Bab 1

Tuh cowok bener-bener bikin malu! Masa mengungkapkan cinta di tengah taman? Udah kayak badut aja dilihatin banyak orang. Belum lagi disorakin. Tahu bakal begini, ogah ikut sama dia.

“Andin! Tungguin Mas Al!!” Lenganku ditariknya saat kutinggalkan dia usai berkata, “Andin, nikah, yuk?!” Ajaknya dengan suara lantang.

“Cieeee ... Diajak nikah mah mau aja, Mbak!”

“Hajar, Mbak!”

“Semangat, Mas!”

Entah kata-kata apalagi yang terlontar dari sebagian pengunjung taman. Seketika wajahku memerah menahan malu.

“Kamu belum jawab ajakan Mas Al, Din?”

AWWW!!!

Kuinjak kakinya. Jengah lihat wajah memelas si Alex.

Cowok edan itu namanya Alexander Danuarta.

Semenjak viral salah satu sinetron tanah air, dia selalu memanggil namanya sendiri sebagai Mas Al. Sementara namaku, Andini. Biasa dipanggil Dini. Tapi sejak sinetron itu pula jadi sering dipanggil Andin. Sue!!

“Al-Al? Maksudmu Alhamdulillah???” Mulai sewot menghadapi bocah yang baru naik kelas 3 SMU itu!

Sambil memegang sebelah kakinya, ia meringis kesakitan.

“Mas Al serius ... ngajakin kamu nikah, Diiin ....”

“Jijik!!!” Kutinggalan lelaki berpostur tinggi 180 cm. Berjalan hingga pinggir jalan raya.

Memang menyebalkan! Sok-sok-an ngajakin nikah, duit buat jajan aja masih minta sama Mami Papinya.

“Din! Ya elah, tungguin napa! Jalannya cepet banget! Mas Al capek nih!”

“Bodo amat!” sungutku sambil terus berjalan.

Berdiri di sisi jalan, menunggu angkot lewat. Aku kira, dia ngajak ke taman cuma beli jagung bakar pesenan nenek. Ternyata ... malah teriak-teriak gak jelas.

“Andiiin ... Mas Al cinta kamuuuu!!”

Spontanlah para pengunjung taman menoleh ke arah kami. Aku yang mendapat perlakuan seperti itu benar-benar menahan malu.

Apalagi ketika dia mengajakku menikah terang-terangan. Bener kurang ajar tuh bocah!

“Pesenan jagung Nenek belum dibeliin, Din. Masa mau pulang aja?”

Malas meladeni lelaki yang sejak kecil sudah kukenal. Memilih menatap gemerlap bintang yang menghiasi malam.

Kami tumbuh besar bersama. Rumahku dan rumahnya berdekatan. Bedanya, dia terlahir dari keluarga terhormat dan kaya raya, rumahnya megah, di sisi jalan. Sedangkan aku dari seorang Ibu yang pulang dari Arab lalu hamil. Bapak yang hingga kini belum pernah aku temui. Wajahku memang mirip orang-orang Timur Tengah. Saat kecil, sering kali dibully kalau aku adalah hasil hubungan gelap Ibu dan majikannya sewaktu jadi TKW di Arab sana. Tapi hingga kini tidak jelas bagaimana asal usulku. Ibu sendiri meninggalkanku begitu saja saat aku baru berumur satu tahun. Menurut Nenek, ibu pergi ke Arab lagi. Entahlah. Hingga berumur sembilan belas tahun, tak pernah ibu kembali. Aku dibesarkan oleh Nenek. Yang rumahnya tepat di belakang rumah megah Alex. Rumah yang sangat sederhana.

“Au, ah!!” jawabku tetap jutek.

“Kamu tunggu di sini ya? Mas Al mau beli jagung bakar dulu. Oke?” Tak kutanggapi ocehan bocah ingusan yang berubah menjadi sok dewasa.

Angkot mana lagi? Padahal baru jam tujuh malam, tapi kok udah jarang yang lewat? Lupa gak bawa handphone . Tadi itu Nenek tumben banget nyuruh aku beliin Jagung bakar di taman ini cepat-cepat. Jadi lupa bawa tas. Cuma bawa uang dikantong saku celana. Minggu lalu memang Alex pernah membawakan jagung, Nenek ketagihan. Katanya Jagung bakarnya gak terlalu keras. Jadi Nenek mudah memakannya.

Tak berlangsung lama Alex datang menenteng tiga buah Jagung bakar.

“Ayok dah pulang! Motor Mas Al parkir di sana. Atau Andin mau tungguin di sini aja?” Aku tetap cemberut. Enggan menjawab.

“Jangan cemberut gitu dong ... nanti Mas Al khilaf langsung caplok gimana?” Spontan aku menoleh, melotot ke arahnya. Bukannya takut, dia malah memamerkan senyum.

“Oke-oke. Tunggu sebentar ya? Ini tolong pegang jagung bakarnya. Atut ketinggalan.”

Ya ampuuun ... berlebihan banget gayanya. Aku tak mengerti kenapa sejak dulu Alex selalu saja bersikap demikian? Sering kali mengakui aku adalah pacar atau calon istri ke hadapan teman-temannya. Dulu aku tidak terlalu peduli, aku anggap itu cuma keisengan Alex saja. Tapi tadi? Bener-bener gila! Gak waras! Bagaimana tidak gila? Tiba-tiba teriak saat kami baru tiba di bangku taman. Hadeuuhh...

“Ayok, naik, Beb!”

Nah sekarang apalagi? Beb? Ampun dah ah!

Kuambil helm dari tangannya, mengenakan lalu agak berjinjit naik ke atas motor.

“Pegangan, nanti mental lagi!”

PLETUKK!!

Kupukul helmnya, menyebalkan! mentang-mentang tinggi badanku cuma 150 cm. Seenaknya dia ngomong!

“Buru jalan!”

“Oke, Bebeb!”

Bruuumm ....

Tiba di depan rumah, Alex mematikan mesin motor. Aku turun, melepaskan helm, lalu menyerahkan padanya.

“Pergi sana!!”

Alex bergeming. Menatapku dengan tatapan sendu.

“Pergi kemana?”

“Ke rumah kamulah!”

“Rumah aku di situ, tapi hati aku di kamu.”

Najooooongg ... makin mual tingkahnya. Bodo amat, ah!

Aku tinggalkan Alex masuk ke dalam rumah sederhana. Usai menguruk salam, terlihat Nenek sedang menonton sinetron yang aku bicarakan di awal itu.

“Nej, ini jagung bakarnya,” ucapku sambil menghempaskan bokong ke kursi kayu.

Menit kemudian, wajah Alex menyembul dari balik pintu.

“Nenek ....”

“Masuk Nak Alex. Sini-sini duduk!” Nenek menepuk-nepuk kursi di sampingnya.

“Siap, Nenek calon mertua.” Katanya cengengesan. Idih amit-amit. Gayanya sok dewasa, padahal ...

Aku membuang muka, pura-pura nonton televisi.

“Sinetron aku udah mulai ya, Nek?”

Hah?? Apa katanya tadi? Sinetron aku? Ampuuun ... pedenya setinggi langit. Ya emang sih, wajah Alex tampan. Agak kebule-bulean gitu. Secara Papinya kan orang Inggris. Blasteran. Tapi ya enggak gitu juga kali.

“Udah dari tadi. Makin bagus akting kamu, Nak!”

Astaga! Nenek sama Alex sebelas dua belas. Udah bisa diajak kerja sama.

“Iya dong, Nek ... kan lawan mainnya Andin cucu Nenek.”

Au, ah! Mending masuk kamar, pusing dengerin omongan ngelantur dua manusia yang usianya terpaut sangat jauh itu.

“Andiiin ... Mas Al main malah ditinggal ke kamar. Temenin sini!”

Gustiii ... ada apa dengan Nenek? Kenapa jadi ikut-ikutan si Alex?

Aku membalikkan badan, menatap miris Nenek dan Alex yang memasang senyum.

“Dini mendadak mual, Nek ....”

“Bebeb, mual? Mual kenapa? Jangan-jangan ... kamu masuk angin.” Alex mulai sok perhatian. Dia mendekati, berdiri di sisi. Pandangannya mengarah pada perutku.

Aku menggeleng seraya tersenyum tipis. Kalau gak ada Nenek, udah aku unyel-unyel mukanya!

Sabar, Dini ... Sabaaarr ....

“Terus mual kenapa?” tanya Alex lagi. Wajahnya tampak cemas. Aku menarik napas panjang, memejamkan kedua mata lalu melotot sambil berucap, “Mual denger ocehan kamu, Alex!!!” hardikku meninggalkan Alex yang memegang dada karena terkejut mendengar bentakan. Jadi orang ngeselin! Udah bikin malu di muka umum! Awas aja kalau sampai diulangi lagi kejadian kayak tadi, aku bakalan ngejauhin! Dasar bocah ingusan!

Brukkhh!

Kubanting pintu dengan cukup keras.

“Andiiin ... Oh ... Andiiinnn ....”

Dari dalam kamar, samar-samar kudengar Alex memanggil tetapi aku enggan menjawab. Bodo amat!

Bab 2

Pagi hari, saat sedang menjemur pakaian di samping rumah, Alex datang kembali.

“Andiiin ... Mas Al datang ....” Melirik sekilas, memasang wajah cemberut.

Sengaja mengibaskan pakaian tepat di depan wajahnya.

“Haduh, Beb ... Muka ganteng Mas Al jadi kecepretan. Tapi gak apa-apa, ini namanya percikan cinta seorang Andin, calon istri Mas Al.”

Aku menggelengkan kepala, menarik napas panjang.

“Din, ini punya kamu ya?” Kedua mataku langsung membulat, melihat Alex mengangkat bra hitam. Kutarik paksa bra tersebut.

“Gak sopan kamu!!!”

Aku sembunyikan bra ke belakang punggung.

“Ya aku kan nanya. Kali aja punya Nenek.” Katanya sambil cengengesan.

Pasti nih orang mikir mesum.

“Pergi sana! Sekolah!!”

“Masih pagi. Satpamnya juga belum bangun. Pulang sekolah aku mau ke sini, supaya kalau gak bisa ngerjain tugas, bisa nanya sama kamu, Beb!”

“Beb? Bebek?”

“Bebeb, Sayang ....”

Idih! Ada-ada aja! Kutinggalkan Alex masuk ke dalam rumah. Tanpa disuruh, Alex duduk di atas bale depan rumah.

Nenek yang sedang membuat kue kering di dapur untuk dijual, bertanya, “Kedengarannya ada suara Alex, Din.”

“Iya, tuh ada, Nek! Di depan!” setelah menyimpan ember ke kamar mandi, aku duduk di bangku kecil membantu Nenek membuat kue.

“Nak Alex itu baik banget selama ini, Din. Kamu gak boleh judes gitu. Nenek malah berharap kalian berjodoh.”

Aku membelalakkan kedua mata. Tidak menduga Nenek berkata demikian. Seketika tawaku pecah.

“Kamu kenapa ketawa? Nenek memang selalu berdoa supaya kalian berjodoh.”

Menghentikkan tawa, tanpa menatap Nenek aku berucap.

“Nek ... jangan lupa, Alex itu orang tuanya terpandang, terhormat. Kaya raya. Lah kita? Apalagi Dini. Punya Bapak tapi gak pernah lihat. Namanya aja gak tau. Punya Ibu, cuma tau namanya aja. Ketemu belum pernah!” cetusku diakhiri dengan kekehan padahal hati sangat sedih.

Sedari dulu aku tidak mau terbuai oleh sikap baik Alex. Memang semenjak kecil, Alex selalu menolong ketika teman-teman membully, mengataiku anak haram atau anak Arab nyasar. Tapi aku sadar diri, kalau aku dan Alex bagai bumi dan langit. Terlalu banyak perbedaan jika harus disatukan.

Kulihat Nenek menyeka air mata. Pipi keriputnya basah oleh lelehan air mata. Aku mendesah. Memegang telapak tangan Nenek.

“Nek, maaf. Kalau bicara Dini menyinggung hati Nenek. Dini cuma gak mau, Nenek berharap yang tidak mungkin.” Nenek mendongak, menatapku dengan air mata yang masih bergulir.

“Alex sayang kamu, Din. Alex laki-laki yang baik buat kamu. Firasat Nenek, kalian akan berjodoh. Nenek yakin.”

Entahlah, aku tak dapat menjawab lagi. Nenek tipikal orang yang tidak bisa dibantah soal firasatnya.

Aku selalu ingat cerita Nenek soal Ibu yang digosipkan meninggal di tanah Arab. Tapi Nenek punya firasat kalau Ibu masih hidup dan akan pulang. Benar saja, setahun setelah kabar kematian ibu berhembus, ibu pulang. Walaupun kepulangannya dengan keadaan berbadan dua.

“Nek, bikin kue apa?”

Tiba-tiba tanpa aku sadari Alex datang ke dapur. Nenek memalingkan wajah, menyeka bekas air mata di pipinya.

“Kue ... Kue ... kayak biasalah.” Sengaja aku yang menjawab. Alex berjongkok, memiringkan kepala menatap Nenek.

“Nenek nangis?” tanya Alex dengan nada cemas. Nenek tetap merunduk, merapikan kue yang siap dijemur. Kue Rengginang. Alex memandangku, meminta jawaban

“Din, Nenek nangis kenapa?”

“Mau tahu aja!” sahutku sambil mengangkat kue keluar rumah untuk dijemur. Nenek masuk kamar. Alex membuntutiku. Ia mengambil alih wadah tampah yang akan dijemur ke atas genteng. Karena aku tidak mungkin bisa menyimpan wadah itu ke sana. Hanya berjinjit, Alex sudah menyimpan wadah tersebut.

Aku melengos berjalan ke depan rumah. Duduk di atas bale. Di samping laptop milik Alex.

“Andin, Nenek kenapa nangis?”

“Bukan urusan kamu!”

“Jangan gitulah, Beb ... Nenek kan calon mertua aku. Nenek sedih, aku juga ikut sedih.” Aku merunduk, memerhatikan kedua kaki yang terayun-ayun.

“Beb ....”

“Alex ....”

“Iya, Beb?”

“Jangan panggil aku dengan sebutan aneh-aneh.” Alex membetulkan tempat duduknya. Lebih menghadapku.

“Aneh-aneh gimana?”

“Ya itu, panggil aku Andin, Beb, Sayang, bikin malu tahu!”

Alex menarik napas panjang.

“Andin itu panggilan kesayanganku buat kamu. Bebeb artinya sayang. Kan emang aku sayang kamu, Din. Masa panggilan kayak gitu dibilang aneh??”

“Tapi aku gak suka. Bikin malu.”

“Apa karena itu, Nenek nangis?” Tersenyum geli, melihat ekspresi Alex yang berubah cemas. Aku tersenyum menggelengkan kepala.

“Bukan. Eh, kamu udah belum ngerjain tugasnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Alex tidak boleh tahu soal pembicaraanku dengan Nenek.

“Udah. Udah selesai semua.”

Aku manggut-manggut. Menatap lurus ke depan. Dari ekor mata, aku bisa melihat kalau Alex masih menatapku.

“Andin, aku tahu ada yang kamu sembunyiin. Ceritalah! Selama ini kan kamu selalu cerita banyak hal ke aku.” Aku mendesah panjang.

Memang betul, di lingkungan ini teman dekatku hanya Alex. Teman-teman sebaya kebanyakan seperti enggan bergaul denganku. Mungkin karena akunya aja yang lebih sering menghabisi waktu di rumah atau membantu Nenek mengantarkan pesanan kue ke warung-warung maupun ke rumah pelanggan.

“Lusa aku mulai kerja di mini market,”kataku dengan senyum mengembang. Tapi raut wajah Alex seperti tak senang. Tidak ada senyuman yang menghiasi bibirnya.

“Kenapa?? Kamu gak senang aku dapet kerja?” Alex menarik napas panjang, mengembuskannya.

“Bukan gak senang. Tapi aku maunya, kamu kuliah. Prestasi kamu kan bagus. Bisa ambil jalur beasiswa. Sayang kalau gak kuliah.”

Sesaat aku terdiam.

Siapa yang tidak mau kuliah? Aku pun ingin. Memang biaya perkuliahan ditanggung, tapi biaya hidup? Aku tidak mau merepotkan Nenek. Kalau aku kerja, setidaknya Nenek bisa istirahat, tidak harus berjualan tiap hari. Kuliah sambil kerja, itu lebih menyita waktuku membantu Nenek. Serba salah.

“Insya Allah suatu saat nanti, aku bakal kuliah. Sekarang kerja dulu, mau nabung buat bekal kuliah, buat kebutuhan sehari-hari aku sama Nenek.”

Alex menggeser duduknya. Lebih mendekat padaku. Bahu kami agak bersentuhan.

“Makanya, Din ... terima lamaran Mas Al. Kita nikah aja yuk?!” Ajaknya seraya mengerlingkan sebelah mata

BUUGGGHHH!!

Kupukul bahunya dengan keras.

“Aduhhh!!!”

“Nikah-nikah! Sekolah yang bener!!” Udah kumat lagi penyakit ngebet nikahnya. Heran dah, masih sekolah udah kepikiran pengen nikah mulu. Dia pikir menjalani rumah tangga gampang apa?

“Aku tetap sekolah, kamu juga bisa kuliah, tapi kita nikah.”

Ya Tuhan ... bener-bener anak satu ini.

“Kalau kamu masih sekolah, aku kuliah, terus kita udah nikah, yang ngasih nafkah lahirnya siapa? Mami Papi kamu?? Ogah!!”

Aku memalingkan muka. Memandang arah lain. Memerhatikan induk Ayam dan anak-anaknya yang sedang mencari makan.

“Aku! Mas Al yang akan menafkahi lahir buat kamu, Din. Apalagi nafkah bathin, beuuuh ... Mas Al udah hafal banget gerak-gerakannya. Tinggal dipraktekin. Gimana, mau gak?”

Bicara apa ... anak satu ini? Pikirannya udah makin kacau.

“Cara dapetin nafkah lahirnya gimana?” tanyaku ingin tahu apa jawaban yang akan dilontarkan Alex. Palingan minta sama Papi Mami.

“Kerja di kantor Papi.”

Nah kan, enteng banget ngejawabnya. Sama aja kalau gitu, sama-sama uang dari Papinya. Aku memutar bola mata malas.

“Gimana? Mau kan nikah sama Mas Al?”

“OGAH!!!”

Bab 3

Ternyata kerja di tempat ini perlu ketelitian. Tidak boleh ada barang yang hilang. Meski ada rasa takut dibully, aku harus tetap semangat. Aku bersyukur beberapa jam teman-temannya tidak ada yang usil atau mengejek.

“Andini udah siang, kamu makan dulu gih!” ujar Mbak Ria mendekatiku di meja kasir.

Mbak Ria senior di sini, berambut cantik dan berkulit putih.

“Memangnya gak apa-apa, Mbak?” tanyaku hati-hati. Takut salah dengar atau salah ucap. Mbak Ria menoleh sekilas sambil tersenyum.

“Gak apa-apa. Cepetan kalau mau makan. Cuma dikasih waktu setengah jam buat makan dan salat.”

Setengah jam? Gak bakal keburu kalau pulang ke rumah dulu. Mau gak mau, makan di sini.

“Iya, Mbak.”

Aku masuk ke ruangan belakang. Di sana ada toilet dan ruangan kecil. Ruangan kecil memang disengaja untuk salat bagi yang muslim. Ada satu sajadah terhampar dan sepasang mukena yang tergantung.

Usai Wudhu, aku langsung menyambar mukena, kemudian salat.

Setelah melaksanakan kewajiban, keluar mau cari makan.

“Din! Andin!” Menoleh, mendengar suara yang gak asing di telinga. Ternyata benar, ada Alex yang sedang nongkrong bersama dua pemuda yang kerjaannya jaga parkir Minimarket.

“Ngapain kamu ada di sini?”

“Nungguin kamu. Makan yuk! Aku laper nih!” Alex langsung menggenggam telapak tanganku, berjalan ke arah warteg yang terletak di seberang mini market.

“Lex, kamu jangan makan di sini. Nanti Mami marah,” cetusku saat duduk di bangku panjang.

“Mami masih di luar negeri. Pesan sana. Sekalian buat aku. Samain aja lauk pauknya sama kamu.” Aku pun langsung memesan beberapa aneka lauk pauk khusus buat Alex. Lauk pauk yang tidak sama.

“Sekolah gak tadi?”

“Sekolah. Don’t worry, Beb,” sahutnya mengerlingkan sebelah mata. Kumat lagi genitnya!

Dua piring nasi dengan lauk pauk berbeda sudah tersaji di depan mata. Aku memesan nasi, goreng tempe dua, dan sambal. Sementara Alex, goreng tempe dua, goreng Ayam, dan sayur lodeh. Ia melirik piringku.

“Mbak, Mbak!”

“Iya, Mas?”

“Ayam gorengnya satu lagi ya?” Menoleh, melihat Alex memesan satu lauk pauk lagi.

“Ini, Mas.” Penjaga warteg menyodorkan sepotong ayam goreng.

“Taro di atas piring pacar saya, Mbak.”

Pacar? Nih anak bener-bener dah! Bikin malu! Masa iya, aku yang sudah karyawan pacaran sama anak yang masih pake seragam SMA.

SMAh, iya.” Si Mbak menyimpan sepotong ayam goreng ke atas piringku.

“Alex?”

“Makan. Habisin!” titahnya tanpa menatapku.

Aku menurut, menyantap makan siang dengan nikmat. Melirik Alex, ia tampak biasa makan tanpa menggunakan sendok.

***

“Aku kerja dulu.”

“Iya, Beb. Cium tangan dulu.” Alex membentangkan telapak tangan kanannya di depanku.

“Apaan sih?”

“Cium. Aku kan calon suami kamu.”

“Ogah. Kamu pulang, gih!”

Alex menurunkan telapak tangannya yang menggantung di udara. Ada-ada aja, belum nikah masa cium tangan gitu?

“Pulangnya bareng kamu.” Aku menghela napas melihat tingkahnya. Kalau dipaksa pulang, dia pasti tidak menurut. Biarin aja dah. Tanpa menanggapi ucapannya, aku meninggalkan Alex yang masih berdiri terpaku.

Kuakui, selama ini aku selalu merasa nyaman dan bahagia jika bersama. Merasa terlindungi. Tapi kalau diibilang cinta, kayaknya enggak. Aku tidak pantas untuknya. Terlalu banyak perbedaan diantara kami. Alex hanya sahabatku. Sahabat!

Jam sepuluh malam waktunya pulang. Alex masih menunggu di luar pojok mini market. Para pemuda yang biasa jaga parkir sudah tidak ada. Aku berjalan ke arahnya. Tersenyum melihat Alex masih di sini.

“Ayok, pulang!”

“Siap.”

Alex menyerahkan helm, keningku mengkerut.

“Lex, rumah kita gak jauh dari sini. Gak perlulah pake helm.” Alex menoleh, menumpu tangannya di atas helm.

“Kita cari makan dulu. Sekalian beliin buat Nenek.”

“Aku gak ada uang.”

“Aku ada! Cepetan naik!” Agak berjinjit, naik ke atas motor Ninja milik sahabatku itu.

“Pegangan!”

“Iya.” Kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Motor pun melaju membelah jalan raya.

Semilir angin membuat tubuhku agak kedinginan. Kueratkan pelukan pada tubuh Alex. Tiba-tiba motor melaju pelan, lalu berhenti di sisi jalan. Alex membalikkan badan.

“Kamu kedinginan?”

“Kita mau kemana sih?”

“Kalau ditanya jawab dulu. Pake nih jaket.” Alex melepaskan jaketnya. Memberikan padaku. Ragu, mengambil jaket dari tangan Alex. Cepat-cepat ia melingkarkan jaket ke tubuhku, kutepis tangannya yang mau membantu mengenakan jaket itu.

“Aku bisa sendiri.”

Lelaki di hadapanku membalikkan badannya lagi. Setelah kedua tanganku melingkari pinggangnya, Alex melajukan motor kembali.

Kendaraan beroda dua yang kami tumpangi berhenti di salah satu Cafe. Usai melepaskan helm, Alex menuntunku masuk ke dalam cafe tersebut.

“Mau nasi goreng?” tanyanya, begitu kami sudah duduk.

“Mau.”

“Aku pesanin dulu. Sekalian dibungkus buat Nenek.”

Hanya mengangguk sebagai jawaban dari usulan Alex.

Malam ini kami menyantap nasi goreng diiringi musik dari penyanyi Cafe.

“Gimana tadi kerjanya?” Alex bertanya sambil mengunyah nasi goreng.

“Lancar.”

“Ada yang ngejekin?”

Aku menggeleng, “Enggak!”

“Jahat?”

“Enggak.”

“Jahil?”

“Enggak juga.”

“Syukurlah. Mulai besok aku anter kamu ke sana. Jangan jalan kaki.”

Aku tak menanggapi. Tetap fokus makan nasi goreng. Dua gelas Jus Mangga datang. Aku menyeruputnya hingga setengah.

“Lex l, aku mau tanya. Tapi kamu jawab jujur.” Alex mendongak, menatapku lekat.

“Emang selama ini aku suka bohong?”

“Enggak sih!” sahutku menyandarkan punggung ke kursi.

“Mau tanya apa?” Menghela napas. Mengingat kembali ucapan Mbak Ria yang menyuruhku berdandan.

“Aku jelek ya?” tanyaku merunduk.

“Cantik.”

Aku mendongak, memberanikan menatapnya.

“Aku serius, Lex ....”

“Aku juga serius, Andini ... kenapa nanya gitu? Ada yang ngejek? Ada yang bilang kamu jelek?” Alex mulai introgasi.

“Bukan. Tadi Mbak Ria, nyuruh aku pake make-up. Katanya supaya menarik, supaya enak dilihat.” Lelaki di hadapanku terkekeh. Menyeruput jus Mangga.

“Bukan kamu gak cantik, Din. Itu emang ketentuannya. Coba deh kamu ingat-ingat. Para penjaga kasir Minimarket itu memang pada pake make up. Ya udah, sebelum pulang kita beli kosmetik dulu. Kita cari toko kosmetik yang masih buka.”

“Tapi, Lex ....”

“Aku yang beliin.”

Kalau sudah begini, aku tidak bisa menolak.

***

Tiba di rumah, pukul setengah sebelas malam. Menguruk salam, Nenek membuka pintu. Aku menenteng satu plastik kecil yang berisi alat-alat make up.

“Nenek belum tidur?” tanyaku setelah mencium punggung tangannya.

“Belum. Nak Alex jemput Dini?” tanya Nenek begitu melihat Alex berdiri di belakangku.

“Bukan cuma jemput, Nek. Alex seharian nunggu Dini. Gak ada kerjaan dia!” selorohku masuk ke dalam rumah lebih dulu. Alex mengekor.

“Adalah, Beb. Itu sih nungguin kamu. Nek, Alex bawain nasi goreng buat Nenek. Nih! Dijamin enak!”

“Oalaaah ... baik bener Nak Alex. Makasih ya,” ujar Nenek memegang pipi kanan Alex.

“Sama-sama Nenek calon mertua.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED