Raissa duduk di sofa ruang tamu yang tampak seperti singgasana raja, di lantai 38 sebuah gedung pencakar langit yang menjulang di pusat kota. Tangannya yang dingin menggenggam map cokelat lusuh berisi dokumen panti jompo-satu-satunya senjata yang dia miliki untuk melawan kekuasaan pria yang sebentar lagi akan ditemuinya. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena kagum pada kemewahan di sekitarnya, tetapi karena rasa takut yang mencengkeram setiap serat keberaniannya.
Dia menoleh ke jendela besar di ruangan itu. Dari sana, seluruh kota terlihat seperti miniatur yang tak berarti. Rasanya seolah dia hanyalah titik kecil di dunia Arkhan Alvaro, taipan muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan. Pria itu memiliki segalanya-uang, kekuasaan, dan kemampuan untuk menghancurkan hidup seseorang hanya dengan sekali tandatangan.
Pintu ruangan terbuka dengan bunyi halus. Raissa langsung menoleh. Pria itu masuk, mengenakan setelan jas hitam sempurna yang membingkai tubuh tegapnya. Wajah Arkhan tampak seperti pahatan dewa Yunani, dengan rahang tegas dan mata hitam yang memancarkan keangkuhan.
"Jadi, kau yang ingin bertemu denganku?" suara Arkhan rendah, tapi tajam seperti belati.
Raissa berdiri dengan lutut gemetar. Dia mencoba terlihat tegar, tetapi tangannya yang gemetar mengkhianatinya. "Ya, Tuan Arkhan. Nama saya Raissa Damaris. Saya ke sini untuk membicarakan panti jompo di Jalan Cendana."
Arkhan berjalan ke kursinya tanpa menghiraukan Raissa yang berdiri seperti patung di tengah ruangan. Dia duduk dengan santai, menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit mahal. "Oh, jadi kau datang untuk itu. Lalu, apa yang ingin kau katakan?"
Raissa menarik napas dalam-dalam. "Saya memohon, Tuan. Mohon jangan gusur panti itu. Tempat itu adalah rumah bagi banyak orang tua yang sudah tak memiliki apa-apa lagi. Jika panti itu hilang, mereka tidak akan punya tempat untuk pergi."
Arkhan mengangkat alisnya, seolah heran dengan permohonan itu. "Dan mengapa aku harus peduli? Kau tahu berapa banyak tempat yang telah kugusur selama ini? Aku tidak pernah menerima keluhan seperti ini."
"Tuan, ini bukan hanya soal lahan. Ini soal hidup orang-orang yang tak mampu melindungi diri mereka sendiri. Saya akan melakukan apa pun agar Anda mau mempertimbangkan ulang keputusan itu," Raissa berkata, suaranya bergetar.
Mendengar kata-kata itu, sebuah senyum kecil muncul di sudut bibir Arkhan. Namun, senyum itu bukan senyum hangat; itu adalah senyum seorang pemburu yang menemukan mangsanya.
"Apa pun, katamu?" Arkhan menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi, tatapannya kini penuh minat.
Raissa merasa ada yang salah dengan senyum itu, tetapi dia sudah terlalu terdesak untuk mundur. "Ya, Tuan. Apa pun."
Arkhan berdiri, langkahnya perlahan mendekati Raissa. Saat pria itu berdiri hanya beberapa inci darinya, Raissa bisa merasakan aura dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Kau mau menyerahkan apa pun? Bagaimana jika aku menginginkan... dirimu?" Arkhan berbicara pelan, tetapi setiap kata seperti bom yang meledak di kepala Raissa.
Raissa terdiam. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tetapi tak ada suara yang keluar. "Apa maksud Anda?"
Arkhan menyeringai. "Aku tidak ingin uangmu-jelas kau tidak punya itu. Aku tidak ingin janji kosong. Tapi kau... kau bisa menawarkan dirimu. Jadilah milikku, sepenuhnya, dan aku akan mempertimbangkan untuk menyelamatkan panti itu."
Kata-kata itu menusuk jantung Raissa. Dia merasa seperti ditelanjangi di hadapan pria itu, bukan secara fisik, tetapi secara emosional. Tawaran itu bukan hanya penghinaan, tetapi juga jebakan.
"Tuan Arkhan, ini tidak masuk akal. Saya... saya hanya meminta Anda untuk menunjukkan sedikit belas kasihan," katanya dengan suara yang hampir pecah.
"Belas kasihan?" Arkhan terkekeh, nadanya dingin dan tanpa emosi. "Kau salah tempat, Raissa. Aku tidak bekerja berdasarkan belas kasihan. Dunia ini adalah tempat di mana yang lemah akan dihancurkan. Jika kau ingin sesuatu dariku, kau harus memberikan sesuatu yang setara."
Raissa merasa air mata menggenang di matanya, tetapi dia menolaknya jatuh. Dia tidak ingin terlihat lebih lemah dari yang sudah dia rasakan. "Tuan Arkhan, Anda tidak bisa memaksa saya seperti ini."
Arkhan menyentuh dagunya dengan tangan yang kuat, memaksa Raissa menatapnya. "Aku tidak memaksamu. Aku hanya memberimu pilihan. Kau yang memutuskan."
Raissa merasakan darahnya mendidih. "Pilihan? Ini bukan pilihan! Ini adalah penyiksaan!"
Arkhan mengangkat bahu acuh tak acuh. "Sebutan apa pun yang kau suka. Tapi aku adalah pria yang selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Kau punya waktu 48 jam untuk memberiku jawaban."
Raissa tidak tahu bagaimana dia bisa berjalan keluar dari ruangan itu tanpa jatuh pingsan. Perasaannya campur aduk-marah, terluka, dan putus asa. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah dia membawa beban seluruh dunia di pundaknya.
Dia menatap kota yang gemerlap di luar gedung itu, tetapi tidak merasa kagum. Di dalam dirinya, perang besar sedang terjadi. Harga dirinya berkata untuk menolak tawaran Arkhan dan melawan sampai akhir, tetapi tanggung jawabnya terhadap panti dan para lansia yang tinggal di sana membuatnya tak bisa mengambil keputusan itu dengan mudah.
Di dalam mobil yang membawanya pulang, air mata yang dia tahan akhirnya jatuh. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan dirinya menangis dalam keheningan malam.
"Haruskah aku mengorbankan diriku demi mereka?" bisiknya pelan, tetapi tidak ada jawaban. Hanya suara hatinya yang terus bertarung, menimbulkan luka yang semakin dalam.
Malam itu, Raissa tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya mungkin terbaring di ranjang kecil di kamar apartemen sempitnya, tetapi pikirannya terus melayang pada percakapan yang terjadi di ruangan megah itu. Kata-kata Arkhan masih bergaung di telinganya seperti bisikan setan: "Aku ingin kau menjadi milikku."
Dia berusaha menepis pikiran itu, tetapi semakin dia mencoba melupakan, semakin kuat bayangan pria itu menguasai benaknya. Sorot mata tajam Arkhan, senyum sinisnya, dan cara dia berbicara seolah-olah dia memegang kendali penuh atas hidup Raissa-semuanya mengingatkan Raissa bahwa dia hanyalah pion kecil di permainan pria itu.
Kepalanya berdenyut karena terlalu banyak berpikir. Dia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur kecilnya. Dengan tangan gemetar, dia menuangkan segelas air dan meneguknya perlahan. Namun, air dingin itu tak mampu meredakan kekacauan di dalam hatinya.
"Bagaimana aku bisa sampai pada titik ini?" Raissa bergumam pelan, suara seraknya tenggelam dalam keheningan malam.
Di sudut meja dapur, ponselnya bergetar. Raissa meraih ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar: Reza.
Reza adalah sahabat Raissa sejak SMA, pria yang selalu menjadi pelindung dan penghiburnya di saat-saat sulit. Namun, kali ini Raissa ragu untuk menjawab. Dia tahu bahwa Reza tidak akan tinggal diam jika mengetahui apa yang baru saja terjadi. Tapi dia juga tahu, pria itu tidak bisa berbuat banyak untuk membantu.
"Raissa, jawab teleponku," suara Reza terdengar tegas ketika Raissa akhirnya menekan tombol hijau.
"Aku di sini, Reza," jawab Raissa lemah.
"Apa yang terjadi? Kau menghilang seharian. Aku datang ke panti, tapi mereka bilang kau pergi menemui pemilik lahan. Apa benar?"
Raissa terdiam. Dia tidak ingin menceritakan semuanya, tetapi dia tahu Reza terlalu cerdas untuk dibohongi. "Aku... ya, aku bertemu Arkhan Alvaro," akhirnya dia mengaku.
Reza terdiam sejenak sebelum mengumpat pelan. "Raissa, kenapa kau bertindak sejauh itu? Pria itu bukan orang yang bisa diajak bicara. Dia hanya peduli pada uang!"
"Aku tidak punya pilihan, Reza," kata Raissa lirih. "Aku tidak bisa membiarkan panti itu digusur. Kau tahu itu rumah bagi ibu dan orang-orang yang tak punya tempat lain."
Reza menghela napas panjang. "Dan apa yang dia katakan? Apa dia setuju membatalkan penggusuran?"
Raissa menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang kembali mengancam keluar. "Tidak. Dia... dia mengajukan syarat."
"Apa syaratnya?" tanya Reza cepat, suaranya penuh kecurigaan.
Raissa terdiam, tidak sanggup mengucapkannya. "Aku tidak bisa memberitahumu, Reza. Ini terlalu memalukan."
"Apa yang dia minta, Raissa?" Reza mendesak, suaranya naik satu oktaf. "Katakan padaku! Aku akan membantumu, apa pun itu."
"Tidak, Reza. Tidak ada yang bisa kau lakukan," kata Raissa tegas. Dia tidak ingin menyeret sahabatnya lebih jauh ke dalam kekacauan ini.
Raissa memutuskan panggilan itu, meskipun dia tahu tindakannya akan membuat Reza marah. Namun, dia tidak peduli. Saat ini, hanya ada dua pilihan di hadapannya: menerima syarat Arkhan atau mencari jalan lain yang tampaknya mustahil.
Keesokan paginya, Raissa duduk di sebuah bangku di taman dekat apartemennya. Dia mengamati burung-burung kecil yang hinggap di cabang pohon, mencoba mencari kedamaian dalam pemandangan sederhana itu. Namun, pikirannya kembali terusik ketika bayangan Arkhan muncul di benaknya.
"Kau terlihat kacau," sebuah suara menyadarkannya.
Raissa menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berdiri di depannya. Itu adalah Bu Nila, pengelola panti jompo. Wanita itu tampak lelah, tetapi senyumnya tetap lembut.
"Bu Nila," kata Raissa, mencoba tersenyum.
Bu Nila duduk di sebelahnya, meletakkan tangan di bahu Raissa. "Aku dengar kau menemui pemilik lahan itu. Apa kau berhasil meyakinkannya?"
Raissa tidak tahu bagaimana menjawab. Dia ingin berbohong, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi melihat mata penuh harap Bu Nila, dia tahu dia tidak bisa melakukannya.
"Aku belum berhasil, Bu," jawab Raissa akhirnya.
Bu Nila menghela napas panjang, tetapi dia tidak menunjukkan kemarahan. "Raissa, kau sudah berusaha. Tidak ada yang bisa menyalahkanmu."
"Tapi aku belum menyerah," kata Raissa tegas, meskipun di dalam hatinya, dia tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.
Bu Nila menepuk bahunya. "Kau adalah gadis yang kuat, Raissa. Tapi ingatlah, apa pun keputusan yang kau buat, kau harus tetap menjaga dirimu. Jangan biarkan dirimu dihancurkan oleh situasi ini."
Kata-kata itu menghantam Raissa seperti gelombang pasang. Dia tahu Bu Nila benar, tetapi bagaimana mungkin dia menjaga dirinya sendiri ketika hidup begitu banyak orang bergantung padanya?
Sore itu, Raissa akhirnya membuat keputusan. Dia kembali ke gedung Arkhan, meskipun hatinya terasa berat.
Saat dia masuk ke kantor pria itu, Arkhan sedang berdiri di depan jendela besar, memandang kota yang gemerlap di bawahnya. Tanpa menoleh, dia berkata, "Kau datang lebih cepat dari yang kuduga."
Raissa menggenggam tangannya erat-erat, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku... aku setuju."
Arkhan berbalik, senyum sinis muncul di wajahnya. "Bagus. Aku tahu kau akan membuat keputusan yang tepat."
"Tapi aku punya syarat," kata Raissa cepat, suaranya bergetar.
Arkhan mengangkat alisnya, tampak terhibur. "Oh? Kau pikir kau bisa menetapkan syarat untukku?"
"Aku hanya ingin kau berjanji bahwa kau akan menyelamatkan panti itu. Tidak ada kebohongan, tidak ada permainan," kata Raissa tegas, meskipun lututnya gemetar.
Arkhan mendekatinya perlahan, sampai jarak di antara mereka hanya beberapa inci. "Aku tidak pernah melanggar janjiku, Raissa. Tapi kau harus ingat, begitu kau menjadi milikku, tidak ada jalan keluar."
Raissa menelan ludah, tetapi dia tidak mundur. "Aku mengerti."
Arkhan tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara lembut yang penuh ancaman, "Kalau begitu, selamat datang di duniaku."
Setelah membuat keputusan itu, Raissa merasa seperti baru saja menginjak garis batas yang tak bisa kembali. Dia berjalan keluar dari kantor Arkhan, dengan napas yang tak teratur dan jantung yang hampir keluar dari dada. Matahari sore yang redup memantulkan bayangan panjangnya di jalanan kota. Tidak ada kelegaan, hanya kekosongan yang menjalari setiap inci tubuhnya.
Malam itu, Raissa kembali ke apartemennya, merasakan seolah-olah seluruh dunia berputar terlalu cepat. Tangannya menggenggam ponsel yang kini terasa sangat berat. Di layar ponselnya, wajah Bu Nila yang penuh kekhawatiran muncul. Raissa tahu, dia tidak bisa menghindar lebih lama lagi. Dia harus memberitahu Bu Nila bahwa panti itu aman, tapi harga yang dia bayar jauh lebih mahal dari sekadar kata-kata.
Pukul sepuluh malam, Raissa duduk di dapur sambil menatap piring kosong di depannya. Dulu, saat makan malam dengan ibunya, meja itu selalu penuh dengan makanan sederhana dan tawa. Kini, hanya ada kesunyian yang menekan dada, membungkam setiap keluhan, setiap pertanyaan yang ingin dia suarakan.
Ponselnya berbunyi, mengejutkan dirinya. Itu panggilan dari Arkhan. Rasa cemas mengalir seperti listrik melalui tubuhnya. Raissa meraih ponsel, menatap nama yang tertera. Dia menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab.
"Raissa." Suara Arkhan terdengar tanpa ekspresi, bahkan sedikit dingin. "Aku ingin bertemu denganmu malam ini. Di apartemenku."
"Kenapa? Apakah ada yang salah?" Raissa berusaha menahan nada paniknya.
"Tidak, hanya ingin berbicara. Kau tidak perlu khawatir. Datanglah, dan jangan terlambat."
Sebelum Raissa bisa menjawab, Arkhan sudah menutup telepon. Seluruh tubuhnya gemetar. Dia tahu, malam ini akan menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa dia prediksi. Malam itu, dia mengubah pakaian sederhana yang dia kenakan dengan gaun hitam sederhana, rambutnya yang kusut diikat rapi, dan dia berdiri di depan cermin, mencoba melihat dirinya yang baru, seseorang yang akan mengubah jalannya hidup orang lain dengan satu keputusan yang dia buat dalam ketakutan.
Raissa mengendarai mobilnya dengan tangan yang gemetar, setiap detik terasa lebih lama dari yang seharusnya. Jantungnya berdetak kencang, seperti suara yang menggetarkan dinding mobil. Setibanya di gedung Arkhan, dia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar. Gedung itu berdiri kokoh seperti peringatan bahwa dia hanya seorang manusia kecil di dunia pria itu, dan tidak ada ruang untuk melawan.
Lobi gedung itu luas, dengan lantai marmer mengkilap dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Suasana di sana tidak pernah berubah-selalu sama, tetapi malam ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Seorang petugas keamanan mengarahkan Raissa ke lift, tanpa berkata sepatah kata pun. Dia masuk, menekan tombol ke lantai 58, dan menunggu dengan hati yang semakin berdetak cepat.
Pintu lift terbuka, dan Raissa keluar, menatap pintu apartemen yang terletak di ujung lorong. Suara langkah kakinya menggema, seolah mengingatkannya bahwa dia sedang berjalan menuju takdir yang tak bisa diubah. Arkhan berdiri di pintu apartemen, mengenakan kaos hitam yang ketat dan celana jeans, jauh dari kesan formal yang biasa dia tunjukkan.
"Masuklah," katanya, suara lembut tetapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah.
Raissa melangkah masuk, merasakan hawa dingin yang menyelimuti ruangan luas itu. Apartemen itu tidak seperti yang dia bayangkan-tidak ada hiasan yang berlebihan, hanya barang-barang mewah yang terorganisir dengan sempurna. Arkhan menatapnya, matanya yang tajam memindai wajah Raissa seolah mencoba membaca setiap emosi yang tertulis di sana.
"Kau sudah membuat keputusan yang bijak," katanya, memecah keheningan.
Raissa menundukkan kepalanya, mencoba melawan dorongan untuk melarikan diri. "Apa yang Anda inginkan dari saya, Tuan?"
Arkhan tersenyum tipis, senyum yang membuat Raissa merinding. "Aku ingin memastikan bahwa kau mengerti apa artinya menjadi milikku. Ini bukan permainan, Raissa. Kau harus tahu bahwa semua yang kau lakukan sekarang, termasuk keputusannya, adalah bagian dari kesepakatan."
"Kesepakatan?" Raissa mengulang, mencoba memahami makna kata itu.
Arkhan mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah dari Raissa. "Kau akan tinggal di sini, bersamaku. Setiap gerakan, setiap perasaan, setiap napasmu akan menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak peduli apa yang kau rasakan, Raissa, karena di dunia ini, hanya ada aku dan dunia yang aku kendalikan."
Raissa mengangkat kepala, menatap Arkhan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tuan, saya tidak tahu apakah saya bisa melakukan ini. Saya-"
Arkhan meletakkan jari telunjuknya di bibir Raissa, menghentikan kata-kata yang hampir keluar. "Kau sudah memilih, Raissa. Tidak ada jalan kembali."
Tetesan air mata jatuh di pipi Raissa, membasahi kulit yang kini terasa terbakar. "Saya hanya ingin memastikan, Tuan, bahwa panti itu benar-benar aman."
Arkhan mengangkat dagu Raissa dengan satu tangan, memaksa mereka berhadapan. Mata pria itu bersinar, tidak ada rasa empati, hanya kilau keras yang membuat Raissa merinding. "Kau tahu aku selalu menepati janjiku. Panti itu aman, selama kau berada di sini. Tapi jangan pernah mencoba melawan keputusan ini."
Raissa mengangguk, tubuhnya lemas dan hatinya nyaris berhenti berdetak. Perasaan cemas dan takut bercampur aduk, menumbuhkan benih kebencian terhadap pria di hadapannya, namun sekaligus mengerutkan rasa ingin tahu tentang pria itu yang belum pernah ia kenal.
Arkhan mendekat, suara lembutnya seperti bisikan yang menghanyutkan. "Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu... asalkan kau mengerti tempatmu di dunia ini."
Raissa menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis. Dia tahu, pada akhirnya, semua ini hanya awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan pengorbanan dan pengkhianatan. Tapi di saat itu, di malam yang penuh keheningan dan ancaman, Raissa membuat satu keputusan lagi-bahwa dia akan bertahan, apa pun yang terjadi. Karena dalam pertempuran ini, hanya ada satu hal yang pasti: dia tidak akan membiarkan Arkhan memenangkan segalanya, meskipun dia harus mengorbankan segalanya, termasuk dirinya.