“B*ngsat! Apa-apaan gue yang gantengnya sampai mentok langit ini pakai dijodohin segala! Kayak gue gak bisa nyari cewek aja! Lagian gue gak butuh bini! Ini semua gara-gara si Ken sialan! Dasar kanebo kering sue! Nafsu sialan! Burungnya gak bisa dikondisiin apa?! Pake nyari sarang segala! Dia yang tekdungin anak orang, jadi gue yang kena imbas!” Aryan Mada Kusumo, pria berusia dua puluh tujuh tahun yang sedang mengomel ini adalah satu-satunya penerus Kusumo Group yang bergerak di dunia perhotelan. Hotel Kusumo sudah tersebar di berbagai negara. Pria yang biasa dipanggil Aryan ini tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah pada sahabat yang sudah dianggapnya kakak, Kendrick Gevan Bagaskara.
Pria yang terkenal dingin itu awalnya memiliki perjanjian dengan Aryan. Mereka berdua tak akan menikah sampai Aryan selesai ‘bermain-main’. Namun sayang, sang sahabat yang biasa dia panggil Ken itu menghamili salah seorang karyawan di perusahaan Bagaskara Corp. Dan ternyata, karyawan itu adalah wanita yang berhasil mencuri hati sahabat kakunya itu. Dan lebih sialnya lagi, wanita itu adalah wanita yang sempat membuat Aryan tertarik.
Poor Aryan. Sudah tak bisa mendapatkan wanita yang lumayan membuatnya tertarik, sekarang dia malah harus mau dijodohkan oleh seorang wanita yang merupakan anak dari salah seorang sahabat lama sang ayah. Sebenarnya alasan perjodohan ini sebagian besar karena Ken yang menikah beberapa bulan yang lalu. Mama Aryan pernah mengatakan akan memaksa Aryan menikah setelah Ken menemukan pendamping hidup. Sialnya, Ken mendapatkan pendamping hidup, dan Aryan harus mau menerima perjodohan yang sudah dipersiapkan kedua orang tuanya.
Aryan bisa saja menolak, tapi pria ini takut jika penyakit sang mama akan kambuh. Mamanya tidak boleh banyak pikiran, karena akan membuat asam lambung sang mama naik yang berakibat sang mama bisa dirawat di rumah sakit sampai berhari-hari seperti sebelum-sebelumnya. Tak jarang karena kenakalan Aryan remaja.
Ddrrrttt…
Aryan mengalihkan pandangan ke arah benda pipih yang berada di atas meja saat benda itu bergetar. Pria ini berdecak kesal setelah melihat ID called orang yang menghubunginya. Aryan mengambil benda pipih itu, lalu beranjak dari duduknya untuk keluar dari tempat ini, tempat di mana terdengar musik yang kencang dan terdapat beratus-ratus bahkan beribu botol minuman beralkohol.
“Beb, mau ke mana?” tanya seorang wanita berpakaian seksi berwarna merah saat berpapasan dengan Aryan.
Aryan tersenyum manis. “Ke depan bentar, Beb.” Setelah mengatakan itu, Aryan mengerlingkan sebelah matanya menggoda, yang membuat wanita itu tersipu, lalu balas dengan memberikan ciuman jauh pada Aryan.
Aryan tertawa renyah, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Sayang~ udah mau pulang?” tanya seorang wanita lain yang kembali berpapasan dengannya, yang kali ini memakai rok mini seksi berwarna gold, serta tank top berwarna putih.
“Ke depan aja kok. Nanti aku juga masuk lagi, Sayang~” Aryan mengusap sensual lengan polos sang wanita, yang mampu membuat tubuh wanita itu bergetar karena hasrat.
“Okay… aku tunggu kamu ya…” bisik sang wanita sensual, lalu wanita itu mengecup singkat pipi Aryan yang terkenal memiliki wajah super tampan itu. Setelah mengatakan itu, sang wanita berjalan masuk, sementara Aryan kembali terkekeh dan melanjutkan langkahnya sambil mengusap pipinya.
“Indahnya hidup ini seandainya gak ada perjodohan sialan itu!” geramnya kesal di sela langkah kakinya menuju pintu keluar.
Setelah sampai di luar, Aryan menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
“Ya, Ma?”
>“Pulang kamu! Besok kita akan ketemu sama keluarga Om Rion loh, Sayang. Mama gak mau besok mata kamu merah karena kebanyakan dugem!”
Aryan menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, saat mendengar suara nyaring sang mama. Pria ini mengusap sebentar telinganya. Mamanya ini berlebihan sekali. Padahal pertemuan dengan keluarga yang mamanya sebut Om Rion itu kan berlangsung sore hari. Memang dia harus siap pagi-pagi buta?!
Pria ini kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya. “Sebentar lagi M—”
>“Mama sudah di depan kamu!”
Aryan melebarkan mata tak percaya. Pria ini langsung menatap ke arah depan, dan menemukan mama dan papanya sudah berdiri berdampingan tak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuh pria ini mendadak kaku melihat senyum sang mama yang terlihat bak malaikat pencabut nyawa.
“Ma-Mama?”
>“Pulang, Anak Tampan,” seru sang mama dengan wajah dibuat semanis mungkin.
“Ta-tapi—”
“Mobil kamu biar Pak Budi yang bawa. Kamu ikut mobil Papa sama mama!” tegas sang mama, lalu wanita itu mematikan sambungan telepon mereka.
Tubuh Aryan lemas. Niat ingin menghabiskan berbotol-botol minuman beralkohol karena terlalu stress, dan mungkin saja bisa sedikit ‘bersenang-senang’ dengan para wanita di sini untuk menghilangkan kekesalan, hancur berantakan karena kedatangan sang mama tercinta.
“Ayo, Anak tampannya mama, sini Sayang… kasih kunci mobil kamu sama Pak Budi,” ucap sang mama kembali sambil melirik supir keluarga mereka yang berdiri patuh di samping suaminya.
Sementara itu, papa Aryan yang bernama Admaja Cipto Kusumo, berusaha menahan tawa melihat wajah kaku sang anak. Pria itu masih mengingat, ketika tiga puluh menit yang lalu sang istri menyeretnya untuk pergi menjemput sang anak di kelab malam yang biasa didatangi anak mereka satu-satunya itu.
Aryan mengalihkan pandangan ke arah sang papa, berusaha meminta pertolongan lewat tatapan mata.
“Lebih baik ikuti kata mamamu, Anak tampan. Papa tidak ingin tidur di luar,” ucap Admaja, yang tentu saja membuat bahu Aryan semakin merosot.
Pria dua puluh tujuh tahun ini menghela napas kesal, lalu melangkah mendekati kedua orang tuanya. Sebelah tangannya merogoh saku celana, lalu mengeluarkan kunci mobilnya. Pria ini menyodorkan kunci mobil itu pada supir pribadi keluarga mereka.
“Anak Tampan gak kapok-kapok ‘main-main’ ya?!”
“Adu-du-duh, Ma! Sakit, Ma! Jangan jewer di sini, Aryan malu, Ma!” Aryan mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap tidak ada yang melihat kejadian ini. Bisa turun pamor dia jika ketahuan ternyata anak mama.
“Mama tidak peduli! Ayo masuk!”
Aryan hanya bisa pasrah saat sang mama mendorongnya melangkah menuju mobil sang papa. Sedangkan sang papa, sudah tak tahan mengeluarkan kekehan geli sambil mengikuti langkah dua orang yang dia cintai itu.
“Sudah mau jadi suami masih saja nakal seperti ini!”
“Aryan gak minta jadi suami!”
“Mama tidak menerima penolakan! Kalau kamu lihat calon istrimu, mama yakin mulutmu akan ternganga karena terlalu terpesona.”
“Aryan udah banyak liat cewek cantik, Ma!”
“Iya karena buat kamu, kucing betina pakai bedak saja sudah cantik!” sinis sang mama, karena tahu bagaimana mata keranjangnya sang anak yang juga berprofesi sebagai model itu.
Anaknya mempunyai banyak teman wanita. Bukan hanya banyak, tapi BANYAK SEKALI. Setiap pergi dengan sang anak, selalu saja Kania Kusumo berpapasan dengan wanita-wanita yang sebagian besar memakai baju minim bahan menyapa sang anak. Kania sampai pusing sendiri dibuatnya, karena sang anak kelewat ramah pada para wanita. Memang bukan sepenuhnya salah Aryan, karena para wanita itu yang lebih bergenit ria pada anaknya. Tapi kalau saja Aryan tidak menanggapi, pasti para wanita itu akan mundur teratur. Sayangnya sang anak tidak berniat seperti itu. Untuk Aryan, memiliki banyak TTM ( Teman Tapi Mesra ) adalah kepuasan baginya. Apalagi sang anak merasa jika semua wanita itu cantik. Dasar mata keranjang!
Admaja lagi-lagi mengeluarkan kekehan gelinya karena tingkah istri dan anaknya.
“Mirip siapa kamu, Nak, bisa semata keranjang ini!” geram Kania.
“Papa kali,” balas Aryan asal.
“Enak saja kamu! Di mata papa, yang cantik itu cuma mama kamu!” seru Admaja tak terima.
Kania memutar bola mata malas. “Sepertinya benar kata Aryan. Aku lupa sebelum bersama denganku, mantanmu itu ada beratus-ratus, Pa!” sinis Kania pada sang suami. Setelah mengatakan itu, Kania masuk lebih dulu ke dalam mobil dengan wajah cemberut. Sementara Admaja sudah berwajah pucat.
“Ma—”
“Wah… Papa ketauan mata keranjang. Hahaha… akhirnya Aryan tau sifat ini menurun dari mana. Hahaha…” Aryan tertawa puas, lalu menyusul sang mama masuk ke dalam mobil, meninggalkan Admaja yang sudah panas dingin. Bukan karena meriang, tapi takut sang isteri tidak memberi jatah, yang mana akan membuatnya benar-benar meriang.
“Alamat tidur di luar…” lirih Admaja pasrah.
***
“Ugh! Merepotkan sekali!” Ran berjalan dengan perlahan menggunakan heels setinggi 10 cm berwarna hitam, warna yang senada dengan dress lengan pendek yang dikenakannya. Dress panjang sampai mata kaki, tapi bagian depan sepanjang bawah lutut sedikit. Wanita ini berjalan tertatih. Ran adalah wanita yang sangat jarang menggunakan heels, kecuali di acara-acara tertentu.
“Kenapa Mama memaksaku memakai pakaian dan sepatu merepotkan ini?!” oceh Ran di sela langkah kakinya.
Ran terus saja menggerutu kesal.
Sial sekali hidupnya! Mengapa harus ada perjodohan ini?!
“Argh!” Ran memekik saat tubuhnya terdorong ke depan. Seseorang dari belakang tak sengaja menyenggolnya. Untung saja di samping wanita ini terdapat pilar besar di depan sebuah restoran mewah tempat keluarganya dan keluarga Kusumo mengadakan pertemuan. Ran langsung berpegangan pada pilar itu dengan erat.
“Eh..sorry, Nona.” Terdengar suara maskulin seseorang di belakangnya, yang Ran yakini adalah penyebab tubuhnya hampir terjerembab ke atas tanah.
Saat Ran membalikkan tubuh, mata wanita ini langsung disuguhkan pemandangan seorang pria yang memiliki rahang tegas, alis tebal, serta bentuk bibir bawah lebih tebal dengan lekukan bibir atas yang sempurna dan indah. Pakaian formal berwarna abu-abu tua melengkapi penampilan sang pria yang terlihat sangat, sangat cocok dengan wajahnya. Sesaat, Ran terpesona. Namun tak berapa lama, wanita ini kembali memasang wajah datar terkesan dingin. Ekspresi yang memang sudah terbentuk sejak kecil. Mungkin karena Ran terbiasa hidup sengsara sejak dini, jadi wajahnya selalu terlihat serius.
“Anda tidak bisa melihat dengan benar?” tanya Ran dingin.
Pria itu terdiam kaku sambil memandangi wajah Ran. Pandangan pria itu seperti sangat terpesona, seolah Ran adalah wanita tercantik di dunia. Lihatlah, matanya dengan lancang memperhatikan penampilan Ran dari atas sampai bawah, dan kembali memandangi wajahnya, dan berlama-lama di sana.
Dipandang sedemikian rupa seperti itu, Ran mendengus sebal. Wanita ini sudah biasa ditatap seperti ini, karena wajahnya memang cantik luar biasa walaupun terlihat dingin. Namun, tatapan pria di depannya ini entah mengapa membuat tubuhnya meremang.
“Tuan, pikiran Anda masih berada di sini kan? Lain kali, berjalanlah dengan hati-hati! Jangan main asal seruduk seperti banteng! Memang jalanan di dunia ini milik Anda?! De—”
“Kamu cantik.”
Ran melongo tak percaya, saat pria ini membuka suara, dan langsung saja mengeluarkan pujian. Wajah merona tak bisa Ran cegah. Namun perasaan jengkel juga tak bisa ia tepis. Sialan pria ini! Selama ini, para pria hanya berani menatapnya. Tapi pria di depannya ini malah mengeluarkan pujian??
“A-apa?”
“Kamu cantik. Bidadari dari mana?” tanya sang pria, yang membuat Ran ternganga.
Mereka saling melempar pandangan beberapa saat, sampai akhirnya Ran yang memutuskan pandangan mereka lebih dulu.
“Dasar pria gila!” desis Ran pada akhirnya.
Wanita ini segera membalikkan tubuh, dan kembali berjalan masuk ke dalam restoran. Daripada meladeni orang asing yang malah blak-blakan memuji dan menggombalinya, lebih baik dia segera mencari keberadaan keluarganya. Ran menuju meja resepsionis restoran ini.
“Meja keluarga Mahendra dan Kusumo di mana?” tanya Ran pada resepsionis yang berjaga.
Resepsionis itu langsung mencari nama yang disebut Ran di dalam buku reservasi. “Ada di ruang VIP tiga, Bu. Biar kami antar.” Resepsionis itu segera memanggil salah seorang temannya yang mana adalah pelayan di restoran ini, yang langsung menghampiri Ran dan sang resepsionis.
Setelah temannya memberitahu untuk mengantar Ran, pelayan itu tersenyum sopan ke arah Ran. “Sebelah sini, Bu.”
Ran hanya mengangguk kecil, lalu mengikuti langkah pelayan itu berjalan menuju ruang VIP yang dikatakan sang receptionist.
“Silakan, Bu.”
Ran kembali mengangguk kecil setelah pelayan itu membukakan pintu salah satu ruang VIP di restoran ini.
“Maaf telat.”
“Maaf telat.”
Ran terkejut saat di belakangnya ada seseorang juga yang mengatakan hal yang sama seperti apa yang baru saja dia ucapkan. Ran membalikkan tubuh, lalu tatapannya kembali bertemu dengan pria yang tadi menabraknya di depan restoran. Mata Ran membola sempurna. Mengapa pria ini menuju ke ruangan yang sama? Jangan bilang kalau pria ini yang akan dijodohkan denganny—
“Hai, Cantik. Kita ketemu lagi. Kenalkan, Aku Aryan, Aryan Mada Kusumo,” ucap pria di depannya ini.
Kusumo?
Kusumo?
Kusumo???
Tubuh Ran mendadak kaku.
Pria ini bukan yang dijodohkan dengannya kan? Gila! Jangan sampai pria gila ini, yang saat ini tersenyum lebar ke arahnya dengan sebelah mata mengerling genit dan sebelah tangan terjulur untuk berkenalan dengannya, adalah pria yang ingin dijodohkan dengannya!
Ran membalikkan tubuh ke arah orang-orang yang sudah lebih dulu ada di dalam ruangan, berharap dapat penjelasan dari orang tuanya.
“Kalian sudah bertemu sebelumnya?” tanya Adila, mama tiri Ran, karena mendengar ucapan Aryan.
“Tentu saja. Mereka kan satu sekolah saat di SD,” bukan mereka berdua, tapi Kania Kusumo yang menjawab dengan mata berbinar.
Ran semakin melebarkan mata tak percaya. Sementara itu, tubuh Aryan mendadak kaku.
Satu sekolah?
“Kita pernah satu sekolah?” tanya Aryan dengan jantung berdetak kencang.
Ran kembali membalikkan tubuh ke arah Aryan, lalu menaikkan sebelah alisnya. “Mana saya tahu! Saya tidak merasa punya teman satu sekolah seperti kamu!” sinis Ran.
Terdengar tawa renyah dari bibir Kania. “Kalian tidak ingat? Aryan sayang, dia Ran, Pumpkin yang kamu cari selama ini, Sayang.”
Mata Aryan membola tak percaya. Sementara Ran semakin mengernyitkan dahi tak mengerti.
“Maaf, ‘Pumpkin’? Apa maksudnya?” tanya Ran ke arah Kania.
“Sebaiknya kalian berdua masuk dulu, daripada berdiri di depan pintu seperti itu.”
Ran langsung tersadar posisinya saat sang ayah mengatakan hal itu. Wanita ini segera melangkah masuk.
Sementara Aryan, pria ini terdiam kaku di depan pintu.
Ran? Pumpkin? Pumpkin-nya ada di depan mata?
Aryan tak percaya ini.
*Flashback 16 Tahun Yang Lalu*
“Hahaha… Labu gak ikut jualan sama nenek?”
Ran hanya mampu memasang wajar datar saat bocah laki-laki teman sekelasnya kembali mengejek seperti hari biasa. Bocah itu selalu memanggilnya ‘Labu’, karena Ran selalu ikut sang nenek berjualan kolak labu kuning. Sang nenek setiap sore berjualan kolak labu kuning, bubur sumsum dan bubur kacang hijau dengan cara berkeliling menggunakan gerobak kecil. Dan sialnya, komplek perumahan tempat bocah laki-laki yang sedang mengejek Ran ini tinggal sering kali dilewati sang nenek. Tak jarang pekerja di rumah besar itu membeli dagangan sang nenek. Dan tak jarang juga Ran bertemu dengan bocah laki-laki ini, yang tak pernah bosan mengganggunya.
“Oh iya lupa, kan jualannya sore ya. Hahaha…” bocah laki-laki ini kembali tertawa, kali ini diiringi para pengikutnya. Bocah laki-laki ini adalah anak dari pendonor beasiswa terbesar di sekolah mereka, dan Ran adalah salah satu anak yang mendapat beasiswa itu karena kegigihan sang nenek, dan tentu saja karena otak pintar yang dimiliki Ran.
Ran tetap saja diam tanpa ingin menanggapi. Bocah perempuan ini malah mengeluarkan buku paket dari dalam tas usangnya, lalu segera sibuk dan larut dalam soal-soal yang ada di sana.
Bocah lelaki ini mendengus sebal, lalu menarik buku paket yang Ran baca.
“Aku lagi ngomong sama kamu!” seru bocah lelaki ini kesal.
“Kembalikan. Aku lagi gak mau ngomong.”
“Kamu—”
“Dasar sok banget kamu! Udah muka dekil kayak sampah. Buku sama baju penuh debu. Gak punya orang tua lagi! Kamu lahir dari batu ya? Hahaha…”
Ran dan bocah laki-laki itu terdiam, saat salah satu bocah laki-laki lain yang mana adalah pengikut si bocah laki-laki yang memegang buku paket Ran mengatakan hal menyakitkan itu.
Tak berapa lama, mata Ran berkaca-kaca. Gadis cilik berusia hampir sepuluh tahun ini mengepalkan tangan kuat.
“Kalau aku lahir dari batu, bukan urusanmu kan?!” ucap Ran dingin. Ran mengalihkan pandangan ke arah bocah laki-laki yang masih memegang buku paketnya. “Kamu, gak perlu ganggu aku lagi! Kembalikan buku paketku! Gak usah pegang-pegang lagi! Aku takut tanganmu kotor pegang buku ini karena banyak DEBU-nya!” Ran menarik kasar buku paket yang dipegang bocah laki-laki itu, lalu pergi ke luar kelas dengan bahu bergetar hebat. Bocah laki-laki itu sadar, kalau Ran pasti berusaha keras untuk menahan tangisnya. Bocah laki-laki ini baru pertama kali melihat wajah Ran yang seperti itu. Dan dia, tidak berharap Ran mengeluarkan air mata.
Sepanjang hari itu Ran terlihat murung, sementara sang bocah laki-laki tak jauh berbeda. Bocah itu selalu memperhatikan Ran yang duduk tak jauh dari tempatnya dengan tatapan penuh penyesalan.
Keesokan harinya, sang bocah laki-laki bertekad meminta maaf pada Ran walaupun bukan dirinya yang mengatakan hal yang menyakitkan itu. Tapi hatinya mengganjal, karena secara tak langsung dia merasa jika dirinyalah penyebab bocah laki-laki yang mana adalah temannya mengatakan hal itu. Seandainya dia tidak mengejek Ran lebih dulu, pasti Ran tidak akan pernah mendengar kata-kata menyakitkan itu. Tapi saat bocah laki-laki itu menanti sampai bel masuk berbunyi, sosok Ran tak muncul. Sampai beberapa hari berikutnya, Ran masih tak kelihatan masuk sekolah. Bocah perempuan itu menghilang bagai ditelan bumi.
“Si gembel sakit karena kebanyakan ngemil debu kali—”
“Bisa diem gak kamu, Tara!” bentak sang bocah laki-laki pada temannya saat sang teman mengejek bocah perempuan yang dinantinya selama beberapa hari ini.
“Kamu kenapa sih, Aryan? Ngapain juga mau minta maaf sama gembel i—”
Bug!
Bocah laki-laki yang ternyata bernama Aryan itu langsung memukul perut temannya. Dan akhirnya, perkelahian antara dua teman itu terjadi, sampai membuat kedua orang tua mereka keesokan harinya harus datang ke sekolah.
*Flashback Off*
“Anak Tampan!”
Aryan tersadar dari lamunan saat sang mama memanggilnya.
“Mau sampai kapan berdiri di sana? Kamu mau menggantikan pintu ruangan ini, Sayang?” tanya sang mama menggoda.
Aryan tersenyum salah tingkah. Pria ini melangkah masuk perlahan.
Diam-diam, Aryan melirik wanita super cantik yang tadi tak sengaja ditabraknya sudah duduk dengan anggun di samping wanita yang sepertinya sebaya dengan sang mama.
‘Oh God! She’s my Cute Pumpkin???’ erang Aryan di dalam hati, masih tak percaya dengan fakta di depan mata. Dada Aryan bergemuruh. Sekujur tubuhnya panas dingin, karena tak menyangka jika kembali bertemu dengan bocah perempuan yang pernah disakitinya di masa lalu.
Tatapan mereka tak sengaja bertemu. Namun sang wanita yang memiliki rahang tegas itu langsung mengalihkan pandangan dengan wajah datar, seolah tak ingin menatap Aryan lebih lama.
Aryan berpikir di dalam hati, apakah wanita itu mengingatnya? Sehingga tak mau berlama-lama menatap wajahnya yang tampan bak Dewa Yunani ini.
Memuji diri sendiri sepertinya tidak ada salahnya, karena pria ini memang sepercaya diri itu.
Mata Aryan masih mengarah ke arah wanita itu. Rasa kagum tidak bisa dia tepis melihat wajah cantik Ran.
‘Kamu luar biasa cantik, Pumpkin…’ ucap Aryan di dalam hati.
***