Bab 1

"Elena aku sudah di depan gang menuju rumahmu, keluarlah!" 

Pesan terkirim kepada Elena Nugroho, wanita berparas cantik yang telah menjerat hati seorang Putra Prayoga. Sudah sejak masa SMA dirinya menaruh hati kepada wanita itu. Bukan hanya cantik, Elena juga sangat menyenangkan dan penuh kasih.

Putra hanya bisa mengagumi Elena tanpa berani mendekati dirinya. Dia selalu menjaga jarak dengannya, entah karena apa. Padahal dia tidak pernah merasa melakukan sebuah kesalahan kepada Elena.

Putra tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Elena. Dia membiarkan cintanya terpendam. Dia percaya Tuhan akan menuntun takdirnya dengan wanita itu.

Tuhan benar-benar mempertemukan dirinya dengan Elena kembali. Elena masuk ke kampus yang sama dengan dirinya lewat jalur beasiswa. Perasaan yang dulu telah tumbuh untuk Elena, sekarang kembali bersemi lagi.

Putra tidak akan  membiarkan perasaan itu kembali pergi. Putra dengan gigih memperjuangkan cintanya kepada Elena. Dia mendekati wanita itu dengan berbagai cara. 

Tentu saja Elena mati-matian menghindari dirinya. Entah apa yang salah dengan dirinya sampai-sampai Elena terus-menerus menghindari dirinya. Sampai suatu sore, dirinya sudah tidak tahan lagi. Dia menarik Elena membawanya ke tempat sunyi.

"Ka lepaskan, aku harus pulang," pekik Elena sambil meronta agar bisa lepas dari tangan pria itu.

"Tidak! Sebelum kamu jelaskan kepadaku apa alasanmu terus-menerus menghindari aku," salak Putra, dia mulai kesal dengan tingkah Elena yang menghindari dirinya lagi dan lagi.

"Sudah aku katakan berapa puluh kali pada Kakak, Kakak tidak punya salah apapun," teriak Elena frustasi.

"Lalu mengapa kamu menghindariku?" cecar Putra.

Elena menyerah, kepalanya benar-benar pening karena berurusan dengan Putra. Menghembuskan nafas beratnya, Elena menatap pria itu dengan sinis. "Kakak mau apa?" tanya Elena dengan nada dingin.

"Jadilah pacarku," pintanya sambil menatap mata teduh Elena.

"Please, aku sudah mencintaimu dari kita sekolah SMA. Aku pernah menyerah karena melihatmu yang menghindari diriku. Melupakan cintaku kepadamu. Tapi, Tuhan kembali mempertemukan kita dan aku yakin jika kita memang ditakdirkan untuk bersama." Tangan putra menggenggam tangan Elena dengan lembut.

 Elena menatap kedalam mata coklat pekat milik Putra. Mencari sebuah kejujuran di mata pria itu. Dia sebenarnya sudah mengetahui jika Putra mencintainya. Tapi, status sosial mereka yang timpang membuatnya mundur. Menutup perasaannya kepada pria di hadapannya.

Dia juga mencintai pria itu. Karena itulah dia menghindarinya mati-matian. Tidak membiarkan rasa itu tumbuh semakin besar dan membuatnya lupa diri akan siapa dirinya. 

Elena menghela nafas, ditatapnya pria itu. "Apakah jika aku menerimamu sebagai kekasihku kakak akan berhenti bertingkah konyol. Sungguh, aku hanya tidak ingin beasiswa yang sudah aku perjuangkan hilang begitu saja. Hanya karena Kak Putra yang setiap hari mengganggu konsentrasi belajarku, please. Jika Kak Putra sayang kepadaku, ikuti apa mauku dan jangan menemuiku jika aku tidak memintanya," tutur Elena.

"Tidak bisa begitu dong, masa aku tidak boleh menemui pacarku sendiri dan memberikan perhatian kepadanya," tolak Putra.

"Aku tidak melarang Kakak untuk menemui aku, tapi jangan temui aku saat jam pelajaran berlangsung. Di luar saja! Apa Kakak tidak melihat beberapa hari terakhir ini aku ditegur oleh dosen karena ulahmu," ketus Elena.

"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku minta maaf! Jadi, apakah kita sekarang jadian?" tanya Putra dengan wajah penuh harap.

Elena menghela nafas, tidak ada salahnya kan dia mencoba berhubungan dengan Putra. Elena menatap manik mata hitam milik Putra, lalu mengangguk. 

Wajah Putra langsung berbinar, dia bahkan sampai menggenggam erat tangan Elena. 

"Benarkah kamu menerima cintaku?" tanya Putra, dia masih belum yakin dengan jawaban Elena.

"Iya Kak, aku menerima Kak Putra jadi pacar aku," jawab Elena mantap.

Putra menarik Elena ke dalam pelukannya. Dia begitu bahagia saat itu karena cintanya diterima oleh Elena.

Hari berganti hingga keduanya sudah menjalin hubungan lebih dari dua tahun lamanya. Elena masih menjaga jarak dengan dirinya. Meski keduanya berpacaran, tidak ada aktivitas yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. 

Elena sibuk dengan kuliahnya, dia mengejar kuliah cepat agar bisa segera lulus. Sementara Putra sudah memasuki masa akhir tahun perkuliahan. Dia sedang sibuk menyiapkan skripsi. Mereka kadang berpacaran dengan belajar bersama. Mengerjakan tugas bersama, tidak seperti pacaran pada umumnya.

Suatu hari mereka pergi ke bioskop berdua setelah pulang dari kampus. Itupun karena Putra yang terus mendesak Elena untuk ikut. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan ibu dari Putra. Wanita cantik dengan pakaian bermerek di seluruh tubuhnya. 

Wanita itu memandang Elena dengan pandangan tidak mengenakkan membuat Elena minder. Tidak dengan Putra, tangan pria itu menggenggam erat tangan Elena seolah takut kehilangan dirinya.

"Kamu bersama siapa, Nak?" tanya wanita itu.

"Perkenalkan Ma, dia Elena. Elena kenalkan, dia mamaku." Elena memajukan tangannya untuk menjabat tangan wanita itu namun, dia tidak memberikan reaksi apapun.

"Saya Ratna Prayoga, mamanya Putra. Dia adalah penerus perusahaan milik papanya dan dia harus menikah dengan orang yang sederajat dengan kami," sarkas Ratna sambil menatap Elena dari atas sampai ke bawah. 

Tidak ada yang mewah di mata Ratna. Baginya, Elena seperti penghalang baginya. Dia tidak bisa membiarkan putranya bersama dengan Elena. Apalagi melihat Putra yang begitu memuja wanita disampingnya. Tidak boleh terjadi, dia harus memisahkan keduanya.

"Ma, kami duluan ya, ayo sayang kita pergi!" Putra tahu, Elena sangat tidak nyaman dengan tatapan mamanya. 

"Tante, saya permisi." Kembali Elena memajukan tangannya untuk mencium punggung tangan wanita itu. Namun lagi-lagi, tangannya diabaikan.

Meski canggung, Elena menarik kembali tangannya. Dia mencoba tetap tersenyum walau dalam dirinya ada sesuatu yang melasak minta keluar. Mereka berjalan menjauh dari Ratna. Setelah dikira sudah tidak terlihat lagi, Elena melepaskan tangan Putra.

Pria itu menatapnya dengan tatapan heran. "Kenapa? Kenapa wajahmu memerah? Tolong jangan dengarkan kata-kata mama. Dia memang seperti itu kepada setiap orang yang dekat denganku," jelas Putra.

"Kak, kita pulang saja yah, aku sepertinya tidak enak badan. Nontonnya lain kali saja." Elena mencoba tersenyum kepada Putra. Dia tidak menanggapi apa-apa atas penjelasan Putra tentang mamanya. 

"Kamu marah?" tanya Putra dengan cemas.

"Buat apa? Perkataan mama kamu benar. Kamu harus memiliki kekasih yang sesuai dengan keinginan Tante Ratna, yang jelas bibit bebet bobotnya. Aku hanya anak beasiswa Kak, tidak lebih. Untuk bersama dirimu tentunya akan banyak jalan terjal yang harus aku lalui." Elena mengangkat sudut bibirnya, mencoba tersenyum walau dipaksakan.

"Tolong jangan bicara seperti itu. Aku menyayangimu dan aku mencintaimu. Itu sudah cukup untukmu, aku tidak akan membiarkan orang lain merusak hubungan kita berdua," tutur Putra, dia menarik Elena kedalam pelukannya.

"Aku mencintaimu Elena dan aku tidak bisa jika harus kehilangan kamu," bisik Putra.

Elena ingin membalas pelukan Putra tapi tangannya tidak mampu hanya sekedar untuk terangkat. Elena mengepalkan tangannya kuat, gemuruh di dadanya membuat dirinya sesak.

Bab 2

Bab 02

Elena masuk kedalam kos-kosan tempatnya tinggal. Kamar dengan luas tiga kali empat tersebut jadi saksi bisu. Bagaimana dirinya bekerja keras untuk bisa lulus seleksi beasiswa. 

Elena duduk di tepi ranjang, kasur kecil yang sedikit keras itu adalah tempat ternyaman baginya. Dia harus banyak-banyak bersyukur bisa memiliki tempat tinggal. Karena banyak di luar sana yang tidak memiliki tempat tinggal. 

Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Dia harus bergegas untuk pergi bekerja part time disebuah cafe. Demi untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, Elena bekerja setelah pulang dari kampus.

Langkah kaki Elena terhenti karena mobil yang tiba-tiba menghadang langkahnya. Elena mundur beberapa langkah saat mengetahui siapa penumpang mobil tersebut. 

"T-tante Ratna," gumam Elena dengan gugup.

"Hai, siapa namamu tadi. Duh saya lupa," seru Ratna berpura-pura lupa dengan nama Elena.

"Elena, Tante!" jawab Elena pelan.

"Ah iya Elena, maaf yah. Saya sering lupa dengan nama-nama orang yang tidak penting. Saya lebih suka mengingat nama orang-orang yang menguntungkan bagi saya," sarkas Ratna.

"Ada perlu apa Tante datang kemari?" tanya Elena to the points.

Aura Ratna sangat tidak mengenakan bagi Elena. Dia ingin segera pergi dari hadapan wanita itu. Terlebih tatapan wanita itu yang begitu tidak menyukai dirinya. 

"Apa kamu tidak ingin mempersilahkan saya masuk ke dalam rumahmu? Disini sangat panas" tutur Ratna sambil mengibaskan kedua tangannya.

"Baiklah, silahkan ikuti saya." Dengan enggan Elena mempersilahkan Ratna untuk masuk ke dalam kamar kostnya.

Mereka harus melewati tangga untuk sampai ke lantai tiga tempat dimana kamar kost Elena berada. 

"Bagaimana bisa putraku berpacaran dengan orang miskin seperti kamu. Tempat ini benar-benar kotor, aku harus segera membuang semua pakaianku dan juga seluruh pernak-pernik ditubuhku agar tidak ada kuman yang menempel," gerutu Ratna. 

Elena hanya bisa menahan emosinya mendengar hinaan yang dilontarkan oleh Ratna. Dia punya firasat akan ada hal yang lebih mengerikan daripada ini. Elena sampai di depan kamar kostnya. Setelah membuka kunci pintu, dia mempersilahkan Ratna untuk masuk.

Ratna mengamati kamar dengan ukuran kecil tersebut. Elena berjalan mengikuti Ratna, dia lalu menarik kursi belajar dan mempersilahkan Ratna untuk duduk.

"Silahkan duduk Tante, maaf tempatnya sedikit sempit," ucap Elena dengan nada rendah.

"Sedikit sempit? Ini bukan sedikit tapi sangat-sangat sempit dan pastinya disini banyak kuman bersarang. Aku benar-benar terkontaminasi datang ke rumah ah tidak ini tidak layak disebut rumah. Apa yah sebutannya, kandang ayam. Iya benar kandang ayam," cemooh Ratna.

"Sebenarnya kedatangan Tante kemari untuk apa?" tanya Elena dengan emosi yang mulai naik mendengar hinaan dari Ratna, ibu dari pria yang dia cintai.

Tanpa Ratna katakan pun, dia sudah sangat tahu jika dirinya bukanlah orang yang pantas bersanding dengan Putra. Tapi, bukankah cinta tidak memandang hal itu?

"Ok baiklah, saya akan to the points. Pergi dari kehidupan Putra, jangan pernah berhubungan lagi dengannya. Jika tidak, beasiswa yang kamu dapatkan akan saya cabut. Saya bisa menyuruh orang dalam di sana untuk mengeluarkan kamu dari kampus dengan berbagai alasan. Kamu tahukan siapa saya?" ancam Ratna. 

"Mengapa anda melakukan hal ini kepada saya?" tanya Elena dengan frustasi.

"Karena kamu miskin dan kesalahan yang lebih fatal lagi, kamu memiliki hubungan dengan anak saya. Putra sudah dijodohkan dengan orang lain yang kehidupannya jauuuh lebih segala-galanya dari kamu. Jadi saya harap kamu dengarkan peringatan saya ini. Putuskan Putra dan enyahlah dari hadapannya." 

Ratna keluar dari kamar kost Elena. Meninggalkan wanita itu dengan jutaan rasa sakit yang menghantam hatinya. 

Apa salahnya jika orang miskin mencintai?

Apa salahnya jika orang miskin jatuh cinta?

Apakah begitu hina, jika dirinya mencintai orang yang juga mencintai dirinya.

Ting!

Sebuah pesan masuk ke ponselnya, Elena menghapus air mata yang jatuh ke pipinya dengan kasar. Elena membuka pesan masuk, dahinya mengerut saat melihat sebuah nomor baru mengirimkan pesan kepadanya. Elena membaca pesan tersebut.

"Kamu lihat kertas ini, kamu akan kehilangan kertas ini berikut hak didalamnya jika kamu tidak mengikuti semua perintah saya." 

Elena mengepalkan tangannya kuat membaca pesan dari Ratna. Ingin rasanya dia berteriak sekeras-kerasnya. Meneriaki kehidupan yang begitu tidak menguntungkan baginya. 

Dia hidup seorang diri dan harus berjuang mati-matian hanya demi bisa tetap tinggal di tempat yang Ratna sebut sebagai kandang ayam.

Biasanya dia tidak pernah serendah ini dalam berpikir. Karena diluar sana, begitu banyak orang yang tidak beruntung dalam hidupnya. Bahkan untuk makan saja mereka kesusahan, apalagi tempat tinggal. Bisa tidur dengan nyaman tanpa ada gangguan dari petugas dinas sosial saja, rasanya mereka sangat-sangat bersyukur. Meski hanya tidur di trotoar atau emperan toko.

Ting!

Pesan masuk kembali berbunyi, Elena membuka pesan tersebut dan rupanya pesan itu dari Putra.

"Elena aku sudah di depan gang menuju rumahmu, keluarlah!" 

Elena terduduk di lantai, menangisi kelemahan dirinya yang tidak berdaya dengan ancaman Ratna.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Elena dengan frustasi.

Elena teringat dengan pesan dari dosen yang menawari dirinya untuk ikut program transfer mahasiswa ke Malaysia. Dia belum mengatakan kepada Putra tentang hal ini. Jadi dia akan mengambilnya agar dia bisa jauh dari Putra.

Elena membalas pesan dari Putra.

"Maaf, aku sudah sampai cafe sejak tadi. Sebaiknya kamu pulang saja."

Tidak berapa lama pesan tersebut di balas oleh Putra.

"Baiklah, aku pulang! Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai terluka saat bekerja!" 

Elena meletakan sembarang ponsel miliknya. Dia membenamkan wajahnya pada tempat tidur disampingnya.

Keesokan harinya, Elena menyerahkan berkas yang harus dirinya penuhi sebagai syarat keberangkatan ke Malaysia. Semalam dia sudah berunding ini dan itu dengan dosen yang merekomendasikan program tersebut. 

Kebetulan hari ini Putra tidak memiliki kelas. Jadi, Elena bisa leluasa mengerjakan semuanya. 

Jadwal keberangkatannya masih satu minggu lagi. Dia harus mencari cara untuk bisa memutuskan hubungan dengan Putra. Elena pergi ke cafe tempatnya bekerja. Dia akan menemui Antoni dan meminta bantuan pria itu.

"Hai Lena, tumben kamu datang ke cafe lebih awal. Apa kamu tidak kuliah?" sapa Antoni saat melihat Elena masuk kedalam cafe dan langsung menghampiri dirinya.

"Bisa tolong bantu aku," pinta Elena to the points.

"Minta tolong apa? Sepertinya serius sekali," ujar Antoni dengan tatapan serius.

"Baiklah, ikut aku ke ruanganku dan kita bicarakan di dalam saja. Sepertinya sangat serius pembicaraannya," ajak Antoni. 

Mereka berjalan menuju ruangan Antoni, kebetulan dia adalah pemilik cafe tersebut dan karena kebaikan Antoni lah dirinya bisa menyewa kamar kost dan bekerja di cafe.

"Sekarang jelaskan, apa bantuan yang ingin kau pinta dariku?" perintah Antoni.

Elena menceritakan segalanya kepada Antoni, tentang hubungannya dengan Putra dan juga ancaman yang ibunya Putra berikan kepadanya.

Bab 3

Antoni mendengarkan penjelasan dari Elena dengan seksama. Sesekali dia menyodorkan tisu kearah wanita itu. Sesekali dia mengelus punggung Elena menenangkan. 

"Jadi, kamu ingin meminta bantuan apa kepadaku?" tanya Antoni.

"Saat nanti Putra menghubungiku, bisakah kamu katakan jika kamu adalah calon suamiku dan minta dia untuk melupakan aku, jangan biarkan dia mencariku lagi," pinta Elena.

"Apakah kamu yakin? Bukankah seharusnya kamu mempertahankan cintamu untuk Putra," sela Antoni saat mendengar ide Elena.

"Tidak segampang itu mempertahankan cinta kami. Status kami benar-benar berbeda. Bagai langit dan bumi. Aku tidak ingin dia dalam masalah hanya karena mempertahankan aku," jelas Elena.

"Tapi, bukankah kamu juga akan sama terlukanya dengan Putra?" tebak Antoni.

"Aku sudah biasa terluka, kehidupanku tidak pernah berjalan dengan mudah. Selalu banyak rasa sakit yang menghinggapi hidupku. Kurasa, rasa sakit ini akan segera berlalu seiring berjalannya waktu," jawab Elena asal. 

Meski hatinya yakin, rasa sakit kali ini akan sulit dia hadapi. Elena tersenyum sumbang ke arah Antoni.

"Bisa yah bantu aku, please!" Elena berlaga sok imut dihadapan Antoni. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali membuat Antoni mendesah.

"Baiklah, tapi kamu yakinkan dia tidak tahu suaraku saat di telpon?" tanya Antoni meyakinkan.

"Aku yakin kok. Dia tidak pernah mendengar suaramu di telpon jadi aman," balas Elena.

"Ok, katakan saja kapan waktunya. Biar nanti aku bantu kamu. Jadi, kapan kamu berangkat?" tanya Antoni.

"Satu minggu lagi," jawab Elena. "Kalau begitu, aku pulang dulu. Nanti sore aku akan kembali untuk kerja!" pamit Elena.

Antoni hanya bisa menghela nafas melihat punggung Elena yang menjauh. Pria itu merasa kasian dengan kisah cinta yang dimiliki oleh Elena.

"Semoga setelah ini semua, ada kebahagiaan untukmu, Na!" ucapnya pelan.

"Elena kenapa, Pak Bos?" Pertanyaan dari seorang wanita mengagetkan Antoni.

"Alina, kebiasaan banget bikin orang kaget!" ketus Antoni.

"Ya maaf, lagian pak Bos sendiri ngapain ngeliat Elena sambil melamun," sungut Alina.

"Ya suka-suka saya dong, saya kan bos kamu disini. Ini juga cafe saya! Mau saya jungkir balik disini kek, terserah saya!" timpal Antoni tidak kalah sengit.

Antoni kadang heran, mengapa dia suka sekali ribut dengan wanita di hadapannya. Dia wanita yang cantik dengan rambut bergelombang jatuh, matanya besar dengan bulu mata lentik, hidungnya tidak bangir tapi manis. Siapapun yang melihat dia pasti menyukainya. Perangai dia pun menyenangkan, apalagi saat menyambut tamu. Keramahan wanita itu patut diacungi jempol. Karena itu pula, cafenya ramai pengunjung.

Tapi, saat berhadapan dengan dirinya. Wanita itu berubah jadi menyebalkan dan sangat mengesalkan. Mereka selalu saja bertengkar. Seperti saat ini, ada saja yang membuat mereka tidak akur.

"Terserah bos saja deh. Lebih baik aku menyambut tamu daripada berantem terus sama bos nyebelin, ih!" Alina menghentakkan kakinya sebal, berlalu dari hadapan Antoni.

"Dasar wanita aneh. Bagaimana bisa aku begitu tahan dengan kelakuannya." Harus Antoni akui, Alina sangat cekatan.

Antoni menggelengkan kepalanya saat melihat Alina yang mengerucutkan bibirnya karena masih kesal kepadanya. Namun, sejurus kemudian. Bibir wanita itu melengkung membentuk senyuman saat datang seorang pelanggan ke cafenya. Antoni kembali ke ruangannya. Dia masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.

***

Putra di buat kelimpungan oleh Elena, wanita itu tidak pernah lagi mau dihubungi olehnya. Selalu saja ada alasan untuk menolak telpon darinya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" gerutu Putra. Berkali-kali dia mengirim chat kepada wanita itu tapi, tidak kunjung di balas.

"Mungkin dia telah menyadari. Jika kamu dan dia itu tidak mungkin untuk bersatu. Kalian bagai langit dan bumi. Sangat amat jauh berbeda!" Suara Ratna mengalihkan perhatian Putra.

"Maksud mama apa? Jangan bilang, mama yang telah membuat Elena menghindar lagi dariku!" desis Putra.

"Jangan menuduh mama seperti itu! Jika benar mama melakukannya. Itu semua karena demi kebaikanmu," sela Ratna tidak terima dengan tuduhan Putra. Meski kenyataannya memang dirinyalah penyebab Elena menjauhi putranya.

Itu sangat bagus, karena ancaman yang ia ucapkan kepada Elena di dengar baik oleh wanita itu.

"Baguslah, dia ternyata cukup tau diri dari yang aku perkirakan," ucapnya lirih.

"Mama bilang apa barusan?" tanya Putra dengan tatapan curiga.

"Mama tidak bilang apa-apa. Sudahlah, mama cape mau istirahat. Kamu juga harus istirahat supaya tubuhmu tidak terserang penyakit malam!" Ratna berlalu meninggalkan Putra yang masih duduk di gazebo. Dia tidak ingin menatap mata putranya yang sangat mengintimidasi dirinya.

Meski curiga, Putra tidak mengatakan apa-apa kepada mamanya. Dia sedang tidak ingin mendengar celotehan mamanya yang jago membela, apa yang menurutnya benar.

***

Elena sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Dengan di bantu Alina dan Antoni. Elena memasukan koper miliknya.

"Maaf ya, aku jadi merepotkan kalian berdua," ucap Elena, setelah semua barang miliknya telah masuk ke dalam bagasi mobil milik Antoni.

" Kalo ga kita yang bantuin kamu, memangnya siapa lagi," celetuk Alina.

"Kamu benar, aku hanya memiliki kalian berdua. Terima kasih!"

Belum sempat Antoni menjawab, panggilan dari ponsel milik Elena mengalihkan perhatian mereka semua.

"Dari Putra, lagi!" tebak Antoni.

"Emmm selama satu minggu ini dia terus-menerus menggangguku baik lewat sambungan telepon ataupun mendatangi rumahku. Apa hari ini, sudah waktunya aku membuat dia kecewa dan sakit hati?" ringis Elena.

Bukan hanya Putra yang sakit hati tapi, dirinya juga. Dia mencoba membohongi perasaannya dengan mengatakan yang tidak seharusnya dia ucapkan. Tapi, semua demi kebaikan semuanya.

"Kamu yakin akan melakukan itu? Aku tahu rasanya diputuskan. Itu sangat menyakitkan! Apalagi cara memutuskannya seperti ini, kamu pikir lagi ya, Na. Jangan sampai kamu menyesal!" tutur Alina.

"Aku akan menyesal jika tidak melakukannya sekarang, Lin. Hubungan kita tidak akan pernah bahagia jika ibunya selalu menghalangi kita. Aku juga sadar diri akan siapa diriku. Kita berdua bagai langit dan bumi. Tidak akan pernah bisa bersama."

Melihat Elena yang murung karena rasa yang masih wanita itu miliki untuk Putra membuat Alina sedih. Wanita itu memeluk Elena, memberikan kekuatan kepada wanita itu.

"Lakukan apa yang menurutmu baik. Berjanjilah, kamu harus kembali dengan versi terbaik dirimu," bisik Alina. Elena memeluk tubuh wanita yang telah dia anggap sebagai kakaknya.

"Terima kasih, aku janji akan kembali dengan versi terbaik diriku," balas Elena.

Antoni hanya mampu menatap kedua wanita di hadapannya dengan doa terbaik untuk Elena.

Elena mengurai pelukannya, dia menghela nafas. Lalu menyerahkan ponselnya kepada Antoni. Agar pria itu mengangkat panggilan dari Putra. Ponselnya berdering tiada henti, membuat Elena kebingungan mencari alasan.

Antoni mengambil ponsel di tangan Elena. Dia menghela nafas sebelum mengangkat panggilan dari Putra. Antoni menggeser tombol berwarna hijau lalu mendekatkan ponsel di telinganya.

"Assalamualaikum," sapa Antoni. Suara berat pria itu terdengar tegas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED