"Dasar manusia licik! Aku akan balas dendam kepadamu, tunggu saja, Jonathan!"
Seorang laki-laki diseret keluar dari gedung Smith Corporation. Jas dan kemejanya telah kotor oleh debu dan air kopi. Rambutnya berantakan dan wajahnya merah karena menahan marah.
"Hati-hati, Tuan Alfonso. Di umur yang setua ini, Anda bisa terkena serangan jantung. Darah Anda juga bisa melonjak drastis yang bisa berakibat stroke." Suara berat dengan intonasi datar itu terdengar mengejek kepada Alfonso. Lawan bisnisnya yang berusaha menjatuhkannya.
"Namaku, Jonathan Smith, ingat itu. Catat dalam otakmu!" Jonathan menunjuk kening Alfonso dengan jari telunjuknya. "Aku bukan lagi, si miskin dari emperan Gereja yang kau usir hanya karena berdiri di depan kantor kecilmu itu."
"Cih … semuanya sudah berbalik. Aku adalah orang terkaya di negri ini, sekali kau, bermain api denganku. Jangan harap ada tawa di kehidupanmu, esok." Jonathan menendang perut Alfonso sebelum kembali masuk kedalam kantornya.
"Keparat Smith, aku tidak akan melepaskanmu, sampai mati pun, aku tetap akan menghantuimu!" suara Alfonso, lamat-lamat hilang ditelan suara lalu lalang kendaraan di jalan.
"Tuan," panggil Adam, orang kepercayaan sekaligus tangan kanannya Jonathan.
"Bereskan, Alfonso. Sita rumah dan kantornya, jangan lupa, ambil semua properties yang dimiliki simpanannya. Hubungi istri sahnya, tawarkan pekerjaan dan berikan tempat tinggal. Biayai juga, pendidikan anak-anaknya."
"Baik, Tuan, Anda sangat baik kepada mereka."
"Yang bermasalah, laki-laki berengsek itu. Istri dan anak-anaknya tidak bersalah." jawab Jonathan datar. Ia meninggalkan Adam yang masih termangu, memikirkan keputusan bosnya.
"Terlambat satu detik, silahkan undur diri dari posisimu sekarang." suara Jonathan, mengagetkan Adam. Ia berlari mengikuti Jonathan yang sudah berada di dalam lift khusus.
"Maaf, Tuan. Jangan pecat saya." ucap Adam dengan rasa takut.
"Hem …," hanya deheman yang keluar dari mulut Jonathan.
Adam sudah mengikutiku Jonathan selama lima tahun. Waktu itu, ditengah kebingungannya mencari pekerjaan. Jonathan datang sebagai dewa penolong yang mau mempekerjakannya di saat perusahaan-perusahaan lain, menolaknya. Ibunya yang sakit keras, hutang yang menumpuk dan biaya pendidikan kedua adiknya yang tidak sedikit. Membuat Adam frustasi dan dengan terpaksa, ia mencuri di sebuah gudang milik Jonathan.
Jonathan yang waktu itu sedang turun kelapangan, melihat langsung saat Adam menjadi bulan-bulanan petugas keamanan gudang. Ia tertarik untuk melihat pencuri amatir yang bisa menyelinap kedalam daerah kekuasaannya.
"Siapa namamu?" Jonathan membungkuk lalu menjepit dagu Adam dengan kedua jarinya. Matanya menatap tajam, mata Adam yang terlihat ketakutan. Luka di bibir dan pipinya Adam, tercetak jelas akibat pukulan dari para pengawalnya.
"A-adam Simon, Tuan." Jonathan menarik napas, tatapan mata itu mengingatkannya dengan kehidupannya, sepuluh tahun yang lalu. Miskin, tidak berpendidikan dan harus menanggung hidup ibu kandungnya yang sakit-sakitan.
"Cerdas," gumam Jonathan. "Ditengah situasi genting, kau bisa mengingat nama lengkapmu. Apa lulusanmu?"
"S-sarjana marketing, Tuan."
"Obati dia, mulai detik ini. Adam adalah asisten pribadi saya. Apa yang dikatakannya adalah perintah saya yang harus dipatuhi, paham!"
.
.
Bersambung
Jonathan memperlakukan Adam dengan sangat baik. Tidak hanya melunasi hutang peninggalan ayahnya, biaya pengobatan ibu dan pendidikan kedua adik perempuannya, ditanggung oleh Jonathan.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Maaf, Tuan."
"Saya menggajimu untuk bekerja, bukan untuk melamun, ingat itu!"
"Baik, Tuan."
Jonathan telah duduk di kursi kebesarannya. Kantor Smith Corporation berada di puncak gedung tertinggi di kota Rivera. Siapapun pasti tahu jika perusahaan milik Jonathan adalah perusahaan nomor satu di negara ini. Tidak heran jika banyak orang seperti Alfonso ingin menjatuhkan pebisnis nomor satu itu.
"Tuan," panggil Adam.
"Ada, Apa?"
"Nona Moris …."
"Ada apa dengan, gadis itu?" Magdalena Morris putri tunggal dari Perdana mentri yang sejak lama jatuh cinta kepada Jonathan. Gadis muda berumur 23 tahun itu mengagumi Jonathan yang berakhir jatuh hati kepadanya. Pertemuannya dengan Jonathan lima tahun yang lalu, saat ia hendak mengajukan surat izin usaha untuk anak cabang perusahaannya di kota lain.
Saat itu, Magdalena yang sedang dikejar oleh segerombolan pemabuk ditolong oleh Jonathan ketika dalam perjalanan ke rumah Perdana mentri Abraham Morris.
Magdalena yang menangis ketakutan langsung menghambur memeluk, Jonathan. Setelah anak buahnya menghajar para pemabuk itu hingga babak belur. Saat ditanya rumahnya, gadis itu mengatakan alamat yang sama dengan tujuannya malam itu.
"Nona?"
"Magdalena Morris."
"Putri dari Tuan Abraham Morris?" tebak Jonathan.
Magdalena mengangguk.
Jonathan memandangnya tanpa ekspresi. Gadis itu sangat cantik, berambut pirang, bermata biru terang, berkulit putih dan mempunyai postur tubuh yang ideal. Model impian dari semua laki-laki. Namun Jonathan tidak pernah tertarik dengan wanita. Dalam hatinya hanya ada bisnis dan kekuasaan. Kehidupan suram di masa lalu karena hidup susah, membuat hatinya mengeras tanpa perasaan.
Jonathan akhirnya mengantar Magdalena pulang ke rumahnya, sejurus dengan tempat yang akan ia kunjungi malam itu. Mereka duduk berdampingan di jok mobil belakang. Jonathan duduk tegak menghadap ke depan dengan ekspresi wajah yang dingin. Sedangkan Magdalena, mencuri pandang, melirik dengan ekor matanya kepada dewa penolongnya. Rasa takjub dan kagum sudah ia rasakan sejak dari awal melihatnya. Cara Jonathan memerintahkan anak buahnya untuk melumpuhkan gerombolan pemabuk tadi, membuat gadis itu ingin mengenal lebih jauh laki-laki berwajah tampan namun sangat dingin itu.
"Nona Morris, sudah sampai."
"I-iya," Magdalena tersentak kaget karena sedang melamunkan orang yang berada di sebelahnya.
Mobil Rolls-Royce berwarna hitam milik Jonathan itu sudah berhenti tepat di depan pintu mansion Perdana mentri Abraham Morris. Penjaga gerbang yang sudah diberitahu oleh asisten pribadinya, Abraham, langsung membuka pintu setelah membaca plat nomor mobil Jonathan yang sangat identik, RR 100. Nomor spesial yang sudah terkenal karena pemiliknya.
"Selamat datang, Tuan Smith. Tuan Besar sudah menunggu Anda di dalam." asisten pribadinya Abraham, menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan mempersilahkan laki-laki terkaya di negara Georgia. Namun matanya menyipit setelah melihat gadis cantik yang berdiri di belakangnya Jonathan.
"Nona Muda, apa yang telah terjadi dengan Anda? Kenapa Anda bersama dengan Tuan Smith?"
.
.
Tbc
"Paman Peter." panggil Magdalena yang sangat berantakan penampilannya.
"Nona Morris diganggu pemabuk, kami menemukannya di jalan dan mengajaknya pulang bersama." terang Jonathan yang melihat Magdalena ketakutan.
"Cepat masuk, Tuan Besar, pasti marah karena Nona, tidak mau menuruti perintahnya agar dijemput sopir saat pulang sekolah." ucap asisten pribadinya Abraham Morris yang bernama Peter.
"B-baik," Magdalena ketakutan dan ingin cepat masuk kedalam. Namun langkahnya terhenti ketika sosok yang ditakutinya sudah berdiri tegak di hadapannya. Laki-laki berambut putih memakai piyama bathrobe itu menatapnya dengan tajam.
"Apa yang telah terjadi, Lena?" Suara berat lelaki paruh baya itu terdengar menakutkan.
"Papa," Magdalena menunduk takut.
"Anak muda selalu begini, Tuan Morris." suara Jonathan menengahi keduanya.
"Smith." panggil Abraham datar. Siapa yang tidak mengenal Jonathan Smith, laki-laki terkaya di negri ini. Tapi dengan sifat keras kepalanya Abraham, ia tidak akan tunduk begitu saja ataupun menghormatinya seperti penjilat di luar sana. Banyak orang berbondong-bondong untuk mendekati Jonathan, untuk meminta pekerjaan atau menjalin bisnis yang bisa menguntungkan bagi mereka. Namun bagi Abraham, status sosial seseorang tidak dapat mempengaruhi eksistensinya.
"Selamat malam, Tuan Morris. Saya mempunyai kepentingan bertemu Anda malam ini, asisten pribadi saya telah membuat janji dengan asisten Anda dan menurut laporannya, Anda menyetujuinya." ucap Jonathan tegas. Sebagai pebisnis handal, ia sudah terbiasa berbicara lancar dengan orang yang mempunyai sifat keras seperti Abraham.
"Peter," panggil Abraham kepada asistennya.
"Tamu malam ini yang akan bertemu Anda, adalah Tuan Jonathan Smith, Tuan." Peter menunduk.
"Hmm …," Abraham menatap Jonathan lalu beralih kepada putrinya, Magdalena. Ia melihat jika gadis itu sedang menatap Jonathan dengan kagum. Sedangkan laki-laki terkaya yang menjadi tamunya malam ini tidak memperhatikan sedikit pun kepada pandangan pewaris utama keluarga Morris itu. Abraham menarik napas dalam.
"Lena, masuk!" titah Abraham.
Magdalena tersentak kaget, lalu menundukkan kepalanya. baik, Pa." ucap Lena patuh. Gadis itu melirik sekilas kepada Jonathan sebelum melangkah masuk kedalam mansion mewah keluarga Morris.
"Masuklah, Smith." Abraham berlalu meninggalkan Jonathan dan Peter di belakang. Peter memberi tanda kepada Jonathan untuk mengikuti langkah tuannya.
Mansion keluarga Morris sangat megah, bangunan lama dengan arsitektur bergaya Romawi yang sangat kental. Sangat cocok dengan pembawaan sifat Abraham yang dingin dan keras. Mansion ini berada di atas bukit, mempunyai halaman yang sangat luas di belakang mansion, di pojok bagian kiri terdapat sebuah barak yang berisikan beberapa kuda pilihan. Terlihat juga rumah kaca yang berisikan aneka bunga bersebrangan dengan barak kuda.
Masuk kedalam, Jonathan melihat desain interior yang sangat klasik. Nampaknya Abraham bukan tipe orang yang suka mengikuti trend kekinian. Terlihat jelas, segala pernak-pernik dalam ruangan itu terlihat model lama tapi sangat antik.
"Tidak semewah rumahmu, tapi tidak kalah mahal jika dibandingkan harganya." suara Abraham menyentak Jonathan yang sedang memperhatikan seisi barang dan desain ruang tamunya mansion keluarga Morris.
"Tuan, makan malamnya sudah siap." Peter datang melapor.
"Heem," Abraham menuju meja makan tanpa menoleh kepada Jonathan.
"Mari, Tuan Smith." Peter menggantikan majikannya, mempersilahkan Jonathan.
Abraham duduk di ujung meja makan. Meja berbentuk persegi panjang itu hanya terdapat tiga buah kursi. Jonathan dipersilahkan Peter untuk duduk di ujung yang bersebrangan dengan Abraham. Mereka terpisah dengan letak meja yang memanjang. Sesaat kemudian, pelayan keluar membawa hidangan makan malam. Satu melayani Abraham, satu lainnya melayani Jonathan. Peter berdiri di sampingnya Abraham.
"Mari, makan." ucapan singkat dari Abraham disambut Jonathan dengan mengambil gelas yang berisi champagne ke atas lalu meneguknya sebagai rasa hormat. Sedangkan Abraham melakukan hal yang sama lalu makan dalam diam. Tidak berapa lama, Magdalena turun dari lantai atas dengan penampilan yang sudah rapi dan bersih. Rambut pirangnya dibiarkan digerai, terlihat cantik untuk usia gadis yang berumur 18 tahun.
"Duduk," Abraham memerintahkan Magdalena untuk duduk di kursi yang berada di dekatnya. Biasanya, kursi meja makan berjumlah dua kursi saja. Satu untuk Abraham dan satu lainnya untuk Magdalena. Namun malam ini, dengan kedatangan Jonathan, Abraham menyuruh pelayannya untuk menyediakan kursi tambahan.
"Selamat makan, Papa." Magdalena sudah terbiasa dengan sikap dingin ayahnya. Ia langsung makan dalam diam.
Selesai makan malam, Abraham menyuruh Magdalena naik ke atas. Sedangkan dirinya bersama dengan Jonathan masuk kedalam ruang kerja. Abraham duduk di kursi kebesarannya sambil menatap tajam kepada Jonathan.
"Katakan, apa kepentinganmu bertemu dengan saya, malam ini." ucap Abraham tanpa basa-basi.
"Saya menginginkan surat izin usaha di kota lainnya, tepatnya di kota Virginia. Berapa pun kemauan, Tuan. Akan saya sanggupi." tawar Jonathan.
"Harta kami, turun temurun, tidak akan habis untuk dihamburkan. Saya tidak memerlukan uang seperti orang di luar sana yang suka menjilatmu."
"Lalu … syarat apa yang Anda minta?"
"Minggu depan, temani putriku makan malam."
.
.
Tbc