Bab 2

Pagi pagi Ziana berangkat kekampus seperti biasanya, dan saat tib di kampus dirinya di hadang oleh beberapa orang  yang sangat membencinya.

Sebab Ziana di kampus banyak yang menyukainya, salah satunya adalah Aldo cowok yang banyak di gandrungi oleh cewek-cewek di kampusnya.

Tetapi tidak untuk Ziana yang memperlakukan Aldo biasa saja, dan tak ada rasa tertarik.

"Hei! Jalang berhenti luh, gue mau ngomong sama luh." tahan beberapa wanita yang di tujukan kepada Ziana.

Ziana tetap berjalan karena mengira bukan dirinya yang di maksud, karena mereka memanggil jalang, sedangkan dirinya bukan jalang.

Wanita yang bernama Ambar langsung mencekal tangan Zia karena tak berhenti, "Hei gue manggil elu, kok luh gak berhenti sih." kata Ambar ketika sudah, mencekal tangan Ziana.

Ziana mengernyitkan kening nya bingung karena dengan jelas dirinya tadi mendengar kalau teman nya memanggil nama jalang. Apakah artinya dirinya yang di maksud? Ah.... Ziana terkejut karena baru paham.

"Apa luh bilang tadi? Jalang! Jadi maksud luh, gue ini jalang ya? Berarti kalau gue jalang luh apa dong?" sarkas Ziana tak tinggal diam.

Ambar tak terima di bandingkan dengan  dirinya, yang jelas jelas dirinya mengira jauh di atas Zia.

Ambar mengangkat tangannya ingin menampar Zia, tetapi sebuah suara menghentikan niatnya itu.

Ya tiba tiba Aldo datang  memanggil Zia untuk ikut dengannya "Zia luh sudah datang ya? Yuk luh ikut gue sekarang." ajak Aldo pergi meninggalkan Ambar.

Ambar yang melihat Zia pergi bersama lelaki yang di incar nya bertambah sakit hati dan benci kepada zia.

"Sialan! Tu perempuan lihat aja akan ku buat hidup loh dalam kesengsaraan." sumpah Ambar yang benci terhadap Zia.

"Lepas, ih.... Apaan sih kamu main tarik-tarik main pergi aja." kata Zia sambil menghempaskan tangan Aldo yang menarik tangan Zia.

Aldo melihat kearah tangannya yang di hempaskan secara kasar oleh Zia "Dih dasar gak tau terima kasih banget kamu." kata Aldo kasar kepada Zia.

"Kalau gak ada aku yang tolongin kamu tadi, luh udah di gampar sama si Ambar." sambung Aldo lagi memperjelas.

Zia hanya acuh dan tak terlalu peduli, toh kalau seandainya tadi dia di gampar dia bisa balas kalau rasanya sakit, begitu pikir Zia.

Zia langsung pergi tanpa berterima kasih kepada Aldo, Aldo yang di perlakuan seperti tak di anggap merasa geram.

"Awas luh akan ku buat kamu bertekuk lutut di depanku." kata Aldo pada dirinya sendiri.

Ambar berjalan dengan lunglai masuk kedalam rumah tantenya, yaitu rumah Andreas Jhonson tepatnya rumah orang tuanya.

Alifa yang kebetulan lagi bersantai di rumahnya melihat sepupunya masuk kedalam rumahnya dengan muka kusut nya "Kenapa tuh muka, kayak baju yang kusut aja." tanya Alifa.

Ambar berdecak malas kepada Alifa "ck! Ini semua karena teman luh ni, yang sok kecantikan dan sok pemes itu, huh!" jawab Ambar dengan malas.

"Teman aku? Siapa?? Gak ada deh." balas Alifa

"Ya elaaah jadi Zia bukan temen eluh ya? Pada hal gue biasa lihat luh sama dia kok." kata Ambar memastikan.

Alifa memutar bola matanya malas kemudian berdecak kepada sepupunya itu "ck! jangan luh kira gue biasa bareng dia luh sudah bilang gue temanan sama dia, gue ya cuma biasa aja kok sama dia! Gak lebih." balas Alifa.

"Kenapa? Seperti itu, gue kira luh soulmate sama tuh si Zia, ternyata gak ya." kata Ambar lagi.

Alifa hanya mengangguk setuju akan perkataan Ambar.

Mereka pun terdiam tak ada yang  berbicara lagi, Alifa sibuk akan benda pipih yang di pegang untuk memasuki dunia online sosmed.

Sedangkan Ambar sibuk memikirkan bagaimana cara memberi pelajaran kepada Zia gadis kampung yang tak pantas ada di sekitarnya.

Di saat Ambar sibuk memikirkan cara bagaimana cara memberi kan pelajaran kepada Zia, tiba-tiba saja muncul ide gila untuk melancarkan aksinya "Ahaaa aku dapat ide dan pastinya ini akan berhasil, iya pasti berhasil." monolog Ambar kepada dirinya sendiri.

Alifa yang ada di samping nya hanya miliriknya sekilas tanpa berniat untuk ikutan dalam urusan sepupunya itu pikirkan.

"Fa, emm kak Andreas di mana? Aku ada perlu nih sama dia penting banget!" kata Ambar bertanya.

"Mana aku tau, kak Andreas ada di mana? Lagian dia bukan anak kecil kok yang kalau mau pergi harus laporan dulu." jawab Alifa panjang lebar.

Ambar hanya mencebik kan bibirnya ketika mendengar jawaban panjang sepupunya yang tak mau di ajak kompromi itu.

"Huh! Ni anak di tanya baik-baik jawabnya panjang banget, udah kayak protokol upacara aja." balas Ambar.

Alifa tak menjawabnya dirinya sibuk mendengarkan musik dari dalam ponselnya melalui earphone.

Alifa memilih acuh kepada Ambar karena dirinya sudah tah bagaimana watak dari Ambar sepupunya itu.

Ambar yang melihat dirinya hanya di cuekin oleh Alifa, memilih pergi meninggalkan Alifa sendiri, Ambar memutuskan untuk pergi kekantor kakak sepupunya yaitu Andreas.

Kini Ambar telah sampai di perusahaan kakak sepupunya, dirinya masuk kedalam dan tanpa harus melapor ke lobby terlebih dahulu, dirinya langsung saja masuk kedalam berjalan terus menaiki lift menuju ke ruangan kakak sepupunya itu di lantai 8 ruangan CEO.

Tanpa mengetuk pintu Ambar masuk ke dalam "Hai kakak sepupuku yang tampan? Apa kabar nih?" sapa Ambar basa basi dan langsung duduk di atas pangkuan Andreas.

Andreas hanya berdehem dan melihat kearah adik sepupunya ini "hemmm ada apa? kamu datang kemari." tanya Andreas.

Cup... Ambar langsung mengecup sudut bibir Andreas kemudian turun dari pangkuan kakak sepupunya itu, karena apa yang dirinya ingin sudah terpenuhi.

Ya walau Ambar belum memberi tahu kan apa yang dirinya inginkan, baginya sudah karena dengan bertanya nya Andreas itu sama saja iya.

"Aku ingin kakak menghukum seorang gadis kak, karena gadis itu sudah merebut kekasihku." pinta Ambar manja kepada Andreas.

"Gadis? Dia masih seorang gadis?" tanya Andreas dengan kening mengkerut dalam.

"Entahlah dia masih gadis atau tidak yang jelas aku ingin kamu menghukum nya kak, karena dia telah merebut kekasihku." jawab Ambar.

Tak selang berapa lama Ambar melanjutkan perkataannya "entah apa yang gadis itu berikan kepada kekasihku, sehingga dia berpaling dari aku? Apa mungkin dia memberikan tubuhnya ya? Bisa jadikan." sambung Ambar yang berpura-pura berpikir serta sedih, demi menarik simpati dari kakak sepupunya.

"Baiklah aku akan membantu kamu tapi kamu harus mencarikan aku teman kencan buat nanti weekend, hmmm teman kamu juga boleh." kata Andreas menyanggupi permintaan sepupunya itu.

"Benarkah?? Baiklah dengan  senang hati mereka teman temanku mau jika berkencan dengan cowok seperti kamu kak." balas Ambar antusias.

"Oke, kita deal ya. Ingat kamu carikan teman kamu yang paling cantik dan sexi ya untuk weekend minggu depan ini." kata Andreas.

Ambar mengangguk semangat, dan langsung berpamitan pulang, tetapi sebelum nya dirinya mengirimkan sebuah foto seorang gadis, yaitu target utama nya yang tadi yang dirinya bicarakan bersama Andreas.

"Oh ya aku sudah kirim foto gadis itu dan alamat apartemen nya, terserah kak Andreas mau apakan dia, karena dia milikmu." kata Ambar sambil mengedip kan matanya sebelah.

Ambar pamit kepada Andreas dengan maju dan mencium bibir Andreas melumat nya sebentar kemudian selesai.

Ya Ambar sebenarnya sangat tergila gila kepada Andreas, tetapi dia urung bersama Andreas, karena Andreas bila bercinta sangatlah kasar dan gila.

Ya dirinya pernah sekali bercinta bersama dengan Andreas dan itu merupakan yang terakhir baginya juga.

Seperginya Ambar, Andreas terus memandangi foto yang di kirim olehnya tadi, Andreas tersenyum memandangi foto tersebut karena gadis yang di maksud sepupunya itu sangat cantik dan manis hanya saja kurang terawat.

Tetapi Bagi Andreas tak masalah di poles sedikit maka kecantikan nya akan terlihat bahkan sangat cantik, begitu pikir Andreas.

Akhirnya tanpa menunggu lama Andreas langsung bergegas ke kampus gadis tersebut, yang tertanya satu kampus dengan adiknya juga.

Andreas terus memandangi 1/1 gadis-gadis yang melintas, memandangi dan meneliti setiap yang lewat.

Sampai target yang dia incar muncul dari dalam kampus dan hendak keluar, tetapi gadis tersebut di cekal oleh seorang lelaki.

"Huh! Rupanya benar kamu seorang jalang." sarkas Andreas yang meyakinkan dirinya sendiri.

Andreas tak tinggal diam dirinya terus mengikuti kemana perginya mereka, sampai di sebuah parkiran apartemen.

Sedangkan Ziana yang di bawa paksa oleh Aldo untuk ikut dengan nya, sampai di sebuah parkiran apartemen Ziana ingin berlari tetapi terlambat karena Aldo lebih gesit dari dirinya.

Ziana terpojok dan Aldo langsung melakukan aksinya, mencium dengan paksa serta menyobek bajunya dan dengan paksa dirinya ingin menyeret Ziana naik ke apartemen nya.

Andreas yang tak tahan melihat nya dirinya langsung turun dari mobil dan langsung mencekal Aldo.

Aldo tak terima dirinya di halangi karena inilah momen yang dia tunggu-tunggu, dirinya ingin menaklukkan Ziana agar Ziana bisa menjadi miliknya seutuhnya begitu niat Aldo.

Tetapi semuanya sirna karena kehadiran orang yang tak di kenal yang sebenarnya juga mengincar gadis yang sama yaitu Ziana atau biasa di panggil Zia.

"Siapa kamu, hah! Beraninya ikut campur dia itu gadisku jadi terserah aku mau ngapain aja sama dia." kata Aldo terkejut karena mendapatkan bogem mentah.

"Huh! Gadismu? Jangan mimpi kamu, jika dia beneran gadismu pasti dia tidak akan menolak untuk kamu sentuh." balas Andreas dengan tenang.

Sedangkan Zia hanya mengangguk setuju akan apa yang di katakan Andreas.

Tanpa di suruh Zia langsung berlari dan naik ke mobil yang di remot oleh Andreas, Zia tak sadar kalau dirinya lepas dari kandang macan masuk ke kandang buaya.

Sedangkan Andreas dia berduel bersama Aldo, Andreas menghajar Aldo sampai babak belur dan meninggalkan nya begitu saja.

Andreas berjalan masuk kedalam mobilnya tanpa sadar Andreas tersenyum smirk karena melihat buruannya terperangkap dengan sendirinya.

'Huh kena kamu gadis malang.'

Andreas membatin sambil melihat kearah Zia kemudian langsung melajukan mobilnya.

Bersambung--

Bab 3

Andreas melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata, di antara mereka tak ada yang berbicara sampai Zia yang memulai.

"Terima kasih tuan, terima kasih banyak karena anda telah menolong saya." kata Zia tulus.

Tetapi Andreas menanggapinya dengan smirk yang sulit untuk di artikan, Andreas terus menatap kedepan tanpa menghiraukan apa yang di katakan oleh gadis yang di samping nya.

Zia berbicara lagi kepada Andreas "tolong bawa aku kekampus kembali, nanti dari sana biar aku pulang sendirian." katanya lagi tetapi tetap tak mendapatkan tanggapan dari orang yang di temaninya berbicara.

Andreas tetap menjalankan mobilnya sesuai kehendaknya dan kemana yang dia ingin kan, sampai di sebuah rumah yang terbilang mewah tetapi jauh dari pemukiman dan kota.

Zia takut sangat ketakutan karena dirinya di bawa pergi jauh sampai di tempat yang tak dia ketahui.

"Ii ini di mana? Kenapa kk ka kamu tak membawaku kekampus sa..... " perkataan Zia terhenti karena sudah Andreas dengan cepat menimpali nya, "Kamu siapa? Hah yang memerintah ku." timpal Andreas dengan suara dinginnya.

Deg! Jantung Zia berdetak kencang karena dirinya tak mengira kalau akan masuk kekandang Biaya, ibarat lepas dari kandang macan masuk kekandang buaya.

Tak terasa air mata Zia mengalir dari pelupuk matanya, karena meratapi nasibnya "tt tolong ba bawa aku pulang, aa aku takut." lagi kata Zia dengan terbata bata bercampur takut.

Andreas hanya meliriknya dengan sekilas, "Ayo turun atau kamu mau aku yang menyeret mu turun dari sini." respon Andreas dingin.

Bertambah takut lah Zia karena kali ini dirinya pasti tak akan selamat dari bahaya, karena hanya ada mereka berdua saja di tempat ini.

Kesabaran Andreas telah habis dirinya segera turun dan menyeret Zia keluar dari mobilnya kemudian masuk kedalam Mansionnya.

Zia berteriak dengan kencang berharap ada yang mendengar nya dan mau menolongnya dari cengkraman lekaki gila yang tak di kenalnya itu.

"Tolong! Tolong! Seseorang ku mohon tolong......." teriak Zia tetapi tak ada yang mengguris nya.

Andreas menghempaskan tubuh rapuh Zia keatas ranjang king zisenya, kemudian mengungkunya sambil mulumat paksa bibir Zia yang sejak tadi menggodanya ingin mencicipinya.

"Hmm ehmm hmm, ku mohon lep--as" mohon Zia tetapi Andreas tak menghiraukan nya.

Andreas terus melumat dengan kasar bibir manis Zia, Andreas menggeram tertahan karena rasanya memang sangat nikmat.

"Sial! Ternyata gadis ini memang benar benar memabukkan pantas saja Ambar begitu cemburu kepadanya." monolognya dalam hati.

"Ku mohon lep paskan aku, aku gak punya salah apa apa sama kamu! Kenapa kamu berbuat begini kepada ku?" mohon Zia tetapi lagi-lagi Andreas hanya tersenyum smirk yang sulit untuk di artikan.

Andreas tak tahan dirinya langsung menggendong ala karung beras, kemudian pergi menuju kamar utama di Mansion ini.

Ya baru berciuman saja Andreas sudah sangat bergairah, dan sangat horny apalagi jika Andreas melihat aset penting Zia.

Andreas langsung membuang Zia begitu saja di atas kasur yang empuk dan berukuran king disebut, ketika sudah berada di kamar yang biasa dirinya tempati.

Brukh.... Tubuh Zia di lempar bak karung beras di atas kasur yang empuk.

Zia terus  memundurkan tubuhnya untuk menghindari serangan Andreas, tetapi sia-sia karena Andreas dengan cepat menarik kaki Zia kemudian dirinya langsung menyerang Zia seperti singah yang lapar.

Andreas merobek paksa baju zia kemudian melumat kembali bibirnya, setelah itu rok yang di kenalan Zia pun di sobek paksa oleh Andreas.

Kini Zia telah tak berpakaian sehelai benang pun, ya kini tubuh Zia sudah dalam keadaan polos, dan hal itu sukses membuat juniornya Andreas berdiri dengan tegak siap tempur.

Tanpa melakukan powerplay Andreas langsung menerobos gawang Zia tetapi sulit.

Sekali.....

Dua kali....

Sampai ke tiga kalinya, Andreas belum bisa menembus gawang Zia.

Andreas merutuki dirinya karena na*sunya sudah di ubun-ubun "shitt kenapa bisa meleset sih? Eh tunggu dulu apa mungkin gadis ini masih? Gak gak mungkin." rutuk Andreas.

Zia hanya menangis karena melawan pun percuma, sebab dirinya sudah kehabisan tenaga dan terkulai lemes, akibat serangan Andreas yang membabi buta kepada tubuhnya.

Andreas melakukannya lagi dirinya penasaran apakah benar gadis ini masih vi**gin ataukah sama seperti para jalangnya.

Dengan lirih dan menahan rasa sakit yang teramat Zia memohon kepada Andreas untuk di hentikan "kk ku mohon hentikan! Ii ini sssttt ssa sangat sakit."

Tetapi lagi-lagi percuma karena Andreas malah bertambah semangat, untuk menaklukkan buruan nya kali ini.

"Jangan berharap sayang, sekarang kamu milikku, nanti setelah aku bosan barulah aku akan membuangmu." kata Andreas sadis dan bertambah sakit lah di sekujur tubuh Zia.

Berkali-kali Andreas coba akhirnya dengan sekuat tenaga, akhirnya Andreas bisa menembus gawang Zia.

Yang membuat Zia memekik tertahan "akkkhh ssst ssa sakit." dan air matanya mengalir bertambah deras.

Zia menangisi takdirnya hidupnya yang sangat sial dan buruk, zia mencaci maki dirinya ketika dirinya mulai terbawa oleh permainan Andreas.

Tanpa sadar dirinya melenguh dan mendesis "aahhhh.... Ssssttt." suara desahan laknat yang di sesalkan oleh Zia.

"Akhhh.... ternyata kamu nikmat banget baby, sangat nikmat dan ternyata kamu masih vi**gin." racau Andreas bahagia karena dirinya baru merasakan bermain dengan seorang pera**n.

Sedangkan Zia terus memohon untuk di hentikan karena dirinya benar-benar sudah tak sanggup "tt tolong hentikan!" pinta Zia dan akhirnya pingsan.

Andreas yang mendengar masih tak menghiraukan nya dan masih terus memompa tubuh lemah di bawah kungkungan nya.

Sadar tak ada suara isak tangis Andreas melihat kearah bawah dan "sial lagi enak-enaknya malah pingsan nih orang." rutuk Andreas yang menambah tempo genjotan nya dan tak lama "aaahhhhh....... Nikmat sungguh nikmat." racau Andreas mendesah panjang.

Setelah mendapatkan pelepasannya Andreas turun dari tubuh Zia, dia menyelimuti tubuhnya dan dirinya bergegas kekamar mandi.

*

*

*

Ambar berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, dirinya begitu gelisah dan khawatir.

Karena tak ada kabar dari sepupunya Andreas, yang dirinya dapat kabar dari Aldo yang tengah mengajak paksa Ziana pergi kesuatu tempat.

"Sial! Andreas di mana kamu? Kenapa kamu sangat susah di hubungi, huh!." monolog Ambar resah.

Ambar tak tahu kalau Andreas sudah bersama Zia bakan sudah memporak-porandakan Zia sampai dalam keadaan tidak sadar.

Ambar memutuskan untuk menchat Alifa, mencari tau keberadaan Andreas, siapa tau saja Alifa tahu karena mereka bersaudara. Lagi pikir Ambar yang tak masuk akal.

Alifa. {Apaan sih! Luh dari tadi ganggu mulu kamu.}

Ambar. {Gue cuma mau nanya apa Andreas ada di rumah gak?}

Aalifa. {Dih mana gue taulah kak Andreas kemana, lagian dia bukan anak kecil yang harus di pantau.}

Alifa. {Dahlah jangan ganggu!}

Akhir dari chat Alifa.

Ambar menggerutu dan menggeram tertahan "Sial! Di rumahnya juga gak ada, mana di apartemen nya juga gak ada karena tadi aku sudah kesana, kemana? kamu Andreas." gerutunya emosi.

Ya Ambar tengah emosi karena sampai sekarang Andreas belum menghubungi dirinya, entah kemana sepupunya itu pikir Ambar tak tahu.

Sedangkan di Mansion tempat kejadian terenggut nya kesucian Zia, Andreas keluar dari kamar mandinya yang tampak sudah sangat segar.

Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka.

Andreas melihat kearah tempat tidur di mana dirinya bisa melihat gadis itu masih tertidur dengan nyenyak nya.

Andreas tak tahu kalau Zia tengah pingsan tak sadarkan diri, tanpa menghiraukan dirinya terus melangkah menuju walk in closet untuk memakai pakaian.

Andreas. "Halo tolong kamu bawakan makanan yang sehat di Mansion dan satu lagi mulai besok carikan pelayan part time untuk di Mansion yang paru bayah." 

Tanpa mendengar jawaban dari seberang telepon nya langsung di tutup oleh Andreas, Andreas tak mau mendengar komplain dari sahabatnya itu.

Ya yang di telepon oleh Andreas barusan adalah, sahabat nya yang tau Mansion nya di mana berada.

"Sialan nih! Orang telepon belum di jawab main matiin aja." gerutunya sang sahabat yang bernama Boby yang berprofesi sebagai seorang dokter.

Tak kurang waktu dari sejam kini Boby telah tiba di Mansion Andreas.

"Huh! Sejak kapan tuh anak ke Mansion ini? Pasti ada yang di sembunyikan nih orang." monolog Boby lagi.

Andreas yang melihat kedatangan sahabatnya, dia langsung bergegas turun ke lantai bawah untuk mengambil makanan pesanannya.

Andreas berdecak ketika melihat Boby malah melangkah masuk kedalam Mansion "ck! Untuk apa kamu masuk, sana pulang aku cuma nyuruh kamu untuk bawain makanan." kata Andreas tenang "apa? luh lihatin aku kayak gitu kenapa? Hah."

Boby tak menjawab tetapi matanya liar menatap kesegala arah, mencari penampakan siapa tau Andreas bersama dengan seseorang.

Andreas tampak mulai gelisah karena Boby tak mau juga pergi, matanya awas melihat kearah atas takut kalau gadis itu tiba-tiba terbangun.

"Luh, gak ada yang kamu sembunyiin kan As! Awas aja luh kalau umpetin sesuatu sama gue." kata Boby menyelidik kearah Andreas.

Andreas dengan segera menggeleng "gak, gak adalah masa gue bohongin luh sih!" tetapi matanya terus menatap kearah atas.

Boby yang tanggap tanpa peduli dia langsung berlari keatas kamar Andreas. Andreas yang sadar ikut berlari mengejar Boby.

Saat tangan Boby ingin mencapai gagang pintu Andreas langsung memberi peringatan "Jangan masuk Bob, kalau luh masuk habis luh di tangan gue."

Tetapi Boby tak menghiraukan dirinya tetap membuka pintu kamar Andreas dan "wow! Luh—" perkataan Boby terhenti karena tak tahu harus berbicara apa.

Andreas langsung berlalu masuk kedalam kamar nya "hahhh." desah nafas panjang Andreas, untung saja dirinya tadi sempat memakaikan baju gadis itu.

Jika tidak pasti si Boby sudah melihat tubuh mulus gadis itu.

"Sudahlah ini bukan urusan kamu, sana luh balik aja." balas Andreas sarkas.

Tetapi Boby tak mengindahkan apa yang di katakan Andreas sahabat gilanya itu, Boby malah maju mendekati gadis yang tengah tertidur. Dan berapa terkejutnya dirinya ketika melihat gadis itu bukan sedang tertidur melainkan sedang pingsan.

Boby berdecak kepada Andreas karena sahabatnya ini benar-benar gila "ck! As luh benar-benar gila ya, dia itu bukannya tertidur tapi pingsan."

"Parah kamu, gimana kalau anaknya orang meninggal." sambung Boby lagi.

Andreas hanya menatap datar sahabatnya, tak ada rasa bersalah atau perasaan takut sama sekali, Andreas mengangkat bahunya acuh "aku tak peduli! Lagian dia sudah menjadi bekasku kok."

Boby menggelengkan kepalanya melihat respon Andreas, akhirnya Boby maju mendekati tempat tidur dan memeriksa gadis tersebut dan membuka selimut yang membungkus tubuhnya.

Boby dan Andreas terkejut melihat tubuh bagian bawah gadis tersebut, banyak mengeluarkan darah.

"Astaga As... Kamu beneran gila ya." kata Boby tak habis pikir.

Andreas juga terkejut dirinya tak menyangka akan hal ini yang akan terjadi "aa—aku gak tau Bob." balas Andreas terbata-bata.

Boby yang melihat kali ini respon Andreas seperti ketakutan, menyunggingkan senyum miringnya "huh! Tadi aja kamu sok, sekarang ketakutan."

"Apa yang harus kita lakukan Boby? Tolong cepat kamu periksa dia." perintah Andreas segera tak terbantahkan.

Boby tak protes dirinya cepat melakukan apa yang di perintahkan oleh Andreas, tetapi ketika Boby ingin melihat bagian inti gadis tersebut Andreas melarangnya karena dirinya tak mau ada yang melihat selain hanya dirinya.

"Jangan kamu lihat inti dari gadis itu, biar aku saja. Kamu tinggal katakan saja apa yang harus di lakukan." larang Andreas, Boby mengangguk paham karena tak ingin ribut "baiklah." balas Boby.

Akhirnya Boby mengatakan semua apa yang harus di lakukan oleh Andreas, mulai dari membersihkan darah mengalir sampai mengompresnya dengan air hangat, yang paling terpenting adalah menghentikan pendarahan nya terlebih dahulu.

Andreas melakukan semua apa yang di katakan oleh Boby, tak ada perasaan jijik atupun takut.

Setelah melakukan apa yang di perintahkan oleh Boby, pendarahan di inti gadisnya telah terhenti. Andreas bernafas dengan legah "hahhh ada bagusnya juga kamu kesini." kata Andreas legah.

Boby hanya diam saja tetapi matanya terus menatap kearah Zia "hem... Gadis ini lumayan cantik juga, kalau kamu gak mau aku siap untuk mengambil nya."

Perkataan Boby barusan membuat Andreas geram, dan emosi dengan kasar Andreas menyuruh Boby segera pulang "kamu pergilah dari sini? Dia juga sudah tak apa-apa."

Boby hanya mengangguk setuju, tetapi sebelum nya dirinya memberikan sebuah kertas yang berisikan resep obat untuk gadis tersebut.

"Ini resep segera kamu tebus obatnya agar inti gadis itu tak infeksi dan parah nantinya." kata Boby.

Andreas menerimanya "ok thanks, aku akan menyuruh anak buahku untuk menebusnya sekarang." balas Andreas mengerti.

Akhirnya Boby pergi dari Mansion Andreas, tetapi dirinya berjanji akan datang lagi besok.

Bersambung__

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED