Bab 2

Dengan canggung Izumi mencari asal suara yang memanggilnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya seraya tersenyum lebar. Di samping wanita itu berdiri seorang pria yang seusia dengan ayahnya. Entah mengapa dada pemuda itu tiba-tiba terasa sesak, bukan karena rindu, bukan. Namun lebih pada perasaan marah. Ingin rasanya dia berpaling dan mengabaikan panggilan wanita itu. Namun lagi-lagi bayangan ayahnya muncul seakan menariknya maju untuk mendekat. Jarak mereka hanya terpaut sekian meter. Namun Izumi merasa kedua kakinya terasa begitu berat ketika melangkah. Seolah ada beban yang menahannya untuk bergerak.

"Selamat datang, Haruki-kun." Wanita itu memeluk Izumi dengan erat. Namun pemuda itu tetap bergeming. Perasaan asing itu belum sepenuhnya hilang. "Ayo kita pulang, kau pasti lelah setelah perjalanan panjang ini." Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Izumi dengan senyuman. "Sayang, bisa kau bantu membawakan kopernya?" ujarnya pada pria di sampingnya.

"Tentu."

Tanpa perlu diminta lagi, pria itu mengambil alih koper yang dibawa Izumi dan membawanya keluar dari bandara. Sepanjang perjalanan dari bandara Izumi hanya diam tanpa suara. Wanita itu tampaknya menyadari kecanggungan di antara mereka sehingga tak lagi berkata apa-apa dan membiarkan Izumi tenggelam dalam pikirannya. Sekitar empat puluh lima menit berkendara, mobil hitam itu mulai memperlambat lajunya dan akhirnya berhenti. Mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan bersama menuju ke dalam. Izumi memandang sekelilingnya. Halamannya begitu luas dan rapi ditutupi oleh rumput hijau yang sudah dipotong. Sekitar sepertiga dari luas halaman itu ditanami dengan bunga kamelia jepang—tsubaki. "Ibumu suka dengan bunga itu. Namanya sendiri memiliki arti 'kamelia', bukan?" ujar pria itu ketika melihat pandangan Izumi tertuju pada petak kamelia yang sedang bermekaran. Izumi hanya menanggapinya dengan senyuman canggung dan kembali melangkah.

"Okaerinasai, Otou-san, Mama," sambut seorang anak laki-laki begitu mereka tiba di dalam. "Ah, ini pasti Haruki Aniki, bukan?" Pandangannya beralih menatap Izumi. Izumi merasa sedikit tak nyaman begitu anak laki-laki memanggilnya dengan sebutan "Aniki".

"Konnichiwa," ujar Izumi.

Anak laki-laki itu tertawa renyah. "Tak perlu formal seperti itu, umur kita hanya selisih setengah tahun. Aku Ryuzaki, panggil saja Ryu." Dia menjabat tangan Izumi dengan ramah.

"Ryu-kun, antarkan kakakmu ke kamarnya, ya. Dia butuh istirahat."

"Baik," balas laki-laki yang dipanggil Ryu itu.

"Ayo Kak, akan kutunjukkan kamarmu di mana," ujarnya pada Izumi.

"Istirahatlah dulu, akan Mama siapkan makanan untukmu," ujar wanita itu pada Izumi.

Izumi mengangguk pelan dan ucapan terima kasih yang kaku akhirnya terucap dari bibirnya. Izumi mengikuti langkah Ryu menaiki tangga menuju kamar barunya. "Aku bisa membawanya sendiri," ujar Izumi ketika melihat Ryu kesulitan membawa kopernya menaiki tangga.

"Tak apa, biar aku saja," tolak pemuda itu.

"Kalau begitu terima kasih banyak, Ryuzaki-kun," balas Izumi yang disusul dengan anggukan dari Ryu.

"Kamarmu di sini, selamat beristirahat," ujar Ryu pada Izumi.

Setelah meletakkan koper Izumi di sudut ruangan, pemuda itu pun keluar meninggalkan Izumi sendirian. Izumi merebahkan badannya di atas kasur. Sementara pandangannya bergerak menatap sekeliling kamar barunya yang didominasi warna biru. Tiba-tiba saja dia merindukan kamarnya yang di Amerika. Tempat baru ini terasa benar-benar asing baginya. Bahkan wajah penuh senyum dari wanita yang melahirkannya itu terlihat begitu asing di matanya. "Aku tidak tahu bagaimana kedepannya. Tapi setidaknya Otou-san, aku sudah berusaha untuk menepati permintaanmu," gumam Izumi. Pemuda itu memejamkan kedua matanya dan tak lama kemudian dia terlelap dalam mimpinya.

Nakagawa Tsubaki, ibu Izumi mengetuk pintu kamar pemuda itu dua kali. Namun tetap tak ada balasan dari dari dalam. Apa dia tertidur? pikir Tsubaki. Wanita itu lantas membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Benar saja begitu tiba di dalam dia mendapati putranya tengah tertidur begitu nyenyak hingga tak menyadari kehadirannya. Tsubaki meletakkan nampan berisi makanan yang dibawanya di atas meja. Dia kemudian berjalan menghampiri Izumi yang masih tertidur. Dengan hati-hati agar tak membangunkan putranya, Tsubaki mendudukkan diri di samping Izumi. Iris lavendernya menelusuri setiap inci wajah Izumi yang terlelap. Semakin lama Tsubaki merasa putranya semakin mirip bahkan sangat mirip dengan orang itu. Keduanya memiliki bentuk hidung dan bibir tipis yang selalu terlihat merah alami yang persis sama. Antara ragu dan rindu Tsubaki mengusap pipi Izumi dengan lembut. Hampir saja tangis wanita itu meledak. Putra kecilnya kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Meskipun penyesalan masih menggelayut di dadanya. Namun dia merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan putranya.

Izumi terbangun dari tidurnya begitu merasakan sentuhan seseorang di pipinya. Ditatapnya sosok yang ada di depannya dengan mata setengah terpejam. "Otou-san?" gumam Izumi yang belum sepenuhnya sadar.

Menyadari putranya terbangun, Tsubaki menarik tangannya yang masih berada di pipi pemuda itu. "Ah, maaf membuatmu terbangun. Mama membawakanmu makanan, makanlah! Kau pasti lapar setelah menempuh penerbangan panjang." Sambil berkata begitu Tsubaki beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Namun sebelum sempat menyentuh gagang pintu, suara Izumi menghentikannya.

"Kenapa...."

Tsubaki menoleh. "Eh?"

"Kenapa memintaku kembali? Setelah 10 tahun lebih Anda meninggalkan kami, Kenapa tiba-tiba memintaku kembali lagi. Sebenarnya apa yang Anda inginkan?" Izumi yang kini telah sepenuhnya terbangun, memandang Tsubaki dengan tajam.

"Kau sebaiknya makan dulu, setelah itu baru kita bicara lagi."

"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab saja pertanyaanku!" Tanpa sadar nada suara Izumi menjadi meninggi hingga cukup membuat Tsubaki terkejut.

"Haruki-kun." Tsubaki memanggil putranya dengan lembut. Wanita itu melangkah mendekati Izumi, begitu jarak mereka hanya terpaut satu lengan, Tsubaki memeluk pemuda itu dengan erat. "Maaf. Kau pasti merasa ini tak adil. Tapi Mama benar-benar ingin bertemu denganmu. Kau boleh saja membenciku, tapi tolong jangan pergi lagi. Tetaplah di sini, di samping Mama." Izumi tak bereaksi sedikitpun sampai akhirnya Tsubaki melepaskan pelukannya. Sekilas iris obsidiannya melihat ada kristal bening yang membayang di kedua iris lavender milik ibunya. "Kapanpun kau siap, Mama akan menjelaskan semuanya dari awal. Aku tak berharap kau akan langsung memaafkan Mama, tapi Mama akan berusaha untuk memperbaiki ikatan ini." Suara Tsubaki terdengar sedikit bergetar begitu menyelesaikan kalimat panjangnya. Melihat Izumi yang tak kunjung mengucapkan kata sepatahpun, wanita itu memakluminya. Dia kembali berbalik menuju pintu keluar, memberikan ruang dan waktu bagi pemuda itu untuk menenangkan diri.

"Izumi." Tsubaki menoleh mendengar suara lirih putranya. "Mereka memanggilku Izumi sekarang, bukan Haruki lagi," ujar Izumi datar.

"Ah begitu rupanya," ujar Tsubaki. Sebelum keluar wanita itu kembali melemparkan senyuman kepada Izumi. Berharap putranya akan membalas dengan hal yang serupa. Namun Izumi tak bereaksi sedikitpun, pemuda itu masih tetap memasang wajah datarnya bahkan hingga dirinya menghilang di balik pintu. Tsubaki menutup pintu kamar Izumi dengan pelan. Dia menghela napas panjang bersamaan dengan tertutupnya pintu coklat itu. Begitu berbalik Tsubaki dikagetkan dengan kehadiran Ryu yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamarnya yang berseberangan dengan kamar Izumi.

"Mama," panggil Ryu.

"Ryu-kun, apa kau lapar? Biar Mama siapkan makanan. Kau tak perlu turun, nanti Mama antarkan ke atas. Tunggu sebentar ya." Tsubaki mengalihkan pandangan menghindari tatapan putra keduanya.

"Mama baik-baik saja? Aku tadi sempat mendengar—"

"Mama baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir," balas Tsubaki memotong ucapan Ryu. Wanita itu tersenyum pada Ryu dan berjalan menuruni tangga.

Ryu menatap punggung ibunya yang bergerak semakin menjauh. Meskipun banyak hal dalam benaknya yang ingin dia katakan. Namun Ryu menahannya. Pemuda itu sadar dia tak bisa ikut campur dalam hubungan antara ibu dan anak tersebut. Biarkan saja keduanya menyelesaikannya dengan cara mereka masing-masing. Ryu menatap sekilas ke arah pintu kamar kakak barunya sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya.

Setelah ibunya keluar, Izumi bangkit dari kasurnya lalu melangkah menuju jendela. Disibaknya tirai coklat itu dengan pelan. Seketika sinar matahari masuk menerangi kamarnya. Langit Jepang pagi itu tampak begitu biru dan cerah. Dari balik jendela Izumi bisa melihat pohon sakura yang sedang bermekaran di jalanan depan rumah milik keluarga Nakagawa. Tanda bahwa musim semi telah tiba. Sakura, kupikir aku tak akan melihatnya lagi dari tempat ini, batin Izumi.

Puas melihat pemandangan di luar, Izumi kembali melangkah menuju tempat tidurnya. Awalnya dia ingin kembali merebahkan diri. Namun niatnya diurungkan ketika melihat makanan yang dibawakan oleh Tsubaki sebelumnya. Semangkuk nasi dan sup miso, chicken katsu, natto, potongan ikan makarel panggang, serta salad sayur segar tiba-tiba mengundang selera makannya. Hari itu untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, indra pengecap Izumi kembali merasakan masakan jepang. Terbiasa dengan masakan barat selama tinggal di Amerika membuat rasa makanan itu sedikit asing di lidahnya, terutama natto. Padahal dulu seingatnya dia tak keberatan untuk memakannya. Namun kali ini setelah satu gigitan Izumi memutuskan untuk menyerah menghabiskan makanan yang terbuat dari kedelai dan bertekstur lengket itu.

Selesai makan dan membersihkan diri, Izumi keluar dari kamarnya sambil membawa nampan alat makannya. Sampai di ujung tangga pemuda itu berhenti sejenak, bingung di mana arah dapur yang akan dituju untuk mengembalikan peralatan kotor itu. Habisnya rumah itu begitu luas dan tempat yang baru Izumi lewati hanyalah ruang depan dan tangga yang menuju ke lantai dua. Di tengah kebingungannya tiba-tiba dia berpapasan dengan Tsubaki, ibunya.

Wanita itu sedikit terkejut melihat putranya berdiri sendirian di ujung tangga dengan kedua tangan yang memegang nampan yang dia bawa sebelumnya. "Haru—maksud Mama, Izumi-kun! Kau tak perlu repot-repot membawanya turun. Harusnya kau tunggu saja Mama mengambilnya ke atas," ujar Tsubaki. Dia segera mengambil alih nampan itu dari tangan Izumi. "Bagaimana makanannya? Apa sesuai dengan seleramu? Maaf, harusnya Mama memasak sesuatu yang lain," lanjut Tsubaki.

"Daijoubu," balas Izumi singkat lalu terdiam antara enggan atau bingung untuk mengatakan sesuatu yang lain sesudahnya.

"Ah, benar juga. Ryu-kun berada di halaman depan. Kau bisa mengobrol dengannya. Mama rasa Ryu-kun tak akan keberatan mengajakmu mengenal lingkungan sekitar sini," ujar Tsubaki pada Izumi yang masih terdiam.

Pemuda itu menoleh sebentar ke arah Tsubaki dan mengangguk. Setelah itu tanpa mengatakan apa-apa dia melangkah menuju pintu depan. Tsubaki menghela napas pelan tanpa melepaskan pandangan dari punggung putranya yang kini berjalan menjauhinya. Sepertinya ini akan menjadi sedikit sulit. Tapi aku tak ingin kehilangannya lagi. Sepuluh tahun tak menyaksikannya tumbuh, bagiku sungguh sangat menyakitkan, batin Tsubaki lalu berbalik menuju dapur untuk menaruh cuciannya.

Bab 3

Sejuknya udara musim semi menyambut Izumi begitu pemuda itu membuka pintu depan. Di halaman sosok pemuda yang dia kenali sebagai Ryu tampak sedang asyik bermain dengan seekor anjing berwarna coklat. Dengan sedikit canggung Izumi melangkah menghampiri Ryu dan anjingnya. Begitu melihat Izumi, anjing itu berlari ke arahnya lalu mengendus kaki pemuda itu dengan antusias. "Sepertinya Kuma menyukaimu, Kak. Biasanya dia tak seramah ini pada orang yang baru dilihatnya," komentar Ryu.

"Jadi namamu Kuma, ya?" ujar Izumi sembari berjongkok lalu mengelus kepala Kuma. Anjing coklat itu menjulurkan lidah sambil mengibaskan ekornya dengan girang. Ryu yang melihat interaksi antara Izumi dengan Kuma tersenyum tipis.

"Mau ikut mengajaknya jalan-jalan?" tawar Ryu yang dibalas oleh anggukan singkat dari Izumi.

Suasana kawasan perumahan tempat tinggal Keluarga Nakagawa tampak begitu lengang pagi itu. Selagi berjalan Izumi melihat sekelilingnya dengan seksama. Rumah-rumah yang berderet di tepi jalan itu terlihat begitu mewah, jelas sekali kalau daerah itu adalah termasuk kawasan perumahan elit.

"Apa di Amerika juga ada bunga sakura?" tanya Ryu selagi mereka berjalan.

Izumi mengangguk. "Un. Tapi tidak sebanyak di sini," jawab Izumi. Ingatannya tiba-tiba memutar kenangan ketika dia dan ayahnya mengunjungi Botanic Garden di New York saat musim semi setahun yang lalu. Musim semi terakhir Izumi bersama sang ayah, Yoshino Takumi. "Izumi, kau tahu. Setiap kali melihat sakura di sini, Tou-san berharap agar suatu saat nanti kita bisa melihat sakura langsung di Jepang. Tou-san pikir sakura di sana lebih indah daripada yang di sini." Ucapan Yoshino Takumi kembali terngiang di telinga Izumi, membuat pemuda itu tersenyum pahit. Apanya yang beda, sakura di mana-mana terlihat sama. Tou-san, batin Izumi.

"Kak, kau baik-baik saja?" tanya Ryu yang menyadari perubahan ekspresi Izumi.

"Eh? Ah, ya. Aku tak apa," balas Izumi yang tersadarkan dari lamunannya karena pertanyaan Ryu.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit Ryu mengajak Izumi berhenti di area taman. Taman itu terlihat begitu asri. Banyak pohon sakura yang tengah bermekaran tumbuh di tempat itu.

"Kuma suka bermain di tempat ini. Bukan begitu, Kuma?"

Kuma membalas pertanyaan tuannya dengan gonggongan sebagai tanda setuju. Lalu tanpa diduga anjing itu tiba-tiba berlari kencang, membuat Ryu yang memegang tali kekangnya sedikit terseret mengikuti langkahnya. "Chotto! Jangan tiba-tiba lari seperti ini!" protes Ryu. Namun anjing itu tak menghiraukannya dan malah terus berlari dengan semangat. "Gomen, Kak! Akan kutunggu di depan sana!" teriak Ryu pada Izumi yang tertinggal beberapa langkah di belakang.

Kepala Izumi refleks mengangguk meskipun Ryu tak melihatnya. Pemuda itu kemudian meneruskan langkahnya menyusul Ryu dan Kuma yang kini mulai tak terlihat dari pandangan. Di tengah perjalanan tiba-tiba alunan musik biola sayup-sayup tertangkap oleh indra pendengaran Izumi. Pemuda itu menghentikan langkahnya. Beberapa meter di sebelah kanannya sosok gadis berambut silver yang berdiri membelakangi Izumi tengah memainkan biolanya dengan khidmat. Berlatarkan langit biru tanpa awan, pohon sakura yang bermekaran, ditambah dengan semilir angin yang menggugurkan beberapa kelopak sakura menimpa kepala sang gadis membuat Izumi terkesima melihat sosoknya. Tanpa Izumi sadari kedua kakinya kini bergerak sendiri, membawanya mendekat ke arah gadis itu.

Seakan sadar akan kehadiran Izumi, gadis itu menghentikan permainan biolanya dan berbalik menghadapnya. Pandangan mereka beradu beberapa detik sebelum akhirnya gadis itu membawa langkahnya mendekat ke arah Izumi. "Ada sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya gadis itu dengan ramah. Dia tersenyum hingga membuat kedua matanya menyipit.

"Ah t-tidak," balas Izumi. "Aku hanya tertarik karena mendengar permainan biolamu. Kau memainkan lagunya dengan baik. Aku suka," tambah Izumi yang sesaat kemudian merasa malu sendiri mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Bodoh! Bodoh! Izumi bodoh! Sejak kapan kau jadi banyak bicara begini? Terlebih kalimat tadi 'aku suka'? dalam hati Izumi kembali merutuk dirinya sendiri. Dengan sedikit ragu dia menatap gadis itu untuk melihat reaksinya. Di luar dugaan gadis itu tersenyum tipis. Sementara rona merah terlihat jelas di kedua pipi putihnya membuat gadis itu terlihat begitu imut di mata Izumi.

"A-arigatou," ucap gadis itu sedikit tersipu. Keduanya lalu sama-sama terdiam membiarkan hanya suara angin memecahkan keheningan di antara mereka. Hal itu berlangsung beberapa saat hingga akhirnya sebuah suara lain mengalihkan perhatian mereka berdua.

"Ternyata masih di sini."

Baik Izumi dan gadis itu sama-sama menoleh. Ternyata Ryu yang kembali mencari Izumi ke tempat semula karena beranggapan pemuda itu tersesat setelah tak kunjung menyusul dirinya. Wajah Ryu terlihat sedikit basah karena peluh, mungkin Kuma membuatnya berlari terlalu jauh. Iris Ryu lalu tertuju pada sosok lain yang berdiri di dekat Izumi. Sedetik kemudian ekspresinya terlihat sedikit heran. "Fujihara?" ucapnya lalu melemparkan pandangan ke arah Izumi untuk bertanya lebih lanjut. "Kakak mengenalnya?"

Izumi menggeleng pelan. Iris obsidiannya kembali menatap gadis itu dan Ryu secara bergantian. "Ryuzaki-kun no tomodachi—temannya Ryuzaki-kun?"

Ryu dan gadis itu mengangguk serempak. "Nakagawa-kun dan aku teman sekelas di sekolah kami. Aku Fujihara Yuki. Salam kenal eto … —" Fujihara Yuki menatap Izumi dengan tatapan seolah mengatakan 'tolong beritahu aku namamu'.

"Izumi. Yoroshiku ne Fujihara-san," ujar Izumi balas memperkenalkan diri.

Ryu yang mendengar Izumi menyebutkan namanya mengerutkan kening. Sedikit bingung dengan nama itu. Izumi? Lalu Haruki siapa? batin Ryu bertanya-tanya. Dia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Sejak 'kakak' barunya itu tiba di rumah mereka sampai detik ini dia memanggilnya Haruki, sesuai dengan nama yang diberitahu oleh ibunya. Dan lagipula sejak tadi pemuda itu tak terlihat keberatan ketika Ryu memanggilnya Haruki. Tetapi mengapa kali ini dia memperkenalkan diri dengan nama lain? Meskipun penasaran pada akhirnya Ryu memilih untuk diam.

"Aku baru tahu kalau Nakagawa-kun punya kakak," celetuk Yuki saat mereka bertiga keluar bersama dari area taman. Izumi terdiam sedangkan Ryu melirik sekilas ke arah Izumi sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menanggapi ucapan Yuki.

"Itu karena Izumi Nii-san sejak usia delapan tahun tinggal di Amerika dan baru kembali ke Jepang hari ini. Jadi tak banyak yang tahu kalau kami bersaudara," terang Ryu. Aku tidak salah bicara, kan? Kenyataannya memang seperti itu, lanjut Ryu dalam hati.

"Jadi begitu ya. Tapi sedikit mengejutkan ternyata Bahasa Jepang Izumi-san masih lancar untuk ukuran orang yang tinggal lama di luar negeri," ujar Yuki. Sedikit rasa kagum terpancar dari kedua irisnya ketika mengatakan kalimat tersebut.

Ryu terdiam. Seperti memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan hal yang ada dalam kepalanya. Namun sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, Izumi sudah lebih dulu buka suara. Meskipun pada akhirnya kalimat pemuda itu disela tiba-tiba oleh Yuki.

"Aku—"

"Ah, busnya sudah tiba! Nakagawa-kun, Izumi-san, aku duluan ya. Aku tak ingin terlambat ke tempat kerjaku. Sampai jumpa!"

Yuki melambai sekilas kepada dua pemuda itu sebelum akhirnya kaki jenjangnya berlari kecil menuju halte. Ryu membalas lambaian tangan gadis itu, sedangkan Izumi hanya berdiri dalam diam menatap helaian rambut silver Yuki yang bergerak mengikuti irama langkahnya. Saat sosok gadis itu masuk ke dalam bus dan tak terlihat dalam pandangannya entah mengapa Izumi merasa hatinya sedikit nyeri. Seolah dia baru saja kehilangan hal yang penting baginya. Perasaan aneh apa ini? batin Izumi.

Setelah Yuki pergi, Izumi dan Ryu kembali meneruskan langkah mereka. Sembari menuntun Kuma di sampingnya, sesekali Ryu melirik ke arah Izumi. Wajah pemuda itu terlihat datar tanpa ekspresi. Namun sorot yang terpancar dari kedua matanya terlihat sedikit sendu. Seolah ada sesuatu yang mengganggunya di sana.

"Ano … Haruki Nii-san—eh maksudku Izumi Nii-san?" panggil Ryu ragu. Izumi tak menjawab. Namun juga tak mengabaikan panggilan Ryu. Dia menoleh sebentar—memberi isyarat agar Ryu meneruskan ucapannya. Setelah itu Izumi kembali mengarahkan pandangannya pada jalan di depan mereka. "Maaf, kalau ucapanku pada Fujihara tadi menyinggung Kakak. Aku—"

"Daijoubu," sela Izumi. "Lagipula Ryuzaki-kun apa yang kau katakan tadi tidak sepenuhnya salah," lanjut Izumi.

"Souka yokatta," balas Ryu.

"Ne Nii-san, Mama … bagaimana hubungan kalian?" tanya Ryu tiba-tiba ketika dia dan Izumi kini sudah hampir tiba di rumah. Pintu gerbang kediaman Keluarga Nakagawa kini hanya berjarak kurang dari satu meter. Ryu menghentikan langkahnya begitupun dengan Izumi. Pertanyaan Ryu sepertinya membuatnya sedikit terkejut. Pandangannya yang sedari tadi tertuju ke arah jalanan kini beralih menatap Ryu.

"Itu kurasa tak ada kaitannya denganmu. Ne, Ryuzaki-kun."

Ryu tersentak. Baik nada suara maupun pandangan Izumi kepadanya kali ini sama-sama dingin. "Aku tahu itu tak ada hubungannya denganku. Tapi aku hanya ingin Kakak tahu, Mama selama ini begitu merindukanmu. Dia sangat ingin bertemu denganmu!" jelas Ryu. Ah, kenapa aku mengatakan hal ini? Padahal sebelumnya aku sudah bilang pada diriku untuk tidak mencampuri urusan mereka berdua.

"Apa wanita itu memintamu untuk mengatakan hal ini padaku?"

"Apa—"

"Lagipula untuk apa dia merindukan orang yang sudah dia telantarkan bertahun-tahun yang lalu," lanjut Izumi. Kali ini nada suaranya terdengar datar namun sorot mata pemuda itu belum berubah.

Ryu yang mendengar ucapan Izumi mendadak merasa marah. Dia kesal dengan cara Izumi memanggil ibunya sendiri dengan sebutan 'wanita itu'. Terkesan seperti pemuda itu tak menaruh rasa hormat pada sosok yang telah membawanya ke dunia ini. "Kakak tak mengerti! Mama, dia … selalu memikirkanmu selama ini. Dia benar-benar ingin bertemu denganmu," ujar Ryu.

"Ingin bertemu denganku, untuk apa? Hanya untuk memamerkan padaku kalau dia bahagia dengan kalian—keluarga barunya?" balas Izumi sinis membuat Ryu terkejut karena ucapannya. Ryu mengepalkan tangannya tanpa sadar. Dia tahu ini salahnya karena salah memilih topik pembicaraan. Namun Ryu tak pernah menyangka Izumi akan mengatakan hal-hal seperti itu. Karena Ryu tak kunjung mengatakan apapun, Izumi kembali meneruskan langkahnya. Mendahului Ryu yang kini berdiri kaku di tempatnya dengan segenap emosi yang terpancar dari kedua iris hazelnya. Ketika tangannya baru menyentuh gerbang besi itu Izumi menoleh ke belakang. Bibirnya bergerak tanpa suara. Setelah itu tanpa memedulikan Ryu yang menangkap ucapannya atau tidak, Izumi melangkah masuk ke dalam rumah.

Setelah mengucap 'tadaima' dengan nada lirih, Izumi melangkah masuk. Ketika melewati ruang tengah yang menghubungkan tangga dengan lantai dua, Izumi melangkah cepat tanpa menimbulkan suara. Sengaja dia melakukannya karena tak ingin bertemu dengan penghuni rumah itu saat ini. Sampai di dalam kamarnya Izumi langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Iris obsidiannya menerawang jauh ke luar jendela. Sementara benaknya sedikit mengulang perdebatan kecilnya dengan Ryu beberapa saat yang lalu. Sedikit rasa bersalah muncul dalam diri Izumi yang kemudian tergantikan oleh rasa tidak suka. Dia tidak suka ketika orang lain bertanya-tanya atau mengatakan hal-hal yang berhubungan dengan dia dan ibunya.

Sementara itu Ryu yang masih belum beranjak dari tempatnya, tersadarkan oleh Kuma yang berdiri menjulurkan badannya dengan menggunakan kedua kaki depannya untuk bertumpu pada kaki Ryu. Kuma mendongak menatap Ryu seakan bertanya apakah tuannya baik-baik saja. Ryu yang melihat tingkah anjingnya menghela napas pelan lalu mengelus bagian bawah leher Kuma. "Gomene Kuma, aku dari tadi mengabaikanmu. Ayo, kita pulang sekarang," ujar Ryu. Selagi berjalan pulang, Ryu mengingat kembali kalimat yang Izumi tujukan kepadanya tadi sebelum pemuda itu membuka gerbang.

"Jangan terlalu ikut campur pada hal-hal yang bukan urusanmu, Ryuzaki-kun."

Ryu menggeleng pelan. Helaan napas berat kembali keluar dari bibirnya. Ia mendongak sebentar menatap langit biru yang entah sejak kapan mulai tertutupi oleh gumpalan awan cumulus. Ya, kau harus berhenti untuk melibatkan diri pada urusan orang lain, Ryuzaki, kata hati Ryu.

Setelah memastikan Kuma aman dalam kandangnya, Ryu lalu masuk ke dalam rumahnya. Sebelum naik ke kamarnya, Ryu menyempatkan diri ke dapur untuk mencari minuman guna menghilangkan rasa hausnya. Ketika memasuki dapur Ryu melihat ibunya di sana. Wanita itu tampaknya belum menyadari kehadiran Ryu karena posisinya membelakangi pintu dapur. "Mama sedang apa?"

Mendengar suara Ryu yang tiba-tiba muncul membuat Tsubaki memekik pelan karena kaget. Wanita itu mengalihkan fokusnya dari mangkuk berisi adonan kue yang dia aduk dan menoleh ke arah Ryu. "Ryu-kun, kau mengagetkan Mama. Lain kali jangan muncul tiba-tiba seperti itu," tegur Tsubaki.

"Gomen," balas Ryu.

Pemuda itu kemudian melangkah menuju kulkas dan membukanya. Sekaleng jus persik dingin kini berpindah dari dalam kulkas ke tangannya. Rasa haus yang sedari tadi dia rasakan menghilang dalam sekejap ketika cairan manis itu melewati tenggorokannya. Ryu meletakkan jusnya yang tersisa setengah lalu kembali mengamati ibunya yang kini tengah menuang adonan yang tadi diaduknya ke dalam loyang lalu memanggangnya dalam oven. Ah, rupanya wanita itu sedang membuat kue.

"Ryu-kun," panggil Tsubaki. Ia menghampiri Ryu lalu ikut duduk di kursi sebelah pemuda itu. "Habis keluar dengan Izumi-kun?" tanya Tsubaki yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Ryu. Mengetahui hal itu Tsubaki tersenyum tipis. Tangannya terulur mengusap punggung tangan Ryu dengan lembut. "Ryu-kun, akrablah dengan Izumi-kun, ya!"

"Baik," balas Ryu pelan. Iris hazelnya tertuju pada wajah ibunya yang masih menatapnya dengan senyum khasnya. Senyuman hangat yang selalu membuat Ryu merasa tenang. Dia dan Tsubaki memang tak mempunyai hubungan darah. Namun Ryu menyayangi wanita itu seperti ibunya sendiri. Kehadiran Tsubaki dalam Keluarga Nakagawa membawa kehangatan yang selama ini Ryu rindukan dari ibu kandungnya sendiri. Wanita itu meninggal ketika usianya baru beranjak dua tahun membuat Ryu tak mengingat banyak hal tentang ibu kandungnya. Hal yang paling dia ingat dari ibunya adalah senyumannya. Bagi Ryu senyum itu adalah warna pada dunianya. Sejak ibunya meninggal dunia Ryu kehilangan warnanya. Hingga pada akhirnya kedatangan Tsubaki di musim semi sepuluh tahun yang lalu sedikit demi sedikit mulai mengembalikan warna itu. Senyuman wanita itu mirip dengan senyum ibunya, seperti halnya yang terekam dalam memori Ryu.

"Ryu-kun?" Suara lembut Tsubaki menyadarkan Ryu yang tenggelam dalam lamunannya. "Kau tak apa-apa?" lanjut Tsubaki yang sedikit heran ketika melihat pandangan putra keduanya sesaat mendadak kosong. Yang ditanya mengangguk disusul dengan kalimat 'aku tak apa-apa' sebagai jawaban. Tsubaki tak menanyakan apa-apa lagi. Sebaliknya iris violetnya menatap Ryu dengan seksama, seakan memastikan kebenaran jawaban pemuda itu. "Kalau kau ada masalah, jangan sungkan untuk diutarakan. Mama selama ini menganggap Ryu-kun layaknya putra kandungku sendiri, seperti halnya Izumi-kun." Tsubaki menepuk puncak kepala Ryu dengan pelan lalu beranjak dari kursinya menuju oven untuk memeriksa progres kue yang sedang dipanggangnya.

"Arigatou Mama," ucap Ryu. Setelah menghabiskan jus persiknya, Ryu pamit pada Tsubaki untuk kembali ke kamarnya. Sampai di lantai dua dia berdiri sebentar di depan pintu kamar Izumi menimbang apakah dia harus mengetuk pintu itu atau tidak. Namun pada akhirnya Ryu mengurungkan niat dan berbalik melangkah menuju kamarnya sendiri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED