Elgar Aditara, tatapan mata lelaki itu tertuju pada segerombolan laki-laki yang menggandeng seorang wanita.
Di tempat dia berada saat ini, memang tidak aneh ketika ada banyak orang yang menggunakan waktunya untuk bersenang-senang dengan kekasihnya. Tetapi, ada sesuatu yang terlihat berbeda.
Wanita itu terlihat berat ketika melangkahkan kakinya untuk mengikuti para lelaki yang membawanya. Dia berjalan seolah terpaksa, bukan karna kemauannya.
"El, itu bukan urusan kita. Jadi tidak perlu ikut campur."
Seorang wanita menahan tubuh Elgar yang beranjak dari tempatnya agar tetap berada disampingnya.
Elgar kembali menatap wanita yang hampir tidak terlihat karena sudah memasuki area VIP.
"Sebentar saja. Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
Elgar meninggalkan teman-temanya dan mengikuti wanita yang tadi dirinya lihat. Namun, kemana perginya wanita itu?
Elgar ingin tidak peduli, tapi kakinya enggan untuk melangkah pergi. Elgar mencoba membuka salah satu pintu yang ada di area VIP, namun terkunci. Elgar kembali mencoba membuka pintu yang lain, namun sama saja, terkunci. Hingga ahirnya, Elgar berhasil masuk ke salah satu ruangan yang tidak terkunci.
"Siapa kamu? Jangan mencoba untuk mengganggu kesenangan kami," ujar lelaki yang paling tua diantara yang lainya.
Elgar tidak menganggapi ucapan lelaki tersebut, dirinya hanya fokus pada wanita yang saat ini duduk di sofa, tengah dipaksa minum oleh lelaki lainnya.
Wanita itu menyadari kedatangan Elgar, dari gerakan mulutnya, elgar dapat memahami jika wanita tersebut mengatakan. "Tolong," meski tanpa suara.
"Apakah kalian terlalu menikmati, sampai lupa mengunci pintunya?"
Elgar mendekat, masuk ke dalam ruangan setelah menutup pintu. Tatapan matanya tidak beralih kemanapun selain menatap wanita yang berada di sofa, ditemani lelaki yang berada di sebelah kanan dan kirinya.
"Sudah aku peringatkan untuk jangan mengganggu kesenangan kami. Jadi silahkan pergi sebelum kami menghajarmu."
Salah satu dari segerombolan laki-laki itu menghadang Elgar yang melangkah maju. Tidak ingin membuang waktu, Elgar menghajar satu persatu para lelaki yang ada di ruangan tersebut. Elgar kemudian membawa wanita itu setelah berhasil melumpuhkan keempat lelaki yang ada di sana. Elgar mencium aroma alkohol dari tubuh wanita yang saat ini bersamanya, sehingga membuat wanita itu tidak berdaya.
Apakah aku selamat? Apakah dia menolongku?
Tidak ada lagi yang wanita itu dengar, matanya terasa berat, penglihanya semakin lama semakin buram. Hingga ahirnya, matanya terpejam.
Elgar membawa wanita itu ke mobilnya, membawanya pergi dari area klub setelah memberitahu temannya jika dirinya pulang lebih dulu.
---------
"Dimana aku?"
Wanita itu ahirnya bangun setelah dua jam tertidur. Matanya sibuk menelusuri tempat dirinya berada saat ini hingga melihat sosok lelaki yang duduk di sofa, tepat di sebelah ranjang yang dia tiduri.
"Ahirnya bangun juga. "
Elgar beranjak dari tempatnya, menghampiri wanita yang saat ini terlihat kebingungan.
Anggun mengambil posisi duduk ketika lelaki tersebut mendekatinya. Raut wajahnya terlihat ketakutan sehingga membuat tubuhnya gemetar.
"Bagaimana, apakah sudah merasa lebih baik?" ucal Elgar yang berdiri di samping ranjang.
Wanita itu termenung untuk sejenak, mengingat apa yang terjadi padanya sebelum dirinya berada di sebuah kamar bersama lelaki asing ini.
"Kamu ... pasti orang yang tadi menolongku." ujar Anggun setelah mengingat kejadian yang menimpanya hari ini.
"Namaku Elgar. Siapa namamu?"
"Anggun."
"Nama yang cantik." Elgar menyematkan senyum tipis di ujung bibirnya ketika menggoda Anggun. "Istirahatlah disini, aku pastikan kamu aman. Waktu sudah terlalu malam, aku harus segera pulang."
Pulang! Jadi ini bukan rumahnya? Lalu rumah siapa?
Anggun semakin kebingungan, dirinya ingin menanyakannya, tapi, ada yang ingin Anggun katakan, lebih penting dari apa yang akan dia tanyakan.
"Terimakasih sudah menolongku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan melakukan apapun untukmu karena sudah menyelamatkan hidupku. Jika tidak, aku tidak tau akan menjalani hidup seperti apa."
Elgar tersenyum, namun senyumannya seolah menyimpan maksut tertentu. "Kamu yakin dengan ucapanmu?"
Anggun mengangguk, dia sangat yakin.
"Bagaimana kalo aku meminta tubuhmu sebagai imbalannya?"
"Bagaimana kalo aku meminta tubuhmu sebagai imbalannya?"
Tubuhku? Apa maksudnya? Jika seperti ini, bukankah dia sama saja dengan para laki-laki yang mencoba melecehkanku!
Anggun mematung sejenak, dirinya merasa seperti keluar dari mulut harimau dan masuk ke mulut buaya.
Elgar kemudian tertawa ketika melihat reaksi Anggun setelah mendengar ucapannya. "Aku pulang sekarang. Selamat malam."
"Tunggu."
Elgar menghentikan langkah kakinya ketika baru saja melangkah karena mendengar suara Anggun.
Anggun baru menyadari jika rambutnya basah, tercium aroma segar dari tubuhnya yang menguar. Tidak hanya itu, pakaiannya yang saat ini dia kenakan juga berbeda.
Baju siapa ini?
"Siapa yang mengganti pakaianku, dan ... rambutku basah. Apa yang terjadi padaku?"
"Tubuhmu bau alkohol dan bajumu kotor. Jadi, aku membersihkannya agar tidurmu nyenyak."
Apa? Apakah dia benar-benar melakukan itu? Itu artinya ...
Anggun memalingkan wajahnya dari Elgar, rasa malu sekaligus merinding seketika merayap di tubuhnya.
"Bukan aku yang melakukannya," reaksi Anggun yang tadi panik seketika berubah mendengar perkataan Elgar. "Di rumah ini ada dua pelayan, mereka berdua yang melakukan itu. Kalo butuh apa-apa, katakan saja pada mereka."
Anggun seketika merasa lega karena dirinya tidak sendirian di rumah itu. Tetapi Anggun masih memikirkan banyak hal, terlebih ucapan Elgar yang terdengar Blak-blakan. Anggun merasa ragu apakah laki-laki yang menolongnya itu benar-benar baik?
Anggun kembali mencoba memejamkan matanya setelah Elgar pergi. Tetapi tidak bisa, badannya justru terasa segar setelah bangun tidur dengan rambut basah serta aroma tubuhnya yang harum, aroma mahal yang belum pernah Anggun rasakan.
Malam ini, Anggun mungkin merasa aman, tapi besok, kemana Anggun akan pulang, jika tempat yang dia sebut rumah saja tidak aman untuknya.
Sementara itu, di kediaman keluarga Aditara.
"Darimana saja kamu, Elgar? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya William, Papa Elgar yang duduk di ruang tamu, sengaja menunggu kedatangan putranya.
"Apa itu penting? Sejak kapan anda ingin tahu urusan saya?" jawab Elgar tanpa rasa hormat.
"Berhenti memanggil saya dengan sebutan anda. Saya ini Papa kamu."
"Semua orang juga tahu jika anda Papa saya, jadi tidak perlu diperjelas."
Elgar segera masuk ke kamar tanpa peduli dengan papanya yang belum selesai bicara. Tidak hanya kali ini, Elgar dan papanya memang tidak akur.
----------
Malam yang sunyi dan tenang ahirnya berakhir. Langit yang biru semakin terlihat jelas, bersamaan dengan sinar matahari yang menembus jendela.
"Hai, selamat pagi."
Sapa Elgar, yang pagi ini kembali datang menemui Anggun.
Anggun menoleh ke arah suara. "Pagi."
Elgar mendekat ke arah Anggun, meraih rambutnya yang panjang, tergerai bebas dengan aroma sampo yang menguar.
Disaat seperti ini, Anggun merasa takut ketika lelaki di hadapannya menatapnya penuh arti. Anggun masih ragu dengan kebaikan Elgar yang sudah menolongnya.
"Ada apa? Apakah aku membuatmu takut?" Elgar menyadari jika Anggun merasa tidak nyaman berada di dekatnya, sejak semalam.
Elgar tidak pernah melihat ekspresi Anggun pada wanita kebanyakan, wanita yang biasa bersamanya. Dia yang biasa digoda dengan sikap centil para wanita, tapi tidak dengan saat ini.
"Anggun, lihat aku!"
Elgar mengangkat dagu Anggun agar menatap wajahnya. Elgar berusaha memancing, seberapa kuat Anggun menahan rayuannya. Memangnya, wanita mana yang akan menolak rayuan dari lelaki setampan Elgar.
"Aku mohon jangan, jangan lakukan apapun padaku!" mohon Anggun ketika Elgar mendekatkan wajahnya tanpa jarak.
Elgar ahirnya tahu, jika Anggun benar-benar berbeda dengan wanita-wanita yang ada di dekatnya. Ketakutan pada diri Anggun semakin terlihat jelas diiringi dengan tubuhnya yang gemeter dan tanganya yang terasa dingin.
"Jangan takut, aku tidak akan memakanmu."
Anggun membuka matanya dengan perlahan, mata yang tadi sempat dia pejamkan untuk mengurangi rasa takutnya. Sekarang, Anggun memberanikan diri untuk menatap mata Elgar.
"Ya, seperti itu," bisik Elgar ketika Anggun mulai mengontrol rasa takutnya.
Elgar menggandeng tangan Anggun untuk keluar, mengajaknya sarapan. Setelah ini Elgar akan membiarkan Anggun pergi dari rumahnya.
"Di mana rumahmu?"
"Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang," tanya Elgar setelah selesai sarapan bersama Anggun.
"Aku tidak bisa pulang. Jika aku pulang, Ayah akan menjadikan aku sebagai tebusan hutang dan menyerahkan aku pada mereka lagi."
Elgar ahirnya tahu alasan para lelaki itu membawa Anggun.
"Aku bisa kerja disini sebagai pembantu atau apapun itu, aku bisa bekerja untukmu!" Anggun berharap, Elgar mau memperkerjakan dirinya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan pekerjaan rumah. Aku tidak mau tanganmu yang lembut ini menjadi kasar." Elgar mencium tangan Anggun layaknya kekasih.
Anggun melebarkan kedua matanya. Laki-laki seperti apa dia ini? Kenapa dia bersikap seperti ini pada wanita asing sepertiku?
"Aku akan memberimu pekerjaan. Pekerjaanmu hanya cukup menuruti perintahku. Mudah bukan!"
"Apakah tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan selain itu? Aku bisa memasak, aku bisa ... "
Elgar menutup mulut Anggun dengan jari telunjuknya agar berhenti bicara. "Turuti permintaanku, maka kamu bisa tinggal di sini sesukamu."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan, sekarang?"
"Kamu bisa melakukan apapun, anggap saja ini rumahmu, imbalan karena sudah sepakat untuk menuruti perintahku."
Setelah menemui Anggun, Elgar kemudian pergi karna harus datang ke kantor.
Sejak saat itu, setelah pertemuannya dengan Anggun, Elgar tidak lagi datang ke klub untuk mabuk dan menyewa wanita guna menghiburnya. Elgar lebih sering berkunjung ke rumah yang saat ini di tempati oleh Anggun, menghabiskan waktu bersamanya.
Dan malam ini, Elgar kembali datang menemui Anggun dengan membawa beberapa baju yang baru saja dia beli, lantaran tahu jika Anggun hanya memiliki dua pakaian di tempatnya yang sekarang.
"Terimakasih. Tapi ... apakah ini tidak terlalu terbuka?" ujar Anggun setelah melihat beberapa baju yang Elgar serahkan untuknya.
"Aku suka yang terbuka. Mandilah dan pakai salah satu baju itu. Aku ingin malam ini kamu melakukan sesuatu untukku."
"Melakukan sesuatu untuk kamu? Apa?" Anggun kembali deg-degan mendengarnya, terkadang, Elgar bersikap begitu manis padanya, tetapi Elgar juga tidak jarang membuatnya merinding.
"Lakukan dulu permintaanku, setelah itu, kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan."
Tidak bisa membantah, Anggun segera mandi dan menggunakan dres berwarna biru tua tanpa lengan, hanya ada dua tali yang mengait di pundaknya.
Sebelum keluar dari toilet, Anggun berkaca di depan cermin yang menunjukan lekuk tubuhnya saat ini. Anggun berharap, apa yang Elgar inginkan bukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya.
Anggun memberanikan diri untuk menemui Elgar yang sudah menunggunya di kamar. Dengan wajah yang tegang dan penuh keraguan, Anggun keluar dari toilet sembari menyilangkan tanganya di depan dada karena tidak percaya diri, malu, dan tidak pernah menggunakan pakaian se-terbuka saat ini, Apalagi di depan laki-laki.
Elgar menatap Anggun dengan lekat, lalu berjalan ke arahnya. "Sangat cantik," ucapnya setelah berada di hadapan Anggun.
Elgar menyibak rambut Anggun, lalu menyelipkannya di belakang telinga, Elgar juga meminta Anggun untuk menurunkan tanganya yang masih menyilang di depan dada
"Aku ... tolong, jangan melakukan apapun yang dapat membuat penyesalan," ujar Anggun dengan gemetar.
"Kamu pikir, aku akan melakukan apa?" Elgar tersenyum, mengerti akan maksut yang Anggun katakan.
Penolakan dari Anggun membuat Elgar semakin penasaran. Selama ini, tidak pernah sekalipun ada wanita yang menolaknya, tapi Anggun, justru terang-terangan meminta agar Elgar tidak menyentuhnya.
Elgar mengajak Anggun duduk di sofa, berusaha memecah situasi yang terasa canggung ini.
"Aku bukan orang jahat, jadi jangan takut padaku. Aku hanya ingin meminta kamu untuk menemani aku melakukan sesuatu yang biasanya aku lakukan saat bersama wanita ketika berada di klub. Itu saja."
"Kalo begitu, kenapa tidak datang ke klub saja. Para wanita itu mungkin bisa ... "
"Untuk apa aku kesana kalo ada wanita di rumahku. Para wanita itu tidak lebih menarik dari kamu," sela Elgar, tidak ingin mendengar alasan apapun dari Anggun.
Ada perasaan takut yang membuat Anggun mengingat para laki-aki yang berusaha melecehkannya pada waktu itu.
Dia mungkin bukan orang jahat yang akan melukaiku, tapi dia tetaplah laki-laki yang harus aku waspadai!
Elgar menuangkan sedikit wine ke gelas, lalu memberikannya pada Anggun. "Minumlah sedikit, kamu tidak akan mabuk seperti waktu itu."
"Maaf, aku tidak bisa. Rasanya tidak enak."
"Sedikit saja, ini cenderung lebih manis."
Anggun menerima gelas dari Elgar dengan ragu, mencoba untuk menghargai agar tidak menyinggungnya.
Elgar menyalakan Proyektor di kamar, menonton film romance bersama Anggun sembari terus mengajaknya bicara agar terbiasa denganya. Elgar mencoba mencari tahu tentang Anggun lebih banyak, seperti latar belakang, asal-usul, dan sebagainya.
"Berapa hutang ayahmu sampai dia menjadikan putri manisnya ini sebagai tebusan?"
Elgar mengelus pipi Anggun dengan lembut, dan lagi-lagi Anggun tidak bisa menolak apapun yang Elgar lakukan.
"Banyak. Aku tidak tahu berapa nominalnya."
"Bagaimana dengan ibumu, apa dia tahu hal ini?"