Pertemuanku dengannya tak disengaja di sebuah rumah kontrakan saat aku berkunjung ke rumah sahabatku Ria. Aku bersahabat dengannya sudah cukup lama. Sejak aku merantau di Kota Batam ini orang pertama yang kukenal adalah Ria. Karena ria teman satu kosku saat kami lajang dulu.
Aku bekerja di sebuah hotel yang cukup mewah di kota Batam ini. Setelah aku cerai dengan mantan suamiku aku memutuskan merantau ke Batam lagi. Anak-anakku aku titipkan di kampug bersama kedua orangtuaku.
Perkenalkan namaku Hana. Lengkapnya Hana Azizah. Aku seorang single parent yang mempunyai dua orang putra. Pernikahanku dengan Anang harus berakhir karena sudah tidak ada lagi kecocokan diantara kami dan harus kandas tak bertepi.
Aku perempuan berdarah jawa kelahiran Sumatera yang berkulit putih bersih dengan rambut lebat lurus yang panjang sepinggang. Tinggi semampai dan memiliki berat badan ideal. Berkaca mata serta mempunyai bibir yang tipis tapi manis. Banyak orang yang beranggapan aku ini judes tapi itu tidak benar. Hanya saja aku akan mengomel kalau melihat sesuatu yang berantakan. Aku orang yang menjunjung tinggi bersih dan rapi. Apalagi yang berhubungan dengan penampilan. Keduanya tak pernah ketinggalan.
Aku dan Ria sama-sama sudah menikah. Tiga bulan setelah aku menikah Ria juga menyusul tapi pernikahanku lebih dahulu kandas di tengah jalan karena sebuah keegoisan. Semoga hanya aku saja yang merasakan hal ini. Tidak dengan Ria.
Ria sahabat terbaikku selama aku tinggal di sini. Dari awal hingga saat ini dialah sahabat yang nggak pernah meninggalkanku dan selalu ada bersamaku mendengarkan celoteh-celotehku yang nggak sedikit menyita waktunya. Dia perempuan sabar kedua yang aku jumpai setelah ibuku. Aku berharap persahabatan kami akan selamanya meski suatu saat nanti diantara kami ada yang pulang ke kampung halaman.
Hari ini aku pulang kerja lebih awal dari biasanya. Ya, berhubung hari pertama kerja setelah libur lebaran. Ada kompensasi waktu kerja dari big boz. Jadi aku putuskan untuk menyambung tali silaturahim ke rumah Ria setelah 5 bulan nggak jumpa.
Kami komunikasinya hanya lewat udara. Maklum, punya kesibukan masing-masing yang nggak bisa ditinggal. Terlebih Ria yang baru lima bulan ini juga melahirkan bayi kembar. Nggak kebayang repotnya aktifitas ibu tiga anak itu. Ria memang telaten juga sabar mengurus anak dan rumah tangganya yang membuat aku sedikit iri dengannya.
Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Lima belas menit lagi waktunya untuk pulang. Aku mengambil handphone di saku celana cokelat kerjaku lalu menelpon Ria. Kring ...kring ...kring.....
“Ria, nanti pulang kerja aku mampir ke sana ya? Kangen juga nih, sudah lama nggak cuap cuap.” Ucapku dari seberang.
“Iya. Sama siapa?” Tanya Hana yang sibuk melipat tumpukan pakaian yang dicucinya pagi tadi.
“Sendiri lah. Emang mau sama siapa lagi?” Sahutku dengan sedikit gondok sambil merapikan alat kerjaku.
“Hahahaha, sudah sih, nggak perlu sewot gitu. Aku tanya begitu kali saja sudah dapat gandengan baru.” Tambah Ria sesekali menyimpan pakaian anaknya ke dalam lemari.
“Siapa juga yang sewot? Tenang saja Ri, kalau sudah ada nanti aku kenali deh. Santai bu...santai.” Aku menutupi kegondokan dengan nada canda.
Dengan sedikit senyum Ria berkata “Iya...iya. Aku doakan semoga lekas dapat gandengan sepadan ya. Biar nggak galau terus kalau main ke sini.”
“Iya deh. Eh, sudah dulu ya. Ntar kita sambung lagi kalau aku sudaj sampai di rumahmu. Bye...!” Aku menutup telpon kemudian kembali bekerja.
Ria melanjutkan pekerjaanya di rumah dan aku siap-siap untuk pulang. Setelah semuanya beres aku menuju ke pintu lif hendak turun ke lantai dasar. Aku biasa bekerja di lantai lima. Sesampainya di bawah tak lupa aku menggoda resepsionis yang baru masuk pergantian ship.
“Pulang yuk say? Kita jalan-jalan ke pantai. Mumpung pulang cepat nih.” Melempar senyum sembari melepaskan ikat rambutnya.
“Baru saja masuk sudah diajak pulang. Ngeledek saja mbak Hana ini.” Jawab Bunga recepsionis paling cantik di hotel ini. Suku Sunda dan masih polos baru berusia 18 tahun.
“Owh, gitu. Mbak duluan lah ya?” Aku berlalu meninggalkan Bunga.
“Iya mbak. Hati-hati di jalan ya, Mbak.” Kata Bunga dengan merapikan pakaiannya.
Sekeluarnya aku dari hotel aku langsung menuju toko roti Vanholano Bakery di seberang sana. Aku mau membeli oleh-oleh buat keponakan-keponakan aku yang lucu. Setelah selesai memilih dan bayar di kasir aku keluar. Menghentikan taksi yang berjalan menujuku. Lalu aku naik.
“Ke Batu Aji ya, Pak!” perintahku ke driver dan meletakan roti di kursi samping dudukku.
“Iya, Mbak.” Jawab driver dengan menganggukan kepalanya.
Aku menikmati lagu yang sedari tadi terlantun di dalam taksi. Tanpa sadar aku pun mengikuti syairnya.
“Suaranya bagus, Mbak.” Ucap driver yang menyadarkanku.
“Nggak ah. Biasa saja, Pak.” Jawabku dengan senyum malu-malu.
“Iya bener. Sering nyanyi ya Mbak?” Tambah driver yang tetap fokus melihat jalan.
“Nggak sering Pak, kalau lagi kepengen saja.” Mengambil lembaran uang kertas di dompet.
“Turun di depan ya Pak.” Tambahku dan bersiap hendak turun.
“Baik Mbak. Di depan rumah makan Minang Baru itu ya?” Memutar setir menepi ke pinggir.
“Iya pak. Ini uangnya Pak” menyodorkan 2 lembar uang senilai sepuluh ribu rupiah.
Driver mengambil uangnya lalu berkata “Kembali lima ribu ya, Mbak.”
“Sudah, buat Bapak saja”. Aku turun dan menutup pintu taksi.
“Terima kasih Mbak. Murah rezekinya ya.” Doa driver sebelum pergi sambil tersenyum.
“Amin. Terima kasih Pak.” Aku membalas senyum driver dan berjalan menuju rumah Ria yang masuk gang Mawar di sebelah rumah makan Minang Baru.
Cuaca hari ini begitu cerah. Tampak dari matahari yang dengan gagahnya menyinari bumi. Langit sore terlihat begitu biru bercampur sedikit awan putih yang menambah keindahan semesta. Setelah sekian menit melangkah aku tiba di teras rumah Ria. Aku mengetuk pintu rumahnya. Tok...tok...tok.
“Assalamu’alaikum. Ria....Ria...” Salamku memanggil Ria yang entah sedang apa di dalam rumah.
“Wa’alaikum salam. Iya sebentar.” Samar-samar suara ria terdengar sedikit teriak.
Ceklek. Pintu rumah terbuka. Terlihat Ria sedikit berbeda. Ia agak kemukan setelah melahirkan anak kedua dan ketiganya. Tapi kecetarannya tidak berubah. Kami sama-sama berpelukan tanpa menghiraukan anak-anaknya yang sibuk menarik-narik baju emaknya.
“Hana, aku kangen banget tau.” Teriak Ria menulikan telingaku.
“Sama. Aku juga.” Melepas pelukan dan melihat Ria dari atas ke bawah. Lalu berkata “ Kamu kok gemukan sekarang? Mangestu saja ya?”
“Betul Hahahah. Ayo masuk!” Ria mempersilahkan aku masuk dan mengangkat anaknya yang sedari tadi memeluk kaki bawahnya.
Aku meletakan kue yang aku beli tadi di atas meja makannya. Kemudian meletakan tasku di sofa ruang tamu. Aku menghampiri keponakan kembarku yang lucu di ruang tengah. Mereka sedang asik telungkup sambil bermain bermacam buku cerita kisah sahabat nabi.
“Hai, ponakan Tante yang lucu.” Aku menyapa keduanya tapi hanya si kakak yang merespon dengan melihatku. Sementara si adik sibuk dengan buku-bukunya. Di sisi lain Ria menyeduh teh hangat untukku.
“Gemoy banget sih, nak. Tante gemes deh.” Aku mengangkat si kakak. Dia tersenyum bahagia. Si adik pun mulai berpaling arah melihat kakaknya digendong.
“Hem....Hem...Hem...” Si adik tak mau kalah minta digendong juga.
“Tante nggak bisa gendong dua duanya sayang. Gantian ya.” Meletakkan si kakak dan menggendong si adik.
“Si kakak siapa namanya RI? Aku lupa.” Tanyaku sambil main bersama keduanya. Sementara si Abang asik menikmati potongan kue yang aku bawa tadi. Duduk manis di dekat pintu kamar.
“Si kakak namanya Aina. Si adik namanya Aini. Baru berapa bulan nggak jumpa sudah lupa. Gimana sih, Tante ini?” Ria berjalan ke ruang tamu.
“Baru berapa bulan? Lima bulan juga ya.. Terakhir aku datang ke sini kan waktu aqiqah mereka. Wajar lah kalau lupa. Hehe.” Membalas candaan Ria sambil senyum bermain dengan Aina dan Aini.
“Ini ya Han, tehnya.” Meletakkan segelas teh di meja bulat beralas taplak motif bunga Korea berwarna merah muda.
“Iya, makasih Ri.” Aku lanjut bermain sama si kembar.
Ria dan Adam anak sulungnya mendekati aku dan ikut bermain. Di rumah Ria hanya ada kami berliama. Kebetulan suaminya sedang bekerja pulang sore.
Waktu Ashar telah berlalu. Aku membantu Ria memandikan si kembar dan Adam. Setelah rampung aku dan Ria melanjutkan cerita kami tadi. Ria menceritakan perkembangan si kembar yang mulai aktif-aktifnya. Ia hampir kewalahan dan butuh bantuan. Tapi dengan kepiawaian dan kesabarannya ia masih sendiri mengasuh ketiga anaknya. Gaji suaminya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di tengah melonjaknya sembako di tahun ini. Mau bayar babysister nggak bisa.
Aku melihat Ria sangat menikmati menjadi seorang ibu mengasuh anak-anaknya. Sementara aku sibuk bekerja dan jauh dari anak-anakku. Aku berharap semoga mereka bahagia meski jauh dari aku. Di tengah asiknya kami ngobrol, mas Dani suami Ria pulang. Terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumah Ria.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara mas Dani mengucap salam sambil membuka sepatu.
“Waa’alaikumsalam.” Serentak kami menjawab salam. Ria mencium tangan suaminya dan aku mengulurkan tangan lalu berkata “Maaf lahir batin mas Dani untuk semua salah dan khilaf Hana yang tak disengaja selama ini.”
“Iya, sama-sama. Maaf lahir batin juga ya, Han. Sudah lama di sini?” Melepas jaketnya dan diberi ke Ria.
“Sudah mas. Tadi ada kompensasi waktu dari big bos. Jadi Hana pulang jam 3 dan langsung ke sini.” Aku kembali duduk di sofa.
“Mas tinggal dulu ya, Han. Dilanjuti lagi ngobrolnya.” Pamit mas Dani ke dapur hendak bersih-bersih. Dan kami pun melanjutkan ceritaku yang terjeda iklan kepulangan mas Dani.
Aku bercerita tentang pekerjaan dan teman-teman kerjaku mulai dari yang cantik, usil, dan teman yang paling menyebalkan di hotel. Ria terbahak-bahak mendengar celotehanku dan melihat ekspresiku menggibah teman-temanku. Tak terasa waktu magrib pun tiba.
“Allahu Akbar Allahu Akbar.” Terdengar suara Muazin memanggil orang-orang beriman untuk menunaikan kewajibannya di pergantian waktu siang ke malam. Ria dan mas Dani sholat berjamaah mumpung aku di sini bisa menjaga ketiga bocil-bocilnya.
Setelah mereka selesai aku pun menunaikan kewajibanku. Bersujud kepada Allah agar aku dan anak-anakku selalu sehat juga bahagia. Ternyata Ria sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Dan kami pun makan malam bersama di dapur.
“Gimana Han. Sudah berdua belum?” Tanya mas Dani disuapan terakhirnya.
Aku hanya membalas dengan senyum tipis dan menoleh ke Ria.
“Masih betah sendiri? Kapan lagi? Jangan lama-lama atuh.” Tambah mas Dani lalu meneguk air putih memainkan alis ke istri tercintanya.
“Iya, Mas. Belum ada yang pas.” Jawabku sambil menuang air ke dalam gelas.
“Ada yang suka, Hana nggak suka. Giliran Hana suka ternyata udah punya gandengan.” Ria melempar pernyataan yang tak terduga. Bocor halus batinku.
“Belum pas apanya, Han? Materi bisa dicari sama-sama. Mau cari yang gimana?” Tanya mas Dani dengan wajah serius yang tak terelakkan.
“Mas Dani sama Ria sama saja pertanyaannya. Hana pusing tahu mau jawab apa. Ya, belum pas semuanya. Terutama kepribadiannya. Hana takut mas dapat laki-laki yang kasar lagi.” Tegasku meyakinkan mereka.
Mereka saling pandang ketika aku menceritakan semua masalah kehancuran rumah tanggaku. Lama aku menyembunyikannya dari mereka. Yang mereka tahu aku yang minta cerai dengan alasan ketidakcukupan materi. Padahal lebih dari itu, sakit fisik yang aku rasakan dari keringantanganan mantan suamiku cukup membuat aku trauma untuk berumah tangga lagi. Setiap pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Malas kerja. Pakai narkoba.
Semua aku hadapi sendiri selama lima tahun. Aku juga tak tahu pasti penyebab perubahan di diri mantan suamiku. Dia berubah bebas brutal saat usia anak keduaku empat tahun. Aku nggak tahan dengan perlakuan kasarnya dan nggak tega anak-anakku melihat keburukan ayahnya terus-menerus. Akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi hubungan ini. Meski pahit, aku yakin bisa melaluinya.
Aku mengurus surat cerai sendiri dan meminta penuh hak asuh kedua anakku. Dengan doa keluarga aku bisa mempertahankan anak-anakku. Tak lama kami pisah aku membawa anak-anakku ke kampung supaya mereka tinggal di sana jauh dari ayahnya. Syukurnya mereka mau dan kedua orangtuaku tidak keberatan. Lalu aku balik lagi ke Batam.
“Kenapa selama ini kamu nggak pernah cerita sama kami, Han?” Ria memelukku dan menyapu bahuku.
“Aku takut kalian nggak percaya samaku. Di keluargaku cuma bapak dan mamaku yang percaya samaku. Yang lain pada menyalahkan aku tanpa mencari tahu sebab perpisahanku.” Tambahku meneteskan air mata.
“Yang sabar ya Han. Maaf kan kami yang selalu melempar pertanyaan yang memojokkanmu. Semoga suatu saat kamu bertemu dengan pria yang lebih bertanggung jawab dan baik.” Ucap Ria menegarkanku.
Tiba-tiba ada yang datang.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara pria mengucap salam. Hana membersihkan meja dan aku mencuci piring bekas makan kami.
Mas Dani membuka pintu lalu menjawab salam, “Waalaikumsalam. Eh, tamu jauh datang. Masuk masuk. Silakan duduk Mas!”
Pria asing itu pun masuk dan duduk di sofa dekat tas kerjaku. Ria mengecek anaknya yang sebelum magrib sudah terlelap akibat kelelahan bermain. Ria memberi isyarat kepadaku dengan menunjuk-nunjuk pria tampan itu dari depan pintu kamarnya. Aku nggak ngeh apa maksudnya. Aku juga memberi membalas isyaratnya dengan mengangkat kedua pundak melebarkan telapak tangan dan bertanya “Apa?” Tanpa suara.
Ria mendatangiku yang sedang duduk di meja makan lalu berbisik “Nanti kenalan ya? Orangnya ganteng loh.”
“Apaan sih, RI? Ogah, ah. Aku belum mandi. Nggak Pede.” Aku menampakkan wajah cemberut meyakinkan Ria.
“Yakin nggak mau? Ntar nyesal nggak bisa tidur malam.” Ledek Ria sambil mengaduk gula dalam segelas teh untuk suami dan tamunya.
“Awas! Jangan salah ngasih gula, Ri. Nanti bukan teh manis tapi teh asin.” Aku coba mengingatkan Ria padahal untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi jujur, aku penasaran juga. Benar ganteng atau cuma candaan Ria saja untuk menghiburku.
“Ini, tolong antarkan ke depan ya. Anakku nangis.” Menyodorkan talam putih yang berisi dua gelas teh di depan mejaku lalu berlari kecil masuk ke kamar. Terdengar tangisan si kembar dari kamar. Dengan memberanikan diri aku angkat talam menuju ruang tamu
“Permisi Mas, ini tehnya.” Aku meletakan gelas demi gelas di atas meja. Dari ujung mata terlihat pria asing itu memperhatikanku.
“Loh, Han. Kok kamu yang buat tehnya. Ria mana?” Tanya heran mas Dani dengan mengerutkan dahi.
“Yang buat tehnya tadi Ria, Mas. Karena si kembar nangis aku yang disuruh ngantar.” Jawabku penuh kepolosan karena gerogi dilihati pria asing yang duduk di sebelah tasku.
“Oh, ya Han. Kenalkan, ini temanku namanya Riyan.” Mas Dani menyodorkan jempol menunjuk ke Riyan.
“Riyan.” Ia menyodorkan tangan sambil tersenyum. Tampak gigi kelincinya yang tersusun rapi.
Aku menempelkan telapak tanganku dengan telapak tangannya juga membalas senyumnya sambil berkata, “ Hana.” Lalu melepas jabatan tangan tanda perkenalan telah usai.
“Benaran ganteng.” Gumamku dalam hati. Aku pun balik ke dapur untuk menyimpan nampan. Dari sudut ruang tengah terlihat Ria tertawa lebar yang ditutupi telapak tangannya seolah meledek.
“Ganteng nggak? Mau? Biar aku jodohin. Masih single tuh.” Rina coba menggodaku. Aku hanya diam tak merespon ledekannya. Ria anaknya memang suka ngeledek dari zaman masih kurus dulu. Tiba-tiba mas Dani memanggil kami untuk ikut ngobrol bareng. Mau tak mau aku harus ikut.
Kami berempat ngobrol panjang kali lebar ngalur-ngidul. Tak sedikit ketawa kecil mengiringi perbincangan kami. Perlahan tapi pasti Ria dan Mas Dani meninggalkan kami dengan alasan masing-masing. Dan ahirnya kami ngobrol berdua hingga malam mulai larut.
“Udah malam. Mas mau pamit nih. Dani mana?.” Ucap Riyan menutup perbincangan kami.
“Sebentar ya, Mas. Hana panggil sebentar.” Aku beranjak dari tempat dudukku yang tak jauh dari Riyan.
“Mas Dani, Ria. Kami mau pamit pulang nih.” Ucapku mengarah ke dapur menyimpan gelas teh tadi.
Di dalam kamar mereka saling pandang heran dengan ucapanku. “Kami? Udah ayo mas!” Ria mengajak suaminya bergegas keluar kamar menghampiri kami.
“Pulang bareng, Han?” Tanya Ria heran mengangkat kedua alisnya.
“Nggak, RI. Aku naik taksi dari depan sana. Ini kan sudah malam, aku izin pamit juga. Gerah nih dari pulang kerja belum mandi.” Ucapku mengemas tas dan roti yang kubeli tadi.
“Oh, kirain bareng.” Sedikit kecewa tampak dari nadanya yang lemah.
“Yan, antar Hana sekalian bisa? Kasian kalau naik taksi. Sudah malam juga nih.” Mas Dani melihat jam di tangan kirinya jarum pendek menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
“Boleh.” Singkat Riyan menaiki sepeda motor miliknya.
“Bener nih, nggak keberatan?” Tanyaku memastikan kesediaan Riyan.
“Iya. Yuk!” Ajaknya ketika ia memakai helm dan menyalakan mesin motornya.
“Aku pulang ya, RI.” Aku memeluk Ria tiba-tiba ia berbisik, “ Cie, semoga cocok ya!” Isengnya mulai lagi. Aku mencubit lembut pinggangnya .
“Mas, pulang ya. Makasih buat makan malamnya.” Pamitku memakai tas dan naik ke motor Riyan.
“ Pulang Mas, Mbak. Assalamu’alaikum.” Riyan mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam.” Serentak Dani dan Ria. “Hati-hati di jalan ya!” Tambah Ria sembari melambaikan tangan. Riyan menarik gas motor dan kami pun pergi.
Keluar dari gang rumah Ria, aku langsung memeluk tubuh Riyan. Kontan dia kaget. Tampak dari gerak badannya yang sedikit maju ke depan. Rasa yang hadir luar biasa. Aku merasa nyaman dekat dengannya. Apalagi saat kami ngobrol tadi. “Bodoh amat dia mau mikir apa. Yang penting aku nyaman. Titik.” Batinku sambil menyandarkan dagu di pundak kanannya.
“Apaan sih, Non? Ntar ada yang marah.” Dia memanggilku nona. Ucapnya coba menghindari daguku. Aku hanya tersenyum.
Di tengah perjalanan handphone milik Riyan berdering. Dia tidak mengangkatnya. Ada tanda tanya juga dalam hatiku “Siapa malam-malam begini nelpon? Kok nggak di angkat? Apa pacarnya? Bodoh, ah. Aku nyaman dengannya.” Aku semakin erat memeluk tubuhnya.
Setelah empat puluh menit kami mulai memasuki gang rumahku.
“Belok kiri rumah yang berwarna biru ya, Mas!” Aku memberi tahu tempat tinggalku.
“Nomor 13 ini?” Riyan menghentikan motornya pas di depan pagar.
“Masuk yuk, Mas.” Aku turun membuka kunci pagar lalu membuka pintu rumah.
Riyan memasukkan motor ke dalam halaman rumah dan menutup pagar. Tidak dikunci. Dia kelihatan sedikit canggung masuk ke rumahku karena memang cuma aku sendiri di rumah ini.
Rumah ini adalah rumahku dulu bersama mantan suamiku. Setelah kami pisah dia minta harta gono-gini. Dia mau rumah ini dijual, motor dijual dan hasilnya bagi dua. Akhirnya aku meminta bantuan dana pada orangtuaku untuk membeli rumah ini. Aku pun berhasil mempertahankan rumah ini atas namaku. Sepeda motor kami dia jual sama temannya.
“Silakan duduk, Mas! Hana mandi dulu ya? Sudah gerah nih.” Aku mengambil baju tidur di lemari kamar dan langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Kuguyur air di atas kepalaku terasa dingin menyeruak di pori-pori kulitku. Sedikit menggigil tapi cukup merilekskan urat-uratku yang kaku. Kugosok lembut seluruh tubuhku dengan sabun Shinzui kesukaanku. wangi sakuranya menenangkan pikiranku yang gegana sambil bernyanyi kecil mengekspresikan kebahagiaanku. Iya. Aku bahagia. Sepertinya aku jatuh cinta pada lelaki berkulit putih bersih itu. Benar kata Ria, Riyan itu ganteng.
Selesai mandi aku pakai baju tidur. Sengaja tidak pakai bra karena memang kalau tidur malam aku jarang menggunakannya. Dalam dunia kedokteran pun tidak dianjurkan memakai bra saat tidur malam untuk menjaga kesehatan payudara dari ganasnya kangker.
Payudaraku padat dan masih kencang meski aku sudah mempunyai dua anak sehingga tak begitu kelihatan kalau aku tidak memakai bra. Aku ke kamar mengoleskan body lation wangi bunga sakura dan menyemprotkan sedikit parfum ke sisi kanan kiri dasterku. Besolek sedikit dan kembali ke dapur membuat secangkir teh hangat untuk Riyan.
Di ruang tamu terlihat Riyan sedang asik main handphone. Main game atau chatingan dengan perempuan lain aku nggak tau. Aku datang dengan membawa segelas teh dan beberapa potongan roti yang kubeli tadi. Aku sedikit menunduk meletakkan talam di atas meja pas di depan mas Riyan. Riyan melihat buah dadaku dari celah atas dasterku tanpa disengaja lalu membuang muka ke arah handphone. Aku cueak saja.
“Diminum ,Mas tehnya! Mumpung masih hangat.” Aku buka percakapan sambil duduk di depan Riyan dan mengambil bantal untuk aku peluk.
“Iya, terima kasih Non.” Ucapnya memasukkan handphone ke saku depan celana jeans birunya dan menyeruput teh sayang buatanku.
"Tinggal sendiri di rumah Segede ini?" Ia bertanya melihat keadaan rumahku yang cukup besar. Kamarnya ada empat.
"Iya, Mas." Singkatku.
"Nggak takut, Non?" Tambahnya.
"Sudah biasa Mas. Hana sudah tujuh tahun ini tinggal di sini. Tetangganya pun baik-baik semua. Aman lah." Jelasku mengambil sepotong roti manis kesukaanku.
Kurang lebih lima belas menit aku bercerita tentang retaknya rumah tanggaku. Dia mendengarkan dengan baik tanpa memotong sedikit pun. Sedihku mulai muncul mengingat anak-anakku yang menjadi korban keegoisan orangtuanya. Setelah aku siap bercerita dia pamit pulang.
“Sudah malam, nggak enak sama tetangga. Mas pulang ya?” Dia melihat jam dinding yang menunjukan setengah sebelas malam. Dia pakai jaket jeans berwarna navy yang tadi ia letakkan di tangan kursi dan berdiri mau melangkah ke luar.
Aku hampiri dia lalu meraih wajahnya dan cup! Aku mencium pipi kanannya. “Terima kasih ya, Mas sudah nganterin Hana.” Aku melempar senyum terbaikku malam ini untuknya. Dia kaget, keluar tanpa kata hanya salam “Assalamu’alaikum.” Kemudian berlalu pergi.
"Waalaikumsalam. Kabari Hana kalau sudah sampai rumah ya, Mas.!" Pintaku agar aku tenang.
"Iya." Dia melaju.
“Bye!” Aku melambaikan tangan tapi dia hanya memberi klakson padaku.
Setelah dia tak tampak dari pandangan aku langsung mengunci gerbang dan pintu. Menyimpan gelas ke dapur dan minum segelas air mineral. Kembali ke kamar, mengambil handphone di dalam tas dan menulis sebuah pesan ke Ria.
“Ri, makasih ya. Pria itu beneran ganteng. Aku jatuh hati padanya. Asli, mata ini sulit terpejam. Wajah dan senyumnya menari-nari di mataku. Aku NYAMAN dengannya, Ri.” Ting Ting pesan terkirim.
Lima belas menit aku menunggu tidak ada jawaban. “Mungkin Ria sudah tidur. Whatsapp mas Riyan lah. Kali saja sudah sampai.” Gumamku dalam hati. Aku sudah menyimpan nomornya ke handphoneku saat di rumah Ria tadi.
“Mas, sudah sampai?” Dengan gambar E-motion kepala senyum berpita love ku kirim. Ting Ting. Pesan terkirim. Tidak ada balasan juga. Aku letakkan handphone di atas meja rias dan menghidupkan lampu tidur.
Aku coba menutup mata tapi hati terlalu bahagia. Jiwaku masih ingin berlama-lama membayangkan wajah tampannya. Senyumnya yang manis hampir membuat aku gila. Gila ingin segera memilikinya.
Aku tak bisa tidur juga meski rasa kantuk mulai menyerang perlahan. Bolak-balik berpindah posisi tetap saja salah. "Ada apa gerangan?" Batinku bertanya. Aku menulis di note handphone tentang keadaan hatiku dan kacaunya pikiranku yang sedang dimabuk cinta.
Dear Malam Penuh Cinta
Malam, aku telah mengenal seorang pria
Berwajah tampan lagi menawan
Bersamanya aku merasa nyaman
Dia pria idaman yang lama aku impikan
Bisakah engkau menyatukan kedua perasaan?
Malam,
Cinta secepat kilat datang dari pandangan
Menyembuhkan luka yang lama tertahan
Sungguh, suaranya menenggelamkan ingatan
Bantu aku memantapkan hati menjadikan dia pilihan.
Malam,
Namanya Riyan.
Pintaku pada Tuhan semoga cintaku berakhir pada sebuah pernikahan.
Menipiskan penyesalan penebal kebahagiaan.
Esok, akan kubuktikan perasaan
Agar ia percaya cintaku kan menghidupkan malam kelamnya.
Malam,
Engkau begitu indah penuh kilau
Membasuh luka mengukir kisah
Kisah hilangnya resah tanpa kata
Kutemukan dia penawar rinduku
Batam, 15 Juli 2011.
Dua puluh menit juga aku menulis isi hatiku. Setelah aku lega mencurahkan rasa, aku kembali memejamkan mata dan akhirnya aku terlelap bersama bayang-bayang wajah manisnya hingga pagi menjelang.