Bab 1

Seorang wanita berusia dua puluh lima tahun dengan gaya hijab pasmina serta blouse dan rok midi sedang memandang jenuh pemandangan di depannya. Bibir yang tampak merah pekat mengerucut kesal.

"Mengapa kau memilih tempat ini?" tanya seorang istri kepada suaminya yang sedang menikmati pemandangan ladang gandum di depannya.

"Memangnya kau tidak suka? aku rasa tempat ini sangat indah. Aku tidak sabar menunggu malam tiba. Mungkin aku bisa melihat langit dengan bintang bertaburan," kata laki-laki itu dengan bola mata misterius dan bulu mata yang lentik.

"Bagaimana bisa aku menyukai tempat seperti ini?" kesal wanita bernama Bilqis ini.

Irlan suaminya hanya diam tak menggubris kalimat perempuan cantik itu.

"Di sini terlalu sepi, bahkan lebih banyak nyamuk dari pada manusia!" gerutu Bilqis sembari melayangkan telapak tangannya ke udara. Karena nyamuk telah mengganggunya.

"Permisi, ini ada buah melon," seru lelaki berbaju lusuh yang merupakan pelayan dari penginapan kecil ini.

"Oh ya silahkan taruh saja di meja!" ucap Irlan dengan ramah hingga lesung pipinya terlihat cukup manis.

"Ini buah segar, baru saja saya memetiknya. Selamat menikmati," kata bapak itu seraya meletakkan piring yang berisi irisan melon di atas meja lalu pergi dengan sopan.

"Ya tuhan!" ujar Bilqis dengan wajah sedih. Kedua tangannya menutup wajah moleknya.

"Ada apa denganmu?" tanya sang suami sambil tangannya mencomot irisan melon lalu memakan sekali suapan.

"Kau lihat tadi penampilan bapak itu? dia terlihat lusuh. Aku tidak bisa membayangkan jika tangannya kotor dan langsung menyiapkan makanan itu," Bilqis melihat piring di atas meja itu dengan jijik.

"Ya tuhan! bisakah kau bersikap wajar layaknya manusia normal?" Irlan mendekati istrinya dengan memegang irisan melon.

Sang istri mengerutkan dahi dengan tindakan Irlan.

"Ini makanlah!" melon di depan mulut Bilqis telah datang. Si empunya bibir merah telah melotot tajam di depan pria hidung manjung itu.

“Ah yasudahlah jika tidak mau!” seru Irlan dengan sigap memakan melon di tangannya.

“Lebih baik aku ke kamar saja dan bermain ponsel.” ucap Bilqis langsung melangkah pergi. Hingga sepatu boot miliknya terdengar.

Diam-diam Irlan menatap kepergian Bilqis dengan kecewa. Mungkin bisa dibilang sedih. Entah bagaimana cintanya tidak kunjung tumbuh kepada gadis itu. Ia menikah karena desakan orang tua dan para kerabatnya. Bukan karena sebuah cinta.

Awalnya ia pasrah dan meyakini bahwa kelak ia akan mencintai Bilqis. Namun sampai detik ini pun benih-benih asmara tidak menyapa dirinya.

“Hei Irlan turunlah! Makan siang akan segera di mulai!” teriak seorang laki-laki yang merupakan teman bisnisnya dari lantai bawah.

Irlan yang berdiri di balkon sontak memandang ke bawah. Tawa kecil Irlan terdengar saat beberapa teman bisnisnya berteriak keras mengajak Irlan turun.

Tanpa pikir panjang ia turun ke bawah. Sampai di tempat itu hidung Irlan mencium aroma yang begitu sedap.

Daging bakar begitu menggoda selera makannya. Di sebuah karpet tersaji makanan berupa kebab dan lainnya.

“Irlan Irlan kemarilah sang pebisnis keren! seorang temannya berucap riang.

Tangan kekar milik Zain merangkul Irlan dengan akrab.

“Kenapa kau tadi di atas terlihat melamun hah? Apa kau sedih? Apa yang perlu di cemaskan wahai Irlan. Semuanya sudah kamu miliki. Harta yang melimpah, restoranmu ada di seluruh kota dan kau mempunyai istri yang sangat cantik!” ujar Zain dengan melirik kepada teman yang lainnya. Kini semua orang tersenyum memandang Irlan.

“Siapa yang melamun? Aku hanya sedang menikmati suasana di pedesaan ini Zain,” jelas pria dengan rahang yang terlihat tegas di balut rambut tipis. Ia tertawa kecil kepada teman-temannya. Ia menyuguhkan perasaan palsu kepada semua teman-temannya.

“Hahaha bagus lah kalau begitu,” ucap Zain dengan menepuk pundak Irlan yang kekar.

“Aku juga mau wanita seperti Bilqis,” ujar kembali Zain dengan candanya.

Semua tertawa mendengar Zain mengucapkan itu.

“Ayo ayo makanlah!” ucap seorang bapak yang mirip wajahnya dengan pelayan yang mengantarkan melon untuk Irlan.

Kini semua orang duduk di sebuah tikar dengan mengelilingi makanan.

Sebuah teriakan terdengar di atas. Suara itu tentunya berasal dari kamar Irlan. Semua teman Irlan mendelik mendengar suara jeritan itu. Mereka khawatir. Sementara Irlan tahu bahwa itu suara istrinya. Bilqis pasti sedang ketakutan oleh seekor hewan.

Irlan mendengus kesal. Karena seharusnya ia sudah memasukkan makanan ke dalam mulut sekarang.

“Tunggu apa lagi? Pergi sana temui istrimu!” seru Zain dengan cepat.

Kaki Irlan segera berdiri dan berlari menuju lantai atas. Di tangga pun ia cepat menginjakkan kakinya. Dengan cepat ia melihat istrinya menangis sesegukan dan terdengar keras.

Dengan cepat Bilqis menubruk kepada suaminya. Irlan hanya melongo dengan tindakan sang istri.

“Bajuku kotor semua! Dua ekor ayam telah mengotorinya! mereka pasti buang air besar di bajuku,” rajuk Bilqis dengan frustasi. Ia menangis keras di dada bidang milik Irlan.

Mata Irlan melirik bosan. Ia menghembuskan nafasnya sejenak lalu melepas pelukan hambar itu.

“Tenangkan dirimu. Duduklah!” ucap Irlan dengan sabar ia mendorong wanita dengan wajah make up tebal itu agar duduk di atas ranjang.

Tangan Irlan menyentuh baju-baju yang menggantung di dalam lemari. Ia berkali-kali memeriksa apakah ada noda kotor yang menempel di baju istrinya.

“Tidak ada yang kotor Bilqis, kau lihat ini semuanya bersih. Tak ada kotoran ayam yang menempel,” jelas Irlan dengan memperlihatkan baju-baju di depan mata Bilqis.

“Tapi dua ayam itu mengenai bajuku. Bulu-bulu kotor mereka pasti menempel di bajuku. Aku tidak mau memakai baju itu. Tolong singkirkan sayang. Aku jijik sekali,” ucap Bilqis dengan kedua bahu terangkat dan raut wajah jijik.

Irlan segera melempar baju-baju itu di pojokan ruang kamar. Ia bergumam dalam hati kalau kelakuan istrinya sangat menyebalkan kali ini. Sudah jelas baju-baju itu masih wangi dan bersih.

“Sebaiknya kau turun dan makan siang, apa kau tidak lapar?” tanya Irlan dengan sungkan. Ia melihat istrinya dengan wajah muram.

“Sudahlah jangan bersedih! Kau bisa meminta pelayan di sini untuk mencucinya,” kata Irlan mendekati istrinya.

“Aku benar-benar kesal sekali hari ini! Huh!” seru Bilqis dengan kedua telapak tangan menggenggam keras.

“Aku akan turun untuk makan siang,” ucap Irlan dengan datar. Ia melangkahkan kakinya namun terhenti saat sang istri memeluk perutnya dari belakang.

“Aku bosan di sini, besok kita pulang saja ya?” wanita manja seperti Bilqis begitu membuat Irlan naik pitam, namun Irlan tetap bersikap sabar. Ia berbalik dan menatap wajah istrinya.

“Maaf sekali aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu,” ucap Irlan membuat Bilqis cemberut berkacak pingngang.

Irlan berbalik kembali dan melangkah. Tepat di depan pintu keluar kamar ia menghentikan langkahnya saat sang istri memanggilnya dengan sebutan sayang.

“Kalau begitu ciumlah aku supaya aku bisa betah di sini,” seru Bilqis dengan lirih dan tegas.

Seketika itu Irlan berbalik dan melangkah dengan lemas. Kini keduanya bertatap muka dan sangat dekat. Bilqis tersenyum manis di depan suami yang sangat dipujanya. Irlan segera mendaratkan ciuman di bibir Bilqis. Sekitar sepuluh detik mereka melakukan adegan romantis itu.

“Aku mencintaimu sayang,” ucap Bilqis saat melepas sentuhan bibirnya. Ia menerbitkan senyum kembali hingga membuat Irlan terpaksa membalas senyuman itu.

“Kalau begitu aku turun ya?” tanya Irlan dengan lembut.

“Baiklah sayang," jawab Bilqis dengan suara centilnya.

Irlan segera turun ke lantai atas dan bergabung kembali dengan teman-temannya.

“Apa yang terjadi?” tanya salah satu temannya yang masih mengunyah makanan.

“Oh ada ayam yang memasuki kamar istriku, dia ketakutan,” jelas Irlan dengan santai sambil tetap tersenyum mengedarkan pandangan ke semua teman laki-lakinya.

Sementara itu seorang bapak yang sejak tadi sibuk menuangkan minuman di gelas para tamunya, mendengar dengan jelas tentang ayam yang masuk ke dalam kamar salah satu tamunya. Segera setelah ia selesai dengan tugasnya. Dirinya langsung berjalan ke belakang menuju dapur para wanita memasak.

“Di mana Havva?” tanya bapak berambut sedikit gondrong itu dengan kemarahan yang membuat wajahnya memerah.

“Apa yang terjadi?” tanya ibu Havva dengan khawatir. Para ibu-ibu di sampingnya pun ikut ketakutan.

“Aku bertanya dimana Havva anakmu itu hah!” bentak lelaki yang bernama mahmud itu.

“Pagi tadi kau menyuruh Havva untuk menjaga ayam dan memberikan makanan untuk ayam kan? Mungkin dia masih di sana sekarang,” jawab ibu Havva dengan suara gemetar.

Mahmud segera meninggalkan dapur itu dan bergegas menuju kandang ayam.

“Hei Havva!” panggil lelaki berkumis itu dengan keras.

Gadis berwajah manis itu panik melihat kedatangan pamannya.

“Apa benar ada ayam yang masuk ke dalam kamar tamu?” tanya laki-laki itu dengan sorot mata mengerikan.

“Aku berusaha menangkap ayam-ayam itu dan ternyata ayam itu sudah ada di kamar tamu. Tapi aku sudah menangkap ayam itu kok!” jelas Havva dengan gugup.

“Kau bodoh sekali menangkap ayam begitu saja tidak becus. Sejarusnya jangan sampai ayam itu masuk ke dalan kamar tamu!” kata Mahmud dengan geram melihat gadis berusia tujuh belas tahun itu.

“Baiklah lain kali aku akan lebih hati-hati,” ucap Havva dengan menunduk. Sejujurnya Ia membenci pamannya itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa mendapatkan uang dengan menuruti perintah pamannya.

“Kalau kau melakukan kesalahan lagi, aku tidak segan-segan memotong gajimu.” kata pamannya itu dengan tatapan tajam. Lalu Mahmud pergi dengan cepat. Ia takut para tamu akan mencarinya.

Havva terdiam menatap ayam-ayam itu yang sudah selesai di beri makan. Kandangnya pun sudah bersih.

“Ya tuhan kuatkanlah aku untuk menjalani kehidupan ini. Aku akan melakukan apapun demi membuat orang tuaku tidak kelaparan dan tetap hidup.” ucap Havva dalam batinnya. Ia menangis tanpa bersuara. Tangisan paling menyedihkan telah memenuhi kisah dirinya.

Entah sampai kapan dirinya hidup seperti ini. Bapak dan ibunya menjadi karyawan di penginapan ini. Dirinya pun demikian. Sang paman yang merupakan adik dari bapaknya menjadi bos di penginapan ini. Namun perlakuan Mahmud sama sekali tidak sopan. Bahkan Mahmud sering marah setiap harinya hanya karena masalah kecil.

Gaji yang di berikan oleh Mahmud kepada para karyawannya pun sangat tidak wajar.

“Aku tidak boleh bersedih seperti ini, aku harus kuat. Gajiku yang telah ku tabung tidak boleh sia-sia. Aku akan terus bekerja keras agar bisa pergi dari desa ini bersama keluargaku," ucap Havva dengan yakin di lubuk hatinya.

Ia segera pergi dari tempat dimana kandang ayam itu berada. Ia melangkah untuk menuju dapur dan membantu mencuci piring.

“Havva!” panggil sang ibu saat melihat Havva memasuki dapur.

Havva segera mendekat kepada ibunya yang tadinya sedang sibuk dengan tungku yang panas.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya sang ibu dengan cemas kepada putri manisnya.

“Aku baik-baik saja, Bu”

Si ibu mengedarkan bola matanya di setiap kulit wajah anaknya.

“Aku takut kau di pukul oleh Mahmud. Pasalnya tadi Mahmud mencarimu dengan penuh amarah,” jelas sang ibu dengan menatap teduh wajah anaknya.

“Aku baik-baik saja, Bu. Paman hanya memperingatkan aku agar aku lebih hati-hati menjaga ayam agar tidak masuk ke dalam kamar tamu,” kata Havva dengan tenang.

“Syukurlah kalau begitu,” suara ibu terdengar lebih nyaman.

“Ya sudah sana kau cuci piringnya! Ibu masih sibuk membuat makanan," pinta sang ibu. Havva pun langsung duduk dan mulai mencuci piring-piring dan gelas.

***

Malam hari telah tiba. Suara hewan-hewan kecil di malam hari mulai terdengar hingga membuat Bilqis kesal.

“Berisik sekali! Ada suara nyamuk, jangkrik dan kodok. Aduh aku benar-benar tidak bisa tidur di sini,” ucapnya dengan mengacak rambut panjangnya.

Sementara Irlan yang berada di balkon mendengar kalimat Bilqis dengan tidak menggubrisnya. Ia masih menikmati malamnya dengan penuh rasa nyaman. Apalagi bintang bisa di lihat dengan mata telanjang. Irlan begitu terpesona dengan pemandangan ladang gandum yang luas di temani langit gelap dengan percikan cahaya bintang-bintang kecil.

Suara ketukan pintu terdengar. Bilqis yang berada di dekat pintu membukanya dengan malas.

“Aku ingin mengambil baju yang akan di cuci,” ucap Havva dengan lirih. Ia takut perempuan di depannya akan memarahinya. Karena ayamnya yang memasuki kamar wanita di depannya.

“Hei kau ini kan yang tadi siang! kenapa lari begitu saja hah tanpa meminta maaf sekalipun! kau mengotori semua bajuku!” bentak Bilqis dengan suara kerasnya.

“Maaf soal itu. Lain kali aku akan lebih berhati-hati,” jawab Havva dengan tertunduk takut.

“Ada apa ini?” tanya Irlan yang muncul di belakang Bilqis.

“Perempuan ini adalah pemilik ayam itu Irlan,” kata Bilqis dengan sinis.

Irlan melihat Havva dengan kasihan. Havva memberanikan diri mengangkat wajahnya.

“Maafkan aku tuan. Sekali lagi aku meminta maaf,” ucap Havva melihat wajah Irlan.

Seketika itu mata Irlan terpana melihat wajah Havva yang begitu menyejukkan hatinya. Bibir kecil dan hidung manjung serta bola mata hitam milik Havva membuat Irlan jatuh hati. Irlan memandang penampilan gadis desa itu dengan serius. Nampak sebuah kesederhanaan di dalam diri Havva. Irlan juga bisa melihat wajah Havva yang begitu manis. Meski kurus namun Irlan tertarik kepada gadis di depannya itu.

“Ini cuci semua bajuku!” Bilqis melempar bajunya kepada Havva. Beruntung kedua tangan Havva cepat menangkapnya. Havva segera pergi dengan perasaan sedih.

“Dasar wanita tidak sopan! Kenapa dia harus memprlakukan aku seperti itu! wanita kota memang tidak bisa menahan sedikit emosinya! aku benci dengan wanita yang hidup di kota!” gerutu Havva di dalam hati dengan geram. Ia meninju-ninju baju yang ada di tangannya. Hatinya benar-benar panas saat itu.

Bab 2

“Kenapa dengan wajahmu?” tanya sang ibu ketika melihat putri kesayangannya berwajah muram.

“Aku kesal dengan seorang tamu,” jawab Havva sambil melempar beberapa baju di dalam ember.

“Memangnya kenapa?” Sang Ibu yang bernama Jihan itu mengerutkan dahi.

“Dia memarahiku habis habisan. Bahkan dia menyerahkan baju yang akan di cuci dengan cara melempar kepadaku. Hah! Aku sama sekali tidak tahu bagaimana bisa orang kota seperti dia memiliki sifat seperti itu,” tutur Havva sambil tangannya menaruh deterjen ke dalam bak yang telah berisi air.

Sang ibu yang sedang mencuci tomat di dalam wadah besar, terpaksa berhenti. Kini ia melangkah mendekati sang gadis.

“Sabar ya sayang,” tangan lembut Jihan mengelus lengan Havva.

“Kita di sini hanya seorang pekerja. Kamu bagaimanapun harus melayani tamu dengan penuh kenyamanan,” kata wanita berumur lima puluh tahun itu dengan menatap wajah anaknya yang manis.

“Iya aku tahu, Bu. Aku akan berusaha sabar menghadapi semua tamu di sini,” jawab gadis itu dengan bibir kecilnya. Ia tersenyum melihat wajah teduh milik ibunya.

“Apa kau tidak lelah? Ini sudah malam. Mencuci baju besok pagi kan bisa,” ucap Jihan seraya memandang bak berisi baju.

“Tidak, Bu aku tidak lelah. Lagi pula aku juga belum mengantuk. Aku akan mencuci baju ini dengan cepat.” seru Havva bersemangat di depan wajah ibunya. Ia kini duduk di kursi kecil dan mulai memasukkan kedua tangannyya ke dalam bak besar itu.

“Ya sudah terserah kamu saja. Tapi setelah selesai mencuci kau harus istirahat tidur lebih awal. Karena besok waktunya memerah susu kambing.” ujar sang ibu lalu mencium pucuk kepala anaknya dengan menunduk. Lalu Jihan pergi setelah selesai dengan semua sayur-sayuran segar yang telah di cucinya.

Havva mengucek baju dengan sabar. Ia tahu harus sabar menghadapi tamu, karena jika tidak. Paman Mahmud pasti akan memarahinya lagi.

"Ya Tuhan apa ini?" Havva melongo sambil tangannya memegang sesuatu yang kecil dan keras.

Mulutnya menganga saat mengetahui bahwa aksesoris baju yang di cucinya telah terlepas.

"Aduh! kenapa ini bisa terjadi?" keningnya berkerut frustasi sambil bola matanya menyoroti manik-maik mute di tangannya.

Kedua tangannya pun merogoh bagian dasar bak. Siapa tahu ia bisa menemukan lebih dari satu manik-manik itu. Ternyata benar saja, ia menemukan sebelas aksesoris kecil itu yang sebesar kelereng.

Dengan sabar ia mengumpulkan manik-manik itu dan manaruhnya di sebuah plastik setelah mencucinya terlebih dulu. Ia pun menyimpannya ke dalam saku roknya.

"Semoga saja wanita itu tidak sadar kalau manik-manik mute itu lepas dari bajunya," pinta Havva di dalam hatinya.

Ia segera menyelesaikan kembali mencuci baju. Karena hari sudah larut malam.

***

Bilqis duduk di ranjang sambil melihat-lihat kukunya dengan gemulai. Namun ia menyadari bahwa salah satu kukunya ada yang tidak beres.

"Sayang, berapa lama kita di sini?" Bilqis bertanya seperti mengeluh.

Irlan yang berada di sebelahnya menjawab malas.

"Mungkin satu minggu, atau lebih jika aku mau. Karena aku suka tempatnya," Irlan menjawab sambil bermain game di ponselnya.

"Kau lihat kuku ini sudah mulai tidak seindah dulu. Di sini mana ada meni cure pedi cure," Bilqis menggerutu dengan memperlihatkan wajahnya kepada sang suami.

Tapi suaminya tak menggubris sama sekali.

"Aduh perutku lapar sekali. Sejak tadi siang aku belum makan, hanya makan cemilan saja," tutur wanita berambut panjang tersebut sambil memegangi perutnya.

Irlan mulai kasihan dengan istrinya. Meskipun ia tidak mempunyai rasa cinta, tapi ia berusaha membuat istrinya nyaman.

"Sampai kapan kau tidak mau makan makanan buatan desa ini? mereka mencuci semua makanan sampai bersih. Siang tadi saja banyak makanan enak. Ada kokoretsi juga, jeroan domba yang di taburi bumbu tradisional desa ini benar-benar nikmat rasanya, lalu ada dolma. Sayuran yang di buat untuk membuat dolma sangat lezat," jelas Irlan dengan wajah serius sambil mengangguk-angguk. Tidak menyadari bahwa Bilqis telah memperhatikan wajah tampannya.

"Oh sayang kau tampan sekali!" seru Bilqis dengan memegangi pipi dan meraba dagu Irlan yang di penuhi rambut-rambut kecil.

Bilqis mencium bibir Irlan dengan lembut. Irlan pun membalas sentuhan itu. Meski ia tak memiliki perasaan cinta kepada istrinya.

Bilqis terlena dengan tindakan romantisnya sendiri. Ia pun segera duduk di atas pangkuan Irlan. Irlan berselonjor dan Bilqis duduk diatas kedua paha Irlan. Irlan memeluk Bilqis dengan lembut hingga kepalanya berada di dada Bilqis.

"Sayang semoga tahun ini kita bisa di karuniai anak ya?" kata Bilqis penuh harap. Ia lalu mencium pucuk kepada suaminya sambil merasakan aroma khas rambut Irlan.

"Oh ya, semoga saja," jawab Irlan datar. Meski ia tidak benar-benar berharap mempunyai anak dari Bilqis.

"Aduh perutku mulai keroncongan. Bagaimana ini?" kesal Bilqis yang kini berdiri di sisi ranjang.

"Baiklah, Aku akan ke dapur. Siapa tahu ada sisa makanan di sana untukmu," ucap Irlan melihat Bilqis yang kesakitan memegangi perut.

"Makanan sisa?" tanya Bilqis tak percaya.

“Ya mau bagaimana lagi. Ini sudah larut malam. Pasti sudah tidak ada orang di dapur. Aku yakin semua sedang beristirahat,” ucap Irlan yang kini berdiri di dekat pintu kamar.

“Yasudahlah kau coba saja ke dapur. Semoga saja ada makanan enak di sana," kata Bilqis dengan pasrah sambil menguncir rambut panjangnya ke atas seperti buntut kuda.

Irlan pun keluar dari kamarnya dengan piyama lengan pendek berbahan satin. Meski sebenarnya ia tidak menyukai baju yang di pakainya. Tapi ia menghargai pilihan istrinya.

Dengan santai ia berjalan ke dapur dan tepat di tengah pintu ia bertabrakan dengan gadis bertubuh kurus. Havva terlihat panik tak karuan.

“Maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja,” ujar Havva dengan menunduk.

Irlan tahu bahwa itu adalah gadis yang membuatnya terpana saat ia pertama kali melihat wajah gadis itu.

“Aku maafkan. Lagi pula aku tidak kenapa-kenapa,” kata Irlan dengan santai. Namun matanya terus melihat gadis di depannya.

“Kalau berbicara dengan orang itu mengahadap ke wajahnya,” seru Irlan membuat Havva segera mengangkat wajahnya dengan sedikit takut. Ia takut kalau dirinya di marahin lagi oleh tamu.

“Sekali lagi maafkan aku tuan!” seru Havva sambil menatap wajah Irlan.

Seketika itu Irlan kembali meleleh hatinya melihat Havva yang manis.

“Istriku lapar, apakah ada makanan di sini?” tanya Irlan berusaha santai. Kakinya kini memasuki dapur dan melihat-lihat seisi ruangan yang remang-remang. Karena lampu dapur tidak terlalu terang.

“Aku akan buatkan makanan dengan cepat, kau bisa menunggunya,” ucap Havva yang berada di belakang Irlan.

Irlan membalikkan tubuhnya untuk melihat gadis itu kembali. Kini terlihat jelas kecantikan gadis desa itu. Karena ia berada di depan cahaya lampu yang berada di atas di tengah-tengah keduanya berpijak.

“Bagaimana tuan? Aku bisa membuat hidangan kebab,” seru Havva hingga membuat pria kota itu tersadar.

“Ah ya! silahkan buatlah. Aku akan menunggunya di sini,” kata Irlan dengan agak gugup.

Havva pun segera menyalakan api sampai kayu itu terbakar. Havva duduk di bawah di sebuah kursi kecil. Ia meletakan roti tipis dan beberapa detik kemudian mengangkatnya. Tangannya dengan cekatan menaruh sayuran dan daging kedalam kulit kebab itu. Kemudian ia beri mayones, keju dan sedikit sambal. Karena malam hari, ia tidak ingin tamunya sakit perut gara-gara makan sambal di malam hari.

Sejak tadi Irlan begitu fokus memperhatikan gadis kurus itu menyiapkan makanan.

Entah berapa lama ia tidak merasakan jatuh cinta seperti saat ini.

Bab 3

Tangan putih milik Havva telah selesai membuat kebab dan jus kurma. Ia menaruh hidangan itu di atas nampan dengan ukiran kayu yang unik.

Havva berbalik dan mendekat kepada Irlan yang sedang duduk memperhatikannya.

"Oh sudah selesai kah?" tanya Irlan dengan mata berbinar melihat makanan di atas nampan. Sebenarnya ia berusaha menutupi kegugupannya terhadap gadis manis di depannya.

"Iya tuan, ini sudah selesai," jawab Havva dengan menyerahkan nampan kepada Irlan.

"Terimakasih banyak kau telah membuat makanan ini. Sepertinya ini sangat enak," seru Irlan mencoba basa-basi dengan Havva.

"Terimakasih kembali. Semoga istri anda menikmati makanan itu. Kalau begitu saya permisi," ucap Havva dengan sopan. Ia berusaha tersenyum kepada Irlan. Meski saat ini ia sangat mengantuk dan lelah. Karena selesai mencuci baju langsung memasak makanan.

"Namaku Irlan," kata Irlan dengan santai menatap gadis bermata biru coklat itu.

"Saya permisi Tuan Irlan." seru Havva dengan cepat sambil melangkahkan kakinya untuk keluar.

"Hei tunggu!" Irlan melangkah cepat sebelum Havva pergi dengan jauh.

"Ada apa tuan?" tanya Havva dengan polos. Matanya benar-benar membuat Irlan jatuh hati.

"Em, siapa namamu?" Irlan bertanya dengan ekspresi seolah pertanyaan itu tidak penting. Namun sebenarnya ia sangat ingin tahu nama gadis berkerudung segi empat itu.

Havva berpikir cepat dan menjawab.

“Maaf tuan, ini sudah larut malam. Aku akan beristirahat.” kata Havva dengan singkat dan padat. Ia segera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan pria yang sama sekali tidak penting baginya.

Irlan mengerutkan dahi sambil mulutnya terbuka sedikit. Ia bingung dengan tindakan gadis itu.

“Apa suaraku kurang keras? aku kan menanyakan siapa namanya? kenapa seolah gadis itu menghindar dariku? ah ya sudahlah mungkin dia malu berhadapan dengan pria tampan sepertiku," Irlan menyeringai dengan sangat menggoda.

Irlan pergi keluar dapur dengan serta membawa nampan.

“Oh! kau lama sekali sayang?” tanya sang istri ketika mendapati Irlan membuka pintu kamar.

Irlan tak menjawab ia menyerahkan nampan kepada Bilqis.

"Wah sepertinya enak sekali!" seru Bilqis dengan mata bercahaya melihat hidangan kebab dan jus kurma.

"Kau yang membuat ini?" tanya Bilqis yang kini mengunyah kebab.

"Bukan aku, tapi gadis yang pernah kau marahi," jawab Irlan menatap istrinya yang asyik menikmati kebab.

"Kau serius? dia bisa membuat makanan seenak ini?" Bilqis tak percaya, bola matanya mendelik sambil menikmati jus kurma yang kini meluncur di tenggorokannya.

"Aku melihat sendiri dia memasak makanan itu," kata Irlan sambil tangannya merebut jus kurma dari tangan Bilqis.

"Ah kau ini! jangan sampai habis ya?" seru Bilqis dengan bibir mengerucut.

"Aku hanya mencobanya saja," Irlan merangkak naik ke atas ranjang. Ia berbaring sambil matanya menatap ke langit-langit kamar. Sementara Havva berpindah duduk ke kursi rias sambil menikmati makanan.

"Aku tidak menyangka akan merasakan jatuh cinta seperti ini kepada gadis itu," Irlan berucap dalam hati kecilnya seraya bibir tipis miliknya tersenyum.

Hati yang dulu terasa hampa dan gersang. Kini Irlan merasa seakan hujan yang rintik dan pelangi indah datang dengan tiba-tiba.

"Sampai kapan aku akan terus melihat gadis itu? aku berharap bisa melihatnya selama seumur hidupku.

Irlan menengok ke arah dimana istrinya berada. Di lihatnya wanita berambut panjang itu yang sedang menikmati makanan. Irlan menyayangi Bilqis. Hanya sekedar itu. Ia tidak pandai merayu Bilqis, karena ia memang tidak mencintai Bilqis sama sekali. Irlan tahu bahwa kehadiran dirinya di dalam kehidupan Bilqis adalah salah. Ya salah, karena selama ini ia tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada istrinya.

"Ya Tuhan perutku sangat kenyang sekarang!" seru Bilqis melihat ke arah suaminya dengan meringis.

Irlan kembali berbaring tidak melihat kepada Bilqis.

"Hem kau ini. Duduklah sampai tiga puluh menit, barulah kau tidur," kata Irlan menasehati dengan lembut. Ia pun memiringkan tidurnya dan menutup mata dengan berharap besok bisa melihat wajah gadis desa itu kembali.

"Ah kalau begitu baiklah!" Bilqis meraih ponsel dan membuka instagramnya.

“Hem siapa yang mengirimku pesan?” tanya Bilqis kepada dirinya sendiri. Jarinya pun dengan segera menyentuh layar ponsel.

Zayn Malik : Hai cantik! bagaimana keadaanmu? apa kau betah berlibur di desa ini?

Bilqis : Diam kau! tidak usah mengurusi hidupku!

Bilqis menutup layar instagramnya. Ia geram dengan tindakan teman Irlan itu. Zayn memang tergila-gila dengan Bilqis. Meski Bilqis sudah menikah. Namun Zayn terus memberi pesan lewat instagram. Sering kali pesan itu di penuhi kalimat gombalan.

Zayn adalah mantan kekasih Bilqis. Pria berwajah manis seperti perempuan itu telah patah hati karena di tinggal menikah oleh Bilqis. Sampai saat ini Zayn bahkan masih mengharapkan Bilqis.

Irlan tidak mengetahui bahwa Zayn adalah mantan kekasih Bilqis.

***

“Ada apa ini?” tanya Havva melihat barang-barang di ruang tamu berantakan. Vas bunga terjatuh bersama kain sebagai alas meja.

“Kalau dia sudah tidak kuat, berhenti saja bekerja! kalau dia bekerja terus seperti ini, bisa-bisa semua yang ada di penginapan bisa hilang atau hancur karena dia!” bentak Mahmud dengan wajah yang sudah mengeras.

“Dasar bodoh!” makian itu terlontar jelas dan Mahmud pergi tanpa perasaan.

Havva hanya menatapi ayahnya yang tertunduk lemas. Sementara sang ibu kini memeluk Havva.

“Bapak berusaha menutup kandang domba, tapi satu domba lari dan hilang setelah di cari tidak kunjung terlihat,” ucap sang ibu di telinga anak semata wayangnya.

“Itu kan bukan tugas ayah?” tanya Havva dengan melihat ayahnya dan kembali menatap ibunya untuk mencari jawaban.

“Ya itu memang tugas Maryam adikku, tapi ayah ingin membantunya," jawab Jihan dengan mengelus lengan anaknya. Ia berusaha meredam emosi Havva anak kesayangannya.

“Ayah aku akan mengantarmu ke kamar ya?” kata Havva dengan lembut. Ia tahu saat ini ayahnya pasti sangat lelah. Laki-laki berumur enam puluh tahun itu hanya bisa diam.

Havva memapah ayahnya masuk ke dalam kamar. Tangannya menarik selimut dan menutupi tubuh sang ayah yang bernama Juhan.

“Ayah jika kau lelah, berhentilah bekerja. Aku akan berusaha bekerja dengan lebih keras. Tidak usah khawatir denganku dan ibu. Aku ingin ayah di rumah saja. Lagi pula jika di rumah kan ayah lebih enak. Ayah bisa melakukan apapun yang ayah suka. Jika lelah, ayah bisa langsung tidur sepuasnya,” jelas Havva dengan penuh kasih sayang.

“Kau ini tidak tahu bagaimana ayah. Ayah sejak kecil sudah bekerja jadi jika di rumah saja, ayah akan bosan dan gila,” celetuk sang ayah membuat Havva geram.

“Hus! Jangan berkata sembarangan, Yah!” seru Havva cepat-cepat.

“Kalau begitu tidurlah ini sudah malam,” ucap Havva berusaha meredam kesalnya.

“Apakah kau sudah mempunyai kekasih?” tanya sang ayah tiba-tiba.

“Apa kekasih?” Havva bingung ia sama sekali tidak habis pikir sanga ayah akan mempertanyakan hal yang tak pernah di bayangkan olehnya.

“Iya, jika sudah menikahlah dengannya. Supaya kau lebih tenang dan tidak usah lagi mengurusi ayah," jelas ayah membuat Havva geleng-geleng kepala.

“Astaghfirullah! ayah! Jangan bilang seperti itu, Ayah bosan ya? Mendengar nasehatku yang selalu menyuruh ayah untuk tidak bekerja?” tanya Havva menatap ayahnya.

“Ya bisa di bilang seperti itu,” jawab ayah sambil tersenyum kecil.

“Hem ayah!” seru Havva menepuk lengan ayah.

Havva pun segera pergi dari kamar Juhan setelah sebelumnya mengucapkan selamat tidur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED