Seorang pria berparas tampan, tinggi, berpenampilan rapi dan segar menghampiri seorang gadis yang sedang duduk di taman, menikmati pemandangan alam yang hijau di bawah naungan pohon yang rindang.
Pria itu membungkuk mendekatkan wajahnya. Ia tersenyum dan menarik tangan gadis itu lalu mendorongnya ke pohon.
"Jadilah pacarku!" bisik pria itu di telinga si gadis.
Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia begitu terpesona dengan ketampanan pria di depannya. Pria itu membelai rambutnya dengan lembut dan menyentuh wajah gadis itu.
Gadis itu menutup mata merasakan belaian di wajahnya. Lalu ia membuka mata, pria itu mendekat untuk menciumnya. Gadis itu kembali menutup mata dan tersenyum.
*****
(Rumah Miya Tamama)
~Kringggggg~
Suara alarm berbunyi.
Miya yang sedang tidur tersenyum-senyum sambil berguling ke kanan lalu ke kiri, hingga akhirnya ia terjatuh dari tempat tidur.
Ah, teriak Miya kesakitan. Miya berdiri di depan cermin. "Ternyata hanya mimpi untunglah," ucap Miya merasa lega.
(Perkenalkan aku Miya Tamama. Mahasiswa Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Ekonomi semester dua)
Miya bersiap-siap berangkat ke kampus dengan memakai pakaian berwarna hitam.
(Semua orang bertanya padaku, kenapa selalu memakai warna hitam? Dan aku menjawab karena warna hitam adalah warna kesukaanku. Tapi sebenarnya, aku buta warna. Jadi apa yang kupakai sudah tidak penting lagi)
Miya berlari turun dari tangga. "Kakak, ayo berangkat!" teriaknya.
"Tunggu, aku sebentar lagi selesai!" balas Koko dari dalam kamar sebelah Miya.
"Cepatlah, Kak! Nanti aku terlambat," teriak Miya sambil menatap jam di tangannya.
Miya mendekati sebuah pintu. 'Kamar Ayah & Ibu' tulisan di pintu. Miya menyentuh gagang pintu, ia menutup mata, lalu Koko memegang tangannya.
"Ayo, kita masuk bersama," ucap Koko mengangguk pada Miya.
Miya tersenyum dan mereka membuka pintu bersama. Di dalam ruangan, banyak foto yang terpajang di dinding.
"Ibu, Ayah. Bagaimana kabar kalian disana? Aku dan kakak, kami baik-baik saja disini. Kuharap Ibu dan Ayah juga baik-baik saja dan selalu mencintai selamanya." - Miya.
"Ayah, Ibu. Jangan khawatirkan kami, kami baik-baik saja. Aku akan selalu menjaga adik dengan baik. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya. Percayalah padaku." - Koko.
Miya dan Koko saling bertatapan bertukar tersenyum. Koko mengulurkan tangannya. Miya menerimanya.
"Kita berangkat!" ucap Koko.
Em, Miya mengangguk.
***
(Universitas Indonesia)
Gedung-gedung bergaya campuran tradisional dan modern.
UI terdapat beberapa kampus. Pertama, Kampus UI Cikini, digunakan oleh Program Pascasarjana Fakultas Administrasi dan Kedokteran komunitas. Kedua, Kampus UI Salemba. Ketiga, Kampus Depok atau kampus utama dari UI.
UI memiliki berbagai fasilitas seperti, Pusat Administrasi Universitas, Pusat Kegiatan Mahasiswa, Gymnasium, stadion, lapangan hoki, penginapan (Wisma Makara), agen perjalanan Makara Tour & Travel, Asrama Mahasiswa Universitas Indonesia dan juga Perpustakaan Pusat UI.
(Fakultas Ekonomi UI Depok)
Miya menyandarkan kepalanya di meja. "Kenapa aku melewatkan adegan pentingnya? Harusnya aku kembali tidur saja tadi!" Miya kecewa mengingat mimpi tadi.
Seorang gadis datang dan dia mengendap-endap menghampirinya.
"Little Spongebob?" teriak gadis itu mengejutkan Miya.
"Nana? Beraninya kamu ..."
Miya menarik telinganya, dan menyuruh tidak memanggilnya seperti itu apalagi saat mereka berada di sekolah.
Nana mengangguk. "Bisakah sekarang kamu melepaskan aku? Telingaku sakit, sakit, sakit," rengek Nana dengan mata berkaca-kaca.
Miya menyuruh Nana duduk. Dan membantu Nana meniup daun telinganya yang memerah. Miya minta maaf lalu memukul tangannya yang menyakiti Nana.
"Berhenti, jangan menyakitinya! Tangan ini sangat berharga tauk."
Nana memegang tangan Miya, "Mulai hari ini, tangan ini adalah milikku, apa kamu mengerti?"
Miya mengangguk dan memberikan tangannya. Mereka tertawa.
Dosen masuk dan memulai kelasnya.
Beberapa jam kemudian, kelas akhirnya selesai. Nana berdiri sambil merenggangkan tubuhnya.
"Yuk," ajak Nana menarik tangan Miya.
"Kemana?" Miya memandang bingung.
"Love Cafe," ucap mereka bersamaan dengan senyuman di bibir mereka.
***
(Kantin Love Cafe - FEB)
Nana bertanya hari ini Miya mau pesan apa. Emm, Nasi Ayam Real Madrid, jawab Miya.
Nana menggeleng.
"Selama 6 bulan, makananmu tidak pernah berubah. Bagaimana jika mencoba menu yang lain?" tawar Nana.
Miya menolak lalu ia pamit ke toilet. Nana mendesah melihat Miya pergi.
"Baiklah, biarkan aku yang pesan. Kamu cepat pergi sana!" gumam Nana.
Beberapa menit kemudian, Nana selesai memesan. "Di mana Miya?" Nana mengedarkan pandangannya mencari Miya yang belum juga kembali dari toilet.
"Miya," panggil Nana yang duduk di tempat no. 10.
Miya menghampirinya. Lalu pesanan mereka datang.
"Apa kamu bertemu dengannya lagi?" tanya Miya ketika melihat Nana memesan pasta.
***
Flashback.
Miya membawa kopernya menuju asrama. Ketika sampai di pintu kamarnya, Miya mengetuk pintu untuk kesopanan, khawatir jika di dalam ada orang. Tanpa ada jawaban Miya pun membuka pintu.
Miya terkejut hingga terjatuh. Ia melihat seorang gadis menangis di ruangan yang gelap sambil menyenter wajahnya.
Gadis itu menyalakan lampu. "Kenapa kamu duduk di lantai? Bangunlah! Lantai sangat dingin. Jangan sampai jatuh sakit!" ucap gadis itu tersenggal-senggal.
Miya mengangguk dan berdiri.
Gadis itu kembali bertanya, "Kenapa kamu masih berdiri disini, pergilah ke ruanganmu!"
Miya kembali mengangguk dan tetap berdiri disana.
"Kenapa kamu hanya mengangguk? Apa kamu bisu? Kasihan sekali, padahal kamu cantik. Dunia ini tidak adil padamu," rengek gadis itu.
"Aku, aku, tidak bisu," jawab Miya terbata-bata.
"Baguslah, kamu beruntung," ucap Gadis itu sambil memaksa tersenyum dan menutup pintu kamar.
Miya bingung dengan yang baru saja terjadi. Lalu Miya mengetuk pintu.
Gadis itu membukanya, "Ada apa?"
Miya memperlihatkan nomer kamarnya.
"Oo, masuklah! Jangan lupa tutup pintunya!" perintah gadis itu.
Setelah Miya selesai menata barang-barangnya. Miya menghampiri gadis itu dan memperkenalkan diri.
"Siapa namamu?" tanya Miya selesai memperkenalkan diri.
"Nana," ucap lirih gadis itu.
Miya tersenyum padanya. "Nana? Nama yang bagus."
Nana terpesona melihat senyumnya, ia merasa hangat dengan sikap Miya lalu memeluknya. Miya merasa terkejut, tapi ia balas memeluknya. Lalu Nana semalaman bercerita padanya, mengenai ia putus dengan kekasihnya. Miya pun lelah dan tertidur. Nana tersenyum memandangi wajah Miya yang polos.
Pukul 06.30, Nana menggerakkan badan Miya yang masih tertidur pulas. Miya membuka mata perlahan. Kepalanya masih sempoyongan, samar-samar ia melihat Nana.
"Bagunlah! Aku memasak mie. Ayo, kita makan bersama!" ajak Nana.
Miya bangun lalu mencuci muka dan duduk di meja makan. Miya melongo menatap mie yang berwarna merah pekat di depannya dari baunya sangat jelas kalau mie itu sangat pedas.
Nana menyuruhnya mencicipi masakannya. Miya mengangguk dan mencicipinya sedikit. Miya menutup mata merasakan pedasnya, ia merasa tubuhnya bergoyang-goyang sambil mengipas-ngipas mulutnya. Nana tertawa melihatnya.
Flashback end.
***
Miya melihat Nana memasukkan banyak cabe di pastanya.
"Apa kamu bertemu dengannya? Apa lagi yang terjadi?" tanya Miya dengan menatap Nana serius.
Nana menggeleng dan memakan pasta nya. Miya memberikan air nya pada Nana.
"Kenapa kamu memberikan air mu padaku?" tanya Nana hampir menangis.
"Pastanya pasti sangat pedas. Jadi, minumlah air lebih banyak! Kamu bisa menyisakan separuh untukku," lanjut Miya memakan makanannya.
Nana berterima kasih, Miya adalah sahabat terbaiknya. Selesai makan, Nana pun bercerita bahwa ia memang bertemu dengan kekasihnya. Beberapa waktu lalu, ia menerima kembali cinta kekasihnya. Tapi kemarin ketika ia pergi ke perpustakaan dia melihat kekasihnya berduaan dengan cewek lain.
Miya terus mendengarkan sambil menahan semua emosinya. Setelah Nana selesai bercerita Miya memasang wajah menakutkannya.
"Jangan memandangiku seperti itu! Hatiku sudah sakit dan yang kamu lakukan ini hanya menambah air garam di lukaku," Nana menunduk sedih.
Miya mendesah.
"Siapa seminggu lalu mengatakan dia tidak akan menerima cinta Luki? Siapa yang mengatakan dia tidak akan mencintainya lagi? Siapa yang ...."
"Berhenti! Itu aku, aku yang ... " ucap Nana dan berhenti sejenak.
"Tapi, aku tidak bisa melupakannya. Aku sudah mencintainya sejak masih SMA sangat sulit untuk melupakannya. Walaupun, aku tahu jika dia suka melirik wanita lain tapi aku, aku," Nana tidak sanggup lagi untuk bicara.
"Berhenti menangis! Air matamu sangat berharga. Ini, bersihkan wajahmu!" Miya memberikan tisu.
Ponsel Nana berdering. Ia terkejut dan segera berlari. Miya mengejarnya.
"Kamu mau pergi kemana?" Miya menarik tangan Nana.
"Luki terjatuh saat bermain basket. Aku ingin kesana melihat keadaannya," Nana terlihat sangat khawatir.
Miya mengatakan ia akan ikut dengannya. Nana tersenyum dan berterima kasih karena Miya mendukungnya. Miya mengangguk.
***
Beberapa menit kemudian, Miya dan Nana sampai di Fakultas Kedokteran. Nana segera berlari sambil terus menghubungi Luki. Tetapi Luki belum juga menerimanya.
Kemudian ada pesan masuk. Nana segera pergi menuju kelas Luki. Nana dan Miya sampai juga di depan kelas Luki. Miya mengangguk untuk membuka pintu. Setelah membuka pintu, Nana terpana melihat Luki memakai setelan jas. Dan ruangan itu di hias begitu cantik. Nana berfikir bahwa Luki kemungkinan akan mengajaknya berbaikan lagi.
Flashback.
Saat upacara penerimaan siswa baru di SMA, Nana terpana melihat Luki berpakaian jas berbicara di podium menyambut semua siswa baru.
"Apa ini yang disebut cinta pertama?" batin Nana yang duduk di antara siswa baru.
Flashback end.
"Nana, kita sudah bersama selama 3 tahun ini. Dan selama ini aku sangat-sangat bahagia kau ada di sisiku. Saat aku sakit, kau merawatku, kau memberikan semua waktumu yang berharga untukku. Nana, aku sungguh mencintaimu dengan tulus. Nana, mari kita putus!"
Awalnya Nana terharu dengan perkataan Luki. Tetapi, kata-kata terakhir Luki seperti sebuah pedang bermata dua. Pedang itu mengiris hati Nana berkeping-keping hingga hancur. Nana menahan tangisnya. Ia mengangguk sambil memaksa senyum di wajahnya. Lalu berlari keluar.
Miya sedih melihatnya. Ia menghampiri Luki dan menamparnya. Tetapi, Luki menunduk sehingga tamparannya mengenai seorang pria yang berdiri di samping Luki.
"Nana, mari kita putus!" Kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Luki.
Hiasan yang indah, cantik, dan suasana yang begitu romantis, semua itu seperti warna abu-abu di dalam mataku. Aku melihat Nana menahan tangisnya. Ia tidak berkata apapun. Nana hanya memberi anggukkan sebagai jawabannya. Lalu Nana berlari keluar.
Miya menghampiri Luki dan tersenyum sinis.
"Dasar pria pengecut. Untuk apa ini semua? Jika kau hanya ingin mengatakan hal itu, seharusnya kamu tidak perlu menghias tempat ini. Nana, dia sangat mencintaimu, kamu tahu lebih baik daripada aku. Seharusnya dia lah yang memutuskan mu, bukan dirimu. Pria sepertimu yang tidak bisa menghargai cinta dan suka mempermainkan perasaan wanita, pria seperti dirimu tidak pantas di cintai."
Miya menatap Luki tajam. Wajahnya memerah karena amarah yang masih tersimpan di kepalanya.
"Apa ini cukup sebagai akun nya?" tanya Miya.
"Em, menurutku, ini semua sudah lebih dari cukup. Lihatlah! Betapa bagusnya aku merias ruangan ini. Karena kamu menganggap ada yang kurang, maka beritahu aku, apa yang kurang?" tanya Luki dengan nada sombong.
Miya menggenggam tangannya berusaha menahan emosi. Tapi, tatapan Luki dan perkataannya terus membayang di kepalanya. Membuat dia tidak bisa lagi menahannya.
Miya mengangkat tangan dan menampar Luki. Tapi, Luki menunduk menghindarinya, sehingga tangan Miya mendarat pada seorang pria yang berdiri di samping Luki. Miya dan semua orang yang berada di ruangan terkejut. Dia melarikan diri karena malu.
***
Miya berjalan linglung masuk ke asrama. Ia lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia kembali bangun.
"Di mana Nana?" tanya Miya yang tidak melihat Nana di kamar.
Miya segera mencari-cari ponselnya. Setelah menemukannya, ia menghubungi Nana.
"Nana, cepat jawab, Na, " Miya mondar-mandir di dalam kamar berkali-kali menghubungi Nana tetapi ponselnya tidak aktif.
***
(Fakultas Kedokteran)
Luki tertawa memandangi wajah Tamama yang memerah. Tamama menatap tajam dan menyalahkan Luki.
"Ini semua salahmu, jika kau tidak menghindari gadis itu, apa aku akan seperti ini?"
Luki minta maaf lain kali tidak akan berakhir seperti ini.
"Masih ada lain kali?" Tamama mengambil alat suntik.
Luki menggeleng, tidak ada lain kali, ini yang terakhir. Tamama mengangguk. Lalu ia melanjutkan penelitiannya.
"Tamama, terima kasih sudah membantuku. Aku sekarang berharap dia bisa menerimanya."
Tamama menatapnya dan menyuruh membantunya. Jika tidak pergi dari hadapannya.
"Jangan pikirkan lagi. Sekarang kau harus berjuang untuk menyembuhkan penyakitmu!"
"Berjuang? Benar, aku harus berjuang menyembuhkan penyakitku. Tapi, kepalaku ini terasa sangat sakit. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk berjuang," ucap Luki sambil memegang kepalanya.
Tamama menatapnya.
"Tidak akan terlalu sulit, jika kau serius melakukannya. Aku yakin kamu pasti sembuh."
***
Beberapa jam kemudian, Nana pulang ke asrama dengan pakaian basah kuyup. Matanya merah dan membengkak karena habis menangis. Miya memberinya air hangat untuk di minum.
"Ah, rasanya sangat nyaman. Air ini manis," Nana tersenyum.
Miya menyuruhnya segera pergi mandi agar tidak masuk angin.
Setelah selesai mandi, Nana menghampiri Miya dan tersenyum. Miya balas senyum Nana dan memeluknya. Nana berterima kasih karena Miya sudah membalaskan dendamnya pada Luki. Miya memandangnya bingung. Lalu Nana memperlihatkan video yang di posting di grup Fakultas Kedokteran.
Miya berkata ia tidak ada maksud untuk mencampuri urusan Nana. Tapi, saat itu Miya tidak dapat menahan emosinya jadi terpaksa ikut berpartisipasi. Nana tertawa mendengarnya.
"Tapi, lihatlah ini! Bagaimana kamu bisa salah menampar orang lain. Lalu setelah itu kamu melarikan diri, tanpa minta maaf padanya, " Nana tertawa memandangi Miya yang kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Jangan katakan apapun lagi! Aku sudah sangat malu. Aku hanya berharap tidak bertemu dengan pria itu lagi," ucap Miya mengerutkan dahi. Sedangkan, Nana terus saja tertawa.
***
Nana dan Miya bersiap-siap berangkat kuliah. Seperti biasa Nana memakai baju serba hitam.
"Mengapa kamu memandangiku?" Miya menatap Nana.
"Apakah aku harus mengikuti cara berpakaian mu?" pikir Nana.
Miya menggeleng, cukup tetap seperti biasanya saja karena akan sangat aneh jika Nana mengikuti gayanya. Nana mengangguk membenarkan. Lalu Nana pamit ke kamar mandi dulu.
"Miya, bantu aku masukkan bolpen berwarna kuning ke dalam kotak pensilku!" teriak Nana dari dalam kamar mandi.
"Di mana kamu meletakkannya?" balas Miya.
"Ada di atas meja."
Miya bingung memilih karena ada 4 bolpen di meja. Akhirnya, ia mengambilnya acak. Nana keluar dari kamar mandi.
"Apa kamu sudah memasukkannya?"
Miya mengangguk. Lalu mereka berangkat ke kampus.
***
Miya dan Nana berjalan menuju kelas, semua mata memandangi mereka. Saat sampai di kelas, teman sekelasnya sengaja menumpahkan air di pakaian Miya.
"Maaf maaf, aku tidak sengaja," ucapnya.
Miya mengangguk tidak mempermasalahkannya. Sedangkan, Nana ia merasa wanita itu memang sengaja melakukannya. Miya pamit ke toilet pada Nana. Nana ingin pergi bersamanya tetapi ia di hadang oleh wanita tadi.
"Mau pergi kemana? Tetaplah di kelas, sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai, " ucap wanita itu.
Nana merasa ada yang aneh, tapi dosen datang dan menyuruh semuanya duduk.
***
Ketika kelas dimulai Nana membuka kotak pensilnya. Hah, mengapa warna biru, bukankah aku menyuruh Miya memasukkan yang warna kuning. Yang ini kan habis isinya. Lalu Nana membuka tas Miya untuk menginjam bolpennya.
Sudah lewat satu jam lebih, Miya belum juga kembali dari toilet. Nana terlihat khawatir.
~Kringggg~
Suara bel berdering keras.
Nana segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ketika ia akan pergi, teman-temannya menghentikannya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Nana.
"Berikan tas Miya padaku! Dia mengirimku pesan untuk membawakan tas nya!" ucap wanita itu.
"Salsa, mengapa seingatku Miya tidak punya kontakmu? Jadi, bagaimana dia menghubungi?" Nana menatapnya tajam.
"Hah, terlalu banyak bicara. Rebut tas nya sekarang juga!" perintah Salsa pada teman-temannya.
Nana tetap mempertahankan tas Miya. Mereka pun saling tarik. Tidak mau melepaskan tas Miya. Salsa menampar Nana.
"Hanya gadis lemah sepertimu ingin melawan kami? Apa nyaman rasanya dipermalukan di depan semua orang?" ucap Salsa menunjuk ke kejadian saat Luki memutuskan Nana.
Nana marah dan mereka berkelahi.
***
Di tempat lain, Miya terkunci di ruangan kosong. Jarang orang melewati ruangan tersebut. Ia berteriak meminta bantuan. Kebetulan saat itu Tamama berada tak jauh dari sana, dan mendengar suara seseorang meminta tolong. Tamama mendekati suara itu.
Setelah Tamama sampai di depan ruangan itu, suara itu menghilang. Tamama pun menggeleng mengira ia sedang berhalusinasi. Ia lalu berbalik pergi. Tiba-tiba Tamama mendengar suara ketukan. Dan kembali mendekati ruangan itu.
"Apa ada orang di dalam?" teriak Tamama. Miya memegangi tenggorokannya yang sakit akibat berteriak sejak tadi. Ia terus mengetuk pintu berharap pria itu mengerti bahasa isyaratnya.
Tamama menyuruhnya untuk mengatakan sesuatu, kalau tidak ia akan pergi. Miya bingung harus bagaimana. Ia hanya bisa terus mengetuk pintu.
Tamama berkata ia akan memberinya sebuah pertanyaan, jika iya maka ketuk dua kali, jika tidak ketuk satu kali. Miya mengetuk dua kali.
Pertanyaan pertama, apa kamu manusia? Miya merasa aneh mendengarnya, tetapi iya mengetuk dua kali. Tamama tersenyum karena ia merasa pertanyaannya juga aneh.
Pertanyaan kedua, apa kamu ingin aku membuka pintu ini? Miya mengetuk dua kali. Lalu Tamama menyuruhnya untuk mundur karena ia akan mendobraknya.
Jreng ...
Mata Tamama dan Miya bertemu.
"Itu dia?" batin mereka bersamaan.
"Apa kamu baik-baik saja? Mengapa kamu bisa terkunci di dalam sini?" tanya Tamama sambil memandangi ruangan itu.
Miya sedikit membungkuk sebagai ucapan terima kasih. Lalu ia berlari kembali ke kelas. Tamama tersenyum dengan sikapnya yang tidak seperti gadis lainnya. Dan Tamama mengejarnya karena kedatangannya kesana memang untuk mencarinya.
***
Miya melihat sahabatnya di pegangi oleh teman sekelasnya. Ia mendorong Salsa dan berdiri di depan Nana. Miya melihat wajah Nana membengkak. Ia bertanya dalam hati, apa Nana baik-baik saja. Nana mengangguk, seperti mengerti apa yang ditanyakan Miya.
"Tas mu ada padaku, aku menjaganya bersamaku, aku tidak memberikannya pada mereka," ucap Nana.
Miya ingin menangis melihat kesetiaan Nana padanya. Tapi, ia menahannya karena ada urusan yang sedang menunggunya. Miya berbalik menatap Salsa tajam.
"Ah, pemeran utama wanita sudah datang. Ini dia gadis yang berani memukul Kak Tamama. Hari ini, aku pasti akan membalasnya atas nama Kak Tamama," ucap Salsa dengan senyum licik di wajahnya.
Tamama berdiri di depan pintu dan mendengar semuanya. Salsa akan menampar Miya, tetapi Tamama menarik Miya ke dalam pelukannya. Sehingga Salsa memukul angin.
Miya terpana melihat Tamama. Tapi ia segera tersadar lalu mendorong Tamama agar menjauh darinya. Semua orang terkejut melihat Tamama.
Tamama mendekati Salsa.
"Jika kau ada keluhan langsung datang padaku, jangan melukai orang lain untuk ke egoisanmu. Apalagi mengatakan kalau kau melakukannya untukku," ucap Tamama dengan tatapan dinginnya.
Tamama menoleh dan memegang tangan Miya.
"Jika kamu berani menyentuh kekasihku lagi, aku akan menagih akun dua kali lipat darimu!"
Semua terkejut dengan pengakuan Tamama bahwa Miya adalah pacarnya. Miya dan Nana saling bertatapan. Miya menggeleng menandakan itu semua adalah kebohongan. Sedangkan, Nana mengangguk setuju untuk hubungannya.
"Jika kamu berani menyentuh kekasihku lagi, aku akan menagih akun ini dua kali lipat darimu!"
Semua orang terkejut mendengar pengakuan Tamama.
"Siapa pun yang menyakitinya berarti dia menyakitiku. Mulai hari ini segala urusannya adalah urusanku," tambah Tamama dengan keren.
***
(Asrama pria)
Luki tertawa melihat video itu. Video saat Tamama memberi pengakuan. Tapi Luki juga merasa sedih karena melihat Nana dianiaya.
"Jika kamu khawatir kirim pesan saja padanya!" ucap Tamama yang sedang belajar.
"Belajar saja sana! Jangan urusi aku!" ucap Luki.
"Apa setelah kamu putus, kamu kehilangan indera penglihatanmu sekarang? Perlukah aku memeriksanya?" ucap Tamama dingin.
Luki mendesah kesal dan terus memainkan ponselnya.
***
(Asrama Wanita)
Nana terus memandangi Miya yang sedang belajar. Miya menutup bukunya dan menatap Nana.
"Apa yang ingin kamu katakan, tanyakan saja! cepat katakan dan tanyakan!" ucap Miya dengan nada cepat.
"Kapan kamu mengenal Kak Tama? Apa kamu tahu siapa dia? Mengapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku? Kapan kalian mulai berpacaran?" balas Nana dengan nada cepat juga.
Miya menghela nafas. Ia akan menceritakan semuanya tetapi menyuruh Nana menunggunya 5 menit lagi. Nana mengangguk, jika hanya 5 menit tidak masalah. Miya membereskan semua buku-bukunya.
Setelah selesai, ia menceritakan pertemuannya dengan Tamama. Di awali saat insiden di Fakultas Kedokteran dan saat ia terkunci di ruangan kosong itu.
Nana tertawa mendengar ceritanya.
"Jadi, hari ini adalah pertemuanmu yang kedua. Itu maksudmu?"
Miya membenarkan. Nana tertawa ketika mengetahui kebenarannya.
"Kamu, kamu benar-benar sangat hebat Miya. Dalam sekali genggam sudah berhasil mendapatkan Kak Tama. Aku sangat salut padamu, mulai hari ini aku ingin belajar darimu. Oh iya, apa kamu tahu siapa Kak Tamama itu?"
Miya berkata ia tidak ingin tahu dan tidak ingin mengetahuinya. Lalu naik ke tempat tidur. Nana tidur di sampingnya. Miya menyuruh pindah ke tempatnya. Nana menolak, ia ingin tidur bersamanya malam ini.
"Tamama, Miya, apa kamu tidak menyadari sesuatu?" tanya Nana dengan pertanyaan ambigu.
Miya menjawab tidak.
"Namamu dan dia sama 'Miya Tamama dan Tamama Kunai' mungkinkah dia adalah takdirmu?" tanya Nana.
Miya tentu saja menjawab tidak tahu, siapa yang bisa menebak masa depan. Dalam hati, Miya baru tahu jika nama mereka memiliki kesamaan.
Nana mulai bercerita mengenai Tamama.
"Tamama Kunai dari Fakultas Kedokteran, semester 6. Orang yang cuek, dingin, keren, tampan, dan juga pintar. Dia adalah dokter masa depan. Di sukai semua wanita dari berbagai fakultas. Bukankah itu sangat hebat? Dia adalah pria yang sempurna. Dan dia mengatakan bahwa kamu adalah pacarnya. Aku merasa bahagia untukmu."
"Nana," bentak Miya.
Em, jawab Nana dengan mengangkat dagunya.
"Cepatlah tidur, sudah malam!" perintah Miya.
Nana tidak menjawabnya.
Miya menoleh dan melihatnya sudah tidur pulas.
(Tidak ada yang namanya sempurna di dunia ini. Hanya ada kelebihan dan kekurangan. Mungkin semua orang mengatakan bahwa dia sempurna, tetapi entah mengapa dibalik kehebatannya itu, aku merasa dia sangat menyedihkan.) - Miya.
***
Tamama bangun pagi, dan seperti biasa ia selalu mendengar dengkuran Luki. Tamama mencuci muka dan berlari menuju taman sambil menggunakan earphone nya.
Tamama beristirahat di dekat pohon yang besar sambil mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan. Sebuah sepatu terjatuh mengenai kepalanya. Ia melihat ke atas. Tanpa Tamama sadari dia tersenyum. Ia melihat Miya sedang tiduran di atas pohon.
Tamama sandaran di pohon menemani Miya. Ia menutup mata sambil menunggu Miya bangun. Sesekali Tamama membuka mata untuk melihat Miya karena takut dia terjatuh tanpa sepengetahuannya.
***
Flashback.
Pukul 04.30, Miya terbangun karena perutnya lapar. Lalu, ia pergi keluar berharap menemukan sesuatu untuk menjanggal perutnya karena semua persediaan di asramanya telah habis.
Miya berjalan kaki mencari toko yang buka. Tapi karena masih subuh semua toko tutup. Lalu uang Miya terbang dibawa angin dan tersangkut di pohon. Miya mencoba segala cara untuk mengambil uangnya kembali. Ia melempar dengan batu, tapi tetap uangnya masih tersangkut dan Miya melempar sepatunya malah sepatunya tersangkut juga.
Akhirnya Miya memutuskan untuk memanjat pohon. Miya membuka sepatu di kaki lainnya. Dia menaruhnya di tanah. Tapi, Miya kembali berfikir jika sepatunya di tinggal, ia takut ada pencuri lalu mengikatnya di pinggang.
Miya berhasil mengambil uangnya kembali dan juga sepatunya. Tetapi, ia tidak tahu cara untuk turun ke bawah. Miya mendesah. Apa yang harus dilakukannya sekarang.
Miya ingin menghubungi Nana, tapi dia lupa membawa ponselnya. Dia mendesah karena mulai kemarin selalu sial. Ia lalu menguap dan tertidur di pohon.
Flashback end.
***
Tamama tertidur pulas sambil bersandar di pohon. Sinar matahari menyinarinya. Wajah Tanama terlihat seperti bocah kecil saat tidur. Ketenangan, kedamaian dan kepolosan terpancar di wajahnya.
Miya terbangun dan tersenyum melihat indahnya pagi hari itu. Lalu dia menatap ke bawah. Dia terkejut melihat Tamama tertidur bersandar di pohon.
"Apa yang dia lakukan disini?" pikir Miya.
Beberapa menit kemudian, Miya memandangi wajah Tamama begitu lama. Dia merasa terpesona dengan wajah berseri itu.
"Hai, mata abu-abu. Apa kau juga melihat pria di depanku? Semua orang mengatakan dia sempurna. Menurutmu apakah seperti itu?" batin Miya berbicara dengan matanya.
Tamama perlahan membuka mata dan menutup cahaya matahari yang menyinarinya dengan tangannya. Ia menoleh ke atas. Mata mereka bertemu, Miya menjadi salah tingkah dan akhirnya terpeleset.
Untung saja ia terjatuh menimpa Tamama jadi tidak terluka. Tamama dan Miya bertatapan lalu Miya segera berdiri dan berlari karena malu.
"Miya, kau melupakan sepatumu!" teriak Tamama dengan senyuman di wajahnya. Lalu dia menatap sepatu Miya yang tertinggal.
Tamama merasa hidupnya mulai tergores dengan warna. Yang awalnya dia hanya sebuah kertas putih bersih. Sekarang sebuah warna telah tercoret di kertas itu.
"Ternyata, Luki benar," gumam Tamama.
Flashback.
(Asrama Putra)
Luki dan Tamama sempat cekcok saat Luki meminta bantuannya untuk putus dengan pacarnya.
"Semakin serius dalam mencintai seseorang maka akan terluka lebih dalam lagi. Tamama, kau yang sekarang belum mengenal cinta, di masa depan ketika kau mulai merasakannya, kau akan mengerti mengapa aku melakukan hal ini."
Luki menepuk bahu Tamama. "Cinta adalah yang kau butuhkan saat ini. Semua orang mengatakan kau sempurna tapi aku, aku mengenalmu sejak kita kecil, jadi aku tahu apa kekuranganmu. Cobalah cintai dirimu sendiri! Dan, cari cinta sejatimu!"
Flashback end.
"Luki, apa yang kamu katakan memang benar yang aku butuhkan saat ini adalah cinta," ucap Tamama sambil menatap ke atas pohon di mana Miya tertidur.
***
Miya masuk ke asrama dengan wajah memerah. Dan langsung minum air.
"Dari mana saja kamu pagi ini?" tanya Nana.
Miya tidak menjawabnya dan balik bertanya.
"Di mana ponselmu, mengapa kemarin aku tidak bisa menghubungimu?" tulis Miya di sebuah kertas.
"Oh, ponselku? Ponselku terkena air karena hujan kemarin jadi masih diperbaiki. Maaf, aku lupa memberitahumu! Tunggu, mengapa kamu balik bertanya soal aku. Jawab pertanyaanku, dari mana saja kamu?"
"Aku ..." belum selesai Miya menulis ponselnya berdering dengan keras.
Miya melihat layar ponsel ternyata kakaknya yang menghubunginya.
"Iya, Kak?" jawab Miya dengan suara serak.
"Ada apa dengan suaramu?" tanya Koko khawatir.
"Hanya sakit tenggorokan. Aku sudah minum obat sebentar lagi sembuh?"
Koko menyuruh Miya datang ke RS karena dia merindukannya. Miya tersenyum, ia akan kesana mengajak sahabatnya. Lalu menutup telepon.
Nana melihat Miya memandanginya. Dia bertanya-tanya ada apa dengan tatapan itu.
***
(Asrama Putra)
Tamama dan Luki sedang rapat berdua. Tamama menanyakan bagaimana persiapan acara seminar minggu depan. Luki memberitahu bahwa tamu yang mereka undang belum menyetujui untuk mengisi seminar. Tamama bertanya siapa tamunya.
"dr. Koko Tamama" jawab Luki.
"Dokter Koko?" Tamama tersenyum karena dokter Koko adalah orang yang ia kagumi. Di masa lalu Tamama pernah datang melihat seminarnya dan dia merasa takjub.
"Hei, kawan. Aku baru saja menyadari sesuatu. Apa kamu tidak merasa aneh? 'Miya Tamama, Koko Tamama dan Tamama Kunai'. Nama kalian bertiga sama. Mungkin sudah waktunya kamu mengganti namamu," ejek Luki sambil merangkul Tamama.
Tamama meliriknya dan menepis tangannya darinya.
Tamama bertanya apa siang ini Luki ada acara. Luki menggeleng. Tamama memberitahu mereka akan pergi ke RSUI mengunjungi dr. Koko.
***
Miya dan Nana sampai di RSUI. Miya menelfon Kakak tapi nomornya tidak aktif. Di tempat lain, Koko sedang melakukan operasi.
Flashback.
Selesai Koko bicara di telpon, perawat datang.
"Dokter, kita baru saja mendapatkan telepon bahwa seseorang mendapat tusukan di punggungnya. Dan pasien itu kehilangan banyak darah. Dan ... " Perawat berhenti karena ia terjatuh.
Koko membantunya berdiri. "Dan?" tanyanya.
"Pasien itu sedang mengandung 7 bulan."
Koko menyuruhnya segera menyiapkan ruangan operasi dan menghubungi dokter spesialis kandungan (SpOG/ obgyn). Dan Koko lanjut berjalan ke pintu masuk RS untuk menunggu mobil Ambulance datang.
Ambulance tiba. Mereka mengeluarkan pasien dari dalam mobil. Dan segera membawanya ke ruang operasi.
Flashback end.
***
Seseorang dokter wanita dengan rambut terikat dan gayanya yang lembut menghampiri Miya.
"Miya?" ucapnya.
Miya menoleh dan bertanya siapa wanita itu.
"Perkenalkan namaku Luna, aku adalah teman kakakmu."
"Sepertinya tenggorokanmu sakit, ikuti aku!" tambahnya.
Miya mengangguk dan mengikutinya. Miya mengetik di ponselnya bertanya di mana kakaknya. Luna memberitahu bahwa Koko masih melakukan operasi. Jadi, Koko menitipkan Miya padanya.
***
Luki dan Tamama sampai di RSUI. Mereka menuju ruang resepsionis dan meminta ijin menemui dr. Koko Tamama.
"Mohon maaf, tuan. Dokter Koko Tamama sedang melakukan operasi sekarang. Apabila anda memiliki pesan, anda bisa menitipkannya kepada kami. Atau anda bisa menunggu sampai Dokter Koko menyelesaika operasimya," ucap perawat yang berjaga.
Tamama bertanya apa dia bisa meminjam bolpen dan kertas. Perawat itu meminjamkannya. Lalu Tamama mencatat nomor ponselnya dan memintanya memberikannya pada dr. Koko. Perawat mengangguk.
Tamama dan Luki pergi. Miya yang habis dari toilet tidak sengaja menatap punggung Tamama, ia merasa mengenalinya. Tapi masa bodoh mungkin itu hanya perasaannya saja.
Luna memanggil Miya dan menyuruhnya masuk.