Bab 1

Shena Caroline, seorang Wanita yang baru saja turun dari bis sambil memainkan ponselnya itu, baru saja pulang dari kerja part timenya di tengah kota. 

"Kok engga ada lowongan kerja buat pagi hari sih," ucap Shena Sambil menatap ponselnya mencari pekerjaan. Pasalnya ia masih seorang mahasiswa yang bekerja serabutan di kafe-kafe dan di rumah makan, tapi itu hanya berlaku pada malam hari di waktu-waktu tertentu. Dia ingin mencari pekerjaan lagi  untuk di pagi hari, karena  bulan ini jadwal kuliahnya banyak di siang hari, jadi dia ingin memanfaatkan pagi hari untuk bekerja sekalian sedikit berolah raga. Shena menggaruk-garuk kepalanya, ia sangat merasa frustasi karena ia sangat membutuh uang sekarang, untuk membayar sewa rumah. 

"Loh kok malah ke hutan," kaget Shena saat menyadari kalau yang dia lewati bukan jalan menuju rumahnya, melainkan jalan menuju hutan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. 

"Ahh... Begok banget sih,  padahal udah 5 tahun hidup sendiri masih aja lupa jalan, begok, tolol, bodoh kamu Shena," ucapnya merutuki  dirinya sendiri. 

Wanita itu berbalik, berjalan menuju jalan raya, kakinya sudah sangat lelah, dia ingin segera sampai dirumah untuk beristirahat. Untuk menuju jalan raya dia harus melewati gang-gang kecil. 

"Ayo semangat Shena," ujarnya menyemangati dirinya sendiri. "Pakai earphone dulu deh." 

Shena berjalan menunduk sambil bersenandung, tiba-tiba dia merasa ada seseorang  yang sedang mengikutinya. Shena menoleh kebelakang, namun tidak ada orang disana. Dia mempercepat langkahnya, agar segera sampai di jalan raya. Saat mulai masuk ke dalam gang kecil, Shena berpapasan dengan seorang gadis SMA yang masih menggunakan seragam, gadis itu berjalan sedikit lambat karena dia fokus dengan ponselnya, Shena yang merasa gelisah berjalan lebih dulu meninggalkan gadis itu di belakangnya. Namun beberapa menit kemudian langkah gadis itu sudah tidak terdengar lagi, membuat Shena berlari. Dan lagi-lagi dia merasa ada yang mengikutinya, Shena melihat di depan ada pembelokan dan ada sebuah gubuk, dia langsung belok untuk bersembunyi, sambil berjalan mengendap ngendap. 

"Tuhann tolong lindungi aku." Shena melanjutkan perjalannya, namun baru beberapa langkah...

"AAAAAAA..." terdengar suara teriakan membuat Shena berhenti dan menutup telinganya. 

"Gadis itu?" Shena menoleh kebelakang. 

"AAAAAA..." lagi-lagi teriakan itu terdengar, Shena yang tadinya ingin pulang jadi mengurung niatnya, sekarang dia malah mencari asal teriakan itu dari mana.

"Gad--" Shena menutup mulutnya, dia melihat seorang lelaki dengan pakaian serba hitam, kepalanya di tutupi dengan tudung hoodie, dan wajahnya di tutupi dengan masker hitam. Shena terbelalak hebat saat orang itu mencekik leher gadis berseragam itu dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya memegang sebuah pisau. 

Shena mundur selangkah, saat melihat gadis itu sudah melemas akibat di cekik. Shena mulai merasakan bau amis yang menyengat, dia sedikit  melirik dan melihat kaki dan tangan gadis itu ternyata sudah berlumuran darah. Shena seakan sedang menonton flim pembunuhan yang biasa dia tonton dengan sahabatnya di rumah. Pikiran kotor tentang psychopath mulai masuk kedalam otak Shena. 

Apa yang selanjutnya akan dia lakukan? apa dia akan mengeluarkan semua organ gadis itu? Atau dia akan menusuk tubuh gadis itu  hingga tak berbentuk? 

"AAA!" pekik Shena saat melihat  lelaki itu mulai mengukir lengan gadis itu dengan pisau. Dia langsung berlari kencang, karena sudah tidak berani lagi untuk melihat gadis SMA itu disiksa. Namun sayang, keberuntungan tidak sedang berada di pihaknya, tangan Shena di tarik lalu tubuhnya di banting ke tembok  membuat punggung Shena terasa sakit. 

"S-siapa kau?" tanya Shena memejamkan wajahnya, dia  takut melihat mata lelaki yang berada di depannya. 

Lelaki itu mendekati wajahnya dengan wajah Shena. Shena meneguk salvitanya, dia menciup bau mint dari tubuh lelaki itu. 

"Buka mata mu," ucap lelaki itu dengan suara berat membuat Shena membuka matanya perlahan. Terlihat jelas sorot mata yang tajam dengan bola mata yang coklat, menatap Shena seperti ingin membunuh. 

"J-jangan bunuh ak--"

"Akhirnya aku menemukan mu."

Bab 2

Setelah turun dari bis, Shena berlari menuju kelasnya. Dia melirik jam di tangannya sekilas, yang sudah menunjukkan pukul  8 pagi, yang artinya kelas sebentar lagi akan segera di mulai. Namun saat melihat kelasnya, terlihat masih banyak yang keluar masuk, dan masih banyak juga yang duduk di taman depan kelasnya, membuat Shena berjalan santai sambil memasukkan tangannya di saku celananya.

"Pagi kak Rangga yang ganteng," sapa shena pada salah satu lelaki yang sedang berjalan bersama teman-temannya di lorong menuju kelasnya. 

"Pagi juga Shena yang cantik," balas Rangga dengan senyum yang mengembang lebar, hingga lesung pipinya terbentuk.

"Yang di sapa cuman Rangga nih? Mentang-mentang cuman Rangga yang ganteng," ucap lelaki yang berada di samping Rangga bernama Sagara.

Shena hanya tersenyum manis. "Cuman kak Rangga yang ganteng gimana dong," ucap Shena setelah itu melanjutkan langkahnya menuju kelas sambil terkekeh.

"Cantik banget kan?" ujar Rangga pelan.

"Banget, paket lengkap mah dia," sahut Juan yang berada di samping kiri Rangga. "Cantik, manis, seksi, sempurna."

Rangga melirik tajam Juan, "Heh diem gak lo!"

"Kalem dong, galak amat kayak anjing," ujar Juan bergedik ngeri sambil memegang dadanya.

"Kalian, jangan ada yang suka dia, Shena hanya milik gue seorang!" Rangga menatap tajam teman-temannya, setelah itu dia pergi meninggalkan teman-temannya yang masih berdiri ditempat.

Menurut Shena, Rangga adalah cowok paling tampan di rumpun ekonomi, apalagi pas Shena tau kalau dia ketua BEM, tiba-tiba aura Rangga terlihat semakin huwaw di mata Shena, tidak hanya Shena yang merasakan aura huwaw tersebut, semua kaum hawa juga merasakannya, bahkan mereka berani mencari perhatian di depan Rangga, namun Rangga tidak pernah menanggapi. Dia juga sering di bilang sebagai cowok yang dingin, tapi bagi Shena tidak, Rangga adalah cowok yang humoris.

Sebenarnya Shena tidak menyukai Rangga dengan sungguh-sungguh. Dia hanya suka menggoda kakak kakak tampan di rumpunnya. Suka bikin baper saja setelah itu dia tinggal, dia sering di bilang cewek yang tidak bertanggung jawab saking banyaknya lelaki yang sudah dia buatnya baper. Dan bodohnya lelaki tetap tergoda dengan godaan Shena, padahal mereka tau kalau Shena  menggoda semua cowok tampan. Dia suka bertingkah seakan menyukai, tapi jika di ajak pacaran dia tidak pernah mau.

Menggoda lelaki membuat Shena merasa bahagia, sedangkan pacaran banginya hanya membuang waktu saja, apalagi di saat kuliah, untuk tidur dan mengurus diri saja kadang sesempatnya, mau mengurus orang lain pula, menanyakan udah makan atau belum, lagi ngapain, sungguh tidak berfaedah menurut Shena. Lebih baik dia rebahan, makan enak, perawatan di waktu luang dari pada jalan-jalan engga jelas dengan pacar.

Shena itu terbilang cewek yang cantik, manis, imut, pintar dan lucu, dia sangat pandai bersosialisasi. Jelas saja banyak yang suka dengan dirinya, apalagi yang kurang cobak, lelaki yang akan mendapatkannya pasti akan merasa beruntung.

*****

Shena memasuki kelas dengan langkah yang terbilang santai, namun baru saja selangkah memasuki kelas, wajah Shena langsung berubah menjadi cengo saat melihat semua teman-temannya pada fokus dengan laptop masing-masing.

"Kenapa nih?" tanya Shena duduk di samping Agatha, telihat dua sahabatnya yaitu Agatha dan Clara juga fokus dengan laptopnya masing-masing.

"Buat apa sih? fokus banget kalian," ucap Shena lagi, karena tidak ada yang menjawab dari pertanyaan Shena sedari tadi.

"Lo udah siap tugas dari pak Andi?" tanya Agatha, membuat Shena mengambil ponselnya cepat lalu membuka catatan di ponselnya, pasalnya tadi malam dia sama sekali tidak ada membuka laptopnya, dia langsung tidur setelah pulang dari kerja part time.

"Ahhhh..." Shena tersenyum langsung mengeluarkan laptopnya dari tasnya lalu menghidupkannya.

"Ahh apa? Udah?" tanya Clara menoleh ke samping Agatha.

Shena bungkam sejenak sambil menunggu laptopnya loding. "UDAH DONG!"

"Anjir cepet amat! Lo baca semua jurnalnya?" tanya Agatha mengambil laptop Shena lalu mengotak-ngatiknya sedikit. "Gila Clar, beneran udah siap diaa."

"Hoo iya dong jelas, gue kan anak rajin."

"Mata gue pengel anjir bacain jurnal dari tadi malam rasanya mata gue kayak terbakar," cetus Clara mengucek matanya yang sudah memerah.

"Makanya kalau ada tugas tu di cicil, ini engga, kapan di kumpul malamnya  baru di kerjakan, makanya tu otakk begoknya engga ilang-ilang," sahut Shena menoyor kepala Clara pelan.

"Gara-gara kepala gue sering lo toyor nih jadinya gue engga pinter pinter!" seruu  Claraa tak terima.

"Sini gue elus biar pinter lagi," sahut Agatha mengelus kepala Clara.

"Emang ngaruh ya kalau di elus jadi pinter, walaupun siap di katain?" tanya Clara dengan polos membuat Shena dan Agathan mengelus dada.

"Ya engga lah begok!" seru Agatha dan Shena  serentak dengan kesal.

"Kalian berdua kasar banget sih," Clara mengerucutkan bibirnya.

"Lo bikin emosi anjer, kepala gue udah berasap nih," ucap Agatha  mengidupkan kipas angin kecil yang dia bawa dari rumah.

"Lo sampe mana emangnya Ra? Sini biar gue kerjain," seru Shena mengusulkan diri.

"Gitu dong dari tadi, peka juga lu ternyata, tapi sayangnya engga punya pacar."

"Gue engga punya pacar karena gue engga mau bikin waktu gue sama kasur jadi semakin sedikit, gue udah kerja part time tiap malem belum lagi kalau ada tugas, waktu guee sama kasur tu udah sedikit, kalau gue punya pacar nanti kasur gue engga guna dong jadinya. Lo kan tau gue tu sayang banget sama kasur gue, gue engga mau ninggalin dia sebenarnya, karena udah nyaman banget, tapi gimana la pula gue butuh duit butuh juga cepat lulus," ujar Shena sambil mengerjakan tugas Clara.

"Dasar kaum rebahan," celetuk Agatha sambil fokus memandang laptopnya.

"Untung pinter," puji Claraa menghidupkan ponselnya.

Belum saja Shena mengerjakan jurnal Clara pak Andi sudah masuk ke dalam kelasnya. Seketika seisi kelas meminggirkan laptopnya, begitupun dengan Shena yang langsung memberikan laptop Clara kepada pemiliknya dan duduk sedikit menjauh dari Clara dan Agatha. Pasalnya pak  Andi tidak suka melihat 3 orang duduk sejejer dalam pelajarannya. Sekarang Shena duduk sendiri sambil menatap lelaki yang berada di belakang pak Andi, sepertinya lelaki itu mahasiswa baru. Mahasiswa baru itu memiliki tubuh yang tinggi, badan yang ideal, rambut yang pirang dengan poni yang di sisir kebelakang memamerkan kening yang membuat dirinya terlihat sedikit berwibawa. Lelaki itu juga memiliki mata yang indah berwarna coklat pekat, dan hidung yang mancung.

"Tampan," ucapan itu keluar dari mulut Shena saat melihat intens  mahasiswa baru itu.

"Baik anak-anak, kita kedatangan mahasiswa baru hari ini. Silahkan perkenalkan diri kamu," seru pak Andi kepada lelaki  yang berdiri di sampingnya.

"Perkenalkan  nama saya Athur Paker, semoga kalian semua bisa menerima saya dengan baik," ujar Athur dengan suara yang berat dan nada yang dingin, sambil mengangkat kepalanya keatas memandang satu persatu orang yang berada di depannya dengan tajam.

"Ganteng parah!"

"Turun dari surga ni kayaknya cowok."

"Hidungnya mancung banget kayak pinokio pasti suka berbohong ni sama emaknya."

"Campuran kayaknya ni cowok."

Seisi kelas menjadi bising akibat kedatangan Athur.

"Silahkan kamu duduk, cari teman yang bangku di sampingnya yang masih kosong. Di pelajaran saya duduk harus berpasangan, tidak ada yang ganjil, saya tidak suka ganjil," ucap Pak Andi yang di jawab anggukan oleh Athur. Dia berjalan menuju kursi kosong di samping Shena.

Shena menatap Athur yang sepertinya berjalan mendekati dirinya tersebut, seketika deg-degan. Dia sangat senang duduk bersama cowok ganteng seperti Athur yang 11 12 gantengnya dengan Rangga.

"Duh hidup gue selalu di kelilingi cowok ganteng."

Shena menggeserkan kursinya agar tidak terlalu dekat dengan Athur yang sudah duduk di sampingnya. Setelah itu dia berdehem alay sambil tersenyum manis memandang Athur.

"Aku Shena," Shena mengulurkan tangannya.

Athur hanya mengangguk singkat lalu mengeluarkan laptopnya, tanpa menjabat tangan Shena.

"Kasian sekali diriku ini, padahal dari kecil sudah di kasih perhatian penuh dengan kedua orang tuaku sekarang malah di campakkan, sepertinya dulu waktu kecil bunda belum mengajakku untuk suntik campak," Shena menatap pak Andi yang mulai menghidupkan infokus di depan.

Athur yang mendengar ucapan Shena tersebut menarik sudut bibirnya, dia melirik Shena sekilas.

"Menggemaskan sekali," ucap  Athur dalam hati.

Shena yang merasa di lirik Athur langsung melirik balik, namun Athur dengan cepat menatap kedepan, melihat materi yang pak Andi berikan. 

"Kok kayak pernah lihat ya," ujar Shena dalam hati  saat melihat mata coklat Athur yang sangat pekat. Tapi dimana ya? Shena tidak ingat. 

Athur yang merasa di perhatikan langsung menoleh  menatap Shena tajam. Spontan Shena langsung membuang muka. 

"G-gak ada yang liat kamu, aku liat pak Andi, engga usah geer deh kamu," Seru Shena takut.

Athur menarik sudut bibirnya lagi lalu mendekati mulutnya di telinga Shena. "Hay, kita bertemu lagi," bisiknya dengan pelan.

Shena langsung menatap Athur sambil mengerutkan keningnya,"kapan kita pernah ketemu?"

Athur diam, dia fokus menatap kedepan, sedangkan Shena menatap Athur binggung.

Bab 3

"Aiss... pak Andi merepot sekali sih nyuruh cari referensi pakai buku perpus segala, ahh."

Shena berjalan mengelilingi perpustaan untuk mencari buku referensi yang disuruh pak Andi. Pasalnya saat dia maju tadi, ada yang kurang lengkap, membuat Shena harus menglengkapinya sekarang juga, padahal sebelum pak Andi sadar dengan kekurangan tugas Shena, dia sudah mengatakan bagus. tapi saat di bacanya ulang dia menyadari kekurangan itu. 

"Haahhh.... Keselll mana gue laperr lagi ah!" Shena mulai kesal, kepalanya seketika ingin meledak karena buku yang dia cari tidak kunjung ketemu. Dia memilih untuk duduk menyender meluruskan kaki sambil membaca ulang jurnalnya.

Namun saat membaca jurnal, Shena tiba-tiba teringat dengan Athur yang mungkin sekarang sedang duduk sendiri di dalam kelas. "Athur, siapa ya cowok itu, kok kayak engga asing, tampan sih tampan bikin keingetan mulu, tapi kalau natap manik matanya nyeremin."

"Terus dia bilang 'hay kita ketemu lagi' emang gue sama dia pernah ketemu ya? kayaknya engga deh," ucap Shena bermonolog sambil menatap ke rak buku.

"Apa dia SKSD sama gue, sok kenal sok dekat gitu karna gue cantik," pede Shena sambil merapikan rambutnya.

"Dihh kok gue jadi kepikiran dia sih, ahh tau ahhh mo cari buku aja," seru Shena berdiri dan meletakkan laptopnya di meja yang tak jauh dari dirinya. Dia kembali mengelilingi rak untuk mencari buku yang dia cari.

Sedangkan di kelas Athur dan beberapa temannya sedang sibuk  menatap laptop masing-masing, termasuk 2 sahabat Shena, Agatha dan Clara.

"Nah ini dia lokal mahasiswa ganteng itu!" pekik seorang gadis dari pintu dan berlari masuk mendekati Athur diikuti para gadis lainya.

Mereka sibuk ingin bekenalan dengan Athur, dan ada beberapa yang ingin berfoto bersama Athur, dan ada juga yang hanya duduk di samping Athur sambil menatap Athur dengan intens, yang  ternyata sangat tampan.

"Nama lo siapa?"

"Nama gue Bella."

"Nama gue Shilla kalau lo mau manggil gue sayang juga boleh."

"Lo kok ganteng banget, pindahan dari mana sih?"

"Jomblo engga? Gue mau mau daftar nih."

"Lo blasteran?"

Athur memejamkan matanya dia dia merasa kupingnya mulai panas, dia mencoba untuk menahan emosinya yang sudah bergejolak didalam kepalanya,  dia  sangat benci keributan, keramaian, dan di ganggu. Apalagi  suara gadis yang cempreng.

BRAKKK!!

Athur menggebrak meja, dia tak bisa menahan emosi, membuat semuanya bergejolak kaget,  mereka mengusap dadanya spontan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Athur mematikan laptopnya dan memasukkannya asal kedalam tasnya, lalu berjalan keluar kelas dengan wajah yang kesal. Dia ingin mecari udara segar di bawah teriknya matahari, dia sangat benci keadaan seperti ini, menjadi sorotan dimana pun berada. Rasanya manusia di dunia ini seperti tidak punya kerjaan selain menyorot orang lain seakan orang itu melakukan yang tidak-tidak. Sungguh memuakkan, jika terlahir menjadi tampan membuatnya seperti ini lebih baik dia terlahir jelek dan hidup dengan tenang tanpa di sorot orang-orang.

"Gue engga kebayang sih kalau Shena duduk sama tu cowok terus-terusan," ucap Agatha yang tak percaya dengan perilaku Athur yang sangat mengejutkan.

"Ganteng-ganteng nyeremin, kasian Shena kita engga bisa kegatelan," cetus Clara menatap pintu kelas, sambil memikirkan  Athur dan Shena jika duduk bersama sampai lulus. Lelaki itu terlihat dingin dan nyeremin, ntah dari spesies mana Athur berasal.

****

Akhirnya Shena yang sudah menemukan 3 buku yang bersangkutan dengan jurnalnya, dia langsung melengkapi tugasnya dengan cepat.

"Gilak dikit doang inti sarinya, kenapa di suruh nambahin kalau cuman 1 paragraf kurang kerjaan banget si bapak ahh... Mana perut keroncongan lagi, ngerjain di kantin aja ah," seru Shena menyusun bukunya dan mematikan laptopnya lalu berjalan keluar.

"Shena," panggil penjaga perpustakaan saat Shena ingin keluar.

"Iya pak Nahar?" jawab Shena berjalan mendekati  pak Nahar yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya.

"Ambil kantong plastik berwarna putih di meja bapak, tadi ada yang lelaki tampan yang menitipkannya ke bapak."

"Siapa pak? kak Rangga?"

"Bukan, bapak engga tau namanya siapa, dia langsung pergi aja tadi setelah nyuruh bapak ngasih ke kamu."

Shena berjalan menuju meja pak Nahar, mengambil kantong plastik putih yang berukuran sedang di sana.

"Udahh Shena ambil ya pak, Shena pergi dulu pak,"  pamit Shena membawa kantong plastik putih itu keluar dari perpustakaan.

"Iyaa..."

Shena duduk di bangku yang tak jauh dari perpustakaan, dia mengerutkan dahinya binggung, lalu membuka kantong plastik itu dan ada sebuah kertas di dalamnya.

"Untuk Shena," Shena membaca tulisan tersebut dan melihat isinya adalah  jajanan kesukaannya, seperti coklat, susu strawbery, kue, permen yupi dan lain-lain.

"Wahh rezeki anak sholeha ini mah, engga perlu beli udahh di kasih, lumayan irit uang jajan," celetuk Shena mengikat kantong platik itu kembali dan berjalan menuju kantin sambil tersenyum senang.

Tanpa Shena ketahui, seorang lelaki sedang bersembunyi sambil menatap Shena yang melenggang pergi menuju kantin. Lelaki itu tersenyum, senyumnya terlihat sangat manis. Dia adalah Athur Paker.

*****

"SHENA!!" panggil Agatha keras saat melihat Shena berdiri di depan pintu kantin.

Shena yang mendengar suara Agatha yang tak asing bagi dirinya langsung menemukan Agatha dan Clara yang sedang duduk berhadapan. Shena berjalan mendekati 2 sahabatnya itu sambil tersenyum.

"Sumpah sumpahh lo pokoknya haruss  hati-hati sama Athur," ucap Clara menggebu-ngebu.

"Kenapa?" tanya Shena  binggung sambil menarik kursi sebelahnya untuk duduk.

"Dia tu  nyeremin banget, pokoknya lo jangan duduk sama dia lagi deh. Lo jangan terpengaruh sama wajah dia yang tampan 11 12 sama kak Rangga, tapi sikapnya parahh beda jauhh. Lo harus hati-hati," cetus Agatha, membuat Shena semakin binggung.

"Apa? Kenapa?" tanya Shena menatap dua sahabatnya secara bergantian, sambil menghidupkan laptopnya.

"Jadi tadi tu banyak cewek-cewek yang mau kenalan kan sama dia terus dia tiba-tiba gebrak meja dong, sumpah sih, dia seharusnya bisa ngomong kalau dia engga mau kenalan, atau ngomong apa gitu, engga usah pake gebrak meja segala, di tambah lagi  pas dia gebrak meja tu matanya tajam kali, dia kayak marah banget  gitu," jelas Clara.

"Ahh iyaa, kayaknya dia tu memang engga suka di ajak kenalan, soalnya tadi tangan gue juga di lirik doang sama dia, mana mukanya datar banget lagi, terus matanya mata-mata burung elang lagi. Terus ya yang anehnya ni dia bilang 'Hay  kita bertemu lagi' padahal gue rasa, gue enggak pernah ketemu dia."

"Lo lupa kali Shen," ucap Agatha sambil menyeruput jus jeruknya.

"Serius gue engga kenal," ujar Shena menggelengkan kepalanya.

"Aneh sih kalau udah kayak gitu,  kita harus hati-hati," seru Clara menyuapkan 1 sendok somay kedalam mulutnya.

Tiba-tiba suara kantin ramai saat laki-laki berambut pirang dengan tubuh jangkung masuk kedalam kantin. Dia adalah Athur. Lelaki itu menjadi sorotan para kaum hawa sekarang.

Sementara Shena memegang jantungnya yang tiba-tiba berdetak hebat, saat melihat arah langkah kaki Athur yang berjalan ke mejanya. Shena yang tidak ingin ke geeran langsung mengalihkan pandangannya menatap laptopnya.

"Dapat bukunya?" tanya Athur menarik kursi dan duduk di samping Shena membuat seluruh kantin terkejut.

Shena hanya mengangguk ragu sambil menunjukkan buku yang tadi dia ambil dari perpustakaan, sedangkan Agatha dan Clara menatap Athur binggung, mereka saling berpandangan satu sama lain.

"Makanan yang aku kasih ke pak Nahar sudah di ambil?" tanya Athur, spontan Shena langsung menatap Athur.

"I-itu dari kamu?" tanya Shena membuat Agatha dan Clara bengong di tempat.

Athur mengangguk, "Iya dari aku, aku titip ke  pak Nahar karena takut ngeganggu kamu pas lagi ngerjain tugas. Itu semua makanan kesukaan kamu kan? Aku engga salah kan? Kamu suka engga?"

Shena bungkap, dia menatap Athur binggung.

"Bagaimana dia bisa tau makanan kesukaan ku?" tanya Shena dalam hati.

"Shen?" panggil Athur membuyarkan lamunan Shena.

"Emm, iya itu makanan kesukaan ku, makasih ya," ucap Shena ragu-ragu.

"Yaudah kamu makan gih, sambil ngejain tugas. Makan yang banyak ya kamu, biar pipinya kayak bakpau," seru Athur bangkit dari tempat duduknya sambil menangkup pipi Shena.

Shena membesarkan matanya terkejut.

Athur tersenyum melihat wajah terkejut Shena yang menggemaskan bagi dirinya. "Aku pergi dulu ya," pamit Athur mengelus kepala Shena sekarang lalu pergi meninggalkan meja Shena.

Shena mematung di tempat, begitupun dengan Agatha dan Clara. Mereka benar-benar terlihat kebinggungan dengan sikap Athur yang berbanding terbalik dengan apa yang mereka lihat tadi.

"Gue yakin dia punya dua kepribadian," ujar Agatha menatap punggung Athur yang telah keluar dari kantin. "Atau..."

"Atau dia sukak sama lo," timpal Clara cepat.

Shena menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk pipinya pelan yang tadi di sentuh Athur. Dia sekarang mati kebinggungan mengingat tingkah  Athur tadi, sebenarnya siapa lelaki itu? Apa benar Shena pernah bertemu dengan dia?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED