukan, aku kan tidak bilang kalau kau tuli!" sekarang nada suara Sarah yang sedikit meninggi.

Danny mendesah, melanjutkan langkahnya tapi Sarah menyetopnya.

"Eit, tunggu dulu. Kebetulan kita bertemu di sini, bolehkan aku lemparkan beberapa pertanyaan untukmu?" tanyanya meminta.

Danny memandang Sarah dalam, lalu matanya turun hingga menemukan kartubidentitas yang tergantung di leher wanita itu. Rupanya dia seorang wartawan.

"Mungkin kau salah orang, bukan aku yang sedang berulang tahun!"

"Aku tahu, tapi ... aku mohon beri sedikit waktu saja ya agar kita bisa berbicara. Bosku memaksaku menggantikan temanku untuk mewawancaraimu, atau lebih tepatnya mencari berita tentangmu. Kau pasti kenal Ronald kan, dia masih di Swiss karena tangannya belum pulih dan karena itu ...!"

"Jadi kau teman si brengsek itu?" potong Danny. "Sudah untung aku tidak membunuhnya. Dengar, aku tidak suka dengan wartawan seperti

kalian ini. Jika kau mengikutiku aku bisa saja mengirimmu menyusul temanmu itu!" seru Danny seraya berlalu. Sarah membuka mulutnya untuk protes tapi ia hanya bisa membentuk huruf O dari mulutnya itu, tapi tetap saja ia mengejar

Danny.

"Eh, tunggu!" katanya menarik lengan Danny, membuatnya kembali menghentikan langkah tapi kali ini juga harus berbalik untuk bisa kembali

bertatapan. Danny melirik tangan Sarah di lengannya dengan tatapan yang mengerikan, Sarah pun segera melepas tangannya dari pria itu.

"Aku bisa saja menulis bahwa kau yang mematahkan tangan temanku di

Swiss, atau bahkan mencoba membunuhnya. Tapi ...!" Sarah mencoba

mengancam.

"Kau mengancamku?" potong Danny kembali.

"A ... e ...," Sarah justru menjadi gugup.

"Sebaiknya kau menjauh dariku, lihatlah ... baru bertemu saja kau

sudah membuatku sial!" usir Danny.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED