Bab 1

" Elaine!! " 

Lambaiantangan damian mengisyaratkan keberadaannya, aku pun segera menghampirinya dengan rasa yang berkecamuk di dalam dada. 

Damianmengajakku bertemu di sebuah cafe biasa, aku menyukai tempat ini, sebab dari sudut ruangan ini aku bisa melihat matahari terbenam lalu menyiratkan warna jingga yang nampak indah, senja namanya.

 " Hay,, " 

SapakuTersenyum canggung. Setelah dua tahun berlalu, Lama sekali rasanya,mengingat antara aku dan dia yang sudah tak saling bertemu dan menyapa apalagi berbicara sampai sedekat ini

 " Aku sudah memesan kopi kesukaanmu ra, minum dulu kamu pasti haus "

Jelas damian memecahkan kecanggungan diantara kita, di sodorkannya secangkir kopi dengan gelas cantik berwarna hijau muda, ya dia selalu tau apapun kesukaanku terkecuali hatiku, dia tak pernah menanyakan kabar hatiku semenjak hari itu, sedikitpun mungkin tak pernah terlintas dalam pikirannya.

 " Ah iya "

Ucapku menelan ludah, lalu menyesap secangkir kopi cappuccino kesukaanku, serasa cukup aku kembali meletakkan kopi di atas meja dengan perlahan, takut bilamana pecah karna terjatuh dari genggamanku, bisa-bisa remuk dan membuat kebisingan kedap suara, hah terdengar tak asing di hatiku, sungguh miris nian nasibku.

 " Kamu semakin berbeda el,, " 

Ucapdamian yang sedang menatapku lamat-lamat, melihat setiap inci wajahku. Entah untuk keberapa kalinya aku tersipu malu di buatnya, dia selalu berhasil membuatku bertekuk lutut hanya dengan mendengar suaranya.

 " Maksudnya? " Tanyaku tak mengerti dengan perkataannya, aku mencoba memberanikan diri menatapnya.

" Kamu semakin cantik " Ujarnya sambil tersenyum, manis sekali senyumanya itu, senyuman yang dulu selalu berhasil membuat hatiku berpesta, membuat detak jantungku seakan mau copot saja

" Kamu terlalu berlebihan Damian " Aku terkekeh mendengar rayuannya, mencoba mencairkan suasana canggung yang entah dibuat oleh siapa, sedetik kemudian suasana kembali meremang

 " Maafkan aku, karena sudah menjauh darimu kala itu " Ujarnya kemudian, Ia mencoba menjelaskan sesuatu yang tidak seharusnya di bahas kembali. Suasana kembali canggung sebelum aku mencoba untuk lebih berdamai dengan Hatiku yang kini merasa cenat cenut menahan sesak

 " Aku bisa mengerti Damian, tidak apa-apa toh aku bukan sesuatu yang penting untuk kamu pikirkan bukan? " Gurauku, menutupi pedih dalam hati

 " Apa kamu baik-baik saja? " Tanyanya dengat raut wajah yang penuh dengan penyesalan, mungkin ia baru menyadari telah mengabaikanku selama ini. Aku tersenyum getir mendengarnya bertanya seperti itu setelah sekian lama ini ia membuatku tak bisa hidup dengan tenang.

Aku menatap jauh keluar jendela, melihat rintik-rintik hujan perlahan mulai berjatuhan membasahi jendela yang kini sedang ku tatap, diluar sana langit tampak gelap gulita, kurasa langit lebih paham akan seperti apa hatiku saat ini, ketimbang pria yang sedang berada di depanku.

" Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu pedulikan aku Damian, kamu urus saja masalahmu " Jelasku dengan suara parau. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganku

 " Aku tidak pernah ingin menjauh darimu raa, aku terpaksa, aku memang bodoh. Maafkan aku Elaine " Suaranya tak lebih parau dariku. Meyakinkanku untuk percaya

 " Aku sudah memaafkanmu damian, tapi kejadian hari itu tak pernah bisa aku lupakan, kamu mengabaikanku tanpa tau hatiku sangat sakit " Ujarku menatap matanya, memberitahu bahwa hatiku remuk.

 Damian menggeser kursi duduknya mendekat kearahku. Meraih tanganku dan menatapku penuh iba " Lein,, maaf, sekarang aku dengan Marcel sudah tidak pernah bertemu setelah kejadian hari itu, dia marah kepadaku karna kamu mengabaikannya, dan tepat satu tahun setelah itu akhirnya Marcel bersama zie sahabatku, bersamaan ketika kamu mulai menjauhiku tanpa sebab " Jelas Alan kepadaku,, sesuatu yang tidak ingin aku dengar Dari mulutnya kini terkuak sudah

 " Soal Marcel aku tidak bisa melupakan itu, bagaimana mungkin kamu bisa seenaknya menyerahkan hatiku kepada siapa, terutama pada Marcel, padahal kamu sendiri tahu kan hatiku untuk siapa? " Tanyaku padanya namun ia tak menjawab, aku terkekeh melihat respon yang ia tunjukkan, matanya yang sendu tak lagi melihat ke arah mataku, aku cukup paham dengan arti tatapannya itu.

Aku masih ingat sekali, ketika Damian dengan terang-terangan menjodohkan aku dengan sahabatnya bernama Marcel, aku tidak menyukainya, sungguh dia bukan tipe lelaki idamanku, aku menolaknya berkali-kali, setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi antara mereka berdua, terkadang aku melihat mereka tidak saling sapa beberapa waktu ketika aku mulai memasuki kehidupan mereka, aku masih kecewa atas sikap Damian terhadapku, dengan seenaknya saja dia melakukan itu padaku.

 " Kenapa diam? Sebenarnya kita ini apa Damian ? Kenapa dengan mudahnya kamu memberi kesempatan pada Marcel untuk memilikiku tanpa pernah bertanya apakah aku mau atau tidak, sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak?!! Dua tahun yang lalu ingin sekali aku mengatakan ini langsung tapi kau tahu? Aku tidak punya keberanian sehebat itu " Jelasku dengan suara samar-samar, namun tegas. Aku sudah tidak bisa lagi menahan gejolak rasa yang ingin membuatku memuntahkan segala isi dalam pikiranku. Aku sudah tidak lagi peduli dengan tanggapannya mengenai diriku, bairlah ia berpikir bahwa aku sekarang sudah berubah, bukan lagi perempuan yang dengan bodohnya bisa di permainkan.

 " Aku... Hm.. Bahkan sampai saat ini aku belum bisa memastikan apakah itu cinta atau bukan, mungkin kamu lebih paham apa itu arti cinta yang sebenarnya, dan aku mohon, tunggu aku sampai aku benar-benar bisa mencintaimu Elaine, " Jelasnya dengan sempurna. Membuatku mati kata dalam sekejap. Lidahku seolah kelu, dia memintaku untuk menunggu, tanpa ia sadari bahkan aku sudah menunggunya sampai detik ini.

 Tatapanku beralih kesudut ruangan, mencoba untuk tidak menjatuhkan setetes air mata di hadapannya, aku tidak ingin di anggap lemah olehnya.

 " Lalu, dua tahun yang lalu saat kamu mengutarakan perasaanmu kepadaku itu apa? Hanya tipuan yang kamu rencanakan agar zie sahabatmu bisa kembali denganmu lagi? Atau kamu memang suka mematahkan hati perempuan?!! " Ucapku tegas, sedikit keras kepadanya, meminta penjelasan layaknya seorang kekasih yang sedang cemburu buta, yah aku buta sebab telah mencintainya. Lucu bukan? Aku ingat sekali pertemuan terakhir aku bersamanya saat lulusan tiba.

 " Aku tidak bermaksud seperti itu Elaine,saat itu aku memang benar-benar menyukaimu, namun sebatas suka belum cinta " Ujarnya yang membuat aku seakan jatuh ke dasar jurang yang paling dalam,Remuk sudah

" Tidak Damian, kau hanya mencintai zie sahabat mu itu, tapi saat kau tahu jika zie tidak mempunyai rasa yang sama denganmu, bertepatan saat aku mulai hadir dalam hidupmu, kau menjadikanku bahan pelampiasan, tanpa aku sadari saat itu dengan bodohnya aku malah semakin terjerat oleh rasa yang ambigu itu! Lalu saat itu kamu menganggapku sebagai apa?! " Tatapku tajam kearahnya, andai ia paham arti tatapanku bahwa kecewa dan sakit di ciptakan olehnya kini meminta untuk segera Di akhiri

 " Kamu benar, dan aku menganggapmu Hanya teman,, tapi aku ingin kita lebih dari teman, namun aku takut membuatmu terluka, dan apa kau tahu? Saat Marcel mengatakan padaku bahwa ia tertarik denganmu, aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun kecuali menyetujui permintaannya untuk mendapatkankan dirimu, pada saat itu juga aku merasa kesal dan cemburu, tapi aku bisa apa? Di satu sisi dia adalah sahabatku dan kau adalah orang yang aku sukai, ku mohon mengertilah " Ujarnya mencoba membuat aku percaya. Tanpa ia sadari, sudah sekian lama dia melukaiku dengan terang-terangan. Dia memintaku untuk memahaminya tanpa ia mau tau perasaanku, naif sekali

 Tatapanku pudar,, aku tak bisa melihat Alan dengan jelas, aku hanya menatap lantai.mencoba menyembunyikan segara rasa yang meminta untuk segera di lepaskan

 " Baiklah, kalo begitu aku paham sekarang, hari semakin gelap sebaiknya Aku segera pulang " Aku hanya tersenyum, mengakhiri segala keraguanku. Menyudahi pertemuan yang penuh luka tanpa ku sadari, aku semakin terlihat seperti gadis bodoh di hadapannya

Musim hujan kembali menyapa bumi, bertamu pada malam hari demi melenyapkan segala rindunya, dan kini aku hampir mati di tikam oleh perasaan yang kuciptakan sendiri tanpa sedikitpun melibatkan Tuhan, Tentang rasaku padanya yang entah harus ku apakan. 

“ tunggu Elaine, bisa kah kau memberiku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal? “

Bab 2

“ tunggu Elaine, bisa kah kau memberiku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal? “ sebuah tawaran yang selalu aku nantikan itu kini terwujud juga, entah harus dengan aapa aku mengatakan kepadanya, jujur dalam hati yang paling dalam namanya masih setia, dengan bodohnya aku pun mengangguk.

 " Ayo Biar ku antar " Ajaknya meraih tanganku, lalu bergegas keluar meninggalkan caffe 

 " Baiklah,, " Aku hanya tersenyum, mencoba baik-baik saja. Pada dasarnya aku memang lemah di hadapanmu Damian. " Mungkin ini akan menjadi hari terakhir dimana kamu bisa mengantarkanku pulang " Lirihku dalam hati 

Jalanan malam itu lengang.. Di tambah dengan keheningan yang ia ciptakan di dalam mobil membuat duri dalam rasaku semakin Menggelitik. Ada rasa sesak saat ia kembali membahas masa lalu, begitu juga ada rasa bahagia akhirnya pertemuanku dengannya kembali setidaknya dapat memberi kesan manis meski hanya sedikit, mengingat yang terakhir dia katakan padaku, seketika aku tersenyum kecil, sesenang itu aku sekarang.namun entah mengapa hatiku masih terluka dengan hebat, ternyata benar apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang, seseorang yang melukaimu adalah seseorang yang dapat menyembuhkan luka itu sendiri.

 Sepanjang jalan aku tak banyak berbicara dengannya. Bagiku semua sudah jelas, dia hanyalah laki-laki yang tak pernah sederhana dalam menyakitiku. Batinku tersiksa dengan segala pengakuannya, segala mimpi dan tujuanku di paksa untuk berhenti detik ini juga. Dia menghancurkan segala mimpi indah yang telah lama ku tuai. Namun aku juga tidak tau harus berbuat apa ketika dengan lantangnya ia meminta kesempatan untuk memulai semuanya dari awal.

 Laki-laki yang paling manis sepanjang Aku mengenalnya nyatanya tak lebih pahit di bandingkan secangkir kopi hitam, rasa yang menjadi favoritku sekarang selain capuchino. Selain karna rasanya yang sangat pahit, bagiku meneguk kopi hitam lebih di nikmati rasanya ketimbang meneguk pahitnya kenyataan bahwa rasa yang aku punya selama ini tak sama denganya.

Bagaimana pun cinta hanyalah sebuah perasaan tanpa di dasari hal yang pasti, seperti yang aku rasakan saat mulai mengenalnya, sosok yang nyaris sempurna. 

Tapi bagaimana bila rasa yang kau punya tak selalu berakhir dengan pembalasan yang sama?  

Mencintai tanpa pernah di cintai olehnya membuat dada semakin sesak saat ia bahkan menolakmu dengan telak. 

Lalu bagaimana bisa aku tetap mempertahankan perasaan itu? Bahkan ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri semua harapan itu tiba-tiba dia muncul dan meminta kesempatan kedua, apa yang akan kamu lakukan? Menerimanya atau menolaknya memiliki perasaan yang berbeda

 Hanya tinggal menunggu dua jam lagi, acara pernikahan akan segera di laksanakan. sebuah gaun indah bahkan nyaris sempurna berwarna peach nampak Melekat di tubuh kurusku, dengan rambut hitam legam yang dibiarkan tergerai menambah kesan keanggunan seorang remaja yang baru menginjak usia 20 tahun tepat pada dua hari yang lalu,  tak lupa dengan riasan sederhana yang semakin menampakkan kesempurnaan, kini aku nyaris bagai tuan putri di sebuah kerajaan yang sering aku baca di sebuah novel. Bedannya, aku tak pernah mengharapkan semua ini terjadi. 

 Aku masih duduk santai di depan cermin bersama dua orang wanita dewasa yang sibuk menata riasan pada wajahku, sesekali aku merasa risih namun aku hanya bisa mencoba diam dan menerimanya lagi. Tak ada raut bahagia yang nampak di wajahku, mungkin jika ada seseorang yang dapat menyadari ini, mereka pasti akan menganggap kesedihanku ini tak lain dari sebuah kebahagiaan seseorang. 

 " Sudah selesai, nona " Ujar salah satu wanita yang sedikit lebih muda, aku merasa tenang untuk beberapa detik sebelum sebuah ketukan pintu terdengar dari luar membuatku sedikit merasa kesal dan semakin kecewa dengan keadaan. 

 " Acara akan segera di mulai nona, anda di minta segera  ke bawah untuk menemani tuan dan nyonya " Ujar pak asep sang pelayan pribadi bundaku 

" Baiklah " Aku mendengus pelan sebelum melangkah perlahan menuju tempat dimana semuanya akan berubah dalam sekejap mata. Entah aku harus bahagia atau sebaliknya, hatiku hanya mengatakan 'tidak' untuk saat ini. 

 Tepat di sampingku terdapat satu wanita setengah paruh baya namun aura kecantikannya tak pernah pudar di makan usia, yang telah lama ini menjadi pahlawanku, seseorang yang selalu aku banggakan dan selalu ingin menjadi dirinya di kemudian hari, tanpa pernah aku mengetahui segalanya.  

 Di samping wanita itu terdapat sesosok pria dewasa yang dapat ku tebak usianya sepantaran dengan bundaku, terlihat gagah dan memiliki wajah nyaris sempurna, keduanya saling serasi.  

 Dan di sebelahku terdapat seorang laki-laki yang mungkin usianya jauh diatasku, ia menatap lekat namun sorot tatapannya tajam dan dingin, merasa seolah di hunus tombak besi, aku langsung mengalihkan pandanganku, Aku tidak mengerti dengan tatapannya itu kali ini. 

 " Kita perlu bicara berdua setelah acara ini selesai "

Aku melihat kearahnya kembali, perkataannya terdengar mengancam meski ekpresinya tak berubah dari saat pertama aku melihatnya.

 Aku tak menjawab, dan ia memang tak membutuhkan jawaban dariku, apalagi menolaknya ah sudahlah lupakan cara lain untuk menghindarinya lagi, semua tidak akan berjalan dengan baik-baik saja setelah ini, ku pastikan ada milyaran kejutan yang akan aku Terima mulai detik ini juga, dimana ketika terdengar suara lantang mengucapkan ijab qobul dengan satu hentakan.

" Alhamdulillah sah,, "

" Selamat hani, irfan "

" Akhirnya kalian bisa bersama "

Terdengar ucapan penuh syukur dan riang membanjiri seisi ruangan, hingga memekikkan telingaku, kemudian aku menatap kearah kedua mempelai yang kini telah menjadi keluargaku, yang nyaris sempurna.

 Bunda nampak bahagia sekali, terlihat jelas dari keduanya saat mereka duduk diatas pelaminan dengan tangan yang saling bertautan, menambah rasa sesak di dalam hatiku semakin menjadi-jadi, seperti ada rasa tak rela melepas bunda ke pelukan lelaki lain, selain aalmarhum ayah tiga tahun yang lalu. Meski begitu, aku tidak mungkin egois, bagiku bunda adalah satu-satunya yang aku miliki saat ini, sudah lama ia mengurusku seorang diri, menjadi wanita karir semenjak muda sampai saat ini, di tambah dengan diriku yang setiap harinya menambah beban untuk bunda, membuat aku mau tak mau harus merestui hubungan yang baru ini. Meski aku tidak bisa menerimanya sekalipun.

 " Bun,, selamat yah, akhirnya bunda ga akan kesepian lagi karna sekarang bunda sudah bersama om irfan " Ujarku seraya tersenyum yang di buat dengan semanis mungkin, nyaris tak terlihat bahwa aku sedang memasang topeng handalanku, aku tidak mungkin menjadi orang jahat hanya karna aku tak bisa menerima sang takdir.

 " Sayang, Terima kasih nak, bunda bangga punya anak seperti kamu Elaine " Bunda langsung memelukku, butiran air mata keluar dari kelopak mataku, segera aku mengusapnya, tak mau sampai bunda melihat aku bersedih.

 " Elaine sayang banget sama bunda " Ujarku kemudian melepas pelukan, aku menatap kearah om irfan yang kini telah menjadi ayah sambungku, dia tersenyum ramah kearahku

 " Elain, panggil om dengan sebutan papah mulai hari ini ya " Titahnya yang tak bisa ku tolak, dengan anggukan aku membalasnya sembari tersenyum, yah aku akan memanggilnya papah.

 Akupun pamit untuk menyantap beberapa makanan ringan, ah perutku ini selalu tidak tau malu, ah lebih tepatnya aku. Dengan perlahan aku mengambil cake kemudian memakannya, lidahku bertemu dengan rasa coklat yang lumer dengan cream yang di campur strawberry membuat aku tersenyum puas, Ah sangat enak. Sebelum aku melanjutkan untuk mengambil kembali beberapa potong cake itu, tiba-tiba sebuah tangan kekar nan besar memegang tanganku keras, aku mendongak mencoba melihat siapa yang dengan beraninya menggangguku di saat seperti ini? Apa ia tidak tahu kalo dari semenjak acara di gelar aku belum memasukan sedikitpun makanan ke dalam perutku yang terus meronta-ronta meminta di kenyangkan.

 Mataku terbelalak lebar, terkejut dengan kehadirannya, aku muak sungguh muak. Sebelum aku mengangkat suara, ia dengan cepatnya menyanggah

" Ikut aku, sekarang! "

Bab 3

" Ikut aku, sekarang!  " Terdengar nada suara yang dingin namun tajam, seketika aku bergidik ngeri, mau dibawa kemana aku? 

 Tepat di sebuah taman belakang yang nampak sepi karena semua orang sibuk menikmati makanan di ruang tengah, di mana tempat resepsi di adakan. Dia menghentikan langkahnya, lalu melepaskankan tanganku, aku meringis menahan sakit di pergelangan tanganku yang kemerahan. 

 " Sampai kapanpun, aku gak akan pernah menganggap ini nyata  " Ujarnya penuh dengan penekanan, matanya terlihat kelam yang menatapku dengan tajam

" Tapi kak,, " 

" Aku tidak akan melepaskanmu, sekalipun kau telah menjadi adik tiriku, ingat itu! " Titahnya yang tak bisa di bantah, kalimat pernyataan itu membuat bulu kuduk'ku meremang

 " Kak, aku gak pernah suka sama kak raven, jadi tolong lupakan aku kak, sekarang kita bahkan udah jadi  saudara " Aku mencoba mengungkap perasaanku kesekian kalinya lagi, tak peduli lelaki di hadapanku menerima atau menyanggahnya. 

 " Aku tidak pernah peduli dengan siapapun kecuali hatiku sendiri " 

" " aku sudah punya pacar kak, tolong berhenti jangan seperti ini, kita sekarang sudah jadi saudara kak! " 

" Aku tidak peduli apapun yang kau katakan-" sorot tatapannya tajam dengan angkuhnya dia berkata

 " aku akan membuatmu terikat denganku, dengan cinta atau tidak sekalipun, akan aku buat kau mencintaiku dengan gila " 

" Aku akan mengungkap semuanya pada bundamu, tentang apa yang pernah terjadi diantara kita, biar saja pernikahannya hancur dalam sekejap " Nada mengancam keluar begitu saja membuat aku menatap penuh harap padanya

 " Aku mohon jangan kak, aku akan lakuin apapun asal kakak jangan ceritain apapun ke bunda, jangan buat pernikahan bunda hancur, aku ga mau bikin bunda sedih " 

" Sure? " 

" Iya kak "

 " Goog girls " Tangannya mengelus pipi ku lembut, matanya seolah mengintimidasi, sebelum perkataan darinya sanggup membuatku seperti di sambar petir

 " Jadilah wanitaku, patuhi semua yang ku katakan, dan jangan pernah melawan apapun itu sekalipun kamu tidak menyukainya " Titahnya kembali dengan senyum penuh keberhasilan, mengembang Indah di sudut bibirnya yang tipis merah muda. 

" baiklah " Dengan berat hati, aku menyetujui ide gila dari kak raven,  sungguh yang ada dalam pikiranku saat ini, jangan sampai bunda menderita hanya karna diriku yang berulah. 

 Raven meninggalkanku yang sedang berdiri kaku, menatap lurus kedepan, ada  sesuatu yang menghantam keras hati dan pikiranku saat ini

  Ada satu nama yang masih melekat dalam hatiku, seorang lelaki yang tak pernah bisa ku miliki, namun kini aku telah memiliki hati juga raganyam, laki-laki paling naif yang pernah aku kenal, mengaguminya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri, tanpa pernah aku menyadari bahwa perasaan dalam hatiku tak pernah diketahui olehnya, bahkan sekalipun dia mengetahui, aku tak pernah bisa memiliki sepenuhnya, itu yang ku pikirkan sebelumnya kenyataan membawa bahagia kepadaku, tanpa sadar perasaan kagumku semakin bertumbuh tanpa tau waktu, hingga penantian selama tiga tahun lamanya, membuat aku semakin lelah namun tak ingin berhenti. Sebab ia menyuruhku untuk menunggu. Dan waktu itu kini tiba, aku telah di milikinya. 

*Flashback on*

 Tiga tahun yang lalu, bertepatan saat perpisahan sekolah menengah atas akan segera diadakan, kami bertemu di sebuah cafe biasa, dia menolakku dengan telak.

" Maaf Elaine, aku mencintai zie dan kita hanya sebatas teman tidak lebih dari itu, aku harap kamu bisa mengerti " ujarnya dengan tatapan lurus tanpa menatapku, mata yang sayu itu kini nampak seakan berdusta

" Jadi, semua yang kau lakukan waktu itu hanya untuk membuatnya kembali padamu?!" 

" Iya, kau benar El, tidak lebih dari itu! " Timpalnya tanpa merasa bersalah sekalipun.

" Kamu naif Damian, menyesal aku menyukaimu!"

Ujarku penuh kecewa, kemudian aku berdiri, berjalan dengan cepat meninggalkan ia seorang diri ditaman belakang sekolah, sunyi dan langit mulai menggelap, tak ada senja cerah di sore hari ini, hanya ada awan gemuruh bertanda hujan semakin dekat meneteskan bulir-bulirnya, bersamaan denganku yang kini sedang berlari entah ke arah mana.

" Maaf Elaine, aku terpaksa mengatakan ini, maaf aku telah melukaimu, aku sangat mencintaimu Elaine " 

***

  Dua tahun yang lalu, saat Damian mencampakkan diriku dengan ia yang mengungkap bahwa ia mencintai sahabatnya itu, zie, perempuan yang kini telah menjadi milik Marcel, sahabat satu kelas Damian, saat satu tahun sebelumnya aku menolak ungkapan hati Marcel kepadaku, hingga kelulusan sekolah menengah atas pun berakhir dengan penuh harapan yang terpaksa harus di kubur dalam-dalam, di saat yang bersamaan, ketika aku mulai menjauhi semuanya, aku memilih untuk tidak menampakkan ragaku.  Perpisahan sekolah sangat kelam bagiku, bahagiaku saat dapat melihatnya dari jarak jauh, yah seperti itulah aku, mencari kesempatan untuk memandangnya selama yang aku bisa. 

 Setelah kelulusan, aku meneruskan kuliah di salah satu Universitas negri yang ada di bandung, sejujurnya aku menginginkan kuliah di luar kota, tepatnya di salah satu kota pelajar yaitu Yogyakarta, dengan berharap bisa melupakan Damian, namun aku tak tega meninggalkan bunda yang sendirian di rumah semenjak kepergian ayah dua bulan yang lalu, aku tak bisa membuatnya semakin khawatir saat aku tak berada di sisinya. 

  Bertepatan memasuki tahun pertama kuliah, selain di sibukkan dengan berbagai tugas dari para dosen, ada satu hal yang menarik perhatianku,  entah dari kapan aku merasa seperti di perhatikan oleh seseorang, sampai akhirnya waktu itu tiba, seseorang itu menampakkan wujudnya tepat di kala aku kesusahan mengerjakan beberapa tugas matematika yang tidak aku sukai, yah aku memang sengaja mengambil jurusan kimia analisis, berharap suatu saat aku bisa bekerja di bidang kesehatan, aku suka sekali menghitung tapi tidak dengan matematika, aneh bukan?  

 Lelaki itu mendekati tempat dimana aku berada, di sebuah kelas yang sepi sebab beberapa menit yang lalu, kelas sudah selesai, menyisakan diriku dengan setumpuk tugas, ah iya aku malas untuk beranjak dari kursi yang kini ku tempati. 

 " Butuh bantuan? " Tanyanya setelah dia duduk di sampingku, aku kaget bukan main

 " Astaga, kakak mau bikin jantungku copot yah? pergi sana, aku lagi sibuk, jangan ganggu! " Ketusku kesal dengan kehadirannya yang mendadak semakin membuatku jengah

 " Jangan galak-galak gitu dong, nanti cantiknya hilang loh " Godanya lagi dengan senyum mengejek, aku mendengus kesal 

 " Biarin!, pergi sana Hus Hus " Aku melambaikan tangan mencoba mengusirnya dengan sebuah gerakan, namun bukannya pergi ia malah semakin merapatkan posisinya kearahku

" Jangan deket-deket napa sih " Ketusku kembali 

" Sini biar aku bantu, kayaknya kamu kesulitan " Matanya memperhatikan soal di buku yang sedang ku pegang, yang sedari tadi hanya ada coretan angka dan beberapa rumus yang tidak menghasilkan sebuah hasil yang memuaskan. Dan alhasil dia mengetahui itu 

 " Memangnya kakak bisa?! " Sungutku tak percaya 

" Lihat aja nanti " Dengan senyum penuh kesombongan, aku pun memutar bola mataku malas 

" Gak percaya! " Selidikku,  sesaat dia kembali menatapku dengan ekspresi yang sulit ku artikan sebagai apa

" Kalo aku bisa, kamu mau jadi kekasihku? " Ia bertanya dengan tangan yang sedang memainkan bolpoinku, aku mencoba menghiraukannya 

" Karna kamu diam aku anggap kamu setuju " Masih dengan angkuhnya ia berbicara, dengan senyuman yang berbeda, binar matanya sangat nampak indah bila di lihat dalam jarak dekat. 

" Buktiin aja dulu jangan banyak bacot " Tantangku yang malah di angguki dengan cepat olehnya, sesaat aku merasa was-was. 

" Lihat, aku sudah menyelesaikan dengan benar " ujarnya seraya menampilkan seringai kecil, membuat aku sedikit gelisah mendengarnya

" Masa sih," aku mengelak, memperhatikan soal tersebut, mataku terbelalak lebar, 'bagaimana dia bisa melakukan ini?' batinku, aku menatap kearahnya dengan menyipitkan mataku

" Kembali pada perjanjian awal, seperti yang aku bilang tadi, mulai hari ini kau adalah kekasihku, dan satu lagi ,kau tak berhak menolak!" Titahnya seolah ini hal lucu yang patut di permainkan, bagaimana bisa dia berbicara seenaknya seperti itu, tanpa bertanya pada hatiku, ah apa benar semua lelaki memang selalu suka memaksa? 

" Tidak bisa begitu, kau seenaknya. Tidak, aku tidak mau!" Ketusku menolak 

" Kau harus mau!" Tatapannya tajam dengan aura yang dingin membuatku merasa takut

" Terserah kau saja " ujarku seraya membereskan buku-buku yang berserakan, lalu segera bergegas pulang 

" Kau mau pulang? Aku antar oke?! " 

" Hmm " ujarku seraya mengikuti ia yang berjalan di sampingku dengan menggenggam tanganku

***

" Terimakasih sudah merepotkanmu " ujarku seraya turun dari mobil jazz putihnya

" Mulai besok aku akan selalu mengantar dan jemputmu ok " tawaran yang menggiurkan bagi kaum hawa yang tergila-gila dengannya, tapi tidak denganku 

" Tidak usah, aku bisa sendiri " ujarku dengan tatapan datar, aku muak jika harus di atur-atur oleh orang asing, yah dia adalah orang yang telah aku kenal selama dua pekan akhir ini

" Jangan menolakku sayang " ujarnya sembari tersenyum devil, akupun mengangguk tanda mengiyakan.

 Semenjak hari itu, ia selalu menemaniku, pulang pergi ia selalu setia mengantar, padahal aku tidak punya rasa sedikitpun pada kakak tingkatku itu, raven adalah mahasiswa semester delapan berbeda denganku yang masih semester dua, dia adalah laki-laki yang sangat Populer di kampus, banyak yang mengidolakannya namun sayang, dia termasuk pemilih dalam urusan perempuan.

 Raven termasuk cuek dengan kebanyakan perempuan di kampus, kecerdasan dan ketampanan wajah yang tidak bisa di tandingi oleh siapapun itu membuat setiap kaum hawa berdecak kagum hanya dalam melihatnya sesaat, warna kulit putih pucat dengan matanya yang berwarna biru terang, sorot tatapan mata yang tajam, dengan Surai keemasannya, di tambah dengan lesung pipi menambah kesempurnaan yang di milikinya,  membuat aku sedikit goyah.dia sangat sempurna, namun entah mengapa dalam hatiku tetap saja dia yang tersimpan.

 Awalnya aku tidak menyangka raven menyukaiku dan mengejarku secara terang-terangan, meski aku sudah menolak, ia bersih kukuh memaksa.

 Dan sekarang aku telah menjadi kekasihnya, sesuatu yang selalu aku harapkan meski bukan dia orang yang aku inginkan, ku rasa semesta tak pernah adil dalam urusan asmara, bagaimana tidak? Ia memisahkan dua insan yang saling menyukai dan menyatukan dua insan tanpa perasaan lebih dari cinta, ah hidup lagi-lagi tak selalu indah sesuai ekspektasi.

 Sudah dua bulan lamanya kami menjalani kehidupan layaknya sepasang kekasih, namun aku tidak menganggap seperti itu, dan sebelum kabar tidak baik berasal dari bundaku,tepat pada pertemuan malam hari, bunda memberitahu niat baiknya untuk menikah kembali dengan pilihannya, aku sedikit kaget dan tak terima mendengar itu, apalagi ketika aku tau siapa yang akan menjadi saudara sambungku, namun aku tak peduli dengannya, lalu aku merestui hubungan bunda dan om Irfan.

 Berawal dari situ semuanya terasa menjadi berbeda.

" Aku akan membuatmu menyesal " 

* Flashback off *

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED