Pagi itu, aroma bawang putih yang ditumis menyebar ke seluruh rumah kecil yang terletak di sudut gang sempit kawasan padat penduduk di Jakarta Timur. Rani berdiri di dapur, mengenakan daster lusuh berwarna ungu pucat, rambutnya diikat asal dengan jepitan plastik. Di wajan, tumisan kangkung yang dibeli semalam mulai layu, suara mendesisnya berpadu dengan keluhan hati yang tak berani ia suarakan.
Dimas duduk di ruang tamu, kaki disilangkan, matanya terpaku pada layar ponsel. Sesekali ia tertawa kecil melihat meme lucu, tak peduli bahwa istrinya yang baru bangun subuh sudah sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak mereka yang akan sekolah TK hari ini.
"Mi, sarapannya nasi sama tumis kangkung aja ya. Lauknya telur dadar. Ayamnya udah habis dari kemarin," ujar Rani, setengah meminta maaf.
Dimas tak menoleh, hanya mengangguk kecil. "Iya. Nggak usah yang ribet. Yang penting kenyang."
Rani menahan napasnya. Iya, kamu memang selalu kenyang. Tapi aku? Batinnya berteriak, tapi bibirnya tetap diam. Ia melanjutkan masak, memecahkan dua butir telur ke dalam mangkuk plastik yang retaknya nyaris menyentuh dasar.
Setelah sarapan, Dimas bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ia bekerja sebagai staf administrasi di kantor ekspedisi milik temannya. Gajinya tak besar, tapi cukup untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Setidaknya, cukup menurut versinya sendiri. Karena ia selalu merasa cukup hanya dengan memberi Rani uang dua puluh lima ribu rupiah setiap pagi.
Dimas masuk ke dapur, membuka dompetnya yang mulai mengelupas, lalu menyodorkan selembar uang lusuh kepada istrinya. "Nih. Dua lima ribu. Beli sayur sama lauk, sekalian jajanan Aira kalo bisa."
Rani menyambut uang itu tanpa ekspresi. Tangannya refleks mengambilnya, tapi hatinya menolak. Dua puluh lima ribu? Setiap hari angka yang sama. Nggak pernah berubah, nggak pernah ditambah. Emangnya harga di pasar tetap segitu terus?
"Jangan ngeluh ya. Kamu ini jago banget ngatur uang. Makanya aku percaya," tambah Dimas, seolah-olah kalimat itu adalah pujian.
Rani hanya tersenyum kaku. Pujian apa ini? Pujian atau lelucon? pikirnya, sambil menggenggam uang itu erat-erat. Di luar, suara tukang sayur sudah mulai terdengar. Ia tahu, harga bawang merah naik. Minyak goreng pun tak bisa beli setengah liter lagi, harus botolan. Tapi Dimas seolah tak pernah mau tahu soal itu.
"Yaudah, aku berangkat. Jangan lupa jemput Aira jam sebelas," kata Dimas, menyambar tas kerjanya dan melangkah pergi tanpa menoleh. Rani berdiri mematung di ambang pintu, memandangi punggung suaminya yang menjauh.
Setelah suara sepeda motor menghilang, Rani kembali masuk ke dalam rumah. Ia duduk di lantai dapur, punggungnya bersandar pada kulkas kecil yang tak lagi dingin. Ia menatap uang di tangannya-lembaran yang selalu sama, nominal yang tak pernah berubah. Seolah itulah nilai hidupnya di mata Dimas.
"Cih... uang segini?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. "Buat beli bedak aja nggak cukup, apalagi buat kelihatan cantik di depanmu."
Dulu, sebelum menikah, Dimas adalah pria yang manis dan penuh perhatian. Ia membelikan Rani bunga di hari ulang tahunnya, membawanya makan mie ayam di warung favorit, dan sesekali mengirim pesan romantis yang membuat pipinya memerah. Tapi semua itu berubah setelah mereka menikah.
Rani tahu rumah tangga tak akan selalu indah. Tapi ia tak menyangka, akan begini sunyinya. Tak ada tempat bercerita, tak ada bahu untuk bersandar, hanya ada suara hati yang terus menjerit dalam diam.
Ia membuka dompet kecilnya-isinya hanya beberapa receh dan nota belanja dari hari-hari sebelumnya. Setiap rupiah dihitung, setiap lembar uang dicatat. Tapi tetap saja, rasanya seperti berjuang sendiri dalam kapal yang perlahan-lahan bocor. Dan Dimas? Ia bahkan tidak sadar bahwa air sudah mulai masuk ke dalam kapal mereka.
Rani melirik ke cermin kecil di dinding dapur. Wajahnya pucat, matanya sayu. Garis halus mulai tampak di sudut matanya. Dulu kamu bilang aku cantik tanpa riasan. Tapi sekarang? Kamu bahkan tak pernah melihatku dua detik penuh.
Ia berdiri, mengambil tas belanjanya yang mulai sobek di bagian bawah, lalu keluar rumah. Langkahnya pelan, lelah. Tapi ia tetap berjalan, seperti biasa. Karena ia tahu, tak ada yang akan mengurus rumah ini selain dirinya.
Di pasar kecil dekat rumah, ia memilih sayur dengan teliti. Harga bayam naik. Tomat mahal. Ia akhirnya membeli dua ikat kangkung, sebutir tahu, dan telur. Sisanya ia sisihkan untuk jajanan Aira sepulang sekolah.
"Dua puluh lima ribu, Bu?" tanya ibu penjual dengan nada tak yakin. "Mau saya kurangin tahunya?"
Rani tersenyum kecil. "Enggak usah, Bu. Saya cari kembalian di dompet."
Begitulah setiap hari. Ia bernegosiasi dengan penjual, dengan dompetnya, dan dengan hatinya sendiri. Tapi yang paling melelahkan adalah bernegosiasi dengan harapannya yang perlahan-lahan mulai padam.
Rani pulang membawa belanjaan seadanya, wajahnya tak lagi menampakkan lelah, hanya kehampaan. Dan di dalam hatinya, ada satu kalimat yang terus menggema-sampai kapan harus bertahan begini?
Pukul sebelas siang, panas matahari memantul di jalanan berdebu saat Rani berdiri di depan gerbang TK, menanti Aira yang sedang menari-nari di dalam kelas. Rambut anak itu diikat dua, pipinya merah karena berlari, tapi senyumnya membuat hati Rani mencair, meski hanya sejenak.
"Aira lari ya, Bu!" seru putrinya ceria saat bel pulang berbunyi.
Rani menyambutnya dengan senyum lelah. "Iya, tapi jangan terlalu kencang, nanti jatuh."
Aira mengangguk lalu menggenggam tangan ibunya, seperti biasa. Tapi hari itu, Rani tak langsung mengajak pulang. Ia mengajak Aira mampir ke warung kecil di ujung gang, membelikan anaknya es lilin rasa melon seharga seribu lima ratus. Sisanya hanya cukup untuk sebungkus kerupuk kecil.
"Besok kita beli kue yang kamu suka, ya," katanya, setengah berbohong.
Setibanya di rumah, Rani menyuapi Aira makan siang, menidurkannya, lalu duduk di sudut ruang tamu dengan ponsel di tangan. Layarnya retak, baterainya boros. Tapi ia tetap membuka galeri, melihat foto-foto lama. Ada satu yang membuat hatinya nyeri: fotonya dan Dimas saat tunangan. Wajah mereka terlihat muda, penuh harapan.
Kemana semua itu sekarang?
Baru saja ia hendak menutup galeri, muncul pesan WhatsApp masuk dari nomor lama yang entah kenapa belum ia blok: Reza (Kerja Dulu).
"Ran, aku denger kamu tinggal di Cipinang? Gue lagi buka cabang toko roti di sana. Boleh mampir, kan?"
Rani terdiam. Nama itu menghantam memorinya seperti gelombang pasang yang tak diundang. Reza-mantan rekan kerja yang dulu pernah dekat dengannya. Terlalu dekat. Tapi Rani memilih Dimas karena saat itu Dimas datang dengan niat serius. Reza terlalu penuh mimpi, terlalu bebas. Tapi sekarang?
Ia meletakkan ponsel. Tidak membalas. Tidak berani.
Tapi otaknya terus berpikir. Apakah kabar itu benar? Apakah Reza benar-benar ada di sekitar sini? Lalu kenapa hatinya tiba-tiba berdetak tak karuan hanya karena satu pesan?
Menjelang sore, Dimas pulang. Wajahnya lelah, tapi tak sepatah kata pun ia ucapkan soal kerjaannya. Ia langsung duduk, melepas sepatu, lalu membuka ponsel. Seperti biasa.
"Minumannya di meja," kata Rani, berusaha terdengar biasa saja.
"Hm," sahut Dimas tanpa menoleh.
Rani diam. Menatap laki-laki itu lama. Betapa asingnya ia sekarang. Mereka sudah tiga tahun menikah, tapi entah sejak kapan, pelukan terakhir, sentuhan terakhir, dan bahkan tawa terakhir terasa seperti kenangan dari kehidupan yang berbeda.
"Dim, aku mau tanya sesuatu," ucap Rani akhirnya.
"Hm?" Dimas masih fokus pada layar ponselnya.
"Kalau... aku mau buka warung kecil di depan rumah, kamu bolehin?"
Kali ini Dimas menoleh, tapi dengan dahi mengernyit. "Warung? Buat apa? Repot. Nanti kamu capek."
"Aku nggak apa-apa capek. Biar bisa bantu nambah penghasilan."
"Ngapain sih, Ran? Kan aku udah cukupin semua. Tiap hari kamu dikasih uang belanja, rumah juga ada, Aira sekolah... kamu kurang apa?"
Rani menahan napas. Matanya mulai panas. Apa? Aku kurang apa? Rasanya seperti ditampar.
"Cuma... aku pengin bisa punya uang sendiri. Beli bedak, beli kerudung. Aku malu, Dim, kalau ketemu tetangga bajuku cuma itu-itu terus..."
Dimas mengangkat tangan, seolah menyetop omongan itu. "Udahlah, Ran. Jangan lebay. Kamu tuh istri, tugas kamu ngurus rumah. Bukan jualan."
Rani menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak di dadanya yang hampir meledak. Tapi ia tahu, tak ada gunanya berdebat. Dimas tak akan mendengar. Tak akan mengerti.
Malam itu, setelah Aira tidur, Rani kembali membuka pesan dari Reza. Masih belum dibalas. Tapi hatinya sudah mulai goyah. Bukan karena ia ingin kembali pada masa lalu, bukan karena ia ingin membuka luka lama-tapi karena ia rindu didengar. Rindu dihargai. Rindu menjadi versi dirinya yang dulu pernah ceria.
Ia mengetik pelan.
"Iya, aku tinggal di Cipinang. Selamat ya, udah buka toko."
Lalu ia tekan kirim.
Dan detik itu juga, sesuatu yang selama ini ia tahan mulai retak. Bukan karena ingin selingkuh, tapi karena ia merasa sendirian dalam pernikahan yang seharusnya jadi tempat pulang.
Di luar kamar, kipas angin tua berderit pelan. Dan di dalam hati Rani, ada pertanyaan baru yang muncul-apakah salah merindukan perhatian dari seseorang yang bukan suami sendiri... jika suaminya bahkan tak peduli ia masih merasa hidup atau tidak?
Pagi itu, udara Cipinang masih dingin saat Rani duduk di beranda, menggenggam cangkir teh yang tak lagi hangat. Matanya sembab. Ia tidak tidur semalaman. Bukan karena Reza, bukan karena pesan singkat yang dibalas itu... tapi karena Dimas tak pulang.
Tanpa kabar.
Tanpa pesan.
Tanpa peduli.
Sudah tiga tahun menikah, tapi setiap malam seperti ini, Rani masih bertanya-tanya: apakah aku ini istri atau cuma pengurus rumah tangga?
"Bu... ayah ke mana?" tanya Aira polos dari balik pintu. Rambutnya acak-acakan, matanya masih setengah mengantuk.
"Lagi lembur, Sayang," jawab Rani cepat, menahan suara bergetar.
Padahal bahkan ponselnya tak bisa dihubungi. Sejak semalam.
Setelah mengantar Aira ke sekolah, Rani berjalan pelan menyusuri gang kecil menuju minimarket. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat toko baru yang sedang direnovasi. Plang besar tergantung di atasnya bertuliskan:
"ROTI KLASIK - Cabang Cipinang"
Dan di depannya... berdiri sosok yang tak asing.
Reza.
Masih sama seperti dulu. Senyumnya tenang, rambutnya sedikit lebih panjang, dan posturnya masih tinggi seperti yang ia ingat. Tapi kali ini, ia memakai baju kerja rapi, berbicara dengan karyawan sambil menunjuk-nunjuk desain interior. Laki-laki itu terlihat... berhasil.
"Rani?"
Suaranya membuat tubuh Rani menegang.
Ia menoleh. Pelan.
"Reza..."
Mereka saling menatap beberapa detik. Waktu seolah berhenti.
"Kamu makin kurus, ya," ucap Reza pelan.
Rani tersenyum kaku. "Kamu berubah banyak. Toko ini punyamu?"
Reza mengangguk. "Aku partner. Bukan punya sendiri, tapi aku yang urus cabang sini."
Rani menunduk. "Wah... selamat ya. Kamu berhasil."
Reza menatap Rani dengan mata yang hangat-mata yang dulu pernah jadi tempatnya bercerita, menangis, tertawa. "Aku nggak lupa kamu yang dulu percaya aku bisa."
Jantung Rani berdegup pelan. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang menusuk hatinya. Ia rindu seseorang yang percaya padanya... dan seseorang yang bisa ia percaya.
"Kamu gimana? Bahagia?" tanya Reza akhirnya.
Pertanyaan itu sederhana, tapi Rani tak tahu harus menjawab apa. Bahagia? Apa itu masih bisa didefinisikan?
Ia hanya berkata, "Aira sehat. Dimas kerja. Semua berjalan."
Reza mengangguk, tapi ekspresinya mengatakan ia tahu: Rani tidak benar-benar baik-baik saja.
"Kalau sempat... mampirlah. Ada tempat duduk di dalam. Aku pengin ngobrol, kayak dulu."
Rani tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan lalu berpaling, melanjutkan langkahnya yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Malamnya, Dimas akhirnya pulang. Pukul sebelas lewat dua puluh. Bau parfum wanita melekat samar di kerah bajunya. Rani melihatnya dari balik dapur, jantungnya dingin.
"Kamu ke mana?" tanyanya pelan saat Dimas mengganti baju.
"Lembur," jawab Dimas singkat.
"Kenapa nggak kabarin?"
"Lagi sibuk. Jangan ribet, Ran. Udah gede harus ngerti keadaan."
Rani menggenggam tangan di balik punggungnya. "Aku bukan minta banyak, Dim. Cuma satu kabar. Satu pesan. Aku cuma istrimu, bukan pembantumu yang harus nebak-nebak."
Dimas menoleh tajam. "Kamu mulai banyak nuntut ya. Jangan bawa-bawa status istri segala. Aku yang cari uang, kamu tinggal jaga rumah. Simple kan?"
Rani tertawa getir. "Simple buat kamu. Karena kamu nggak tahu rasanya sendirian nunggu seseorang yang bahkan nggak peduli kamu tidur atau tidak."
Dimas menatap Rani lama, sebelum akhirnya membuang muka. "Aku capek. Nggak mau ribut malam-malam."
Lalu masuk kamar. Menutup pintu. Meninggalkan Rani berdiri di dapur, dengan air mata yang jatuh diam-diam ke lantai.
Dua hari berlalu. Dan hari ketiga, Rani datang ke toko Reza.
Ia berdiri di depan pintu kaca yang bersih dan rapi. Interior toko wangi dengan aroma roti baru matang. Musik jazz mengalun pelan. Reza sedang duduk, membaca sesuatu di laptop. Tapi saat melihat Rani masuk, ia langsung berdiri.
"Ran."
Rani hanya tersenyum, duduk pelan di bangku dekat jendela.
"Kamu sendirian?" tanya Reza.
Rani mengangguk. "Aira sekolah. Dimas kerja."
"Dan kamu?"
Rani menarik napas dalam-dalam. "Aku capek, Za. Capek banget."
Reza tak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sebelahnya, memberi ruang, memberi waktu. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat air mata Rani jatuh.
Tanpa suara.
Tanpa drama.
Tapi penuh luka.
"Aku nggak pengin selingkuh, Za," katanya pelan. "Tapi aku juga manusia. Aku cuma pengin ngerasain dicintai lagi. Didengar. Dianggap penting."
Reza menatapnya lama. "Aku tahu. Dan kamu nggak salah karena merasa begitu."
Rani mengangguk pelan. Ia tahu ia sedang berdiri di ujung tebing. Dan satu langkah ke depan bisa menghancurkan segalanya. Tapi diam di tempat pun terasa makin menyakitkan.
Di luar, hujan mulai turun. Tapi di dalam hati Rani, badai sudah lebih dulu datang. Dan untuk pertama kalinya, ia tak lagi yakin ingin berteduh di rumah yang sama... jika rumah itu tak lagi membuatnya merasa pulang.