Hari ini adalah hari yang sangat dinanti oleh semua keluarga besar Andromeda, bahkan bisa jadi semua orang. Keluarga dengan kekayaan melimpah ini, akan mengadakan upacara pernikahan pewaris utama Andromeda group dengan megah dan meriah.
Aslan Teryieka Andromeda, putra tunggal dari pasangan Tuan Harun Andromeda dan Nyonya Lusi Andromeda. Anak emas yang begitu disegani banyak orang.
Ya, hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi mereka. Mereka akan melihat putra semata wayangnya menikah dengan gadis terbaik di negara jerman. Aslan akan menikah dengan Claritta indriana. Model cantik yang namanya melejit bahkan sampai di negara lain. Model dengan bayaran fantastis ini akan resmi dipersunting oleh Aslan, sang pewaris Andromeda group.
Aslan sudah siap dengan setelan jas hitamnya. Hari ini Aslan terlihat gagah dan berwibawa. Aslan begitu terlihat sempurna dengan setelan ini. Aslan mengambil jam mahal yang telah dipersiapkan di atas meja. Aslan mengambil jam itu lalu memakainya di pergelangan tangannya.
Jam dengan kisaran harga fantastis itu melekat dengan sempurna di tangan Aslan. Setelah selesai Aslan bersiap-siap untuk keluar dari ruangan kamar hotel yang ditempatinya sekarang ini.
Aslan keluar dari kamarnya, dan menuju ke lantai bawah. Tempat diadakannya acara pernikahan dirinya hari ini.
Aslan sampai di aula hotel bawah. Semua mata takjub melihat betapa memukaunya Aslan Teryieka Andromeda hari ini. Begitu memesona aura yang dimiliki Aslan hari ini. Aslan berjalan ke arah sang Mommy dan Daddynya berada.
“Kamu memang tampan dan mempesona seperti daddymu ini Son,” puji Harun.
Harun menepuk pelan bahu anaknya yang terlihat gagah pada hari ini.
Nyonya Lusi tersenyum melihat suami dan anaknya yang sedang bercanda.
“Benarkah itu Dad? “ Aslan memicingkan matanya tanda tak setuju dengan omongan sang Daddy.
“Tapi...aku merasa ketampanan yang Aku miliki adalah warisan dari Mommyku yang sangat cantik ini.” Aslan menghampiri Mommy Lusi dan mencium pipinya.
“Cihhh... dasar anak kurang ajar.” Harun memukul lengan Aslan.
“Tenanglah Dad, jangan marah aku hanya bercanda.”
“Husttt ...diam kalian. Pliss jangan berantem kalian berdua. Lihatlah tamu-tamu sudah mulai berdatangan.” Nyonya Lusi memegang kepalanya yang berdenyut pusing melihat kedua orang itu yang selalu bertengkar. Bagai anj*ng dan tikus.
“It’s okey Mommy,” Jawab Aslan.
Dekorasi di ruangan ini begitu memukau. Tentu memukau karna ini adalah pesta dari orang berada. Bunga-bunga mawar mendominasi pada ruangan ini, Bunga mawar itu ditata seapik mungkin. Harum dari bunga mawar menguar di seluruh penjuru ruangan ini. Menyapa dan memanjakan setiap indra penciuman orang yang berada di ruangan ini.
Semua para tamu berlomba untuk tampil memesona dengan gaun terbaik mereka. Mereka sangat bangga bisa hadir di acara yang digadang-gadang akan menjadi acara termegah tahun ini.
Tuan rumah menyalami dan menyapa para tamu yang hadir di acara ini. Setelah selesai Aslan mencari tempat duduk. Dia capek berdiri, dia ingin beristirahat sejenak.
Semua tamu undangan telah hadir dan duduk di tempatnya masing-masing. Kini tiba saatnya untuk memulai acara inti, yaitu pemberkatan antara Aslan Teryieka Andromeda dan Claritta Indriana.
Aslan dipersilahkan untuk naik ke atas dan menunggu kehadiran sang mempelai wanita.
Aslan kemudian berjalan untuk naik ke atas, menghampiri sang pendeta.
Dan tak butuh waktu lama Pintu aula ruangan terbuka. Menampilkan sang mempelai yang cantik memesona seperti bidadari kahyangan. Kali ini sang mempelai wanita didampingi oleh ayahnya sendiri.
Claritta sangat cantik dengan gaun berwarna putih. Gaun itu sangat pas melekat di tubuh Claritta. Semua mata tertuju padanya. Mereka memandang takjub kecantikan dan kesempurnaan dari seorang Claritta indriana.
Memang kecantikan Claritta sudah tersohor dan tak di ragukan lagi. Di tangan Claritta, ada sebuah buket bunga mawar berwarna putih yang sangat cantik.
Sungguh semua kaum lelaki harus merasa patah hati, karna bidadari sang pujaan telah dipersunting orang. Claritta melangkah dengan anggun untuk mencapai keberadaan Aslan.
Aslan bahkan tak berkedip ketika melihat calon istrinya itu. Ya, Aslan mengakui bahwa Claritta adalah wanita yang sempurna. Maka dari itu Aslan tetap bersedia menikahinya. Walau ada sebuah rahasia yang Aslan simpan dengan rapi. Dan tak ada yang mengetahui itu kecuali Aslan dan manusia yang sedang rebahan sambil berhalu.wkwkw.
Claritta telah sampai di depan Aslan. Sang Ayah menyerahkan tangan Claritta kepada Aslan. Dan Aslan menerima itu. Sang Ayah kemudian meninggalkan Aslan dan Claritta untuk melakukan pemberkatan.
Sang pendeta kemudian mengucapkan sumpah pernikahan untuk Aslan dan Claritta.
Acara pemberkatan telah selesai dan kini saatnya para tamu menikmati hidangan yang disuguhkan.
Semua orang bersuka cita dan ikut bergembira dengan pernikahan antara Aslan dan Claritta. Semua orang memuji keserasian dari pasangan ini. Memang pasangan ini adalah pasangan yang membuat semua mata iri melihatnya. Sang wanita yang bagai dewi dan sang pria bagai pangeran. Mungkin mereka adalah pasangan yang diciptakan dari surga.
Acara telah selesai ketika malam hari. Para tamu undangan telah pamit untuk pulang dari aula hotel ini.
Aslan mengajak Claritta untuk pergi ke kamar mereka. Tanpa banyak bicara Claritta mengikuti Aslan, untuk pergi ke kamarnya.
“Mom, Dad, aku ke kamar dulu ya.” pamit Aslan kepada orang tuanya.
“Apakah kamu sudah tidak sabar Son?” goda Daddy Harun.
“Ishhh...jangan gitu dong sayang. Kasian mereka kan jadi malu.” ujar Mommy Lusi.
“Ya sudah masuk gih sana ke kamar. Jangan lupa Daddy pesan dibuatkan cucu yang banyak ok.” kekeh Daddy Harun.
Aslan tak menanggapi guraun dari daddynya. Dia fokus untuk sampai dikamarnya.
Mereka tiba di kamar yang telah dipersiapkan untuk mereka. Kamar yang begitu indah dengan taburan kelopak bunga mawar yang menghiasi ranjang ini. Harum yang begitu wangi menguar dari mawar itu. Sungguh ini adalah kamar yang sangat romantis bagi pasangan pengantin baru.
Tapi sayang itu semua tak berlaku bagi pasangan ini. Bagi mereka, semua ini hanyalah sia-sia belaka. Bagaimana tak sia-sia jika mereka saja tak ingin memadu kasih. Jangankan memadu kasih bicara pun Aslan tak mau. Dia begitu benci dengan wanita yang sekarang tengah diam mematung dihadapannya ini.
“Jangan pernah bermimpi untuk bisa aku sentuh! Aku tak sudi menyentuh wanita sepertimu.”serang Aslan.
Claritta menoleh menatap wajah Aslan. Dia berkacak pinggang untuk menantang Aslan. Claritta tak takut sama sekali dengan Aslan.
“Hey kamu! Dengarkan ini baik-baik Tuan Aslan yang terhormat. Siapa juga yang ingin disentuh oleh mu jangan mimpi kali.” jawab Claritta.
Dalam hati Claritta meringis, menahan sakit hati yang dia rasakan. Dia juga seorang perempuan. Claritta juga ingin seperti wanita pada umumnya yang menikah dan memadu kasih ketika malam pertama. Tapi apalah daya jika suaminya tak mengharapkan itu semua. Malah melontarkan kata-kata tajam ketika malam pertama yang seharusnya mereka lewati dengan bahagia.
“Dasar wanita menjengkelkan.”dengus Aslan.
Aslan menggambil bantal dan selimut di atas ranjang. Dia memindahkan ke sofa yang berada di kamar ini. Aslan berencana untuk tidur di sofa malam ini.
Claritta menghela nafas dengan berat. Dia miris dengan jalan hidupnya yang seperti ini. Mengapa? Mengapa dirinya harus menikah dengan orang yang tidak menyukainya. Mengapa dirinya harus terjebak di dalam pernikahan yang tak dia inginkan sama sekali.
Claritta berhenti mengasihi dirinya sendiri. Dia bergegas untuk pergi ke kamar mandi. Dia berencana untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
Nasib sial harus di alami Claritta kali ini. Bagaimana tidak sial, dia ingin segera mandi tapi malangnya dia tidak bisa membuka gaun yang dia kenakan saat ini. Claritta mengutuk orang yang membuat baju ini. Bagaimana bisa ada orang yang membuat baju dengan sempurna seperti ini. Tapi melepaskannya harus butuh orang lain. Claritta benar-benar kesusahan untuk membuka baju ini.
Dengan terpaksa Claritta harus meminta tolong seseorang untuk membantunya. Tapi! Kira-kira siapa yang bisa membantu dirinya? Di ruangan ini hanya ada dirinya dan lelaki yang menjengkelkan yang baru saja menjadi suaminya itu.
Claritta diam sesaat. Dia duduk di atas closet untuk memikirkan cara melepas gaun sialan yang menyusahkannya ini.
Claritta sudah pasrah dia benar-benar sudah menyerah. Segala macam cara sudah dia perbuat untuk mencoba melepaskan gaun yang melekat di tubuhnya ini. Namun usahanya sia-sia. Dia terpaksa keluar dari kamar mandi untuk mencari pertolongan.
Aslan membuka matanya. Dia melihat ke arah kamar mandi. Aslan bertanya-tanya mengapa istrinya lama sekali berada di kamar mandi.
Jangan-jangan Claritta sang istrinya itu bunuh diri karna ucapannya tadi. Aslan sedikit menyesal dengan perbuatannya. Dia belum siap menjadi duda di malam pertama. Akhirnya Aslan berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin memastikan jika istrinya itu tidak melakukan hal-hal yang mengancamnya menjadi duda di malam pertama.
Aslan mendekat ke arah pintu kamar mandi. Semakin dekat dan dekat sekali. Ketika Aslan ingin mendekatkan kupingnya untuk mendengarkan aktifitas Claritta. Tanpa sengaja Claritta juga membuka pintu, alhasil Aslan dan Claritta terjatuh bersamaan dengan bibir mereka yang saling bersentuhan. Mereka terjatuh di lantai kamar mandi dengan posisi Aslan di atas tubuh Claritta.
Mereka berdua terdiam. Mereka syok dengan keadaan ini. Mereka masih terlarut dalam ciuman tak sengaja ini.
Hingga pekikan Claritta membuyarkan lamunan mereka.
“Aakhhhh...” jerit Claritta.
Aslan buru-buru tersadar dari lamunannya. Dia kemudian berdiri dan bersiap mencari alasan yang tepat untuk keadaan dirinya saat ini.
Claritta juga buru-buru berdiri menyusul Aslan. Claritta ingin meminta penjelasan sejelas-jelasnya untuk adegan tadi yang merugikan dirinya. Karna Aslan telah mencium bibir mahalnya ini.
Claritta memicingkan matanya. Dia seperti ibu guru TK yang sedang menghukum muridnya yang nakal.
Aslan yang melihat kemarahan Claritta hanya diam. Dia mengaku salah kali ini. Dia juga merutuki kebodohannya yang mau saja mengikuti kata hatinya untuk menyusul ke kamar mandi.
“Kamu mau mengintip saya?” tunjuk Claritta.
Aslan diam. Dia belum menemukan alasan yang pas untuk membantah Claritta.
“Ayo ngaku! kamu mau mengintip saya yang mau mandi?” Claritta mengulang pertanyaannya.
“Dasar laki-laki mesum.” sosor Claritta.
Aslan menatap tajam Claritta. Dia sudah menemukan alasan yang tepat untuk menyangkal asumsi Claritta.
“Mengintip kamu mandi?” ucap Aslan.
“Hey. Berpikirlah realistis dengan otak kecilmu itu.” Aslan menyentil kening Claritta menggunakan jarinya.
“Bagaimana caranya saya mengintip. Lihatlah semua pintu dan dinding ini! Mana mungkin saya bisa mengintip kamu.” kilah Aslan.
“Lagi pula memang kamu benar sudah mandi?”
Aslan memandang ke arah tubuh Claritta. Aslan merasa orang di depannya ini tidak waras. Bagaimana mungkin dia mengaku sudah mandi tetapi pakaiannya masih sama.
Claritta mengikuti arah mata Aslan. Dia baru sadar bahwa dirinya belum mandi. Claritta merutuki kebodohannya karena terbawa emosi.
Claritta tersenyum menampilkan giginya yang tersusun dengan rapi. Claritta menampilkan senyuman termanisnya kali ini. Dia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Dasar orang aneh.” ujar Aslan.
Aslan ingin kembali ke sofa miliknya. Dia ingin melanjutkan tidur yang telah terganggu. Tetapi Claritta mencekal tangannya dengan tiba-tiba.
Aslan yang melihat Claritta mencekal tangannya berhenti tak jadi melanjutkan langkahnya.
“Bisakah kamu menolongku?”pinta Claritta.
Aslan memicingkan matanya curiga. Dalam hati Aslan bertanya-tanya kira-kira apa yang bisa membuat Claritta meminta tolong padanya.
“Please, Tolong bantu aku melepaskan gaun ini ya.” Claritta menampilkan pup eyesnya untuk menarik simpati Aslan.
“Kamu mau menggodaku?” tanya Aslan.
Claritta memutar bola matanya. Dia ingin mengetuk kepala Aslan yang berpikiran mesum tentangnya.
“Tolong itu otak jangan dibuat traveling ya, Tuan Aslan Teryieka Andromeda yang terhormat.” Sewot Claritta.
“Saya hanya ingin meminta Anda untuk membuka pengait baju ini. Saya sudah mencoba tetapi tidak bisa.”
Aslan diam. Ternyata dia salah berpikir. Dia mengira Claritta sedang ingin menggodanya.
“Berbaliklah.” pinta Aslan.
Claritta segera berbalik badan. Dalam hati Claritta tersenyum, karena Aslan masih mau membantunya. Ternyata di dalam diri Aslan masih menyimpan sedikit kebaikan.
Aslan memegang Pengait gaun yang dipakai Claritta. Menurunkan dengan perlahan pengait gaun itu. Aslan meneguk ludah dengan kasar ketika melihat kulit punggung Claritta yang putih dan halus. Memang kulit punggung Claritta itu putih seputih susu. Aslan terkesima melihat kulit punggung Claritta. Tetapi Aslan segera tersadar dari lamunannya.
“Selesai.” Ucap Aslan.
Tangan Claritta memegang bajunya dari depan agar tidak melorot di depan Aslan.
“Terima kasih.”
Claritta buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Dia akhirnya bisa bernafas lega karna satu masalahnya sudah terselesaikan. Claritta segera membersihkan badannya.
Setelah selesai Claritta bersiap-siap untuk pergi tidur.
Claritta membaringkan badannya, mencari posisi ternyaman agar dia bisa langsung tidur. Tak butuh waktu lama, akhirnya Claritta sampai ke alam mimpi.
Aslan membuka matanya ketika jam masih menunjukkan pukul 2 malam. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Seluruh Badan Aslan terasa pegal-pegal. Bagaimana tidak pegal? Aslan tidur di sofa yang hanya muat menampung badannya saja. Aslan mengutuk pemilik hotel ini yang hanya menyediakan kursi sofa yang kekecilan menurutnya.
Mata Aslan melihat Claritta yang tidur nyenyak diranjang. Aslan menilai tidur Claritta, pasti sangat nyenyak. Jelas saja Claritta tidur dengan nyenyak. Dia tidur diranjang yang sangat lembut dan nyaman. Yang berbanding terbalik 190 derajat dengan dirinya yang tidak bisa tidur. Bagaimana bisa tidur? Sofa ini begitu menyiksa dirinya.
Aslan berjalan ke arah Claritta. Dia melihat wajah Claritta sebentar. Dia memanggil nama Claritta tiga kali untuk memastikan Claritta sudah tidur pulas apa belum. Setelah selesai memastikan Claritta tidur dengan pulas. Hati Aslan bersorak gembira. Aslan kemudian mengambil bantal dan selimut yang masih berada di sofa.
Aslan membawa bantal dan selimut itu menuju ke ranjang. Ya, Aslan berniat tidur diranjang. Aslan sudah tidak sanggup jika harus tidur di sofa sampai pagi. Setelah menata posisi badannya dengan nyaman. Akhirnya Aslan bisa tidur dengan nyaman dan pulas. Tak terasa Aslan merengkuh tubuh Claritta dan mendekapnya. Mereka berdua tidur saling berdekapan tanpa saling mengetahui. Mereka mengira yang sedang di dekapnya adalah guling.
Sang mentari telah menampakkan dirinya di ufuk timur. Sinar berwarna kuning itu perlahan menyinari penduduk bumi. Sinar yang membawa semangat dan harapan baru bagi orang-orang yang sedang menjalani kehidupan di dunia ini. Berharap datangnya sebuah harapan baik yang akan mereka lalui hari ini. Harapan dan doa akan selalu ada bagi mereka yang menjalani hidup dengan penuh perjuangan.
Mata Claritta mengerjap dengan perlahan. Dia terbangun karna panggilan alam, yang memaksa dirinya untuk segera menuntaskan hajatnya. Dia menguap dengan lebar tanda masih ada sisa-sisa kantuk yang menyerang.
Claritta merasa sesuatu yang berat menindih perutnya. Dia menurunkan pandangan matanya ke arah perut miliknya. Menyibakkan selimut untuk mengetahui benda apa yang telah mengganggu kenyamanan perutnya.
“Aakhhhhh....”pekik Claritta.
Dia refleks menutup mulutnya yang sedang berteriak kencang. Agar suaranya tak membangunkan manusia yang sedang tidur terlelap seperti pingsan di sampingnya ini.
Dengan buru-buru Claritta memindahkan tangan besar yang terasa menyesakkan. Dia memindahkan tangan besar itu dengan kasar.
Dan anehnya, orang yang sedang tidur di sampingnya ini tak terganggu sama sekali dengan kegaduhan yang Claritta buat.
Aslan bahkan tak terusik sedikit pun dengan ini. Dia begitu menikmati tidurnya. Memang Aslan jika sudah tidur seperti orang pingsan yang tak akan terganggu dengan hal-hal atau suara apa pun.
Claritta mengumpat dalam hati. Dia menggoyangkan badan Aslan untuk membangunkannya. Namun hasilnya nihil. Aslan sama sekali tak berkutik sedikit pun. Jangankan terbangun, terusik pun Aslan tak. Sungguh pagi ini adalah pagi yang menjengkelkan untuk Claritta.
Claritta mengabaikan Aslan yang masih tertidur dengan pulas. Dia buru-buru melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar mandi. Isi perutnya sudah berontak untuk meminta di keluarkan dari dalam perutnya.
Claritta sedikit berlari karna hajatnya sudah berada di ujung tanduk.
Brakkkk...Claritta menutup pintu dengan kasar. Claritta dengan segera mendudukkan pantatnya di closet.
“Fiyuuhhh..” ujar Claritta.
Dia akhirnya bisa bernafas dengan lega, karna telah selesai menuntaskan hajatnya yang menyiksa perutnya tadi.
Setelah selesai Claritta mencuci muka dan menggosok gigi.
Claritta memandang wajahnya di cermin yang berada di kamar mandi. Menyentuh kulit wajahnya bergantian dari mulai kening, mata, hidung dan terakhir bibir.
“Cantik.” ucap Claritta.
Tangannya turun memegang dua buah gunung kembar miliknya.
“Besar. Kalau ukuran ini mah idaman Lelaki.” Claritta berbicara kepada dirinya sendiri.
Matanya kemudian menatap seluruh tubuhnya di cermin.
Dia mengamati semua gambar lekuk tubuhnya di pantulan cermin.
“Sempurna.”
“Emm...Apakah pria itu tidak normal hingga tidak melihat semua ini?” tanya Claritta pada dirinya sendiri.
“Mungkin dia tidak normal makanya tidak menyentuhku sedikit pun.” putus Claritta.
“Tapi mengapa dia menikahi diriku? Apa karna dia ingin menutupi penyimpangan seksual yang di deritanya dari publik?” Claritta bertanya-tanya tanpa mengetahui jawabannya.
“Aishh...sudahlah itu bukan urusanku.”
Claritta mengakhiri pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya bekerja dengan ekstra.
Claritta membuka pintu kamar mandi. Dia merasa lapar setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
Claritta memencet telepon yang berada di kamar ini. Dia menghubungi pelayan hotel ini untuk meminta mengantarkan sarapan paginya.
Claritta duduk di sofa sambil menunggu sarapan paginya. Tak sengaja mata Claritta memandang wajah Aslan yang tengah terlelap. Claritta tak dapat menyangkal ketampanan yang Aslan miliki. Wajah yang begitu sempurna bak dewa Yunani. Tak heran jika Aslan menjadi idaman semua wanita. Apalagi di tambah harta kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan yang di miliki olehnya, menambah kesempurnaan yang Aslan miliki.
Tapi sayang semua itu tak berarti jika Aslan mempunyai penyimpangan seksual.
Claritta mengasihi dirinya sendiri yang bisa berakhir menikah dengan seorang Aslan. Tapi Claritta mengambil sisi baiknya, yaitu bisa menjadi nyonya muda keluarga Andromeda. Menjadi nyonya Andromeda adalah impian semua gadis di negara ini.
Tokk...tokk....pintu kamar milik Claritta di ketuk dari luar.
Claritta segera menyudahi lamunan paginya yang entah benar atau tidak. Claritta masa bodo dengan semua ini.
Claritta segera bangkit dari posisi duduknya. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu.
Claritta membuka pintu dan tampaklah seorang pelayan yang sedang membawa troli berisi makanan.
“Sarapan paginya Nyonya.” Kata sang pelayan.
Claritta mengambil satu piring nasi goreng favoritnya dan juga segelas susu hangat sebagai minumnya.
“Terima kasih.” Ucap Claritta.
Claritta membawa makanan tersebut ke dalam kamar. Meletakkan nasi goreng dan juga susu hangat di atas meja.
Claritta melangkahkan kakinya menuju gorden, mengumpulkan kain gorden tersebut menjadi satu lalu menyibaknya secara serentak. Sinar matahari pagi langsung masuk ke dalam kamar ini.
Claritta sengaja membuka gorden lebar-lebar supaya tidur Aslan terusik.
Setelah selesai Claritta kembali melangkahkan kakinya menuju sofa. Dia duduk di sana sambil memakan sarapan paginya. Claritta mengamati Aslan yang mulai terganggu dengan cahaya matahari yang menyilaukan matanya. Claritta tersenyum dan terus memakan sarapan paginya dengan lahap.
Aslan mengumpat dalam hati karna tidurnya terganggu. Kira-kira siapa gerangan yang telah membuka jendela kamarnya di pagi ini.
Mungkin Aslan lupa atau sedang amnesia bahwa dirinya sekarang sudah menikah dan tidur satu kamar dengan istrinya.
“Bangun, dasar pemalas.” cemooh Claritta.
Samar Aslan mendengar ada suara seseorang yang sedang memaki dirinya. Aslan mencoba mendengarkan baik-baik suara itu.
“Bangun, mau sampai kapan kamu tidur terus heh.”
Aslan bertanya-tanya dalam hati. Siapakah seseorang yang sedang ada di kamarnya sepagi ini. Apakah dia adalah bidadari dari kahyangan? Tanya Aslan dalam hati.
Aslan mencoba membuka matanya perlahan-lahan. Rasa kantuk masih menggelayuti matanya. Tetapi Aslan mencoba mengusir rasa kantuk itu.
Hal pertama yang Aslan lihat adalah sosok Claritta yang sedang asyik memakan nasi goreng. Aslan diam. Dia masih berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatannya.
Dan astaga Aslan baru ingat bahwa dirinya sudah menikah dengan Claritta . Aslan juga mengingat bahwa dirinya tadi malam mengatakan tidak akan sudi tidur satu ranjang dengan Claritta. Ini malah dirinya ketiduran dan tertangkap basah ikut tidur satu ranjang dengan Claritta. Betapa malu dirinya pada Claritta. Aslan malu sungguh dirinya malu saat ini.
“Sudah bangun heh. Dasar pemalas.” ulang Claritta lagi.
“Siapa yang pemalas?” tanya Aslan mencoba berkilah.
“Ya kamulah masak setan.” jawab Claritta.
“Sepertinya tadi malam ada yang berkata nggak sudi tidur dengan diriku. Tapi kenapa tengah malam ada yang pindah dari tempat tidurnya dan memeluk diriku sampai pagi datang? Dasar tukang modus.” tukas Claritta.
Setelah berkata seperti itu Claritta menyuapkan lagi nasi goreng ke dalam mulutnya. Dia menatap tajam wajah Aslan.
Aslan diam, dia tidak membantah ucapan Claritta. Dalam hati dia merutuki kebiasaan tidurnya yang lupa waktu. Padahal tadi malam rencananya, sebelum Claritta bangun dia harus bangun lebih dulu dan pindah kembali ke sofa. Namun naas dia malah terlalu pulas dengan tidurnya. Dan bangunnya malah di dahului oleh Claritta. Dasar nasib sial.
“Kenapa diam?” tanya Claritta.
Aslan menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Aslan memandang lekat wajah Claritta. Claritta masih acuh tak acuh. Claritta masih menikmati sarapan paginya.
Aslan bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah Claritta.
“Mana sarapan untukku?” tanya Aslan.
Claritta menautkan kedua alisnya. Claritta heran dengan Aslan yang dengan tidak punya urat malu sedikitpun.
“Pesan saya sendiri. Emangnya aku pembantumu.”
“Pesankan saya makanan sepertimu. Saya mau mandi dulu.”titah Aslan.
Setelah berkata seperti itu, Aslan berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin mandi sekarang.
Claritta mencibir Aslan yang berbuat semaunya sendiri. Claritta mencabut rasa kagum di dalam hatinya terhadap Aslan. Sekarang Claritta benar-benar tidak sudi menjadi Nyonya Andromeda jika diperlakukan seperti ini.
Dengan perasaan yang jengkel Claritta tetap memesankan sarapan pagi untuk Aslan. Biar bagaimanapun juga Aslan adalah suaminya dan tugas istri adalah melayani suami. Hal itulah yang sekarang tertanam dipikiran Claritta.
Aslan keluar dari kamar mandi. Aslan merasa badannya jauh lebih segar sekarang. Aslan mengusap kepalanya dengan handuk. Mengeringkan rambutnya yang basah.
Hidung Aslan mencium bau harum nasi goreng di meja. Hati Aslan menghangat dengan ini. Tadi Aslan berpikir bahwa Claritta tidak menuruti ucapannya. Tetapi Aslan salah ternyata Claritta bisa patuh kepada dirinya.
Aslan melihat Claritta yang sedang asyik membaca majalah mode ditangannya. Aslan geleng kepala dengan penampilan Claritta yang berantakan. Walaupun penampilan Claritta berantakan tetapi Claritta tetap terlihat cantik dan seksi.
Aslan melemparkan handuk bekas rambutnya ke arah Claritta.
“Mandilah.” Titah Aslan.
Claritta kaget karna lemparan handuk dari Aslan. Claritta mengumpat kepada Aslan yang mengganggu konsentrasinya.
“Mandi atau tidak mandi itu urusanku.” teriak Claritta.
Aslan mengangkat sebelah alisnya.
“Kamu malas mandikan? Aku tak menyangka super model yang terkenal di seluruh dunia ini ternyata mempunyai hobby malas mandi.” kekeh Aslan.
“Itu bukan urusanmu.” Jawab Claritta.
Claritta mendengus. Sungguh paginya kali ini benar-benar rusak karna seorang Aslan. Claritta benar-benar merasa sial karna telah menjadi istri menyebalkan seperti Aslan.
“Sudahlah cepat mandi sana.”ucap Aslan.
“Setelah mandi bersiap-siaplah kita akan pulang hari ini juga.” Imbuh Aslan.
Belum sempat Claritta menjawab, Aslan sudah mendorong Claritta untuk masuk ke dalam kamar mandi.