Bab 1

Hujan turun sejak sore tadi. Langit Jakarta berwarna kelabu, seakan ikut menyerap kepedihan di dada Nayara. Dari balik kaca jendela apartemen mewah di lantai dua puluh, ia menatap derasnya air yang menari di permukaan jalan. Semua terasa dingin, sunyi, dan... kosong.

Nayara menatap pantulan dirinya di kaca-wajah pucat, mata sembab, rambut acak-acakan. Dua tahun pernikahan seharusnya membuatnya terbiasa dengan semua ini, tapi setiap hari terasa seperti pertarungan baru antara bertahan atau menyerah.

Suara pintu terbuka memecah keheningan. Ravian baru pulang. Pria itu tampak seperti biasa-rapi, berwibawa, dan dingin. Jas abu-abu yang ia kenakan masih menempel di tubuhnya, rambutnya sedikit basah karena hujan. Tatapan matanya tak pernah berubah, tetap datar seperti lembaran kaca.

"Sudah makan?" tanyanya singkat tanpa menatap Nayara.

Belum sempat Nayara menjawab, Ravian sudah berjalan menuju kamar. Ia melepaskan dasi dan membuka kancing kemeja satu per satu tanpa sedikit pun menoleh.

"Aku sudah makan," jawab Nayara pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar.

"Hm." Hanya itu tanggapan Ravian. Dingin, singkat, seperti tak ingin percakapan berlangsung lebih lama.

Nayara menarik napas panjang. "Kamu lembur lagi?"

"Ya." Ravian berdiri di depan lemari, mengganti pakaian kerjanya dengan kaus polos. "Banyak laporan yang harus kukerjakan. Besok ada rapat besar."

Nayara hanya mengangguk. Kalimat itu-banyak pekerjaan-selalu menjadi alasan yang sama setiap kali ia mencoba berbicara lebih dari lima menit dengan suaminya.

Ia memandangi punggung pria itu lama-lama, berharap Ravian akan sedikit saja menoleh, mungkin tersenyum, mungkin menanyakan kabarnya. Tapi tidak. Ravian tetap seperti batu-dingin, kaku, tak tersentuh.

Mereka menikah dua tahun lalu, bukan karena cinta, tapi karena permintaan Ibu Ravian, Ny. Maheswari, wanita elegan yang sangat menyayangi Nayara sejak kecil. Nayara tumbuh bersama keluarga itu setelah ibunya meninggal dan ayahnya bekerja di luar negeri. Hubungan mereka begitu dekat, hingga ketika Ny. Maheswari jatuh sakit, satu permintaan terakhirnya adalah ingin melihat Nayara dan Ravian menikah.

Dan Ravian menuruti.

Tanpa cinta, tanpa perasaan, hanya karena ingin memenuhi keinginan ibunya yang sedang sekarat.

Kini, setelah ibunya tiada, tak ada lagi alasan bagi Ravian untuk berpura-pura memperhatikan. Semua perlakuan hangat di awal hanyalah formalitas. Setelah pemakaman usai, dinginnya Ravian kembali seperti semula-bahkan lebih menusuk.

Nayara berjalan ke dapur, menyiapkan secangkir teh hangat. Tangannya bergetar saat menuang air panas, karena yang ia rasakan bukan hanya dingin dari udara, tapi juga dari sikap Ravian yang menembus hingga tulang.

Saat ia kembali ke ruang tamu, Ravian sudah duduk di sofa, membuka laptop.

"Aku bikin teh," ucap Nayara lembut. "Kamu mau?"

Ravian tidak menoleh. "Tidak. Aku masih harus bekerja."

Nayara mengangguk lagi, meski hatinya mencelos. Ia tahu betul Ravian tidak benar-benar bekerja. Laptop itu hanya perisai, cara pria itu untuk menghindari interaksi dengannya.

Ia menatap jam di dinding-pukul sepuluh malam. Dalam dua tahun ini, Ravian hampir tak pernah menemaninya makan malam. Tak pernah bertanya tentang harinya. Tak pernah menyentuhnya dengan kasih. Bahkan kamar tidur mereka pun sudah lama terpisah.

Nayara memejamkan mata. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya lolos juga, menetes pelan di pipinya.

"Kenapa kamu menikahiku kalau kamu tidak mencintaiku, Ravian?" gumamnya, hampir tak terdengar.

Ravian berhenti mengetik. Ia menutup laptopnya, lalu menatap Nayara untuk pertama kalinya malam itu. Tatapan matanya tajam, tapi bukan karena marah-melainkan karena kebingungan.

"Aku tidak pernah menjanjikan cinta, Nayara," ucapnya datar. "Kau tahu alasan kita menikah."

Nayara menatap balik, matanya berair. "Aku tahu. Tapi aku juga manusia, Ravian. Aku punya hati."

"Dan aku tidak bisa memaksakan perasaan yang tidak ada," jawab Ravian cepat. "Jangan berharap sesuatu yang tidak mungkin."

Seketika ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar, seperti ikut menangis bersama Nayara.

Nayara tersenyum pahit. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku juga tidak sanggup terus seperti ini."

"Lalu apa yang kamu mau?" tanya Ravian tanpa emosi.

"Perceraian."

Ravian terdiam. Tatapannya kosong, namun di balik itu ada sesuatu yang bergetar-entah marah, terkejut, atau takut kehilangan kendali.

"Jadi itu yang kamu mau?" suaranya pelan tapi tegas. "Kau pikir setelah semua ini, aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"

"Kenapa tidak?" Nayara menatap balik dengan mata merah. "Kita tidak saling mencintai. Aku lelah hidup di rumah yang dingin, bersama seseorang yang bahkan tidak mau menyapaku."

Ravian berdiri, mendekat beberapa langkah. "Kau tahu apa yang akan terjadi pada reputasiku kalau kita bercerai? Pada perusahaan? Pada nama keluargaku?"

"Jadi kamu lebih peduli pada reputasi daripada kebahagiaan kita?"

"Tidak ada 'kita', Nayara!" Ravian mengangkat suaranya, untuk pertama kalinya menunjukkan emosi yang selama ini ia tahan. "Seharusnya kau tahu sejak awal-aku menikahimu bukan karena cinta!"

Nayara mundur setapak, menahan tangis yang kembali mengalir. "Ya, aku tahu. Tapi aku bodoh karena tetap berharap."

Suasana tegang mengisi ruang tamu. Keduanya terdiam, hanya saling menatap dalam jarak yang terlalu dekat, namun terasa begitu jauh.

Beberapa detik kemudian, Ravian berbalik. "Bicarakan soal ini nanti. Aku tidak ingin membahas hal ini sekarang."

Ia berjalan pergi, meninggalkan Nayara sendiri.

Malam itu, Nayara duduk lama di sofa, memandangi secangkir teh yang sudah dingin. Di dadanya, cinta yang dulu begitu besar kini terasa hancur perlahan. Ia sadar, tidak ada gunanya bertahan untuk sesuatu yang sudah mati sejak awal.

Namun ketika ia mulai berpikir untuk benar-benar pergi, Ravian justru mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Beberapa hari setelah pertengkaran itu, Ravian tiba-tiba menjemput Nayara di depan galeri tempatnya bekerja. Pria itu jarang sekali melakukan hal seperti itu. Biasanya ia hanya mengirim sopir.

"Masuk," ucap Ravian singkat sambil membuka pintu mobil.

Nayara ragu, tapi akhirnya masuk juga. Sepanjang perjalanan, keduanya diam. Hanya suara hujan ringan dan radio yang terdengar.

"Kita mau ke mana?" tanya Nayara akhirnya.

"Pulang," jawab Ravian. "Aku tidak ingin kau pulang sendirian malam-malam seperti ini."

Nada suaranya terdengar... berbeda. Tidak sedingin biasanya. Ada sedikit kekhawatiran di sana, meski samar.

Nayara menatapnya, mencoba membaca ekspresi wajah pria itu. Tapi Ravian terlalu pandai menyembunyikan apa pun yang ia rasakan.

Setibanya di rumah, Ravian membuka pintu untuk Nayara. Hal kecil itu saja sudah membuat Nayara terkejut.

"Ada apa sebenarnya?" tanyanya pelan.

Ravian tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lama, lalu berkata, "Aku tidak suka kau bicara soal perceraian lagi."

"Kenapa?" Nayara menantangnya. "Bukankah kau sendiri bilang tidak ada cinta di antara kita?"

Ravian menghela napas panjang. "Aku tidak tahu." Ia menatap ke arah jendela, menghindari mata Nayara. "Aku hanya tahu aku tidak siap kehilangan sesuatu yang sudah jadi bagian dari hidupku."

Kata-kata itu menggantung di udara, membuat Nayara membeku. Untuk pertama kalinya, Ravian tidak berbicara dengan logika, tapi dengan perasaan.

Namun hati Nayara sudah terlalu lelah untuk berharap.

Ia menunduk, menatap jari-jarinya yang bergetar. "Kalau begitu, buktikan. Jangan cuma berkata tidak mau kehilangan, tapi terus memperlakukanku seolah aku tidak ada."

Ravian tidak menjawab. Ia hanya menatap Nayara lama, lalu melangkah pergi ke arah kamarnya.

Di sanalah Nayara sadar, pertarungan batin ini belum selesai.

Antara cinta yang tak berbalas dan keinginan untuk bebas, ia terjebak di antara dua dunia-yang satu menyakitinya, dan yang satu menakutkannya.

Malam itu, sebelum tidur, ia menulis di jurnal kecilnya:

"Mungkin mencintai orang yang salah bukan kesalahan terbesar. Tapi tetap bertahan setelah tahu tak dicintai-itu kebodohan yang tidak boleh kuulang."

Dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu, Nayara berdoa agar Tuhan memberinya keberanian untuk memilih-entah untuk bertahan, atau benar-benar pergi.

Namun ia tidak tahu, di balik dinginnya Ravian, ada rahasia yang perlahan akan mengubah segalanya.

Matahari baru saja naik ketika Nayara membuka matanya. Ruangan masih terasa dingin, sisa hujan semalam membuat udara pagi sedikit menusuk kulit. Ia menatap sekeliling, kamar yang rapi dan mewah itu terasa seperti penjara sunyi yang menelannya perlahan.

Ravian sudah tidak ada. Pintu kamar sebelahnya tertutup rapat, tapi dari suara samar deru mobil di garasi, Nayara tahu suaminya sudah berangkat kerja. Seperti biasa, tanpa pamit, tanpa sepatah kata.

Ia menarik napas panjang, duduk di tepi ranjang sambil menatap cincin pernikahan di jarinya. Cincin itu tak pernah dilepasnya, bukan karena berarti, tapi karena sulit melupakan makna di baliknya. Cincin itu simbol ikatan yang lahir dari kasih sayang seseorang yang sudah tiada-bukan cinta dua manusia yang menjalaninya.

Nayara turun ke dapur, menyiapkan sarapan sendiri. Sejak awal pernikahan, Ravian menolak keberadaan asisten rumah tangga di apartemen mereka. Katanya, ia tidak suka orang asing berkeliaran di rumah. Maka Nayara melakukan semuanya sendiri-memasak, mencuci, bahkan membersihkan rumah yang terlalu besar untuk satu hati yang sepi.

Sambil mengaduk kopi, pikirannya kembali ke semalam. Tatapan Ravian saat mengatakan ia "tidak siap kehilangan" masih terngiang. Bukan tatapan dingin seperti biasanya, tapi lebih... rapuh. Ada sesuatu di balik kalimat itu, sesuatu yang tidak Nayara pahami.

Namun, berulang kali ia mengingat, ia tetap tidak tahu apakah Ravian benar-benar mulai peduli atau hanya takut kehilangan kendali atas hidupnya yang sempurna.

Hari itu Nayara memutuskan untuk pergi ke galeri tempatnya bekerja. Ia sudah lama absen karena beberapa waktu terakhir suasana rumah terlalu menyesakkan. Galeri "Arsya Art Studio" adalah tempat di mana Nayara menemukan sedikit ketenangan. Ia bekerja sebagai kurator, mengatur pameran dan memilih karya-karya seni dari pelukis muda berbakat.

Begitu masuk, aroma cat dan kanvas baru menyambutnya. Reva, sahabat sekaligus rekan kerjanya, langsung menghampiri.

"Nay! Akhirnya kamu datang juga," seru Reva sambil memeluknya. "Aku pikir kamu udah lupa sama dunia seni kita."

Nayara tersenyum kecil. "Aku cuma butuh waktu buat istirahat, Rev."

Reva menatapnya lama. "Istirahat... atau kabur dari rumah?"

Nayara tertawa pahit. "Mungkin dua-duanya."

Reva menghela napas dan menggandeng tangannya. "Ayo, aku tunjukin karya baru dari seniman yang aku temuin di Bandung kemarin. Kayaknya kamu bakal suka."

Mereka berjalan ke ruang pamer. Di sana tergantung lukisan berwarna kelam, menggambarkan sosok perempuan yang berdiri di bawah hujan, memandangi bayangannya di genangan air. Judulnya 'Refleksi yang Hilang'.

Nayara terpaku. Lukisan itu seperti menampar dirinya sendiri.

"Lukisan ini..." bisiknya. "Rasanya aku seperti melihat diriku di dalamnya."

Reva menatapnya lembut. "Aku tahu. Makanya aku ingin kamu lihat."

Mereka berdua terdiam cukup lama sebelum Reva kembali bicara. "Kamu yakin masih kuat hidup seperti itu, Nay? Aku tahu kamu mencintainya, tapi Ravian-"

"Tidak semua cinta harus dimenangkan," potong Nayara cepat. "Kadang cinta cuma cukup untuk membuat kita bertahan sebentar... sebelum akhirnya sadar bahwa bertahan pun menyakitkan."

Reva menggenggam tangannya erat. "Kalau kamu butuh tempat tinggal sementara, kamu tahu pintu apartemenku selalu terbuka."

Nayara tersenyum kecil. "Terima kasih, Rev. Aku akan pikirkan semuanya."

Sore harinya, saat Nayara hendak pulang, hujan turun lagi. Ia berdiri di bawah atap depan galeri, menunggu taksi online yang ia pesan. Tapi sebelum mobil itu datang, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaca jendela mobil turun, memperlihatkan wajah yang tak asing.

"Masuk," ucap Ravian dari balik kemudi.

Nayara tertegun. "Kamu jemput aku?"

"Ya. Kau pikir aku biarkan kau kehujanan?" katanya datar, tapi kali ini ada nada khawatir di ujung kalimatnya.

Nayara masih diam, mencoba membaca ekspresi wajah Ravian yang tetap sulit ditebak. Tapi akhirnya ia masuk ke mobil, lebih karena lelah daripada keinginan.

Sepanjang perjalanan, hening. Hanya suara hujan dan wiper mobil yang bekerja berirama. Nayara sesekali melirik Ravian, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari pria itu tampak lebih letih dari biasanya. Ada lingkar hitam di bawah matanya, dan tangannya menggenggam setir terlalu kuat.

"Kamu belum makan?" tanya Nayara akhirnya.

"Belum," jawab Ravian pelan. "Kau mau makan di luar?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Nayara nyaris tak percaya. Biasanya Ravian langsung mengantarnya pulang tanpa bicara banyak.

"Boleh," katanya hati-hati.

Mereka berhenti di restoran kecil yang dulu sering mereka kunjungi saat awal menikah-atas permintaan ibunya. Tempat itu penuh kenangan yang selama ini berusaha Nayara lupakan.

Pelayan menyapa mereka ramah. Ravian memesan makanan yang bahkan Nayara tahu dulu adalah favoritnya: nasi goreng kampung dan teh hangat.

Suasana canggung menggantung di antara mereka, hingga Nayara akhirnya membuka suara. "Kenapa tiba-tiba kamu berubah sikap, Ravian?"

Pria itu menatapnya sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak berubah."

"Benarkah? Kau menjemputku dua hari berturut-turut. Kau mengajakku makan. Bahkan bicaramu sekarang... tidak sedingin biasanya."

Ravian menatap meja, jari-jarinya mengetuk permukaan kayu pelan. "Aku hanya sadar ada hal-hal yang mungkin selama ini salah."

Nayara menegakkan punggungnya. "Salah seperti apa?"

"Seperti caraku memperlakukanmu."

Kalimat itu membuat Nayara terdiam. Ia tidak tahu harus bahagia atau justru makin bingung. "Dan kenapa tiba-tiba kamu menyadari itu?"

Ravian menatapnya, kali ini dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. "Karena kemarin aku hampir kehilanganmu."

Nayara mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Aku pulang larut malam dan melihat koper kecilmu di depan lemari. Aku kira kamu pergi. Dan anehnya... aku panik."

Nayara menunduk. "Aku memang sempat berpikir untuk pergi."

"Aku tahu," sahut Ravian pelan. "Dan entah kenapa, pikiran itu membuatku sulit tidur."

Mereka terdiam lama. Pelayan datang membawa makanan, tapi keduanya tak menyentuh.

Nayara menatapnya lama, matanya basah. "Ravian, aku tidak butuh kamu berubah karena takut sendirian. Aku butuh kamu berubah karena kamu mau memperjuangkan hubungan ini."

Ravian menatapnya dalam. "Aku tidak tahu apakah aku bisa mencintai seperti orang lain mencintai, Nayara. Tapi aku ingin mencoba."

Kata-kata itu membuat hati Nayara bergetar. Ia tahu Ravian bukan tipe pria yang mudah bicara soal perasaan.

"Kalau kamu sungguh ingin mencoba," ucap Nayara dengan suara serak, "aku juga akan mencoba percaya lagi."

Ravian mengangguk. "Aku tidak janji akan sempurna, tapi aku janji tidak akan lagi membuatmu merasa sendirian."

Beberapa minggu setelah malam itu, perubahan kecil mulai terlihat. Ravian mulai pulang lebih awal. Sesekali ia menanyakan kabar Nayara, bahkan sekali waktu membawakan bunga-hal yang dulu tak pernah ia lakukan.

Nayara mulai tersenyum lagi, meski di dalam hatinya masih ada rasa takut. Ia tahu cinta tak bisa tumbuh secepat itu, tapi setidaknya ada harapan.

Namun, harapan itu mulai terguncang ketika satu sore, saat Nayara sedang membersihkan ruang kerja Ravian, ia menemukan sesuatu di dalam laci meja-sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan Ravian dengan seorang wanita berambut panjang, tersenyum bahagia di tepi pantai. Di belakang foto itu tertulis tulisan tangan:

"Untuk Ravian, cinta yang akan selalu aku bawa, meski kamu memilih orang lain. - L."

Jantung Nayara berdegup keras. Ia menatap foto itu lama, tangannya bergetar. "L"? Siapa "L"?

Ia tahu Ravian pernah memiliki masa lalu, tapi tak pernah sedalam ini. Wanita di foto itu terlihat begitu akrab dengannya, bukan sekadar teman biasa.

Malamnya, Nayara menyimpan foto itu di saku bajunya. Saat Ravian pulang, ia mencoba bersikap biasa, tapi hatinya terus bergejolak.

"Bagaimana harimu?" tanya Ravian sambil melepas jas.

"Baik," jawab Nayara datar. "Kamu?"

"Capek sedikit. Ada rapat dengan direksi."

Mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tapi kali ini, Nayara tidak bisa fokus. Matanya sesekali menatap ke arah Ravian dengan seribu pertanyaan di benaknya.

Setelah makan, ia berdiri, mendekati Ravian. "Aku menemukan sesuatu di ruang kerjamu," katanya akhirnya.

Ravian berhenti meneguk airnya. "Apa?"

Nayara mengeluarkan foto itu dari sakunya dan meletakkannya di meja. "Ini."

Ekspresi Ravian berubah. Wajahnya menegang, matanya membulat. Ia menatap foto itu lama, lalu menutupnya dengan telapak tangan.

"Di mana kau menemukannya?" suaranya pelan tapi berat.

"Di laci meja kerjamu. Siapa dia, Ravian?"

Ravian tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu menatap Nayara. "Namanya Liora."

Nayara menelan ludah. "Dia... mantanmu?"

Ravian mengangguk pelan. "Dia perempuan yang seharusnya kunikahi."

Kalimat itu menampar Nayara keras. Dunia seperti berhenti sejenak.

"Kenapa kalian tidak jadi menikah?" tanyanya dengan suara hampir bergetar.

Ravian memejamkan mata. "Karena dia meninggal-sehari sebelum aku melamarnya."

Nayara terpaku. "Meninggal?"

"Ya. Kecelakaan. Aku yang mengemudi malam itu."

Air mata Nayara menetes tanpa bisa ditahan. "Jadi selama ini... kau masih mencintainya?"

Ravian menatapnya dengan mata yang basah untuk pertama kalinya. "Aku tidak tahu apakah cinta itu masih ada atau hanya rasa bersalah yang tidak pernah hilang. Tapi setiap kali aku menatapmu, aku merasa seperti mendapat kesempatan untuk menebus sesuatu."

Nayara membeku. Jadi itu alasan Ravian menikah tanpa cinta. Bukan hanya karena ibunya, tapi karena ia masih hidup di masa lalu.

Dengan suara bergetar, Nayara berkata, "Aku bukan pengganti siapa pun, Ravian. Aku tidak bisa mengisi ruang yang bukan milikku."

Ravian berdiri, menatapnya dalam. "Kau salah, Nayara. Mungkin dulu aku menikahimu karena alasan yang salah, tapi sekarang aku mulai takut kehilanganmu karena alasan yang benar."

Kata-kata itu mengguncang Nayara. Ia tidak tahu apakah harus percaya atau menjauh. Luka lama Ravian bukan sesuatu yang mudah dihapus, tapi di balik dinginnya, ada ketulusan yang perlahan mulai muncul.

Malam itu, ketika Ravian menyentuh tangan Nayara untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada kata yang terucap. Hanya diam yang penuh makna-diam antara dua hati yang sama-sama terluka, tapi masih ingin mencoba saling memperbaiki.

Di dalam hati Nayara, ia tahu perjalanan mereka baru saja dimulai.

Antara cinta yang tumbuh dari luka, dan masa lalu yang belum sepenuhnya terkubur.

Bab 2

Sudah tiga hari sejak percakapan malam itu.

Tiga hari sejak Nayara tahu siapa Liora, perempuan yang masih menghantui masa lalu Ravian. Sejak saat itu, rumah mereka terasa berbeda. Tidak lagi sebeku dulu, tapi juga belum bisa disebut hangat.

Setiap langkah Nayara di rumah itu seperti berjalan di atas kaca. Ia berhati-hati agar tidak menggores luka yang belum sembuh-baik miliknya maupun milik Ravian.

Pagi itu, ia duduk di ruang makan sambil menatap secangkir teh yang sudah hampir dingin. Pagi tampak tenang, tapi hati Nayara tidak. Sejak tahu kebenaran, tidur malamnya selalu dipenuhi mimpi-bayangan tentang perempuan yang bahkan tak pernah ia temui.

"Liora..." gumamnya pelan, seolah memanggil nama itu bisa menjelaskan semuanya.

"Pagi."

Suara Ravian memecah lamunan. Pria itu berdiri di depan meja, mengenakan kemeja putih dan dasi yang belum sempat diikat. Rambutnya masih sedikit basah, dan aroma sabun dari tubuhnya mengisi udara di ruangan itu.

Nayara buru-buru menegakkan punggungnya. "Pagi juga."

Ravian menatap teh di hadapan Nayara. "Kamu belum sarapan?"

"Belum," jawabnya pelan. "Aku nggak terlalu lapar."

Ravian duduk di seberangnya, diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Tentang malam itu... aku tahu itu tidak mudah buatmu."

Nayara menatapnya sekilas, lalu kembali menunduk. "Aku cuma butuh waktu. Aku nggak menyalahkanmu, Ravian. Tapi jujur, aku belum tahu bagaimana harus bersikap setelah semua yang aku dengar."

Ravian mengangguk pelan. "Aku mengerti."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Ravian melirik jam tangannya, lalu berdiri. "Aku harus ke kantor. Ada tamu penting hari ini."

"Baik," sahut Nayara pendek.

Tapi sebelum beranjak, Ravian sempat berhenti di dekatnya. "Aku... berterima kasih karena kamu masih di sini."

Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Nayara terasa sesak. Begitu Ravian pergi, ia menyandarkan kepalanya di meja. Air mata yang sudah ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.

Siang harinya, Nayara pergi ke galeri. Ia butuh udara baru, sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari semua kekacauan yang tak pernah selesai.

Reva menyambutnya dengan pelukan hangat. "Aku tahu kamu bakal datang hari ini. Mukamu kelihatan... lebih tenang sedikit."

Nayara tersenyum samar. "Aku berusaha."

"Berusaha buat apa?"

"Buat nggak menyerah."

Reva menatapnya lama, lalu menghela napas. "Kamu itu terlalu baik, Nay. Kadang aku pengin kamu marah, berontak, nunjukin kalau kamu juga bisa sakit hati."

Nayara menatap dinding penuh lukisan di depannya. "Aku marah, Rev. Tapi aku capek marah. Aku cuma pengin ngerti kenapa semuanya harus serumit ini."

Reva menepuk pundaknya lembut. "Kamu tahu kan, aku selalu ada kalau kamu butuh tempat buat nangis."

Nayara mengangguk, menatap sahabatnya dengan mata yang berair. "Terima kasih, Rev. Aku beruntung punya kamu."

Sore menjelang ketika Nayara berjalan keluar dari galeri. Angin dingin menerpa wajahnya, membuatnya menarik syal lebih rapat. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri di depan mobilnya-seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang dan wajah tegas.

"Nayara Maheswara?" tanyanya dengan nada yakin.

Nayara mengerutkan dahi. "Ya, saya. Maaf, kita saling kenal?"

Wanita itu tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya ramah. "Belum. Tapi aku kenal suamimu."

Detak jantung Nayara langsung berpacu. "Maaf, siapa kamu?"

"Namaku Larissa," jawabnya. "Aku... sepupu Liora."

Nama itu seketika membuat dada Nayara menegang. Ia terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Apa yang kamu mau?"

Larissa mendekat selangkah. "Aku cuma ingin bicara. Tentang Ravian. Tentang apa yang sebenarnya terjadi malam Liora meninggal."

Nayara menelan ludah, menatap wanita itu dalam-dalam. "Maksudmu?"

Larissa tersenyum miring. "Apa suamimu pernah cerita padamu kalau kecelakaan itu... bukan sekadar kecelakaan?"

Setelah Larissa pergi, kepala Nayara terasa berputar. Ia memegang kemudi mobil tapi belum menyalakannya. Kata-kata Larissa terus terngiang di kepalanya.

"Kalau kau pikir Liora mati karena nasib, kamu salah. Ada hal yang Ravian sembunyikan."

Sesampainya di rumah, Nayara berjalan cepat ke ruang kerja Ravian. Ia membuka laci, melihat lagi foto Liora yang dulu ia temukan. Kali ini ia memperhatikan lebih teliti. Di ujung kanan bawah foto itu ada tanda kecil-seperti noda darah yang nyaris tak terlihat.

Tangannya bergetar. Ia meletakkan foto itu kembali dan bersandar di kursi.

"Apakah semua ini cuma kebetulan?" bisiknya.

Pintu ruang kerja terbuka. Ravian muncul, sedikit terkejut melihat Nayara di sana. "Kamu ngapain di sini?"

"Aku cuma... beresin meja kamu," jawab Nayara cepat.

Ravian mengangguk, lalu berjalan ke mejanya. "Aku dengar kamu ke galeri hari ini."

"Iya." Nayara menatapnya ragu. "Ravian, boleh aku tanya sesuatu?"

"Tanya saja."

"Kecelakaan yang menewaskan Liora..." Nayara berhenti sejenak, mencoba mengatur napas. "Kamu yakin itu benar-benar kecelakaan?"

Ravian terdiam. Matanya berubah dingin lagi, seperti menutup pintu yang tadi sempat terbuka. "Kenapa kamu nanya begitu?"

"Ada seseorang datang menemuiku. Namanya Larissa. Katanya dia sepupu Liora."

Ravian menatap Nayara tajam. "Dia mendatangimu?"

"Ya. Dia bilang ada hal yang kamu sembunyikan tentang malam itu."

Ravian mendadak memukul meja. "Dia berbohong!"

Nayara terlonjak. "Ravian-"

Pria itu berdiri, napasnya berat. "Aku nggak mau kamu percaya omongan orang asing. Larissa itu gila. Dia udah lama nyalahin aku atas kematian Liora. Dia butuh kambing hitam, dan kebetulan orang itu aku."

"Tapi kenapa dia sampai datang menemuiku?"

"Karena dia tahu aku nggak akan mau menemuinya. Jadi dia datang lewat kamu."

Nayara menatapnya lama. "Tapi Ravian, kamu bisa aja bilang kayak gitu buat lindungin dirimu sendiri."

Tatapan Ravian berubah tajam, tapi ada luka di sana. "Kamu pikir aku bohong?"

"Aku cuma pengin tahu kebenaran."

Ravian menarik napas panjang, lalu berjalan ke jendela. "Liora dan aku bertengkar malam itu. Aku marah karena dia bilang ingin pergi ke luar negeri. Aku menyetir terlalu cepat. Mobil tergelincir di tikungan. Aku kehilangan kendali." Ia berhenti sebentar, suaranya bergetar. "Aku nggak sempat nyelamatin dia."

Nayara menatapnya, mencoba menemukan kejujuran dalam setiap kata. "Jadi itu aja?"

"Itu aja," jawab Ravian mantap. "Kalau Larissa bilang lain, itu karena dia nggak bisa terima kenyataan."

Nayara mengangguk perlahan, tapi hatinya belum tenang.

Malam itu, setelah Ravian tidur, Nayara duduk sendirian di ruang tamu. Lampu redup membuat bayangan di dinding tampak panjang. Ia membuka ponselnya dan mencari nama Larissa di media sosial. Butuh waktu lama, tapi akhirnya ia menemukannya.

Larissa baru saja mengunggah sebuah foto lama-foto Ravian dan Liora di rumah sakit, tampaknya diambil sebelum kecelakaan. Di caption-nya tertulis:

"Kebenaran akan selalu mencari jalannya."

Dada Nayara terasa sesak. Ia menatap layar itu lama, lalu mengetik pesan:

"Larissa, aku mau tahu semuanya. Tolong temui aku besok."

Keesokan harinya, Nayara menemui Larissa di sebuah kafe di Sudirman. Wanita itu sudah menunggunya, mengenakan blazer hitam dan menatap tajam begitu Nayara datang.

"Kamu datang juga," kata Larissa, suaranya tenang tapi menusuk.

"Aku butuh penjelasan."

Larissa mencondongkan tubuh. "Kamu tahu kenapa aku nggak pernah percaya Ravian? Karena malam sebelum kecelakaan, aku dihubungi Liora. Dia nangis, bilang Ravian marah besar setelah tahu dia hamil."

Nayara terkejut. "Hamil?"

Larissa mengangguk. "Ya. Dan dia bilang Ravian menolak tanggung jawab. Liora pergi dari rumah Ravian malam itu, tapi Ravian mengejarnya. Beberapa jam kemudian, aku dapat kabar mobil mereka kecelakaan."

"Ravian nggak pernah cerita apa-apa soal itu," bisik Nayara, wajahnya pucat.

"Tentu saja tidak. Karena kalau dia mengakui, semua orang akan tahu dia bukan korban, tapi penyebab."

Nayara memejamkan mata, mencoba menahan gemetar di tangannya. "Kamu punya bukti?"

Larissa mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, meletakkannya di meja. "Ini hasil pemeriksaan rumah sakit. Nama Liora tercatat sebagai pasien dengan usia kehamilan dua bulan."

Nayara membuka amplop itu dengan tangan bergetar. Di dalamnya memang ada salinan hasil medis. Semua tertulis jelas-tanggal, nama dokter, bahkan hasil USG kecil di sudut kertas.

"Kenapa kamu kasih ini ke aku?" tanya Nayara dengan suara bergetar.

"Karena kamu harus tahu siapa sebenarnya orang yang kamu sebut suami." Larissa berdiri. "Kamu mungkin wanita baik, Nayara. Tapi berhati-hatilah mencintai seseorang yang belum selesai berdamai dengan dosanya sendiri."

Setelah Larissa pergi, Nayara duduk membisu. Dunia seolah berputar terlalu cepat. Antara percaya dan tidak, antara cinta dan kebenaran yang menghantam keras.

Malam itu, Nayara kembali ke rumah. Ravian sedang di ruang kerja, menatap layar laptop. Nayara berdiri di ambang pintu, memandangi punggung pria itu yang tampak tegar-tapi mungkin menyimpan seribu rahasia.

"Ravian," panggil Nayara pelan.

Pria itu menoleh. "Hm?"

"Aku ketemu Larissa hari ini."

Ravian langsung berdiri, wajahnya berubah pucat. "Kamu apa?"

"Aku butuh tahu, Ravian. Benarkah Liora... hamil waktu itu?"

Hening. Suasana mendadak begitu berat hingga Nayara bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Ravian menatapnya, matanya gelap. "Siapa yang bilang?"

"Larissa. Dan aku punya buktinya." Nayara menunjukkan amplop itu.

Ravian memandang kertas itu lama. Lalu perlahan, ia menunduk. "Ya."

Kata itu jatuh pelan, tapi berat.

Nayara tertegun. "Jadi benar?"

Ravian menatapnya, matanya basah. "Aku nggak tahu sampai dia meninggal. Setelah kecelakaan, dokter yang bilang padaku. Aku nggak siap, Nayara. Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku kehilangan semuanya dalam satu malam."

Air mata Nayara jatuh. "Dan kamu menikahiku karena rasa bersalah itu?"

Ravian menutup wajahnya dengan tangan. "Awalnya, mungkin iya. Tapi lama-lama... aku mulai takut kehilanganmu juga."

Nayara menatapnya dengan mata penuh luka. "Aku nggak tahu mana yang lebih menyakitkan, Ravian. Dicintai karena rasa bersalah, atau dicintai karena pengganti seseorang yang sudah tiada."

Ravian mendekat, tapi Nayara mundur selangkah.

"Jangan sentuh aku dulu," katanya pelan. "Aku butuh waktu buat mencerna semuanya."

Ravian hanya menatapnya, tak mencoba memaksa. "Baik. Tapi tolong jangan pergi. Aku akan ceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. Aku janji."

Nayara memejamkan mata, menahan tangis. "Kalau kamu benar-benar jujur, Ravian, ini satu-satunya kesempatanmu."

Malam itu, mereka sama-sama terdiam.

Hujan kembali turun di luar-deras, tanpa henti, seperti langit ikut menangisi rahasia yang akhirnya terungkap.

Nayara duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar sendiri meski seseorang ada di dekatnya.

Cinta, kebenaran, dan masa lalu Ravian kini bercampur menjadi satu, membentuk badai yang siap mengguncang hidup mereka berdua.

Dan di tengah badai itu, Nayara tahu-pilihan apa pun yang ia ambil setelah ini, tidak akan mudah.

Bab 3

Sudah tiga minggu sejak Nayara mulai menjaga jarak dari Ravian.

Bukan dengan cara yang mencolok, bukan dengan pertengkaran, tapi dengan kesunyian yang perlahan memisahkan mereka seperti dua pulau yang menjauh karena arus laut.

Ia tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa-menyiapkan sarapan, merapikan jas Ravian di ruang tamu sebelum pria itu berangkat, namun tanpa tatapan yang sama. Dulu Nayara selalu menatap punggung suaminya dengan harapan kecil bahwa pria itu akan menoleh. Sekarang ia tidak lagi menunggu.

Setiap pagi terasa seperti pengulangan tanpa makna.

Dan Ravian, entah sadar atau tidak, mulai merasakan kekosongan yang sama.

Suatu pagi, saat hendak berangkat ke kantor, Ravian berhenti di depan pintu. Biasanya Nayara akan mengucapkan, "Hati-hati di jalan," dengan senyum tipis yang membuat rumah mereka terasa hidup. Tapi kali ini hanya keheningan yang menyambutnya.

"Nayara."

Ravian menoleh. Wanita itu sedang sibuk di dapur, mencuci gelas dengan ekspresi datar.

"Hm?" sahutnya tanpa menoleh.

"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu diam?"

Nada suara Ravian terdengar datar, tapi sebenarnya ada keresahan yang sulit ia sembunyikan.

Nayara mematikan keran air, mengeringkan tangannya, lalu menatap suaminya dengan mata lelah. "Aku hanya sedang belajar berhenti berharap."

Ravian mengerutkan dahi. "Maksudmu apa?"

Nayara tersenyum hambar. "Kamu tahu maksudku, Ravian. Aku lelah berusaha memperbaiki sesuatu yang hanya aku sendiri yang ingin jaga."

Ravian tak bisa membalas. Kata-kata itu terasa seperti tamparan. Ia ingin menyangkal, tapi tidak punya dasar untuk melakukannya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi. Namun sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya tidak tenang. Setiap suara klakson mobil terasa seperti gema dari kalimat Nayara yang terus terulang di kepalanya-Aku sedang belajar berhenti berharap.

Sementara itu, Nayara memutuskan untuk kembali aktif di galeri tempatnya dulu bekerja. Ia menerima tawaran kurator lamanya, Mira, untuk mengatur pameran seni yang akan diadakan bulan depan.

"Senang banget kamu mau balik lagi, Nay," ucap Mira sambil menepuk bahunya. "Galeri sepi tanpa kamu."

Nayara tersenyum kecil. "Aku cuma ingin sibuk lagi, Mir. Biar nggak terlalu banyak mikir."

"Masalah rumah tangga?" tanya Mira dengan nada hati-hati.

Nayara terdiam sesaat. "Bisa dibilang begitu."

Mira menatap sahabatnya itu dengan tatapan prihatin. "Kamu masih bisa nyerah, Nay. Kamu masih muda. Kamu berhak bahagia."

Nayara hanya menggeleng. "Kadang aku berpikir begitu. Tapi entah kenapa, masih ada bagian diriku yang nggak tega."

"Karena kamu masih cinta," jawab Mira cepat.

Nayara terdiam. Kata itu terasa berat di dadanya. Ia tak bisa menyangkalnya, tapi juga tak ingin mengakuinya.

Di sisi lain kota, Ravian duduk di ruang kerjanya, memandangi laporan yang seharusnya ia tandatangani. Tapi matanya tak fokus. Dalam pikirannya, bayangan wajah Nayara terus muncul-tatapan datarnya pagi tadi, senyum yang dulu hangat kini hilang entah ke mana.

"Pak Ravian?" suara sekretarisnya, Della, membuyarkan lamunan.

Ravian menoleh. "Ada apa?"

"Ada tamu yang ingin bertemu. Katanya urusan pribadi."

"Siapa?"

"Seorang pria, namanya Revan. Katanya kenal dekat dengan Ibu Nayara."

Nama itu membuat alis Ravian terangkat. "Revan?"

"Iya, Pak."

"Suruh tunggu di ruang tamu."

Ravian berdiri, rasa tidak nyaman merayapi dadanya. Ia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi entah mengapa, hanya mendengarnya saja sudah membuat darahnya sedikit mendidih.

Begitu masuk ke ruang tamu, ia melihat seorang pria berpenampilan rapi, dengan kemeja biru muda dan senyum ramah.

"Selamat siang, Tuan Ravian," sapa pria itu sopan. "Saya Revan Adiputra, teman lama Nayara."

"Teman lama?" Ravian duduk perlahan. "Ada perlu apa datang ke sini?"

Revan tersenyum tenang. "Saya hanya ingin mengundang Nayara menghadiri pameran seni minggu depan. Kami dulu sempat satu proyek waktu di galeri."

Ravian menatapnya tajam. "Kamu bisa langsung menghubungi Nayara. Kenapa harus datang ke sini?"

Revan mengangkat alis, sedikit terkejut dengan nada dingin itu. "Saya hanya ingin bersikap sopan. Lagipula, Nayara bilang dia sekarang jarang ke luar rumah. Jadi saya pikir akan lebih baik kalau lewat Anda."

Ravian mengetukkan jarinya di meja. Ia berusaha menahan sesuatu yang mirip amarah. "Baik. Aku akan sampaikan."

Revan berdiri, mengulurkan tangan. "Terima kasih atas waktunya. Senang akhirnya bisa bertemu dengan suami Nayara. Dia banyak bercerita tentang betapa pekerja kerasnya Anda."

Ucapan itu terdengar biasa saja, tapi bagi Ravian, justru terasa seperti sindiran halus.

Begitu Revan pergi, Ravian bersandar di kursinya, rahangnya mengeras.

Dia banyak bercerita? Nayara bercerita tentangnya pada pria lain?

Entah kenapa, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap-cemburu.

Sebuah emosi yang bahkan ia sendiri tidak ingin akui.

Malamnya, Ravian pulang lebih awal. Ia menemukan Nayara sedang duduk di teras belakang sambil memandangi langit.

"Teman lamamu datang ke kantor," ucap Ravian membuka percakapan.

Nayara menoleh perlahan. "Revan?"

"Ya."

"Kamu marah?" tanyanya tenang.

Ravian tidak menjawab langsung. "Kenapa dia harus datang menemuiku untuk mengundangmu?"

"Dia cuma sopan, Ravian."

"Sopan?" Ravian mendengus pelan. "Atau sengaja cari perhatian?"

"Ravian," Nayara menatapnya dalam, "tidak semua orang seburuk yang kamu pikirkan."

Ravian menahan diri. Ia ingin membalas, tapi melihat tatapan tenang Nayara, sesuatu dalam dirinya runtuh. "Aku tidak suka dia datang ke sana."

"Kenapa?"

"Karena aku suamimu."

"Suami di atas kertas," Nayara menimpali cepat. "Kamu sendiri yang bilang kita tidak punya hubungan apa-apa selain tanggung jawab."

Kata-kata itu membuat Ravian kehilangan kata. Ia ingin berteriak bahwa bukan itu maksudnya, tapi lidahnya kelu.

Nayara berdiri, hendak masuk ke dalam rumah, tapi Ravian menahan lengannya. "Aku tidak mau kamu terlalu dekat dengan dia."

Nayara menatap tangan Ravian di lengannya. Sentuhan itu hangat, tapi sekaligus menyakitkan. "Lucu ya," ujarnya pelan, "kamu baru peduli ketika ada orang lain yang memperhatikanku."

Ravian melepaskan genggamannya. "Itu bukan seperti yang kamu pikirkan."

"Lalu seperti apa, Ravian? Kamu bahkan tidak pernah memandangku sebagai istrimu, tapi sekarang kamu melarangku bergaul dengan teman lama?"

Pria itu menunduk, rahangnya menegang. "Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka."

"Tidak suka atau takut kehilangan?" Nayara menatapnya tajam. "Kalau memang takut, buktikan. Tapi kalau tidak, lepaskan aku sepenuhnya."

Ravian diam. Matanya menatap Nayara lama, tapi tidak sanggup berkata apa-apa.

Malam itu, setelah Nayara masuk ke kamar, Ravian duduk sendirian di ruang tamu, memandangi dinding kosong. Di kepalanya, kalimat Nayara terulang lagi dan lagi-Buktikan atau lepaskan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ravian menyadari betapa ia sebenarnya takut kehilangan perempuan itu. Tapi rasa takut itu datang terlambat, setelah semuanya mulai retak.

Hari pameran tiba. Nayara datang bersama Mira, mengenakan gaun sederhana warna krem. Semua mata tertuju padanya, bukan karena penampilannya yang mencolok, tapi karena aura lembut dan tenangnya yang memancar.

Revan menyambutnya dengan senyum hangat. "Kamu kelihatan lebih bahagia sekarang."

Nayara tersenyum tipis. "Mungkin karena aku mulai berdamai dengan diri sendiri."

Mereka berjalan berdua, membahas lukisan-lukisan yang dipajang. Tapi di sisi ruangan, seseorang memperhatikan mereka dengan wajah menegang-Ravian.

Ia datang diam-diam, tidak memberi tahu Nayara. Tubuhnya tegang setiap kali melihat Revan tertawa bersama istrinya. Ada dorongan aneh di dadanya, antara marah dan takut.

Ketika Nayara sedang berbicara dengan pengunjung lain, Ravian menghampirinya.

"Kamu tidak bilang mau ke sini malam ini," ucapnya datar.

Nayara sedikit terkejut. "Aku tidak tahu kamu peduli."

Ravian menatapnya lama. "Aku peduli."

Revan datang menghampiri mereka, menepuk bahu Ravian dengan sopan. "Senang Anda datang juga, Pak Ravian. Nayara banyak membantu persiapan pameran ini."

Ravian mengangguk kaku. "Ya, aku lihat."

Tatapan keduanya bertemu sesaat-dingin dan penuh ketegangan yang tak tersentuh kata.

Setelah Revan pergi, Nayara menatap Ravian dengan nada getir. "Kamu datang untuk memantauku?"

"Untuk memastikan kamu baik-baik saja."

"Terima kasih, tapi aku bisa menjaga diriku." Nayara berbalik meninggalkannya, tapi Ravian menarik lembut pergelangan tangannya.

"Jangan terus menjauh, Nayara."

Wanita itu menoleh, matanya berkaca-kaca. "Aku bukan menjauh, Ravian. Aku cuma berhenti mengejar."

Ravian menunduk, suaranya serak. "Kau tidak tahu betapa aku menyesal."

"Menyesal tidak sama dengan mencinta," balas Nayara lirih.

Ia melepaskan tangannya perlahan, lalu pergi.

Dan malam itu, di tengah keramaian, Ravian berdiri sendiri, menatap punggung perempuan yang perlahan menjauh.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ravian benar-benar merasakan kehilangan-bukan karena harga diri, bukan karena ego, tapi karena cinta yang baru ia sadari setelah semuanya hampir terlambat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED