Bab 2

"Iya," jawab Saka yang membuat Arini tak mampu mengedipkan matanya.

What? Dia membelikan cincin untukku? batin Arini bertanya, seakan tak percaya. Ia tak menyangka jika Saka begitu baik dan sangat perhatian kepadanya. Hatinya seakan berbunga-bunga mengimbangi senyum manis yang sempat tertoreh.

Saka melirik jari tangan Arini yang ukurannya mungkin hampir sama dengan jari jemari tangan  kekasihnya.

"Bisa saya bantu?" tanya karyawan toko tersebut mengagetkan mereka.

"Iya. Saya ingin mencari cincin pernikahan. Bisa tolong carikan cincin yang cocok untuk kekasih saya?" tanya Saka tersenyum manis.

"Oh, tentu saja bisa!" jawab karyawan tersebut seraya mengambil beberapa cincin."Ini cincin keluaran baru, Mas. Pasti sangat cocok di jari mbaknya," kata karyawan tersebut menyodorkan cincin itu tepat di hadapan mereka. 

Arini terbelalak kaget mendengarnya. Ia tak habis pikir jika karyawan toko itu mengira kalo dirinya adalah kekasihnya dokter saka.

"Maaf, tapi ka ...," kata Arini terhenti saat Saka meraih tangannya. Kedua mata Arini tak berhenti mengerjap. Ia seakan sulit menegak salivanya sendiri saat Saka memasukkan cincin itu di jari manisnya. 

"Kenapa dia memakaikannya untukku?" tanyanya dalam hati. Degup jantungnya kian berdebar saat menatap wajah tampan Saka yang kini ada di depannya. 

"Semoga saja jari manis kamu ini  sama seperti dia!" ujar Satria yang membuat senyum Arini memudar.

Sialan! Ternyata aku hanya sebagai contoh belaka baginya. Arini ... bisa-bisanya kamu Gr dan mengharap cinta dari dia. Heh, bikin malu saja! gerutu Arini dalam hati.

"Cocok banget di tangan kamu." Saka memandang cincin itu sangat indah di jari manis Arini.

 Arini  tertunduk. Ia begitu malu pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia berpikir lebih dengan perasaannya pada dokter Saka. Perlahan, ia mulai mengatur nafasnya dan mencoba untuk tersenyum.

"Dok, bagaimana kalo ukurannya berbeda? Apa nggak sebaiknya dokter  menghubungi kekasih dokter dan menanyakan ukurannya?" kata Arini memberi saran.

"Arini,  kalo saya menghubungi dia, berarti nggak surprise, dong!" ucap Saka menatap Arini seraya menopangkan satu tangan di dagunya. 

Arini menghela nafas panjang. Ia tak bisa membantah Saka, jika Saka sudah seperti itu."Ya sudah, kalo dokter sudah begitu yakin," lirihnya tersenyum tipis.

Saka tersenyum tipis seraya membelai rambut Arini yang begitu lembut.

"Nah, gitu dong! Sekali-kali jadilah orang yang penurut!"

"Apaan, sih, Dok!" gumam Arini menyingkirkan tangan Saka.

"Sekarang, kamu bisa memilih satu cincin yang harganya sesuai dengan gaji kamu," kata Saka yang membuat Arini tak percaya. 

"Buat apa, Dok! Dokter 'kan sudah memilih cincin ini?" tunjuk Arini pada cincin yang melingkar di jari manisnya.

"Kamu nggak mau?" Pertanyaan Saka yang membuat Arini bingung.

"Dokter serius?" tanya Arini memastikan.

"Iya," jawab Saka tersenyum melihat asisten pribadinya sumringah seperti itu.

Tanpa buang waktu, Arini mulai melihat beberapa cincin yang berjejer sangat indah di balik etalase tersebut. Kilau dan bentuk cincin itu begitu menggoda dirinya, sampai-sampai ia bingung untuk memilihnya.

"Mbak, saya lihat cincin yang ini!" tunjuk Arini  seraya melepaskan cincin pilihan Saka. Sesaat, dahinya mengerut. Kedua tangannya tak berhenti memutar jari jemari  tangannya yang sangat sulit untuk melepas cincin tersebut.

"Dok, cincinnya tak bisa di lepas!" ujar Arini mencoba sekuat tenaga tetapi tetap saja tak bisa.

Saka terkejut.

"Kamu jangan bercanda!" ucap Saka mulai panik.

"Serius, Dok!" kata Arini menarik cincin itu kembali.

****

Suasana hening dan mencekam, kini menghampiri keluarga Aura. Ia tak berhenti menatap raut wajah sang  ibu  yang terlihat begitu sedih dengan keputusannya.

"Ma, ini yang terbaik buat kita," ucap Aura seraya memegang jari jemari tangan mama Dian. Aura menoleh ke arah sang papa. Ia mengkode agar papa bisa membantunya untuk membujuk sang ibu tercinta.

"Ma, Aura tak mau hidup susah seperti ini. Aura sudah mendapatkan lelaki yang jauh lebih mapan dan bisa menjaga Aura. Aura tak mau keluarga kita di rendahkan sama semua orang lagi," kata Aura membela dirinya sendiri.

"Aura benar, Ma. Lagian, Devian juga bertanggung jawab, kaya raya dan menerima putri kita apa adanya," sahut papa Aura yang terkenal akan matrenya.

Mama Dian mendesah. Perlahan, ia menoleh ke arah anak dan suaminya yang duduk di sampingnya.

"Tapi, mama masih kepikiran dengan Saka. Bagaimana kalo dia tau tentang pernikahan kamu dengan devian?" tanya Mama yang sangat menyayangi Saka.

"Ma, sudahlah! Papa yakin, Saka akan menerima semua ini dengan lapang dada!" kata papa.

"Tapi tetap saja, Pa. Mama nggak enak sama Saka. Apalagi, Saka pernah bilang sama mama kalo sepulang dari Papua, dia akan meminta Aura untuk menjadi tunangannya," bantah mama.

Aura meraih kedua tangan ibunya."Tujuh tahun lamanya kami pacaran, Ma. Aura capek menunggu kepastian yang tak jelas. Mama ingat 'kan? Saka pernah bilang kalo ia menjadi Dokter, dia akan melamar Aura. Tapi apa? Dia seakan tak ingat akan janjinya pada kita," tutur Aura mengingatkan mamanya kembali.

"Iya, tapi ...," kata mama Dian terhenti.

"Sudahlah, Ma. Pokoknya, papa setuju dengan keputusan Aura. Pernikahan sebentar lagi dan tak mungkin dibatalkan begitu saja hanya karena Saka," sahut papa tegas dan pergi begitu saja.

"Ini yang terbaik buat kita, Ma!" gumam Aura membelai tangan mamanya dengan erat.

Mama Dian terdiam. Beliau tak mampu membantah segala ucapan yang terlontar dari mulut putrinya. Beliau mencoba untuk tersenyum, meskipun di dalam hati kecilnya sangat tersakiti. Beliau juga benar-benar  tak bisa menghentikan pernikahan putrinya yang seharusnya tak terjadi.

Maafkan mama, Saka. Mama tak bisa menjaga anak mama untuk kamu! kata batin mama dian sedih.

Selesai packing, Arini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tak berhenti memandang cincin yang bersinar di jari manisnya itu. Bersinar dan sangat cantik.

"Kamu pakai saja. Anggap saja itu hadiah ulang tahun dariku. Akhir bulan ini, kamu ulang tahun 'kan?" Kata-kata Saka yang membuat wajahnya kembali merah merona. Senyum manisnya kembali tertoreh. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini.

 "Ya Tuhan, aku tak menyangka mendapatkan hadiah mahal ini dari dokter Saka. Aku tak menyangka, dia merelakan cincin ini untukku. Padahal, ini harganya 3 kali lipat dari gajiku," kata Arini menatap cincin tersebut.

Drt ... Drt ...

Getaran ponsel mengagetkan dirinya. Sejenak, ia melirik ke arah ponsel yang tergeletak di meja riasnya.

Dokter Saka calling ...

Kedua matanya mengerling saat orang yang ia bicarakan mendadak menghubungi dirinya. "Dokter Saka?" tanyanya sumringah. Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan mulai mengangkatnya.

"Iya, Dok!" jawab Arini.

(Kita berangkat sekarang! Aku sudah ada di depan kost kamu.)

Arini terbangun dan membuka sedikit tirai jendela yang ada di kamarnya. Sesaat, ia mulai tertegun dengan penampilan Saka yang begitu perfect. Tampan dan berkelas seperti orang kaya lainnya.

****

Serba putih. Anggun, cantik, terlihat begitu jelas di diri Aura. Gaun putih panjang melekat di tubuh idealnya. Semua tamu undangan pun sangat terpukau  melihat kecantikan yang dimiliki aura. Begitu menawan dan mempesona.

"Sebentar lagi adikku akan datang. Aku harap kamu jangan sampai terpikat olehnya," bisik Devian mentoel dagu Aura yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.

"Nggak bakalan, Sayang. Meskipun adik kamu lebih ganteng dari kamu, lebih mapan daripada kamu, aku akan tetap setia bersamamu," ucap Aura yang sangat pandai merangkai kata-kata manis.

"Benarkah?"

"Ya. I love you," ucap Aura yang begitu romantis. Tangan kanannya tak berhenti melepas tangan suaminya. Begitu erat. 

Di mobil, Saka tak sabar ingin bertemu dengan Aura. Sepanjang perjalanan, ia selalu membayangkan betapa bahagianya Aura saat menerima dirinya menjadi calon suaminya.

"Aura, dulu aku pernah bilang. Jika aku pulang dari Papua, aku akan melamar kamu. Tapi, karena rasa rindu dan rasa cintaku yang begitu dalam, aku ingin langsung menikah denganmu." Saka memasukkan cincin itu ke dalam kotaknya kembali. Tapi, tanpa sengaja cincin itu terjatuh saat sopir taksi menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.

"Ada apa, Pak?" tanya Saka penasaran. Ia masih belum menyadari kalo cincin yang ada di tangannya terjatuh entah kemana.

"Di depan ada korban tabrak lari, Pak!" jawab pak sopir 

Kedua mata Saka memicing dan tanpa banyak buang waktu, Saka keluar dan menghampiri kerumunan orang yang tak jauh dari mobilnya.

Saka mulai masuk dan mencoba mengecek keadaan korban. Banyak darah yang keluar dari hidung korban.

"Denyut nadinya masih ada," gumam batin Saka mengecek leher dan nadi korban."Tolong, bawa ke mobil. Saya akan membawanya ke rumah sakit!" ucap Saka.

Dengan cepat, mereka saling bergotong royong dan membawa korban masuk ke dalam mobil yang ia tumpangi.

"Pak, kita ke rumah sakit!" gegas Saka yang juga masuk ke dalam mobil.

"Mas, ini hp korban. Siapa tau ada keluarga yang bisa di hubungi," kata salah satu orang yang menemukan hp korban tersebut.

"Terimakasih. Pak, tolong ngebut!  Orang ini banyak kehilangan darah!" perintah Saka melihat korban yang seperti seseorang yang ia kenal.

****

Tok tok tok

"Assalamualaikum, ayah, ibu, Arini pulang!" teriak Arini yang tak sabar ingin memeluk bertemu dengan kedua orang tuanya.

"Ayah, Ibu ...," teriak Arini sekali lagi. Tak ada jawaban. Pandangan matanya bergeser melihat dari kaca jendela yang tembus dalam rumahnya.

"Sepi? Apa mereka masih jualan?" tanya Arini yang berputar tak melihat gerobak milik Ayahnya.

"Ternyata benar belum pulang," desah Arini duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.

"Tapi, ini 'kan sudah siang. Seharusnya, mereka sudah ada di rumah," gumam Arini tersenyum saat ibunya berjalan pelan menuju rumahnya. Raut wajahnya terlihat begitu lelah dan letih. Sampai-sampai tak menyad ari keberadaan Arini saat ini.

Langkah ibu Dara terhenti. Kedua matanya yang sayu tak berhenti mengerjap saat melihat putri kesayangannya berdiri di hadapannya.

"Arini," kata Ibu Dara.

"Ibu," kata Arini memeluk tubuh besar sang ibu.

"Akhirnya, kamu pulang juga." Ibu Dara tak berhenti membelai rambut indah anaknya tersebut. Bau parfumnya terasa begitu sama sebelum arini bekerja di luar kota. Air mata haru juga menetes mengiringi kebahagiaan yang terpancar.

"Iya, Bu. Arini dapat cuti seminggu," jawab Arini melepas pelukannya. Jari jemari tangannya mulai mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi ibunya.

 "Kenapa kamu tak bilang sama ibu dan ayah kalo kamu akan pulang hari ini?" tanya Ibu  seraya mentoel hidung mancung putrinya.

"Namanya juga surprise, Bu." 

"Surprise? Apa itu surprise?" Arini terkekeh melihat ibunya yang sangat polos.

"Surprise itu kejutan, ibuku yang cantik!" jelas Arini merangkul kembali ibunya.

"O ... kejutan? Ibu kira apaan!"

Drt ... Drt ...

Getaran ponsel begitu terasa di paha Arini.

"Sebentar, ya, Bu! Arini angkat telpon dulu!" seru Arini mengambil poselnya. Kedua matanya terbelalak melihat sang  ayah menghubungi dirinya. Hal yang tak mungkin ayah lakukan meskipun memegang handphone.

Ayah calling ...

"Ayah!" lirih Arini mencoba menjawab teleponnya.

"Assalamualaikum, Ayah," jawab Arini terbelalak kaget saat mengetahui keberadaan ayahnya saat ini. Tubuhnya lemas. Air mata yang tadinya kering kini mulai berkaca-kaca.

"Ada apa, Nak?" tanya ibu penasaran.

"Baik, saya akan ke sana!" jawab Arini menutup teleponnya. Arini mengatur nafasnya dan mulai memberitahukan kabar yang terjadi pada ibunya.

"Ayah kecelakaan, Bu. Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Arini.

"Ya Allah, Ayah!"

"Ibu tenang! Ayah pasti baik-baik sajai!" kata Arini mencoba menenangkan sang ibu.

Di rumah sakit, Saka menunggu di depan ruang IGD. Ia tak berhenti menatap ke arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sesaat,, ia berdiri ketika dokter Han keluar dari ruanvg IGD.

"Bagaimana, Dok?" tanya Saka panik.

"Saka? Jika kamu berkenan tolong bantu kami menangani pasien di IGD. Banyak pasien di dalam yang terlantar," kata Dokter Han, yang merupakan senior dokter saka.

"Dengan senang hati, Dok!" gegas Saka memasuki ruang IGD tersebut.

Di rumah, Devian tak berhenti menghubungi adiknya. Ia mondar-mandir ke sana kemari menunggu di teras bersama sang buah hati.

"Om saka mana? Kok nggak pulang-pulang?" tanya Alya yang membuat Aura terperangah mendengar nama yang tak asing baginya.

Saka?  tanya Aura dalam hati.

Bab 3

Saka? gumam batin Aura yang berdiri di balik pintu.

"Sabar, ya. Mungkin, sebentar lagi," kata Devian membelai rambut indah putrinya itu. Tatapan matanya mengarah ke arah pintu masuk yang terlihat sepi. Devian tersenyum tipis saat melihat putri kecilnya tak berhenti menguap sedari tadi. Matanya memerah dan matanya terlihat begitu sayu.

"Sayang, papi antar kamu ke kamar, ya?" pinta devian memangku tubuh gendut putrinya.

"Tapi, alya mau menunggu om saka, Pi," ucap Alya seraya menyandarkan kepalanya tepat di dada sang ayah.

Secara perlahan, Aura menghampiri mereka yang masih saja duduk terdiam di teras rumah.

"Alya, ini sudah malam. Tidur, yuk!" ajak Aura begitu manis pada alya, putri sambungnya saat ini.

"Tidak, alya mau bertemu dengan om Saka," jawabnya sembari memejamkan kedua matanya.

"Tapi sa ...," kata Aura terhenti  saat Devian mengkodenya untuk tidak meneruskan kata-katanya. Aura tersenyum. Ia tak menyangka jika ia memiliki suami yang begitu penyayang dan begitu dewasa.

Belaian lembut tangan Devian membuat sang buah hati tertidur pulas dalam pelukannya.

"Aku bawa masuk alya dulu, ya? Tolong kamu tunggu saka di sini!" pinta Devian yang membuat senyum aura memudar. Nama adik suaminya mengingatkannya pada kekasih hatinya.

"Iya," jawab Aura tersenyum memandang suaminya meninggalkan dirinya seorang diri. Apa mereka orang yang sama? Hah, bicara apa aku ini. Nama Saka kan banyak, dan tak mungkin Saka yang di maksud  itu Saka kekasihku! gumamnya  dalam hati seraya membuang jauh-jauh pikiran negatifnya.

***

Arini dan ibunya berlari tergopoh-gopoh. Mereka mulai menuju ke arah administrasi rumah sakit. Khawatir, cemas dan bingung kini seakan bercampur aduk pada diri Arini.

"Santi," kata Arini dengan nafas terengah-engah.

"Arini, kamu sudah pulang?" tanya Santi yang begitu senang bertemu dengan sahabatnya

"Iya. Aku mau tanya. Tadi ada korban kecelakaan, apa korbannya baik-baik saja?" tanya Arini penasaran. Ia terlihat begitu panik. Tatapan matanya selalu mengarah ke arah pintu ruang IGD yang tertutup rapat.

"Tadi ada dua korban tabrak lari, Rin. Yang satu sudah meninggal dan ...," kata santi terhenti saat melihat ibu dara pingsan.

"Bu ...," kata Arini yang spontan menangkap tubuh ibunya.

Arini dan perawat lainnya memapah ibu dara untuk duduk di bangku rumah sakit. Tanpa banyak buang waktu, arini memberikan minyak angin tepat di hidung sang ibu. Itulah salah satu pertolongan pertama agar ibunya tersadar dari pingsannya.

"Sebenarnya ada apa, Rin? Apa korban kecelakaan itu saudara kamu?" tanya Santi penasaran.

Arini mulai menceritakan semua pada Santi. Ia terlihat begitu syok jika korban yang santi katakan itu adalah ayahnya.

"Jadi, Ayah kamu korban tabrak lari itu, Rin?" tanya Santi melihat Arini menganggukkan kepala seraya meneteskan air matanya.

"Ayah ...," lirih ibu sadar dari pingsannya. Arini mencoba untuk tegar. Ia tak mau lemah di depan sang ibu.

"Ibu, ibu tenang, ya. Ada Arini di sini, Bu. Semua akan baik-baik saja!" kata Arini menggenggam erat tangan ibunya.

Santi merasa sangat bersalah. Karena ucapannya, mereka menjadi salah paham.

"Arini, Ibu, maaf sebelumnya. Sebenarnya yang meninggal itu  remaja, bukan bapak-bapak!" tutur Santi yang membuat mereka terperangah tak percaya. 

"Serius, San? Kamu nggak bo'ong 'kan?" tanya Arini memastikan.

Senyum Arini dan ibu dara tertoreh saat Santi menganggukkan kepala. Rasa syukur tak berhenti mereka ucapkan dengan kabar baik ini.

"Trus, bagaimana keadaan ayahku, San?" tanya Arini penasaran.

"Bapak kamu, baru saja di pindahkan ke ruang rawat sama dokter Saka." Kata-kata Santi begitu  mengejutkan Arini.

"Dokter Saka?" tanya Arini memastikan.

"Heem. Kalo tak ada dokter Saka, mungkin hal buruk terjadi pada ayah kamu," kata Santi.

Arini mengusap air matanya yang menetes. Ia tak habis pikir jika dokter yang selama ini ia benci, ia maki setiap hari ( kalo di belakang) justru malah menyelamatkan nyawa Ayahnya.

****

Dokter Han begitu bangga akan kepintaran yang Saka miliki. Kedua matanya tak berhenti menatap wajah tampan Saka yang duduk di depannya.

"Maaf, Dok. Kenapa dokter menatap saya seperti itu?" tanya Saka dengan hati-hati.

"Tidak. Saya hanya kagum saja sama kamu. Di usia kamu yang terbilang masih muda, kamu bisa menguasai ilmu di bidang kedokteran melebihi saya."

"Dokter terlalu berlebihan. Tapi saya tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan dokter."

"Sifat kamu ini yang membuat semua orang nyaman saat bersama dengan kamu. Hah, andai saja saya memiliki anak perempuan, saya pasti akan melamar kamu untuk menjadi menantu saya," tutur dokter Han yang membuat saka menyeringai.

Sepanjang perjalanan pulang, Saka tersenyum menatap foto aura yang terpampang jelas di layar ponselnya. Ia tak sabar menunggu hari esok. Dimana ia akan melamar aura untuk menjadi istrinya.

"Aku sangat merindukanmu," ucapnya seraya mencium ponselnya.

Sesaat, ia terbelalak kaget melihat arah jarum jam yang menunjukkan pukul 8 malam.

"Ya Tuhan, ternyata ini sudah malam. Berarti, pernikahannya sudah selesai."

Saka menghela nafas panjang. Lagi-lagi ia tak bisa menghadiri acara pernikahan kakaknya.

****

Sejenak, Arini tertegun melihat rumah milik Saka. Besar, megah dan mewah. Kehidupan yang berbanding terbalik dengan dirinya.

"Pantes saja dia selalu berbagi dan tak pernah ingin tau gajinya selama ini. Dia memang terlahir dari keluarga yang kaya raya," gumamnya seakan masih tak percaya. Kedua matanya berputar melihat lampu hias yang terpajang begitu indah  di halaman rumah. Sesaat, Aura terkejut saat ada orang yang menepuk pundaknya dari belakang.

"Nona siapa? Kenapa nona masuk tanpa ijin terlebih dulu sama saya?" tanya security yang seumuran dengan ayahnya.

"Saya Arini, Pak. Temannya dokter Saka," kata Arini memperkenalkan diri. "Maaf, Pak. Bukannya saya lancang. Tadi pintu pagarnya sedikit terbuka, jadi saya langsung masuk saja. Apa saya bisa bertemu dengan dokter saka?" tanya Arini seraya menenteng tas kertas di tangannya.

"Apa yang nona maksud adalah mas Saka?" tanya balik security tersebut. Arini mengangguk pelan. Ia bingung dengan security yang tak mengenal Saka yang berprofesi sebagai dokter.

Dari kejauhan, aura memicing menatap ke arah halaman yang sedari tadi menarik perhatiannya.

"Siapa wanita itu? Kenapa jam segini datang ke rumah ini? Apa jangan-jangan dia salah satu kekasih devian?" tanyanya menebak seorang diri. Aura mulai berjalan menghampiri mereka yang sedang membicarakan sesuatu.

"Maaf, Non. Tapi, sampai saat ini mas saka belum pulang!" jawab security pada Arini.

"O, begitu, ya? Ya sudah, kalo begitu saya permisi dulu!" kata Arini melangkah pergi.

Aura yang sangat penasaran dengan wajah Arini, dengan cepat menghentikan langkahnya.

"Tunggu!" teriak Aura menghampiri Arini.

Arini membalikkan badannya. Kedua matanya terbelalak kaget melihat wanita yang memanggilnya adalah kekasih dokter Saka.

Lho! Bukankah wanita ini, pacarnya dokter Saka? tanya batin Arini mengingat kembali.

Aura memicing. Ia memperhatikan penampilan Arini yang sangat jauh di bandingkan dengan dirinya. Terlalu santai dan sama sekali tak ada nilai keanggunan di diri Arini.

"Siapa kamu?" tanya Aura seraya menopangkan kedua tangan di dada.

"Perkenalkan, saya arini asisten pribadinya dokter Saka," ucap Arini yang membuat aura terkejut setengah mati.

"Dokter saka?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED