"El! bangun El! mama udah masak buat kamu."Mama yang teriak dengan sembari mengeleng kepalanya yang sudah lelah,harus masak dan juga bangunin anaknya satu-satunya.
Elia yang masih nyaman dengan tempat tidurnya hanya mengusap-usap mukanya dengan,lembutnya bantal dan pantulan sinar matahari dari arah jendela.
"Hmm,kenapa sih waktu cepat pagi,padahal masih mau tidur."gumam Elia yang berharap cuaca masih malam,agar dirinya masih bisa tidur sebentar lagi.
Elia sontak bangun meranjak,dari tempat tidurnya siap-siap untuk ke kantor dan juga sarapan,selesai dari siap-siap ia bergegas turun,takut ada suara indah dari mamanya untuk kedua kalinya.
***
"E-"
"Iya ma..iya aku udah turun."
"Mama kira kamu masih enggak mau turun."
Elia bergegas jalan ke arah meja makan,sembari mendorong tempat duduk untuk mamanya,mamanya melihat dengan sinis.
"Kamu mau jatuhin mama ya?"
"Iyaampun ma,kalau aku sejahat itu sama mama,aku mana tega aku enggak pernah jahat sama orang ma."
"Bagus! jangan ya. mama enggak pernah ajarin kamu jahat."
Elia sembari mengeleng kepala dan mengambil makanan untuk mamanya dan juga dirinya,di piring yang berbeda.
"Iya ma."
"El."
"Apa ma."
Elia makan dengan terburu-buru agar,bisa cepat bergegas ke kantor,karena waktu tidak banyak dan takut telat.
"Kamu kapan,mau cari suami sayang?"
Elia yang mendengar itu sontak tersedak dan minum air,mama hanya mengerutkan wajahnya yang tau anaknya,hanya alasan setiap di tanya seperti itu,pasti deh ada aja alasanya.
"Kamu itu ya,kalau mama nanya itu pasti deh gitu."
"Bukan gitu ma,kan mama tau aku masih mencari ma,tenang aja kalau ada,pasti aku bawa kerumah mama tenang aja oke ma."
Mama senyum tersemeringai mendengar perkataan Elia,sembari itu pegang tangan Elia,Elia melihat ke arah mamanya.
"Iya ma,El janji sama mama yaudah El,pergi ke kantor dulu ya ma,bye ma sampai jumpa nanti."
"Iya El."
Elia sampai di kantor dan di dekati oleh temanya,bernama Della yang biasa di panggil Adel,hanya dia yang mau temanan Elia,selain itu hanya mengolok-olok Elia. Della termasuk wanita yang cantik di kantor,ia juga banyak di sukai oleh kaum pria. enggak heran selain memiliki sifat ramah dirinya,juga tidak pernah pilih-pilih teman.
"Pagi Elia."
"Pagi Del,loh kok lu di sini? kenapa? tungguin gua? apa gimana?"
"Iyalah,emang siapa lagi,oh ya ini kopi lu,gua beliin."
Elia tersenyum kepada Della,sembari mengambil kopi di tangan Della dan jalan ke arah lift,untuk naik ke kantor.
"Makasih ya Del,maaf banget gua ngerepotin lu."
"Lu bicara apa sih? mana ada lu ngerepotin gua? malah gua senang lagi di repotin sama lu."
"Dih gila,mana ada coba."
Sampai di kantor,mereka ke tempat duduk masing-masing,kebetulan tempat duduk Della bersebelahan dengan Elia tidak heran kalau Della dekat sekali dengan Elia.
"Del."
"Hmm,apa El?"
"Lain kali gua traktir lu kopi ya? gua enggak enak,terus-terusan di traktir sama lu."
"Yah elah udah kayak sama siapa aja? gua iklas kok,tapi kalau lu mau traktir yaudah makasih ya,intinya gua enggak maksa lu oke."
Elia hanya senyum mendengar perkataan Della,enggak lama jam makan siangpun tiba,Della menghampiri meja Elia dengan bekalnya.
"Elia,makan ayo jangan enggak makan,kerja boleh tapi jangan sampai lu enggak ada tenaga,gimana mau kerja kalau tenaga kosong."
Mereka berdua tertawa dengan lepas,tidak lama ada pria yang kerja di sana bernama Romi,yang menghampiri mereka.
"Hi Della."
"Hai." dengan suara datarnya,yang malas untuk berbicara dengan oranglain.
Elia yang mengerti sontak pergi,ditahan tanganya oleh Della dan jalan bersama Elia,di dekat rooftop kantor.
"Loh Del,kenapa lu ikut gua,kan Romi mau dekat sama lu,gua ngerti banget lagi dia mau dekat sama lu."
"Gua enggak mau,dan gua mau dekat lu aja."
"Hmm,kenapa? Romi baik kok emang,bukan tipe lu ya?"
Della tersenyum,sembari meletakan kotak makananya,di dekat meja dan melihat ke arah Elia yang lagi serius,meunggu jawaban dari Della.
"Gua itu,mau sama cowo yang mau dekat sama lu,kalau cowo itu enggak mau dekat sama lu,gua enggak mau buat apa juga,kalau dia suka gua dia juga harus,menghargai sahabat gua dong."
Elia yang mendengar itu sontak kaget dan tidak menyangka,perasaan sahabat dengan Della itu nyata,awalnya ia pikir Della hanya memanfaatknya malah sebaliknya ia benar-benar ingin serius dengan Elia.
"Makasih ya Del,gua enggak nyangka wanita secantik lu,mau sahabatan sama gua."
"Emang kenapa? karena lu kutubuku,terus kenapa? lu pintar kok,dan gua suka sama orang pintar,lu juga cantik Elia jadi jangan pernah merasa lu jelek,paham kan?"
Elia yang mendengar itu tersenyum,dengan bahagia mendengar perkataan Della,setelah selesai makan akhirnya mereka balik keruangan.
"Eh,ada apa sih? kok kantor sepi? ini udah jam masuk kantor kan? apa kita telat ya Elia?"
"Gua juga enggak tau Del,kan gua sama lu daritadi."
Akhirnya ada suara pria dengan suara lantang berat nan tegas,yang membuat wanita itu hanya diam mematung mendengar suaranya.
"Siap semuanya."
Keduanya masih melamun dan bingung siapa pria ini dan mengapa pria ini di sini,ada apa dengan situasi ini.
"Kalian enggak dengar saya bilang siap?"
"Maaf pa,bapak siapa ya?" Elia merasa penasaran dengan orang itu siapa.
Semua karyawan melihat ke arah Elia,dengan pandangan aneh dan penuh kebencian,sedangkan bos hanya senyum terkekeh.
"Kenalin,nama saya Edward bos baru kamu! paham!
Elia yang mendengar itu sontak menundukan kepala,merasa dirinya salah sudah tidak sopan dengan bos baru.
"Maaf pak,saya janji enggak akan mengulang lagi pak,sikap saya yang barusan."
Edward pergi meninggalkan Elia,sedangkan Della membantu Elia untuk berdiri dan duduk di bangku mereka.
"Gila! itu bos baru kita,kok cepat banget sih,bukanya katanya dua minggu baru di ganti ya."
"Gua juga bingung,ini kita yang salah info,apa dia yang datangnya kecepatan ya."
Elia hanya mengeleng kepala dan menyelesaikan tugasnya,setelah selesai tugasnya. waktu sudah menunjukan sore sudah saatnya mereka pulang.
"Bye Della."
"Eh,Elia mau kemana?"
"Kenapa Del?"
"Lu di panggil sama bos baru,hayoloh ada apa loh?"
Elia yang mendengar itu sontak kaget dan hampir aja pingsan,ditahan oleh Della sembari itu Della panik dan mendudukan Elia di kursinya.
"Iya ampun Elia,lu enggak apa-apa."
"Hmm,gua panik tau! lu serius apa bohong sih?"
"Seriuslah El,mana mungkin gua bercanda ke lu dan gua juga enggak mungkinlah,bercandain lu,kalau ya dari dulu udah gua bercandain kan lu tau,gimana gua ke lu."
Elia hanya diam dan minum teh hangat,sesudah itu Elia bergegas pergi ke ruangan bos Edward,bos baru yang enggak di sukain semua orang termasuk Elia,Elia bukan enggak suka hanya tatapanya membuat Elia takut dan susah untuk berpaling.
Tok tok tok
Elia berharap dirinya tidak ada diruangan dan setelah sudah mengetuk tiga kali,Elia masuk dengan muka gelisah dan berdiri di depan bos baru.
"Bos,panggil saya?" dengan suara takut salah bicara.
Bos terlihat lebih tenang,daripada yang tadi saat di depan banyak orang,Elia merasa bingung dengan bos,ada apa dengan bos tadi manggil sekarang diam.
Bos melihat ke arah Elia,tersenyum dan Elia mangkin bingung,ada apa bos ketawa mengapa tidak bicara apa-apa malah diam aja,serasa Elia kayak badut.
"El,duduk aja kali kenapa kamu berdiri terus,emang enggak capek berdiri terus?"
"E-eh ya bos."
Elia duduk di depan bos,sedangkan bos sedang sibuk kerja,Elia bingung kalau bos emang sibuk,kenapa bos memanggil dirinya untuk keruanganya.
"Bos Edward ada apa cari saya?"
"Enggak kok,saya cuman mau liat kamu aja."
"M-maaf bos ini tentang tadi ya,maaf bos saya tidak tau kalau bos,bos baru saya. saya taunya bos akan datang dua minggu lagi,enggak taunya lebih cepat.
Bos tersenyum melihat Elia yang merasa dirinya salah dan terus minta maaf,sembari melihat ke arah Elia.
"Udah,kamu mau sampai kapan minta maaf sama saya? saya aja enggak masalah,kenapa kamu gelisah kayak gitu? emang saya menakutkan banget ya,sampai kamu juga takut sama saya?"
Elia yang melihat bos malah bingung dan melihat ternyata bos,enggak sejahat rumor yang ada,tapi mengapa bos tidak di sukai banyak orang ya.
"El."
"Iya bos,ada apa?"
"Kamu mikir apa? "
Elia hanya mengeleng kepala dan senyum,sembari itu bos melihat ke arah jam tangan,sontak tersenyum kepada Elia.
"El,udah sore,kamu enggak pulang?"
"I-iya bos ini mau pulang."
"Bareng ayo,biar sekalian jadi saya pulang juga,saya capek El kalau harus di kantor terus,kamu enggak kasihan sama saya?"
Elia bingung,ada apa dengan sikap bos,kenapa dirinya sangat baik kepada Elia,harusnya ia bersama Della,mengapa dengan Elia yang kutubuku.
"Bos,teman saya belum pulang Della,gimana kalau bos pulang sama dia aja,pasti dia senang pulang sama bos."
"Kamu tolak saya secara halus ya El,padahal saya mau antar kamu pulang,kenapa kamu suruh saya pulang sama oranglain,emang saya terlihat seperti supir di mata kamu."
Elia yang mendengar itu merasa sakitnya bos,sampai akhirnya Elia merasa enggak enak dan menghela nafas kepada dirinya.
"Maaf bos,saya enggak bermaksud yaudah kalau bos,mau antar saya pulang. saya pulang sendiri aja biar bos enggak di anggap seperti supir? gimana bos?"
Bos bukan marah,malah tertawa dengan terbahak-bahak. Della yang mendengar itu bingung ada apa di dalam,apakah Elia baik-baik saja sama bos gila itu.
"Iyaudah ayo pulang El."
"I-iya bos."
Keluar dari kantor Elia harap masih ada Della,ternyata Della udah pulang duluan,karena takut dengan bos,akhirnya ia bergegas pulang dan meninggalkan Elia berdua dengan bos.
"Mana Della? udah pulang kan dia,berarti kamu enggak ada alasan untuk tolak saya,pulang bareng ya? mau kan?"
Elia hanya menganggukan kepala yang artinya ia setuju,pulang bersama bos Edward,walau sebenarnya dirinya enggak akan nyangka pulang dengan bos,selama ini Elia yang di kenal,hanya wanita kutubuku yang enggak mungkin,ada panggeran putih yang suka,pas di suka sama bos sendiri.
Elia mengeleng kepala dan bos tersenyum,sembari menahan kepala Elia.Elia melihat ke arah bos,sembari itu bos tersenyum kepada Elia.
"Kamu kenapa El? nanti pusing loh,kepalanya kayak gitu."
"Maaf bos,tadi saya lagi kepikiran sesuatu cuman sesuatu yang aneh."
"Hmm,kalau saya boleh tau apa?"
Elia melihat ke arah bos,bos juga sembari menyetir curi-curi pandang ke Elia,menghelus kepala Elia yang diam.
"Kamu kenapa sih El,lucu banget."
Elia bingung,enggak lama handphone bos,berdering dari klien,setelah itu Elia hanya melihat pemandangan lewat jendela mobilnya.
Bos Edward yang melihat itu,tidak fokus dan menghelus kepala Elia,Elia melihat ke arah bos sontak bos sadar,kembali telepon kepada klien.
"Maaf pak,ada apa pak?
Setelah melanjutkan telepon,akhirnya sampai di tempat makan Elia bingung,kenapa bos mengajaknya ke sini dan bukan pulang.
"Loh pak? bapak enggak salah ajak saya ke sini? ngapain saya ke sini pak? apa enggak aneh ya pak,seorang karyawan pergi bersama bosnya pak?"
"Hmm,enggak kok kamu di tempat kerja memang,karyawan saya tapi kalau di luar,kamu sama saya sama jadi,menurut saya kamu enggak perlu berpikir seperti itu El,aku enggak suka kamu mikir kayak gitu."
Bos pegang tangan Elia,Elia hanya diam sembari melihat tangan bos yang gampang banget,mengenggam tanganya dengan erat.
"Maaf El,enggak sengaja."
"Iya pak,enggak apa-apa saya yang harusnya minta maaf,kan saya enggak pantes di pegang bapak,yang ada nanti tangan bapak kena kuman karena saya."
Bos yang mendengarkan itu sontak mengerutkan dahinya,sembari itu Elia bingung,mengapa bos seperti marah apa dirinya salah berbicara.
Sembari mencari tempat duduk,melihat menu bos terus melihat ke arah Elia,Elia juga melihat ke arah menu dengan senyum semeringai.
"Kamu suka El,makan di tempat kayak gini?"
"Hmm,suka kok bos kalau bos sendiri suka? kok bos tau tempat ini? biasa makan sini,eh maaf bos saya jadi bawel emang suka gini mulutnya,maafin saya ya bos."
Bos tersenyum,mendengar Elia berbicara tanpa henti,membuat bos senang,dengan perkataan Elia,setelah itu bos melihat ke arah Elia.
"Enggak apa-apa saya senang kok kalau kamu bicara dengan santai kayak gitu sama saya,kan saya udah bilang kamu kalau di luar tetap jadi diri kamu dan status kita sama,jadi kamu jangan merasa enggak enak sama saya,ngerti kan El?"
"Iya pak,tapi tetap aja saya enggak enak,saya takut kebiasaan nanti saya malah terkesan,enggak sopan sama bapak."
Bos hanya tertawa tidak lama makanan mereka datang,akhirnya mereka menyantap makanan mereka.
"Ayo Elia,aku antar."
"Hah? enggak usah bos saya bisa sendiri kok,bos tenang aja oke bos."
"Hmm ini bukan penolakan tapi saya perintahin,jadi kamu harus mau."
Elia juga tidak mungkin menolak karena ini bos barunya,akhirnya Elia mengiyakan ajakan bos,sampai dirumah Elia.
"Ini rumah kamu El?"
"Iya bos,ada apa?"
"Saya boleh main?"
"Hah? bos mau main ngapain? jangan bos rumah saya enggak nyaman,kecil dan juga sempit ngapain bos,masuk kerumah saya."
Bos tertawa sembari itu Elia bingng,ada apa dengan bos yang sedaritadi hanya tertawa padahal Elia tidak sedang melucu.
"Iyaudah kalau saya enggak boleh masuk,saya pulang deh kalau gitu,kamu besok jangan telat ke kantor ya,awas kalau telat saya hukum."
"I-iya bos siap pasti bos,saya enggak akan telat kok bos,saya janji."
"Baik kalau gitu,yaudah deh kalau gitu masuk gih ke dalam,saya masih ada rapat sama klien,maaf ya enggak bisa berbicara banyak sama kamu."
Elia hanya tersenyum dengan terkekeh,enggak lama keluar dari mobil bos,sembari melambai ke arah bos dan bos tersenyum jalan melewati Elia.
Elia bingung dan jalan ke arah pagar rumah,sedangkan mama yang mengintip di kaca jendela hanya tersenyum,seperti ada maksud,masuk kedalam rumah dan melihat ke arah mama yang tersenyum membuat Elia takut,sekaligus kaget dengan senyuman mama tersebut,kepadanya.
"Nak,itu siapa? tumben di antar naik mobil."Mama bertanya kepada Elia,dengan maksud apakah itu calon suaminya.
"Oh itu bos Elia ma,kenapa ma."
Mama bahagia saat mendengarnya ternyata itu bosnya Elia,setelah itu Elia bingung dan pegang pundak mama.
"Ma,kenap ma? mama enggak apa-apa kan?"
"Enggak,udah sanah mandi terus makan."
Elia hanya diam dan bingung ada apa dengan mamanya,padahal dirinya tidak melakukan apapun,kepada mamanya.
Saat di meja makan,akhirnya mereka makan sembari makan,mama nanya tentang orang yang mengajak Elia pulang.
"Nak."
"Iya ma."
"Kalau kamu sama bos kamu,kayaknya cocok deh nak."
Elia yang mendengar itu sontak tersedak dan mama hanya diam,sembari menumpukan tanganya di pipinya.
"Kan,setiap mama bilang cocok pasti kamu yang enggak suka,kenapa sih nak? bos kamu pasti ganteng ya,makannya kamu batuk?"
"Bukan gitu ma,siapa tau bos Elia udah punya calon buat nikah."
"Kan baru calon nak,bukan udah sah! tenang aja,jodoh kamu itu dia!"
Elia hanya mengeleng kepala,sembari lanjut makan Enggak lama,Della mengirim pesan kepada Elia,setelah mengirim pesan Elia selesai makan.
"Ma,Elia duluan ya nanti taro aja di situ ma,Elia bisa cuci piring kok."
"Mau kemana El? baru juga pulang,udah pergi lagi?"
"Ketemu Della ma."
"Kirain ketemu bos kamu yang tadi,pakai mobil itu."
Elia hanya mengerutkan dahinya,enggak lama setelah pergi mamanya berencana ingin ke kantor Elia,untuk bertemu dengan bos yang mengantar anaknya pulang kemarin,pilihan anaknya salah atau tidak.
.
.
"Ada apa Del? lu panggil gua ke sini."
Della hanya mendekap Elia dengan erat,Elia bingung ada apa sembari melihat wajahnya Della. Della terlihat cemas dan bingung harus melakukan apa.
"Dell,kenapa sih? lu baik-baik aja kan."
"Justru itu,gua mau nanya lu baik-baik aja kan?"
"G-gua? baik-baik aja kok,emang gua kenapa?"
Della menghela nafas,sembari menepuk jidatnya dengan pelan,Elia mangkin bingung dengan Della,sembari itu mengajak Della duduk.
"Ayo duduk ayo,biar lu lebih tenang."
"Hmm,gimana gua mau tenang kalau sahabat gua sama bos gila itu! dia suruh lu apa? suruh lembur ya? apa ngelakuin tugas yang macam-macam?"
"Enggak kok,bos enggak sejahat yang lu kira tau."
Pandangan awal Della,tentang bos gila,menjadi diam dan tidak bisa berkata apa-apa,sembari pegang jidat Elia.
"El,lu enggak di apa-apain kan? kok seketika lu jadi bilang begitu tentang bos."
"Iya,gua ngerti kok lu pasti enggak percaya,tapi bos enggak seburuk kata orang,apa yang orang bicarain tentang dia itu bohong,dan aslinya dia baik kok gua juga tadi ha-habis pergi makan sama dia,setelah pulang kerja."
Della yang mendengar itu sontak bahagia menutup mulutnya,dengan kedua tanganya sembari menguncang-guncang tangan Della.
"Dell,ini serius enggak sih? enggak bercanda kan?"
"Iya,gua serius,masa gua bercanda sama lu,Del."
"Aaa akhirnya ada yang benaran cinta sama lu,tapi kenapa harus bos gila itu ya! kenapa enggak oranglain?"
Elia yang mendengar itu juga bingung,sembari pesan makan,mereka melanjutkan perbincangan yang barusan.
"Tapi ya El,kalau lu sama bos,gua orang yang bahagia sih,tapi pasti lu akan jarang main sama gua."
Muka Della yang cemberut membuat Elia tidak tega kepada Della,sembari pegang kedua bahu Della. Elia tersenyum kepada Della.
"Dell,lu tenang aja,gua pasti akan menunggu lu sampai punya pacar,biar lu duluan gua belakangan aja gimana?"
"Hah? serius? tapi jangan deh,gua terkesan egois enggak sih kayak gitu Dell?"
Elia mengeleng kepala dan tersenyum,sembari makan Elia melihat ke arah sekeliling. sembari menjelaskan kepada Della.
"Enggak ada yang egois kok,menurut gua baik-baik aja selagi,dua pihak bisa terima kenapa enggak?"
"Enggaklah El,gua bercanda gua malah dukung kalau lu punya pacar,nanti gua cari setelah lu udah sama bos,gua dukung deh."
.
.
"Nak,kemana aja? kok baru pulang jam segini."Mama khawatir kepada anak satu-satunya ,selain menjadi mama,mama juga menjadi papa. karena papanya sudah pisah dengan dari Elia kecil.
"Iya ma,maaf ya lain kali Elia akan kabarin mama,biar mama enggak marah oke ma."
"Iya nak."
Elia pergi ke kamar,setelah itu ada pesan dari bos,Elia bingung ada apa dengan sikap bos yang sangat hangat kepadanya.
"Hi El,malam maaf ya aku ganggu kamu,kamu udah tidur El?"
"Belum bos,ada apa?"
"Hmm,besok jangan telat ya."
"Siap bos."
Bos Edward merasa senang,bisa mengirim pesan kepada Elia,orang yang selalu di carinya,namun sepertinya Elia sudah lupa dengan bos Edward.
.
.
"Nak,sarapan nak!"Mama yang merasa kesal dengan Elia,di panggil sekali enggak cukup,enggak tau berapa kali,bisa cukup.
Elia beranjak dari kasurnya,sembari bersih-bersih dan pergi ke kantor,karena dirinya sudah janji kepada bos,tidak telat.
"Nak,kenapa setiap hari,telat terus bangunya,capek loh mama banguninya,apa harus pacar kamu yang bagunin,biar enggak telat?"Mama mengerutkan dahinya,sembari melahap makanan dengan lahap.
Elia yang mendengar itu sontak kaget,sembari makan mama tersenyum melihat ke arah Elia,yang fokus makan.
"Apaan sih ma,aku sama bos aku enggak ada apa-apa,kami hanya karyawan sama atasan aja."
"Nak,kenapa sih enggak sadar-sadar itu bos kamu suka nak,sama kamu." Mama berkali-kali meyakinkan Elia,Elia masih ngeyel dan tetap mengeleng kepala.
Diluar ramai-ramai,sedangkan Elia dan mama melihat dari jendela rumah,mama tersenyum kepada Elia,Elia bingung dan bos melambai kepada Elia.
"Bentar ya ma,Elia keluar dulu dan berangkat ke kantor juga,bye ma."
Mama hanya tersenyum,melihat calon suami Elia yang tampan,jarang di temui dan bersyukur menyukai anaknya.
"Bos,kenapa bos ke sini?"
"Aku mau jemput kamu El."
"Hah? bos serius? jangan bos,saya nanti di bicarain orang kantor gimana?"
Bos mengerutkan dahinya,Elia sontak pegang kedua tangan bos,bos melihat itu merasa kaget dan tersenyum dalam hati.
"Saya,bukan mau nyakitin hati bos,saya cuman enggak mau pangkat bos di kantor,hanya menjadi fasilitas saya juga enggak suka dengan rumor yang orang bicarakan kepada bos,untuk ini aja jangan bos,karena saya bisa pergi sendiri."
"Hmm,kamu malu ya pergi sama saya?"
Semua warga melihat keromantisan mereka,senyum-senyum sedangkan mama Elia juga senyum-senyum di jendela rumah,terpaksa Elia menarik bos ke dalam mobil.
"Bos,kenapa sih nekat banget kerumah saya,tetangga saya itu bawel tau,belum lagi mereka nikah nanya saya kapan nikah."
Elia sontak menutup mulutnya bos tersenyum mendengarnya,sembari itu bos melihat kearah Elia,pegang kepala Elia.
"Kamu emang belum ada pacar?"
Elia mengeleng kepala,bos sontak bahagia merasa dirinya memiliki kesempatan untuk mendekati Elia,masuk ke dalam hatinya.
"Hmm,kenapa enggak mau cari?"
"Enggak ada yang suka sama saya bos,saya ini enggak cantik siapa juga orang yang suka sama saya."
"Kata siapa? kamu enggak cantik? buktinya anggota tubuh kamu lengkap,kenapa kamu ngerasa diri kamu enggak cantik,yang anggota tubuh enggak lengkap aja anggap diri mereka cantik,masa kamu enggak bersyukur sama diri kamu?"
Elia hanya diam mendengar perkataan bos,sampai di kantor bos meliahat ke arah Elia,sembari pegang tangan Elia dengan erat.