Kerajaan Cahaya, hari ini berbeda dengan hari biasanya. Kerajaan Cahaya selalu memiliki cuaca hangat dan cerah namun hari ini angin berhembus lebih dingin, awan terlihat mendung namun tidak turun hujan. Suasana seperti akan ada badai yang besar.
Di sebuah kamar Kerajaan Cahaya, seorang ibu yang sedang mengandung membacakan cerita untuk putranya. Lalu tiba-tiba ibu itu merasa bahwa perutnya berkontraksi, tanda proses persalinan awal dimulai.
"Yuasa cepat panggil papa, sepertinya mama mau melahirkan," Perintah ibu itu memegangi perutnya yang terasa sakit.
Anak yang bernama Yuasa mengangguk dan segera berlari. Tak lama kemudian ayah anak itu datang bersama seorang wanita. Wanita itu adalah dokter yang akan membantu persalinannya.
Dengan cekatan dokter itu membimbing pasiennya yang akan melahirkan. Tak lama berselang, terdengar suara tangisan bayi.
"Selamat Yang Mulia, Permaisuri melahirkan bayi kembar" ucap dokter wanita itu.
Rasa senang terpancar dari wajah pria itu. Dia mendapatkan bayi kembar. Lalu pria itu masuk dan melihat kedua bayi kembarnya. Bayi kembar laki-laki dan perempuan. Mereka kembar identik, wajahnya sama persis. Yang berbeda adalah warna rambutnya. Bayi perempuan berambut hitam gelap sedangkan bayi laki-laki berambut perak.
Pandangan pria itu tertuju pada bayi laki-laki itu. Dia berguman,"tidak mungkin."Pria itu membelai bayi laki-laki itu lalu meneteskan air mata.
"Dokter, segera kenakan pakaian hangat untuk bayi ini," ucap pria itu.
Tanpa banyak bertanya Dokter wanita itu segera membersihkan bayi itu dan mengenakan baju hangat serta selimut tebal pada bayi itu.
"Yang mulia, anda mau bawa ke mana bayi ini?" tanya dokter wanita itu saat menyerahkan bayi laki-laki itu.
"Tolong urus bayi perempuanku dan permaisuri, "Jawab pria itu langsung pergi meninggalkan mereka.
***
Di Kerajaan Silverstone, hujan dengan petir menyambar, terdengar suara gemuruh dan kilatan petir yang menyeramkan. Di saat gemuruh dan suara petir yang semakin menjadi terdengar tangisan bayi. Seseorang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki. Dia adalah permaisuri Erina yang melahirkan putra keduanya.
"Permaisuri, bayi ini! Orang yang membantu melahirkan bayi permaisuri Erina tidak bisa berkata-kata. Bayi itu dialiri aliran listrik setiap disentuh orang yang menyentuhnya merasakan tersengat listrik.
"Panggil Archilles kemari, cepat!" perintah permaisuri.
Dengan cekatan permaisuri membungkus bayinya dengan kain supaya bayi itu hangat. Orang yang membantunya melahirkan tidak berani menyentuhnya.
Sesaat kemudian seorang pria datang, permaisuri memberikan bayi itu dan memintanya ke Kerajaan Cahaya. Tanpa banyak bicara pria itu langsung pergi dengan cepat.
***
Kerajaan Cahaya
Pria itu menggendong bayi laki-lakinya menuju sebuah kubah besar. Tempat itu sangat sepi, dia berjalan terburu-buru dan berhenti di depan sebuah gerbang.
Gerbang itu adalah portal dimensi yang menghubungkan kerajaan Cahaya dengan kerajaan Silverstone.
Tiba tiba portal dimensi itu mengeluarkan cahaya menyilaukan dan bayangan seseorang terlihat keluar dari dalam sana.
"Archilles!" ucap pria itu saat melihat seseorang yang keluar dari portal itu.
"Yang Mulia," jawab Archilles.
Pria yang dipanggil yang mulia oleh Archilles adalah Raja Yuichi. Nama lengkapnya Ryuichi Yuichi. Dia adalah Raja dari kerajaan Cahaya.
Archilles menceritakan kejadian kelahiran bayi yang sedang dipeluknya dengan cepat kepada raja Yuichi. Raja Yuichi mendengarkan dengan tenang. Lalu menghela napas dalam dan panjang.
"Ini sudah takdir," ucapnya. Dia juga bercerita tentang kelahiran bayi kembarnya dan Archilles mendengarkan baik-baik cerita Raja Yuichi.
"Benar-benar sulit dipercaya, kebetulan ataukah takdir," ucap Archilelles.
Akhirnya mereka menukar kedua bayi itu. Bayi Raja Yuichi dengan bayi Permaisuri Erina.
"Nama anak ini Yuan, jangan lupakan itu. Aku titipkan dia padamu jaga baik-baik," ucap Raja Yuichi.
"Dia bernama Light, nama yang sesuai untuk kelahirannya, tolong yang mulia menjaga dan menyayanginya," balas Archilles.
"Tentu," jawab Raja Yuichi.
Archilles kembali memasuki portal dimensi membawa Yuan bersamanya.
Raja Yuichi membawa Light dalam pelukannya, memandangnya sekilas. Rambut Light berwarna perak sama seperti Yuan. Terasa elemen petir yang kuat dari bayi Light.
Raja Yuichi kembali ke Istana bersama Light
***
Kerajaan Silverstone
Archilles kembali membawa seorang bayi laki-laki. Dia segera menemui permaisuri Erina.
“Permaisuri Erina, bayi ini bayi Raja Yuichi namanya Yuan. Raja Yuichi menitipkan bayi ini,” kata Archilles menyerahkan bayi itu ke Erina.
Erina memandang bayi laki-laki itu, “Yuan, nama yang bagus, akan kujaga dirimu bayi kecil,” Erina memandang jauh keluar jendela, “Jaga dirimu Light semoga kau aman di sana, maafkan ibu,” gumam Erina lirih.
***
Raja Yuichi kembali ke Istana Kerajaan membawa bayi laki-laki. Selain dokter wanita yang membantu persalinannya tidak ada yang tahu bayi laki-laki itu bukanlah bayi permaisuri. Permaisuri yang tidak tahu mengira bayi yang digendong suaminya itu adalah anaknya.
"Suamiku, bayi ini kuberi nama Yui dan yang laki-laki Yuan" Ucap permaisuri yang menggendong bayi perempuannya.
"Bayi ini bernama Light," jawab Raja Yuichi.
"Tapi ...." Permaisuri ingin protes seketika terdiam saat melihat suaminya menggelengkan kepala. Dia tahu apapun yang akan dia katakan tidak ada gunanya.
"Yui dan Light. Ya Light juga bagus warna rambut peraknya juga terlihat cocok dengan namanya," ucap permaisuri memandang bayi yang digendong suaminya.
10 tahun kemudian
Kerajaan Silverstone
“Yuan ... Yuan ...!” teriak Rainsword memanggil adiknya.
Yuan sudah tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang manis. Dia terlihat sangat cantik. Banyak yang menyangka dia perempuan karena kecantikannya.
"Ssttts ... Kakak diamlah ini perpustakaan," jawab Yuan acuh dan kembali membalik halaman buku yang dia baca.
Dari belakang, Rainsword memeluk Yuan, lalu mencubit pipinya dengan gemas.
"Ehmmm ...." Penjaga perpustakaan berdeham untuk penarik perhatian kedua pangeran cilik itu.
"Maaf pangeran harap tenang di sini perpustakaan," ucapnya.
"Siap," jawab Rainsword nyengir.
"Buku apa yang kamu baca?" tanya Rainsword.
"Ini buku kisah ras selain manusia, ada Elf, Drawf, Peri makhluk-makhluk fantasi seperti pegasus juga ada," jawab Yuan antusias menceritakan buku yang dia baca.
"Kamu mau hidup di dunia dongeng? Mereka itu makhluk fantasi artinya tidak nyata. Buang-buang waktu saja. Lebih baik berlatih beladiri atau membaca buku yang lain."
Rainsword mengambil buku yang baca Yuan. Yuan berusaha mengambil kembali bukunya namun tidak bisa. Rainsword memiliki perawakan yang tinggi dan berotot. Sedangkan Yuan terlihat mungil di sampingnya.
Jika diperhatikan mereka tidak seperti adik dan kakak. Kesamaan mereka hanya pada warna rambut mereka saja. Rambut keperakan yang dimiliki Rainsword dan Yuan. Postur tubuh, sifat, gaya pakaian bahkan perilaku mereka sangat berbeda.
Yuan yang kesal langsung keluar dari perpustakaan. Melihat itu Rainsword mengejarnya.
"Duh ngambek, maaf maaf," ucap Rainsword
Saat mereka berjalan terlihat ada rombongan kereta kuda dengan beberapa pengawal. Melihat itu wajah Yuan kembali ceria.
"Ayahanda pulang!" teriak Yuan girang dan berlari ke arah Istana. Rainsword ikut berlari di samping Yuan.
Tak lama kemudian di Istana, Raja Edward yang baru tiba disambut kedua pangeran yang berlari ke arahnya.
Raja Edward mengangkat Yuan tinggi-tinggi.
Tubuh Yuan yang mungil membuatnya mudah diangkat. Setelah itu dia memeluk Rainsword putra pertamanya.
"Kalian sudah besar ya. Rasanya cepat sekali waktu berlalu."
"Oiya, ayah ada hadiah untuk kalian," Raja Edward mengambil sebuah kotak dan memberikannya ke pada Yuan dan sebuah kotak panjang kepada Rainsword.
Rainsword membuka kotak yang diberikan padanya. Kotak itu berisi sebuah pedang perak. Pedang itu terlihat sangat bagus. Rainsword dan Yuan terpana melihatnya.
"Ini pedang perak, katanya mahkluk sejenis werewolf dan vampire akan ketakutan melihatnya, dan pedang ini menyimpan kekuatan yang hebat," ucap Raja Edward mebuat Rainsword dan Yuan makin berbinar.
Melihat tingkah kedua putranya Raja Edward hanya bisa tersenyum senang.
Yuan penasaran dengan kotak miliknya dia membukanya. Diluar dugaan isinya adalah baju dan sebuah kalung dengan liontin berbentuk pedang. Melihat itu terlihat ekspresi kecewa dari wajah Yuan.
Saat itu Archilles yang tidak sengaja melihatnya menghampiri pangeran Yuan.
"Pangeran ini adalah pedang Es abadi. Pedang ini akan melindungi Pangeran dari orang-orang yang akan berbuat jahat. Saat ini pedang ini terlihat kecil namun suatu saat nanti Pangeran akan menggunakannya sebagai senjata yang tak terkalahkan. Pedang ini tidak akan pernah hilang dan akan selalu menemani Pangeran," ucap Archilles mengalungkan kalung dengan liontin berbentuk pedang tersebut.
Lalu dia membuka baju yang masih terlipat. Baju itu sebuah jaket dengan hoodie. Archilelles mengenakan jaket itu di tubuh Yuan. Jaket itu pas dikenakan Yuan. Seketika jaket yang dikenakannya berubah warna menjadi senada dengan rambut peraknya.
"Ini jaket kamuflase, bisa berubah warna. Kamu bisa bersembunyi dengan ini," ucap Archilles.
Melihat hadiahnya ternyata sangat bagus Yuan menjadi sangat senang.
“Terimakasih Ayahanda,” kata Yuan.
Kedua pangeran pergi meninggalkan Raja Edward dan Archilles.
“Darimana Anda mendapatkan benda-benda itu Paduka Raja?” tanya Archilles yang penasaran dengan pedang Yuan.
“Beberapa hari yang lalu ada pertemuan para raja, ada seorang raja yang mendekatiku dan memberikan hadiah ini. Aku belum pernah melihatnya Dia sebelumnya, namun Dia mengenal Rainsword dan Yuan. Sangat aneh, tidak ada yang mengenal Yuan di luar istana tapi darimana Dia mengenalnya.” Raja Edward menghela napas panjang seakan seharusnya dia tidak menerima hadiah itu.
“Hadiah itu akan sangat berguna untuk mereka, keputusan Paduka Raja sudah tepat, tidak perlu menyesalinya.” Archilles menundukkan kepala mengisaratkan pamit dari hadapan sang Raja
“Tunggu, katakan padaku yang sejujurnya. Apa yang kau sembunyikan?” tanya Raja Edward.
“Saya tidak menyembunyikan apapun Paduka,” jawab Archilles.
“Kau berbohong.” Raja Edward memandang lekat-lekat Archilles. “katakan, Siapa Yuan sebenarnya?”
Archilles menelan ludahnya. Sulit baginya untuk jujur, dan tidak mudah pula untuk berbohong.
“Paduka, saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Mohon maaf,” jawab Archilles.
“Lalu kapan? Sudah jelas Yuan bukan anakku, apa Erina selingkuh dibelakangku?” tanya Raja Edward.
“Paduka, tolong percaya Ratu Erina sangat mencintai Anda, Dia tidak mungkin selingkuh,” jawab Archilles. Kali ini Archilles tidak mampu menatap Raja Edward.
“Kalau begitu jelaskan padaku, bagaimana bisa Yuan berbeda. Apa kau kira aku buta?” Raja Edward berusaha menahan amarahnya. Dia duduk di kursi yang ada.
“Tunggulah, setidaknya hingga Pangeran Yuan berulang tahun, Ratu Erina akan menjelaskan semuanya,” jawab Archilles. Dia tidak tahu lagi harus mencari alasan apalagi.
“Baiklah, tidak lebih dari itu.” Raja Edward meninggalkan ruang itu. Kini Archilles berdiri mematung seorang diri.
***
Rainsword dan Yuan melihat ayahnya berjalan dengan santai segera menghampiri. Yuan memanggil ayahnya, “Ayahanda... Ayahanda ....”
Raja Edward yang suasana hatinya sedang kacau tidak menyadari panggilan Yuan dan tetap berjalan tanpa menoleh. Yuan meraih tangan ayahnya yang seketika ditarik dengan kasar.
Raja Edward yang melihat ekspresi Yuan begitu terkejut dengan tindakannya segera menyesalinya. Apa yang kulakukan anak ini tidak bersalah, bahkan dia juga tidak tahu.
“Yuan, maaf Ayah hanya kaget saja.” Raja Edward ingin mengelus rambut Yuan tapi berhenti karena teringat dia bukan anaknya. Rasa sakit hati membuat Raja Edward memperlakukan Yuan tidak seperti biasanya.
Sejak bertemu dengan raja yang memberikan hadiah kepada Rainsword dan Yuan, dia tidak bisa melupakannya. Wajah raja itu sangat mirip dengan Yuan. Bukan hanya wajahnya postur tubuh juga memiliki kesamaan. Bagaimana mungkin anaknya memiliki wajah yang sama dengan pria lain? Awalnya Raja Edward hanya mengira Yuan mungkin seperti istrinya yang memang bertubuh mungil tapi pria yang dia temui memiliki kesamaan yang hampir 100% dengan Yuan. Satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya adalah istrinya berselingkuh hingga melahirkan anak hasil hubungan mereka.
“Ayah banyak urusan, pergilah,” kata Raja Edward. Yuan pun meninggalkan ayahnya dan segera berlari menuju kakaknya.
Selama beberapa hari menjelang hari ulang tahunnya. Raja Edward menjauhi Yuan. Tentunya perlakuan itu menyayat hatinya. Ayah yang sangat disayanginya telah berubah.
“Kak Rain, apa Ayah benci padaku?” Yuan berhenti membaca dan menutup bukunya.
“Jangan terlalu dipikirkan, Ayah mungkin lelah,” jawab Rainsword. Dia juga menyadari perubahan sikap ayahnya terhadap adiknya.
“Kurasa ayah membenciku, kalaupun lelah Dia tidak akan seperti itu.” Yuan mengenang perlakuan Raja Edward yang selalu mengacuhkannya atau berusaha menghindari dirinya.
Rainsword memeluk adik kesayangannya. “Sudahlah Yuan, kakak akan selalu sayang.”
Hari ulang tahun Yuan tiba, sebuah pesta kecil digelar. Acara perayaan pesta ulang tahun yang biasa dilakukan seperti meniup lilin, memotong kue dan memberi hadiah. Pesta ini benar-benar sangat sederhana hanya ada keluarga dan Archilles saja tidak ada orang lain.
Selesai acara Raja Edward menagih janji Archilles. “Hari ini sudah tepat 10 tahun, sekarang katakan padaku yang sebenarnya.”
“Apa harus sekarang, biarkan hari ini berlalu,” jawab Ratu Erina.
Yuan dan Rainsword yang tidak mengerti hanya bisa diam dan saling memeluk.
Archilles yang melihatnya langsung angkat biacara, “Lebih baik kita cari tempat lain, tidak baik di depan anak-anak.”
Mereka pun setuju dan meninggalkan Yuan serta Rainsword.
“Apa Ayah sangat membenciku?” Kali ini Yuan menangis. Sudah lama dia memendam perasaannya. Rainsword hanya bisa memeluk adiknya dan berusaha menenangkannya.
Cukup lama Yuan menangis, hingga hari sudah larut malam. Rainsword mengantar adiknya ke kamar dan memintanya segera tidur. Kedua orang tuanya tidak kembali lagi, entah apa yang mereka bicarakan.
Hampir dini hari Yuan terbangun, dia tidak menyalakan lampu kamarnya. Di depan cermin bayangannya terlihat. Mata sembab karena menangis terlalu lama terlihat jelas. Rambut berantakan bangun tidur dan suasana hati yang masih belum menentu. Yuan memandang cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Ada yang aneh. Cermin ini apa rusak? Yuan menyentuh rambut peraknya lalu memandang lagi di depan cermin. Bayangan di cerminnya memiliki wajah yang sama dengan dirinya namun warna mata dan rambutnya berbeda. Mungkin hanya mimpi. Yuan kembali naik ke tempat tidurnya dan berusaha memejamkan mata.
***
Archilles mengajak Yuan ke Istana Timur tempat Erina berada. Istana Timur disebut sebagai istana Ratu karena disinilah Ratu lebih sering menghabiskan waktunya dengan segala aktivitasnya. Banyak yang mengira Istana Ratu hanya boleh dimasuki para wanita.
“Paman bukankah kita tidak boleh ke sini, kitakan bukan perempuan,” kata Yuan
Archilles hanya tersenyum melihat kepolosan Yuan.
“Sudahlah ayo masuk,” kata Archilles
Yuan hanya mengikuti perintah saja. Di ruangan itu tidak banyak benda, tapi yang menarik perhatian adalah bola kristal yang ada di ruangan itu.
“Apa ini?” tanya Yuan.
“Letakkan tanganmu di atasnya,” perintah Archilles.
Yuan menurut dan meletakkan tangannya. Bola kristal itu berubah warna, warna hitam pekat. Melihat warna hitam Archilles sudah tidak terkejut lagi karena dia sudah tahu sejak awal, namun tiba tiba ada warna lain muncul setelahnya warna putih tidak itu warna perak. Kedua warna itu berputar putar hingga mencapai posisi seimbang antara warna hitam dan perak.
“Paman ini apa?” tanya Yuan tidak mengerti.
“Tunggu sebentar.” Archilles mencari sebuah buku dan setelah beberapa saat mencari dia akhirnya menemukannya. Archilles membolak balik halaman buku itu. Sementara Yuan duduk manis di kursi yang ada di ruangan itu.
“Kristal perak, kristal perak” gumam Archilles dan akhirnya dia menemukannya.
“Ini dia, kristal perak merupakan satu dari tiga kristal spesial diantara kristal emas dan kristal tanpa warna, kristal perak memiliki kemampuan pengendalian alam yang sempurna, kekuatannya mengendalikan roh alam.”
Archilles memandang Yuan yang juga sedang memperhatikan dirinya dengan pandangan ingin tahu serta tersenyum manis kepada Archilles.
Bagaimana aku memberitahunya, selama ini dia tidak tahu apapun. Harus mulai darimana? Apa dia bisa menerima semua ini?
“Paman?” Suara Yuan membuyarkan lamunan Archilles yang sedang berpikir keras.
“Begini, Yuan. Ini adalah bola kristal, aku dan ibumu berasal dari bangsa kristal sepertinya kau juga mewarisi kemampuan bangsa kami.” Archilles duduk di sebelah Yuan. Mencari kata-kata yang tepat supaya mudah dimengerti. “Hasil tes yang baru Kau jalani tadi menunjukkan bahwa Kau memiliki kristal perak dan kristal hitam.Kristal perak memiliki kemampuan memanggil roh alam.”
“Maksud Paman Aku bisa memanggil roh alam, keren.” Mata Yuan berbinar penuh semangat.
“Yuan, rahasiakan ini, terutama dari kakakmu,” kata Archilles. Yuan mengangguk mengisyaratkan setuju.
Mereka keluar dari Istana Timur, Yuan terlihat senang dan bersemangat. Archilles hanya bisa tersenyum melihat tingkah polos Yuan.
“Paman ada urusan sebentar, Kau langsung saja ke tempat latihan ya, sampaikan ke Pangeran Rainsword kalau Aku akan terlambat,” kata Archilles. Yuan mengangguk dan segera berlari kecil menuju tempat latihan.
Di tempat latihan, Rainsword sudah menunggu.
“Di mana Paman Archi?” tanya Rainsword.
“Paman akan terlambat, jadi Aku di sini untuk menemani kakak berlatih,” jawab Yuan.
Yuan mengambil pedang dan memainkannya. Melihat adiknya bermain pedang, Rainsword tersenyum dan mengajaknya berlatih.
“Kemarilah, jadilah lawan kakak.” Rainsword sudah menyiapkan kuda-kuda dan siap bertarung.
“Baiklah,” balas Yuan. Yuan mengikat rambut panjangnya supaya tidak menggangu. Lalu bersiap dengan kuda-kuda dan pedang di tangannya.
Duel pun dimulai, mereka berdua saling serang, menangkis dan bertahan. Mereka terlihat imbang, walaupun sebenarnya Rainsword hanya bermain saja tidak serius menghadapi adiknya. Di mata Rainsword, permainan pedang Yuan memiliki banyak celah terbuka, sangat mudah baginya untuk menjatuhkan Yuan. Namun, dia sengaja membiarkannya, menikmati permainan pedang bersama adiknya cukup menyenangkan.
Yuan baru berusia 10 tahun, permainan pedangnya sangat bagus, gerakannya gesit, terarah dan selalu mencari titik fatal musuh. Kurangnya pengalaman bertarung membuat gerakan Yuan terlihat tidak bervariasi. Seperti masih bergerak seperti instruksi buku, monoton dan tidak ada improvisasi. Rainsword memainkan pedangnya dengan mengikuti semua gerakan Yuan. Hanya untuk menjaga ritme permainan supaya tidak cepat berakhir. Di saat dia merasa perlu ada sedikit tekanan, Rainsword memberikan serangan yang mengagetkan Yuan hingga dia kehilangan pedang di tangannya.
“Kakak hebat!” Yuan mengambil pedang dan menyarungkannya.
Rainsword tersenyum dan mengacak rambut Yuan. “Kau juga hebat, masih kecil sudah mahir, saat besar nanti pasti sangat kuat.”
“Pangeran Rain, di mana pedang yang kemarin diberikan Ayah Anda?” tanya Archilles.
“Oh, ada di kamar,” jawab Rainsword.
“Mulai hari ini biasakan menggunakan pedang itu. Sekarang bisakah Anda mengambilnya?” perintah Archilles.
“Baiklah akan kuambil.” Rainsword segera pergi mengambil pedangnya.
“Pangeran Yuan, ulurkan tanganmu,” pinta Archilles. Yuan segera mengulurkan tangannya. Archilles memasang sebuah gelang berwarna perak dengan empat batu kristal sebagai hiasannya. Gelang itu pas di tangan kecil Yuan. “gelang ini untuk membuat kontrak dengan roh alam, jadi jangan pernah dilepaskan. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana akan bertemu roh alam, atau perlu memanggilnya.”
Yuan memandangi gelang di tangannya, kristal bening jernih berkilau di bawah sinar matahari. Tak lupa dia mengucapkan terimakasih kepada Archilles.
Selain sebuah gelang Archilles juga memberikan sebuah buku. Yuan langsung membaca buku tersebut, hingga tidak menghiraukan kakaknya telah kembali dengan pedang perak di tangannya.
Melihat Yuan sudah membaca buku lagi, Rainsword hanya bisa menggelengkan kepala. Archilles memanggilnya dan dia segera mendekatinya. Dia diajarkan bagaimana menggunakan pedang yang baik, pedang perak yang diberikan ayahnya terasa lebih berat dari pedang yang biasa dia pakai.
“Biasakan dengan bebannya, awalnya pasti akan sulit tapi seiring berjalannya waktu kau akan terbiasa dengan pedang ini,” kata Archilles yang terus memberi instruksi ke mana dia harus bergerak.