Karina menarik napas panjang ketika pintu kedatangan bandara terbuka. Udara Jakarta yang lembap langsung menyambutnya, membawa kembali kenangan-kenangan yang selama ini ia coba lupakan. Di sebelahnya, seorang anak laki-laki berusia lima tahun menggenggam erat tangannya. Wajah polos bocah itu adalah campuran sempurna dari dirinya dan seseorang yang dulu sangat ia cintai.
"Ma, kenapa Mama diam aja?" tanya Renzo sambil memandang Karina dengan tatapan penasaran.
Karina tersenyum tipis, menunduk menatap anaknya. "Mama cuma lagi mikir, sayang. Ayo kita cari taksi."
Renzo mengangguk, lalu berjalan mengikuti Karina. Langkah kecilnya membuat Karina tak bisa berhenti memikirkan risiko besar yang ia ambil dengan kembali ke kota ini. Tapi ia tahu, cepat atau lambat ia harus menghadapi masa lalu yang selama ini ia hindari.
Mereka tiba di sebuah apartemen sederhana yang Karina sewa dengan sisa tabungan yang ia miliki. Ruangan itu kecil, tapi cukup nyaman untuk ia dan Renzo. Setelah memastikan anaknya sudah tertidur, Karina duduk di sofa kecil dengan secangkir teh di tangannya. Pikirannya kembali melayang ke hari terakhir ia melihat Evan.
---
Lima Tahun Lalu
"Evan, kita tidak bisa seperti ini terus," kata Karina dengan suara bergetar. Ia menatap pria di depannya, pria yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya sekaligus penderitaannya.
Evan menghela napas, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Karina. "Aku tahu ini sulit, tapi aku tidak bisa melepaskanmu, Karina. Aku mencintaimu."
Karina menggeleng, air mata mulai mengalir di pipinya. "Tapi aku hanya menjadi perusak hidupmu. Kita tidak punya masa depan, Evan. Kau punya keluarga."
"Dengarkan aku," Evan memotong dengan suara tegas. "Aku tidak pernah mencintai istriku seperti aku mencintaimu. Kau adalah segalanya bagiku, Karina."
"Tapi semua orang akan membenciku. Bahkan Siska, sahabatku sendiri, akan membenciku. Aku tidak bisa..." Karina menarik tangannya dari genggaman Evan, lalu berdiri dengan gemetar. "Aku harus pergi."
"Karina, tunggu!" Evan bangkit, tapi Karina sudah melangkah pergi, meninggalkannya dengan hati yang hancur.
---
Kembali ke Masa Kini
Karina memejamkan mata, mencoba menyingkirkan kenangan itu dari pikirannya. Namun, hatinya masih terasa sakit setiap kali ia mengingat Evan. Ia tahu keputusannya untuk pergi saat itu adalah yang terbaik, tapi luka yang ia tinggalkan tidak pernah benar-benar sembuh.
Ponselnya bergetar di meja, membangunkannya dari lamunan. Nama Siska muncul di layar. Karina menatap nama itu dengan jantung berdegup kencang. Ia tidak pernah mengira Siska akan menghubunginya lagi setelah apa yang terjadi. Dengan ragu, ia menjawab panggilan itu.
"Halo, Karina," suara dingin Siska terdengar di ujung telepon.
"Halo, Siska," jawab Karina, mencoba terdengar tenang meski tangannya gemetar.
"Kau sudah kembali ke Jakarta?" tanya Siska tanpa basa-basi.
Karina menelan ludah. "Iya. Aku baru sampai tadi."
"Aku ingin kita bertemu. Banyak hal yang harus kita bicarakan," kata Siska dengan nada datar.
Karina ragu sejenak. "Baiklah. Kapan dan di mana?"
"Besok sore, di kafe biasa." Siska langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Karina.
Karina meletakkan ponsel di meja, lalu memejamkan mata. Ia tahu pertemuan itu tidak akan mudah. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa lari selamanya.
---
Keesokan Harinya
Karina tiba lebih awal di kafe yang dulu menjadi tempat favoritnya bersama Siska. Jantungnya berdegup kencang saat ia duduk di salah satu meja, menunggu sahabatnya tiba.
Tidak lama kemudian, Siska datang. Wajahnya tampak lebih dewasa, tapi tatapan tajamnya membuat Karina merasa kecil. Siska duduk di depan Karina tanpa senyum.
"Lama tidak bertemu," kata Siska dingin.
"Iya," Karina menjawab pelan, tidak tahu harus berkata apa.
"Apa yang membuatmu kembali ke sini? Bukankah kau sudah cukup merusak hidup banyak orang di kota ini?" tanya Siska dengan nada penuh sindiran.
Karina terdiam. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah pandangan Siska terhadapnya.
"Aku tidak kembali untuk mengganggu siapa pun. Aku hanya ingin memulai hidup baru bersama anakku," kata Karina akhirnya.
"Anakmu?" Siska menatap Karina tajam, lalu menghela napas. "Dan kau pikir itu alasan yang cukup untuk kembali ke sini?"
Karina tidak menjawab. Ia hanya bisa berharap pertemuan ini tidak berakhir lebih buruk dari yang sudah ia bayangkan.
Karina memandang ke luar jendela apartemennya, memandangi langit Jakarta yang mulai memerah saat senja menjelang. Hatinya terasa berat setelah pertemuannya dengan Siska kemarin. Sahabat yang dulu menjadi tempatnya berbagi segalanya kini berubah menjadi sosok yang dingin dan penuh kebencian.
"Ma, aku mau es krim," suara Renzo memecah lamunannya.
Karina menoleh ke arah anaknya yang berdiri dengan senyum manis di wajahnya. Tidak peduli seberapa berat pikirannya, melihat senyum Renzo selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik.
"Oke, kita beli di taman aja ya? Mama juga butuh udara segar," jawab Karina sambil mengacak rambut anaknya dengan lembut.
---
Di Taman
Karina dan Renzo duduk di bangku taman sambil menikmati es krim mereka. Renzo sibuk bermain dengan mainannya, sementara Karina memandang sekeliling, menikmati momen tenang ini. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika ia melihat sosok yang sangat familiar berjalan melewati taman.
Itu Evan.
Karina membeku di tempatnya. Pria itu tampak tidak banyak berubah. Sosok tinggi dengan wajah tegas yang selalu ia rindukan, namun juga ingin ia lupakan. Bersamanya, seorang wanita cantik yang Karina tahu adalah Rhea, istri Evan.
Evan tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Rhea, tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Matanya menangkap sosok Karina yang duduk di bangku taman. Wajahnya berubah.
"Karina?" Evan berkata pelan, hampir tidak percaya.
Rhea mengikuti arah pandangan Evan. "Siapa, Evan?" tanyanya, lalu matanya juga tertuju pada Karina.
Karina berusaha tetap tenang, meski hatinya berdegup kencang. "Evan," gumamnya hampir tidak terdengar.
Evan menghampiri Karina dengan langkah cepat. "Apa ini benar kau? Sudah berapa tahun..." Ia terdiam sejenak, lalu matanya tertuju pada Renzo yang sedang bermain di dekat kaki Karina. Wajahnya seketika berubah.
"Ini... anakmu?" Evan bertanya dengan suara bergetar.
Karina mengangguk pelan. "Namanya Renzo."
Evan menatap Renzo dengan ekspresi campur aduk-antara terkejut, bingung, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa Karina baca.
"Evan, apa yang terjadi? Siapa dia?" suara Rhea memecah ketegangan. Ia berjalan mendekat, memandang Karina dengan tatapan curiga.
"Dia..." Evan terlihat ragu, lalu menarik napas panjang. "Ini Karina, teman lama."
Rhea mengulurkan tangan, meski wajahnya tetap dingin. "Saya Rhea, istri Evan. Senang bertemu dengan Anda."
Karina menerima uluran tangan itu dengan gugup. "Karina," jawabnya singkat.
Rhea memandang Renzo, lalu tersenyum kecil. "Anak yang lucu. Kau pasti seorang ibu yang hebat."
Karina hanya tersenyum samar tanpa menjawab. Hatinya terasa sesak berada di tengah situasi ini.
---
Setelah Pertemuan Itu
Malam itu, Karina tidak bisa tidur. Bayangan wajah Evan yang melihat Renzo terus terngiang di pikirannya. Ia tahu cepat atau lambat, Evan akan mencari tahu kebenarannya.
Tepat pukul sebelas malam, ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Dengan ragu, Karina menjawab.
"Halo?"
"Karina, ini aku." Suara Evan terdengar di ujung sana.
Karina terdiam sejenak. "Kenapa kau meneleponku, Evan?"
"Kita perlu bicara. Aku perlu tahu... apakah Renzo adalah..." Evan tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi Karina tahu apa yang ingin ia tanyakan.
"Evan, aku tidak ingin membahas ini. Tolong jangan menghubungiku lagi." Karina hendak memutus panggilan, tetapi suara Evan menahannya.
"Karina, aku mohon. Jika Renzo memang anakku, aku berhak tahu," desak Evan dengan suara penuh emosi.
Karina menghela napas panjang, lalu menjawab dengan suara pelan, "Besok sore. Kita bisa bertemu di kafe dekat taman."
Evan terdiam sejenak, lalu berkata, "Baik. Aku akan ada di sana."
Karina menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia tahu pertemuan besok tidak akan mudah.
---
Keesokan Harinya di Kafe
Karina tiba lebih awal. Ia duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang tidak ia sentuh. Jantungnya berdebar kencang ketika ia melihat Evan masuk ke dalam kafe. Pria itu langsung menghampirinya.
"Terima kasih sudah mau bertemu denganku," kata Evan sambil duduk di hadapan Karina.
"Aku tidak punya banyak waktu, Evan. Apa yang ingin kau tanyakan?" Karina mencoba terdengar tegas meski hatinya goyah.
Evan menatap Karina dalam-dalam. "Renzo... dia anakku, bukan?"
Karina menggenggam cangkir kopinya erat. Ia tahu ini adalah saat yang paling sulit dalam hidupnya. Dengan suara pelan, ia akhirnya menjawab, "Iya, Evan. Renzo adalah anakmu."
Wajah Evan berubah. Ia menunduk, menyembunyikan emosinya yang jelas terpancar. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Aku punya hak untuk tahu, Karina."
"Aku pergi karena aku tidak ingin menghancurkan hidupmu lebih jauh, Evan. Aku tahu posisiku. Aku tidak ingin Renzo tumbuh dalam bayang-bayang kesalahan kita," jawab Karina dengan suara gemetar.
Evan menghela napas panjang, lalu menatap Karina. "Aku ingin bertemu Renzo. Aku ingin menjadi bagian dari hidupnya."
"Tidak semudah itu, Evan. Kau punya keluarga. Aku tidak ingin Renzo menjadi alasan keluargamu hancur," balas Karina dengan tegas.
Evan terdiam. Ia tahu Karina benar, tetapi hatinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan lima tahun bersama anaknya.
Pertemuan itu berakhir tanpa solusi. Karina meninggalkan kafe dengan perasaan yang lebih berat dari sebelumnya, sementara Evan hanya bisa duduk diam, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru ia terima.
Setelah keluar dari kafe, Karina berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Udara sore yang biasanya menenangkan terasa mencekiknya. Dia ingin melupakan percakapan barusan, tetapi kata-kata Evan terus terngiang di telinganya.
"Aku ingin menjadi bagian dari hidup Renzo."
Karina berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu menghapus air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Tidak, dia tidak boleh goyah. Ini semua demi Renzo.
---
Di Rumah Karina
Renzo sudah tertidur di sofa kecil di ruang tamu ketika Karina tiba di apartemennya. Wajah polos anaknya seolah menjadi pengingat mengapa ia harus bertahan, mengapa ia tidak boleh membiarkan Evan masuk ke dalam kehidupan mereka lagi.
"Maaf, nak," bisik Karina sambil membelai kepala Renzo. "Mama tahu kau berhak mengenal ayahmu, tapi... Mama tidak ingin kau terluka seperti Mama dulu."
Karina membawa Renzo ke kamar dan menyelimutinya dengan hati-hati. Namun, malam itu Karina tidak bisa tidur. Kenangan masa lalu bersama Evan kembali menghantui pikirannya.
---
Flashback: Lima Tahun Lalu
Karina masih berusia 22 tahun ketika ia pertama kali mengenal Evan, kakak dari sahabatnya, Siska. Evan adalah pria yang selalu tampak sempurna di matanya-dewasa, perhatian, dan penuh wibawa. Meskipun sudah menikah, Karina tidak bisa menahan perasaannya yang tumbuh setiap kali mereka bertemu.
Malam itu, Karina sedang membantu Siska mempersiapkan pesta ulang tahun kejutan untuk Evan. Ketika semua tamu sudah pulang, Evan yang terlihat lelah mengajak Karina berbicara di balkon rumahnya.
"Kau berbeda dari adik-adik Siska yang lain," kata Evan sambil tersenyum. "Kau selalu punya cara membuat orang merasa nyaman."
Karina hanya tersenyum malu. "Saya hanya melakukan apa yang saya bisa, Kak."
Namun, momen sederhana itu berubah menjadi awal dari hubungan terlarang mereka. Tanpa sadar, kedekatan mereka semakin dalam. Dan malam itu, ketika Evan dengan lembut menggenggam tangan Karina, semuanya berubah.
"Aku tahu ini salah," bisik Evan dengan suara serak. "Tapi aku tidak bisa mengabaikan perasaanku."
Karina seharusnya pergi saat itu. Namun, ia tetap tinggal, membiarkan dirinya terjatuh lebih dalam ke pelukan pria yang seharusnya tidak ia miliki.
---
Kembali ke Masa Kini
Ponsel Karina bergetar di atas meja, menariknya kembali ke kenyataan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama seperti tadi malam.
"Aku sudah memutuskan. Aku ingin bertemu Renzo. Jangan menghalangiku, Karina."
Karina menghela napas berat. Ia tahu Evan tidak akan menyerah begitu saja. Tetapi, bagaimana ia bisa menghadapi situasi ini tanpa menghancurkan semuanya?
---
Keesokan Harinya
Karina memutuskan untuk menemui Siska. Ia tahu ini mungkin keputusan bodoh, tetapi ia tidak bisa terus menghindar. Ia ingin memberi penjelasan, meskipun kecil kemungkinan Siska akan mau mendengarkannya.
Siska membuka pintu dengan ekspresi terkejut. "Karina? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin.
"Aku ingin bicara," jawab Karina, mencoba menenangkan suaranya.
Siska melipat tangan di depan dada. "Bicara? Setelah apa yang kau lakukan padaku dan keluargaku? Kau masih punya nyali untuk datang ke sini?"
"Siska, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam kebencian ini," ucap Karina, air mata mulai mengalir di pipinya.
Siska tertawa sinis. "Kebencian? Kau yang menghancurkan hidupku, Karina. Kau mencuri kakakku, kau membuat keluargaku berantakan. Dan sekarang kau ingin aku memaafkanmu?"
"Siska, aku tidak berniat menyakiti siapa pun. Aku hanya..." Karina terdiam, merasa kata-katanya tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan.
"Cukup, Karina!" potong Siska dengan suara bergetar. "Kau hanya peduli pada dirimu sendiri. Kau tidak pernah memikirkan apa yang kau tinggalkan di belakang."
Pintu ditutup keras di depan wajah Karina, meninggalkannya berdiri di sana dengan hati yang hancur.
---
Pertemuan Tak Terduga
Saat Karina berjalan pulang dengan langkah lunglai, ia tidak menyadari bahwa seseorang mengikutinya. Ketika ia akhirnya tiba di depan apartemennya, suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat.
"Karina."
Karina berbalik, dan menemukan Evan berdiri di sana, wajahnya penuh tekad.
"Apa yang kau lakukan di sini, Evan? Kau tidak boleh datang ke tempatku," kata Karina panik, melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka.
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku," jawab Evan dengan suara tegas.
"Evan, ini tidak semudah itu! Jika orang lain tahu, semuanya akan hancur," balas Karina dengan nada memohon.
"Semua sudah hancur sejak lima tahun lalu, Karina. Aku hanya ingin melakukan hal yang benar untuk anakku sekarang," kata Evan, mendekati Karina.
Karina mundur selangkah, mencoba menjaga jarak. "Hal yang benar? Bagaimana dengan Rhea? Bagaimana dengan pernikahanmu? Kau ingin menghancurkan hidup lebih banyak orang lagi?"
Evan terdiam, tetapi matanya menunjukkan tekad yang tidak bisa digoyahkan. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu, Karina. Aku tidak akan pergi sampai aku bisa bertemu dengan Renzo."
Karina menggenggam gagang pintu apartemennya erat, merasa dipojokkan. "Tolong, Evan. Jangan paksa aku memilih antara melindungi anakku dan menjaga rahasia ini."
Namun, Evan tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Karina dengan tatapan penuh emosi, lalu berkata dengan suara pelan, "Aku tidak akan berhenti, Karina. Kau tahu itu."
Evan akhirnya pergi, meninggalkan Karina berdiri dengan tubuh gemetar. Ia tahu ini hanyalah awal dari konflik yang lebih besar, dan ia tidak yakin apakah ia bisa bertahan.