“Dad, aku tidak mau dijodohkan! Usiaku masih 19 tahun, Dad!” Vintari berseru dengan cukup tinggi, menolak di kala ayahnya ingin menjodohkannya dengan anak dari teman baik ayahnya itu.
Robby menatap dingin Vintari. “Vintari, perjodohan ini sudah aku atur. Kau tidak bisa menolak. Lagi pula kenapa dengan usiamu masih 19 tahun? Menikah muda itu bagus. Saat anakmu nanti sudah besar, kau masih muda.”
Vintari melebarkan mulut dan matanya, menganga tak percaya akan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. “Come on, Dad. Jangan bercanda. Aku masih ingin menikmati hidupku. Aku belum mau menikah.”
Robby mendekat pada Vintari. “Vintari, keluarga Ducan banyak membantu kita. Daddy bisa menjadi ahli bedah senior dan mendapatkan gaji besar, karena tak luput dari kedekatan Daddy pada keluarga Ducan.”
Vintari menatap tak percaya ayahnya itu. Gadis cantik berusia 19 tahun itu rasanya hampir kehilangan kewarasannya. Vintari bahkan masih duduk di bangku kuliah. Tak pernah terbesit sedikit pun Vintari akan menikah muda.
“Dad, jadi maksudmu, kau menjualku sebagai bayaran atas bantuan Keluarga Ducan?” seru Vintari dengan nada kesal.
“Vintari, kau ini bicara apa. Kenapa berpikir seperti itu,” ujar Jenny—ibu Vintari—yang sejak tadi memang tak banyak bicara, karena membiarkan sang suami yang berbicara pada putrinya itu.
Robby menatap tajam Vintari. “Singkirkan pikiran konyolmu. Aku hanya memilihkan jodoh yang terbaik untukmu. Belum tentu di luar sana, kau mendapatkan pria yang baik, Vintari.”
Vintari mendengkus tak suka. “Aku tidak mau dijodohkan titik. Jangan paksa aku lagi. Kalau Daddy terus memaksa, Daddy saja yang menikah. Aku tidak mau menikah.”
“Vintari!” bentak Robby keras.
“Vintari, bicara yang sopan pada Daddy,” seru Jenny menatap tegas putrinya.
Vintari menatap kedua orang tuanya itu, menahan rasa kesal. “Aku tidak mau menikah muda. Jangan paksa aku!” Dia berlari pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
“Vintari Rivers berhenti! Kita belum selesai bicara!” teriak Robby dengan nada keras dan menggelegar, tetapi sayangnya tetap saja Vintari tak menghentikan langkahnya. Gadis itu malah berlari semakin cepat meninggalkan rumah.
Jenny memeluk lengan sang suami, menenangkan dari kemarahan. “Biarkan Vintari menenangkan dirinya. Dia butuh waktu untuk menerima semua ini.”
Robby mengembuskan napas kasar, dan memejamkan mata singkat, berusaha meredam kemarahan dalam diri.
***
Siang itu di kota Manhattan, Vintari melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Marah, kesal, kecewa telah melebur menjadi satu dalam diri gadis cantik itu, hingga membuatnya melajukan mobil di atas rata-rata.
“Shit! Menyebalkan sekali!” Vintari memukul stir mobilnya, dan kian menginjak pedal gas, guna kian melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Rasa marah dalam diri Vintari membuat gadis itu lepas kendali dalam melajukan mobil.
Napas Vintari memburu. Sepasang iris mata ambernya berkilat tajam. Namun, tiba-tiba tatapan Vintari terkejut melihat mobil sport berhenti mendadak di hadapannya. Refleks, gadis itu menginjak pedal rem begitu kuat. Namun…
Brakkk
“Ah, sial!” Vintari mengumpat di kala mobilnya menabrak mobil sport yang ada di hadapannya. Makian dan umpatan lolos dalam hati gadis itu. Entah, karma apa yang didapatkannya sampai membuatnya hari ini begitu sial.
Terpaksa, Vintari turun dari mobil, saat dia melihat sosok pria pemilik mobil yang dia tabrak pun turun dari mobil. Tak mungkin dirinya melarikan diri. Jika sampai melarikan diri, maka sama saja dengan menambah masalah baru.
Saat Vintari turun dari mobil, tatapan gadis itu menatap sosok pria tampan memakai kaca mata baca hitam melangkah mendekat padanya. Raut wajah Vintari sedikit gugup berhadapan dengan pria dewasa. Meskipun dirinya bukan lagi anak-anak, tapi sifatnya kerap masih terbilang gadis remaja.
“Apa kau tidak bisa mengemudikan mobilmu dengan baik?!” seru pria itu dengan nada tinggi dan keras. Dia membuka kaca matanya, memperlihatkan iris mata cokelat gelap tajam, namun penuh kharisma.
Beberapa detik, Vintari terhenyak akan iris mata cokelat gelapnya yang penuh dengan kharisma itu. Akan tetapi, buru-buru, dia menepis pikiran konyol yang ada di dalam pikirannya.
“Tuan, yang salah adalah kau, bukan aku. Kenapa kau berhenti mendadak? Kalau saja kau tidak berhenti mendadak, aku tidak akan menambrakmu,” kata Vintari keras kepala, tak ingin disalahkan.
Pria itu menatap dingin Vintari. “Apa matamu itu sudah tidak lagi berfungsi? Aku tidak berhenti mendadak. Kau yang tidak memiliki aturan dalam mengemudi!”
Vintari berdecak pelan. Sebenarnya, dia ingin kembali menjawab tapi gadis itu menyadari bahwa dirinya pun salah karena telah melajukan mobil dengan tanpa aturan. Jika CCTV di area jalan dibuka, pasti dirinya bersalah.
“Oke fine, aku salah. I’m sorry. Aku akan mengganti kerugianmu. Kau bilang saja berapa uang yang kau butuhkan untuk memperbaiki mobilmu?” seru Vintari yang enggan untuk memperpanjang masalah.
Pria itu menatap Vintari dari ujung rambut ke ujung kaki. “Gadis kecil, lebih baik kau simpan keangkuhanmu. Belum tentu kau mampu mengganti kerugianku.”
Vintari kembali berdecak. “Aku ini bukan gadis kecil lagi. Usiaku sudah 19 tahun! Cepat beri tahu aku, berapa kerugian yang harus aku bayar!”
Pria itu tersenyum sinis. “Alright, kalau kau memaksa, silahkan cek harga mobilku. Apa kau yakin mampu mengganti rugi?”
Vintari melirik mobil pria yang dia tabrak. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, guna memeriksa type mobil yang dia tabrak. Namun, seketika mata Vintari melebar melihat harga mobil dari mobil yang dia tabrak itu. Raut wajahnya memucat. Matanya memancarkan jelas kepanikan dan ketakutan.
“A-aku—” Lidah Vintari tiba-tiba saja kelu, tak mampu merangkai kata. Ucapan angkuhnya bagaikan es yang telah beku. Oh, shit! Vintari mengumpati nasib buruknya. Bukannya menenangkan pikiran, malah mendapatkan masalah baru.
Pria itu tersenyum meremehkan Vintari. “Lain kali tidak usah mengemudi, jika kau bodoh dalam mengemudi.” Lalu pria itu melangkah pergi meninggalkan Vintari.
“Hey! Berani sekali kau menghinaku bodoh!” Vintari kesal, dia langsung melepaskan heels-nya dan melempar ke punggung pria itu.
Langkah kaki pria itu terhenti saat heels Vintari berhasil mendarat di punggungnya. Dia mengambil heels Vintari, menatap gadis itu dengan tajam, lalu membuang jauh heels Vintari ke sungai yang kebetulan ada di sana. Tanpa merasa bersalah, pria itu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu.
Mata Vintari melebar. “Ya Tuhan, sepatuku! Akh pria sialan!” serunya dengan raut wajah kesal, dan mengumpati pria menyebalkan yang telah melempar sepatunya ke sungai.
Vintari melebarkan kedua tangannya di kala pagi menyapa. Gadis itu menyibak selimut turun dari ranjang, dan segera menuju ke kamar mandi. Dia ingin segera berangkat kuliah demi menghindar dari orang tuanya.
“Vintari.” Jenny melangkah masuk ke dalam kamar, mendekat pada Vintari
Vintari mendesah panjang menatap ibunya ada di depannya. “Ada apa, Mom?”
“Hari ini kau tidak usah kuliah. Kau temani Mommy dan Daddy,” jawab Jenny seraya membelai pipi Vintari.
Vintari mendengkus. “Mom, hari ini aku ada ujian. Aku tidak bisa bolos kuliah.”
“Sweetheart, jangan berbohong. Tadi Mommy sudah menghubungi kampus, menanyakan tentang kelasmu, dan hari ini kau sama sekali tidak ada ujian.” Jenny mengecup kening Vintari.
Vintari berdecak pelan, menatap jengkel ibunya. Gadis itu ketahuan bohong. Well, memang dia tak memiliki ujian, tapi dia lebih memilih untuk masuk kuliah daripada menemani kedua orang tuanya pergi. Pasalnya, dia enggan mendengar percakapan orang tuanya yang membahas tentang perjodohan.
“Mom, kau dan Dad ingin mengajakku pergi ke mana?” tanya Vintari mengeluh.
“Ke rumah sakit. Kebetulan hari ini Daddy-mu off, tapi dia ingin kau dan Mommy ke Alpha Hospital,” jawab Jenny yang sontak membuat Vintari terkejut.
“Daddy sedang off, kenapa harus aku dan Mom ke Alpha Hospital. Memangnya ada apa?” tanya Vintari bingung.
Jenny tersenyum sambil menjumput rambut Vintari ke belakang daun telinga gadis itu. “Nanti kau akan tahu. Sekarang lebih baik kau bersiap-siap. Dandanlah yang cantik.”
Kening Vintari mengerut dalam. “Wait, Mom dan Dad ingin mengajakku ke rumah sakit, kenapa aku harus berpakaian yang cantik? Memangnya Mommy ingin mengajakku ke acara fashion show?”
“Sayang, sudah jangan banyak bertanya. Cepatlah mandi dan bersiap-siap.” Jenny mencubit pelan pipi putrinya.
Vintari mendesah panjang. Dengan raut wajah kesal, gadis cantik itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Mau tak mau, dia harus menuruti keinginan ibunya. Jika tidak, maka pasti sepanjang hari telinganya akan sakit mendapatkan omelan.
***
Vintari menatap sebuah gedung rumah sakit besar di Manhattan. Raut wajahnya sejak tadi tampak tengah memikirkan sesuatu. Kedua orang tuanya memintanya berpenampilan cantik, tapi mengajaknya ke rumah sakit. Entah apa yang sebenarnya direncanakan kedua orang tuanya itu.
“Vintari, kau tunggulah di kantin. Atau kalau mau, kau bisa jalan-jalan di taman. Daddy dan Mommy ingin bertemu dengan teman kami sebentar.” Robby memberikan kecupan di kening putrinya itu.
Vintari menghela napas panjang. “Sebenarnya kalian mengajakku ke rumah sakit untuk apa? Kalau kalian hanya ingin bertemu dengan teman kalian, harusnya kalian pergi sendiri saja. Jangan ajak aku.”
“Sayang, nanti kau akan tahu. Sudah kau jalan-jalan berkeling rumah sakit saja.” Jenny membelai pipi Vintari. “Mommy dan Daddy akan segera menemuimu lagi.”
Vintari menganggukan kepalanya terpaksa. Berikutnya, kedua orang tuanya menuju lift terdekat darinya. Tepat di kala kedua orang tuanya sudah pergi, dia memilih untuk membeli minuman bersoda di vending machine.
“Lebih baik aku berjalan-jalan di taman saja,” ucap Vintari kala gadis itu sudah membeli minuman bersoda.
Vintari melangkahkan kaki menuju ke arah taman. Dalam hati, dia menyesal menuruti keinginan ibunya yang berpenampilan cantik. Harusnya dirinya memakai jeans saja. Tidak usah mini dress dan heels.
Saat Vintari hendak menuju taman, tanpa sengaja gadis itu menabrak seorang pria yang memakai snelli. Sontak, dia terkejut. Keseimbangannya tak terjaga bahkan minuman bersoda yang ada di tangannya itu tumpah, mengenai jas dokter putih itu.
Akan tetapi, meski Vintari telah menumpahkan minuman bersoda itu, dokter itu melingkarkan tangannya ke pinggang Vintari, dan membantunya untuk membenarkan posisi berdiri.
“Maafkan aku,” ucap Vintari menatap pria yang berprofesi dokter itu. Namun seketika matanya melebar terkejut melihat sosok pria tampan memakai snelli dan stetoskop yang melingkar di lehernya.
“Kau—” Dokter tampan itu menatap dingin dan tajam Vintari yang berdiri hadapannya. Wajah Vintari sangat tak asing di matanya.
Vintari menggaruk tengkuk lehernya tak gatal. Astaga! Mimpi apa dirinya bertemu lagi dengan pria yang kemarin dirinya tabrak. “Kenapa kau ada di sini?” tanyanya jengkel.
Pria itu melayangkan tatapan tajam pada Vintari. “Pakaianku sepertinya sudah menjawab pertanyaan konyolmu.”
Sebelah alis Vintari terangkat, menatap name tag di jas dokter pria itu ‘dr. Zeus. D’. Tampak gadis itu meringis malu. Sungguh, dia tak menyangka kalau pria menyebalkan yang menghinanya bodoh ternyata adalah dokter. Namun, kenapa harus hari ini dirinya kembali dipertemukan oleh pria menyebalkan itu?
“Oke, maaf karena aku tidak berhati-hati sampai menumpahkan minuman sodaku ke jasmu,” ucap Vintari yang mengakui kesalahannya.
Zeus menatap dingin Vintari. “Kapan kau berhati-hati, Gadis Kecil? Kau selalu ceroboh. Mengemudikan mobil, kau menabrak. Jalan pun kau menabrak. Matamu sudah mulai menua sampai tidak bisa berfungsi dengan baik.”
Vintari berdecak kesal. “Vintari. Panggil aku Vintari. Aku bukan lagi gadis kecil.”
“Terserah, aku tidak peduli.” Zeus menatap jasnya yang kini terkena noda merah, akibat minuman soda gadis di hadapannya itu. Raut wajahnya tampak kesal, tapi pria itu nampaknya enggan memperbesar masalah di rumah sakit. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia hendak meninggalkan Vintari, tapi langkahnya terhenti di kala Vintari menahan lengannya.
“Zeus wait—” cegah Vintari.
Zeus menaikan sebelah alisnya di kala Vintari memanggil namanya.
Vintari menatap name tag Zeus. “Aku ingin memanggilmu dokter, tapi aku bukan pasienmu. Jadi lebih baik, aku panggil namamu saja.” Gadis itu mendekat pada Zeus. “Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja menumpahkan minuman ke pakaianmu. Aku akan mengganti—”
“Tidak usah, aku memiliki snelli ganti di ruang kerjaku,” tolak Zeus tegas.
“Ah, begitu. Baiklah. Terima kasih sudah memaafkanku.” Vintari mengangguk paham.
“Vintari? Zeus?” Jenny dan Robby melangkah mendekat pada putri mereka yang tengah bersama dengan Zeus.
Vintari mengalihkan pandangannya, menatap bingung kedua orang tuanya. “Mom, Dad, kalian mengenal Zeus?” tanyanya.
Jenny dan Robby tersenyum mendengar pertanyaan Vintari.
“Kedua orang tuamu tentu mengenal putraku, Vintari.” Seorang pria paruh baya yang memakai snelli sama seperti , melangkah mendekat pada Vintari.
“Dad? Kau di sini?” Zeus menatap David—ayahnya—yang kini ada di hadapannya.
David hanya tersenyum menanggapi kebingungan putranya.
Alis Vintari menaut menatap bingung sosok pria paruh baya tak asing di matanya ini, dipanggil ‘Dad’ oleh Zeus. Kepala Vintari menjadi pusing di kala banyak terkaan muncul di dalam pikirannya.
“Mom? Ini ada apa?” Vintari meminta ibunya untuk menjelaskan.
Jenny melangkah mendekat, sambil membelaiu pipi putrinya. “Vintari, di sampingmu adalah Zeus Ducan, anak Paman David Ducan yang akan dijodohkan denganmu,” jawabnya yang sontak membuat Vintari dan Zeus yang sama-sama terkejut.
Bibir Vintari menganga terkejut akan apa yang dia dengar. Manik mata amber gadis itu mengerjap beberapa kali, tak sama sekali menyangka. Selama ini, dia tak terlalu tahu tentang Keluarga Ducan, karena memang dia tak tertarik untuk banyak tahu.
Astaga, kepala Vintari hampir pecah mengetahui kenyataan ini. Kebetulan yang sangat menyebalkan. Ternyata dirinya sudah bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya dalam moment yang tak disangka-sangka.
“Dad? Kau tidak bilang padaku kalau gadis yang akan dijodohkan denganku masih sangat kecil.” Zeus lebih dulu bersuara, memberikan komentar pedas, menatap ayahnya yang ada di hadapannya. Manik mata pria itu menunjukkan menuntut penjelasan sang ayah.
David tertawa pelan mendengar ucapan putranya. “Zeus, usia Vintari sudah di atas 18 tahun. Jadi sudah masuk dalam kategori dewasa. Dia cantik dan manis. Sangat cocok untukmu.”
Zeus mendesah kasar sambil mengumpat pelan. Dia tidak mengira sama sekali kalau dirinya akan dijodohkan oleh anak kecil. Shit! Zeus rasanya tak ingin berhenti mengumpat. Jika bukan karena ada teman dari ayahnya, sudah pasti dia akan pergi begitu saja akibat tindakan konyol sang ayah.
“Apa yang dikatakan ayahmu benar, Zeus. Usia tidak akan menjadi masalah. Yang terpenting kalian bisa saling membuka diri,” sambung Robby sambil menepuk bahu Zeus.
Vintari memutar bola matanya malas, mendengar ucapan ayahnya.
“Wait, Zeus. Snelli-mu kenapa terkena noda merah?” Jenny menatap kaleng soda di tangan kanan Vintari. Detik itu juga raut wajah Jenny berubah. “Astaga, Vintari. Kau menumpahkan minuman sodamu ke snelli Zeus?” tanyanya menuntut putrinya menjawab.
Vintari mengangguk, tanpa rasa bersalah. “Iya, aku tidak sengaja. Aku sudah minta maaf pada Zeus.”
“Jenny, jangan terlalu memperbesar masalah. Itu hanya noda kecil. Zeus memiliki banyak snelli di ruang kerjanya,” jawab David dengan senyuman di wajahnya. “Anyway, Jenny, Robby, aku rasa kalian biarkan saja putri kalian pulang dengan Zeus. Nanti sekalian, Zeus mengajak Vintari makan bersama.”
“Dad, sepuluh menit lagi, aku harus memeriksa pasienku,” ucap Zeus seraya menatap dingin ayahnya. Mengantar gadis kecil itu? Yang benar saja! Dia lebih memilih untuk memeriksa pasiennya.
“Kau ini hanya memeriksa pasien, bukan melakukan tindakan operasi. Jadi tidak akan lama,” jawab David tegas, lalu menatap Vintari. “Vintari, kau tidak apa, kan menunggu Zeus sebentar?”
Vintari hendak ingin menolak, tapi gadis itu mendapatkan tatapan tajam dari kedua orang tuanya. Tatapan yang mengartikan bahwa dirinya tak bisa sama sekali menolak. Sialnya, Vintari tidak bisa melakukan apa pun.
“Tidak apa-apa, Paman. Aku tidak keberatan,” jawab Vintari begitu terpaksa—dan mendapatkan senyuman dari kedua orang tuanya. Jelas saja! Ini keinginan kedua orang tuanya, bukan dirinya!
“Good.” David tersenyum, sedangkan Zeus sejak tadi memberikan tatapan dingin dan kesal pada Vintari. Gadis kecil itu telah mengacaukan hidupnya yang tenang.
***
Vintari melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja Zeus. Aroma musk begitu menyeruak ke indra penciuman gadis itu. Ruangan yang tertata begitu rapi sempurna menandakan sang pemilik ruang kerja itu adalah sosok yang perfectionist.
“Tunggulah di sini. Aku tidak akan lama,” ucap Zeus dingin, dengan raut wajah tanpa ekspresi.
“Zeus, wait—” Vintari menahan lengan Zeus.
“Ada apa?” Zeus menatap dingin Vintari.
Vintari mendesah panjang. “Harusnya tadi kau menolak.”
“Kau pun tidak bisa menolak, kan?” Zeus membalikkan ucapan Vintari.
Vintari hanya diam tak bisa menjawab ucapan Zeus. Sebab apa yang dikatakan pria itu benar. Dirinya tidaklah bisa menolak. Andai saja bisa, sudah pasti dirinya tidak akan mau diantar Zeus. Pria itu memang tampan, tapi sangat menyebalkan.
“Aku harus pergi. Ada pasien VVIP yang harus aku periksa.” Zeus langsung melangkah pergi meninggalkan Vintari sendiri.
Vintari menatap punggung Zeus yang mulai lenyap dari pandangannya. Rasa sakit di kepala Vintari mulai menyerang. Sakit yang timbul, karena semua yang hadir dalam hidupnya benar-benar sangat mendadak.
Vintari mengatur napasnya, dan memejamkan mata singkat. Tatapan gadis itu kini mulai mengendar ke sekitar ruang kerja Zeus. Di atas meja penuh dengan banyak foto dan penghargaan.
Vintari sangat yakin bahwa di masa sekolah, Zeus pasti sangat pintar. Terbukti banyak sekali penghargaan yang didapatkan pria itu. Detik selanjutnya, Vintari mulai lengkahkan kaki mendekat, mengambil foto Vintari semasa kuliah. Perlahan senyuman di wajah Vintari terlukis melihat foto pria itu. Wajah tampan Zeuz tampak dingin, tapi tetap memesona.
Menit demi menit berlalu, Vintari sama sekali tak menyadari kalau dirinya tenggelam melihat foto-foto Zeus di masa lalu. Gadis itu sama sekali tak sadar, bahwa Zeus sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, dan berdiri di ambang pintu menatap Vintari yang tengah melihat fotonya.
“Sepertinya kau menyukai apa yang kau lihat,” ucap Zeus yang membuat Vintari terkejut hingga hampir menjatuhkan bingkai foto di tangannya. Refleks, Zeus maju dan menangkap bingkai foto itu, dan meletakan kembali ke tempat semula.
Vintari mendesah kasar. “Zeus, kau bisa membuatku mati jantungan!”
“Well, usiamu masih sangat muda. Sangat disayangkan kalau kau mati muda, karena terkejut,” jawab Zeus seraya melepas snelli-nya, dan meletakan ke kursi kerjanya.
Vintari berdecak pelan. “Kau ini selalu membawa-bawa umur. Memangnya berapa usiamu?”
“Menurutmu?” Zeus mengambil kunci mobil dan dompetnya yang ada di atas meja kerja.
Vintari melangkah mendekat, menatap seksama wajah Zeus guna menebak usia pria itu. Ya, tindakan gadis itu membuat Zeus sedikit canggung. Jarak mereka begitu dekat dan bahkan terbilang intim.
“Vintari—”
“Tebakanku usiamu pasti antara 27 atau 28 tahun,” kata Vintari menembak.
Zeus tersenyum samar. “Kau salah.”
“Lalu kau usia berapa?” Mata Vintari menatap polos Zeus.
“45 tahun,” jawab Zeus asal.
Vintari melebarkan matanya. “Tidak mungkin orang tuaku menjodohkanku pada pria yang sangat tua.”
Zeus kembali tersenyum dan melangkah meninggalkan Vintari. “Kita pergi sekarang.”
“Hey, Zeus. Tunggu aku.” Vintari mengejar Zeus yang melangkah dengan cepat, menuju halaman parkir. Sebenarnya, langkah kaki Zeus sangatlah biasa bagi pria itu, tapi tidak bagi Vintari. Vintari harus berlari kecil demi mengejar Zeus. Sialnya, hari ini gadis itu memakai heels tinggi, membuatnya kesulitan melangkah cepat.
Di halaman parkir, heels Vintari tersangkut bebatuan. Gadis itu pun terjatuh dan menjerit. Sontak, Zeus yang ada di depan langsung membalikan badan di kala mendengar suara jeritan Vintari.
“Aw—” Vintari merintih kesakitan dengan lutut yang kini berdarah.
Zeus berdecak kesal. “Gadis itu kenapa selalu saja ceroboh!”
Terpaksa, dia menghampiri Vintari, dan membantunya bangkit berdiri. Pria itu memapah Vintari serta mendudukkan gadis itu ke kursi yang ada di halaman parkir itu. Zeus mengambil kotak obat yang ada di mobilnya, dan mengobati luka di lutut Vintari yang berdarah.
“Aw, Zeus sakit. Kau bisa mengobatiku atau tidak?” seru Vintari merintih perih.
Zeus tetap mendongakkan kepalanya, menatap Vintari. “Apa kau lupa ingatan dengan pekerjaanku?”
Vintari meringis malu, tak lagi berkata. Rasa sakit di lututnya, membuat otaknya menjadi blank seketika. Sudah pasti Zeus bisa mengobatinya, pria itu memiliki profesi sebagai dokter.
Zeus memasukkan kembali obat ke dalam kotak obat di kala sudah selesai mengobati lutut Vintari. “Bisakah kau berjalan dengan hati-hati?”
Vintari menekuk bibirnya. “Iya-iya, maaf. Kau ini galak sekali. Dokter itu wajib ramah pada pasiennya. Tidak boleh galak.”
“Aku akan membuat pengecualian padamu. Jika kau pasienku, maka aku tidak mungkin ramah. Kau gadis paling ceroboh yang pernah aku temui di dunia ini,” seru Zeus kesal.
Vintari mencebikkan bibirnya.
Zeus bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya pada Vintari. “Kita pergi sekarang. Aku tidak mau disalahkan oleh orang tuamu.”
Awalnya, Vintari tak ingin menerima uluran tangan Zeus, tapi keadaan lututnya yang terluka, membuatnya kesulitan untuk berdiri tanpa bantuan. Dengan wajah yang masih tertekuk, gadis itu menyambut uluran tangan Zeus—dan melangkah bersama dengan pria itu menuju ke mobil.