Bab 1

Sania, gadis cantik berusia 19 tahun, kulitnya putih dengan mata kecoklatan, tubuhnya ramping dan tinggi. Dia benar-benar sempurna sebagai seorang wanita. Sania adalah gadis yang sangat manja, dia dua bersaudara, Sania dan Tania adiknya. Kehidupannya penuh dengan kemewahan, tapi itu dulu sebelum ayahnya mengalami kecelakaan dan mengakibatkan meninggal dunia.

Tok.. tok... tok...

"Permisi,," ujar suara dari luar sembari mengetuk pintu. Sania yang sedang bercengkrama dengan ibu dan adiknya merasa terganggu. Dia pun bergegas membukakan pintu untuk seseorang yang berada di luar pintu.

Alangkah kagetnya Sania di buatnya, ternyata orang yang mengetuk pintu adalah seorang polisi.

"Siapa San?" tanya ibunya dari dalam. Bu Lidia pun menghampiri Sania, karna dia juga penasaran dengan tamunya.

"Permisi Bu," sapa polisi itu setelah Bu Lidia keluar. Sania pun minggir ke samping untuk memberi jalan kepada ibunya.

"Ada apa ini Pak?"

"Maaf mengganggu waktunya Bu," ujar pak polisi tersebut. Bu Lidia hanya mengangguk.

"Tidak pa-apa Pak, mari silahkan masuk." Dua polisi itu pun masuk ke dalam rumah, dan duduk di kursi ruang tamu. Bu Lidia dan Sania ikut duduk bersebrangan dengan polisi tersebut.

"Ada apa ya Pak?" tanya Bu Lidia dengan harap-harap cemas, karna selama ini dia tidak pernah di datangi oleh seorang polisi seperti ini.

"Maaf sebelumnya Bu, jika saya akan membuat Ibu terkejut," ujar polisi tersebut. Bu Lidia dan Sania hanya mengangguk tidak sabar dengan maksud kedatangan polisi tersebut.

"Begini Bu, apa benar pak Lukman adalah suami Ibu?"

"Iya benar Pak, memangnya kenapa ya dengan suami saya?"

Polisi tersebut menarik nafas panjang, seakan apa yang ingin di sampaikannya begitu berat.

"Maaf Bu, suami Ibu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang kritis." Bagai di sambar petir di siang bolong. Bu Lidia merasa kaget dan pingsan seketika. Sania yang mendengarnya sangat syok, dia benar-benar tidak percaya dengan kabar yang di bawa dua polisi itu.

"Bu, Ibu bangun,,," tangis Sania pecah seketika melihat ibunya tak sadarkan diri.

Beberapa saat kemudian, Bu Lidia terbangun dari pingsannya. Dia menangis di pelukan Sania. Mereka pun bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan ayahnya Sania.

Setiba di rumah sakit, Sania melihat seorang pria dan keluarganya yang telah membuat ayahnya mengalami kecelakaan sedang duduk di kursi tunggu. Dia dan ibunya pun melewatinya begitu saja.

Bu Lidia dan Sania hanya bisa melihat dari jendela ruangan di mana Pak Lukman terbaring. Mereka terus menangis melihat keadaan Ayah Sania yang di pasang banyak selang itu.

"Maafkan putra saya Bu," ujar Bapak-bapak yang sedari tadi melihat bu Lidia dan Sania menangis. Bu Lidia hanya mengangguk, dia sudah tahu penyebab suaminya kecelakaan. Dan itu tidak serta merta karna kesalahan pemuda yang sedang duduk dan menunduk itu, tapi karna suami Bu Lidia menyebrang tanpa melihat kanan kiri, dan akhirnya kecelakaan pun tak bisa dielak. Apalagi saat itu, pemuda yang menabrak Pak Lukma mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"Tidak pa-apa Pak, mungkin ini sudah takdir. Ini juga karna salah suami saya," jawab Bu Lidia dengan uraian tangis yang belum terhenti. Sania memegang tangan ibunya dan menenangkan.

"Semua biaya rumah sakit biar saya yang tanggung Bu," ujar bapak itu lagi. Bu Lidia hanya mengangguk.

Mereka pun bersama menunggu Dokter keluar. Beberapa saat kemudian, pintu yang sedari tadi tertutup akhirnya terbuka. Seorang Dokter keluar dengan raut wajah yang sudah dapat di tebak.

"Gimana Dok dengan suami saya?"

"Maaf Bu, pasien tidak bisa di selamatkan." Bu Lidia yang mendengarnya langsung luruh ke lantai. Sania langsung memeluk ibunya, mereka pun menangis bersama karna di tinggal begitu cepat.

Pemuda yang sedari tadi menunduk, kini melihat Sania dan ibunya yang sedang manangis itu. Dia benar-benar merasa bersalah, karna telah membuat salah satu keluarga dari mereka meninggal.

Andai saja dia tidak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mungkin saja seseorang yang ada di dalam ruangan itu tidak akan meninggal. Sesalnya pada dirinya sendiri. Pemuda itu terus menatap Sania, dia begitu merasa iba karna telah membuat ayahnya Sania meninggal.

Pemuda itu hanya terdiam, entah kenapa hatinya begitu terenyuh melihat Sania menangis. Rasa iba dan rasa yang lain muncul bersamaan, dan dia tidak tahu itu.

Ambulan pun membawa jenazah ayah Sania ke rumahnya. Banyak tetangga yang sudah menunggu kedatangannya, karna sebelum dia pulang, Sania terlebih dahulu menghubungi pamannya, mengabarkan jika ayahnya kecelakaan dan akhirnya meninggal.

Setelah persiapan pemakaman selesai, Sania dan Tania ikut mengiringi jenazah ayahnya ke kuburan. Ibunya tidak bisa ikut, karna dia sedang syok hingga menyebabkan pingsan beberapa kali.

Jenazah pun di kebumikan, dan tetangga yang ikut mengiringi juga sudah beranjak. Hanya tinggal Sania dan adiknya yang masih setia duduk di pinggir kuburan tersebut.

"Ayah, kenapa ayah meninggalkan Tania begitu saja." Tangis Tania tak bisa terbendung, dia terus sesegukan melihat batu nisan ayahnya. Karna memang Tania lah yang sangat dekat dengan ayahnya.

Sania merangkul adiknya tersebut, mencoba memberikan kekuatan, walau sebenarnya dia sendiri sedang rapuh. Pamannya yang tidak melihat keponakannya ikut pulang, segera kembali berputar arah. Dia melihat Sania dan Tania sedang menangis. Pamannya mendekati mereka, dan membujuk mereka untuk pulang.

Akhirnya Sania dan Tania ikut pulang bersama pamannya. Sesampainya di rumah, Sania melihat pemuda itu dan orangtua pemuda tersebut sedang duduk bersama bibinya. Sania tidak memperdulikannya, dia pun bergegas masuk ke dalam kamar tanpa basa-basi dengan tamunya itu.

Malam pun akhirnya tiba, seperti biasa jika ada yang meninggal, keluarga yang di tinggalkan mengadakan acara tahlilan. Begitu juga dengan keluarga Sania.

Tidak terasa tujuh hari telah berlalu, itu artinya Sania dan keluarganya telah di tinggalkan selama satu minggu. Dan selama itu pula, ibunya hanya terdiam dan tak bicara sama sekali. Bu Lidia sangat terpukul dengan kepergian suaminya, dia tidak berpikir jika ada putri-putrinya yang membutuhkannya.

Hingga suatu hari, sepulang Sania kuliah dia tidak melihat ibunya keluar dari kamar sama sekali. Sania merasa cemas, dia sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar ibunya, namun tidak ada sahutan sama sekali.

Sania pun bergegas ke rumah pamannya, dan memberitahu pamannya jika ibunya dari tadi di dalam kamar tidak keluar-keluar. Dengan terburu-buru Sania dan pamannya bergegas menuju kamar ibunya.

"Apa kamu punya kunci cadangan?" Sania hanya menggeleng. Jika dia punya, dia tidak mungkin memanggil pamannya dan meminta tolong. Karna Dia tahu, sebenarnya paman dan ayahnya tidak akrab, apalagi bibi dan ibunya.

"Ya sudah, biar Paman dobrak saja."

Setelah pintu terbuka, sesuatu yang tak pernah di inginkan terjadi.

"Ibu,,,," teriak Sania menghampiri ibunya. Tangisan Sania pecah ketika melihat ibunya tergeletak dengan mulut berbusa.

Bab 2

Sore yang kelabu dan sore yang sama seperti satu bulan yang lalu. Ya, sudah satu bulan ini Sania pergi ke rumah sakit dua kali karna orang-orang yang di sayanginya. Yang pertama karna ayahnya kecelakaan hingga meninggal dunia, dan yang kedua karna ibunya mencoba bunuh diri dengan meminum racun tikus.

Untung saja dia dan pamannya dengan cepat membawa ibunya ke rumah sakit, kalau terlambat sedetik saja mungkin nyawa ibunya tidak tertolong lagi.

"Dok, tolong ibu saya dok!" teriaknya menggema di dalam rumah sakit.

Suster yang melihatnya segera menghampiri Sania dan pamannya. Dia mengintrogasikan untuk membawa ibunya Sania di ruang 404. Dengan cepat pamannya berjalan menuju kamar yang sudah di tunjuknya padanya. Dia pun menurunkan adik iparnya dari gendongannya, dan membaringkannya di atas ranjang rumah sakit.

Sania terus mondar-mandir, dia benar-benar gelisah. Ketakutannya akan kehilangan sosok ibunya membuatnya sangat frustasi. Mulutnya terus melafadzkan doa-doa yang dia bisa. Kesembuhan ibunya hal yang sangat penting baginya.

"Sudah San, Ibumu pasti baik-baik saja," ujar pamannya berusaha membuat Sania tenang.

"Iya Paman, semoga saja begitu. Tapi kenapa Ibu sampai melakukan hal seperti itu Paman? " Pamannya hanya menggeleng, tanda dia juga tidak tahu.

Tiba-tiba seseorang yang dia kenal berlari menghampirinya. Matanya terlihat sembab, sama dengan dirinya.

"Kakak gimana keadaan ibu?" tanya Tania setelah dia sampai bersama bibinya.

"Ibu sedang di tangani Dek." Sania masih terus mengeluarkan air mata, dia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan ibunya. Sudah cukup dia kehilangan ayahnya satu bulan yang lalu, dan sekarang dia tidak mau jika ibunya juga ikut meninggalkannya.

Mereka pun saling terdiam untuk sesaat. Setelah Sania tenang, dia langsung teringat jika adiknya tadi tidak ada di rumah. Dan meninggalkan ibunya sendiri, hingga ibunya nekat meminum racun tikus tersebut.

"Tadi dari mana? Kenapa ibu di tinggal sendiri?" ujar Sania mengawali percakapan di antara mereka.

"Aku ada kerja kelompok Kak, tapi sebelum aku pergi, aku melihat Bibi masuk ke dalam rumah,"

"Ngapain Bibi ke rumah?"

"Aku juga tidak tahu." Sania hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Tania. Dia hanya berharap bahwa bukan bibinya yang mempengaruhi ibunya.

"Ya sudah, kakak ke kamar mandi dulu." Tania hanya mengangguk mendengar perkataan kakaknya.

Saat Sania melewati lorong rumah sakit, lamat-lamat dia mendengar pembicaraan paman dan bibinya. Sania pun mendekat dan mencoba menguping pembicaraan paman dan bibinya itu. Dia benar-benar merasa penasaran dengan pembicaraan paman dan bibinya itu.

"Apa yang mereka ributkan?" gumam Sania pada dirinya sendiri. Sania langsung menempelkan daun telinganya, mencoba mendengarkannya secara jelas.

"Sudahlah Pak, sekarang kita pulang saja." itu suara bibinya.

"Tidak enaklah Buk, adik ipar sedang di rawat. Masak iya kita meninggalkannya begitu saja. Siapa yang akan mengurus administrasinya?"

"Kan ada Sania Pak, Sania itu sudah besar. Dia pasti bisa merawat ibunya, lagian kalau kita ikut-ikut entar kita juga yang repot."

Sania hanya bisa mengelus dada mendengar perkataan bibinya, dia pun bergegas meninggalkan lorong itu. Sania tidak mau mendengar terlalu lama percakapan paman dan bibinya yang menyakitkan.

Setelah kembali dari kamar kecil, Sania langsung bergegas menuju ruang administrasi. Karna tadi suster mencarinya untuk menyelesaikan administrasi terlebih dahulu. Ternyata paman dan bibinya benar-benar pulang, dan meninggalkan Sania dan Tania berdua saja.

Tiga hari kemudian, ibunya sudah boleh di bawa pulang. Namun ibunya harus kontrol setiap minggu. Akibat meminum racun tikus tersebut ibunya menjadi lumpuh, untungnya racun tersebut tidak sampai menjalar ke otak.

Sania pun membawa ibunya dengan memesan taksi online, karna mobilnya telah di jual untuk biaya kuliah dan pengobatan ibunya. Ternyata biaya rumah sakit sangat besar, apalagi Sania lewat jalur umum karna memang tak memiliki bpjs.

"Assalamualikum," salam Sania setelah dia sampai di rumahnya. Dengan mendorong ibunya dengan kursi roda, Sania membuka pintu rumah.

Di lihatnya rumah begitu sepi, dimana Tania pikir Sania. Sania pun langsung membawa ibunya menuju kamar, dan membantu ibunya untuk berbaring.

"Maafkan Ibu Nak," ujar Bu Lidia pada putrinya.

"Sudah Bu, tidak perlu meminta maaf. Sania tahu ibu sedang dalam fase berduka." Sania duduk di tepi kasur, tangannya memegang tangan ibunya dengan sayang, dia pun mencium tangan ibunya berkali-kali. Dia sangat bersyukur ibunya kembali lagi ke rumah.

Bu Lidia yang melihatnya menitikan air mata, dia benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Harusnya dia berpikir masih ada putri-putrinya yang membutuhkannya. Harusnya dia sebagai penguat putri-putrinya, bukan malah menyusahkannya.

Bu Lidia pun mengelus rambut Sania dengan sayang, dia benar-benar menyesal.

"Maafkan ibu,"ucapnya lagi. Sania hanya tersenyum dan mengangguk.

"Ya sudah, sekarang ibu istirahat." Sania langsung menyelimuti ibunya dengan selimut tipis, dan bergegas keluar kamar membiarkan ibunya beristirahat.

"Dari mana saja?" tanya Sania saat Tania baru masuk dari pintu belakang.

"Dari rumah Bibi Kak."

"Ngapain?"

"Tadi Bibi marah-marah, dan menjelekkan ibu," adunya pada Sania.

"Emang Ibu salah apa? Ibukan baru datang, mana mungkin buat salah sama Bibi." Tania hanya mengangkat bahunya, tanda dia juga tidak tahu. Sania hanya menghembuskan nafas panjang dengan kelakuan bibinya itu, padahal jelas-jelas ibunya kemarin di rumah sakit, mana bisa ibunya membuat salah.

*****

Sudah hampir dua bulan ibunya masih saja terbaring di ranjang, dan selama itu pula Sania merawat ibunya. Lambat laun harta yang di tinggalkan ayahnya mulai habis, karna kehidupan sehari-hari dan untuk pengobatan ibunya juga.

Sania mulai pusing dengan keuangan yang hampir menipis, apalagi harus buat biaya kuliah dan sekolah adiknya. Sania memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya, karna terkendali ekonomi.

Dengan berbekal ijazah SMAnya, Sania mencoba keberuntungan di ibukota Jakarta. Namun banyak perusahaan yang menolaknya. Apalagi selama ini Sania tidak pernah punya pengalaman kerja, itu juga menjadi kendala untuknya.

Sania beristirahat kala kakinya mulai lelah, sudah kesana kemari Sania mencoba melamar kerja, namun tidak ada satu perusahaan pun yang menerimanya. Akhirnya Sania memilih untuk pulang saja, ia akan berusaha mencari pekerjaan besok pagi.

"Assalamualaikum," ucap Sania saat membuka pintu. Dia langsung bergegas melihat ibunya, dia takut jika ibunya kembali mencoba bunuh diri.

Di lihatnya ternyata ibunya sedang berbaring, dan saat ini ibunya sedang menatap Sania yang masih berada di ambang pintu.

"Ibu mau jalan-jalan?" Sania menghampiri ibunya, dan mencoba membantu ibunya terduduk.

"Boleh Nak." Sania langsung mengambil kursi roda ibunya, dan memapah ibunya naik di kursi roda. Dengan pelan Sania mendorong kursi roda tersebut. Setelah sampai di ruang tamu, ibunya meminta Sania untuk berhenti. Karna ibunya ingin bergabung dengan Tania yang sedang menonton acara televisi.

Bab 3

Pagi harinya, Sania kembali mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karna jika bukan dirinya yang mencari nafkah siapa lagi?

Sania terus berjalan, saat melintas di depan mini market, dia melihat di kaca tertempel membuka lowongan. Tanpa menyia-nyikan kesempatan, Sania bergegas menghampiri mini market tersebut, dan menaruh berkas-berkas yang di butuhkan.

Sania berdo'a semoga saja kali ini surat lamarannya berhasil, dan dia bisa bekerja walau hanya di mini market. Setidaknya Sania bisa mengumpulkan pundi rupiah untuk menutupi kebutuhan keluarganya.

Seminggu sudah berlalu, dan benar saja tadi malam ada pesan masuk di ponsel sania. Sania merasa senang, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan untuk membiayai kehidupan keluarganya dan membayar sekolah adiknya. Pekerjaan untuk yang pertama kalinya.

"Bu, Sania di terima kerja," ujar Sania memberitahu ibunya.

"Alhamdulillah Nak kalau begitu."

"Tapi kenapa ibu sedih?" tanya Sania berlutut di depan kursi roda ibunya.

"Ibu hanya kesal pada Ibu sendiri, harusnya kamu masih kuliah, dan Ibulah yang harus bekerja," ujar ibunya menyesali perbuatannya itu.

"Sudahlah Bu, lagian ini keinginan Sania sendiri." Sania pun memeluk ibunya dan berusaha menenangkan ibunya.

*****

Setelah selesai sarapan di pagi hari, Sania bergegas memesan angkot menuju tempat kerja barunya dengan senyum yang mengembang. Penumpang angkot yang lain memperhatikan Sania yang sedang senang itu.

"Lagi senang ya Neng?" tanya ibu-ibu yang sedang duduk di sebelah Sania. Dengan semangat Sania menganggukkan kepalanya.

"Biasanya kalau pertama masuk kerja memang begitu Neng, entar lama-lama juga bosan. Apalagi kalau gajinya tidak sesuai," ujar ibu tersebut. Ibu itu sudah bisa menebak kenapa wanita yang di sampingnya sedang senang, apalagi dengan penampilan yang sangat rapi. Bisa di pastikan baru pertama masuk kerja.

"Iya Bu," ujar Sania menanggapi ibu tersebut. Sania pun mengalihkan perhatiannya pada pojok angkot, ternyata di sana ada dua pria yang sedari tadi memperhatikannya. Sania hanya acuh tak acuh, walau ini pertamakalinya Sania naik anggkot, Sania tidak akan takut hanya karna di perhatikan daritadi.

"Apa yang bisa mereka lakukan di tempat seramai ini?" pikir Sania.

Beberapa saat kemudian, angkot pun menyalakan sen ke kiri. Menuju tempat yang telah di beritahu oleh Sania. Sania pun bergegas turun dari angkot, dan membayar angkot tersebut dengan menggunakan uang lima puluh ribuan. Namun saat dia mengeluarkan dompetnya, dua pria yang dari tadi memperhatikannya dengan cepat merampas dompet Sania beserta tasnya.

Sania merasa kaget, dia pun berteriak berharap ada yang akan menolongnya," tolong,, tolong,,ada jambret." Sania terus mengejar jambret tersebut, hingga sampailah di gang yang sepi dan buntu.

Dengan nafas tersenggal, Sania mencoba meminta tas dan dompetnya kembali.

"Tolong kembali tasku," ujar Sania melihat kedua pria tersebut berharap tasnya di kembalikan. Sedangkan kedua pria tersebut terus melihat gerak gerik Sania, mereka terlihat takjub saat Sania menghapus keringat dari dahinya, dan membenarkan anak rambutnya yang berantakan.

Dua pria tersebut saling pandang dengan senyum menyeringai, dan memberi kode antara satu dengan yang lain.

Sania yang mengerti dirinya sedang terancam, segera membalikkan badan dan berlari. Namun na'as baginya, salah satu dari mereka terlebih dulu mencekal pergelangan tangan Sania.

"Mau kemana Manis," ujar pria tersebut memperlihatkan senyum yang menjijikkan menurut Sania.

"Tolong lepaskan saya Bang,, " ujar Sania mengiba. Pria yang memegang tangannya hanya tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya sendri. Sania merasa takut melihatnya. Pria yang satunya pun ikut mendekati Sania.

"Memangnya kenapa cantik? bukannya kamu sendiri yang mengejar kami?" ujarnya mengejek Sania.

Sania hanya bisa menelan ludah, harusnya dia tidak sendiri mengejar jambret tersebut. Dia benar-benar menyesal telah ceroboh. Dia tidak pernah berfikir akan mengalami hal seperti ini setelah mengejar jambret tersebut.

"Ku mohon, lepaskan saya, ambil saja tas dan isinya," ujarnya mengiba lagi, berharap dua pria tersebut mengasihaninya.

"Hahaha,,, mana mungkin kita melepas kelinci begitu saja." pria yang mencekal pergelangan tangan Sania mendorong Sania pada dinding di sampingnya.

Bruk,,,

Kepala dan tubuh Sania langsung menabrak dinding dengan keras. Sania langsung luruh ke bawah. Kepalanya benar-benar terasa sakit dan pusing secara bersamaan, sampai Sania memeganginya sembari meringis. Akibat benturan tersebut, kepala Sania mengeluarkan darah. Dua pria itu hanya tersenyum melihat Sania kesakitan dan berdarah. Mereka mendekati Sania dengan senyum menyeringai.

Sania yang melihatnya berusaha mundur, dan berusaha pergi. Namun dia tidak bisa karna terhalang dinding, apalagi kepalanya yang begitu pusing dan sakit membuatnya tak bisa berdiri.

Salah satu pria tersebut menarik baju Sania dengan kasar, hingga baju tersebut robek di bagian pinggang, dan memperlihatkan tubuh Sania yang putih. Sania hanya bisa menangis dan meminta untuk di lepaskan. Namun dua pria itu tak mengindahkan permohonan Sania.

Pria yang menarik baju Sania kembali mencoba menariknya lagi. Namun belum sampai tangannya menyentuh Sania, tiba-tiba dari arah samping seorang pemuda menendangnya hingga membuatnya terjungkal. Mereka pun berkelahi satu lawan dua. Perkelahian yang tidak seimbang.

Sania hanya melihat perkelahian itu, beberapa saat kemudian dia pun pingsan tak sadarkan diri.

"Aku ada di mana?" Gumamnya pada dirinya sendiri, sembari memegang kepalanya yang masih terasa pusing, dia pun duduk. Di lihatnya di sekeliling, ternyata dia sedang berada di ruangan yang sangat mewah.

"Kamu sudah sadar?" ujar suara dari balik pintu kamar mandi. Dan keluarlah seorang pria dengan hanya memakai handuk di bagian bawah. Sania yang melihatnya buru-buru menutup wajahnya dengan selimut.

"Ahhhh... " teriaknya kemudian.

"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Sania ketika dia tahu jika pakaiannya sudah berganti. Pria itu hanya menatap Sania sebentar tanpa menjawab pertanyaan Sania, dia pun berlalu menuju lemari pakaiannya. Mengganti handuk yang melekat pada tubuhnya dengan celana jeans.

Sania yang melihatnya memalingkan wajahnya, dia baru pertamakali melihat pria ganti pakaian di depannya.

"Dasar tak tahu malu," gumamnya. Namun pria tersebut mendengarnya dan tak memperdulikan perkataan Sania, dia terus melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai, pria tersebut mendekatai Sania.

"Apa kau masih ingin terus di situ?" Sania pun langsung menoleh mendengar suara pria tersebut.

"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Sania lagi. Pria tersebut hanya mengangkat bahunya.

"Dasar kau!!!" Sania berdiri hendak memukul pria tersebut. Namun dengan cepat pria tersebut menangkap pergelangan tangan Sania yang ingin memukulnya.

Sania berusaha menarik tangannya dengan sangat kuat, hingga akhirnya mereka jatuh di atas ranjang bersama. Mereka pun saling terdiam untuk sesaat dengan pemikiran masing-masing.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED