Setelah beberapa menit suasana hening, dia akhirnya bergumam, "Ya."
Suaranya yang lembut dan perlahan itu bagai sebilah pisau tajam yang ditancapkan langsung ke jantung Diana.
Awalnya, yang dirasakan Diana hanyalah hawa dingin yang tiba-tiba datang. Rasa dingin itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan memaksanya untuk berusaha keras bernapas.
Tepat di ujung rasa dingin itu adalah rasa sakit. Kepalanya terasa pusing, rasa sakit yang benar-benar memakan semua yang dia miliki. Semua yang bisa Diana lakukan adalah bernapas melalui rasa sakit yang membelah hatinya menjadi dua.
Sebenarnya, sebelum Diana dan Ricky menikah, dia tahu Ricky pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Lili Karunia.
Jadi ketika kakek Ricky telah mengusulkan pernikahan antara dia dan Ricky, meskipun Diana mendambakan hal itu, dia menolak karena tidak mungkin Ricky akan rela meninggalkan pacarnya untuknya.
Dia benar-benar terkejut dan kaget, ketika Ricky secara tiba-tiba mendekatinya. Pria itu memintanya untuk menikah dengannya dan berjanji bahwa dia akan menjadi suami yang peduli padanya jika dia menerima lamarannya.
Di saat itu, Diana tidak bisa memercayai telinganya. Ini adalah keinginan terbesarnya yang berubah menjadi kenyataan di depan matanya. Meskipun dia tidak mengerti mengapa Ricky tiba-tiba memutuskan untuk menikahinya, Diana telah jatuh cinta padanya sejak dia masih remaja, jadi dia setuju untuk menikah dengannya.
Setelah mereka menikah, Ricky berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda dari yang sebelumnya dia kenal. Ricky melepaskan topeng cueknya dan menunjukkan padanya sisi penuh perhatiannya.
Diana begitu tenggelam dalam sikap lembut yang dia tunjukkan sehingga dia lupa bahwa Ricky tidak pernah jatuh cinta padanya.
Sama sekali tidak pernah.
Dengan ujung jemarinya yang gemetar, Diana berusaha keras untuk menekan kesedihannya.
Wanita itu menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa. Di mata Ricky, dia tampak sangat tenang dan tidak terganggu.
Sikap Diana mengingatkan Ricky pada hal yang terjadi kemarin.
Lili tiba-tiba kembali dari luar negeri dan Ricky memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya sehingga dia dapat meyakinkan Diana bahwa kembalinya Lili tidak akan mengubah apa pun di antara mereka. Namun, Ricky tidak menyangka bahwa dia akan mendengar percakapan antara Diana dengan sahabatnya, Irna Rambaya.
Ponsel Diana sedang dalam mode speaker dan Ricky bisa mendengar suara menggoda milik Irna berkata, "Diana, lebih dari sepuluh tahun sudah berlalu. Apa kamu masih sangat mencintainya?"
"Tentu saja, aku masih mencintainya. Bagaimana mungkin aku berhenti mencintainya? Jika mungkin, aku ingin terus mencintainya selama sisa hidupku."
Ricky mendengar istrinya menjawab pertanyaan Irna dengan suara penuh kerinduan.
Dia tetap bersembunyi di sudut, tidak sanggup masuk ke rumahnya sendiri.
Sinar matahari jatuh menyinari sepatunya, tetapi dia tidak merasa hangat.
Lebih dari sepuluh tahun? Mereka berdua baru saling kenal selama empat atau lima tahun, tetapi Diana telah mencintai pria lain selama lebih dari sepuluh tahun.
Jika memang begitu, bukankah lebih baik jika dia membiarkannya pergi?
Pandangannya kembali tertuju ke wanita di depannya, dia menunggu Diana untuk mengatakan sesuatu. Ketika Ricky menyadari bahwa Diana tidak punya niat untuk memberi tanggapan, bulu matanya turun karena perasaan kecewa.
"Apa itu? Apa kamu sedang tidak enak badan?"
tanya Ricky sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil dokumen rumah sakit yang tergeletak di atas meja.
Pupil mata Diana melebar karena terkejut. Dia menatap tangan Ricky yang semakin dekat ke dokumen itu. Di dalam dokumen rumah sakit itu ada laporan tes kehamilannya.
Mungkinkah di saat Ricky mengetahui dia akan menjadi seorang ayah, hal itu bisa menjadi titik balik perceraian atas pernikahan mereka?
Diana cukup tahu bahwa, meskipun penampilan luarnya terlihat dingin, Ricky bukanlah seorang pria yang tak berperasaan. Dia akan selalu menahan hasrat seksualnya dan memperlakukan Diana dengan baik di tempat tidur. Entah seberapa bergairah dan terangsangnya mereka saat bercinta, dia pasti akan berhenti saat Diana merintih kesakitan.
Saat Diana menunggu dokumen itu dibuka, dia mengepalkan tangannya yang terjuntai di kedua sisi tubuhnya dengan erat. Kukunya yang panjang menusuk telapak tangannya, tapi dia terlalu gugup untuk menyadarinya.
Di tengah momen menegangkan itu, ponsel Ricky mulai berdering.
Nada dering itu merusak segalanya. Panggilan itu masuk ke nomor pribadi Ricky, hanya ada beberapa orang saja yang tersimpan di dalam kontaknya.
Sesuai perkiraan, Ricky langsung meletakkan dokumen itu dan mengangkat ponselnya terlebih dahulu.
Apa tidak ada yang lebih penting daripada mengangkat teleponnya? Diana mengendurkan kepalan tangannya yang sakit.
"Halo?"
"Tuan Fuadi, Nona Karunia tidak mau pergi dari balkon. Dia sudah berada di luar cukup lama dan sepertinya sedang merasa kesal."
Pelayan yang menjaga Lili meneleponnya. Nada suaranya terdengar serius.
"Aku takut dia sedang berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri."
Sikap Ricky langsung berubah dan terlihat lebih suram. "Tolong berikan ponselmu padanya."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Setelah terdengar suara-suara gemerisik di latar belakang, suara sedih seorang wanita terdengar di ujung telepon.
"Ricky ...."
"Malam ini anginnya cukup dingin. Seharusnya kamu tidak berlama-lama di balkon." Ricky menanggapinya dengan nada lembut, meskipun alisnya terlihat mengernyit.
"Lili, jadilah gadis yang baik dan dengarkan aku."
Mata Diana langsung terbelalak kaget.
Bagaimana perasaannya saat ini, duduk di sana dan mendengarkan suaminya membujuk wanita lain seperti membujuk seorang anak kecil, padahal dia tahu istrinya sedang duduk di depannya?
Diana merasa ini sungguh sebuah lelucon besar karena dia masih harus duduk di tempat itu. Dia merasa terjebak di kursinya karena tak bisa menggerakkan kakinya. Seperti ada batu seberat sepuluh ribu kilo menghimpit dadanya.
Walaupun belum resmi bercerai, Ricky berani menunjukkan kekhawatirannya terhadap wanita lain secara terang-terangan.
Jadi, apa artinya Diana bagi pria itu?
Kekejaman Ricky membuat Diana hancur sampai ke titik di mana dia tak bisa lagi menahannya. Saat dia berusaha menutupi wajahnya, tubuhnya gemetaran di luar kendali.
Walaupun begitu, Ricky tetap tak menyadari keanehan ini. Tangisan Lili yang menyedihkan menyerbu telinganya.
"Maafkan aku, Ricky. Semua ini kesalahanku. Aku sangat ceroboh sampai terlibat kecelakaan mobil. Tapi apa gunanya menyelamatkanku? Aku sudah tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan keturunan! Sekarang, kita tak mungkin lagi memiliki anak ...."
Akhirnya, Lili menangis tersedu-sedu dan histeris, sampai tubuhnya bergetar hebat.
Ricky memijat-mijat pelipisnya yang berdenyut setelah melepaskan kacamata berbingkai emasnya. Dia tak pernah mempertimbangkan memiliki anak bersama Lili. Selain itu, meskipun dia memilih untuk menikahinya sekarang, itu hanya karena dia telah menyelamatkan hidupnya.
Dengan nada penuh keyakinan, dia menjawab, "Tidak apa-apa. Lagi pula, aku tak pernah berniat memiliki anak."
"Tolonglah, jangan berbohong padaku ... CEO Grup Fuadi tidak boleh tak memiliki keturunan." Lili menangis tersedu-sedu lagi, wajahnya terlihat penuh penderitaan, suaranya serak dan menyedihkan.
"Aku tak terlalu suka anak-anak, jadi tidak usah mencemaskan hal itu dan biarkan pelayanmu membawamu ke dalam kamar untuk beristirahat."
Ricky ingin segera mengakhiri percakapan tersebut. Dia masih ingin bertanya pada Diana kenapa dia pergi ke rumah sakit dan mencari tahu apakah dia sedang sakit atau tidak.
Sayangnya, dia tak menyadari keputusasaan yang tersirat di mata Diana setelah dia mengucapkan kalimat tersebut.
Diana merasa sangat sedih karena dia barusan mencoba memanfaatkan kehamilannya sebagai alasan untuk menyelamatkan pernikahan mereka.
Bagaimana dia bisa sebodoh itu?
Ricky mungkin akan memaksanya untuk melakukan aborsi di rumah sakit besok jika dia tahu dia hamil. Dia akan melakukan apa pun untuk mencegah hal-hal yang bisa membuat Lili gelisah lagi.
Hati Diana langsung terasa dingin setelah memikirkan hal itu. 'Itu tidak akan pernah terjadi!' Dia bersumpah dalam hati.