Jari-jari kurus dan panjang milik Kirana lincah menari di atas keyboard, nyaris tidak ada jeda seakan dia sedang mengerjakan pekerjaan yang butuh keseriusan tingkat tinggi. Gadis berambut lurus sepunggung itu sampai menggigit bibirnya yang tipis dan bergincu merah muda, setetes keringat mengalir di pelipisnya yang putih.
Tak!
Tombol enter di-klik kuat-kuat. Yak, satu komentar panjang bernada kebencian baru saja dia luncurkan ke dalam kolom komentar salah satu Instagram selebriti Ibu Kota. Alih-alih mengerjakan laporan, tenaga dan waktu Kirana lebih banyak habis untuk julit pada selebritis kondang, padahal bukan sekali dua kali dia dapat teguran dari atasan di divisinya, Pak Yayuk.
Nah, kan. Sekarang teman kerja Kirana, Welas—si cewek bergigi kuning super kepo—memanggilnya untuk menemui Pak Yayuk. Semprotan macam apa lagi yang akan diterima Kirana kali ini?
“Kamu ini bagaimana?! Kamu kira ini laporan main-main, ya?! Kamu kira ini laporan penjualan warung kelontong?!” Suara Pak Yayuk naik satu oktaf. “Ini laporan keuangan perusahaan, Na!” Pak Yayuk mulai action melempar berkas hasil kerja Kirana. “Kamu niat gak sih kerja di sini?!” Pak Yayuk menggebrak meja lalu menatap lurus-lurus Kirana yang hanya bisa tertunduk lesu.
“Niat, Pak ... Maaf saya kurang tidur.”
Alasan klise Kirana itu bahkan tidak mungkin mempan membuat cicak di dinding mempercayainya. Pak Yayuk tepok jidat. Kalau dikalkulasi, sebulan ini dia sudah puluhan kali tepok jidat karena Kirana.
“Tugas kita ini sangat krusial, Na! Kamu jangan main-main!” Pak Yayuk menggoyang-goyang kursi sampai tubuh gempalnya terpental-pental, Kirana jadi mengikik dalam hati menyaksikan lipatan lemak di perut Pak Yayuk saling dorong.
“Ya maklum lah Pak, kan saya masih magang, baru kerja tiga bulan.” Kirana memasang muka sedih.
Pak Yayuk mencoba mengatur napas, jangan sampai asmanya kambuh gara-gara karyawan tulalit seperti Kirana. “Gini aja, sebulan ini kamu jangan pegang laporan dulu, kamu cukup bantu yang lain buat foto kopi sama bikin teh buat mereka. Daripada laporan penting jadi hancur berantakan karna ulah kamu!”
“Maksud Bapak ... Saya diturunkan jabatan?” tanya Kirana polos.
“Jabatan apa?! Kamu jangan melunjak, ya! Kamu kira magang kaya kamu udah di posisi apa, sih?!” damprat Pak Yayuk dongkol jilid kedua.
“Hehe, iya ya Pak ... Jadi saya bantu-bantu yang lain dulu ya, Pak?” Kirana nyengir tanpa dosa.
Saat pintu ruangan Pak Yayuk dia tutup, gadis itu langsung mengepal tinjunya. Yes! Dia bersorak dalam hati. Senang tiada terkira akhirnya pekerjaannya jadi lebih mudah dan santai. Dia bisa lebih aktif mengomentari foto-foto maupun video selebriti. Membaca komik webtoon pun bisa lebih leluasa, tidak ada lagi laporan jelimet yang bikin migran.
“Kamu diapain lagi sama Pak Yayuk?” tanya Welas seiring pantat Kirana kembali ke tempatnya.
“Mau tau aja urusan orang," jawab Kirana ketus. Welas langsung manyun sambil balik fokus menatap monitor di mejanya. Dia sudah biasa menghadapi sikap jutek Kirana.
Hape Kirana bergetar sedetik kemudian, ada pesan whatsapp dari sahabatnya, Mila, yang berbunyi:
Entar malem keluar, yuk. Kan udah lama kita gak kobam, cuy.
Duh, Mila. Cewek yang sudah berteman sepuluh tahun dengan Kirana ini memang hobinya pesta dan minum. Kalau orang normal slogannya tiada hari tanpa olahraga, si Mila slogannya malah tiada hari tanpa party. Tapi bukan Kirana namanya kalau tidak setuju. Karena bujuk rayu Mila, Kirana juga jadi ikut-ikut. Kebiasaan mabuk sampai pagi alhasil membuat kinerja dan gaya hidup Kirana makin keteteran. Tapi lebih dari sekadar hanya minum untuk bersenang-senang, Kirana memang butuh mabuk untuk melupakan sakit di hatinya. Hanya itu obat yang setidaknya bisa sedikit memberi rasa lega.
***
Suara musik elektronik memekakkan telinga, membuat jantung seisi klub berdebar dan memacu adrenalin. Lampu kerlap-kerlip bersinar di tengah kegelapan, orang-orang asyik tenggelam dalam tarian khas masing-masing. Seperti ulat keket, Mila berjoget cuek di lantai dansa. Kirana mencibir dalam hati. Norak. Mila selalu norak dan bikin malu. Dua cowok bergaya ala gangster mendekati Mila untuk menari bersama. Mula-mula goyangnya santai tapi mereka curi-curi kesempatan juga menyentuh tubuh Mila yang agak montok. Mila yang dalam keadaan setengah mabuk cuek saja, dia terus berjoget mengikuti irama musik.
“Sorry, bos,”
Sampai kemudian seorang pria berpakaian kasual datang dan memeluk Mila, menegaskan kalau Mila adalah miliknya. Dua cowok mafia wanna be itu pun berlalu. Kalau diladeni lebih jauh, bisa-bisa berujung baku hantam.
“Woi, temen lu digerepe-gerepe orang lu nya malah asik aja.” Adam yang notabene pacar Mila mengomel seraya mendudukkan kekasihnya di depan Kirana.
“Yeee ... Orang dia yang mau joget sendiri kok, ngapain juga gue larang-larang?” protes Kirana. “Lu sama siapa ke sini, Dam?” tanyanya kemudian.
“Sama Akbar, lagi ke toilet bentar dia," jawab Adam sembari menuang bir ke dalam seloki dan langsung menegaknya.
“Anjrit-lah, manusia batu itu lagi yang lu ajak ke sini," omel Kirana.
“Lu gak peka-peka juga ya, Na! Dia tuh demen sama lu! Udah gue bilang kan, terima aja kenapa, sih? Masa depan juga dijamin cerah.”
Mila yang sejak tadi tertunduk lemas langsung mengangkat kepala, soal begini-begini dia memang anti ketinggalan, apalagi menyoal Kirana-Akbar yang sudah setahun belakangan ini dia comblangin. “Bener tuh, Na. Lu udah dua puluhan, gak baik melajang lama-lama ...” Dia menimpali meski dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya. “Lu liat baik-baik kualitas Akbar. Dia baik, sopan, penyayang anak dan keluarga, punya kafe, apa coba kurangnya?”
“Ah lu juga satu, gue kan udah tegasin, gue sama sekali gak mikirin soal jodoh.” Kirana menegak bir langsung dari mulut botol, saking sebalnya dicelotehi soal Akbar terus.
“Mau sampe kapan sih lu mikirin Panji? Bisa aja dia udah kawin.”
Dada Kirana nyeri lagi. Panji. Satu nama yang tak mau pergi dari otaknya walau sudah sewindu berlalu. Memang benar yang dikatakan Mila, Panji adalah penyebab Kirana tidak bisa melanjutkan hidup. Panji adalah alasan kenapa Kirana selalu bermimpi buruk setiap malam, selain Pak Yayuk tentunya.
Habis acara kelulusan SMA, Panji lenyap tanpa jejak. Tak ada satu pun yang tahu ke mana dia pergi, termasuk Kirana yang waktu itu statusnya digantung. Rumahnya dijual, nomornya tidak bisa dihubungi, ayahnya dipindahkan tugas kerja tapi tidak tahu ke mana. Dia hilang ditelan bumi. Bahkan setidaknya, sepucuk surat tanda perpisahan pun tidak sampai dikirim pada Kirana.
“Ah, siapa bilang gue galau gara-gara dia? Males banget kaya gak laku aja. Waktu itu juga kami cuma cinta monyet, kok. Gak ada yang spesial, lu nya aja yang suka nafsirin berlebihan.” Kirana selalu denial, malu dong jika harus jujur mengungkap kalau hatinya memang sudah diporak-porandakan oleh Panji. Pacaran lima bulan saja hancurnya sampai begini, bagaimana kalau waktu itu mereka pacaran bertahun-tahun, mungkin Kirana sudah tinggal nama.
Mulut Mila batal mendumel lagi lantaran Akbar sekarang telah ikut bergabung bersama mereka. Si pemuda berkemeja putih bersih dan berambut klimis serta berkacamata silinder ini adalah Akbar, sohibnya Adam sekaligus mantan teman satu kantornya dulu. Tidak ada yang istimewa darinya, tapi tidak kurang pula. Diibaratkan roti, dia adalah roti tawar tanpa selai, terasa datar dan tidak ada kejutan. Gaya bicaranya komunikatif parah, maklum lulusan komunikasi. Dia akrab dengan ibunya alias anak Mama, dan kini melanjutkan usaha keluarga menjalankan kafe untuk muda-mudi. Pokoknya, hidupnya terlalu normal untuk Kirana.
Sejak dicomblangi tahun lalu, hubungan mereka relatif lambat naiknya karena Kirana. Sekali tidak tetap tidak. Begitu pikir Kirana. Lagian dia juga belum yakin dengan kesungguhan Akbar. Dan ada satu hal lagi yang membuat Kirana selalu menghindari Akbar, Kirana punya satu teori: orang normal adalah orang paling berbahaya. Dia selalu merasa kalau Akbar sesungguhnya adalah psikopat yang bersembunyi di balik tampang polos. Tiap kali cowok itu mengeluarkan senyum manisnya, Kirana langsung merinding disko, yang diterimanya justru sebuah mimik mengancam yang mengatakan wajah tak berdosa itu suatu saat akan membunuhnya bahkan mencincangnya seperti di film-film gore. Au ah, Kirana. Absurd.
“... Hng ....”
Bibir Kirana terbuka sedikit, dia mengerang pelan di sela-sela merasakan nyeri hebat yang menyerang kepala belakang. Dia paksa mata sayunya untuk terbuka, dia berkedip-kedip lemah menyisir tempat dia terduduk lemah saat ini. Dia berada di dalam mobil keluarga serba hitam beraroma sabun mandi, sepertinya dia tahu mobil siapa yang sedang dia tumpangi.
“Kamu udah bangun, Na?”
Kirana langsung memejamkan mata sewaktu dia tangkap suara dari kursi pengemudi di sebelah, suara Akbar. “Maaf ya aku gak bangunin kamu, soalnya kamu tadi lumayan parah mabuknya, aku jadi gak enak buat ganggu.” lanjutnya.
“Hm ...” Kirana menggumam cuek. “Kita di mana, nih?”
“Di depan kos kamu, aku mau gendong ke dalam tapi kuncinya sama kamu.”
Kirana mendengus sebal sambil merogoh tas sandangnya yang berbahan kulit asli (harus banget diperjelas). “Jadi kalo gue gak bangun, lu bakal nunggu di sini sampe pagi? Jangan gila lu!” ocehnya seraya menyerahkan kunci pada Akbar. Dalam kondisi belum sepenuhnya sadar pun, Kirana masih punya banyak tenaga untuk menaikkan suara.
“Maaf ... Habis aku takut kalo aku ganggu tidur kamu, kamunya malah lebih marah.”
“Maaf! Maaf! Cukup mpok Minah aja yang dikit-dikit minta maaf, lu jangan ikutan! Gih, sono, bukain pintu.” Mentang-mentang Akbar baik hati, Kirana jadi suka melunjak, sebaiknya Kirana banyak-banyak berharap Akbar bukan psikopat kalau mau selamat.
“Iya, aku bukain bentar ya.” Akbar melempar senyum manis andalan yang sukses membuat bulu kuduk Kirana berdiri.
“Jangan senyum-senyum lu sama gue, gue males liatnya!” amuk Kirana selaras tangannya mendorong lengan Akbar agar bergegas keluar dari mobil.
Indekos Kirana berada di rumah paling pojok kanan sebuah bedeng lima. Meski dia bersebelahan dengan empat tetangga, tak satu pun dia kenali mereka. Berdasarkan pengalaman hidup Kirana selama hampir dua puluh lima tahun, tetangga tak ubahnya program rumpi no secret, radar Kirana sudah dari jauh-jauh hari memberi kode lebih baik radiasi beberapa meter dari mereka biar hidup lebih damai sentosa. Nyatanya, ilmu terapan itu sangat berguna, Kirana memang bisa tinggal bebas pulang-pergi semaunya tanpa memikirkan apa kata tetangga.
Seusai membuka pintu dan menyalakan lampu ruang tamu, tugas Akbar selanjutnya adalah menggotong tubuh Kirana masuk ke dalam, tepatnya, cukup membantu memegangi satu tangan Kirana supaya dia tidak terjerembap ke dalam comberan seperti yang sudah-sudah.
Pandangan Kirana lumayan berputar, indekosnya dari depan tampak seolah sedang goyang dombret. Untung dia berhasil sampai di ruang tamu dengan selamat berkat Akbar. Ruang berukuran sepetak kecil yang hanya muat menampung beberapa orang itu diisi sebuah kasur lantai dan TV tabung 21 inch, dibanding disebut ruang tamu memang lebih cocok disebut ruang menonton.
“Hadeuh ... Pegel banget badan gue,” erang Kirana. Dia nyalakan TV setelah berbaring biar suasana tidak terlalu sunyi. “Lu belum pulang?” Sampai dia sadar bahwa Akbar masih bengong di hadapannya.
“Aku bikinin susu buat kamu, ya? Biar sisa mabuk kamu hilang.” Akbar tidak menjawab pertanyaan Kirana, malah menawarkan bantuan lagi.
“Terserah lu, deh,” sahut Kirana cuek.
Akbar beranjak ke dapur yang tak kalah sempit dari ruang tamu. Satu gelas susu hangat dia seduh. Kirana habiskan hanya dalam tiga teguk. “Lu masih belum pulang? Apa lagi, sih?” tanya Kirana makin dongkol, empet juga lama-lama melihat muka lugu Akbar.
Akbar meremas-remas jemari lentiknya di atas paha, dia jilati bibir untuk mengusir rasa gugup. “Ada yang mau aku omongin, Na.” lirihnya cemas-cemas basah(maksudnya bibirnya yang basah).
“Hm. Apaan?” tanya Kirana ogah-ogahan. Tentu dia sudah bisa membaca gelagat Akbar. Metode lawas ini sudah sering dia jumpai.
“Aku sayang sama kamu.”
Tuh, kan. Basi. Kirana langsung mendengus. Hari naas baginya ternyata tiba hari ini. Padahal dari sejak kapan tahu dia sudah wanti-wanti Akbar akan men-dor dirinya, rupanya sekarang lah dia lakukan. Kirana jadi makin malas menanggapi kalau begini, Akbar minim effort, ya masa mengajak jadian tengah malam sehabis klubbing? Apa tidak bisa sedikit lebih berkelas, gitu?
“Gue juga sayang kok sama lu, Bar. Tapi gue lebih sayang sama jam tidur gue. Lu pulang aja ya, gue ngantuk banget.” Tolakan halus dilontarkan Kirana. Untuk ukuran manusia sejenis Kirana, itu sudah versi yang paling halus.
Sebelum Kirana kembali berbaring karena masih sedikit gelayaran, Akbar tangkas menggapai jemarinya. Malam dingin tapi keringat Akbar tampak bercucuran saking gugupnya mendera, jantungnya berdebar kencang seperti bom siap meledak.
“Please, Na. Kasih aku satu kesempatan, cuma sekali ini aja. Kalau nanti ternyata aku gagal membahagiakan kamu, kamu boleh meninggalkan aku. Aku tau cinta gak boleh dipaksa, tapi tolong sekali aja, Na.”
Amboi. Sedap betul bahasa pujangga si Akbar. Kalau saja Kirana adalah gadis lemah lembut, tentu dirinya sudah meleleh mendengar rayuan itu. Sejujurnya dalam lubuk hati terdalam, Kirana cukup menghargai usaha Akbar, tapi masih ada satu nama yang belum bisa dia hapus dari hatinya. Hubungan itu berakhir menggantung, Kirana masih merasa diikat oleh sesuatu yang tak terlihat.
“Na?” panggil Akbar, menyadarkan Kirana dari buai lamunan. “Aku gak maksa, kok.” Dia mempertegas kalimatnya.
“Oke kalo lu minta satu kesempatan. Mungkin memang hanya itu yang bisa gue kasih.” Kirana terdengar lembut dan serius.
Mata Akbar langsung terbuka lebar, gayung bersambut pikirnya. Jemari Kirana dia remas lebih kuat sambil menatap Kirana lebih lekat, lebih cocok disebut melotot, sih. “Makasih Na! Aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu kasih. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kamu!” serunya mengumbar janji.
“Iya ... Iya ... Sana pulang lu, udah mau tengah malam, nih. Entar ada kuntilanak lewat gangguin lu di jalan.” Kirana menarik tangannya.
Akbar mengangguk mantap. Dia bergegas keluar setelah membelai lembut puncak kepala Kirana. Mobilnya melaju pelan menjauh disusul Kirana mengunci pintu indekos. Mata Kirana menatap kosong pada layar TV, terbayang lagi wajah Panji. Sakit. Masih teramat membekas luka yang pernah ditorehkan Panji.
Ingatan Kirana kembali pada delapan tahun yang lalu. Waktu dia masih duduk di bangku kelas dua belas, waktu dia masih culun—ya sekarang juga masih culun, sih—dan masih bau matahari. Panji bukan cowok super ganteng seperti gambaran cowok dalam teenlit populer, dia juga bukan yang paling pintar atau yang paling keren. Tapi dia punya daya magis yang sanggup menyedot perhatian Kirana.
Tubuhnya tinggi proporsional agak berisi dengan kulit coklat cenderung gelap. Kepalanya besar, hal ini pernah dibuktikan Kirana sewaktu mereka berfoto bersebelahan, kepala Panji terlihat dua kali lebih besar dari kepala Kirana. Nasib baik ukuran mata, hidung dan bibirnya ikut mengimbangi, akan sangat tak lazim tentunya kalau kepalanya besar tapi matanya kecil seperti karikatur. Bagian tubuh paling disukai Kirana dari Panji adalah bulu matanya yang super panjang dan lentik yang selalu bikin cewek-cewek iri.
Kalau tertawa, Panji hampir tidak pernah terbahak-bahak, paling-paling hanya tawa pendek bernada mengejek. Kirana yang waktu itu duduk di belakang Panji memulai aksi dengan memberi perhatian, misalnya membagi bekal yang dibawa dari rumah atau mengajak menonton film bersama, yang paling ekstrem ya memberi contekan saat ulangan.
Setelah dua bulan PDKT, Kirana yang sejatinya memang agresif langsung menyatakan perasaan, dan tanpa babibu Panji menerima. Bahkan sampai detik ini, Kirana masih tidak tahu apa alasan Panji menerima perasaannya, satu kata “sayang” atau minimal “suka” pun belum pernah dia dapat dari Panji. Dalam benak Kirana, Panji bersikap begitu karena dia adalah cowok progresif yang sudah anti pada kata-kata manis, dan cuma berorientasi pada perlakuan. Kirana tidak sadar waktu itu dia sangat delusional.
Ciri khas Panji yang paling membekas di ingatan Kirana adalah kebiasaannya yang mudah tersulut api amarah alias gampang nge-gas. Ini adalah pemicu hampir seluruh pertengkaran mereka, di luar dari sifat Kirana yang juga mau menang sendiri tentunya. Marah pada Kirana bisa dia maklum (namanya juga cinta buta), tapi marah pada orang lain dan Kirana harus jadi penengah, bagaimana Kirana tidak frustrasi? Sebagai contoh, mereka berdua sedang berjalan di pasar, dan tidak sengaja seorang pria menabrak atau menyenggol lengan Panji. Sudah bisa ditebak seterusnya apa yang akan terjadi, kalau bukan saling tonjok, minimal adu mulut setengah jam yang biasa ujung-ujungnya diselesaikan dengan adu jotos. Pokoknya paling tidak, ada setetes darah yang tumpah. Kirana mana mungkin diam saja, namun tiap kali dia mencoba melerai, dia juga tak lepas dari dampratan Panji,
“Kamu gak usah ikut campur! Orang rese kaya dia emang harus dikasih pelajaran, Ran!”
Nah kalau sudah begitu, biasanya sifat cengeng Kirana akan keluar. Dia akan memilih pergi lalu menangis, kemudian ngambek dengan cara mogok bicara setidaknya seminggu. Babak selanjutnya, Panji akan meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi sikap sok jagonya, sudah pasti janji itu selalu dia langgar. Kirana yang bucin edan level mithic sudah tentu akan memaafkan, dan berakhir mereka berpelukan.
Kisah mereka persis skenario FTV azab dengan metode sama berulang-ulang. Hubungan lima bulan itu pada akhirnya selesai menggantung setelah acara kelulusan. Panji tidak tahu ke mana rimbanya, dia menghilang begitu saja, kalau bahasa bekennya sih dia meng-ghosting Kirana. Tapi dasar Kirana terlanjur semaput asmara, sampai sekarang Kirana masih hidup dalam bayang-bayang Panji. Dia masih berkeyakinan Panji akan kembali.
Jarum pendek jam dinding bergambar Spongebob yang tergantung di atas kepala Welas menunjuk angka 5. Kirana celingak-celinguk mengamati satu per satu rekan kerjanya yang masih sibuk bekerja. Pelan-pelan dia memadamkan komputer lalu memasukkan printilannya ke dalam tas. Dia celingak-celinguk sekali lagi, memastikan tak ada yang memperhatikan dirinya sekaligus memantapkan niat. Setelah yakin benar, Kirana mengendap-endap menuju pintu keluar. Sebelum sampai di pintu kaca tersebut, Kirana sekali lagi mengecek ke belakang, untung seluruh rekan sedivisinya masih sibuk berjibaku dengan komputer.
“E-HEM!”
Kirana langsung memejamkan mata dan meringis lebar. Dia tertangkap basah Pak Yayuk yang sedari tadi terus memantau gerak-geriknya dari CCTV.
“Sore, Pak Yayuk~” Kirana memasang tampang polos, berharap tidak kena sembur api maut Pak Yayuk yang maha sakti.
“Udah kerja bulan ini paling gampang, mau pulang paling cepat, lagi!” Mata Pak Yayuk yang kecil dipaksakannya untuk melotot. Jemari-jemari pendeknya yang bulat-bulat dan unyu-unyu sudah berada di pinggang.
“Hehe, kan udah pas Pak waktunya, udah jam 5 sore,” dalih Kirana terkekeh.
“Harusnya kamu itu lembur! Sekalian bantu divisi lain buat foto kopi! Ini malah pulang duluan!” Dialek khas Surabaya-an Pak Yayuk sampai keluar secara alami, ini sudah pertanda kemarahan Pak Yayuk hampir ultimate.
“Maaf ya, Pak~ Justru karna gak ada kerja lagi makanya saya mau pulang duluan.” Kirana pura-pura menyesal sambil mengerucutkan bibirnya.
“Siapa bilang gak ada kerja lagi?! Tuh!” teriak Pak Yayuk sambil menunjuk ke arah rekan-rekan kerja Kirana, “yang bikin kopi buat yang lembur siapa?!” sambungnya.
“Masa iya saya mesti nungguin mereka, Pak? Mereka kadang sampe jam 11, Pak.”
“Nah itu kamu tau! Mereka kerja sampe jam 11! Contoh itu!”
Kirana salah memilih diksi. “Gini deh, Pak. Saya beliin mereka kopi aja ya, Pak? Dari kafe punya pacar saja, saya traktir.” Kirana nyengir menunjukkan gigi-gigi besarnya.
“Kamu mau pamer kalo kamu sekarang udah gak jomblo lagi?! Mentang-mentang!” Pak Yayuk salah fokus, ada aja celah baginya untuk menguliti Kirana.
“Bukan gitu, Pak-,”
“Ya udah ok, deh!” sela Pak Yayuk. Tawaran Kirana cukup menggiurkan juga. Lumayan, hitung-hitung tak perlu lepas uang untuk membeli starbak. “Saya maunya kopi susu pake banyak krim, ya,” pintanya seraya berbalik kembali ke dalam ruangan.
Yes! Kirana bersorak lagi. Dia menggigit lidahnya pelan sebagai wujud kepuasan, lalu ngacir keluar. Pak Yayuk lemah, pikirnya. Disogok kopi saja selesai, bagaimana disogok yang lain? Untung dia bukan politisi.
***
Musik instrumental beraliran chill-hop—yang lagi hits di kalangan anak muda—diputar via Youtube mengisi latar sekaligus teman minum kopi santai. Kafe yang mengusung tema Pink itu terletak di salah satu kawasan Plaza, berdampingan dengan sebuah Pujasera. Kawasan yang tak terlalu strategis mengingat daerah itu cukup ramai, suasana santai dan tenang yang diinginkan malah sulit terealisasi. Meski ditutup pintu kaca, tetap saja suara dari jalan besar dan Pujasera tembus sampai ke dalam. Tapi, rezeki tak ke mana dan tak tertukar kalau kata orang-orang, kafe yang notabene milik Akbar itu memang selalu ramai pengunjung.
Selain kopi, menu andalan mereka adalah kue-kue tar manis sebagai pendamping. Rata-rata yang datang berkunjung pun adalah remaja-remaja kasmaran yang sedang berkencan murah meriah, atau pembeli-pembeli buku yang butuh ketenangan sejenak sehabis membeli buku dari toko buku bekas yang berada di seberang jalan. Lapak toko buku bekas itu juga adalah salah satu pemicu kebisingan. Saking populernya, mereka kerap kedatangan pembeli dari luar kota yang sengaja datang untuk berburu buku, persaingan dan saling sikut pun lumrah terjadi. Banyak yang tidak untuk dibaca sendiri, melainkan dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
Seperti hari kerja biasa, Akbar turun sendiri menjaga kasir bahkan kadang menyiapkan kopi untuk pelanggan tertentu dengan pesanan khusus. Menjelang Magrib, para pengunjung satu per satu telah pulang, tersisa dua remaja putri yang masih menikmati kopi sambil membaca buku. Akbar bisa duduk santai sekarang. Dia menopang dagu di meja kasir sambil mesem-mesem sendiri.
“Senang banget, Bos. Habis dapat lotre?” Karyawan teladan nomor satu, Mahmud alias Mamut, iseng menyelidik sembari terus me-lap meja tamu.
“Maklum, Mut. Habis jadian sama doski.” Karyawan teladan nomor 2, Fitri, menimpali sinis.
Karyawan kafe cuma ada dua. Mamut dan Fitri. Dua-duanya kuliah di kampus yang sama, dan sudah berteman sejak SMP. Mamut bagian minuman, Fitri bagian kudapan, mereka saling melengkapi di dapur maupun di luar dapur. Hubungan mereka sebatas friend zone, Fitri jelas tahu bagaimana perasaan Mamut tapi dia menolak dengan alasan tidak suka rambut brokoli Mamut, padahal alasan sebenarnya karena dia diam-diam menginginkan Akbar. Sementara Akbar sama sekali tidak pernah melihat Fitri sebagai lebih dari karyawan, soalnya cewek tomboi seperti Fitri bukanlah tipenya. Ada cinta segi tiga tak terlihat di antara mereka.
“Jadi udah fix nih sama Kirana? Kereeenn.” Mamut mengacungkan jempol.
“Yoi!”
Kirana panjang umur, baru saja diomongin, dia pun datang, tapi mukanya masam cemberut. “Tumben, Na, kamu ke sini. Tau gitu tadi aku jemput.” Akbar jadi makin berbunga, pujaan hatinya tiba tanpa disangka-sangka. Mamut dan Fitri saling pandang dengan bibir meleot-leot seakan sedang berkomunikasi menggunakan bahasa siput.
“Iya! Gue pulang cepat tapi mesti traktir kopi buat yang lembur!” ungkap Kirana jengkel. “Tolong, dong. Buruan bikinnya, sebelum gue diteror pak Yayuk.” Dia memerintah tanpa sungkan.
“Biar gue yang atur, apa aja pesanannya?” Mamut mengeluarkan pena dan buku kecil lalu mencatat pesanan Kirana.
Mamut bergerak cepat menyiapkan beberapa gelas kopi dibantu Fitri. Tiap senggang, Fitri memang selalu ikut turut meringankan kerja Mamut.
“Berapa?” tanya Kirana seraya mengeluarkan dompet.
“Jangan! Biar aku aja.” Akbar lekas menolak.
“Gue ke sini buat beli kopi bukan malak kopi.”
“Gak usah, anggap aja ini salam perkenalanku sama rekan-rekan kerja kamu. Orang sekitar kamu kan nantinya juga akan jadi orang sekitarku juga.”
Ucapan semanis kurma barusan sukses bikin bulu kuduk Kirana berdiri, geli parah.
“Iya deh, Malih. Serah lu,” sahut Kirana cuek campur pasrah.
Selesai kopi dibuat, Kirana berniat untuk langsung mengantarkan, tapi lagi-lagi Akbar mencegah. Dia mau mengajak Kirana untuk sekalian makan malam, biar Mamut saja yang mengantar. Sekali lagi Kirana pasrah dan menyerahkan seluruhnya pada Akbar. Sambil mengingatkan alamat kantornya sekali lagi pada Mamut, Kirana ikut mengantar sampai ke halaman depan tempat sepeda motor Mamut diparkir. Saat mulutnya terus mengoceh, matanya turut bergerak-gerak sembarang tanpa arah yang jelas, ketika itu lah Kirana tak sengaja menemukan sosok yang sudah delapan tahun ini dia tunggu dan cari, Panji!
Dagu Kirana sampai terjatuh, jantungnya meletup-letup, membuat darahnya mengalir kencang seolah baru dibuka kerannya, kedua bola matanya pun tak berkedip. Pria tinggi berjaket tebal, bercelana gombrang serta berambut gondrong sedikit melewati bahu, dan memakai topi kupluk hijau tua yang sedang berdiri di toko buku bekas itu ... Mungkin kah panci? Eh, Panji?!
Bisa iya. Bisa tidak.
Bentuk pahatan mukanya yang besar memang Panji, ukuran dan tinggi badannya juga sangat Panji. Tapi gayanya kok lebih mirip gelandangan?! Kalau itu Panji, dia tampak seperti pendaki gunung yang baru saja melakukan teleportasi untuk sampai ke sini. Orang stres pun barangkali tidak akan keluar rumah dengan pakaian serba tertutup begitu di cuaca panas musim kemarau begini. Warna kulitnya yang hanya bisa dinilai dari muka pun, terlihat lebih gelap alias kucel. Rambut gondrongnya juga walau hanya dilihat dari jauh, tampak kasar tidak terawat.
Dia sedikit memberikan kesan anak indie-senja-kopi yang cukup dihindari Kirana selama ini (habisnya mereka suka mengkritik selera musik Kirana yang lebih doyan mendengar lagu-lagu Ariana Grande atau Taylor Swift. Siap, deh yang selera musiknya paling berkualiti). Oh, Panji. Kirana meratap masih memandangi, matanya mulai berkaca-kaca. Kamu benar Panjiku? Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, bagai adegan di film India, Kirana berlari menuju tempat Panji berdiri.