Pagi di Aurora Bay selalu dimulai dengan suara burung camar dan aroma laut yang menusuk hidung. Tapi pagi itu, bagi Aldric Delvane, dunia terasa tak sama lagi. Ia terbangun dengan dada berat, matanya masih memandangi siluet kota kecil dari jendela kamar hotel.
Kopi di tangannya sudah dingin sejak setengah jam lalu. Ia tak mampu meneguknya. Pikiran tentang Keira dan anak kecil bernama Liam terus berputar tanpa henti.
Anak itu.
Anaknya.
Aldric memijat pelipisnya, mencoba menenangkan diri. Lima tahun lalu, ia meninggalkan Keira dengan dingin, menganggap semuanya sudah selesai. Tapi kini, kenyataan menamparnya dengan keras: di balik keputusannya, ada nyawa kecil yang tumbuh tanpa kehadirannya.
Ia ingin marah. Pada Keira, pada dirinya sendiri, pada takdir. Tapi di balik kemarahan itu, ada rasa bersalah yang begitu dalam-rasa yang membuat dadanya sesak setiap kali ia mengingat mata Liam.
Sementara itu, di rumah kecil di pinggir pantai, Keira sedang menyiapkan sarapan sederhana. Liam duduk di meja makan, memainkan sendoknya sambil bersenandung pelan.
"Liam, jangan mainkan sendoknya, sayang. Nanti jatuh," ucap Keira lembut sambil menaruh roti panggang di piring.
Anak kecil itu tertawa kecil. "Mama, aku mimpi semalam. Ada orang tinggi sekali, pakai jas, dia liatin aku terus. Terus dia bilang... aku mirip dia."
Tangan Keira berhenti sejenak di udara. Dadanya mencubit perih.
"Orang tinggi itu siapa?" tanyanya, berusaha terdengar santai.
"Enggak tahu," jawab Liam polos. "Tapi mama kenal dia, ya?"
Keira tersenyum tipis, lalu mengacak rambut anaknya. "Mungkin cuma mimpi, Nak. Jangan dipikirin."
Tapi pikirannya sendiri tak bisa berhenti. Ia tahu, cepat atau lambat, Aldric akan datang lagi. Ia melihat tatapan pria itu kemarin-tatapan yang penuh keterkejutan, penyesalan, dan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.
Dan Keira tidak siap untuk semua itu.
Selama lima tahun ini, ia membangun hidup dari awal. Ia bekerja di yayasan sosial, membesarkan Liam sendirian tanpa bantuan siapa pun. Ia ingin anaknya tumbuh tanpa bayangan masa lalu yang kelam.
Tapi kini, masa lalu itu datang mengetuk pintu lagi.
Siang harinya, Keira sedang menata dokumen di ruang administrasi sekolah ketika suara langkah kaki berat terdengar di luar. Ia tahu suara itu bahkan tanpa perlu menoleh.
"Aku bisa bicara denganmu?" suara Aldric dalam dan berat, tapi kali ini terdengar ragu.
Keira mengangkat kepala perlahan. Tatapan mereka bertemu lagi, dan udara di ruangan itu seketika terasa padat.
"Aku sedang bekerja," jawab Keira datar, tanpa berhenti menulis. "Kalau kau ingin menyumbang, pintu yayasan ada di sebelah barat."
"Aku tidak datang untuk itu."
Keira berhenti menulis. "Kalau begitu, kau salah tempat."
Aldric menghela napas panjang. "Keira, tolong... hanya lima menit."
Keira menatapnya lama sebelum akhirnya berdiri. "Baik. Lima menit. Setelah itu, aku tak ingin ada pembicaraan lagi tentang masa lalu."
Mereka berjalan keluar menuju taman kecil di belakang sekolah. Angin laut bertiup pelan, membawa aroma garam dan suara anak-anak bermain dari kejauhan.
Aldric memandang Keira dengan mata yang tak lagi setajam dulu. Sekarang ada kelembutan yang samar, tapi juga rasa bersalah yang menyesakkan.
"Dia anakku, bukan?"
Keira menatap lurus ke laut, tidak menjawab.
"Keira," suara Aldric bergetar. "Kau tidak perlu menjawab. Aku tahu jawabannya."
"Kalau kau sudah tahu," Keira berbalik, suaranya tajam, "mengapa masih menanyakan hal itu?"
Aldric terdiam.
"Kau pikir aku akan berlutut dan menangis di hadapanmu, mengakui semuanya, agar kau bisa merasa menjadi ayah yang hebat?" lanjut Keira dengan nada getir. "Tidak, Aldric. Dunia tidak berputar untuk menebus kesalahanmu."
"Aku tidak mencari pengampunan," Aldric membalas pelan. "Aku hanya ingin tahu... mengapa kau tidak pernah memberitahuku? Aku berhak tahu bahwa aku punya anak."
Keira tertawa pahit. "Berhak? Setelah kau pergi tanpa menoleh? Setelah kau mengirimkan surat cerai dengan tangan sekretarismu? Kau menyebut itu 'hak'?"
Aldric memejamkan mata. Setiap kata Keira seperti cambuk yang menyayat kulitnya.
"Aku tahu aku salah," katanya perlahan. "Aku tahu aku pengecut. Tapi Keira... tolong, jangan hukum aku dengan membuatku seolah tak pernah ada."
Keira menatapnya lama. "Kau ingin tahu kenapa aku tidak memberitahumu? Karena aku tahu apa yang akan kau lakukan. Kau akan datang, menulis cek, dan menganggap semuanya selesai. Tapi anak ini bukan proyek amal, Aldric. Dia manusia. Dan aku tidak ingin Liam tumbuh mengenalmu hanya sebagai nama di rekening bank."
Aldric menelan ludah, matanya mulai memanas. "Aku tidak ingin uang menjadi alasan. Aku ingin... memperbaiki semuanya. Aku ingin mengenal dia."
Keira tertawa, kali ini lebih lembut tapi menyakitkan. "Kau tidak bisa memperbaiki sesuatu yang sudah hancur menjadi debu, Aldric. Lima tahun... terlalu lama."
Hening.
Angin laut berhembus membawa keheningan yang berat di antara mereka.
"Setidaknya biarkan aku melihatnya," kata Aldric akhirnya. "Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya... ingin ada di dekatnya."
Keira menunduk lama sebelum akhirnya berucap lirih, "Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi."
"Aku akan membuktikan, Keira," jawab Aldric mantap. "Bukan dengan janji, tapi dengan waktu."
Keira tidak menjawab. Ia hanya berjalan pergi meninggalkannya di taman, sementara Aldric berdiri diam memandangi laut yang berkilau di kejauhan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari semua kekayaan yang pernah ia miliki.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan aneh.
Aldric memperpanjang masa tinggalnya di Aurora Bay dengan alasan urusan proyek yayasan, padahal alasannya hanya satu: Liam.
Setiap sore, dari kejauhan, ia memperhatikan anak itu bermain di pantai bersama anak-anak lain. Terkadang Keira ikut duduk di bawah pohon, menonton sambil membaca buku.
Ada rasa yang sulit dijelaskan di dada Aldric setiap kali melihat pemandangan itu-perasaan yang hangat sekaligus menyakitkan.
Ia membayangkan bagaimana hidup Liam tanpa dirinya. Siapa yang menemaninya saat demam pertama kali? Siapa yang mengajarinya berjalan? Siapa yang memeluknya ketika mimpi buruk datang?
Bukan dia.
Dan itu membuat Aldric ingin menebus semuanya, meski ia tahu mungkin sudah terlambat.
Suatu sore, Liam berlari ke arah air laut, menendang ombak kecil sambil tertawa. Tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh.
Aldric yang kebetulan berada tak jauh langsung berlari menghampiri tanpa berpikir.
"Liam!"
Anak itu menoleh, terkejut, tapi sebelum sempat bangkit, Aldric sudah mengangkatnya ke pelukan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Liam mengangguk, matanya menatap wajah pria itu dengan rasa ingin tahu. "Om... kenapa Om tahu namaku?"
Aldric tertegun. Ia lupa bahwa Keira belum memberitahukan siapa dirinya.
"Aku... temannya mamamu," jawabnya cepat, tersenyum canggung.
Liam menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. "Om mirip aku."
Jantung Aldric bergetar. Ia menatap wajah polos itu, dan untuk sesaat, dunia terasa begitu damai.
Dari kejauhan, Keira melihat semuanya. Ia berdiri diam, napasnya tercekat antara marah dan haru.
Bagaimana mungkin ia bisa membenci pemandangan itu? Tapi di sisi lain, ia juga takut-takut kehilangan lagi apa yang sudah ia perjuangkan sendirian selama ini.
Ketika Aldric menurunkan Liam dan hendak pergi, Keira memanggilnya pelan.
"Aldric."
Pria itu menoleh.
"Terima kasih sudah menolongnya," katanya singkat, berusaha menahan emosi. "Tapi mulai sekarang, jangan terlalu dekat dengannya."
"Keira-"
"Aku serius," potong Keira. "Kau datang, membuat Liam bingung, lalu pergi lagi seperti dulu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Aldric menatapnya dalam. "Aku tidak akan pergi kali ini."
Keira ingin membalas, tapi tak sanggup. Tatapan mata Aldric terlalu dalam, terlalu jujur. Ia memilih berbalik dan berjalan cepat meninggalkan pantai, sementara hatinya berdegup tak karuan.
Malamnya, Keira duduk di beranda rumahnya sambil menatap laut. Angin berhembus lembut, membawa aroma asin yang menenangkan, tapi pikirannya justru kacau.
Ia tahu Aldric bukan lagi pria yang sama seperti dulu. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara dia menatap Liam-ada ketulusan yang dulu tidak pernah ia lihat.
Tapi bisakah orang benar-benar berubah? Atau Aldric hanya datang karena rasa bersalah?
Sementara itu, Liam keluar dari kamar, mengucek matanya. "Mama belum tidur?"
Keira tersenyum, mengangkat anak itu ke pangkuannya. "Belum, sayang."
"Mama," kata Liam pelan. "Om tadi baik banget. Aku suka sama dia."
Keira terdiam.
Liam melanjutkan, "Om itu kayak aku, Ma. Matanya sama."
Keira menatap mata anak itu yang berkilau polos di bawah sinar lampu. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Di sisi lain kota, Aldric duduk di balkon hotelnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Ia memegang foto lama yang selama ini ia simpan di dompet-foto pernikahannya dengan Keira.
Ia ingat betapa dinginnya mereka berdua saat itu. Tak ada senyum, tak ada cinta, hanya tanda tangan dan janji untuk berpisah setelah dua tahun.
Namun kini, setiap kali mengingat Keira, dadanya terasa sesak.
Ia menyesal karena tidak pernah mencoba mengenalnya dulu. Tidak pernah menanyakan apa yang membuatnya tersenyum atau menangis.
Ia menyesal karena butuh waktu lima tahun untuk menyadari bahwa perasaan yang dulu ia anggap 'ketidaknyamanan' ternyata adalah cinta yang terpendam.
Dan sekarang, semua sudah terlambat.
Atau mungkin... belum?
Aldric menggenggam foto itu kuat-kuat. Ia berjanji pada dirinya sendiri-ia tidak akan pergi dari kota ini sebelum Keira percaya padanya lagi.
Sebelum Liam memanggilnya dengan satu kata yang paling ia rindukan seumur hidupnya.
"Ayah."
Pagi berikutnya, Keira berangkat ke sekolah seperti biasa. Tapi kali ini, sesuatu yang tak biasa terjadi-Aldric sudah menunggunya di depan gerbang dengan senyum kaku.
"Aku sudah mendaftar sebagai relawan di yayasan ini," katanya cepat. "Mulai hari ini, aku akan membantu program pembangunan ruang baca anak-anak."
Keira menatapnya tak percaya. "Apa?"
"Aku tidak bercanda." Aldric mengangkat map pendaftaran. "Aku ingin melakukan sesuatu yang berarti. Dan kalau itu berarti aku bisa dekat dengan Liam tanpa membuatmu curiga, maka aku akan melakukannya."
Keira memijit pelipisnya, frustasi. "Kau tidak harus melakukan ini, Aldric."
"Tapi aku ingin."
Tatapan mata pria itu membuat Keira kehabisan kata. Ada sesuatu yang berbeda kali ini-bukan ambisi, bukan ego, tapi tekad yang tulus.
Dan di saat itu juga, entah mengapa, Keira merasa pertahanannya mulai retak.
Namun di balik semua itu, ia tak tahu bahwa kehadiran Aldric di kota kecil itu tidak hanya akan mengubah hidup mereka bertiga, tapi juga membuka rahasia lain yang selama ini ia sembunyikan-rahasia tentang masa lalu yang bahkan Aldric belum tahu sepenuhnya.
Sebuah rahasia yang, jika terungkap, mungkin akan menghancurkan kesempatan kedua yang baru saja muncul.
Langit sore tampak kelabu saat Keira berdiri di tepi balkon apartemennya. Angin membawa aroma hujan yang tertahan, menggantung di udara, seolah ikut menahan segala perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Ia menatap kota yang ramai di bawah sana, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu-ke wajah seseorang yang berulang kali ia coba lupakan, tapi justru makin jelas setiap kali ia berusaha menghapusnya.
Aldric.
Nama itu seperti duri kecil yang menancap dalam, tak pernah benar-benar hilang. Ia sudah berusaha hidup tanpa kehadiran pria itu. Bertahun-tahun. Namun sejak pertemuan tak terduga di kantor klien minggu lalu, semua yang ia bangun dengan susah payah terasa runtuh begitu saja. Tatapan Aldric waktu itu-tajam, menyesal, tapi juga hangat-masih terus menghantui.
Keira menggenggam pagar balkon, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba ingin jatuh. "Kamu udah cukup kuat, Keira," gumamnya pelan. "Dia cuma masa lalu. Hanya masa lalu."
Namun suara kecil di dalam hatinya berbisik sebaliknya.
Dan entah kenapa, sejak hari itu, Aldric selalu muncul dalam pikirannya-dalam setiap kopi yang ia minum, setiap langkah menuju kantor, bahkan dalam mimpi-mimpinya yang seharusnya kosong.
Sementara itu, di tempat lain, Aldric sedang berdiri di depan taman kecil di pinggir kota. Di tangannya ada sekotak kecil mainan robot yang ia beli di toko mainan. Pandangannya terarah pada anak laki-laki berusia empat tahun yang sedang bermain bola bersama pengasuhnya-Liam.
"Dia mirip banget sama aku waktu kecil," gumam Aldric, suaranya nyaris tak terdengar. Bibirnya menegang saat ia melihat senyum anak itu, lesung pipi di sisi kanan, dan cara anak itu tertawa lepas saat bola kecilnya melambung ke arah semak.
Aldric menarik napas panjang, menahan dorongan untuk menghampiri.
Ia tidak boleh gegabah. Tidak sekarang.
Lima tahun lalu, Keira meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Ia sempat mencarinya-ke rumah orang tuanya, ke kampus lamanya, bahkan ke luar negeri. Tapi hasilnya nihil. Hingga ia mendengar kabar bahwa Keira kini tinggal di kota ini, bekerja di perusahaan arsitektur, dan... punya seorang anak laki-laki.
Anak itu bernama Liam.
Dan semakin Aldric memperhatikan, semakin ia yakin bahwa Liam adalah darah dagingnya sendiri.
Namun Keira tak tahu ia sudah mengetahui semuanya. Ia tak tahu bahwa Aldric telah diam-diam mengamati dari jauh selama beberapa minggu terakhir. Setiap pagi Aldric melihat Keira mengantar Liam ke taman, lalu pergi ke kantor. Setiap sore, ia menunggu dari mobil, hanya untuk melihat senyum bahagia yang dulu selalu ia rindukan.
Rasa bersalah menghantam keras. Dulu, ketika mereka menikah, pernikahan itu bukan karena cinta. Itu hanya perjanjian. Tapi seiring waktu, Aldric sadar-ia benar-benar jatuh cinta pada Keira. Sayangnya, saat perasaan itu tumbuh, Keira sudah pergi, menghilang dari hidupnya.
Di kantor, Keira menatap layar komputernya kosong. Angka-angka di tabel spreadsheet menari tanpa makna. Ia memijat pelipis, mencoba fokus, tapi gagal.
"Keira, kamu baik-baik aja?" suara sahabatnya, Dira, terdengar dari balik meja sebelah.
Keira mengangkat wajah dan tersenyum kecil. "Aku cuma... kurang tidur."
Dira mengerling. "Kurang tidur? Atau kebanyakan mikirin mantan suami?"
Keira terdiam, jemarinya berhenti di atas keyboard. "Dira, aku udah bilang-dia cuma masa lalu."
"Tapi masa lalu yang bikin kamu nggak bisa maju." Dira meletakkan setumpuk berkas di meja Keira. "Aku tahu kamu masih sayang. Kamu cuma takut ngaku."
Keira menghela napas. "Aku nggak sayang. Aku cuma... kecewa. Aku udah capek berharap sama seseorang yang dulu bahkan nggak berusaha mempertahankan aku."
Dira duduk di kursi seberang, menatap serius. "Tapi kamu tahu nggak, kadang orang nggak bisa memperjuangkan yang dia sayang karena dia nggak tahu caranya."
Ucapan itu menusuk Keira lebih dalam daripada yang ia mau akui. Ia mencoba menepis pikiran tentang Aldric, tapi ingatan itu datang lagi-malam terakhir sebelum ia pergi.
Malam itu hujan deras. Aldric baru pulang dari rapat, mabuk, dan mengatakan sesuatu yang menghancurkan hatinya.
"Kita menikah cuma karena kesepakatan, Keira. Jangan berharap aku akan jatuh cinta."
Kata-kata itu terus terngiang, menjadi alasan utama mengapa ia pergi tanpa pamit.
Sore itu, setelah menjemput Liam dari taman, Keira menggandeng tangan kecil itu menuju mobil.
"Mommy, besok kita ke taman lagi, ya? Aku mau kasih makan burung-burungnya," kata Liam riang.
Keira tersenyum lembut. "Tentu, sayang. Tapi kamu harus janji, kalau Mommy bilang pulang, kamu nggak boleh ngambek."
"Oke!" Liam mengangguk antusias.
Namun tiba-tiba suara seseorang dari belakang membuat langkah Keira terhenti.
"Liam?"
Keira menoleh spontan. Dunia seolah berhenti berputar saat ia melihat siapa yang berdiri di sana.
Aldric.
Dengan jas hitam elegan, rambut sedikit berantakan diterpa angin, dan tatapan yang penuh sesuatu-rindu, penyesalan, dan harapan yang tak terucap.
Keira menelan ludah, berusaha tenang. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aldric menatapnya lama, lalu menunduk menatap Liam. "Aku cuma... lewat. Aku lihat anak ini-"
"-dan kamu sengaja menghampiri kami?" potong Keira tajam.
Aldric terdiam. "Aku... aku cuma pengin lihat kamu."
Liam menatap bergantian antara mereka berdua. "Mommy, kenal, ya?" tanyanya polos.
Keira berjongkok, membelai rambut anaknya. "Ayo, sayang. Kita pulang."
"Keira, tunggu," panggil Aldric, melangkah mendekat. "Aku tahu aku salah. Tapi tolong, jangan halangi aku buat-"
"-buat apa, Aldric?" Keira menatapnya tajam, matanya berkaca. "Buat ngerusak hidup aku lagi? Buat bikin Liam bingung?"
Aldric menahan napas, menatap anak itu lagi. "Dia anakku, ya?"
Pertanyaan itu mengguncang Keira. Suaranya bergetar saat menjawab, "Itu bukan urusanmu lagi."
Ia menarik tangan Liam dan melangkah cepat menuju mobil, meninggalkan Aldric berdiri sendirian dengan pandangan yang hancur.
Malamnya, Keira tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap Liam yang sudah terlelap di kasurnya.
Air matanya mengalir pelan.
"Maaf, Nak..." bisiknya lirih. "Mommy cuma pengin kamu hidup tenang. Tanpa luka dari masa lalu Mommy."
Namun di sisi lain kota, Aldric juga belum bisa tidur. Ia menatap foto Keira dan Liam yang diam-diam ia ambil dari kejauhan. Ia tahu Keira marah, kecewa, dan mungkin membencinya. Tapi sekarang, setelah melihat anak itu langsung, ia tak akan tinggal diam.
Ia harus menemukan cara untuk mendekati Liam. Pelan-pelan, tanpa menakut-nakuti Keira.
Mungkin ia tak akan pernah bisa menebus semua kesalahan masa lalu, tapi setidaknya ia bisa mencoba jadi ayah-walau dari jauh.
Namun satu hal yang Aldric tak tahu:
Keira mulai goyah.
Di balik kemarahan dan dendam yang ia simpan, ada rindu yang tak pernah padam. Tatapan Aldric tadi sore-lembut dan menyesal-terus menghantui pikirannya.
Malam semakin larut. Di langit, bulan separuh menggantung, seolah menjadi saksi dua hati yang dulu pernah bersatu, kini terpisah tapi masih saling mencari.
Dan di antara rasa benci yang tumbuh karena luka, ada sesuatu yang perlahan hidup kembali-
sesuatu yang Keira berusaha mati-matian untuk bunuh: cinta.
Namun cinta yang lahir dari masa lalu yang retak, selalu datang bersama badai yang lebih besar.
Dan Keira tahu, badai itu sedang menuju hidupnya sekali lagi.
Hujan tipis turun saat pagi pertama Aldric memutuskan untuk benar-benar berada di dekat Liam tanpa menimbulkan kecurigaan. Kota Aurora Bay, yang biasanya tenang, terasa berbeda saat ia melangkah melewati jalanan sempit menuju taman di tepi laut. Sepanjang perjalanan, pikirannya berkecamuk: apakah Keira akan memaafkannya? Apakah Liam akan menerimanya? Atau apakah semua ini hanya akan menjadi bencana yang menghancurkan lagi sedikit demi sedikit?
Ia mengenakan jaket biru tua dan topi baseball, pakaian sederhana agar tidak terlalu mencolok. Aldric tahu, jika ia langsung mengaku sebagai ayah Liam, Keira pasti menolak. Jadi ia harus bersabar, mulai dari kecil-mendekat tanpa menakut-nakuti, menunjukkan dirinya hadir tanpa maksud manipulatif.
Sesampainya di taman, ia melihat Liam sedang bermain bola dengan beberapa anak lain. Keira duduk di bangku kayu dekat pohon besar, matanya sesekali mengikuti gerak Liam sambil mencatat sesuatu di buku catatan. Aldric tersenyum tipis. Cara Keira memandang Liam membuat hatinya berdetak lebih cepat. Ada cinta yang tulus, lembut, dan tidak menuntut. Sesuatu yang dulu ia kira tidak ada padanya-dan sekarang ia tahu, cinta itu nyata, nyata sekali.
Ia menahan langkahnya, memperhatikan dari jauh, berusaha seolah-olah ia hanyalah pengunjung biasa. Namun setiap kali Liam tertawa dan menatap sekeliling, jantung Aldric seperti ditarik. Anak itu mirip sekali dengannya. Satu senyum saja membuatnya ingin menggendong, ingin memeluk, ingin menjadi ayah yang selama ini ia abaikan.
"Tunggu sebentar," gumam Aldric. "Aku harus sabar."
Hari demi hari, Aldric kembali ke taman itu dengan alasan sederhana: menjadi sukarelawan untuk kegiatan anak-anak. Ia mengatur jadwalnya sedemikian rupa sehingga selalu berada di dekat Liam tanpa membuat Keira curiga. Kadang ia membantu anak-anak mewarnai, kadang membaca buku di sudut taman, kadang ikut bermain bola dari jarak aman. Ia menyadari setiap gerak Liam-cara anak itu menendang bola, cara ia tertawa, cara ia memiringkan kepala saat mendengar cerita. Setiap detail kecil membuatnya terpesona dan sekaligus menyesal.
Sementara itu, Keira mulai merasakan sesuatu yang tidak ia sangka: kehadiran pria itu di dekat Liam membuatnya gelisah. Ia menolak untuk mengakui perasaannya, tapi hatinya mulai terguncang setiap kali melihat Aldric tersenyum pada anaknya.
"Keira, kau kenapa?" tanya Dira lewat telepon saat mendengar suara Keira yang agak serak.
"Aku... aku nggak tahu," jawab Keira singkat. "Hanya... cemas. Tidak jelas."
"Cemas? Maksudmu, karena Aldric?"
Keira menghela napas panjang. "Aku nggak mau akui... tapi setiap kali dia ada di dekat Liam... entah kenapa aku merasa... terancam? Atau... rindu?"
Dira tertawa kecil. "Itu bukan cemas, itu cinta lama yang datang kembali, Kei. Kau nggak bisa menolaknya selamanya."
Keira menutup telepon, menatap luar jendela. Diri kecilnya dalam hati berteriak: jangan jatuh lagi. Jangan biarkan hati ini tersakiti untuk kedua kalinya.
Hari itu, Aldric sengaja membawa kotak cat warna dan beberapa kertas gambar. Ia duduk di dekat Liam, pura-pura membantu anak-anak lain mewarnai. Liam tampak penasaran pada kotak cat itu.
"Om, boleh aku lihat?" tanya Liam polos.
Aldric tersenyum, menatap mata anak itu. "Tentu, sayang. Pilih warnanya."
Keira yang melihat dari kejauhan menegang. Ia menahan napas. Aldric sedang dekat dengan anaknya, dan Liam tampak nyaman. Tapi Keira tidak bisa menolak kenyataan bahwa ia merasa... lega. Bahwa Aldric tidak menunjukkan sikap arogan, tidak memaksa, hanya hadir di sisi Liam dengan lembut.
"Kenapa Om nggak pernah main sama aku sebelumnya?" tanya Liam, masih menatap Aldric.
Aldric tersentak, namun segera tersenyum hangat. "Karena... Om belum diberi kesempatan, Nak. Tapi sekarang Om ada di sini, ya?"
Liam tersenyum, lalu melanjutkan mewarnai. Aldric memerhatikan setiap gerakan anak itu, memperhatikan garis-garis yang dibuat tangan mungilnya, memperhatikan tawa kecil yang mengalir bebas. Aldric tahu, ia harus sabar. Ia harus mulai dari sini, dari dekat Liam, sebelum ia bisa menembus hati Keira lagi.
Keira berdiri di dekat pohon, menyandarkan punggungnya, matanya tak bisa lepas dari Aldric dan Liam. Sebuah rasa hangat muncul di dadanya, campuran antara perasaan marah dan rindu. Ia menepis tangan yang ingin menutupi mulutnya. "Tidak, Keira. Jangan biarkan hatimu jatuh lagi. Jangan."
Namun sesekali, ia menoleh pada Aldric, melihat pria itu tersenyum hangat pada anaknya, dan hatinya perlahan-lahan melembut.
Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang sama. Aldric datang setiap pagi atau sore, pura-pura menjadi sukarelawan, pura-pura tidak peduli, tapi sesungguhnya hatinya setiap saat tertuju pada Liam. Ia mencatat kebiasaan anak itu, setiap reaksi, setiap senyuman. Ia ingin menjadi bagian dari hidupnya, meski Keira belum mempercayainya.
Sementara itu, Keira merasakan gelombang emosi yang tidak pernah ia duga. Ia benci diri sendiri karena hatinya terusik, benci Aldric karena memunculkan perasaan lama yang seharusnya sudah terkubur, dan sekaligus... rindu. Rindu pada pria itu, pada masa lalu yang hangat, pada sosok yang dulu ia tinggalkan begitu saja.
Suatu sore, setelah Liam tidur siang, Keira duduk di teras sambil menatap laut. Teleponnya bergetar-pesan dari Aldric.
"Aku beli buku cerita baru untuk Liam. Aku akan kirimkan ke rumahmu. Hanya untuknya."
Keira menatap pesan itu lama, tangan gemetar. Ia tahu pesan itu sederhana, tapi hatinya terasa sesak. Aldric tidak meminta apapun, tidak menuntut, hanya peduli. Dan itu menyakitkan. Karena Keira sadar-mereka berdua tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ikatan di antara mereka lebih dari sekadar masa lalu.
Ia menutup ponsel dan menatap langit yang mulai gelap. "Kenapa aku merasa... takut dan lega sekaligus?" gumamnya. "Kenapa kehadirannya masih bisa bikin jantungku berdebar?"
Suatu pagi, Aldric sengaja datang lebih awal ke taman. Ia ingin memastikan Liam bisa bermain tanpa gangguan, tapi juga ingin memberi Keira kesempatan melihat bahwa ia tulus. Saat itu, Liam sedang menggambar di pasir. Aldric duduk beberapa meter dari mereka, pura-pura membaca koran, tapi matanya tak lepas dari Liam.
"Om, lihat ini!" teriak Liam sambil menunjuk gambar rumah kecil yang ia buat di pasir.
Aldric tersenyum, menunduk. "Wow, bagus sekali! Aku suka warnanya, Nak."
Keira berdiri di kejauhan, memandangi adegan itu. Ia tak tahu kenapa hatinya mencelos. Aldric tampak begitu lembut, sabar, hangat. Tidak ada egonya, tidak ada sikap sombong, hanya kehadiran yang tulus.
Mata Keira berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air mata. "Tidak, Keira. Jangan jatuh lagi."
Namun perasaan itu terus tumbuh, seperti api yang perlahan-lahan menyala di tengah hujan.
Hari-hari berikutnya, interaksi Aldric dengan Liam semakin dekat, tapi selalu sopan dan penuh jarak. Ia mulai mengenal kebiasaan anak itu, hal-hal yang disukai, hal-hal yang membuatnya senang. Ia mulai meninggalkan hadiah kecil-buku, mainan, bahkan kue buatan sendiri-tanpa menunggu pengakuan Keira.
Keira, di sisi lain, mulai goyah. Hatinya bimbang antara membenci Aldric karena menyakiti mereka lima tahun lalu dan merindukan kehadiran pria itu yang ternyata begitu peduli pada Liam.
Suatu sore, saat Liam sedang menggambar di halaman, Keira akhirnya berani berjalan ke Aldric. "Kenapa kau melakukan semua ini?" tanyanya pelan, matanya menatap pria itu tanpa menutupinya.
Aldric menatapnya lembut. "Karena aku ingin... menebus semuanya. Untuk Liam. Dan juga... untukku sendiri."
Keira tersenyum pahit. "Terlalu lambat, Aldric. Terlalu lama."
"Tidak ada kata terlambat," jawab Aldric mantap. "Kalau kau mau, aku akan menunggu. Aku bisa sabar. Aku tidak akan memaksa, tapi aku ingin ada untuk Liam, dan... mungkin, untukmu juga."
Keira menunduk, menahan perasaan yang ingin ia ungkapkan tapi takut. Ia tahu hatinya mulai terguncang. Ia tahu-bahwa cinta lama tidak pernah benar-benar mati, hanya tertidur, menunggu waktu untuk bangun lagi.
Dan malam itu, saat Liam tertidur di pangkuan Keira, ia menatap langit gelap di luar jendela.
"Kenapa harus Aldric?" gumamnya lirih. "Kenapa dia masih bisa membuat hatiku bergetar setelah semua ini?"
Namun di dalam hatinya, ia sadar satu hal: badai yang datang bersamaan dengan Aldric tidak akan bisa dihindari. Dan badai itu akan menguji cinta, kesabaran, dan keputusan mereka semua-antara kemarahan, penyesalan, dan gkemunkinan cinta yang tumbuh kembali.
Matahari pagi menembus celah jendela, menyinari ruangan kecil di rumah Keira. Suara tawa Liam terdengar dari luar, saat ia berlari mengejar burung merpati yang beterbangan di halaman. Keira duduk di kursi makan, menyeruput teh hangat yang mulai dingin. Tapi pikirannya jauh melayang ke satu sosok-Aldric Delvane.
Kehadiran pria itu di kota ini bukan hanya membuat Liam penasaran, tetapi juga menimbulkan ketegangan yang tak bisa Keira jelaskan. Beberapa hari terakhir, Aldric tampak lebih sabar, lebih lembut, dan yang paling penting-tidak mengintimidasi. Setiap kali ia berada di dekat Liam, pria itu hanya tersenyum, menunggu dari jauh, memberi ruang tapi tetap hadir.
Keira menghela napas panjang. "Kenapa aku masih peduli?" gumamnya. "Dia sudah pergi lima tahun, dan sekarang kembali... membuat segalanya kacau lagi."
Sementara itu, Aldric berdiri di balik pohon dekat taman, mengamati Liam bermain bola dengan teman-temannya. Ia membawa tas kecil berisi buku dan mainan, berniat memberikannya sebagai hadiah untuk Liam.
"Semoga ini bisa jadi awal," gumamnya. "Aku harus sabar. Aku harus mulai dari sini, pelan-pelan."
Ia memperhatikan anak itu melompat-lompat, tertawa, tanpa sadar matanya sering melirik ke arah Keira. Aldric merasakan sakit di dadanya-lima tahun lalu, ia meninggalkan Keira dan Liam tanpa alasan yang jelas bagi mereka. Kini, semua penyesalan itu menumpuk seperti gelombang yang siap menghantamnya.
Ia mengeluarkan buku bergambar dari tas, menatap halaman pertama. "Besok aku akan memberikan ini kepadamu, Liam. Tanpa memaksa. Hanya untukmu," bisiknya.
Hari berikutnya, Aldric memutuskan untuk mendekati Keira secara tidak langsung. Ia menaruh buku di halaman rumah mereka, di dekat kotak surat. Saat Keira keluar, ia melihat buku itu dan sejenak terdiam.
"Siapa yang meletakkan ini?" gumamnya, matanya menatap halaman buku dengan ilustrasi warna-warni. Tidak ada catatan, tidak ada nama, hanya buku bergambar dengan sampul cerah.
Liam yang muncul dari belakang langsung melompat. "Buku baru! Buat aku, kan, Ma?"
Keira menatap anaknya dan tersenyum tipis. "Sepertinya begitu, Nak." Ia merasa hatinya tak sengaja berdebar. Ia tahu buku itu dari siapa, tapi ia tidak ingin mengaku.
Hari demi hari, Aldric mulai masuk ke dalam kehidupan mereka secara perlahan. Ia menjadi sosok bayangan yang hadir tanpa terlihat, membantu Liam dari jauh, selalu memastikan anak itu aman, selalu memastikan Keira tidak terganggu.
Namun, satu malam, Keira menemukan sesuatu yang mengejutkan. Saat membersihkan lemari tua, ia menemukan surat lama dari Aldric yang tak pernah ia baca. Surat itu ditulis lima tahun lalu, sebelum ia pergi dari hidupnya.
"Keira, aku tahu aku tidak pantas berharap kau mengerti, tapi aku ingin kau tahu... aku benar-benar mencintaimu. Setiap keputusan bodohku, setiap kepergianku, bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku takut gagal menjadi pria yang layak untukmu. Aku berharap suatu hari, kau bisa melihatku bukan hanya sebagai pria yang meninggalkanmu, tapi sebagai pria yang selalu ingin memperbaiki segalanya."
Keira terdiam. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Lima tahun lalu, ia mengira Aldric pergi karena dingin dan egois. Ternyata, ia salah. Ia menyimpan luka karena salah paham. Dan kini, ketika Aldric kembali dengan sikap lembut, Keira merasa dunia di sekitarnya mulai berbalik.
Keesokan harinya, Aldric mengajak Liam bermain di pantai, tanpa sepengetahuan Keira. Anak itu begitu senang, melompat-lompat, mengejar ombak, dan tertawa lepas. Aldric duduk di pasir, menatap Liam dengan mata berkaca.
"Om... Om tahu aku suka ini, kan?" tanya Liam sambil menunjuk ombak yang pecah di kaki mereka.
"Tahu, Nak. Om tahu," jawab Aldric pelan. Ia menatap Liam lebih lama, mencoba menyerap setiap momen. "Kau hebat."
Namun, Keira yang diam-diam mengawasi dari jarak jauh merasa campur aduk. Ia marah karena Aldric berani mendekati Liam tanpa izinnya, tapi hatinya juga tersentuh melihat bagaimana pria itu bersikap lembut pada anaknya.
"Kenapa hatiku terusik?" gumamnya. "Kenapa aku masih peduli padanya?"
Seiring waktu, Aldric mulai mengajarkan Liam hal-hal sederhana: membaca huruf, menggambar rumah dan pohon, bahkan belajar menghitung. Ia sabar, lembut, dan tidak pernah memaksa. Setiap kali Liam berhasil, Aldric tersenyum lebar, dan hati Keira terasa panas-karena ia sadar, pria itu menunjukkan sisi yang selama ini ia rindukan.
Suatu sore, saat Liam tertidur, Keira duduk di teras sambil menatap Aldric yang baru saja membantu Liam naik sepeda. Pria itu terhenti, menatapnya sebentar, lalu tersenyum. Senyum itu membuat jantung Keira berdegup lebih cepat.
"Kenapa aku masih bisa merasa... jatuh lagi?" gumam Keira, menunduk. "Dia sudah membuatku terluka lima tahun lalu. Kenapa hatiku masih terguncang?"
Di sisi lain, Aldric pun menghadapi pergulatan batin sendiri. Ia tahu ia salah di masa lalu, tapi kini ia memiliki kesempatan kedua. Namun kesempatan itu rapuh, karena Keira masih penuh dendam dan curiga. Ia harus membuktikan kesungguhannya, tapi ia juga takut terlalu cepat mendekati Liam dan membuat Keira menolak.
Suatu malam, Aldric menulis di jurnalnya:
"Aku tidak bisa memaksa cinta Keira. Aku hanya bisa hadir, menjadi bagian dari hidup Liam, dan berharap suatu hari ia bisa menerima aku kembali. Aku siap menunggu. Aku siap menerima penolakan. Tapi aku tidak akan menyerah."
Kata-kata itu membuatnya merasa sedikit tenang, meski hatinya tetap bergejolak.
Keira, di sisi lain, menemukan rahasia lain yang mengejutkan. Saat menyortir dokumen lama, ia menemukan bukti bahwa Aldric pernah menyiapkan warisan yang sebenarnya ditujukan untuknya-bukan untuk pihak lain. Ia menyadari bahwa lima tahun lalu, Aldric sebenarnya sudah berencana memberikan kehidupan yang layak untuknya dan Liam, tapi entah kenapa, ia pergi sebelum sempat menerima semua itu.
Rasa bersalah dan marah campur aduk dalam hatinya. Ia menyadari bahwa kesalahan selama ini bukan sepenuhnya dari Aldric. Dan rasa benci yang selama ini ia simpan mulai memudar, digantikan oleh rasa ingin memahami dan bahkan... rindu.
Hari demi hari, hubungan mereka semakin rumit. Aldric semakin dekat dengan Liam, tetapi tetap memberi ruang untuk Keira. Keira, di sisi lain, semakin sulit menolak perasaan lamanya yang muncul lagi, tapi ia takut terluka untuk kedua kalinya.
Suatu sore, Liam berlari ke arah Aldric dengan wajah berseri-seri. "Om, lihat aku bisa naik sepeda sendiri!"
Aldric tersenyum lebar. "Hebat sekali, Nak! Aku bangga padamu."
Keira yang berdiri di kejauhan menatap adegan itu dengan hati campur aduk. Ia ingin berlari menghampiri Aldric, memeluknya, dan menangis karena rindu. Tapi ia juga menahan diri, karena takut akan sakit yang sama seperti lima tahun lalu.
Dan di saat itu, Liam berbalik, menatap Keira, lalu menatap Aldric bergantian. "Mama... Om ini teman baru aku, kan?"
Keira menelan ludah. Senyum Aldric lembut, penuh arti, seakan menjawab bahwa ia lebih dari sekadar teman. Keira merasa dunia berputar di sekelilingnya, hatinya berdebar, dan ia tahu satu hal: badai yang datang dengan Aldric tidak bisa ia hindari lagi.