Langit Jakarta sore itu berwarna jingga pekat, memudar perlahan menjadi ungu kebiruan. Risa memandangnya dari jendela perpustakaan kampus, tangannya memegang pena yang tak bergerak di atas buku tebal. Harusnya ia fokus pada teori filsafat yang rumit di hadapannya, tapi pikirannya melayang jauh, menceritakan kembali momen-momen kecil yang selalu sukses membuatnya tersenyum sendiri. Namanya Bima, dosen muda yang mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian di jurusannya.
Sejak pertama kali melihatnya tiga bulan lalu, pada hari orientasi mahasiswa baru, Risa sudah merasakan getaran aneh. Bima bukan tipe dosen yang kaku atau menakutkan. Ia punya senyum hangat yang selalu menular, tatapan mata yang tajam namun menenangkan, dan cara menjelaskan materi yang selalu berhasil membuat topik paling membosankan sekalipun terdengar menarik. Rambut hitamnya kadang sedikit berantakan, menunjukkan bahwa ia mungkin baru saja mengacak-acaknya saat berpikir keras. Kemeja rapi yang sering ia kenakan seolah kontras dengan kepribadiannya yang santai dan humoris.
Risa adalah mahasiswi yang ceria, penuh semangat, dan mudah bergaul. Ia punya banyak teman, sering terlibat dalam kegiatan kampus, dan dikenal karena tawa renyahnya yang sering mengisi koridor. Namun, di hadapan Bima, ia seringkali berubah menjadi sedikit kikuk. Kata-kata yang biasanya mengalir lancar tiba-tiba macet di tenggorokannya, senyumnya terasa kaku, dan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia mencoba menyembunyikan perasaannya, berpura-pura bersikap biasa saja, layaknya mahasiswi pada umumnya yang menghormati dosennya. Tapi, dalam hati kecilnya, Risa tahu itu lebih dari sekadar rasa hormat. Itu adalah rasa suka yang perlahan tumbuh menjadi bibit-bibit cinta.
Setiap hari Selasa dan Kamis adalah hari favorit Risa. Bukan karena mata kuliahnya ringan, justru sebaliknya. Hari-hari itu adalah jadwal mata kuliah Bima. Risa selalu datang lebih awal, memilih kursi di barisan tengah agar bisa melihat Bima dengan jelas tanpa terlihat terlalu mencolok. Ia mencatat setiap kata yang diucapkan Bima, bukan hanya materi kuliah, tapi juga lelucon ringan yang ia selipkan atau anekdot pribadi yang kadang ia ceritakan. Suara Bima yang berat namun menenangkan selalu berhasil menenggelamkan Risa dalam khayalan-khayalan manisnya.
Ada satu insiden kecil yang semakin memperkuat perasaannya. Saat itu, Risa sedang buru-buru menuruni tangga dari lantai tiga. Tangannya penuh dengan buku dan laptop. Tanpa sengaja, kakinya tersandung dan ia hampir terjatuh. Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menahannya dari belakang. Itu adalah Bima.
"Hati-hati, Risa," katanya dengan senyum khawatir. "Banyak-banyak bawa barang, ya? Lain kali bisa minta tolong teman."
Risa hanya bisa mengangguk, pipinya merona merah. Jarak mereka begitu dekat, ia bisa mencium aroma parfum Bima yang maskulin dan segar. Jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya. Sejak saat itu, setiap kali mereka berpapasan di koridor, senyum Bima selalu terasa lebih hangat, seolah ada ikatan tak terlihat yang terbentuk di antara mereka.
Dunia yang Berputar di Sekitar Bima
Perasaan Risa terhadap Bima semakin dalam seiring berjalannya waktu. Ia mulai memikirkan Bima di luar jam kuliah. Setiap lagu cinta yang didengarnya seolah bercerita tentang perasaannya. Setiap film romantis yang ditontonnya terasa seperti cerminan keinginannya. Teman-temannya, Sarah dan Dino, sering menggodanya.
"Udah, Ris, ngaku aja," goda Sarah suatu siang di kantin, sambil menyikut lengannya. "Dari cara lo ngelihat Pak Bima, udah jelas banget."
Dino menambahkan, "Iya, Ris. Mata lo kayak ada bintang-bintangnya gitu kalau udah bahas Pak Bima."
Risa hanya tertawa malu, mencoba menyangkal dengan lemah. "Apaan sih kalian! Aku kan cuma kagum sama cara ngajarnya."
Tapi ia tahu, mereka benar. Ia tidak bisa lagi menyangkalnya. Kekaguman itu sudah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih dalam, dan lebih memabukkan.
Risa mulai mencari tahu lebih banyak tentang Bima. Ia mengikuti akun media sosial kampus, berharap ada informasi tentang Bima. Ia pernah mencoba mencari nama Bima di internet, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengobati rasa penasarannya. Namun, Bima adalah orang yang cukup tertutup di dunia maya. Tidak ada akun pribadi yang ia temukan, hanya beberapa artikel mengenai kontribusinya dalam penelitian kampus atau seminar yang ia ikuti. Hal itu justru membuat Risa semakin penasaran. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Bima, bukan hanya sebagai dosen, tetapi sebagai seorang pria.
Ia seringkali sengaja mencari alasan untuk bisa berinteraksi dengan Bima di luar jam kuliah. Misalnya, ia akan pura-pura bertanya tentang materi yang tidak ia pahami (padahal ia sudah sangat memahaminya), atau meminta rekomendasi buku. Bima selalu menjawab dengan sabar, menjelaskan dengan detail, dan sesekali melempar senyum yang selalu berhasil membuat Risa salah tingkah.
Suatu sore, Risa memberanikan diri untuk mengantarkan tugas kelompok secara langsung ke ruang dosen, padahal teman kelompoknya sudah bersedia mengantarkan. Ia berharap bisa bertemu Bima secara pribadi, tanpa hiruk-pikuk kelas. Dan harapannya terkabul. Bima sedang duduk di mejanya, membaca sebuah jurnal.
"Permisi, Pak," sapa Risa pelan.
Bima mendongak, senyum tipis terukir di bibirnya. "Oh, Risa. Ada apa?"
"Ini, Pak. Tugas Metodologi Penelitian dari kelompok saya," kata Risa, menyerahkan map. Tangannya sedikit gemetar.
"Terima kasih, Risa," Bima mengambil map itu. "Sudah dicek lagi isinya?"
"Sudah, Pak."
Ada keheningan singkat. Risa merasa jantungnya berdetak seperti drum. Ia ingin mengatakan sesuatu, apa saja, agar percakapan ini tidak berakhir terlalu cepat.
"Pak," Risa akhirnya memberanikan diri. "Saya mau tanya sedikit tentang tugas akhir nanti. Kira-kira topik apa yang sedang menarik untuk diteliti di bidang kita, ya?"
Bima tampak berpikir sejenak. "Hmm, kalau untuk sekarang, topik tentang 'Pengaruh Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja' cukup menarik, Risa. Atau 'Peran Teknologi dalam Membangun Literasi Digital Masyarakat Pedesaan'. Banyak sekali sebenarnya, tergantung minat kamu. Kamu sendiri ada ketertarikan pada bidang apa?"
Risa mendengarkan dengan saksama, matanya terpaku pada Bima. Ia suka bagaimana Bima serius membahas topik penelitian, menunjukkan betapa berdedikasinya ia pada bidangnya. "Saya... saya tertarik pada yang berkaitan dengan sosial dan masyarakat, Pak," jawab Risa, sedikit malu karena merasa jawabannya terlalu umum.
Bima tersenyum lagi. "Bagus itu. Nanti kalau ada ide spesifik, jangan sungkan diskusikan dengan saya, ya."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
Risa pamit dengan perasaan campur aduk antara senang dan sedikit kecewa karena percakapan itu harus berakhir. Namun, ia merasa ada secercah harapan. Bima sepertinya tidak keberatan dengan kehadirannya, bahkan ia mengundang Risa untuk berdiskusi lagi. Itu sudah cukup untuk membuat hati Risa berbunga-bunga.
Badai di Balik Kebahagiaan
Beberapa minggu kemudian, kabar mengejutkan datang menghantam Risa dan keluarganya. Setelah sekian lama, orang tua Risa, yang memang memiliki hubungan baik dengan keluarga besar mereka, menyampaikan sebuah berita yang membuat Risa terhenyak.
"Risa, Sayang," ujar ibunya suatu malam, di meja makan. "Ada kabar baik. Kamu tahu Om Surya, kan?"
Risa mengangguk. Om Surya adalah sahabat karib ayahnya sejak kuliah, seorang pengusaha sukses dengan jaringan bisnis yang luas. Risa jarang bertemu dengannya, tapi ia tahu Om Surya punya seorang putra yang seumuran dengannya.
"Om Surya dan Papa sudah lama bicara, dan mereka punya keinginan untuk menjodohkan kamu dengan putranya."
Jantung Risa serasa berhenti berdetak. Dijodohkan? Di zaman modern seperti ini? Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan mengalami hal seperti itu. Ia selalu berpikir akan jatuh cinta, berpacaran, lalu menikah dengan pilihannya sendiri.
"Siapa, Bu? Putra Om Surya yang mana?" tanya Risa, suaranya tercekat. Ia punya firasat buruk.
Ayahnya tersenyum hangat. "Putranya Om Surya yang dosen itu, Sayang. Bima Putra Wicaksono."
Dunia Risa terasa berputar. Bima? Dijodohkan dengan Bima? Ini pasti mimpi, atau ia salah dengar. Nama lengkap Bima, Bima Putra Wicaksono, tiba-tiba terdengar sangat familier. Selama ini ia hanya memanggilnya Pak Bima, tidak pernah terlalu memperhatikan nama lengkapnya. Ternyata, dia adalah putra dari sahabat ayahnya.
Seketika, pipi Risa memerah, bukan karena malu atau kesal, tapi karena kebahagiaan luar biasa. Ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan! Pria yang selama ini ia cintai dalam diam, yang ia dambakan, kini akan menjadi calon suaminya? Ini adalah keajaiban!
"Beneran, Pa? Bu?" Risa tidak bisa menahan senyum lebar yang merekah di wajahnya. Ada campuran antara rasa tak percaya, kaget, dan euforia yang membanjirinya.
Orang tuanya tertawa melihat reaksi Risa. "Iya, Sayang. Kenapa? Kamu sudah kenal?" tanya ibunya.
"Dia dosen Risa di kampus, Bu," jawab Risa, suaranya terdengar cicitan. Ia merasa sangat bahagia, hingga rasanya ingin berteriak dan memeluk seluruh dunia.
Keluarga Bima dan keluarga Risa memang sudah sangat akrab. Mereka sering bertemu di acara-acara keluarga besar, hanya saja Bima dan Risa tidak pernah berinteraksi secara intens karena perbedaan usia yang cukup signifikan (Bima lebih tua delapan tahun dari Risa) dan kesibukan masing-masing. Bima sudah menyelesaikan studinya di luar negeri dan langsung mengajar, sementara Risa masih mahasiswa baru saat itu.
Sejak hari itu, kehidupan Risa berubah 180 derajat. Ia berjalan di kampus dengan senyum yang tak pernah pudar. Setiap kali bertemu Bima, entah itu di koridor atau di ruang kelas, ia merasa ada percikan kebahagiaan yang membakar jiwanya. Ia bahkan berani sedikit lebih santai dan menunjukkan jati dirinya yang ceria di hadapan Bima, karena ia merasa bahwa status mereka akan segera berubah.
Beberapa hari setelah pengumuman perjodohan, Bima mengunjungi rumah Risa bersama orang tuanya untuk acara makan malam keluarga. Suasana canggung sempat menyelimuti Risa di awal, tapi kebahagiaannya lebih besar dari rasa canggung itu. Ia melihat Bima dalam balutan kemeja batik yang rapi, tampak sangat tampan.
"Jadi, kamu sering menyusahkan Pak Bima di kampus, ya, Risa?" canda Ayah Bima, membuat semua orang tertawa.
Risa hanya tersenyum malu, melirik Bima yang juga tersenyum tipis. Senyum itu, pikir Risa, adalah senyum persetujuan. Senyum yang mengatakan bahwa Bima juga bahagia dengan perjodohan ini. Ia merasa sangat yakin bahwa Bima pun merasakan hal yang sama dengannya.
Malam itu, mereka berdua bahkan sempat berbincang santai di teras belakang. "Gimana kuliahnya, Risa?" tanya Bima, suaranya tenang seperti biasa.
"Baik, Pak... eh, Kak Bima," Risa memperbaiki panggilan, pipinya merona. "Lumayan menantang. Tapi Risa suka."
Bima mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Dosennya galak-galak, ya?" Ia menggodanya.
Risa tertawa. "Enggak semua kok, Kak. Ada yang baik banget," katanya sambil melirik Bima, mencoba memberikan isyarat halus.
Bima hanya tersenyum simpul, matanya menatap ke arah taman. Risa merasa ada sesuatu yang aneh. Senyum Bima tampak sedikit hampa, dan tatapannya tampak jauh. Tapi Risa mengabaikannya. Mungkin Bima hanya lelah, atau ia memang tipe orang yang tidak terlalu ekspresif. Risa terlalu larut dalam kebahagiaannya sendiri untuk memperhatikan detail-detail kecil itu. Ia percaya, cinta akan tumbuh di antara mereka. Bukankah banyak pasangan yang dijodohkan akhirnya saling mencintai?
Rahasia di Balik Senyum Bima
Hari-hari berlalu. Perjodohan mereka mulai santer terdengar di kalangan keluarga besar. Persiapan mulai dilakukan, meskipun masih dalam tahap awal. Risa merasa di awang-awang. Ia seringkali memimpikan masa depannya bersama Bima: membangun keluarga, mengurus rumah, mungkin memiliki anak-anak lucu yang mewarisi senyum Bima.
Namun, di tengah kebahagiaannya yang meluap-luap, ada satu hal yang terus mengganjal. Bima tidak pernah menunjukkan ketertarikan yang sama dengannya. Ia memang bersikap ramah, seperti biasa. Kadang-kadang ia akan mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan kabar atau sekadar mengingatkan jadwal pertemuan keluarga. Tapi tidak pernah ada nada romantis, tidak ada pujian, tidak ada sentuhan-sentuhan kecil yang seharusnya ada di antara dua orang yang akan menikah.
Risa berusaha mencari pembenaran. "Mungkin Bima adalah tipe orang yang tidak ekspresif," pikirnya. "Mungkin dia ingin menjaga jarak karena statusnya sebagai dosen." Ia mencoba menepis keraguan yang sesekali muncul di benaknya. Ia tidak ingin kebahagiaannya rusak oleh hal-hal kecil.
Suatu sore, Risa berpapasan dengan teman Bima, seorang dosen senior bernama Pak Dimas. Mereka sempat mengobrol sebentar.
"Oh, Risa," kata Pak Dimas. "Sudah lama sekali tidak melihat Bima seceria ini. Kamu punya dampak yang baik untuknya."
Risa terkejut. "Se-ceria ini, Pak?"
Pak Dimas mengangguk. "Iya. Dia kan dulu... ah, sudahlah. Intinya, dia sekarang terlihat lebih baik. Kamu beruntung mendapatkan Bima. Dia pria yang baik, hanya saja dulu ia pernah menghadapi masa-masa sulit."
Risa penasaran. "Masa sulit apa, Pak?"
Pak Dimas tampak ragu-ragu. "Bima pernah punya tunangan, Risa. Namanya Clara. Mereka sudah bersama sejak kuliah, bahkan berencana menikah. Tapi Clara meninggal karena kecelakaan mobil setahun yang lalu. Itu sangat memukul Bima. Dia sempat menarik diri dari segalanya. Kita semua khawatir."
Dunia Risa runtuh. Clara. Nama itu menggaung di kepalanya. Jadi, Bima pernah mencintai orang lain? Dan orang itu... meninggal? Mengapa Bima tidak pernah bercerita? Mengapa keluarga Bima tidak pernah menyinggung hal ini?
Rasa sakit yang tajam menusuk hati Risa. Bukan karena cemburu pada mendiang Clara, tapi karena fakta bahwa Bima menyembunyikan hal sebesar itu darinya. Ia akan menjadi istrinya! Bukankah seharusnya ada kejujuran di antara mereka? Ia merasa bodoh, begitu buta oleh kebahagiaan semu.
Sepulang dari kampus, Risa langsung mencari tahu tentang Clara. Dengan mudah ia menemukan berita duka setahun lalu tentang kecelakaan yang menewaskan seorang wanita bernama Clara Anindita, seorang seniman muda berbakat. Ada foto-foto Bima di sana, dengan wajah yang begitu terpukul, menatap kosong ke arah makam. Di beberapa foto, Bima terlihat memegang sebuah gelang perak dengan liontin hati.
Rasa dingin merayapi tubuh Risa. Semua kebahagiaannya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kekecewaan yang mendalam dan perasaan dikhianati. Selama ini, ia membangun istana pasir di atas kebohongan. Bima tidak mencintainya. Ia tahu itu sekarang. Bima hanya menerimanya karena perjodohan ini, mungkin karena ia lelah dengan kesendiriannya, atau mungkin karena keluarganya mendesak.
Ia mulai mengingat kembali semua interaksi mereka. Senyum Bima yang hampa, tatapan matanya yang jauh, ketiadaan sentuhan hangat. Semua itu kini memiliki makna yang mengerikan. Bima tidak pernah benar-benar ada bersamanya. Pikirannya, hatinya, masih tertambat pada Clara.
Risa merasa bodoh. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari tanda-tanda itu? Bagaimana mungkin ia begitu dibutakan oleh perasaannya sendiri hingga tidak melihat kenyataan pahit di depan mata? Rasa malu membakar pipinya.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Perubahan dan Keputusan Tak Terbantahkan
Semenjak hari itu, Risa yang periang, ceria, dan penuh tawa seolah menghilang ditelan bumi. Gadis yang dulu selalu tersenyum itu kini berubah menjadi pendiam. Tawanya tak terdengar lagi. Senyumnya hanya tipis, seolah dipaksakan. Ia sering menyendiri, menghabiskan waktu di perpustakaan atau di kamarnya, merenung dalam diam. Teman-temannya, Sarah dan Dino, tentu saja menyadari perubahan ini.
"Risa, kamu kenapa?" tanya Sarah suatu malam saat mereka sedang belajar kelompok. "Kok beda banget akhir-akhir ini? Ada masalah?"
Risa hanya menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, kok, cuma lagi banyak pikiran aja."
Dino menatapnya curiga. "Pikiran apa? Cerita aja, Ris. Siapa tahu kita bisa bantu."
Risa hanya tersenyum pahit. Bagaimana ia bisa menceritakan bahwa kebahagiaan yang selama ini ia agung-agungkan ternyata adalah fatamorgana? Bahwa pria yang ia cintai ternyata masih mencintai mendiang tunangannya dan menyembunyikan semua itu darinya? Rasa malu dan sakit terlalu besar untuk dibagikan.
Pertemuan keluarga dengan Bima dan keluarganya masih terus berlangsung, namun Risa kini datang dengan hati yang hampa. Ia berusaha keras menampilkan wajah ceria, senyum yang dipaksakan, dan obrolan ringan yang terasa seperti beban berat. Bima, di sisi lain, tampak seperti biasa. Mungkin ia tidak menyadari perubahan Risa, atau ia memang tidak peduli. Itu justru semakin melukai Risa.
Suatu malam, Risa melihat sebuah foto lama di ponsel Bima saat ia tidak sengaja melirik. Bima sedang tertawa bahagia, memeluk seorang wanita cantik berambut panjang. Wanita itu mengenakan gelang perak dengan liontin hati yang sama persis dengan yang ia lihat di foto-foto pemakaman Clara. Foto itu diambil di sebuah taman bunga yang indah. Tatapan mata Bima pada wanita itu penuh cinta, sesuatu yang tidak pernah Risa lihat saat Bima menatapnya.
Air mata Risa tumpah. Hatinya remuk redam. Ia merasa seperti pecundang. Betapa naifnya ia selama ini. Kebahagiaan Bima saat bersamanya adalah ilusi. Bima tidak bahagia. Ia hanya sedang melanjutkan hidup, mungkin demi keluarganya, mungkin demi menjaga nama baik. Tapi bukan karena ia mencintai Risa.
Malam itu, Risa membuat keputusan besar. Keputusan yang sangat sulit, tapi ia tahu itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kehancuran yang lebih dalam. Ia tidak bisa hidup dalam kebohongan. Ia tidak bisa membangun rumah tangga di atas puing-puing cinta yang bukan miliknya.
Dengan kesadaran penuh, Risa tahu ia harus pergi.
Pagi-pagi sekali, saat fajar baru menyingsing dan kota masih terlelap, Risa meninggalkan sebuah surat di meja makan untuk kedua orang tuanya. Tas punggungnya sudah ia siapkan semalam. Di dalamnya hanya ada pakaian seadanya, beberapa buku, dan dompet kecil. Ia tidak membawa ponselnya. Ia ingin memutuskan semua kontak, semua jejak yang bisa menghubungkannya dengan kehidupan lama, dengan Bima.
Langkah kakinya terasa berat, namun hatinya dipenuhi tekad yang membara. Ia memanggil taksi daring dan melaju menuju stasiun kereta. Tujuannya adalah sebuah kota kecil di ujung pulau Jawa, tempat bibinya tinggal. Bibinya adalah seorang pelukis yang hidup tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota. Risa pernah menghabiskan liburan musim panas di sana dan ia tahu, di sanalah ia bisa menemukan ketenangan.
Di dalam kereta, Risa menatap keluar jendela, membiarkan pemandangan hijau yang berarak menghapus air mata yang tak henti mengalir. Ia membiarkan hatinya menangis untuk semua kebahagiaan yang semu, untuk semua impian yang hancur, dan untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ia tahu keputusannya ini akan menyakiti banyak orang, terutama orang tuanya. Tapi ia tidak bisa melanjutkan sandiwara ini. Ia tidak bisa menjadi pengganti, atau bayangan dari cinta yang telah pergi.
Risa tahu Bima mungkin akan terkejut, marah, atau bahkan lega. Ia tidak peduli lagi. Yang ia pedulikan adalah dirinya sendiri, hatinya yang perlu disembuhkan, dan jiwanya yang perlu menemukan kedamaian.
Ia akan memulai hidup baru, di tempat baru, tanpa Bima, tanpa bayang-bayang Clara, dan tanpa jejak apapun yang bisa menghubungkannya dengan masa lalu yang penuh kepedihan itu. Ia akan menghilang, sepenuhnya. Ia akan belajar untuk mencintai dirinya sendiri lagi, dan mungkin, suatu hari nanti, ia bisa kembali menjadi Risa yang periang dan penuh tawa. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin pergi. Pergi sejauh mungkin.
Di sisi lain kota, Bima terbangun seperti biasa. Ia bersiap untuk mengajar, minum kopi, dan mengecek ponselnya. Tidak ada pesan dari Risa. Itu tidak aneh, karena Risa tidak selalu mengiriminya pesan. Namun, ketika ia pergi ke dapur dan melihat orang tua Risa panik mencari putri mereka, hatinya langsung mencelos. Sebuah surat dari Risa tergeletak di meja, hanya beberapa baris tulisan tangan yang rapi namun penuh kepedihan.
Untuk Papa dan Mama,
Maafkan Risa. Risa tidak bisa melanjutkan ini. Risa butuh waktu untuk sendiri, untuk menyembuhkan diri. Jangan cari Risa. Risa akan baik-baik saja. Suatu hari nanti, Risa akan kembali.
Dengan cinta dan maaf,
Risa.
Bima mengambil surat itu dari tangan Ayah Risa yang gemetar. Matanya membaca tulisan itu berulang kali. Tidak ada nama Bima di sana. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah kepergian tanpa jejak. Sebuah kepergian yang begitu tiba-tiba, begitu sunyi, namun menghantamnya seperti palu godam.
Ia merasa kosong. Ada kekosongan yang tiba-tiba melanda dirinya. Apakah ini tentang perjodohan? Apakah Risa tidak bahagia? Ia tahu ia tidak mencintai Risa seperti ia mencintai Clara. Ia tahu ia masih menyimpan Clara di sudut hatinya. Ia tahu ia hanya menerima perjodohan ini karena ingin mencoba melanjutkan hidup, karena keluarganya terus mendesak, karena Risa adalah gadis yang baik dan ceria. Ia pikir, seiring waktu, ia bisa belajar mencintai Risa. Ia pikir, Risa akan mengerti.
Tapi Risa tidak menunggu. Risa pergi.
Rasa penyesalan mulai merayapi hati Bima. Penyesalan karena tidak jujur sepenuhnya. Penyesalan karena mungkin telah menyakiti Risa tanpa ia sadari. Penyesalan karena telah membiarkan bayangan masa lalu menghalangi kebahagiaan yang mungkin bisa tumbuh.
Ia mencoba menghubungi Risa, tapi nomornya tidak aktif. Ia mencari tahu ke teman-teman Risa, tapi tidak ada yang tahu kemana Risa pergi. Risa benar-benar menghilang, seperti ditelan bumi.
Ruangan Risa kosong, kecuali beberapa barang yang sengaja ditinggalkan. Di atas meja belajarnya, ada sebuah buku filsafat yang terbuka. Di sebelahnya, ada selembar kertas dengan tulisan tangan Risa. Bukan materi kuliah, melainkan sebuah puisi pendek.
Pada setiap senyum yang kupaksakan,
Ada hati yang perlahan hancur.
Pada setiap tatapmu yang hampa,
Kutemukan diriku yang tak nyata.
Kau tak pernah tahu lukaku,
*Tersembunyi di balik tawa.
Kau tak pernah melihat air mataku,
Mengering di dasar jiwa.
Maka kubiarkan langkah ini pergi,
Menghapus jejak yang pernah ada.
Mencari cahaya di ujung sepi,
Meninggalkan cinta yang sia-sia.
Bima membaca puisi itu berulang kali, hatinya mencelos. Ia tidak pernah tahu. Ia tidak pernah menyadari seberapa dalam Risa terluka. Ia terlalu sibuk dengan kesedihannya sendiri, dengan bayangan Clara, hingga ia buta akan perasaan gadis di hadapannya.
Penyesalan itu kini berubah menjadi beban berat di pundaknya. Bima tahu, kepergian Risa akan menghantuinya selama bertahun-tahun. Ia kehilangan bukan hanya calon istrinya, tapi juga seorang gadis yang tulus mencintainya, dan yang kini telah pergi, membawa serta senyum dan tawa yang pernah ia miliki. Ia tidak tahu kapan, atau apakah Risa akan kembali. Yang ia tahu, ia telah menyakiti seseorang yang tidak pantas disakiti. Dan itu adalah kesalahan terbesarnya.
Risa pergi. Kepergiannya adalah sebuah guncangan, bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi Bima. Untuk sesaat, dunia Bima terasa seperti berhenti berputar. Ia membaca ulang surat singkat Risa berkali-kali, seolah setiap kata bisa memberinya petunjuk, sebuah alasan yang lebih masuk akal. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan dan tanda tanya besar yang menganga. "Maafkan Risa. Risa tidak bisa melanjutkan ini. Risa butuh waktu untuk sendiri, untuk menyembuhkan diri. Jangan cari Risa. Risa akan baik-baik saja. Suatu hari nanti, Risa akan kembali."
Kalimat itu berputar-putar di benaknya, diselingi dengan bayangan Risa yang periang, Risa yang tertawa renyah, Risa yang kadang terlihat malu-malu di kelas. Bagaimana bisa gadis seceria itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak?
Penyesalan. Kata itu kini menjadi teman setia Bima. Itu bukan penyesalan biasa, melainkan penyesalan yang tajam, menusuk, dan terasa sangat berat. Ia menyesal karena tidak menyadari. Menyesal karena terlalu sibuk dengan bayang-bayang masa lalunya sendiri, sehingga ia luput melihat luka yang tumbuh di hati Risa.
Ia ingat pertemuan terakhir mereka. Risa memang terlihat sedikit lebih pendiam, senyumnya tidak selebar biasanya. Tapi Bima, dengan segala ego dan kesibukan batinnya, hanya menganggap Risa mungkin sedang lelah atau punya masalah kuliah. Ia tidak pernah berpikir bahwa masalah itu bisa jadi adalah dirinya.
Keluarga Risa tentu saja panik. Ayah dan Ibu Risa menghubungi Bima, bertanya apakah ia tahu sesuatu. Bima hanya bisa menggeleng lemah, hatinya terasa sesak. Ia tidak bisa menceritakan tentang puisi yang ia temukan, atau tentang dugaannya bahwa Risa tahu mengenai Clara. Itu terlalu menyakitkan, terlalu pribadi, dan akan memperkeruh suasana. Ia hanya mengatakan bahwa Risa memang tampak sedikit gelisah beberapa hari terakhir, namun ia tidak tahu alasannya.
Pencarian Risa dimulai. Polisi dilibatkan, teman-teman Risa dihubungi, semua kerabat dicari. Namun, Risa seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada jejak. Nomor ponselnya mati. Akun media sosialnya tidak aktif lagi. Ia benar-benar menghapus dirinya dari peredaran.
Setiap hari yang berlalu tanpa kabar Risa adalah siksaan bagi Bima. Kampus terasa hampa. Kelas-kelas yang biasa ia ajarkan kini dipenuhi bayangan Risa di bangku tengah. Ia melihat bangku itu kosong, dan hatinya terasa ikut kosong. Ia kehilangan fokus, sering melamun, dan kerap kali tatapannya menjadi sendu. Kolega-koleganya, termasuk Pak Dimas, menyadari perubahan drastis pada Bima.
"Kamu baik-baik saja, Bim?" tanya Pak Dimas suatu siang di ruang dosen. "Sejak perjodohanmu dengan Risa... oh, maaf. Sejak Risa tidak terlihat, kamu jadi sering melamun."
Bima menghela napas panjang. "Entahlah, Pak. Saya tidak tahu. Risa menghilang, dan saya... saya merasa bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab bagaimana?"
Bima menatap keluar jendela, ke arah lapangan rumput yang sepi. "Saya rasa, saya tidak jujur padanya, Pak. Tentang... tentang masa lalu saya."
Pak Dimas mengangguk pelan. "Maksudmu, Clara?"
Bima menoleh, terkejut. "Bapak tahu?"
"Semua orang tahu, Bim. Kamu tidak bisa menyembunyikan masa lalu semacam itu. Tapi, apa hubungannya dengan Risa?"
"Saya rasa Risa mengetahuinya, Pak. Saya rasa dia tahu bahwa saya masih menyimpan kenangan Clara, dan saya tidak bisa... saya tidak bisa mencintainya seperti saya mencintai Clara." Bima menunduk, meremas jemarinya. "Saya berpikir, jika saya mencoba, cinta itu akan tumbuh. Tapi ternyata, Risa tahu. Dia terlalu peka, terlalu baik untuk saya yang penuh dengan beban masa lalu."
Pak Dimas menepuk pundak Bima. "Bima, cinta itu bukan tentang melupakan. Tapi tentang menerima. Menerima bahwa masa lalu adalah bagian dari dirimu, dan masa depan adalah babak baru yang harus kamu tulis. Mungkin Risa membutuhkan kejujuranmu sejak awal. Bukan hanya dari ucapan, tapi juga dari hatimu."
Kata-kata Pak Dimas menghantam Bima. Kejujuran dari hati. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia berikan pada Risa. Ia hanya memberikan persetujuan lisan, senyum yang dipaksakan, dan janji kosong. Ia terlalu pengecut untuk menghadapi kebenaran bahwa hatinya masih terikat pada Clara. Dan kini, ia membayar mahal untuk kepengecutannya.
Terjebak dalam Kenangan
Malam-malam Bima kini diisi oleh kegelisahan. Ia sering terbangun dengan keringat dingin, teringat wajah Risa yang sendu, puisi yang ia tulis, dan surat perpisahan yang tak punya alamat tujuan. Ia mulai melihat foto-foto Risa di grup WhatsApp kelas, foto-foto Risa saat tersenyum lebar bersama teman-temannya. Ia bahkan mencari videonya di acara kampus, hanya untuk mendengar tawa renyah Risa yang kini terasa seperti melodi yang hilang.
Ia mencoba mengingat setiap detail tentang Risa. Apa warna kesukaan Risa? Apa makanan favoritnya? Apa mimpinya? Ia menyadari betapa sedikit yang ia tahu tentang gadis yang hampir menjadi istrinya itu. Ia terlalu fokus pada dirinya sendiri, pada kesedihannya, pada bayangan Clara, sehingga ia gagal melihat Risa sebagai seorang individu yang utuh, dengan perasaan dan impiannya sendiri.
Hidup Bima berubah drastis. Ia tidak lagi makan di luar, lebih sering menghabiskan waktu di apartemennya yang terasa semakin sepi. Dinding-dindingnya seolah menggemakan keheningan, dan setiap sudutnya terasa kosong tanpa kehadiran Risa. Ia mulai jarang mengunjungi orang tuanya, merasa bersalah setiap kali mereka bertanya tentang Risa.
Ibunya, yang selalu sabar dan pengertian, suatu hari bertanya padanya. "Bima, kamu mencintai Risa?"
Bima terdiam. Jujur, ia tidak tahu harus menjawab apa. "Aku... aku tidak yakin, Bu. Aku hanya tahu dia gadis yang baik."
Ibunya menghela napas. "Baik saja tidak cukup, Nak. Kamu tahu itu. Perjodohan ini kami lakukan karena kami pikir Risa bisa membawamu kembali. Membuatmu tersenyum lagi. Kami lihat kamu ceria saat bersamanya. Kami pikir... kamu sudah siap membuka hati."
"Aku memang mencoba, Bu. Aku sungguh mencoba," ucap Bima, suaranya parau. "Aku ingin melanjutkan hidup. Aku tahu aku harus. Tapi Clara... Clara selalu ada di sini," ia menunjuk dadanya. "Dan aku tidak bisa berpura-pura seolah dia tidak pernah ada."
"Tidak ada yang memintamu melupakan Clara, Nak," kata ibunya lembut. "Clara akan selalu menjadi bagian dari hidupmu. Tapi hidupmu harus terus berjalan. Kamu tidak bisa membiarkan masa lalu mengikatmu selamanya. Risa... dia gadis yang pantas mendapatkan cinta yang utuh. Mungkin, dia merasakan bahwa hatimu tidak sepenuhnya untuknya."
Kata-kata ibunya adalah tamparan keras bagi Bima. Itu adalah kebenaran yang pahit, kebenaran yang selama ini ia coba hindari. Ia memang tidak mencintai Risa sepenuhnya. Ia hanya ingin menggunakan Risa sebagai jembatan untuk melarikan diri dari kesedihan. Dan Risa, dengan kepekaan nalurinya, menyadarinya.
Jejak yang Tak Terhapus
Bulan demi bulan berlalu, berubah menjadi tahun. Tidak ada kabar dari Risa. Pencarian dihentikan, dianggap sebagai kasus orang hilang yang memilih untuk tidak ditemukan. Orang tua Risa, meskipun terpukul, akhirnya mencoba menerima kenyataan bahwa putri mereka membutuhkan ruang untuk menyembuhkan diri.
Bima melanjutkan hidupnya, tapi tidak pernah sama. Ia menjadi lebih serius, lebih pendiam di kampus. Aura cerianya dulu seolah lenyap ditelan bayang-bayang penyesalan. Ia menjadi seorang dosen yang kompeten dan dihormati, tapi ada kerapuhan di matanya, kesedihan yang sulit disembunyikan.
Setiap kali ia mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian, ia selalu teringat Risa yang dulu duduk di barisan tengah, mencatat dengan saksama, dan sesekali tersenyum padanya. Setiap kali ia melihat mahasiswa terburu-buru di tangga, ia teringat insiden kecil saat ia menahan Risa agar tidak jatuh. Kenangan-kenangan kecil itu, yang dulu terasa biasa saja, kini menjelma menjadi siksaan.
Suatu sore, saat Bima sedang membersihkan mejanya, ia menemukan sebuah kertas terlipat di antara buku-buku lama. Itu adalah puisi Risa. Puisi yang ia temukan di kamar Risa, puisi yang menjadi bukti betapa butanya ia dulu.
Ia membacanya lagi.
Pada setiap senyum yang kupaksakan,
Ada hati yang perlahan hancur.
Pada setiap tatapmu yang hampa,
Kutemukan diriku yang tak nyata.
Kau tak pernah tahu lukaku,
*Tersembunyi di balik tawa.
Kau tak pernah melihat air mataku,
Mengering di dasar jiwa.
Maka kubiarkan langkah ini pergi,
Menghapus jejak yang pernah ada.
Mencari cahaya di ujung sepi,
Meninggalkan cinta yang sia-sia.
Setiap baris terasa seperti pedang yang menusuk hatinya. "Kau tak pernah tahu lukaku," "Kau tak pernah melihat air mataku." Kata-kata itu mengiris kesadarannya. Ia adalah orang yang menyebabkan luka itu. Ia adalah orang yang terlalu egois untuk melihat penderitaan gadis di hadapannya.
Bima bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela. Di luar, kampus terlihat sibuk dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Mereka tertawa, bercanda, menjalani hidup mereka dengan riang. Ia melihat sepasang kekasih berpegangan tangan, saling menatap dengan penuh kasih. Seketika, ia merasa sangat kesepian. Kesendirian yang bukan karena tidak ada siapa-siapa di sekitarnya, tapi kesendirian yang disebabkan oleh hati yang hampa.
Clara, nama itu masih terasa hangat di hatinya, namun kini ia menyadari bahwa mengenang Clara dengan cara ini tidak akan membawa Clara kembali. Justru ia telah menghancurkan potensi kebahagiaan yang lain. Clara mungkin ingin melihatnya bahagia, bukan terjebak dalam penyesalan abadi.
Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto profil lama Clara. Senyum Clara begitu cerah, matanya penuh kehidupan. Di samping foto Clara, ia melihat foto dirinya bersama Risa, yang diambil saat mereka menghadiri acara keluarga. Risa tersenyum cerah, memeluk lengan Bima, sementara Bima hanya tersenyum tipis, matanya tidak sepenuhnya terpancar kebahagiaan. Kontras itu begitu menyakitkan.
Ia menyadari sesuatu yang lebih dalam. Clara adalah cinta masa lalunya. Kenangan indah yang akan selalu ia simpan. Tapi Risa adalah masa depannya yang ia biarkan pergi. Risa adalah kesempatan kedua, kesempatan untuk sembuh dan mencintai lagi, yang ia sia-siakan.
Mencari Diri di Tengah Kehilangan
Bima mulai mencari jawaban. Bukan jawaban tentang keberadaan Risa, melainkan jawaban tentang dirinya sendiri. Ia mulai membaca buku-buku tentang penyembuhan trauma, tentang bagaimana melepaskan masa lalu, tentang arti cinta yang sebenarnya. Ia bahkan mencoba untuk berbicara dengan seorang psikolog, meskipun hanya beberapa sesi.
"Penyesalan adalah bagian dari proses berduka, Pak Bima," kata psikolog itu dengan lembut. "Anda berduka atas kehilangan tunangan Anda, dan Anda juga berduka atas apa yang seharusnya terjadi dengan Risa. Anda merasa bersalah, dan itu wajar. Tapi untuk bisa melangkah maju, Anda harus memaafkan diri sendiri. Memaafkan diri karena telah terluka, dan memaafkan diri karena mungkin telah melukai orang lain tanpa sengaja."
Memaafkan diri sendiri. Itu adalah hal tersulit yang harus Bima lakukan. Ia terus-menerus menyalahkan dirinya atas kepergian Risa. Andai saja ia jujur dari awal. Andai saja ia lebih peka. Andai saja ia tidak terlalu egois.
Ia memutuskan untuk mengunjungi makam Clara lebih sering. Bukan untuk meratapi, melainkan untuk melepaskan. Ia berbicara pada Clara, menceritakan semua yang terjadi. Ia menceritakan tentang Risa, tentang betapa cerianya Risa, dan bagaimana ia telah menyakiti gadis itu.
"Clara," bisik Bima di depan nisan Clara. "Aku tahu kamu pasti ingin aku bahagia. Aku minta maaf karena aku tidak bisa memberikan kebahagiaan yang pantas untuk Risa. Aku terlalu bodoh, terlalu tenggelam dalam kesedihanku sendiri. Aku akan berusaha, Clara. Aku akan belajar untuk mencintai lagi. Aku akan belajar untuk menjadi pria yang lebih baik, yang pantas untuk mencintai dan dicintai."
Setelah bertahun-tahun, ini adalah pertama kalinya Bima merasa sedikit lega. Bukan karena ia melupakan Clara, tetapi karena ia akhirnya berani mengakui bahwa ia harus melanjutkan hidup. Bahwa ia harus menyembuhkan luka-lukanya dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Untuk Clara, untuk Risa, dan untuk dirinya sendiri.
Harapan yang Menipis, Penyesalan yang Menguat
Waktu terus berjalan. Bima kini menjadi kepala departemen, karirnya semakin cemerlang. Ia menjadi mentor yang baik bagi mahasiswanya, mencoba menjadi sosok yang lebih hangat dan terbuka. Ia sering memberikan nasihat tentang pentingnya kejujuran dan keberanian dalam menghadapi perasaan. Nasihat-nasihat itu, sebenarnya, adalah nasihat untuk dirinya sendiri.
Setiap ada mahasiswa baru yang mendaftar, tanpa sadar Bima akan mencari-cari wajah Risa di antara kerumunan. Ada bagian dari dirinya yang masih menyimpan harapan tipis bahwa Risa akan kembali, suatu hari nanti, muncul di pintu kantornya, atau di salah satu kelasnya. Namun, harapan itu selalu pudar, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa Risa telah pergi, mungkin selamanya.
Orang tua Risa kini sudah tidak lagi menghubungi Bima untuk menanyakan kabar Risa. Mereka pun telah melanjutkan hidup mereka, menerima takdir yang ada. Namun, di setiap acara keluarga, Bima selalu merasakan kehadiran Risa yang tak terlihat. Ia sering melihat orang tua Risa menatap kosong ke suatu titik, seolah sedang mengingat putri mereka. Hati Bima selalu teriris setiap kali melihatnya.
Penyesalan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tidak lagi berbentuk siksaan yang melumpuhkan, melainkan menjadi pengingat yang konstan. Pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan setiap ketidakjujuran akan berujung pada rasa sakit.
Bima seringkali membayangkan seperti apa Risa sekarang. Apakah ia sudah menemukan kebahagiaannya? Apakah ia sudah sembuh dari luka yang ia torehkan? Apakah ia sudah bisa tersenyum lebar lagi, tawa renyahnya kembali menggemakan kebahagiaan?
Ia berharap Risa menemukan semua itu. Ia berharap Risa bisa hidup dengan bahagia, jauh dari bayang-bayang masa lalunya, dan jauh dari bayang-bayang dirinya yang menyakitkan.
Ia tahu ia tidak pantas dimaafkan begitu saja. Namun, ia berharap, suatu hari nanti, takdir akan mempertemukan mereka lagi. Bukan untuk kembali ke hubungan yang dulu, melainkan untuk sebuah kesempatan. Kesempatan untuk meminta maaf dengan tulus, dan kesempatan untuk melihat Risa yang utuh, yang telah pulih, yang telah menemukan kembali cahaya dalam dirinya.
Bima tahu, itu mungkin hanya harapan kosong. Tapi harapan itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus berjalan, terus berbenah, terus belajar untuk menjadi pria yang lebih baik, yang suatu hari nanti, akan pantas untuk mencintai dan dicintai, tanpa beban masa lalu, dan tanpa menyakiti siapapun.
Ia masih menyimpan puisi Risa. Kadang, di malam hari yang sepi, ia akan membacanya lagi. Puisi itu adalah pengingat abadi tentang kesalahannya, dan tentang gadis ceria yang ia hancurkan hatinya. Puisi itu juga adalah pemicu untuk sebuah perubahan. Perubahan yang membuat Bima menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih peka, dan lebih memahami arti dari sebuah cinta yang tulus dan kejujuran yang murni.
Di kampus yang sama, di kota yang sama, Bima hidup dengan bayangan penyesalan yang tak kunjung padam, menunggu sesuatu yang mungkin tak akan pernah datang: kembalinya Risa.
Risa turun dari kereta di stasiun kecil itu, napasnya berembus tipis di udara dingin pagi. Kota Cendana, begitu nama tempat itu, terasa seperti lembaran baru yang bersih. Udara pegunungan yang segar menusuk paru-parunya, jauh berbeda dengan polusi dan hiruk pikuk Jakarta. Di sini, waktu seolah bergerak lebih lambat, lebih tenang, dan Risa sangat membutuhkan ketenangan itu.
Ia tidak membawa banyak barang, hanya ransel berisi beberapa potong pakaian, buku-buku yang ia anggap penting, dan sebuah dompet. Ponselnya ia tinggalkan di rumah, sebuah simbol nyata dari pemutusan hubungan dengan masa lalu. Ia ingin menghilang, melarikan diri, bukan dari masalah, tapi dari dirinya sendiri yang rapuh. Dari bayang-bayang cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan dari rasa sakit pengkhianatan yang tak terucapkan.
Bibi Rima, adik bungsu ibu Risa, menyambutnya di peron dengan senyum hangat. Bibi Rima adalah seorang pelukis yang memilih hidup sederhana di Cendana. Rumahnya kecil, dikelilingi taman yang rimbun dan menghadap langsung ke deretan pegunungan hijau. Aura Bibi Rima selalu menenangkan, seperti aliran sungai yang damai. Risa memeluk bibinya erat, dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia merasa sedikit lega. Air mata yang selama ini ia tahan tumpah di bahu bibinya.
"Menangislah, Sayang," bisik Bibi Rima lembut, mengelus rambut Risa. "Menangislah sampai hatimu terasa ringan."
Risa menangis sejadi-jadinya. Ia menangisi semua kebahagiaan semu yang pernah ia rasakan, semua mimpi yang ia bangun, dan semua harapan yang kini hancur berkeping-keping. Ia menangisi dirinya sendiri yang begitu bodoh dan naif.
Menemukan Diri di Antara Kanvas dan Warna
Hari-hari awal di Cendana terasa seperti rehabilitasi. Risa menghabiskan sebagian besar waktunya di studio Bibi Rima, duduk diam di sudut, mengamati bibinya melukis. Aroma cat minyak dan terpentin menjadi terapi tersendiri. Bibi Rima tidak banyak bertanya, ia hanya membiarkan Risa ada, bernapas, dan perlahan-lahan menyembuhkan diri.
Risa seringkali bangun pagi, menikmati matahari terbit yang memulas langit dengan warna-warna dramatis. Ia akan membuat secangkir teh hangat, duduk di teras, dan hanya menatap pegunungan. Hatinya perlahan-lahan mulai merasakan kedamaian. Tidak ada lagi pikiran tentang Bima, tentang Clara, atau tentang perjodohan yang menghancurkan. Yang ada hanya dirinya, alam, dan proses penyembuhan.
Suatu siang, Bibi Rima meletakkan kanvas kosong dan beberapa kuas di hadapan Risa. "Coba saja, Ris," katanya. "Tuangkan apa yang kamu rasakan. Warna tidak pernah berbohong."
Risa awalnya ragu. Ia tidak pernah melukis. Namun, dorongan dari dalam hatinya terlalu kuat. Ia mengambil kuas, mencampur warna-warna gelap: hitam, biru tua, abu-abu. Ia mulai memulaskan goresan-goresan abstrak, seperti badai yang bergolak di dalam dirinya. Setiap goresan adalah air mata yang tumpah, setiap warna adalah kemarahan yang tertahan. Saat ia selesai, kanvas itu dipenuhi kegelapan, namun Risa merasa sedikit plong.
Bibi Rima tersenyum melihat lukisan itu. "Bagus," katanya. "Sekarang, cari warna terang, Ris. Selalu ada cahaya setelah badai."
Sejak saat itu, melukis menjadi pelampiasan Risa. Ia melukis kesedihannya, kemarahannya, kebingungannya. Dan perlahan, ia mulai melukis harapan. Ia mencampur warna-warna cerah: kuning, oranye, hijau muda. Ia melukis pemandangan Cendana, bunga-bunga di taman bibinya, wajah-wajah orang lokal yang ramah. Setiap kali ia melukis, ia merasa ada bagian dari dirinya yang kembali, sepotong demi sepotong.
Ia juga membantu Bibi Rima menjual lukisan di pasar seni lokal. Di sana, ia bertemu dengan berbagai macam orang: seniman, pengrajin, petani, dan turis. Mereka semua punya cerita unik, dan Risa belajar banyak dari mereka. Ia belajar tentang kesederhanaan, tentang ketulusan, dan tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Hidup itu seperti melukis, Risa," kata seorang seniman tua padanya suatu hari. "Ada masa kita memakai warna gelap, ada masa kita memakai warna cerah. Yang penting, jangan takut untuk mencoba warna baru, dan jangan pernah menyerah pada kanvasmu."
Kata-kata itu melekat di hati Risa. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam kegelapan. Ia harus menemukan warna cerahnya sendiri.
Pelajaran Hidup dari Sebuah Perjalanan
Risa mulai menjelajahi Cendana. Ia mendaki bukit, menyusuri hutan pinus, dan mengunjungi danau-danau tersembunyi. Setiap perjalanan adalah sebuah pelajaran. Ia belajar tentang ketahanan alam, tentang kekuatan untuk bangkit setelah badai. Ia juga belajar untuk mendengarkan dirinya sendiri, mendengarkan apa yang sebenarnya diinginkan hatinya.
Suatu pagi, Risa menemukan sebuah perpustakaan desa kecil yang sepi. Ada banyak buku usang di sana, tapi Risa menemukan beberapa buku tentang filsafat dan psikologi yang relevan dengan mata kuliahnya dulu. Ia mulai membaca lagi, bukan untuk mengejar nilai, tapi untuk mencari pemahaman. Pemahaman tentang mengapa ia terluka, mengapa Bima bertindak seperti itu, dan bagaimana ia bisa bangkit dari semua ini.
Ia juga belajar memasak dari Bibi Rima, membuat resep-resep tradisional Cendana. Ia belajar berkebun, menanam sayur-mayur dan bunga-bunga di halaman belakang. Setiap aktivitas kecil itu memberinya rasa pencapaian, rasa bahwa ia bisa membangun sesuatu yang baru, sesuatu yang positif.
Beberapa bulan kemudian, Risa menerima surat dari orang tuanya. Surat itu datang melalui pos biasa, karena ia tidak punya alamat email atau ponsel. Ibunya menulis bahwa mereka sangat mengkhawatirkannya, tapi mereka juga memahami bahwa Risa membutuhkan waktu. Mereka tidak menuntut Risa untuk pulang, hanya berharap ia baik-baik saja. Ada juga sedikit kabar tentang Bima. Ibunya menulis bahwa Bima tampak sangat terpukul dan menyesal atas kepergiannya.
Membaca itu, hati Risa sedikit terenyuh. Ia tahu Bima tidak bermaksud menyakitinya. Ia hanya terlalu larut dalam kesedihannya sendiri. Namun, Risa juga tahu bahwa ia tidak bisa kembali begitu saja. Luka itu terlalu dalam. Ia harus sepenuhnya sembuh sebelum bisa mempertimbangkan untuk kembali ke Jakarta, ke kehidupan lama, dan ke bayang-bayang Bima.
Menjelajahi Kedalaman Diri
Cendana menjadi tempat Risa tumbuh. Ia tidak lagi menjadi gadis periang yang naif. Ia tumbuh menjadi wanita muda yang lebih dewasa, lebih bijaksana, dan lebih kuat. Senyumnya kini adalah senyum yang tulus, bukan paksaan. Tawanya kembali terdengar, meskipun tidak sesering dulu. Ada kedalaman di matanya, refleksi dari semua yang telah ia lalui.
Ia mulai menulis di sebuah jurnal kosong yang diberikan Bibi Rima. Ia menulis tentang perasaannya, tentang pelajaran yang ia dapatkan, tentang mimpinya di masa depan. Menulis adalah cara lain baginya untuk memproses emosinya, untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik.
Di sini, di Cendana, ia menulis, aku menemukan bagian dari diriku yang hilang. Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari orang lain, tapi dari dalam diri sendiri. Aku belajar bahwa kejujuran adalah dasar dari segala sesuatu, dan bahwa luka bisa sembuh jika kita mau menghadapinya.
Hubungannya dengan Bibi Rima semakin erat. Bibi Rima bukan hanya bibi, tapi juga seorang mentor, seorang teman, dan seorang ibu pengganti. Mereka sering menghabiskan malam-malam panjang dengan obrolan dari hati ke hati, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Bibi Rima menceritakan pengalamannya sendiri tentang patah hati dan bagaimana ia berhasil bangkit. Cerita-cerita itu memberikan Risa kekuatan dan inspirasi.
Suatu malam, Risa bertanya pada Bibi Rima, "Bibi, bagaimana rasanya mencintai seseorang yang masih mencintai orang lain?"
Bibi Rima menatapnya dengan tatapan pengertian. "Seperti mencoba mengisi wadah yang sudah penuh, Sayang. Kamu bisa menuangkannya, tapi tidak akan ada ruang untuk isian barumu sampai wadah itu dikosongkan. Atau, seperti mencoba melukis di atas kanvas yang sudah penuh. Warnamu tidak akan terlihat jelas."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Risa lirih.
"Memaafkan. Memaafkan dia, dan yang terpenting, memaafkan dirimu sendiri karena telah merasakan sakit. Kemudian, lepaskan. Lepaskan harapan, lepaskan masa lalu, dan biarkan dirimu kosong sejenak. Baru setelah itu, kamu bisa mulai mengisi dirimu dengan hal-hal baru."
Kata-kata Bibi Rima sangat menenangkan. Risa tahu ia harus melepaskan Bima sepenuhnya. Bukan dengan kebencian atau kemarahan, tapi dengan pemahaman dan maaf. Ia harus melepaskan masa lalu agar bisa menyambut masa depan.
Sebuah Jalan yang Terbentang
Setelah hampir dua tahun di Cendana, Risa merasa bahwa ia sudah cukup kuat. Ia sudah sembuh. Luka-luka di hatinya memang masih ada, seperti bekas luka yang takkan hilang, tapi kini ia tahu bagaimana hidup dengan luka itu tanpa membiarkannya menguasai dirinya.
Ia mulai memikirkan masa depannya. Ia ingin melanjutkan kuliahnya, menyelesaikan studinya. Ia merindukan suasana kampus, diskusi-diskusi ilmiah, dan tantangan intelektual. Tapi ia tahu, ia tidak bisa kembali ke kampus lamanya di Jakarta. Terlalu banyak kenangan di sana, terlalu banyak bayangan Bima.
Risa berbicara dengan Bibi Rima tentang rencananya. "Aku ingin kuliah lagi, Bi. Tapi bukan di Jakarta. Mungkin di kota lain yang tenang, tapi punya jurusan yang aku inginkan."
Bibi Rima tersenyum. "Pilihan yang bagus, Sayang. Kamu sudah siap. Percayalah pada dirimu sendiri."
Risa mulai mencari informasi tentang universitas lain. Ia menemukan sebuah universitas di kota Bandung, dengan jurusan Filsafat yang cukup bagus dan reputasi yang baik. Bandung adalah kota yang ramai, tapi tidak sepadat Jakarta. Ada pegunungan di sekitarnya, yang akan mengingatkannya pada Cendana.
Keputusan itu bulat. Ia akan pindah ke Bandung, melanjutkan studinya, dan memulai babak baru dalam hidupnya.
Sebelum pergi, Risa menghabiskan satu minggu penuh bersama Bibi Rima. Mereka melukis bersama, memasak, dan berjalan-jalan di alam. Risa juga mengunjungi makam nenek dan kakeknya yang dimakamkan di Cendana, berbicara pada mereka dalam diam, menceritakan semua yang telah ia lalui.
Pada malam terakhirnya, Risa menulis surat untuk orang tuanya. Kali ini, ia menulis dengan hati yang tenang dan penuh kasih sayang.
Untuk Papa dan Mama,
Risa baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik. Risa sudah sembuh. Di Cendana, Risa menemukan kembali diri Risa yang hilang. Risa belajar banyak hal, dan Risa sudah memaafkan semuanya.
Risa akan melanjutkan kuliah di Bandung. Risa ingin jadi Risa yang baru, yang lebih kuat dan lebih bijaksana. Jangan khawatirkan Risa. Risa akan sering menghubungi Papa dan Mama jika sudah punya ponsel baru.
Terima kasih untuk semua cinta dan pengertiannya. Risa sayang Papa dan Mama.
Dengan cinta,
Risa.
Surat itu akan dikirimkan oleh Bibi Rima beberapa hari setelah Risa pergi.
Langkah Pertama Menuju Masa Depan
Pagi keberangkatan Risa, matahari terbit dengan indah, memancarkan cahaya keemasan di seluruh Cendana. Risa memeluk Bibi Rima erat.
"Terima kasih untuk semuanya, Bi," bisik Risa. "Bibi sudah menyelamatkan Risa."
Bibi Rima tersenyum. "Kamu menyelamatkan dirimu sendiri, Sayang. Bibi hanya membuka jalan. Sekarang, pergilah. Terbanglah setinggi yang kamu mau."
Risa naik bus menuju Bandung, membawa ransel yang sama, tapi dengan hati yang jauh lebih ringan. Ia melihat pemandangan Cendana yang perlahan menjauh, dan hatinya dipenuhi rasa syukur. Cendana adalah tempat ia menemukan kembali dirinya, tempat ia menyembuhkan luka-luka hatinya.
Di dalam bus, Risa mengeluarkan sebuah buku jurnal lamanya. Ia membaca kembali puisi yang ia tulis saat pertama kali datang ke Cendana, puisi tentang hati yang hancur dan langkah yang pergi. Ia tersenyum tipis. Puisi itu kini terasa seperti kenangan yang jauh, dari seseorang yang berbeda.
Ia kemudian membuka halaman kosong, mengambil pulpen, dan mulai menulis.
Di bawah langit yang baru,
Kutemukan kembali tawa yang dulu.
Pada setiap langkah yang kuambil,
Kutuliskan cerita yang baru.
Luka itu masih ada,
Tapi kini tak lagi menguasai.
Cahaya telah mengisi jiwa,
Mengusir bayang yang menghantui.
Aku telah memaafkan,
Dan membiarkan masa lalu berlalu.
Kini, dengan hati yang tenang,
Kusambut masa depan yang baru.
Risa menutup jurnalnya, tatapannya kini memandang jauh ke depan, ke arah jalan yang terbentang di hadapannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di Bandung, atau apakah ia akan bertemu Bima lagi di masa depan. Tapi satu hal yang pasti: ia siap menghadapinya. Ia tidak lagi takut, tidak lagi rapuh. Ia telah menemukan kekuatannya sendiri, di tengah sepi, di ujung negeri.
Dan dengan itu, babak baru dalam hidup Risa pun dimulai. Ia tidak lagi berlari, melainkan berjalan maju, dengan kepala tegak dan hati yang utuh.