Bab 2

Kelas selesai lima menit lebih cepat dari biasanya. Biasanya Tama tak akan melewatkan satu detik pun waktu kuliah, apalagi mengakhiri lebih awal. Tapi hari itu dia tampak tidak sepenuhnya fokus. Selesai menjelaskan soal latihan yang terakhir, dia menutup laptopnya dan berdiri.

"Baik, itu saja untuk hari ini."

Semua mahasiswa tampak lega. Suara kursi berderit, buku ditutup, dan bisik-bisik mulai memenuhi ruangan.

Namun sebelum semua benar-benar bubar, suara Tama kembali terdengar, kali ini lebih pelan tapi jelas tertuju pada satu nama.

"Aruna, setelah ini ke ruangan saya. Ada hal yang ingin saya bicarakan."

Aruna yang sedang memasukkan laptop ke tas, berhenti sejenak. Wajahnya sedikit mengernyit. Dari seluruh kelas, hanya dia yang dipanggil.

Lagi.

Dewi di sebelahnya langsung heboh. Matanya membelalak, nyaris menjatuhkan tempat pensil warna-warni dari meja.

"NA. LO DIPANGGIL DOSEN TAMA!" Bisikannya seperti alarm mobil, keras dan berisik.

"Gue dengar, Wi... Kuping gue nggak tuli," jawab Aruna pelan, sambil berusaha terlihat tenang.

"Lo ngapain? Jangan bilang Lo nyontek nilai UTS dari Google terus ketahuan."

Aruna melirik sekilas dengan tatapan datar. Tapi jujur saja, dadanya mulai terasa aneh. Gugup, tapi bukan karena ia akan bertemu idolanya. Bukan. Lebih ke... rasa tak nyaman. Karena semua ini terasa terlalu aneh. Terlalu banyak kebetulan dalam satu hari.

Dia bahkan tidak ingat pernah berinteraksi dengan dosen itu sebelumnya. Tapi hari ini saja, namanya sudah tiga kali disebut. Dan sekarang, diminta datang secara pribadi?

Lorong menuju ruang dosen lengang. Waktu sudah hampir pukul sebelas, dan sebagian besar staf pengajar sedang sibuk dengan jadwal konsultasi atau rapat mingguan.

Aruna berhenti di depan pintu kaca berlabel "Tama Pratama, M.Acc, CPA – Dosen Tetap Akuntansi Keuangan". Dia mengetuk dua kali.

"Masuk," sahut suara dari dalam.

Ruangannya rapi dan minimalis. Tidak banyak dekorasi selain rak buku tinggi, satu meja kerja, dan satu kursi di seberang. Wangi kopi hitam menguar samar dari cangkir yang masih berasap di meja.

Tama duduk santai di kursinya, kali ini dengan lengan kemeja yang digulung setengah. Matanya menatap Aruna sekilas, menunjuk kursi di seberang mejanya.

"Silakan duduk."

Aruna menurut. Dia menaruh tas di pangkuan dan menunggu. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, atau karena sorot mata dosen di hadapannya yang seperti menyimpan sesuatu.

Tama membuka map folder di mejanya, mengeluarkan selembar kertas. Dia meletakkannya di atas meja.

"Ini tugas kelompok dari minggu lalu. Kamu termasuk yang nilainya paling tinggi. Tapi ada beberapa hal yang saya ingin konfirmasi langsung."

Aruna mencondongkan tubuh. Dia membaca cepat bagian yang ditunjuk Tama.

"Soal pengakuan diskonto obligasi, jawaban kelompok kamu sangat mendetail. Hampir seperti ditulis oleh seseorang dengan pengalaman kerja."

Aruna mengangkat alis. "Saya yang tulis, Pak. Saya memang suka baca jurnal... dan kebetulan pernah bantu teman saya di konsultan pajak saat liburan."

Tama mengangguk pelan, mencari celah di balik jawaban jujur itu. Tapi tak ada yang mencurigakan. Karena memang, sejujurnya, tak ada alasan konkret mengapa Aruna harus dipanggil hari itu. Semua hanya dibuat-buat.

Dia tahu itu salah, tahu ini tidak profesional. Tapi pikirannya sudah terlalu penuh dengan nama itu sejak semalam. Dan kini, melihat Aruna duduk di depannya, nyata, membuatnya makin bingung.

"Saya cuma ingin pastikan tidak ada unsur plagiarisme," lanjut Tama, berbohong dengan sangat halus.

Aruna mengangguk pelan. "Tidak, Pak. Saya tidak pernah copy paste. Saya suka ngerjain sendiri."

Diam.

Hening sejenak. Lalu Tama bersandar ke kursinya. Menatap Aruna dengan ekspresi campur aduk yang tidak biasa ditunjukkan seorang dosen. Dia menggenggam ujung pulpen di tangannya dengan kuat, seperti sedang menahan sesuatu.

"Kamu tinggal di mana sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Aruna mendongak, heran. "Di..." seketika dia gagap, "Di kosan daerah belakang kampus, Pak."

"Asalmu dari mana?"

"Semarang."

Kali ini, mata Tama bergerak sekilas menatap wajah Aruna. Wajah yang selama ini luput dari perhatiannya. Biasa saja. Tidak mencolok. Tapi sekarang dia tahu, gadis ini adalah gadis yang disebut ibunya semalam dalam percakapan yang membuat kepalanya pening setengah mati.

"Aruna Janitra. Nama lengkapmu, kan?"

Kepala itu mengangguk kecil, rambutnya yang di ikat bergerak sedikit mengikuti, "I- iya."

Tama menghela napas pelan. Rahangnya mengeras. Dia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit sejenak sebelum kembali menatap Aruna dengan ekspresi datar.

"Baik. Saya hanya ingin memastikan."

Aruna menganga.

Tama tahu, paham. Tapi tidak langsung menanggapi. Tangannya mengetuk ringan permukaan meja.

"Bahwa kamu memang... orang yang saya cari. Tapi bukan karena akademik."

Aruna terdiam. Bingung. Juga tidak nyaman.

Tama melanjutkan, suaranya lebih pelan, namun tetap dingin. Tidak menyisakan kehangatan seperti biasanya dia berbicara di kelas.

"Saya tidak menyukai permainan orang tua. Tapi sayangnya, mereka mengira hidup saya bisa diatur seperti menyusun laporan neraca. Rapi dan tinggal disetujui."

Aruna masih tak berkata apa-apa. Bahkan napasnya terasa lebih pelan dari biasanya. Mencoba memahami setiap kata yang meluncur dari mulut dosen itu. Dia merasa seperti terseret dalam sesuatu yang bukan urusannya.

"Saya tidak akan memperpanjang ini. Saya tidak sedang mencari masalah dengan kamu. Tapi kalau nanti kamu dengar hal-hal aneh dari luar, atau dari keluarga, anggap saja kamu tidak pernah datang ke ruangan ini. Kita tidak kenal. Paham?!!"

Kata-kata itu menusuk. Ada sesuatu yang tidak bisa Aruna pahami sepenuhnya. Tapi dia tahu satu hal. Pria di hadapannya sedang tidak baik-baik saja. Entah karena dia, atau karena nama yang dia bawa.

"Usahakan untuk menolak semua yang kamu dengar nantinya." kata itu menusuk jelas. Sebelum Tama bangkit.

Memberi isyarat bahwa pertemuan mereka selesai. Dan untuk pertama kalinya, Aruna berdiri meninggalkan ruangan itu sambil membawa rasa tak biasa yang mehunus aneh ke dadanya.

Dia tidak tahu siapa yang lebih bingung. Dirinya, atau Tama.

Tapi satu hal pasti, hari itu, hidupnya tidak lagi sunyi seperti kemarin.

Aneh.

Bab 3

Langkah kaki Aruna terdengar pelan menuruni koridor lantai dua fakultas ekonomi. Suara sepatunya menyentuh ubin seirama dengan degup jantungnya yang belum sepenuhnya tenang. Di tangannya, HP yang belum sempat dia periksa dari tadi terasa dingin, seperti telapak tangannya sendiri.

Dia berjalan perlahan, seperti sedang men

coba menyusun ulang percakapan yang baru saja terjadi di ruangan itu. Namun kepalanya justru semakin penuh dengan tanda tanya.

Di tengah perjalanan menuju tangga, dia sempat berhenti. Menoleh ke belakang.

Pintu ruangan Tama sudah tertutup rapat. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Hanya pantulan samar dirinya di kaca jendela kecil pintu kayu itu. Sekilas, dia melihat bayangannya sendiri, tapi merasa seperti sedang menatap orang asing.

"Kenapa nanya tempat tinggal?"

"Kenapa nanya asal daerah?"

"Dan... 'kabar aneh dari luar atau keluarga' itu maksudnya apa, sih?"

Aruna menarik napas panjang. Matanya masih tertuju pada pintu yang sama.

Satu hal yang paling mengganggunya bukan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi ekspresi wajah Tama. Dingin, tegas, tapi ada satu garis samar di wajahnya yang tak bisa Aruna abaikan. Kesal. Bukan kesal karena tugas, atau nilai, atau pelanggaran. Tapi seperti... karena kehadirannya.

Dan itu membuatnya merasa aneh.

Dia mengerjap cepat. Lalu kembali melangkah. Tapi belum sampai lima meter, dia berhenti lagi. Matanya kembali melirik ke arah pintu ruangan yang kini terasa jauh.

"Apa gue punya salah? Padahal gue nggak pernah cari masalah sama dia."

Kantin sore itu sudah setengah penuh. Beberapa mahasiswa duduk santai sambil membuka laptop, sebagian lain sibuk menunggu pesanan. Di pojok dekat jendela, Dewi sudah duduk sambil menggulung lengan jaket jeans-nya, wajahnya tak sabar menanti.

Begitu melihat Aruna muncul dari arah tangga, dia langsung heboh.

"NA!" panggilnya setengah berteriak. "Astaga, lo ngilang kayak ditelan lantai dua. Gue kira lo disuruh nulis makalah sepuluh halaman!"

Aruna hanya tersenyum samar dan duduk perlahan. Dia menaruh tas di pangkuan dan membuka tutup botol minum dari dalamnya.

"Dia cuma nanya soal tugas kemarin," katanya pelan.

"Hah? Itu doang? Serius?" Dewi menaikkan alisnya, tak puas. "Yakin banget tuh? Soalnya kamu keluar ruangan kayak abis diajakin nikah."

Aruna tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar. "Lebay. Mana napsu dia sama gue, begini?"

"Bisa jadi. Tapi lo kelihatan aneh banget. Muka lo tuh... kayak habis nemu rahasia negara." Dewi menyipitkan matanya, berusaha membaca raut wajah Aruna. Tapi sahabatnya itu justru mengalihkan pandangan.

"Yah... mungkin gue cuma kaget aja dipanggil tiba-tiba. Kan gue bukan tipe mahasiswa yang gampang dikenal dosen. Males banget d panggil-panggil, Kayak penting aja."

"Justru itu! Lo tuh nggak pernah nyolok di kelas. Tapi tadi... Lo dua kali disebut namanya. Terus dipanggil pula. Dan itu sama Dosen Tama. Tama, Na! The one and only!"

Aruna menghela napas. Dia menggenggam botol minumnya lebih erat dari yang perlu. Dewi bersandar ke kursi, bibirnya membentuk senyum menyelidik.

"Oke, gimana kalau ini cuma tebakan gue. Jangan marah. Tapi... bisa jadi sih dosen kita itu... tertarik sama Lo?"

Aruna menoleh cepat.

"Hah? Gila. Jangan aneh-aneh, Ngawur aja." Aruna menoleh cepat.

"Lho! Bisa aja, kan? Lo beda dari mahasiswa lain. Nggak heboh, nggak ngefans buta. Bisa jadi itu bikin Lo justru menarik di mata dia. Teori psikologi bilang-"

"Ngawur. Anjir." umpat Runa "Gue nggak minat urusan sama orang-orang kayak dia."

Dewi mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Orang terpandang. Populer. Terlalu banyak sorotan. Dia tuh... dunia yang beda dari kita-kita.."

Dewi terdiam. Sorot mata Aruna sangat serius, seperti sedang bicara dari lubuk paling dalam dari dirinya.

"Jangan mikir aneh-aneh. Gue nggak tahu apa yang dia pikirin, dan gue juga nggak peduli. Yang jelas, gue cuma mahasiswa. Dan dia dosen. Udah cukup sampai situ aja."

Dewi mengangguk pelan, mengerti. Dia tak jadi heboh. Tapi masih menyimpan rasa penasaran yang belum terjawab.

"Oke... Paham." Dia mengaduk minumannya, lalu tersenyum kecil. "Tapi kalo suatu hari nanti lo tiba-tiba jadi headline gosip fakultas, jangan lupa bilang duluan ke gue, ya."

"Lanjutin itu. Gue putus pala lo!!"

"Nggak jadi!" Dewi langsung beringsut, mengangkat tangan.

Aruna cuma menggeleng dan menatap keluar jendela. Dari jauh, langit sudah mulai berubah warna. Dan hatinya pun, mulai diselimuti kabut samar yang belum juga hilang sejak dia keluar dari ruangan dosen itu.

Di balik tatapan diamnya, pikirannya terus berkecamuk. Dia tidak bisa berkata jujur bahkan pada Dewi, karena Aruna sendiri belum sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi.

.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED