Bab 1

"Ric, kok loe jadi berubah gini sih? Gue salah apa coba sama loe?" tanya Suci. Kini Suci sedang bersama Ricko suami sekaligus sahabatnya. Mereka berdua tengah berada di kamar.

"Masih tanya apa salah loe?" kata Ricko dengan nada datar. Menatap istrinya Suci tanpa berekspresi.

"Ya jelas lah gue tanya Ricko. Kita udah nikah dua bulan. Tapi, sekali pun loe nggak pernah sentuh gue tahu nggak? Heh, jangankan menyentuh gue. Loe aja semenjak kita nikah udah nggak pernah tegur sapa gue duluan," kata Suci. Dia mendekat ke arah suaminya, Ricko.

"Mau tahu apa jawabannya? Kalau mau tahu akan gue kasih tahu sekarang juga sama loe," kata Ricko masih tanpa ekspresi. Kini posisi mereka berdua berdiri saling berhadapan di depan jendela yang ternyata jendela itu tembus sampai taman belakang. Sepertinya tadi Ricko tengah melihat pemandangan taman dari kaca jendela, saat Suci membuka pembicaraan.

"Mau. Kasih tahu sekarang! Gue akan denger semua ucapan loe. Biar gue bisa tahu di mana letak kesalahan gue," kata Suci sangat percaya diri. Dia seperti tidak takut akan kebenaran yang akan diungkapkan oleh Ricko. Dia sudah sangat siap untuk mendengar alasan mengapa setelah Ricko sahabatnya itu menikah dengannya Ricko langsung berubah menjadi Ricko yang tidak dikenalinya.

"Alasannya itu, karena gue nggak ada perasaan cinta untuk loe Ci. Gue nggak ada perasaan lebih untuk loe. Walaupun gue ada perasaan lebih untuk loe, perasaan itu hanyalah perasaan sayang gue sama loe seperti seorang kakak. Maaf, gue jujur sama loe, gue bener-bener nggak ada perasaan cinta sebagai seorang laki-laki untuk loe, Ci! Yang ada hanyalah perasaan peduli sesama sahabat. Dan juga perasaan sayang gue untuk loe sebagai seorang kakak. Kasih sayang seorang kakak, yang loe impi-impikan untuk mempunyai seorang kakak laki-laki. Dan gue udah wujudkan impian loe itu untuk merasakan kasih sayang dari seorang kakak laki-laki. Dan gue rasa, loe udah tahu hati gue ini untuk siapa," ucap Ricko. Masih menatap Suci tanpa ekspresi.

"Untuk siapa? Kak Lona? Kak Lona yang udah mencampakan loe itu? Yang dia lebih memilih karirnya sendiri daripada memperjuangkan perasaan kalian itu? Egois!" ujar Suci. Dia mengalihkan pandangan matanya. Yang semula menatap Ricko, kini menatap kaca jendela yang tembus sampai taman belakang.

"Dia nggak seegois itu, Ci! Loe nggak mengenalinya dengan baik. Jadi jangan pernah bicara sembarang tentang Lona!" kata Ricko. Berbicara dengan santai sembari berjalan mengarah sofa yang ada di kamar itu.

"Masih alasan yang sama di setiap bulannya. Apakah tidak ada yang bisa loe sampaikan sama gue selain kalimat-kalimat yang selalu membela-bela Lona itu?" tanya Suci. Dia berjalan menyusul Ricko untuk duduk di sofa.

"Cukup loe diam kalau loe nggak tahu apa-apa, tentang gue sama Lona, Ci!" kata Ricko. Dia bangun dari duduknya. Menghindar dari Suci yang duduk di sebelahnya.

"Loe tahu? Loe itu udah salah besar, karena loe mengatakan gue itu nggak tahu apa-apa. Gue tahu semuanya tentang kalian berdua, Ric." ujar Suci. Dia bangun mengikuti Ricko lagi.

Ricko bergeming. Dia tidak merespon apapun tentang apa yang dikatakan oleh Suci, istrinya.

"Dari semasa kita masih SMA. Tepatnya ketika gue baru pindah sekolah ke sekolah loe sama Lona. Di saat anak seusia gue masih kelas sepuluh, gue udah kelas sebelas sama kayak loe. Dan, loe inget? Waktu itu Kak Lona udah kelas dua belas. Gue bisa satu angkatan sama loe, padahal gue satu tahun lebih muda dari loe. Karena apa? Karena gue cerdas dan pintar. Cukup pintar untuk menyamai anak-anak yang usianya setahun lebih tua dari gue. Jadi, kalau loe bilang gue nggak tahu apa-apa tentang loe sama Kak Lona, loe salah besar Ric! Gue tahu semuanya tentang kalian berdua. Terlebih kita berdua itu sahabatan semenjak hari pertama gue sekolah di sekolah baru gue itu. Jadi, tanpa gue bersusah payah untuk mencari tahu tentang kalian, gue udah tahu semuanya. Dan dari siapa? Dari mulut loe sendiri, Ric!" ujar Suci menatap mata Ricko. Berbicara dengan sedikit menyunggingkan senyuman sinis.

"Kok loe berubah gini sih, Ci? Loe bukan Suci yang gue kenal tahu nggak!" ujar Ricko tiba-tiba, seolah Suci lah yang telah berubah, bukan dirinya. Masih konsisten pada ekspresi wajah datar.

"Bukan gue yang berubah di sini, Ric. Tapi loe! Loe yang berubah semenjak kita nikah, Ric!" kata Suci. Menunjuk wajah Ricko dengan jari telunjuknya.

"Loe udah tahu kenapa gue bisa berubah, Ci. Jadi, nggak perlu gue jelasin lagi sama loe kenapa gue bisa berubah gini sama loe." ucap Ricko.

"Kak Lona lagi. Semuanya hanya satu nama perempuan itu. Hebat dia bisa buat loe kayak gini," kata Suci. Tanpa disadari oleh Suci, air mata sudah menetes dari sudut matanya. Mungkin karena terlalu sering mengetahui bahwa Lona lah asal semua ini terjadi.

"Bukan Lona yang salah, Ci!" Kata Ricko. Ada sedikit rasa kasihan melihat sahabatnya itu meneteskan air mata. Tapi, dia juga tidak mau memberi harapan kepada sahabatnya itu.

"Jadi gue yang salah, gitu? Tega loe nyalahin gue di sini?" kata Suci. Dia menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Menyebabkan pipinya bersemu merah karena tekanan tangannya sendiri yang terlalu kuat.

"Ya kenyataan mengatakan loe yang salah di sini, Ci. Terus gue harus salahin siapa? Gue udah bilang kan dari awal kalau gue nggak siap sama pernikahan ini. Gue udah berusaha menolak, tapi orang tua gue nggak terima penolakan dari Gue," ujar Ricko.

"Terus loe kira seandainya gue nolak waktu itu, permintaan gue bakal dikabulin sama orang tua gue dan orang tua loe? Nggak! Gue udah nyoba. Tetap aja penolakan yang gue terima," balas Suci.

Ricko hanya diam tidak merespon ucapan Suci. Masih memasang wajah dingin tidak pedulinya.

"Dan, Gue kira gue akan bahagia nikah sama orang yang gue suka. Ternyata, nggak! Nggak ada kata bahagia dalam kamus hidup gue setelah gue nikah sama loe, Ric. Loe masih terikat sama masa lalu loe. Gue kira gue bisa melepaskan loe dari ikatan masa lalu itu dengan perasaan yang gue punya. Ternyata juga nggak! Ikatan loe sama Kak Lona masih terlalu kuat untuk gue lepaskan sama perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini. Yang ada gue kehilangan sahabat, sekaligus seorang Kakak bagi gue," kata Suci. Lalu dia keluar dari kamar setelah mengatakan itu semua. Meninggalkan Ricko yang masih tampak tanpa ekspresi. Walah datar dan dingin masih membingkai wajah Ricko dengan sempurna.

Ric, loe itu bodoh! Loe masih aja terikat sama masa lalu yang nggak jelas kayak begitu. Apa loe nggak bisa lihat ketulusan gue? Gue sayang sama loe, Ric! Gue suka sama loe! Dan itu perasaan tulus gue untuk loe! Loe itu buta apa gimana sih? Kenapa loe nggak pernah lihat gue dari sisi perempuan? Bukan hanya dari sisi sahabat dan adik. Kapan loe bisa menerima gue untuk ada di sisi loe? Suci terus membatin saat dia berjalan meninggalkan Ricko.

Bersambung

Bab 2

Malam hari pun tiba. Meja makan yang terletak di lantai satu itu kini mulai berdatangan penghuni kursinya. Namun, ada juga sebagian yang masih berada di lantai atas tempat ruang-ruang kamar berada. Mungkin saja anggota keluarga yang belum turun ke lantai bawah masih bersiap untuk makan malam kali ini.

Ricko merupakan anak seorang konglomerat. Orang tua Ricko adalah orang paling kaya di kotanya. Ricko anak pertama dari tiga bersaudara, yang mana nama saudara perempuannya itu secara berurutan adalah Jeni dan Siska. Ya, Ricko adalah anak laki-laki tunggal di keluarganya. Maka dari itu kedua orang tua Ricko memilih menjodohkan Ricko dengan Suci sahabatnya sendiri. Karena, orang tua Ricko sudah mengenal baik siapa Suci dan orang tua Suci. Jadi, kedua orang tua Ricko seyakin itu untuk menjodohkan putra semata wayangnya dengan sahabat putranya itu sendiri.

Keluarga Ricko memanglah keluarga terpandang. Jadi, tidak heran bila keluarga Ricko adalah salah satu keluarga yang disegani oleh orang-orang terutama rekan-rekan kerja ayah Ricko.

Tapi, satu hal yang paling membuat keluarga Ricko tersorot, disegani dan dikagumi oleh orang-orang. Yaitu, kebiasaan anggota keluarga Ricko yang tidak pernah membeda-bedakan setiap orang hanya karena sisi ekonomi saja. Keluarga Ricko sangat ramah dengan tetangga-tetangga sekiranya tanpa memandang bulu. Dan juga keluar Ricko, selalu memberikan santunan ke anak-anak yatim piatu setiap tahunnya.

Namun, keluarga Ricko juga memiliki sifat yang kurang baik. Salah satunya adalah sifat keras dari ayah Ricko yang tiba-tiba muncul bila ada tetangga yang mengatakan kalau keluarganya itu adalah keluarga yang suka cari muka, keluarga yang sering melakukan pencitraan pada semua orang dan sebutan-sebutkan lain yang masih sejenisnya.

Berita tentang keluarga Ricko yang tidak membeda-bedakan orang dari sisi ekonomi diperkuat dengan hadirnya Suci dalam keluarga Ricko. Suci bukanlah anak dari keluarga konglomerat seperti Ricko. Tapi, Suci juga bukan anak dari keluarga kekurangan. Suci lahir di keluarga yang berkecukupan, namun masih jauh dari kemewahan seperti Ricko. Intinya hidup Suci itu lebih dari cukup, tapi tidak bergelimang harta seperti hidup Ricko.

Suci merupakan putri dari seorang tentara dan juga seorang guru. Ya, ayah dari Suci merupakan seorang tentara. Tepatnya tentara angkatan darat. Sedangkan ibu Suci merupakan guru yang sudah PNS (pegawai negeri sipil).

Suci merupakan anak tunggal di keluarganya. Maka dari itu, Suci merasa kesepian saat kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya. Dari sanalah Suci mencari sosok kakak yang diinginkannya. Dan ternyata sosok yang diinginkan oleh Suci itu ada pada Ricko teman sekolah yang kini sudah berstatus menjadi suami sah nya.

Pertemuan pertama Suci dengan Ricko itu pada saat Suci pindah sekolah ke sekolah tempat Ricko bersekolah. Pada waktu itu, Suci baru saja pindah kependudukan. Suci pindah kependudukan disebabkan oleh ayahnya yang berpindah tempat dinas, dan juga sang ibu yang kebetulan sama dipindahkan tugas seperti suaminya itu. Dan untungnya, ayah dan ibu dari Suci itu ditugaskan di satu kota yang sama. Namun bedanya, ayah Suci bertugas sedikit pelosok dari perkotaan sedangkan ibu Suci berada di pusat perkotaan. Itu menyebabkan ayah Suci tidak bisa sering pulang ke rumah. Tapi walaupun begitu, setidaknya mereka masih tinggal di satu kota yang sama.

Pada suatu saat, ayah Suci pulang dari tugas negaranya. Dan disaat pulang ayah suci langsung mengatakan kalau beliau akan menjodohkan Suci dengan Ricko. Suci sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. Tidak pernah terbesit di otak Suci untuk menikah pada saat masih kuliah. Tepatnya pada saat dia masih semester lima.

Suci sempat menolak satu kali untuk dijodohkan dengan Ricko. Walau, dalam hati sebenarnya dia sangat senang karena dijodohkan dengan orang yang sudah disukanya sedari masa SMA. Namun, Suci tak seegois itu dalam mengambil keputusan. Dia tahu hati Ricko milik siapa dan untuk siapa. Jadi, sepertinya sangat sulit baginya untuk mengalihkan hati Ricko dari gadis yang disukai Ricko itu.

Namun, penolakan Suci tak berarti apa-apa di mata ayahnya. Ayahnya yang tegas karena memang seorang tentara tetap bersikeras menjodohkan putrinya dengan alasan yang waktu itu terbilang cukup konyol menurut Suci.

"Belum tentu kedepannya ayah berjumpa dengan pemuda sebaik Ricko, Ci! Jadi, kamu harus menerima perjodohan ini. Toh kalian sudah saling mengenal kan? Jadi terima perjodohan ini. Ingat! Semua orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitupun dengan Ayah dan Bunda, Ci. Kamu anak tunggal Ayah. Seharusnya kamu tahu kalau tindakan ayah saat ini juga karena ayah sangat sayang sama kamu. Dan satu lagi, sampai kapan pun Ayah dan Bunda akan tetap sayang sama kamu. Walaupun toh suatu saat nanti kamu ikut suami kamu. Pintu rumah kami selaku orang tua selalu terbuka untuk kamu, sayang!"

Itulah yang dikatakan ayah Suci pada saat itu. Membuat Suci sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Mau menjawab pun rasanya Suci sangat sulit. Latar belakang memiliki ayah seorang tentara dan ibu seorang guru rasanya sulit untuk diajak tanding bicara. Dia tahu kalau ujung-ujungnya pernikahan itu tetap terjadi. Jadi dia berpikir bila sekali berontak tidak berbuahkan hasil, maka cukup diam tunggu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, sesederhana itu cara berpikir Suci. Dia tidak mau bertengkar dengan kedua orang tuanya itu.

Itulah yang membuat dirinya kini terjebak dalam pernikahan dengan sahabatnya sendiri. Bukanya Ricko tak menolak perjodohan itu, tapi dia sama seperti Suci. Alasannya tidak diterima oleh papa dan mamanya. Orang tua Ricko sudah sangat senang mendapatkan calon menantu sebaik Suci, jadi mereka tidak akan melepaskan Suci semudah itu.

"Kakak Ipar, kok bengong? Dimakan makanan! " tegur Jeni adik perempuan dari Ricko. Berbicara dengan sedikit menyenggol lengan Suci.

"Eh, iya, Jen. Kakak cuma keduluan ngantuk aja ini. Kakak duluan naik ke atas ya. Udah nggak tahan ini mata. Mana besok Kakak mau ada presentasi tugas. Kadi kayaknya tidur lebih awal akan lebih baik supaya besok tidak mengantuk," kata Suci.

"Pa, Ma, Jen, Sis, Suci izin ke kamar duluan ya, Suci pun udah kenyang. Udah nggak muat nih perut," ujar Suci. Bangun dari tempat duduknya. Berbicara degan tangan kanan memegang perutnya.

"Iya. Jaga kesehatan Suci. Kamu harus tetap sehat. Apalagi kamu kan juga besok mau ada presentasi. Jangan lupa minum vitamin kamu," pesan papa mertua Suci. Dijawab angukan kecil oleh Suci.

Suci pun berjalan menaiki tangga, berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

Sedangkan di meja makan.

"Ric, masih disini?" tanya Papa Ricko menatap putranya itu.

"Ricko masih makan, Pa!" kata Ricko dengan nada dan ekspresi bicara datar.

"Ke kamar sekarang! Susulin istri kamu. Dasar suami nggak pengertian kamu sama istri," ujar Papa Ricko.

"Hmmm" jawab Ricko dingin hanya dengan deheman. Lalu dia berjalan menaiki tangga untuk menyusul Suci ke kamar.

Bisa nggak sih Papa itu tahu sama posisi aku? Bukanya dari awal Papa itu tahu kalau aku nggak setuju sama perjodohan ini. Kalau begini aku yang jadi korbannya. Ricko terus mengerutu di dalam hatinya. Kesana dan malas, itulah yang dia rasakan saat ini.

Bersambung

Bab 3

Ceklek

Suara knop pintu yang dibuka oleh Ricko. Ricko melangkahkan kakinya memasuki kamar. Hal pertama yang dilihatnya adalah Suci yang sedang duduk di atas tempat tidur sembari memangku laptop di atas pahanya. Dia berjalan melewati Suci, tanpa menyapa satu patah kata pun. Seolah menganggap kalau tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun, Ricko melangkahkan kakinya memasuki ruang ganti untuk berganti baju.

Suci sempat menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu dibuka dari arah luar. Lalu kembali menatap laptop setelah tahu Ricko suaminyalah yang membuka pintu kamarnya itu. Suci tak ambil pusing dengan kehadiran Ricko yang memasuki kamar. Toh, sudah dua bulan lamanya dia satu kamar dengan suaminya itu. Walau bisa dikatakan selama dua bulan ini tidak ada interaksi antara suami istri pada umumnya pada hubungan suami istri antara Suci dan Ricko.

Harus gimana lagi menghadapi Ricko? Hatinya sudah beku dengan mama Lona di dalamnya. Mau nyerah? Gimana caranya ngomong sama Ayah dan Bunda? Mana Ayah sibuk sama tugasnya terus, sampai nggak bisa pulang ke kota. Kasian juga kan kalau aku cuma ngomong sama Bunda, bisa-bisa bunda shock saat aku bilang kalau aku ingin pisah dari Ricko. Apalagi umur pernikahan aku ini belum genap seumur jagung. Batin Suci terus berpikir. Sembari jemari tangan lentiknya itu memainkan laptop yang ada di atas pahanya.

Di saat Suci tengah mencari solusi untuk masalah pernikahan yang menurutnya sangat sulit itu, lain hal nya dengan Ricko. Ricko yang kala itu sudah selesai berganti pakaian malah berdiri di pintu ruang ganti pakaian. Menatap Suci dari kejauhan. Entah apa arti dari tatapan mata itu tidak ada yang tahu.

Misal nih, kalau aku pisah. Terus aku jadi janda gitu? Aku nggak mau jadi janda! Inget umur dong Ci? Umur aku aja belum genap 21 tahun. Apa kata temen-temen aku nanti? Dan, status janda itu bukan keinginan aku. Aku cuma ingin menikah sekali dalam seumur hidup aku. Tapi apakah mungkin untuk saat ini keinginan aku itu terwujud? Apalagi suami aku Ricko. Apa bisa bertahan? Batin Suci terus melamun.

Saat Suci sedang sibuk melamun, ada suara yang memecah konsentrasi Suci. Suara yang terdengar sedikit keras di telinga Suci.

"Selesaikan tugas dulu. Baru lanjut ngelamun. Gue nggak mau ya kelompok kita itu hancur karena bab jatah yang lo garap itu belum selesai." Yang ternyata itu adalah suara Ricko mengingatkan Suci agar tidak melamun saat sedang mengerjakan tugas kuliah.

"Iya!" jawab Suci dengan acuh tak acuh.

Ricko yang dulu kemana sih perginya? Dia kan tahu kalau bagian yang kayak begini itu aku nggak tahu dan nggak bisa. Jangankan nawarin bantuan, negur aja wajahnya kaku banget gitu. Suci membatin lagi. Menatap wajah sahabat yang sudah jadi suami itu dengan tatapan mata datar.

Suci yang sedang dilanda rasa kesal pun melanjutkan mengerjakan tugasnya. Dia kini terlihat sedang sangat serius mengerjakan tugasnya. Sedangkan Ricko, terlihat Ricko sedang bermain handphone sembari duduk di atas sofa yang ada di kamar itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ricko pun menoleh ke arah Suci yang sedang fokus mengerjakan tugasnya. Walaupun dari pendengaran Ricko sudah beberapa kali dia mendengar Suci yang menguap, namun istrinya itu masih tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.

Ricko pun meletakan handphone nya di atas nakas. Setelah itu beralih berjalan ke arah tempat tidur, mengambil satu buah bantal dan berjalan lagi ke arah lemari untuk mengambil selimut. Lalu, Ricko kembali ke sofa mengambil posisi merebahkan tubuhnya di atas sofa itu. Dan tidak lama setelah itu, Ricko sudah pergi ke alam bawah sadarnya.

Aku rasa aku sudah benar-benar kehilangan sahabat dan juga seorang kakak laki-laki. Batin Suci. Menatap Ricko yang sudah tertidur lelap di atas sofa.

Dua bulan lamanya Ricko dan Suci sudah menikah. Dan dua bulan juga lamanya Ricko memilih tidur di sofa. Bukan karena apa Ricko memilih untuk tidur di sofa, dia hanya berjaga-jaga takut terjadi sesuatu diantaranya dan juga Suci. Sebenarnya bila dia hanya memikirkan diri sendiri, dia berhak atas Suci, karena dia berstatus suami sah dari Suci. Mau bagaimanapun Ricko adalah laki-laki normal maka dari itu dia memilih pisah tidur dengan Suci. Dia tidak mau bila keinginannya terkabul nanti, dia merasa merugikan seseorang. Dia ingin terbebas dari tuntutan apapun nantinya. Keinginan terbesarnya adalah bisa terlepas dari pernikahan yang mengikatnya dengan Suci, dan bisa mencari Lona untuk kembali dengan wanita yang bertahta di hatinya itu.

"Bila memang dia bukan jodohku, tunjukan jalan terbaik-Mu untukku dan dirinya, Tuhan. Aku tidak mau menjadi orang yang mengemis cinta dari seseorang. Walaupun seseorang itu adalah suamiku sendiri," ucap Suci lirih.

Suci menutup laptopnya, namun masih dibiarkannya di atas tempat tidur. Dia benar-benar mengantuk untuk saat ini. Padahal hanya tinggal sedikit lagi tugasnya itu sudah selesai. Tapi, karena kantuk yang melandanya dia memutuskan untuk tidur dan akan dilanjutkan saat tiba subuh nanti.

"Persetan sama tugas ini. Mataku sudah mengantuk. Bisa dilanjut besok subuh saja," kata Suci pada dirinya sendiri, lalu dia mengambil posisi untuk tidur.

***

Grabbb

Mata Ricko secara tiba-tiba terbuka. Matanya menyisir ruang kamarnya itu, matanya mendapati Suci yang sudah tertidur dengan laptop yang masih berada di samping tempat dia tidur.

Matanya menelisik dinding kamar, menatap jam dinding. Yang ternyata jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari.

Tugas Suci udah selesai? Kok dia udah enak-enak tidur begitu? Mana bagian punya dia itu kan pas bagian kelemahan dia. Kalau belum selesai harus dikerjain nih, takutnya dia belum selesai ngerjain dan imbasnya kelompok dapet nilai C. Gak lucu kan kalau semua anggota kelompok dapat nilai rendah cuma gara-gara satu anak yang tugas bagiannya nggak beres? Ricko membatin dalam hatinya.

Lalu dia berjalan ke arah tempat tidur, tempat Suci berada. Diambilnya laptop milik Suci dan mulai mengecek tugas yang dikerjakan oleh Suci tadi

Huft...

Ricko hanya bisa menghela napas setelah melihat hasil kerja Suci.

"Selalu saja begini kalau sudah dapat bagian yang ini." Ricko berkata lirih saat melihat hasil kerja istrinya itu.

Ricko pun mengerjakan ulang tugas kelompok bagian milik Suci. Dari wajahnya terlihat sedang sangat serius. Jari-jemarinya terlihat sangat lincah memainkan laptop milik istrinya itu.

Sekitar satu jam lamanya Ricko pun sudah selesai mengerjakan tugas milik Suci. Merasa matanya sudah tidak mengantuk, Ricko pun beralih membuka-buka apa saja yang bisa dibuka dari laptop milik Suci itu.

Ricko membuka galeri. Ada satu album yang mencuri perhatiannya. Nama album itu adalah Kenangan Masa SMA. Sudut bibirnya sempat terangkat saat membaca nama album itu. Mungkin kenangannya bersama Suci saat SMA terlintas di pikirannya. Tanpa ragu, Ricko pun membuka album itu.

Dan tiba-tiba,

"Loe ngapain mainin laptop gue, Ric?"

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED