Bab 1

Jennewa, Swiss

Danny membuka mata ketika merasakan guyuran air membasahi kulit wajahnya. Ia sedikit mengibaskan kepalanya untuk membuat pandangannya lebih jelas, George menyiramkan wiski ke kepala Danny untuk membangunkannya. Perlahan Danny menatap pria di depannya yang sedang menenggak wiski langsung dari mulut botolnya. Pria itu menyunggingkan senyum sinis padanya. "Danny Hatta!" desisnya, terdengar ada tawa kecil yang keluar dari tenggorokannya.

"Aku sudah mendengar banyak tentangmu!" sekali lagi ia menyunggingkan senyum. “Kau sungguh berpikir bisa menangkapku? Aku ragu!” imbuhnya. Ia berbicara dengan bahasa asing.

George berjalan menjauh darinya lalu berbalik, Danny melirik ke beberapa orang yang ada di sana. Ia mencoba mengendurkan ikatan tangannya yang menggantungnya, untung kakinya tak diikat tapi hanya ujung sepatunya saja yang menempel di lantai. Ia berada di sebuah ruangan pengap, hanya diterangi sebuah lampu yang tak terlalu terang. Ada meja dan kursi yang sudah usang, juga ada pipa-pipa di sudut ruangan.

"Aku bukan datang untuk menangkapmu, tapi aku akan membunuhmu!" gerutu Danny menjawabnya.

Sekali lagi George tertawa. "Dan bagaimana caranya? Sedang kau akan segera mati!”

Danny menatap George tajam. "Aku bisa melakukan lebih dari yang kau bayangkan!”

Masih ada tawa yang keluar dari mulut George. "Kau hanyalah salah satu orang bodoh yang pernah aku kenal sama seperti ayahmu!”

"Apa yang kau bicarakan? Dan ayahku ... kenapa kau membawa nama ayahku?”

"Ya, ayahmu. Kau masih ingat dengan ayahmu? Apa kau merindukannya?” tanya George dengan seringai iblis.

“Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan terhadap ayahku?" seru Danny setengah berteriak sambil menggerakkan tubuhnya yang tergantung.

“Aku tidak melakukan apa pun!”

"Haruskah aku percaya padamu?" Danny menatapnya tajam.

"Pria malang!" desis George,

"Apa!" sahut Danny,

Sekali lagi George menenggak wiski dari mulut botolnya. "Harusnya kau tanyakan pada orang-orang di sekitarmu.”

Jawaban George tidak memuaskan Danny. “Katakan apa yang kau ketahui tentang ayahku?”

Bukannya menjawab, George malah tertawa lebar.

"Kau bajingan!" maki Danny. Tapi salah satu anak buah George meninju perutnya, Danny merintih seketika seraya menutup matanya menahan sakit.

"Kuberitahu, aku tidak melakukan apa pun. Tapi jika aku jadi kau, aku tidak akan sudi jauh-jauh datang ke tempat ini hanya demi sesuatu yang tidak penting. Sementara di negerimu, harusnya kau bisa menegakkan sebuah keadilan untuk ayahmu tercinta!" George kembali menghampirinya.

“Kau tahu sesuatu tentang kasus ayahku, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" teriak Danny.

"Oh ... itu bukan urusanku. Tapi kau tak perlu khawatir, karena aku akan segera mengirimmu pada ayahmu, jadi kau bisa menanyakan langsung padanya!" George kembali mengeluarkan tawa kecil. "Habisi dia!" desisnya pada anak buahnya seraya berjalan keluar.

Beberapa saat lalu ...

Danny duduk di sebuah kedai kopi seraya membaca surat kabar setempat, sesekali matanya ia tujukan ke arah dapur kedai itu seolah sedang menunggu seseorang. Ia memang sedang menunggu seseorang, tapi bukan seorang kekasih ataupun teman. Ia sedang menunggu seseorang yang akan membawanya kepada George.

Danny adalah seorang Mayor TNI AD, usianya memang terbilang masih muda "28 tahun" tapi prestasinya cukup diakui di dunia militer. Bahkan ia menjadi panutan teman-teman skuadnya, banyak yang ingin menjadi seperti dirinya. Karena prestasinya maka ia dipromosikan ke dunia internasional, sudah hampir lima tahun dirinya menjadi agent internasional di bawah Bendera PBB. Menangani banyak kasus dan selalu berhasil, meski terkadang ia harus menelan kepahitan. Selain prestasinya di dalam pekerjaannya ia juga cukup berprestasi dalam hubungan asmara. Banyak gadis yang mengejarnya, bahkan putri Menteri Pertahanan pun tergila-gila padanya. Gadis mana yang tidak terkesima jika bertemu dengannya? Wajahnya yang rupawan, kulitnya yang coklat eksotis, postur tubuhnya yang perfect memang membuat banyak wanita jatuh bertekuk lutut di hadapannya.

Danny masih jeli mengawasi pintu dapur di dalam kedai itu, ia tak mau menerobos masuk karena tak mau membuat keributan di dalam tempat itu. Ini Swiss bukan Jakarta! Tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang memang ia incar sejak beberapa hari lalu. Orang itu berjalan menuju pintu keluar kedai, Danny menaruh surat kabarnya dan ikut beranjak. Mengikuti orang itu ke mana pun melangkah. Mereka menapaki jalanan di dalam kerumunan orang yang lalu-lalang. Sejauh itu Ferdinant tidak curiga jika ada yang membuntutinya, hingga saat mereka memasuki gang yang sepi ia baru menyadari kalau sepertinya ada seseorang yang menguntitnya. Ia berhenti sejenak dengan sedikit melirikkan matanya ke belakang punggungnya. Danny ikut berhenti dan bersembunyi di balik tembok di tikungan. Ferdinant kembali melangkah, Danny pun kembali mengikutinya. Perlahan langkah kaki Ferdinant semakin cepat dan berakhir dengan langkah seribu. Danny ikut berlari karena sepertinya sang target sudah tahu keberadaannya. Terjadi kejar-kejaran di antara mereka, kali ini targetnya cukup lihai. Apakah dia seorang pelari maraton? Larinya cepat sekali, Danny harus mengejarnya hingga melompati pagar.

Orang itu gesit sekali, Danny cukup kesulitan menangkapnya. Ia berhenti lalu celingukan, matanya menangkap potongan kayu beberapa biji. Dengan segera ia pun memungutnya lalu melemparnya ke arah kaki Ferdinant. Pria itu tersungkur akibat hantaman kayu yang Danny lemparkan, Danny segera berlari ke arahnya. Ferdinant bangkit dan tak punya jalan lain selain melawannya. Mereka pun beradu fisik, saling hantam, saling tendang. Ternyata tak membutuhkan waktu lama bagi Danny untuk menjatuhkan lawannya, setelah Ferdinant tersungkur ia memungut bajunya. Mendirikannya di kakinya, ia memberikan hantaman lagi ke perut Ferdinant.

"Katakan di mana George!"

Ferdinant adalah seorang kurir internasional yang memang ia incar, dia adalah orang yang biasa George bayar untuk menyelundupkan narkotika ke banyak negara termasuk Indonesia.

"Lebih baik kau katakan padaku di mana bajingan itu sebelum aku membunuhmu?" ancam Danny.

Ferdinant malah tertawa. "Ha ... ha ... meskipun kau membunuhku, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan?"

Bukk!

Sekali lagi Danny meninju wajah Ferdinant. "Kau pikir aku main-main!" katanya melayangkan pukulan lagi ke perutnya beberapa kali hingga tersungkur.

"Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, dan kali ini pun aku akan mendapatkannya!" serunya seraya berjalan ke arah Ferdinant. Tapi bersamaan dengan itu, sebuah Mercy hitam di seberang jalan melontarkan tembakan bertubi-tubi ke arah mereka. Danny segera menghindar dan bersembunyi di balik tembok, ia tak sempat meraih Ferdinant hingga pria itu harus bersimbah darah akibat berondongan peluru. Danny mencabut senjata apinya dan membalas tembakan itu. Tapi mobil itu malah meluncur meninggalkan TKP, Danny memunculkan diri dan mengejarnya seraya melontarkan tembakan. Tapi ia tak mungkin mengejar mobil itu dengan kaki, maka ia pun celingukan. Ada banyak mobil di sana, ia menghampiri yang paling dekat dengannya. Dengan sigap ia memecahkan kaca depan dengan sikunya, memasukkan tangannya untuk membuka pintu lalu menghempaskan diri ke dalamnya. Seorang pria keluar dari sebuah rumah, ia melihat mobilnya menyala dan mulai melaju. Orang itu pun berlari mengejar seraya berseru. "My car ...!" paniknya, lalu ia segera menelepon Polisi.

Danny mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi, ia sudah bisa melihat kembali Mercy hitam itu. Ia kembali melontarkan tembakan ke arah mobil di depannya, dan salah satu orang di dalam mobil itu pun membalas tembakannya. Terjadi kejar-kejaran dan baku tembak di antara mereka.

Danny mengejarnya hingga ke sebuah bangunan tua, memasuki tempat itu. Begitu ia memarkir mobil dan keluar sudah ada beberapa orang yang menghadangnya dengan membawa beberapa balok kayu. Terpaksa Danny harus menghadapi mereka dulu, tak membutuhkan waktu lama bagi Danny untuk melumpuhkan mereka. Lalu ia mulai melangkah masuk, terlihat olehnya mobil yang dikejarnya tadi tapi pengemudinya sudah tidak ada. Ia kembali melanjutkan langkahnya dengan hati-hati, semakin ia masuk ternyata yang datang menghadangnya juga semakin banyak. Ia harus menghadapi mereka lagi, sebenarnya ia bisa saja menghabisi mereka semua tapi itu akan memberikan waktu buat George untuk lari lagi. Maka ia pun sengaja membiarkan dirinya terkena hantaman berkali-kali hingga tak sadarkan diri.

Sekarang di sinilah ia, tergantung melawan para bedebah itu. Sementara beberapa orang mulai mendekatinya. Salah satunya meninju perutnya kembali, membuatnya harus merengut menahan sakit. Lalu orang itu juga meninju wajahnya, membuat kepalanya terpental ke belakang. Darah mengalir dari hidungnya, ia mengembalikan posisi kepalanya. Ada yang lain yang mendekat dengan membawa pisau, ia pun menendang orang yang meninjunya barusan hingga terpental. Beberapa orang maju, ia pun melawan dengan kakinya termasuk orang dengan pisau itu. Ia menendang lengannya hingga pisaunya terpental ke atas, lalu ia mengayunkan dirinya. Mengapitkan kakinya ke leher salah satu orang itu, menekannya hingga orang itu berlutut dan meronta. Danny menekan pundak orang itu dengan kakinya agar dirinya bisa sedikit meloncat untuk menangkap pisau yang hampir jatuh tadi. Sedikit meleset tapi syukurlah bisa ia tangkap dengan tangannya yang terikat.

Beberapa orang itu masih menyerangnya, ia pun terpaksa masih melawan dengan kakinya hingga memiliki celah untuk memotong tali yang menggantungnya dengan cepat. Tapi pergelangannya masih terikat, pisau masih ada di tangannya dan ia harus menyelesaikan orang-orang ini dengan segera. Meski tangannya terikat ia tetap bisa bergerak gesit untuk memukul dan membanting lawannya, bahkan pisau itu pun berguna untuk menggorok leher salah satu orang dan berakhir di jantung yang lainnya. Setelah semuanya tersungkur ia mencabut pisau yang berlumur darah itu untuk memotong ikatan di pergelangannya. Lalu ia pun segera berlari keluar dari ruangan itu, berharap George belum meluncur meninggalkan gedung itu.

Ia berlari dengan kencang, menuruni tangga. Karena terlalu lamban maka ia pun meloncat saja ke bawah dari tangga ke tangga hingga sampai di lantai dasar. Ia kembali berlari, dilihatnya George dan beberapa orang itu menuju mobil. Ia berlari, meloncatkan kakinya ke tiang tembok lalu menendang orang yang paling belakang hingga tersungkur. Semuanya menoleh, ia sudah berdiri di atas kakinya. Mata George melotot karena Danny masih hidup dan kini justru ada di hadapannya.

Danny menyunggingkan senyum. "Kau salah tentang aku, tidak semudah itu menghabisiku!" seru Danny lalu menyerang mereka semua, perkelahian berlangsung sengit. Beberapa anak buah George mengeluarkan tongkat dan pisau, tapi Danny berhasil merebut salah satu tongkatnya untuk melawan mereka semua. Bahkan ada yang mengeluarkan senjata api, tapi Danny selalu bisa menghindar bahkan merebut senjata api itu dan menggunakannya untuk menembaki semua orang tanpa meleset. Kini hanya tinggal Danny dan George saja, Danny menodongnya dengan senjata api itu, tapi iapun akhirnya membuang senjata itu dari tangannya.

“Pertanyaan terakhir, siapa mereka?" tanya Danny, George menyunggingkan senyum dan langsung menyerang Danny. Keduanya berkelahi, tapi rupanya George tak cukup tangguh melawan Danny. Hanya dalam sekejap, ia terhuyung oleh serangan Danny yang bertubi-tubi. Danny tak ingin membuang waktu, ia menghantam wajah George berkali-kali hingga berdarah. Beberapa mobil polisi mendekati tempat itu. Raungannya pun terdengar jelas oleh Danny.

"Aku tidak akan bertanya lagi, katakan!" desaknya.

"Orang-orang di sekitarmu!" sahut George, tapi Danny tak puas dengan jawaban itu, sekali lagi meninju George hingga terpelanting ke lantai dengan posisi tengkurap. Danny menghampirinya, melangkahi tubuhnya dan memungut kepalanya. Sementara beberapa polisi setempat sudah mulai memasuki daerah itu.

"Beri aku sebuah nama?" pintanya dengan geram.

George masih sempat menyunggingkan senyum seraya berdesis. "Kupikir kau cukup pintar, harusnya kau bisa ...," belum sempat George melanjutkan kalimatnya Danny sudah lebih dulu mematahkan lehernya hingga terkulai. Karena ia tahu bajingan ini tidak akan memberikannya sebuah nama.

Suara derap langkah kaki pun makin mendekat. "Jangan bergerak!" teriak salah satu polisi itu, Danny pun berdiri dan melirik beberapa orang berseragam itu. Tanpa diperintah ia pun mengangkat kedua tangannya ke atas lalu menaruhnya di belakang kepala, dua di antara orang-orang itu menghampirinya dan menyergapnya.

Bab 2

"Bukankah sudah kukatakan untuk berhati-hati, tugasmu untuk menangkap George bukan untuk membunuhnya. Mencari bukti untuk menjeratnya!" kesal Kolonel Radit. Ia datang untuk membebaskannya. Mereka berjalan keluar drai kantor polisi.

"Kita sudah mendapatkan buktinya, barang-barang itu ada di sana!" sahut Danny enteng.

"Ya, dan kau selamat karena itu. Kau tahu siapa dia kan, ayahnya adalah salah satu pejabat tinggi di Negara ini, itu sebabnya kau tidak boleh membunuhnya!" sahut Kolonel Radit menjelaskan kembali.

Danny hanya diam saja berjalan menuju sebuah mobil. "Kau beruntung, karena jasamu dan juga bukti-bukti itu kau hanya mendapat blacklist dari Negara ini. Seharusnya kau bisa saja dihukum mati atau dipenjara seumur hidup!" seru Kolonel Radit seraya membuka pintu mobil, dan menghempaskan diri di balik kemudi. Danny juga melakukan hal yang sama, ia menaruh dirinya di samping pria itu.

"Aku tak berharap bisa kembali ke sini!" jawabnya datar. Kolonel Radit menatapnya sejenak lalu mulai menyalakan mesin mobil seraya menggeleng.

Danny menatap lurus ke depan, kembali mengingat setiap detail kata yang diucapkan oleh George. Sebenarnya ia juga tak berniat membunuh bajingan kecil itu, tapi ucapan pria itu tentang ayahnya membuatnya tak mampu menguasai amarah. Ia memejamkan mata, sebuah bayangan muncul di benaknya.

Wajah ayahnya!

Melihat raut ayahnya ia memang ragu jika ayahnya bunuh diri. Tapi semua bukti yang ditemukan di tempat kejadian, tak ada apa pun yang mengarah ke sebuah pembunuhan. Peluru yang menembus pelipisnya adalah peluru dari pistolnya sendiri, dan dari letaknya, memang seperti bunuh diri. Tak ada sidik jari orang lain, selain sidik jari ayahnya.

Kolonel Radit melirik pemuda di sisinya yang terlihat tengah mengingat sesuatu sambil memejamkan mata. Tapi ia tak bertanya.

Jakarta, Indonesia

Danny sedang menggosok gigi ketika seseorang menekan bel apartemennya. Ia menoleh, lalu melanjutkan kegiatannya. Sialnya, suara bel kembali mengganggunya. Ia pun keluar dari kamar mandi untuk membuka pintu, sikat gigi masih di tangannya dan mulutnya masih berbusa oleh pasta gigi. Ia berjalan sambil mengencangkan handuk yang melilit pinggangnya, ketika pintu terbuka ia terdiam melihat sosok yang berdiri di depan pintunya dengan senyum yang mengembang.

"Karen!" desisnya.

"Hai!" sapa gadis itu lalu mengecup pipinya, Danny masih mematung ketika gadis itu melewatinya menerobos masuk meninggalkan kedua bodyguardnya bersiaga di depan pintu. Danny segera menutup pintunya dan berjalan ke arah kamar mandi lagi.

"Kau sudah pulang tapi tidak meneleponku?" protesnya.

"Maaf, aku terlalu lelah. Jadi aku lupa!" jawabnya.

"Selalu itu yang jadi alasanmu!"

Karen adalah putri tunggal Menteri Pertahanan, Jendral Purnawirawan Albert Johannes Martin. Ia sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Danny dan bermimpi menjadi istrinya, pada kenyataannya Danny memang tak pernah lama menjalin hubungan dengan wanita sebelum dengan dirinya.

"Kau tahu aku tidak pergi untuk berlibur kan?" jawab Danny lalu melanjutkan menggosok giginya, Karen menyusulnya ke kamar mandi. Berdiri bersandar bingkai pintu. "Aku sudah dengar apa yang terjadi di sana!"

"Sepertinya beritanya cepat menyebar ya?" sahut Danny di sela-sela kegiatannya.

"Kau tahu, kau sudah seperti selebriti di media!" keluh Karen. Danny mengeluarkan tawa kecil seraya mencuci sikat giginya lalu menaruhnya di tempatnya. Berkumur dan mencuci mukanya, Karen memperhatikannya. Menatap punggungnya yang kekar, kulitnya yang berwarna coklat maskulin meski ada beberapa bekas luka di sana tapi itu tak mengurangi daya pikatnya. Perlahan Karen mendekat dan menyentuh punggungnya tapi seketika Danny menoleh menangkap tangannya seraya berdesis. "Karen!"

"Memangnya kau tak merindukan aku?" bisik Karen meletakan telapak tangannya di dada Danny yang keras.

"Ehhh ... aku sedang terburu-buru, sebaiknya kau menunggu di luar. Ok!" sahut Danny seraya membalikkan tubuh Karen dan mendorongnya lembut keluar kamar mandi, lalu dengan segera ia menutup pintu dan menguncinya sebelum Karen sempat berbalik dan protes. Danny terdiam sejenak di balik pintu karena ia tahu Karen masih berdiri di sana, setelah ia mendengar langkah kaki gadis itu meninggalkan kamar mandi ia pun mulai mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sementara Karen mengobrak-abrik dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa di sulapnya menjadi sarapan pagi. Tapi sayangnya tak ada apa pun di sana kecuali beberapa buah dan minuman di dalam lemari es. Tentu saja, Danny tinggal sendiri jadi ia tak mungkin memasak kan! Apalagi dengan profesinya.

Danny keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, ia memperhatikan Karen yang sedang terlihat bingung di dapurnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya membuat Karen menoleh. Gadis itu terpaku, bukan karena kaget oleh sapaan Danny tapi karena terkesima melihat kekasihnya yang selalu terlihat memesona itu.

"Kau sedang apa di dapurku?" tanya Danny sekali lagi membuat Karen tersentak.

"Eh, eee ... aku ... sedang mencoba memasak untukmu. Tapi tak ada yang bisa aku masak untuk sarapan, sepertinya lain kali aku harus membawa bahan makanan sendiri!"

Danny terlihat heran mendengar jawaban gadis itu. "Sejak kapan kau bisa memasak, setahuku kau bahkan tak pernah menyentuh dapur?" tanyanya setengah menyindir.

"Selama kau di Swiss aku belajar memasak dari Bibi'. Bahkan aku juga sudah bisa menyetrika baju loh!" sahut Karen menyatukan kedua tangannya di bawah dagu bagian kanan dengan ekspresi pamer.

"Tidak perlu, aku sudah cukup terlambat, sebaiknya kau pulang!" tolak Danny dengan nada dingin.

Karen malah memasang wajah masam dan kecewa, ia sedikit menundukkan kepalanya. "Aku kan hanya ingin menyenangkanmu!"

Danny melihat kekecewaan itu dari nada suaranya, lalu ia melangkah mendekatinya. Menyekop wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya yang kekar. "Bukannya aku tidak mau, aku senang kau mau melakukannya untukku. Tapi hari ini aku benar-benar terburu-buru, begini saja... bagaimana kalau nanti malam kita dinner di luar. Aku akan menjemputmu jam 7, ok!"

Karen langsung tersenyum. "Benarkah?" tanyanya meyakinkan. Danny mengangguk. "Ok, tapi jangan terlambat. Awas ya kalau terlambat!" ancamnya.

Danny tersenyum. "Tidak akan!" janjinya. Mereka keluar bersama dari gedung itu tapi memasuki mobil masing-masing, Danny segera meluncur ke Departemen.

Di sebuah ruangan Danny termenung, ia kembali teringat percakapannya dengan George sewaktu di Swiss tentang ayahnya. Selama ini nuraninya memang menyangkal kalau ayahnya melakukan semua kejahatan itu, ia kenal siapa ayahnya, ayahnya yang menjadikannya seperti sekarang. Karena asyik memikirkan hal itu ia sampai tidak sadar kalau Frans sudah ada di hadapannya.

Melihat sahabatnya melamun Frans menjentikkan jarinya di depan Danny, membuatnya terjaga.

"Kau baik-baik saja, kawan?" tanyanya seraya duduk di kursi di depan Danny.

"Tidak, aku tidak yakin kalau sekarang aku baik-baik saja!" sahutnya.

"Bisa kulihat, tapi aku maklum kau baru saja menyelesaikan tugas berat. Mungkin otakmu butuh sedikit dibersihkan!" cibirnya.

Danny merengut kesal, "Kau pikir aku gila!"

Frans tertawa sejenak. "Apa yang mengganggumu?"

Danny menatap sahabatnya. "Frans, aku butuh bicara denganmu di luar. Penting!" tegasnya memaksa.

"Apa!" seru Frans membuat beberapa orang menatap mereka. Tapi baik Danny mau pun Frans tak terlalu memedulikan itu.

"Itu yang dikatakan George padaku, dari awal aku selalu percaya ayahku tidak bersalah!" sahutnya.

Mereka duduk di kedai kopi tak jauh dari Kementerian Pertahanan, menikmati secangkir kopi hitam.

"Aku juga berpikiran sama, ayahmu adalah orang yang baik. Rasanya memang sulit dipercaya dengan semua tuduhan itu. Mungkin memang benar ayahmu hanyalah korban!" tukas Frans memainkan jarinya di cangkir yang ia pegang.

"Tapi siapa yang melakukannya, dan kenapa ayahku?" heran Danny.

"Ayahmu adalah seorang hakim tinggi, dia sangat berpengaruh dalam segala bidang di pengadilan. Terutama kriminalitas, mungkin saja ... ayahmu mengetahui sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui!" Frans menyesap minumannya.

Danny membulatkan matanya, menatap sahabatnya dalam. Kenapa ia tak berpikir sampai ke sana?

"Kau benar, kenapa aku bodoh sekali. Frans, sepertinya aku akan membutuhkan banyak bantuanmu!"

"Anytime!" sahut Frans menjinjing satu alis tanpa menurunkan cangkir dari mulutnya.

Sarah Hartono sedang sibuk di depan komputernya, kedua tangannya di atas keyboard mengetik sesuatu ketika sebuah surat kabar terbanting di mejanya. Ia sedikit tersentak menatap surat kabar itu lalu menoleh orang yang membantingnya, Roni Sanjaya, sang bos.

"Lihatlah, kita ketinggalan berita penting!" kesalnya. Sarah kembali menatap headline surat kabar itu dengan gambar seorang pria yang wajahnya tak asing baginya meski dirinya belum pernah bertatap muka langsung. Ia mendesah kesal.

"Bos, lalu apa hubungannya denganku. Kau tahu sendiri kan, Ronald yang bertugas mengejar berita ini masih terjebak di rumah sakit Swiss. Jadi ya ... wajar saja kalau kita sedikit ketinggalan!"

"Wajar? Itu adalah pikiran orang yang tidak mau maju. Setidaknya kau atau siapa bisa mengambil alih tugasnya!" gerutunya kesal.

"Aku sedang sibuk menyiapkan beritaku!" dalih Sarah.

"Aku tidak butuh berita wisatamu, aku ingin berita yang bisa menggelegar. Dan saat ini, dia!" tunjuk Roni pada gambar Danny. "Adalah topik yang sedang hangat, kalau kau bisa mencari berita yang heboh tentangnya aku akan memberimu tempat khusus di kantor ini. Bagaimana?" tawar Roni. Sarah membelalak lebar menatap bosnya. "Aku!" serunya menunjuk hidung sendiri.

"Kau tidak mau?"

"Tapi berita kriminal itu ...."

"Kau bisa mencari berita lainnya tentang dia kan, tentang asmaranya atau apa. Cari tahulah sendiri!" potong Roni.

"Tapi, Bos ...."

"Kau tak mau dipromosikan?" tawarnya,

"Ehm ....”

"Aku tidak peduli, aku mau berita eksklusif tentang dia dan tak ada penolakan. Atau kau, kehilangan pekerjaanmu!" seru Roni lalu menyingkir dari meja Sarah. Beberapa pasang mata mengarah ke mejanya termasuk Aldo. Fotografer yang selalu mendampinginya.

Sarah mendesah panjang seraya memegang kepalanya, sedikit menjambaknya. Ia melirik gambar Danny. "Kau pikir siapa dirimu, memangnya apa hebatnya kau? Kau itu ... tidak lebih hanya sekedar prajurit yang suka mencari sensasi!" omel Sarah pada gambar Danny di atas mejanya. "Aku baru saja mau ambil cuti!" keluhnya menyandarkan dirinya di sandaran kursi.

Danny Hatta memang sering muncul di surat kabar menghiasi kolom crime, aksinya yang terbilang nekat dan gila memang cukup menyita perhatian beberapa surat kabar ternama. Dia bahkan pernah mendekam di penjara di beberapa negara tempatnya bertugas, tapi pada akhirnya ia selalu dibebaskan oleh profesinya sendiri.

Bab 3

Karen sibuk memilih gaun yang pas

untuknya, semua gaun memang cocok di tubuhnya tapi ia tak mau tampil jelek

malam ini. Danny selalu terlihat menawan memakai setelan apa pun, apalagi

mereka sudah lama tidak pergi bersama. Ia ingin menjadi pasangan yang sempurna

untuk kekasihnya.

Danny duduk di ruang tamu rumah Menteri Pertahanan. Segelas orange jus

masih utuh di meja, sudah tak heran kalau ia harus menunggu lama ketika Karen

sedang berdandan. Biasanya malah menghabiskan bergelas-gelas minuman, tapi

malam ini ia tak menyentuh gelas yang tersaji untuknya. Sesekali ia melirik

arloji di pergelangan tangannya, ia datang lebih awal dari janjinya tapi ini

juga hampir setengah jam ia menunggu Karen mempersiapkan diri. Mau secantik apa

gadis itu pergi dinner dengannya, ia jadi penasaran?

Suara langkah kaki pelan menuruni tangga, Danny berdiri dan menoleh ke sana. Terlihat Karen sudah sampai di ujung anak tangga dan berjalan

menghampirinya, ia mengenakan gaun merah maroon yang membuatnya semakin cantik.

Hanya dihiasi dengan anting bermata berlian merah muda yang pernah Danny berikan padanya sewaktu pulang dari Tiongkok. Rambutnya yang indah ia buat ikal di bagian bawah dan dibiarkan terurai saja. Danny terpaku melihatnya, Karen memang cantik dan sempurna. Banyak anak pejabat tinggi dan juga pengusaha kaya raya

mencoba merebut hatinya, tapi gadis itu malah memilih dirinya sebagai kekasihnya meski dia juga tahu kalau dirinya sering bertemu banyak wanita di setiap tempat ia bertugas.

"Kurasa kita hanya akan dinner, kenapa kau berdandan seperti itu?" tanya Danny.

"Ada sedikit perubahan rencana, aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Devina. Kita ke sana saja ya!" sahutnya dengan nada manja.

"Pesta ulang tahun?" desis Danny melirik kado di tangan Karen.

Gadis itu mengangguk dengan senyuman dan Danny hanya mendesah. Pesta ulang

tahun para gadis, itu pasti akan sangat membosankan. Karen langsung menggandeng

lengan Danny dan menyeretnya berjalan keluar, ketika sampai di depan rumah ia menunjuk kedua bodyguardnya.

"Jangan ada yang mengikutiku atau aku akan menyuruh Danny membunuh kalian!" ancamnya.

"Tapi Nona!" protes salah satunya.

"Kalian mau aku adukan macam-macam pada papaku?"

Keduanya diam dan saling melirik, Karen menyeret Danny ke mobilnya.

Sementara kedua bodyguardnya hanya mampu memandang, tapi sejujurnya mereka

tidak khawatir karena anak majikannya pergi bersama kekasihnya yang sudah pasti

lebih mampu menjaga gadis itu.

"Kau tak seharusnya mengancam mereka seperti itu, jika aku membunuh mereka papamu akan melemparku ke penjara!" protes Danny.

Karen tertawa. "Papa tidak akan lakukan itu, bukannya kau sudah sering membunuh orang?" guraunya.

Mereka memasuki mobil Danny.

"Oya, Papa masih ada urusan di perbatasan. Katanya besok sore baru pulang,

jadi ... kita bisa pulang telat!" manjanya dengan menyelipkan angan apa saja yang bisa ia lakukan bersama Danny melalui ekspresinya.

"Tetap saja aku akan membawamu pulang tepat waktu!" sahut Danny seraya mulai menjalankan mobilnya.

"Ah, kau sama kolotnya dengan Papa. Mungkin itu sebabnya dia menyukaimu!" dengus Karen. Mimiknya berubah muram, tapi ada gurauan dalam kalimatnya.

Danny mengerutkan dahi. "Aku tidak kolot!" protesnya.

"Itu menurutmu!" timpal Karen, akhirnya Danny memilih diam saja. Kalau ditanggapi terus itu tidak akan ada habisnya.

Mereka memasuki hotel tempat diadakannya pesta ulang tahun itu, di sana

sudah penuh dengan tamu undangan. Terutama para gadis, dan mereka pasti akan memamerkan

segala yang mereka miliki. Mulai dari koleksi terbaru hingga gebetan terbaru,

Karen melambaikan tangan ke arah Devina dan teman-teman yang lain. Mereka

membalasnya, Karen pun menyeret Danny menghampiri mereka. Ia cipika-cipiki

dengan Devina seraya mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kadonya.

"Aku terlambat ya, maaf!" seru Karen.

"Tidak apa-apa, baru saja dimulai!" sahut Devina lalu ia melirik Danny yang hanya berdiri mengantongi tangannya. Lalu Karen mengenalkan Danny pada mereka semua, meski sebagian besar mereka sudah tahu walaupun tak

pernah bertatap muka langsung. Devina menyeret Karen sedikit menjauh dari Danny.

"Dia lebih tampan aslinya ya!"

"Memangnya ada yang palsu?"

"Bukan ... aku kan belum pernah bertemu langsung dengannya. Sayang sekali dia pacarmu!"

"Kau jangan pernah bermimpi untuk merebutnya dariku ya?"

Danny melirik kedua gadis itu yang tengah bisik-bisik, sepertinya mereka sedang asyik. Ia memutar pandangannya, lalu berjalan menjauh. Mencari sesuatu yang bisa membasahi kerongkongannya yang mengering, ia memungut segelas cairan merah di dalam gelas. Diciumnya aroma cairan itu dengan hidungnya, itu bukan red wine seperti keinginannya. Tapi tak apalah daripada kehausan, itung-itung untuk melegakan

kerongkongannya.  Ia pun menyeruput

minuman itu, itu hanya softdrink. Ia kembali mengamati beberapa orang yang asyik dengan teman masing-masing.

Sarah dan Aldo yang kebetulan datang untuk meliput terlihat celingukan, Sarah mencari Devina yang berulang tahun. Ia tahu kalau Devina adalah teman Karen, Karen dan Danny pasti datang ke acara itu.

Sementara Aldo akhirnya menemukan

beberapa selebriti yang diundang di sana, asyik mengambil gambar mereka. Ruangan

itu cukup sesak dengan para gadis yang bersendau-gurau, Danny mulai bosan. Ia

memutuskan untuk menyelinap keluar, mencari celah untuk bisa kabur sementara Sarah berjalan celingukan seraya menyusuri celah yang berdesak-desakan. Karena terlalu penuh kakinya menjagal sesuatu, seperti kaki seseorang. Ia pun hampir terjatuh, untungnya tubuhnya malah menabrak seseorang yang dengan refleks

menangkapnya.

Suara pecahan kaca di lantai dari

gelas yang dipegang orang itu membuat beberapa pasang mata menatap diam. Tapi

Sarah segera tersadar dan menjauhkan dirinya dari orang itu. Ia menatap orang yang ditabraknya dengan ekspresi tercengang, dilihatnya leher dan baju orang itu basah. Kemeja putihnya jadi berwarna merah, pasti dia akan marah besar.

Membunuhnya mungkin, Danny mengalihkan pandangannya dari pakaiannya sendiri ke

wanita yang baru saja ditangkapnya itu. Tatapannya begitu tajam, membuat tubuh

Sarah gemetaran.

"A ... a ... ma-maaf. Aku ...!"

"Apa kau tidak bisa berjalan dengan baik?" hardik Danny.

"Maaf, tadi aku tersandung!"

Danny menatapnya lebih tajam, tapi ia tak mengucap apa pun lagi. Malahan berbalik dan melangkah meninggalkannya, membuat Sarah jadi heran. Ia pikir pria itu akan marah besar, mengamuk atau apa. Tapi rupanya ia masih bisa menjaga imejnya di depan umum seperti itu. Sarah jadi penasaran, makanya ia mengejar.

"Hei tunggu, hei!"

Tapi Danny tetap saja tak menyahut, ia terus berjalan menjauh.

"Hei, Danny Hatta. Kurasa kau punya telinga!" seru Sarah membuat Danny harus menghentikan langkahnya. Sarah berjalan melewatinya dan

berhenti di hadapannya, Danny kembali menatapnya.

"Kau mau berkata kalau aku tuli?" desis Danny.

"Eh ... hee ... eee ... he ... bukan begitu. Hanya... tadi aku memanggilmu tapi kau tak menyahut, jadi ...!"

"Jadi kau bisa seenaknya mengataiku tuli?" potong Danny.

"Bukan, aku kan tidak bilang kalau kau tuli!" sekarang nada suara Sarah yang sedikit meninggi.

Danny mendesah, melanjutkan langkahnya tapi Sarah menyetopnya.

"Eit, tunggu dulu. Kebetulan kita bertemu di sini, bolehkan aku lemparkan beberapa pertanyaan untukmu?" tanyanya meminta.

Danny memandang Sarah dalam, lalu matanya turun hingga menemukan kartubidentitas yang tergantung di leher wanita itu. Rupanya dia seorang wartawan.

"Mungkin kau salah orang, bukan aku yang sedang berulang tahun!"

"Aku tahu, tapi ... aku mohon beri sedikit waktu saja ya agar kita bisa berbicara. Bosku memaksaku menggantikan temanku untuk mewawancaraimu, atau lebih tepatnya mencari berita tentangmu. Kau pasti kenal Ronald kan, dia masih di Swiss karena tangannya belum pulih dan karena itu ...!"

"Jadi kau teman si brengsek itu?" potong Danny. "Sudah untung aku tidak membunuhnya. Dengar, aku tidak suka dengan wartawan seperti

kalian ini. Jika kau mengikutiku aku bisa saja mengirimmu menyusul temanmu itu!" seru Danny seraya berlalu. Sarah membuka mulutnya untuk protes tapi ia hanya bisa membentuk huruf O dari mulutnya itu, tapi tetap saja ia mengejar

Danny.

"Eh, tunggu!" katanya menarik lengan Danny, membuatnya kembali menghentikan langkah tapi kali ini juga harus berbalik untuk bisa kembali

bertatapan. Danny melirik tangan Sarah di lengannya dengan tatapan yang mengerikan, Sarah pun segera melepas tangannya dari pria itu.

"Aku bisa saja menulis bahwa kau yang mematahkan tangan temanku di

Swiss, atau bahkan mencoba membunuhnya. Tapi ...!" Sarah mencoba

mengancam.

"Kau mengancamku?" potong Danny kembali.

"A ... e ...," Sarah justru menjadi gugup.

"Sebaiknya kau menjauh dariku, lihatlah ... baru bertemu saja kau

sudah membuatku sial!" usir Danny.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED