Darah dan debu bercampur di udara saat Letnan Arya Pradipta bergerak di bawah bayang-bayang reruntuhan bangunan di perbatasan Suriah dan Turki. Napasnya tetap stabil meski jantungnya berdetak cepat di balik rompi anti-peluru. Suara komunikasi dari timnya terdengar melalui earpiece di telinganya.
"Target dikonfirmasi. Sandera berada di dalam kompleks utama, lantai dua."
Arya mengencangkan genggamannya pada senapan serbu yang dilengkapi peredam. Lima anggota timnya telah lebih dulu menyusup ke dalam area, bergerak dalam kegelapan dengan langkah senyap. Malam itu hanya diterangi cahaya bulan samar.
"Eksekusi dalam tiga detik."
Tepat sesuai rencana, timnya menyingkirkan dua penjaga di pintu utama tanpa menimbulkan kebisingan. Arya memberikan isyarat lalu masuk ke dalam bangunan bersama mereka. Bau mesiu bercampur dengan debu memenuhi udara.
Mereka bergerak menyusuri lorong dengan senjata terangkat, mata waspada mengamati setiap sudut. Dari arah kanan, terdengar langkah kaki mendekat. Arya mengangkat tangan, memberi kode. Dua anggota tim segera mengambil posisi dan menembak dua musuh yang muncul sebelum mereka sempat bereaksi.
Arya menaiki tangga menuju lantai dua, mengikuti denah bangunan yang telah ia hafalkan sebelum misi dimulai. Di ujung koridor, sebuah pintu besi tampak tertutup rapat.
"Letnan, target ditemukan."
Ia merapat ke dinding dan memberi tanda kepada timnya. Salah satu prajurit memasang peledak kecil di engsel pintu, menghitung mundur sebelum akhirnya pintu itu terlempar ke belakang. Asap tipis menyebar di udara.
Arya memasuki ruangan lebih dulu, senjatanya terangkat, memeriksa setiap sudut. Di dalam, seorang wanita terduduk di sudut ruangan dengan tangan terikat.
Mata mereka bertemu-sepasang mata penuh ketakutan, namun juga menyimpan keteguhan.
Dalam bahasa Arab, wanita itu berbisik pelan seolah mengucapkan doa terakhirnya.
Arya berjongkok di hadapannya dan mulai melepaskan ikatan di pergelangan tangannya. "Apakah Anda Alana Weston?"
Wanita itu menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk pelan.
"Dengar, saya di sini untuk membawa Anda keluar," kata Arya dengan nada tegas. "Apakah Anda bisa berjalan?"
Alana berusaha bangkit, tetapi tubuhnya lemah dan hampir terjatuh. Arya segera menangkapnya, menopang tubuhnya agar tetap berdiri.
"Tim, kita harus segera keluar."
Namun sebelum mereka bisa bergerak, ledakan mengguncang bangunan. Arya terhuyung ke belakang sementara debu dan puing berjatuhan dari langit-langit.
"Letnan, ini jebakan! Mereka sudah mengetahui keberadaan kita!"
Arya segera menarik Alana ke dalam perlindungannya, berlindung di balik meja. Dari luar, suara tembakan mulai menggema di seluruh gedung.
Misi penyelamatan ini telah berubah menjadi pertempuran untuk bertahan hidup.
Suara tembakan semakin intens. Peluru berhamburan, menghantam dinding dan menimbulkan pecahan beton yang beterbangan ke segala arah. Arya menekan tubuh Alana agar tetap berlindung di balik meja, sementara matanya mengamati situasi.
"Delta-1, status?" Arya berbicara melalui radio, memastikan kondisi timnya.
"Kami terkepung di pintu masuk utama. Musuh datang dari sisi timur dan selatan."
"Bertahan. Saya akan membawa target keluar melalui rute darurat."
Arya mengangkat senjatanya lalu mengintip sedikit dari balik meja. Tiga orang musuh bergerak mendekat dari koridor. Tanpa membuang waktu, ia menembak mereka satu per satu dengan presisi.
Alana terkejut tapi ia tetap diam. Matanya menatap Arya dengan waspada seolah mencoba memahami siapa pria berseragam militer yang datang untuk menyelamatkannya.
"Saya akan membawa Anda keluar dari sini," kata Arya. "Tetap di belakang saya dan jangan sampai tertinggal."
Alana mengangguk, meskipun wajahnya masih menunjukkan ketegangan.
Arya menarik napas dalam lalu memeriksa jalur keluar. Mereka harus mencapai tangga darurat yang terletak di sisi barat gedung. Namun, situasi di luar semakin buruk.
"Delta-1, kita butuh ekstraksi sekarang!"
"Negatif, Letnan! Area masih terlalu panas. Helikopter tidak bisa mendekat!"
Arya mengumpat pelan. Tidak ada pilihan lain selain mencari jalur alternatif. Ia mengaktifkan mode peta digital di jam tangannya, melihat denah bangunan. Ada sebuah terowongan tua di bagian bawah gedung yang bisa mereka gunakan.
"Ikuti saya," katanya sambil menarik Alana berdiri.
Mereka bergerak cepat melewati lorong, berusaha menghindari baku tembak di bagian depan gedung. Beberapa musuh masih berjaga di koridor belakang, tetapi Arya menyingkirkan mereka dengan serangkaian tembakan senyap.
Saat mereka hampir mencapai pintu menuju ruang bawah tanah, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Arya menoleh dan mendapati beberapa musuh sudah mengejar.
"Masuk sekarang!" Arya mendorong Alana ke dalam ruangan.
Ia berbalik dan menembakkan peluru terakhir dalam magazinnya, menjatuhkan salah satu musuh. Namun, jumlah mereka lebih banyak dari yang ia perkirakan. Arya menarik pisau dari sarungnya dan bersiap menghadapi pertempuran jarak dekat.
Seorang pria bersenjata mendekat dengan cepat, tetapi Arya lebih cepat. Ia menghindari serangan lawan dan menebas leher pria itu dengan satu gerakan presisi. Darah mengalir deras, dan tubuh musuh itu ambruk ke lantai.
Tidak ada waktu untuk berhenti. Arya segera masuk ke ruang bawah tanah dan mengunci pintu di belakangnya. Ia menoleh ke arah Alana, yang berdiri dengan tubuh gemetar, tetapi matanya tetap tajam.
"Apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya.
Alana mengangguk perlahan. "Saya bisa bertahan."
Arya memperhatikan raut wajahnya. Meski terlihat lelah dan ketakutan, ada sesuatu dalam sorot matanya-keteguhan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang dalam situasi seperti ini.
"Kita akan keluar dari sini," ujar Arya dengan keyakinan penuh.
Tanpa membuang waktu, mereka berdua melangkah masuk ke dalam kegelapan terowongan, meninggalkan pertempuran di belakang mereka.
Langkah kaki Arya dan Alana bergema di sepanjang terowongan gelap yang sempit. Hanya cahaya redup dari lampu tak berfungsi yang berkelap-kelip di beberapa titik, membuat suasana semakin mencekam. Bau lembab bercampur dengan debu memenuhi udara.
Arya berjalan di depan, senjatanya terangkat, siap menghadapi kemungkinan ancaman. Alana mengikuti di belakangnya dengan langkah hati-hati.
"Berapa lama kita harus melewati ini?" tanya Alana dengan suara lirih.
"Terowongan ini membentang hingga satu kilometer ke luar kompleks," jawab Arya sambil terus melangkah. "Jika tidak ada kendala, kita bisa keluar dalam lima belas menit."
Alana mengangguk pelan, meskipun rasa tidak nyaman terlihat di wajahnya.
Beberapa meter ke depan, Arya berhenti tiba-tiba dan mengangkat tangan, memberi isyarat kepada Alana untuk diam. Ia mendengar sesuatu-suara langkah kaki di kejauhan.
Seseorang ada di dalam terowongan bersama mereka.
Arya segera mematikan senter di senjatanya dan merapat ke dinding. Ia menarik Alana mendekat, membuat mereka bersembunyi dalam bayangan.
Suara langkah itu semakin mendekat.
Arya dengan tenang melepas pengaman pistolnya. Jika musuh menemukan mereka, pertempuran di ruang sempit ini akan sulit dihindari.
Bayangan bergerak di ujung lorong. Arya menahan napas, menunggu momen yang tepat. Namun, sebelum ia bisa bereaksi, sebuah suara terdengar dari radio di rompinya.
"Letnan, ada pasukan musuh masuk ke terowongan! Mereka mengetahui jalur pelarian Anda!"
Arya mengumpat pelan. Musuh sudah menduga rute yang mereka ambil.
Langkah kaki di depan mereka semakin cepat. Tidak ada pilihan lain.
"Saya akan membuat pengalihan," bisik Arya kepada Alana. "Tetap di sini dan jangan bergerak sampai saya kembali."
Alana tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk.
Arya bergerak cepat, bersembunyi di balik pilar beton. Saat musuh melangkah lebih dekat, ia melemparkan pisau kecil ke salah satu dari mereka, tepat mengenai tenggorokannya. Pria itu jatuh tanpa suara.
Dua orang lainnya tersentak, tetapi sebelum mereka bisa bereaksi, Arya menembak mereka dengan peluru senyap. Tubuh mereka terjatuh ke lantai berdebu.
Arya segera kembali ke tempat Alana. "Ayo, sebelum mereka mengirim lebih banyak orang."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan, tidak lama kemudian, mereka tiba di ujung terowongan dan yang mereka temukan justru membuat Arya terdiam.
Pintu keluar telah tertutup dengan reruntuhan besar.
Alana menatap Arya dengan cemas. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Arya mengevaluasi situasi. Menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan puing-puing akan terlalu beresiko, bisa menarik lebih banyak musuh. Satu-satunya pilihan adalah mencari jalan lain.
Ia meraih radio dan berbicara kepada timnya.
"Delta-1, jalur utama tertutup. Apakah ada rute lain?"
"Tunggu sebentar, Letnan... Ada satu jalan, tapi lebih berbahaya. Ada tangga darurat di sisi kiri terowongan yang mengarah ke permukaan, tapi bisa jadi ada musuh yang berjaga di sana."
Arya menghela napas. Tidak ada pilihan yang benar-benar aman.
"Baik, kita akan ke sana."
Ia menoleh ke Alana. "Ikuti saya, dan tetap waspada."
Alana mengangguk.
Mereka kembali berjalan dalam gelap, menuju jalan keluar yang mungkin membawa mereka ke kebebasan atau ke dalam jebakan lain yang lebih berbahaya.
Mereka bergerak dengan cepat dan senyap menuju tangga darurat yang disebut oleh tim Delta-1. Langkah mereka bergema di dalam terowongan sempit, sementara rasa tegang semakin memuncak. Arya memastikan Alana tetap berada di belakangnya, melindunginya dari kemungkinan serangan mendadak.
Saat mereka mendekati tangga, Arya berhenti sejenak dan menempelkan punggungnya ke dinding. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Alana tetap diam. Dengan hati-hati, ia mengintip ke atas. Tangga itu berkarat, remang-remang, dan di ujungnya terdapat pintu logam tua dengan cahaya samar menyelinap dari celahnya.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari atas. Seseorang berada di sana.
Arya segera mematikan radio dan memberi isyarat kepada Alana untuk mundur sedikit. Ia menarik pistolnya dengan peluru senyap dan bersiap.
Pintu logam itu berderit perlahan, dan dua pria bersenjata muncul. Salah satu dari mereka membawa senapan, sementara yang lain berbicara melalui radio dalam bahasa Arab.
Tanpa ragu, Arya bergerak cepat. Ia menembak pria pertama di kepala, lalu segera menerjang pria kedua sebelum yang lain sempat menarik pelatuk. Dengan cekatan, Arya membungkam mulutnya dan menusukkan pisaunya tepat di antara tulang rusuk. Pria itu mengerang pelan sebelum akhirnya terkulai tanpa nyawa.
Alana yang menyaksikan kejadian itu menahan napasnya. Meski ketakutan, ia tetap mengontrol emosinya.
"Cepat, naik." Arya berbisik sambil memberikan isyarat ke tangga.
Mereka menaiki tangga dengan hati-hati. Setiap anak tangga berbunyi pelan di bawah beban mereka. Saat tiba di atas, Arya memeriksa keadaan di luar sebelum akhirnya mendorong pintu logam sedikit demi sedikit.
Udara malam yang dingin menyambut mereka. Mereka berada di sebuah halaman belakang yang dipenuhi puing-puing bangunan, tak jauh dari batas kompleks yang diawasi ketat oleh militan. Di kejauhan, lampu-lampu sorot menyoroti beberapa titik strategis.
Arya menempelkan telinganya ke radio.
"Delta-1, kami sudah di luar. Apa status evakuasi?"
"Horizon masih belum bisa mendekat. Wilayah udara masih berbahaya. Tapi kita punya kabar buruk, Letnan. Ada kemungkinan keterlibatan pihak luar dalam penyanderaan ini."
Arya menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Kami menerima informasi bahwa penyanderaan ini bukan sekadar aksi teroris biasa. Ada kemungkinan bahwa orang-orang dalam pemerintahan kita sendiri terlibat dalam operasi ini."
Arya merasakan ketegangan menyelimuti tubuhnya. Jika benar ada pengkhianat di dalam pemerintahan, maka misi ini lebih dari sekadar penyelamatan sandera. Ini adalah permainan politik yang jauh lebih berbahaya.
Arya mengepalkan rahangnya. Jika benar ada kekuatan besar yang terlibat, maka mereka harus keluar dari sini secepat mungkin.
Tapi sebelum ia bisa merencanakan langkah berikutnya, suara sirene berbunyi di kejauhan.
"Peringatan, pasukan pencari sedang mendekat. Kau harus pergi sekarang, Letnan," suara Delta-1 terdengar tegang di radio.
Arya segera menarik Alana dan berlari menuju bagian gelap dari reruntuhan bangunan. Suara kendaraan lapis baja terdengar mendekat dari arah utara.
Mereka harus keluar sebelum semuanya menjadi lebih buruk. Tapi dalam situasi ini, siapa yang bisa dipercaya?
Arya harus menemukan jawabannya sebelum semuanya terlambat.
Mereka bergerak dengan langkah cepat tetapi tetap senyap, menyusuri terowongan yang semakin sempit. Udara makin pengap, dan aroma besi tua menyeruak dari dinding yang lembab. Alana tetap berada di belakang Arya, matanya terus mengawasi sekeliling dengan penuh kewaspadaan.
Setelah beberapa meter, mereka tiba di persimpangan kecil yang hanya diterangi cahaya redup dari lampu darurat yang berkedip-kedip. Tangga darurat yang disebut timnya tampak di sisi kiri, mengarah ke permukaan.
Arya mengangkat tangan, memberi isyarat agar Alana berhenti. Ia menajamkan pendengaran, berusaha menangkap suara di atas. Tidak butuh waktu lama sebelum ia mendengar sesuatu, suara langkah kaki berat di lantai besi tangga.
Musuh berjaga di atas.
Arya menoleh ke Alana dan berbisik, "Ada orang di atas. Kita tidak bisa langsung naik."
Alana menelan ludah, lalu berbisik balik, "Lalu bagaimana?"
Arya berpikir cepat. Mereka bisa mencoba menyergap penjaga di atas, tetapi itu berisiko besar. Jika musuh membawa radio, ada kemungkinan mereka akan memanggil bala bantuan sebelum Arya sempat menjatuhkan mereka.
Ia meraih radio di rompinya. "Delta-1, ada musuh di tangga darurat. Bisa beri kepastian berapa jumlah mereka?"
Suara statis terdengar sebelum operator di sisi lain menjawab, "Tiga orang. Tapi ada masalah, Letnan. Kami mendeteksi pergerakan lain di sekitar lokasi kalian. Sepertinya ada unit tambahan yang sedang mendekat."
Arya mengumpat pelan. Waktu mereka tidak banyak. Jika mereka terlalu lama di sini, mereka akan terkepung.
"Apa ada rute lain?" tanyanya.
"Hanya satu lorong pembuangan tua yang berujung ke luar kompleks, tetapi itu berisiko tinggi. Kami tidak tahu apakah jalurnya aman atau sudah dipasangi jebakan."
Arya menarik napas panjang. Tidak ada pilihan yang bagus. Semua jalur yang tersedia memiliki risiko besar.
"Dengar," katanya kepada Alana, "Kita punya dua pilihan. Menyerang tiga musuh di atas dan mengambil risiko bertempur dalam jarak dekat atau kita mengambil jalur pembuangan yang mungkin sudah dipasangi jebakan."
Alana tampak berpikir cepat sebelum berkata, "Jalur pembuangan. Jika kita menyerang, mereka bisa memanggil bantuan, dan kita akan terjebak di sini."
Arya mengangguk. "Setuju. Kita ambil jalur pembuangan."
Mereka berbalik dan menyusuri lorong kecil di sebelah kanan. Bau busuk menyengat semakin kuat, dan lantai menjadi lebih licin akibat genangan air kotor. Di ujung lorong, mereka menemukan sebuah pintu besi tua yang setengah berkarat.
Arya meraih pegangan pintu, lalu menariknya perlahan. Engselnya berderit pelan, pintu itu terbuka perlahan.
Di baliknya, lorong sempit lain menanti lebih gelap, lebih menyeramkan.
Alana menghela napas dan melangkah masuk, diikuti oleh Arya. Mereka bergerak perlahan, menyusuri lorong gelap itu dengan waspada.
Namun, baru beberapa langkah masuk, sesuatu terasa tidak beres.
Arya berhenti mendadak dan menarik Alana ke belakangnya. Ia merendahkan tubuhnya, matanya fokus pada sesuatu di lantai.
Benang tipis hampir tak terlihat membentang di seberang lorong, terhubung ke sebuah alat kecil yang tersembunyi di bawah genangan air.
Jebakan ranjau.
Arya menghela napas pelan. Jika mereka tidak berhati-hati, ledakan di ruang sempit ini bisa membunuh mereka berdua.
Ia memberi isyarat kepada Alana agar tetap diam, lalu merogoh saku rompinya dan mengeluarkan pisau kecil. Dengan hati-hati, ia memotong benang itu tanpa menyebabkan pemicunya aktif.
Setelah memastikan jalur aman, ia menoleh ke Alana. "Tetap dekat dan ikuti langkah saya. Jangan sentuh apa pun."
Alana mengangguk cepat.
Mereka melanjutkan perjalanan, melewati beberapa jebakan lain yang tersembunyi di sepanjang lorong. Beberapa di antaranya berupa kabel peledak, yang lain adalah kawat berduri yang dipasang di ketinggian kepala.
Akhirnya, setelah beberapa menit berjalan dalam kegelapan, mereka tiba di ujung lorong. Pintu lain berdiri di depan mereka, pintu baja besar dengan roda pengunci di tengahnya.
Arya meraih radio. "Delta-1, kami sudah sampai di pintu keluar. Apa ada musuh di luar?"
Suara statis terdengar sebelum operator menjawab, "Negatif, Letnan. Area bersih. Tapi kami mendeteksi aktivitas kendaraan musuh beberapa ratus meter dari lokasi kalian. Kalian harus segera keluar sebelum mereka menemukan jalur ini."
Arya mengangguk dan mulai memutar roda pengunci. Pintu itu berderit, lalu terbuka perlahan.
Udara malam yang dingin menerpa wajah mereka. Di luar, medan berpasir membentang luas, diterangi cahaya bulan yang pucat.
Arya menoleh ke Alana. "Ayo. Kita keluar dari sini."
Namun, saat mereka melangkah keluar, suara raungan mesin terdengar dari kejauhan.
Sebuah konvoi kendaraan militer mendekat dan mereka tidak membawa bendera sekutu.
Alana menegang. "Mereka menemukan kita?"
Arya menatap ke arah kendaraan yang mendekat, lalu meraih radio lagi.
"Delta-1, kita dalam masalah. Musuh datang dari utara. Aku butuh ekstraksi sekarang!"
Suara operator terdengar tegang. "Helikopter sedang dalam perjalanan, tapi butuh waktu lima menit untuk mencapai lokasi kalian!"
Arya menggertakkan giginya. Lima menit bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.
Ia menoleh ke Alana. "Kita harus menemukan tempat persembunyian sebelum mereka melihat kita."
Mereka berlari ke balik bukit pasir, bersembunyi di balik bebatuan besar. Dari kejauhan, mereka bisa melihat kendaraan musuh berhenti di dekat pintu keluar terowongan.
Beberapa pria bersenjata turun, mata mereka menelusuri sekeliling. Salah satu dari mereka berbicara dalam bahasa Arab, "ابحث عنهم! لا بد أنهم في مكان قريب من هنا."
Alana menatap Arya dengan cemas. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Arya menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara pelan namun tegas. "Kita bertahan. Dan kita tidak boleh tertangkap."
Arya menoleh ke Alana. "Ayo, kita harus bergerak cepat."
Alana mengangguk, masih mencoba mengatur napasnya. Mereka melangkah keluar dari lorong sempit itu, menyatu dengan bayangan malam. Pasir di bawah kaki mereka sedikit berderak, tetapi suara itu tenggelam oleh hembusan angin gurun yang menusuk kulit.
Delta-1 segera memberikan instruksi melalui radio. "Letnan, bergeraklah ke koordinat 35.1789, 38.5168. Tim ekstraksi akan menunggu di sana, tetapi mereka tidak bisa bertahan lama."
Arya mengecek peta digital di jam tangannya. Lokasi itu berjarak sekitar tiga kilometer ke arah barat. Dengan musuh yang masih aktif di sekitar, mereka harus menghindari jalur utama dan bergerak melalui celah-celah medan berbatu.
"Tetap di belakangku," bisik Arya.
Mereka mulai bergerak dengan cepat namun tetap rendah, bersembunyi di balik puing-puing bangunan yang roboh. Sesekali, lampu sorot dari pos militan menyapu daerah sekitar, memaksa mereka untuk menahan napas dan merapat ke tanah.
Setengah perjalanan, Arya tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Dari kejauhan, ia melihat dua kendaraan lapis baja mendekat, roda mereka menggilas pasir dengan suara yang mengancam. Seorang pria bersenjata berdiri di atap kendaraan pertama, mengawasi sekitar dengan senter besar.
"Turun ke cekungan itu," bisik Arya sambil menarik Alana ke dalam sebuah lubang alami di tanah. Mereka merapat ke dinding pasir, mencoba menyatu dengan kegelapan.
Pria bersenjata itu mengarahkan senter ke arah mereka. Cahaya nyaris menyentuh tempat persembunyian mereka sebelum akhirnya beralih ke arah lain.
Arya menahan napas hingga kendaraan itu menjauh. Begitu keadaan aman, mereka kembali bergerak.
Hanya beberapa ratus meter dari titik ekstraksi, suara dentuman keras terdengar di kejauhan. Langit malam diterangi ledakan oranye yang membumbung tinggi.
"Horizon di bawah serangan," suara Delta-1 terdengar tegang. "Kami diserang! Percepatan langkah kalian! Kami tidak bisa bertahan lama!"
Arya segera meraih tangan Alana dan menariknya untuk berlari. Tidak ada lagi waktu untuk bergerak perlahan. Napas mereka terengah-engah saat mereka berlari di antara reruntuhan dan bukit pasir.
Dalam hitungan menit, mereka bisa melihat helikopter tempur yang menunggu di kejauhan, baling-balingnya berputar kencang, pasir beterbangan di sekitarnya. Beberapa operator Delta-1 menembakkan senjata ke arah musuh yang mulai bermunculan di belakang mereka.
Arya mengangkat senjatanya dan menembak ke arah pengejar. Beberapa dari mereka jatuh, tetapi jumlahnya terlalu banyak.
"Masuk sekarang!" teriak salah satu operator dari dalam helikopter.
Arya mendorong Alana ke dalam, lalu melompat menyusul. Begitu keduanya masuk, helikopter langsung lepas landas, meninggalkan kobaran api dan suara tembakan di belakang mereka.
Di dalam kabin, Alana masih terengah-engah, matanya menatap Arya dengan campuran ketakutan dan kekaguman.
"Ini belum selesai," kata Arya dengan nada serius. "Kita baru saja masuk ke dalam permainan yang jauh lebih besar."
Alana mengangguk pelan, menyadari bahwa apa pun yang telah ia temukan, bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Helikopter terus melaju menembus kegelapan malam, menghindari tembakan sporadis yang masih terdengar dari bawah. Cahaya di horizon masih berkobar, menandakan pertempuran yang belum usai.
Delta-1 berbicara melalui radio kepada pilot, suaranya penuh ketegangan. "Kita butuh jalur alternatif. Basis utama mungkin sudah dikompromikan."
Arya mengencangkan pegangan senjatanya. Napasnya masih berat, tapi matanya tajam mengamati sekeliling. Ia menoleh ke Alana, yang masih berusaha mengatur pernapasannya. "Kau baik-baik saja?"
Alana mengangguk, meskipun matanya masih menyiratkan ketegangan. "Aku masih hidup, kan?"
Salah satu operator Delta-1 mendekati Arya. "Letnan, ini bukan sekadar misi penyelamatan biasa. Kami dapat informasi baru bahwa ada operasi yang lebih besar sedang berlangsung. Target utama mereka bukan hanya Alana, tapi sesuatu yang ia bawa."
Arya menatap Alana dengan tajam. "Apa maksudnya? Apa yang mereka cari darimu?"
Alana menelan ludah, tampak ragu sebelum akhirnya berbicara. "Aku... aku tidak yakin. Aku hanya seorang relawan kemanusiaan. Tapi sebelum aku ditangkap, aku sempat melihat sesuatu yang aneh di markas mereka. Ada data-data tentang pergerakan pasukan internasional di Timur Tengah dan beberapa file yang terkait dengan jaringan intelijen. Aku tak sempat memahami semuanya, tapi sepertinya mereka mengira aku tahu lebih dari yang seharusnya."
Arya menghela napas panjang. "Kalau begitu, ini bukan sekadar operasi penyanderaan. Ini jauh lebih besar dari yang kita kira."
Radio berbunyi lagi, suara pilot terdengar tegang. "Letnan, kita punya masalah. Ada dua jet tempur musuh mendekat dari arah timur. Kami tak bisa menghindari mereka lebih lama lagi."
Arya segera bergerak ke kokpit, melihat layar radar yang menunjukkan dua titik merah mendekat dengan kecepatan tinggi.
"Berapa lama sampai kita mencapai zona aman?" tanyanya.
"Lima belas menit, tapi mereka akan mengejar kita sebelum itu."
Delta-1 mengambil senapan dan mengangkat bahu. "Kita harus bertarung kalau ingin keluar hidup-hidup."
Alana menggigit bibirnya. Ia bukan prajurit, tapi situasi ini memaksanya untuk tetap bertahan. Helikopter bergetar saat suara dentuman terdengar di kejauhan, rudal telah dilepaskan.
"Tahan!" teriak pilot, melakukan manuver tajam untuk menghindari serangan.
Arya menatap ke luar jendela. "Persiapkan senjata. Ini akan jadi perjalanan panjang."
Helikopter berguncang keras saat sebuah ledakan meletus di dekat mereka. Alarm berbunyi di seluruh kabin, membuat semua orang waspada.
"Mereka semakin dekat!" seru salah satu operator Delta-1 sambil mengamati radar.
Arya bergerak cepat ke senapan mesin yang dipasang di sisi helikopter, mengokangnya dengan cekatan. "Aku akan mengulur waktu. Pastikan kita tidak kehilangan arah."
Peluru mulai ditembakkan ke arah jet tempur yang berusaha mengunci target. Helikopter kembali bermanuver, berusaha menghindari rentetan serangan yang semakin gencar.
Arya menekan pelatuk senapan mesin, menyalakan rentetan peluru ke arah salah satu jet tempur yang mendekat. Cahaya dari ledakan di kejauhan menerangi kabin sesaat sebelum helikopter berputar tajam untuk menghindari rudal yang melesat ke arah mereka.
"Delta-1! Kita tidak bisa bertahan seperti ini!" seru Arya sambil tetap menembak, berusaha memberi perlawanan sebaik mungkin.
"Roger, Letnan! Kita butuh manuver darurat!" jawab pilot dengan suara penuh ketegangan.
Salah satu jet tempur musuh tiba-tiba melepaskan rudal lain, meluncur lurus ke arah mereka. Pilot menarik kontrol dengan cepat, membuat helikopter berbelok tajam ke kiri hingga hampir terbalik. Semua orang di dalam kabin berpegangan erat, sementara alarm berbunyi semakin nyaring.
"Rudal akan menghantam dalam lima detik!" suara Delta-1 memperingatkan.
Arya melihat ke luar dan menyadari satu-satunya pilihan mereka adalah menggunakan sistem flare untuk mengalihkan rudal tersebut. "Lepaskan flares! Sekarang!"
Sebuah kilatan cahaya menyala saat pilot menekan tombol pelepas flare. Beberapa bola api kecil terbang ke udara, menciptakan panas buatan yang cukup untuk mengecoh sistem pencari rudal. Rudal itu berbelok tajam ke arah flare, sebelum akhirnya meledak di udara.
"Itu nyaris saja," gumam Alana, masih berusaha mengatur napasnya.
Namun, belum sempat mereka bernapas lega, jet tempur kedua kembali masuk dalam formasi serangan. Kali ini, mereka tidak hanya menghadapi rudal, jet itu mulai memberondongkan tembakan dari kanon otomatisnya. Peluru melesat melewati sisi helikopter, beberapa menghantam bagian ekor dan membuatnya terguncang hebat.
"Kita terkena! Mesin mulai kehilangan daya!" seru pilot.
Arya menggeram, mengetahui bahwa mereka tidak akan bisa bertahan di udara lebih lama lagi. Matanya bergerak cepat mencari solusi. "Dimana lokasi pendaratan terdekat?"
"Ada area berbatu di dua kilometer ke barat daya, tapi kita harus bertahan hingga ke sana!" jawab Delta-1.
Helikopter kembali berguncang keras saat tembakan lain menghantam bagian bawahnya. Lampu indikator menyala merah. Mereka tidak punya pilihan selain turun secepat mungkin.
"Pegangan erat! Kita akan melakukan pendaratan darurat!" seru pilot.
Semua orang bersiap menghadapi benturan, sementara helikopter mulai menukik turun ke arah daratan berbatu di bawah. Jet tempur masih berusaha mengejar, tetapi kali ini, satu suara baru terdengar di radio.
"Ini Falcon-3, kami masuk ke wilayah pertempuran. Tahan posisi kalian!"
Dari kejauhan, dua pesawat tempur sekutu muncul, langsung menyerang jet musuh yang memburu mereka. Salah satu jet musuh mencoba menghindar, tetapi terlambat, sebuah rudal udara-ke-udara menghantamnya, meledakkannya di udara.
"Mereka datang tepat waktu," gumam Arya, matanya tetap fokus pada tanah yang semakin mendekat.
Pilot menarik kontrol sebaik mungkin, memperlambat laju pendaratan. Benturan keras terasa saat helikopter akhirnya menghantam tanah berbatu, membuat semua orang terlempar ke depan. Debu dan pasir beterbangan di sekitar mereka.
Arya membuka sabuk pengamannya dengan cepat, menoleh ke arah Alana. "Kau baik-baik saja?"
Alana mengangguk meskipun wajahnya pucat. "Ya... aku masih utuh."
Namun, mereka belum bisa bersantai. Dari balik bebatuan, beberapa sosok bersenjata muncul, bersiap menyerang mereka.
"Siapkan senjata!" Arya berteriak, mengokang senapannya. "Pertempuran belum selesai!"