Hadap kanan, dagunya angkat sedikit! Ya begitu, bagus. Tahan!
Dua orang fotografer dibantu asistennya yang menangani set lokasi dan pencahayaan sedang sibuk memotret seorang model yang bergaya dengan berbagai pose.
Seorang fotomodel bekerja tanpa lelah, dalam satu kali pemotretan dia bisa beberapa kali mengganti kostum dan riasan.
Anandhila Prameswary, dialah fotomodel yang sekarang sedang berlenggak lenggok di depan kamera. Kadang dia melakukan pose duduk, tersenyum menggoda dan pose-pose sensual lainnya, dalam hal fotosyut Dhila begitu dia biasa di sapa, bukanlah pekerjaan baru baginya, dia sudah banyak melakukan fashion show di dalam maupun di luar negeri, bahkan sekarang dia juga melebarkan sayapnya di dunia akting dan bintang iklan.
Dengan tinggi 178cm, kulit putih, hidung bangir dan bibir sensual juga lesung pipi yang menambah daya tariknya sebagai wanita. Tak heran banyak laki-laki dari kalangan artis, model maupun pengusaha yang sangat terpesona padanya.
Sempurna. Itulah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan seorang Anandhila Prameswary. Semua wanita di dunia mendambakan hidup seperti Dhila sekarang. Cantik, terkenal dan digilai banyak laki-laki.
Hadap kiri, ya cantik. Tahan dan finish! Thanks semua untuk hari ini.
Seseorang berteriak dan bertepuk tangan yang menandakan pekerjaan Dhila hari ini telah selesai, Dhila beranjak menuju kursi tunggunya dan menengguk sebotol air mineral dingin.
"Dari sini kita langsung ke lokasi syuting iklan ya sayang." Seorang wanita berumur 50 tahunan berkata dengan pandangan tetap menatap pada layar ponsel.
"What!" Dhila terkejut dan menatap pada manager dan sekaligus ibunya itu.
"Kenapa?" Bu Marta menatap sekilas pada anaknya lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
"Mam Dhila cape, ini foto syut kedua Dhila hari ini, syutingnya di undur besok saja," ucap Dhila memelas sambil merebahkan pungungnya pada sandaran kursi.
"Sayang! Kita sudah tanda tangan kontrak, kalau kita cancel itu akan berakibat buruk pada image kamu."
"Tapi mam.... "
"Tomi. Cepat bantu Dhila ganti pakaian, kita dikejar deadline, para kru sudah siap di lokasi." Bu Marta memotong perkataan Dhila dan beranjak pergi.
"Mam Please!" Teriak Dhila namun percuma Bu Marta tak menghiraukannya.
Dengan kesal Dhila pun beranjak ke ruang ganti di temani Tomi sang asisten. 10 menit kemudian Dhila keluar dengan dress selutut bermotif bunga-bunga yang membuat kulit putihnya semakin terpancar walaupun bibirnya terlihat cemberut.
Di mobil saat dalam perjalanan menuju lokasi asistennya sibuk membacakan skrip untuk syuting hari ini, sedang ibunya tidak lepas dari layar ponsel. Dhila yang masih kesal memilih memalingkan muka dan melihat pemandangan dari balik jendela mobilnya.
Seulas senyum tercipta di sudut bibir Dhila manakala melihat banyak orang yang berlalu lalang di jalan, mereka bebas melakukan apa pun yang mereka mau, pergi ke manapun yang mereka suka dan makan apa pun yang mereka inginkan, hal yang berbeda 180 derajat dengan keadaan Dhila sekarang. Dia layaknya burung dalam sangkar emas dan hanya bisa melompat-lompat dalam kandang.
Di tempat lain di sebuah bangunan bertingkat yang merupakan sebuah perusahaan raksasa yang bergerak dalam bidang export import, di ruangan yang bertuliskan Ceo room seorang laki-laki terpaku memandang sampul pada sebuah majalah.
Laki-laki itu adalah Dipta Wisnu Pratama, seorang pewaris tunggal dari Pratama Grup sebuah perusahaan yang bergerak dalam export import barang tambang, rempah-rempah, hasil perkebunan dan juga bisnis properti. Di usianya yang masih muda dia sudah sukses berbisnis di dalam maupun luar negeri, tidak heran jika dia termasuk salah satu orang yang di segani dalam dunia bisnis.
"Rei, keruangan saya sekarang." Dia berbicara pada asistennya melalui ponsel.
Tidak lama seorang laki-laki berpakaian rapi masuk kedalam ruangan.
"Ia Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap laki-laki itu dengan hormat.
"Aku ingin kau mencari tau data lengkap mengenai gadis ini." Dipta menyodorkan sebuah majalah pada asistennya.
"Baik Tuan secepatnya anda akan mendapatkan informasi yang Anda inginkan."
"Apa hari ini kita masih punya jadwal pertemuan dengan klien?"
"Tidak Tuan! Namun nanti malam anda ada janji untuk makan malam dengan Tuan dan Nyonya besar."
"Baiklah, kau bisa keluar sekarang."
"Anandhila Prameswary, entah kenapa aku sangat tergila-gila padamu, dan bagaimana pun caranya kau harus menjadi miliku," Batin Dhipta.
Malam menjelang. Sebuah mobil sport warna hitam melaju mulus di jalanan ibukota. Mobil keluaran Itali yang hanya diproduksi 100 unit di seluruh dunia yang salah satunya adalah milik Dipta.
Tidak lama mobil pun berhenti di sebuah restauran mewah yang sudah dipesan khusus oleh kedua orang tua Dipta, saat dia turun dari mobil seseorang langsung menghampiri dan memberi hormat, lalu mengantarkannya pada sebuah ruangan VVIP dimana orang tuanya sudah menunggu.
"Sayang, kenapa terlambat?" Seorang wanita berbicara dengan wajah cemberut.
"Sorry Mam, tadi mendadak ada berkas yang harus Dipta tanda tangani dulu." Dipta langsung mengecup pipi sang ibu.
"Kau ini sama saja seperti papamu, sama-sama gila kerja." Wanita berumur pertengahan lima puluh tahun namun masih kelihatan fresh dan fashionable itu berkata sambil melirik laki-laki yang ada di sebelahnya.
"Hei, kenapa Papa di bawa-bawa?" Laki-laki yang masih kelihatan gagah walau umurnya sudah melewati pertengahan abad itu menatap pada istrinya.
Tidak lama setelah kedatangan Dipta beberapa pelayan pun masuk dan menghidangkan berbagai macam hidangan Itali yang merupakan hidangan favorit Dipta.
"Sayang coba gnocchi ini, ini salah satu hidangan favorit di sini." Ibunya menyuapkan sesendok gnocchi pada Dipta, yaitu sejenis pangsit yang diisi daging dan disiram dengan saus keju.
"Mam, Dipta bisa makan sendiri." Dipta menolak suapan ibunya.
"Iya sayang, putramu itu bukan bayi lagi yang harus kamu suapin ketika makan," ucap Ayah Dipta terkekeh.
"Bagi Mama Dipta ini masih pangeran kecil Mama yang manis, jadi Mama bisa menyuapinya kapan pun, kecuali kalau Dipta sudah memberi Mama cucu baru Mama akan berhenti menyuapinya."
Dipta pun mau tidak mau terus menerima suapan ibunya walau dengan raut wajah yang terpaksa, ayahnya yang melihat pemandangan itu hanya bisa tertawa tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Sayang mulai sekarang kamu jangan terlalu fokus dengan pekerjaan, umur Mama sudah tidak muda. Mama ingin cepat-cepat menimbang cucu," ucapnya serius dengan menatap wajah Dipta.
"Mam, Mama tau kan untuk urusan yang satu itu Dipta sangat kesulitan, apalagi dengan keadaan Dipta, Mama sabar ya!" Ucap Dipta sambil memegang tangan sang ibu.
"Percayalah Nak, suatu saat kamu pasti bertemu seorang wanita yang benar-benar tulus mencintai kamu tanpa perduli bagaimana pun keadaan fisik kamu." Ayahnya ikut bicara sambil menepuk-nepuk pundak putra semata wayangnya itu.
"Wanita yang tulus mencintaiku? Dengan keterbatasan fisik yang aku miliki, sepertinya itu hal yang mustahil," batin Dipta.
Jam menunjukan hampir tengah malam, keadaan jalanan pun sudah sedikit sepi, hanya pedagang-pedagang gerobak yang menjajakan kuliner khas malam yang kelihatan sibuk melayani konsumen. Dhila yang baru saja menyelesaikan syutingnya sedang dalam perjalanan pulang. Di dalam mobil semua orang terdiam dan sibuk dengan ponselnya masing-masing
"Sayang kamu langsung istirahat ya, jangan lupa cuci muka dan langsung pake masker agar besok wajahmu fresh," perintah Bu Marta yang adalah ibu sekaligus manager Dhila memecah kesunyian.
"Memang Mama tidak langsung pulang?" tanya Dhila.
"Mama ada perlu dulu sebentar."
"Jangan bilang Mama mau pergi ke kasino lagi!" Suara Dhila agak meninggi diikuti tatapan tajam ke arah ibunya.
"Hey! Sejak kapan kamu ngatur-ngatur Mama? Mama itu capek nungguin kamu syuting seharian, jadi wajar dong Mama butuh refresing dan me-time sebentar," dalih Bu Marta santai.
"Kalau Mama yang hanya nunggu sambil duduk saja sudah cape apalagi Dhila yang kerjanya," timpal Dhila ketus.
"Makanya tadi Mama nyuruh kamu langsung istirahat kan!"
"Mam, Wanita cantik itu lahir setiap detik. Jadi lambat laun Dhila bakal tersisih oleh wajah-wajah baru yang lebih cantik dan fresh, kalau Mama terus-terusan berjudi dan berfoya-foya kerja keras Dhila selama ini akan terbuang percuma." Dhila menatap tajam ibunya.
"Sudahlah sayang! Bukankah dulu kamu bilang ingin membahagiakan Mama."
Dhila pun memilih diam dan mengakhiri perdebatannya, dulu setelah Papanya meninggal Dhila memang berjanji untuk selalu membahagiakan ibunya, maka dari itu sejak usia belia dia sudah bekerja keras agar kelak bisa hidup nyaman bersama sang ibu. Tapi ternyata semua kerja kerasnya selama ini terbuang sia-sia di meja judi, ibunya sangat senang pergi ke kasino dan berfoya-foya dengan para brondong di sana.
Di dalam sebuah kamar bergaya minimalis yang didominasi warna putih Dhila mondar mandir dan terus mencoba menghubungi kekasihnya, entah sudah berapa kali Dhila mencoba menelpon tapi jawabannya tetap sama "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi".
Dhila yang kesal lantas melemparkan handphone-nya keatas kasur. Dia lalu beranjak menuju balkon di samping kamarnya, malam sudah semakin larut, sudah tidak ada lagi aktifitas orang-orang di luar rumah, udara pun semakin dingin, Dhila menengadahkan wajahnya ke atas, malam ini langit begitu indah bintang-bintang bertebaran dan berkelap-kelip.
Tiba-tiba bayangan 15 tahun yang lalu terlintas kembali di ingatan Dhila, masih sangat jelas kenangan saat camping bersama Papahnya di halaman belakang rumah. Malam itu Papahnya bercerita bahwa bintang-bintang yang ada di langit adalah wujud lain dari orang-orang yang kita sayangi tetapi telah pergi ke surga, dari surga mereka melihat dan memperhatikan kita serta menjaga kita saat tidur di malam hari.
" Pah, apa Papah melihat Dhila? Dhila kesepian, Dhila kangen pelukan Papah," ucapnya lirih diikuti sudut matanya yang mulai memanas.
Tak ingin terus dirasuki kesedihan, Dhila memutuskan masuk ke dalam kamar , jam menunjukan pukul 03.00 dini hari, tapi ibunya belum juga pulang, begitu pun dengan sang pacar yang masih belum bisa dihubungi. Karena kesal Dhila memutuskan untuk tidur karena besok pasti kegiatannya sangat padat.
*****
Tok tok tok
"Non, Non Dhila. Nyonya sudah menunggu untuk sarapan." Suara wanita paruh baya yang sudah bekerja sejak Dhila bayi terdengar dari balik pintu.
Dhila terpaksa membuka matanya walaupun terasa sangat berat, sang mentari ternyata sudah tersenyum lebar, cahayanya terasa hangat walaupun terhalang oleh jendela kaca, Dhila bangun dengan malas, dia mengucek mata lalu meregangkan kedua tangannya. "Ia bi, Dhila sebentar lagi keluar," ucapnya sambil terus menguap.
Tidak berapa lama Dhila keluar kamar dan duduk di meja makan, dia melihat 4 potong putih telur dan segelas minuman berwarna hijau sudah tersaji di depannya dan sukses membuat selera makannya hilang.
"Mama pulang jam berapa semalam? Berapa uang yang Mama buang di meja judi dan di pelukan berondong peliharaan Mama?" cecar Dhila ketus.
"Sudahlah sayang, ini masih pagi lebih baik kamu segera habiskan sarapan kamu," jawab Bu Marta santai.
"Pagi semua!" Tomi yang adalah asisten sekaligus make-up artis pribadi Dhila tiba-tiba datang dan menyudahi perdebatan antara Dhila dan ibunya.
"Tom, kamu sudah siapkan semua keperluan Dhila untuk hari ini?" Tanya Bu Marta sambil memasukan sepotong roti ke dalam mulut.
"Beres Madam." Tomi tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Ayo sayang, cepat habiskan sarapan mu lalu siap-siap kita ada latihan dan fitting baju untuk fashion show lusa," perintah Bu Marta sambil meminum segelas jus jeruk.
"Eh ya, kalo sempat pas istirahat latihan nanti kita bisa sambil promosiin endorsan, soalnya udah numpuk banget," tambahnya.
Dhila yang masih kesal tak mengeluarkan sepatah kata pun dan segera berdiri dari tempat dia duduk, dengan menahan marah Dhila beranjak menuju kamar tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. Tomi yang melihat Dhila pergi segera mengikutinya dengan menenteng kotak make-up dan sebuah majalah fashion dari luar negeri.
"Cantik, ini aku bawakan majalah fashion dari Itali buat referensi gaya kamu nanti di catwalk. Kamu lihat-lihat dan pelajari dulu deh," cerocos Tomi. Dhila tidak menghiraukan ucapan asistennya dan terus berjalan menuju kamar, Tomi pun terus membuntutinya.
Bughk
Dhila menutup pintu kamarnya dengan keras tepat di depan wajah Tomi lalu mengunci pintu.
"Sayang aku belum selesai." Teriak Tomi dari luar.
" Bodo," teriak Dhila.
Dhila lalu masuk kamar mandi. Ia melepaskan pakain satu persatu dan segera merebahkan tubuhnya ke dalam bathup yang telah diisi air hangat dan cairan aroma terapi.
"A..h Tuhan aku bisa gila," teriaknya di kamar mandi. Setelah itu Dhila memejamkan mata dan menghembuskan nafas pelan-pelan, berharap air hangat dan wangi aroma terapi bisa merilekskan otot-ototnya yang menegang.
40 menit kemudian Dhila keluar dari kamar dan siap untuk memulai hari yang bagi Dhila sangat membosankan karena setiap hari rutinitasnya hanya fotosyut, shooting berbagai iklan dan endorse juga sinetron, catwalk dan menghadiri undangan bebagai acara sebagai bintang tamu.
"Kenapa lama sekali? Jalanan keburu macet, bisa-bisa kita terlambat kalo begini." Bu Marta sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dan memasang ekspresi kesal.
"Oh Tuhan, untuk menikmati waktu mandi saja aku tidak boleh," batin Dhila.
Setelah semua siap, Dhila, ibunya dan sang asisten segera pergi ke tempat latihan dan fitting baju untuk acara fashion show yang diadakan oleh salah satu brand fashion yang pemiliknya adalah seorang desainer terkenal baik di dalam ataupun di luar negeri.
Di tempat lain di sebuah ruangan bergaya modern minimalis Dipta berdiri termenung sambil melihat ke luar jendela. Pikirannya jauh menerawang setiap kejadian, hingga sebuah ketukan pada pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk!" ucapnya setelah duduk kembali di kursi kerja.
Reihan yang merupakan tangan kanan Dipta pun masuk dan duduk tepat di hadapannya.
"Saya sudah mendapatkan informasi tentang model yang Tuan inginkan," ucapnya to the point. Dipta hanya tersenyum kecil mendengar laporan dari asistennya itu.
"Nama lengkapnya Anandhila prameswary, berumur 22 tahun, ayahnya sudah meninggal 15 tahun yang lalu. Sepeninggal sang ayah bisnisnya pun bangkrut karena gaya hidup ibunya yang suka berfoya-foya. Ibunya bernama Marta. Hampir setiap malam dia pergi ke kasino untuk berjudi dan mabuk-mabukan, dia juga seorang suggar mommy yang suka bersenang-senang dengan berondong. Sekarang Dhila adalah tulang punggung keluarga sekaligus sapi perah ibunya. Menurut informasi Dhila sudah mempunyai pacar, yaitu seorang atlit basket nasional yang juga anak dari petinggi salah satu partai politik," jelas Rei panjang lebar.
Dipta tersenyum kecut mendengar penjelasan dari asistennya," Cari tau di kasino mana saja Marta sering berjudi, dan selidiki apakah dia juga pemakai obat-obatan terlarang," ucap Dipta tegas. "Mengenai pacarnya itu hal yang mudah," Dipta tersenyum.
"Lusa Nona Dhila akan mengadakan fashion show di hotel Hilton, apakah Tuan ingin hadir ke acara itu?"
"Tentu! Apa kamu bisa mendapatkan undangannya untukku?"
"Tentu Tuan, itu hal yang mudah. Tuan bahkan bisa mendapatkan undangan VVIP agar bisa melihat Nona Dhila lebih dekat."
"Tidak. Aku hanya ingin melihat dia dari kejauhan saja. Pesankan sebuah kalung berlian paling bagus dan berikan padanya sebagai hadiah setelah fashion show selesai." Ada senyum terukir di bibir Dipta tiap kali dia membayangkan Dhila.
"Baik Tuan, semua akan berjalan sesuai keinginan anda." Rei bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan itu.
"Sorry Mam, aku harus melakukan sedikit permainan kotor demi mendapatkan menantu untuk Mama, karena dengan keadaanku yang seperti ini mustahil ada wanita yang benar-benar tulus mencintaiku," ucap Dipta seraya melihat foto kedua orang tuanya.
****
Hari menjelang sore dan Dhila baru saja menyelesaikan perkerjaannya, kakinya terasa kebas karena hampir seharian memakai high heels begitu juga dengan punggungnya yang harus selalu tegak saat latihan.
Dengan rasa lelah yang teramat sangat Dhila merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi, dan tiba-tiba sepasang tangan menutup kedua matanya dari belakang, "Surprise!" Bisik seorang laki-laki pada telinga Dhila yang suaranya sangat Dhila kenal.
Dengan perasaan senang dan senyum mengembang Dhila membuka kedua tangan yang menutupi matanya dan segera berbalik menghadap ke belakang.
"Adam!" Teriak Dhila dengan wajah sumringah dan segera menghambur ke dalam pelukan laki-laki yang ternyata adalah kekasihnya itu.
Laki-laki dengan tinggi hampir 2 meter, berbadan tegap serta sixpack itu membalas pelukan Dhila dengan hangat. Dia lalu memberikan satu buket bunga mawar merah yang sangat indah, Dhila menerima rangkaian bunga itu dengan perasaan haru dan mata berkaca-kaca hingga refleks langsung memberikan sebuah kecupan panas pada bibir kekasihnya.
Bu Marta yang melihat adegan romantis anaknya itu hanya bisa berdecak kesal sambil memalingkan muka.
"Sayang, bagaimana kalau malam ini kita dinner di luar?" ajak Adam sambil mengelus kepala Dhila, Dhila yang masih dalam pelukannya hanya memberikan respon dengan mengangguk kepala.
"Hey! Setelah dari sini Dhila masih ada shooting untuk acara talk show," pekik Bu Marta dengan ekspresi kesal.
"Mam, please!" rengek Dhila.
"Kita sudah tanda tangan kontrak dan honornya pun sudah masuk rekening," ucap Bu Marta tegas dan menggelengkan kepalanya.
"Sayang bagaimana, kamu bisa nunggu'kan? Acaranya cuma 1 jam ko," tanya Dhila dengan suara manja.
"Apa sih yang nggak bisa buat ratuku. Setelah acaranya selesai langsung telephon. Aku jemput kamu ke lokasi shooting," jawab Adam sambil mencubit hidung bangir Dhila.
Bu Marta yang semakin kesal dan mual dengan adegan di depannya segera memanggil Tomi untuk membantu Dhila berganti pakaian dan membersihkan make-up, adegan romantis itu pun berakhir dan Adam pun pamit.
Mood Dhila yang buruk dari sejak pagi langsung hilang setelah kedatangan sang kekasih, bahkan sepanjang shooting acara talk show bibir Dhila tidak lepas menyuguhkan senyuman yang membuat aura Dhila sangat bersinar di dalam kamera.
Sesuai janji, Adam menjemput Dhila di lokasi shooting. Mereka pun segera pergi menuju sebuah restauran Jepang favorit Dhila. Setelah selesai makan malam mobil Adam langsung melesat menuju ke sebuah daerah di pinggiran kota dan masuk kedalam halaman sebuah vila bergaya klasik. Tidak lama nampak Dhila dan Adam keluar dari mobil dengan berpelukan.
Di mobil lain yang berada tidak jauh dari Villa, seorang laki-laki nampak mengepalkan tangan dan menggertakan giginya yang menandakan dia sedang menahan emosi, wajahnya memerah dengan sorot mata yang tajam menatap ke arah Adam dan Dhila yang kini sudah masuk ke dalam vila. Laki-laki itu tidak lain adalah Dipta yang dari tadi sudah mengikuti mobil Adam dan Dhila sejak dari restaurant.
Bught! Dipta meninju keras kursi mobil yang sedang dia duduki. "Rei, aku ingin besok pagi kamu sudah mendapatkan informasi lengkap tentang laki-laki itu," perintah Dipta dengan penuh emosi.
"Baik tuan." Reihan mengangguk.
Menyadari keadaannya Tuannya yang sedang diliputi emosi, Rei segera memajukan mobil yang mereka tumpangi dan meninggalkan vila di mana Adam dan Dhila berada sekarang.
Malam itu menjadi malam yang panas dan penuh gairah bagi Dhila dan Adam, Dhila yang lelah secara fisik dan mental kembali mendapatkan mood bosternya dalam setiap belaian dan kecupan yang diberikan oleh Adam. Begitu juga Adam yang sangat terpesona dengan kemolekan tubuh Dhila, mereka bergumul saling melepaskan gairah bahkan entah sudah berapa kali sampai di puncak kenikmatan, hingga ahirnya mereka sama-sama terkulai lemas dan bermandi keringat.
Dhila tersenyum penuh kepuasan sembari berusaha mengatur ritme nafasnya. Adam yang merupakan seorang atlit tentu memiliki fisik yang kuat sehingga mampu membuat Dhila seperti kecanduan untuk melepas gairah dengannya, terlebih dia juga seorang plamboyan yang tau benar bagaimana membuat wanita tergila-gila.
"Sayang, kenapa dari kemarin handphone kamu nggak aktif sih?" tanya Dhila dengan nafas masih sedikit terengah-engah.
"Kemarin jadwal latihan padat jadi handphone aku matikan, tapi sekarang aku udah bayar lunas kan," jawab Adam sambil kembali melumat bibir Dhila.
Dhila mendorong lembut tubuh Adam. "Sayang sudah! Aku harus pulang sekarang," ucap Dhila dan bersiap bangkit dari tempat tidur.
Adam yang kembali dibakar gairah karena melihat kemolekan tubuh Dhila langsung menarik pinggang Dhila dan merebahkan tubuhnya ketempat tidur, setelah itu Adam kembali menikmati bibir ranum Dhila diikuti tangannya yang mulai meraba setiap inci tubuh Dhila dan meremas bagian dadanya yang kenyal dan berdiri menantang.
Desahan demi desahan pun kembali menggema memenuhi ruangan. Dua manusia yang sedang dijajah nafsu itu pun terlihat begitu liar dan haus akan setiap sentuhan. Lenguhan panjang terdengar dari mulut keduanya yang menjadi tanda jika mereka untuk kesekian kalinya sampai pada puncak kenikmatan.