Bab 2

Terdengar suara pintu terbuka, menampakkan seorang siswa yang berjalan masuk ke dalam ruangan.

“ Pak guru memanggil saya, ada masalah apa?” ucap seorang siswa dengan rambut terkucir seraya tersenyum angkuh.

Dia Sean, Seandra Atma Buana. Anak dari donatur terbesar di SHS. Sean merupakan murid Badung yang senang melanggar aturan, angkuh, dan bersikap semaunya. Meskipun begitu, ia memiliki paras yang tampan dengan mata tajam, hidung seperti orang arab, berahang tegas, memiliki bentuk bibir seperti Jackson GOT7, dan selalu identik dengan rambut sebatas leher yang sering terikat.

“ Mira mengambil videomu yang sedang mengerjai Ail di Gudang. Jangan terlalu kasar saat mengerjai teman-temanmu. Orang lain bisa salah paham.” ucap sang guru membuat Mira menatap sinis Sean.

“ Saya minta maaf, pak guru. Tadi itu saya cuma main-main saja. Saya tidak sadar seseorang akan terganggu.” sindir Sean menatap Mira dengan simrik andalannya.

“ Lihat, kan? Mereka hanya main-main. Akhir-akhir ini anak-anak mengambil kesempatan untuk mengekspos orang lain. Belajarlah untuk melihat sesuatu dari semua sisi terlebi dahulu. Mengerti?” ucap sang guru penuh penekanan seraya menatap tajam Mira. Mira mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.

“ Tolong, jangan marah padanya. Dia hanya salah memahami situasi. Kamu tidak hanya memiliki penampilan yang baik tapi juga hati yang baik.” sahut Sean melirik Mira yang membuang muka.

“ Tapi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebagai guru wali kelas kalian, saya harus memperbaiki situasi. Mira, hapus klip video itu.”

“ Hah?” Mira menggebrak meja, ia tak habis pikir, benar kata orang uang bisa membeli sebuah kebenaran. Sean tersenyum penuh kemenangan.

“ Jika video itu keluar di publik, orang-orang mungkin salah paham juga. Dan sekolah kita juga bisa tercoreng. Hapus sekaligus.” Mira bimbang, ia tak terima. “ Hapus sekarang juga atau saya kurangi nilai kamu.” ucap sang guru dengan penuh penekanan. Dengan berat hati, Mira menghapus video tersebut. Ia menatap datar sang guru dan Sean secara bergantian.

“ Bagus. Hilangkan dari pikiranmu seolah itu tidak pernah terjadi. Sekarang, saling berjabat tangan. Jadilah dewasa. Ini hanya salah paham. Jadi sekarang, berbaikan.”

“ Baik. ” ucap Sean menyodorkan tangannya. Dengan ogah-ogahan Mira menerima jabat tangan itu. Ia kemudian berlalu pergi begitu saja, disusul oleh Sean.

“ Yang benar saja. Kenapa Lo laporin gue? Lo sangat ingin jadi pahlawan kesiangan, ya?” Sean mencekal tangan Mira.

Mira menghempaskan tangan Sean, kemudian mendongak seraya menatap benci Sean . “ Mau jadi pahlawanku, nggak?” ejek Mira tersenyum remeh.

Bruk

Sean mendorong tubuh Mira ke tembok, ia mencengkram dagu Mira. “ Lo pikir, menjadi siswa terbaik membuat Lo bisa melakukan apapun yang Lo mau? Cangkam ini. Beasiswa yang Lo terima adalah uang yang dibayarkan bokap gue ke sekolah ini.” ucap Sean emosi.

Mira hanya menatap remeh Sean, tak ada raut ketakutan yang terlihat. Melihat tak ada perlawanan dari Mira, Sean melepaskan cengkeramannya.

“ Maaf. Gue mungkin agak pemarah di sini. Berhubung kita teman sekelas. Gue akan mengabaikan Lo. Tapi dengan satu syarat. Bersujud di kaki Gue.” printah Sean. Mira merendahkan tubuhnya, membuat Sean tersenyum kemenangan.

Cuih

“ Apa yang kau lakukan bajingan?!” triak Sean emosi saat Mira meludahi sepatunya. Mira hanya menghedikan bahunya acuh seraya tersenyum remeh, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Sean yang emosi.

. . . . .

Saat ini, Mira Cs sedang berada di dalam UKS. Ail meringis ngilu saat Keyla dan Mira mengobati luka-luka di wajahnya. Dengan sengaja Keyla menekan luka Ail lantaran kesal dengan Ail Karna tidak melawan sedikitpun saat ditindas.

“ Kau ini ya. Memperingatkan kami agar nggak berurusan dengan mereka. Malah kau yang menawarkan bantuan mengerjakan makalah mereka.” omel Keyla pada Ail.

Ail meringis ngilu, karna luka disudut bibirnya. “ Aku kan ingin uang untuk bayar tiket konser. ” bela Ail. “ Aku nggak nyangka bakalan jadi sejauh ini. Mira, aku minta maaf ya karena menyeretmu ke dalam masalahku ini.” sesal Ail.

“ Nggak apa-apa. Aku juga benci banget pada mereka kok. ” geram Mira mengingat perlakuan Sean and geng selama ini.

“ Terus sekarang gimana? Kita gebukin aja mereka? ” ujar Keyla bersimrik.

Ail melotot pada Keyla. “ Hei. Kau nggak lihat ya betapa inginnya guru menjilat mereka? Kalau kau melawan mereka, hampir bisa dipastikan kau akan dikeluarkan. Aku cuma perlu memperbaiki makalah mereka dan mengakhiri masalah ini.” terang Ail memberi peringatan.

Keyla hanya mendengus jengkel seraya kembali mengobati luka Ail.

“ Lebih pelan dikit dong Key! Klo nggak niat , sini.” dengus Ail kesal. Sedangkan Mira terdiam dengan raut wajah yang sulit diartikan.

. . . . .

Ruang seni

Nampak seorang gadis berambut sebahu sedang fokus pada karya lukisannya. Dia Syifa Nada Aurora, primadonanya SHS. Berwajah cantik dengan bulu mata lentik, bibir tipis dan berambut ash brown. Syifa menaruh alat lukisnya pada tempat yang tersedia, ia menatap heran pada siswa-siswa yang mengintip di jendela. Ia menghedikan bahunya acuh, senyuman mengembang saat melihat Sean datang menghampirinya.

“ Lapar, nih. Mau makan enggak?” tawar Sean begitu tiba di hadapan Syifa.

“ Boleh. Kalau kamu yang bayarin.”

Sean menjawil hidung Syifa, membuat Syifa terkekeh kecil. “ Kenapa putri seorang pemilik rumah sakit butuh aku untuk bayarin makan?” goda Sean.

“ Bukannya putra seorang CEO punya uang untuk bayarin makan ya?” ucap Syifa balik seraya bersidekap dada.

“ Yaudah. Tempat biasanya?” Syifa mengangguk setuju.

Tap

Tap

Tap

“ Ciyeee Ciyeee. Kenapa kalian berdua bertingkah begitu manis di depan umum? Nggak heran sih siswa-siswi di sini memasangkan kalian berdua.” ucap pemuda berambut pirang _Damian Anggara, yang baru menyusul Sean ke ruang musik.

“ Kenapa kalian belum resmi juga?” heran Kevin Alexander.

“ Lihat aja Nona Muda ini.” tunjuk Sean pada Syifa. “ Dia cuma peduli pada melukis dan nggak peduli pada yang lain. Suaminya pasti dibuat gila tiap hari.” sindir Sean tersenyum mengejek.

Syifa menatap tajam Sean.“ Itu namanya fokus, Sean.” kesal Syifa.

“ Berantemnya manis banget sih. Gue nggak bisa nggak ikutan nge'ship' dan meleyot juga.” ucap Damian dramatis, membuat Syifa terkekeh kecil.

“ Oh ya, kalian mau kemana? Kami boleh gabung?” tanya Kevin.

“ Sorry. I have something for you guys do.”

Damian dan Kevin saling pandang, kemudian mendekat pada Sean. “ Soal Mira.” bisik Sean membuat keduanya paham.

. . . . .

Mira berjalan melewati lorong-lorong kelas. Banya siswa-siswi yang berlalu lalang di sekitarnya. Melihat kedatangan Mira mereka berbisik-bisik. Ada apa sih? Itu yang terlintas di benak Mira.

Byurr

“ Sial.” tanpa diduga, seember air jatuh dari lantai atas ke arahnya. Beruntung Mira berhasil menghindar. Mira mendongak menatap ke atas. “ siapa itu?” teriaknya. Tak ada sahutan, Mira memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kelas.

Setibanya di kelas

“ Apa-apaan? Mereka menyiramkan air padamu dari ketinggian? Brengsek. Kedengarannya seperti adegan bully dari drama Jepang. ”geram Keyla saat mendengar kejadian yang menimpa Mira.

“ Bisa aja itu cuma kecelakaan. Lupain. ” Mira mendudukkan pantatnya pada kursi tempat duduknya.

Bruk

“ Sial. ” Mira terjatuh dari kursinya. Bagaimana tidak, jika salah satu kaki kursi tersebut telah dimodifikasi agar Mira terjatuh.

Ail dan Keyla segera membantu Mira untuk berdiri. “ Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?” tanya Keyla dan Ail khawatir.

“ Aku baik-baik saja. ” ucap Mira tersenyum tipis seraya menahan sakit di pinggangnya.

“ Siapa yang melakukannya?” triak Keyla tak terima.

“ Tunggu. Ke man perginya tas dan lembar makalahku?” ujar Mira panik menyadari tas dan makalah miliknya menghilang.

Mira menatap ke pojok kelas, ia melihat tas dan lembar makalahnya tercecer dilantai. “Brengsek! Apa-apaan ini? Emangnya mereka harus berbuat sejauh ini ya?” geram Mira mengambil tas dan juga lembar makalahnya yang sudah terpotong-potong.

Keyla menatap Sean Cs yang baru masuk ke dalam kelas. “ Eh Bangsat! Apa yang sudah kau lakukan pada temanku?” triak Keyla emosi mencengkram kerah baju Sean .

“ Memangnya gue berbuat apa?” Sean melepaskan cengkraman Kelya dari kerah bajunya.

“ Jangan sok polos. Kau mematahkan kaki kursi temanku. Tas dan lembaran makalah temanku digunting dan dirobek. Kalau mau melakukan perbuatan bajingan, lakukan secara terbuka. Jangan lakukan di belakang, pecundang.” emosi Keyla bertambah saat melihat wajah Sean yang kelewat santai.

“ Kau punya bukti? Tempat ini seperti hutan. Kalau nggak tangguh, Lo nggak akan bertahan hidup. Belajarlah menerimanya.”

BERSAMBUNG...

Bab 3

Kantin

Bel istirahat telah berbunyi 3 menit yang lalu. Mira Cs saat ini sedang duduk di salah satu meja yang berada di pojok kantin. Mira fokus mengetik makalah di komputer, Ail yang membantu menulis di lembar kertas, dan Keyla yang memakan bakso seraya memperhatikan Mira.

“ Mira, makan sesuatu dulu.” ujar Keyla jengah pada Mira yang sedang berkencan dengan komputer.

“ Nggak bisa. Makalahnya Pak Awan harus dikumpulkan sore ini. Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin. Si Bajingan Sean itu menggunting setiap halaman makalahku.” sahut Mira sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari komputer.

“ Kalau gitu, aku bantuin deh.”ucap Ail mengambil lembar kertas kosong, dan mulai mencatat bahan makalah Mira .

Keyla memutar bola matanya malas. “ Dasar kalian ini ya. Nih makan nih.” Keyla menyodorkan sesendok bakso yang sudah terpotong pada Mira, dan Mira menerimanya dengan baik.

“ Hei. Suapi aku juga dong.”

“ Kau makan sendiri lah.” Keyla menatap sinis Ail.

“ Aku bantuin dia nulis ini lho. Kau nggak lihat ya?” Keyla mendengus kesal, tak ayal ia juga menyuapi Ail.

Brak

Suara meja digebrak oleh Sean, membuat seisi kantin terlonjak kaget. Keyla mendongak menatap Sean Cs. “ Apa lagi ini?” dengusnya.

“ Kami ingin duduk di sini. Pergi.” ujar Sean datar.

“ Di meja ini, memangnya ada nama ayahmu?” ketus Keyla. Sean bersimrik, ia menunjuk bagian sisi meja. Dengan perlahan Ail mengintip sisi meja.

[Disponsori oleh Jevan Buana], itu yang tertulis di sisi meja. Ail menepuk lengan Keyla. “ Di meja ini memang ada nama ayahnya. ” ucap Ail pelan, membuat Sean tersenyum angkuh.

“ Ada banyak kursi kosong. Tinggal pilih.” keukeh Keyla tak mau menerima kekalahan.

Kevin mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Keyla, kemudian berbisik. “ Tapi kami ingin duduk di sini. Ada masalah?”

Keyla mendorong bahu Kevin. “ Ada. Sudah lama aku ingin memukul wajah bocah bajingan manja sepertimu, bangsat!” emosi Keyla, ia tangannya terangkat ingin memukul Kevin, namun Mira mencegahnya.

“ Hentikan. Ayo pergi dari sini. Aku harus menyelesaikan ini. Jangan buang-buang waktu.” ucap Mira datar. Keyla memandang penuh permusuhan pada Sean Cs. Mereka kemudian pergi ke meja kosong yang lain.

. . . .

Bel pulang telah berbunyi, para siswa siswi berbondong-bondong menuju parkiran. Berbeda dengan Mira, Ail dan Keyla yang memutuskan untuk menunggu bus di halte depan sekolah.

“ Aku nggak bisa duduk nyaman tanpa khawatir sepanjang hari, njirr. Aku takut mereka akan menyerang kita lagi. ” dumel Ail mengingat perlakuan Sean Cs selama ini pada mereka. Mau melawan pun, kuasa mereka nggak akan cukup. Kasta selalu merubah segalanya.

Tin

Tin

Itu suara klakson mobil yang lewat di hadapan mereka. Seorang yang berada di dalam mobil melambaikan tangannya dengan mobil yang terus melaju membelah jalanan.

“ Dia kan belum 18 tahun kok bisa naik mobil?” heran Keyla. Bukankah untuk mengendarai mobil ataupun motor itu dilegalkan nya pada umur 18 tahun? Itulah yang Kelya pikirkan.

Mereka menatap mobil Sean yang mulai mengecil. “ Ayahnya punya koneksi besar. Aku bahkan gak akan kaget kalau melihat dia menerbangkan helikopter. ” Mira berujar malas.

“ Yang benar saja, apa kita harus bertahan dengan ini sampai kita meninggalkan sekolah? Apa sebaiknya Aku punya asuransi jiwa sekarang ya? ” dumel Ail protes, mengingat kehidupan sekolahnya pasti nggak akan baik-baik aja setelah ini.

Mira terkekeh geli. “ Nggak perlu lah. Kalau kita nggak ganggu mereka , mereka akan segera bosan dengan kita.” ujar mira yakin.

“Gitu ya?”

Mira menganggukkan kepalanya setuju. “Aku harus pergi kerja paruh waktu sekarang. Sampai jumpa lagi. ” Mira melambaikan tangannya kemudian naik ke dalam bus tujuannya.

“ Sampai nanti.” Ail dan Kelya melambaikan tangannya pada Mira. Meraka lanjut menunggu bus tujuan mereka tiba.

. . . . .

Ditempat Mira bekerja paruh, terlihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Mira. Mira mengerutkan dahinya, sesaat kemudian ia memutar bola matanya malas saat seorang pemuda keluar dari mobil mewah tersebut.

“ Lihat siapa di sini. Teman sekelas gue, Mira.” ujar Sean bersimrik.

Mira memandang datar Sean. “ Apa maumu?” ketus Mira.

“ Perhatikan ucapan Lo. Gue seorang pelanggan, gue ingin mobil gue dicuci. Mau Lo layani... atau gue harus komplain pada pemiliknya soal Lo yang menolak mencuci mobil pelanggan?” ujar Sean melemparkan kunci mobilnya di lantai tepat di hadapan Mira.

Mira menatap muak Sean yang bertingkah semaunya. Dengan malas ia membungkuk untuk mengambil kunci mobil tersebut. Melihat itu Sean tersenyum puas dengan bersidekap dada.

Sean berjalan menghampiri Mira dan kemudian merangkul bahu Mira. “ Lo ngat ini. Ditempat ini, ada dua tipe orang. Tipe pertama adalah pemilik mobil seperti Gue, dan tipe kedua adalah pencuci mobil seperti lo.” Sean tersenyum licik setelah memasukkan sesuatu ke dalam saku baju Mira. Sean menepuk bahu Mira.

“ Urus mobilku, Nona pencuci mobil.”Sean berlalu pergi. Meninggalkan Mira yang mendengus kesal dibuatnya.

45 Menit kemudian...

Sean berjalan menghampiri Mira yang sedang mengelap spion mobilnya. “ Hasil cucian Lo bersih. Kalau gue jadi Lo, gue akan bolos sekolah. ” ucap Sean terselip nada mengejek.

Mira memutar bola matanya malas. “ Sudah selesai. Saya permisi, Tuan pelanggan. ” Mira berjalan pergi meninggalkan Sean.

“ Tunggu.” dengan malas Mira membalikkan badannya seraya menatap datar Sean yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.

Sean berjalan ke sisi mobil, kemudian berjalan menghampiri Mira. “ Dimana kartu kredit yang gue tinggalkan di mobil gue?” ucap Sean penuh penekanan.

“ Aku tidak mengambilnya.”

“ Kalau bukan Lo yang ambil, lalu siapa lagi?” ucap Sean terus memojokkan Mira dengan tuduhannya.

“ Aku tidak mengambilnya. Kenapa nggak kau cari lagi?” kesal Mira menatap Sean penuh , permusuhan.

Enak aja menuduhnya yang bukan bukan. Prinsip Mira, selagi dia masih sehat wal'afiat dan masih mampu bekerja, jangan berpikir untuk mengemis apalagi mencuri. Semiskin-miskinnya dia, dia nggak akan mencari uang dengan cara yang kotor dan haram, lebih baik ia mati kelaparan daripada menanggung karma di kemudian hari.

“ Permisi, Tuan. Apakah ada masalah disini?” tanya seorang pemuda, pemilik tempat pencucian kendaraan tempat Mira bekerja. Namanya Toni.

“ Saya meninggalkan kartu kredit saya di mobil, kak. Lalu saya mencuci mobil disini. Saat saya ingin mengambil mobil, kartu kredit itu tidak ada lagi di sana. Entah pegawai kakak ini mengambilnya atau tidak.” terang Sean menyudutkan Mira.

Pemilik tempat itu (Toni) hanya bisa meringis kecil, dan kemudian ia menatap Mira seolah bertanya 'apa kamu benar mengambilnya?' . Mira menggeleng, ia sangat yakin tidak mengambil kartu kredit milik Sean. Ini pasti sudah direncanakan oleh Sean, Sean itu sangat licik, pikir Mira.

“ Saya benar-benar tidak mengambilnya, kak. Kakak bisa mengejek CCTV. ” ucap Mira memberi pembelaan pada dirinya sendiri.

“ Kamera CCTV hanya merekam bagian luar. Tapi tidak bisa melihat apa yang Lo lakukan didalam mobil. Nggak ada CCTV di dalam mobil. Pikir pakai kepala Lo. ” sarkas Sean tak mau kalah.

“ Ijinkan saya mengurus ini, Tuan. Tolong tunggu sebentar. ” ucap Toni. Toni kemudian memanggil seorang pegawai wanita dan menyuruhnya untuk memeriksa Mira.

Melihat Mira yang hanya pasrah saat di periksa, Sean tersenyum miring. Rencana untuk merusak citra Mira sebentar lagi akan terselesaikan, ia memang sengaja memasukkan kartu kreditnya pada saat merangkul Mira saat awal tiba disini tadi.

“ Tuan, tidak ada barang apapun.” ucap pegawai itu setelah selesai memeriksa Mira. Toni mengangguk, kemudian tersenyum ramah menatap Sean.

“ Tuan pelanggan, dia benar-benar tidak mengambilnya. ” ucap Toni.

Sean mengerutkan dahinya sesaat. Bukankah dengan jelas ia sudah memasukkan kartu kredit itu ke dalam saku Mira? Ada yang tidak beres pikirnya. “ Bisa kakak cari lagi?” ucap Sean tak puas.

Mira tersenyum miring menatap Sean. “ Atau mungkin, Tuan pelanggan bisa mengeceknya di saku. Mungkin lupa diletakkan disana. ”

Sean meraba saku celananya. Ia terkejut mendapati kartu kreditnya kini berada di dalam sakunya, namun keterkejutannya itu tertutupi oleh wajah datarnya. Dengan ragu Sean mengeluarkan kartu kredit itu dari sakunya.

“ Ups. Oh, mungkin tuan lupa kalau meletakkannya di saku belakang.” ucap Mira tersenyum penuh kemenangan.

Senjata makan tuan, heh. Ucap Mira dalam hati.

“ Kalau begitu, semuanya beres. Urus pelanggan itu ya, Mira. ”

“ Siap, kak.”

Sepeninggalan Toni, Mira berjalan menghampiri Sean. Ia berjinjit untuk merangkul bahu Sean, yah taulah Sean itu tingginya kek tiang listrik.

“ Ingat ini. Di tempat ini ada dua tipe orang. Tipe pertama adalah orang cerdas. Dan tipe kedua... Adalah orang yang mengira dirinya cerdas.” sindir Mira mengejek.

Sean menatap tajam Mira yang tersenyum mengejek padanya. Mira melepaskan rangkulannya. “ Kalau begitu, saya permisi, Tuan pelanggan. ” Mira berjalan pergi meninggalkan Sean.

Mira berjalan seraya bersenandung riang.“ Pada indahnya duka~ dalam~ rasa malu. ” senandung Mira.

Ia sedikit merubah lirik lagu. Mira kemudian berbalik, memberi jari tengah pada Sean dan kemudian tertawa. Ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Sean mendengus menatap kelakuan Mira yang selalu saja memancing emosinya.

BERSAMBUNG...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED