Bab 1

POV RAKHA LIANSYAH

"Ibu tidak mau mendengar penolakan darimu Lian. Pokoknya kamu harus mau menikah dengan putri Bu Nurma." Permintaan Bunda Naila terdengar sangat tak masuk akal. Tentu saja aku menolaknya mentah mentah.

" Tapi bunda, aku belum kenal bahkan belum pernah bertemu dengan putri Bu Nurma. Bagaimana bunda bisa memaksaku untuk menikah dengan putrinya?"

" Kamu pasti tak akan kecewa ketika nanti berkenalan dengannya. Tania, putri Bu Nurma seorang yang cantik, mirip cewek Korea, seorang dokter spesialis anak dan berasal dari keluarga terpandang. Masa depanmu pasti cerah."

Bunda Naila malah semakin gencar mempromosikan putri Bu Nurma.

Bu Nurma setahuku seorang donatur tetap di panti asuhan 'Kasih Bunda' dimana aku dulu dirawat dari kelas 1 sekolah dasar hingga semester kedua universitas.

Aku beberapa kali bertemu dengannya ketika mendongeng bersama adik-adik panti atau mengajar mereka bermain peran. Tak ku ragukan, Bu Nurma sangat ramah dan baik padaku.

Tapi Sayangnya beliau tak pernah membawa putrinya yang katanya cantik ikut berkunjung ke panti.

"Tapi Bu, aku kan sudah punya pacar, Yasmin. Aku masih sangat mencintainya Bu. Dia amat baik padaku. Alasan apa yang harus kukatakan untuk memutuskan hubungan dengannya?" Pikiranku kacau sekali. Bagaimana mungkin Bunda Naila memutuskan secara sepihak?. Apa mentang -mentang karena aku hidup dari panti asuhannya maka ia merasa berhak mengatur- atur hidupku.

Baru saja aku hendak berbicara, respon bunda membuatku tercekat " bunda tak melihat masa depan cerah jika kau meneruskan hubunganmu dengan Yasmin. Lihat kalian sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Tapi tak ada tanda tanda kalian naik ke pelaminan karena dia baru berusia dua puluh tahun dan masih kuliah. Sedangkan kamu sekarang sudah 29 tahun. Nyaris kepala tiga sudah umurmu. Sudah saatnya kau serius mencari istri yang dewasa. Dimana nanti pola pikir kalian akan seimbang." Lagi kata kata bunda Naila membuatku harus berpikir ulang mengenai hubunganku dengan Yasmin

Selama dua tahun ini aku dan Yasmin memang belum pernah membicarakan soal pernikahan karena kuanggap ia masih muda dan harus mengejar pendidikan dahulu. Tapi apakah aku harus menunggu hingga ia lulus kurang lebih dua tahun lagi?. Tak menjamin dengan lamanya suatu hubungan akan memastikan aku atau dia akan setia sampai akhir.

Dalam diam, aku merenungkan kembali tawaran bunda Naila untuk berkenalan dengan putri Bu Nurma.

"Besok jam 4 sore Bu Nurma akan berkunjung ke panti asuhan ini. Bunda harap sebelum kamu datang, kamu sudah mandi dan berpakaian rapi. Jangan malu-maluin di depan calon mertua."

"Tapi Bun...."

"Tapi apa...?. Kalau kamu menolak menikah dengan putri Bu Nurma,.maka Bunda nggak mau urunan membiayai pernikahanmu." Ancaman bunda panti sontak membuatku mengkeret. Statusku yang masih sebagai guru honorer ini tentu saja sudah jika harus menanggung sendiri semua biaya pernikahanku.

Karena lidahku Kelu untuk menjawab, aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju atas permintaan lebih tepatnya pemaksaan pernikahan ini

Bunda Naila tersenyum,.ia tak mengerti betapa berat mentalku menghadapi situasi dilema ini. Aku harus menikah dengan seseorang karena balas budi yang akibatnya mau tidak mau harus memutuskan hubungan dengan kekasihku.

Aku berdiri untuk kemudian pamit pulang ke rumah kontrakan yang ku sewa bersama rekan -rekan guru bahasa Indonesia yang masih bujang.

Malam semakin larut, sebenarnya aku biasa menghabiskan malam dengan aneka kegiatan positif. Mencari teknik mengajar yang sesuai untuk murid-muridku, membuat media pembelajaran, membuat naskah drama atau menulis puisi dan novel.

Ada yang berbeda malam ini, segelas coolin coffee menemaniku hingga larut malam di Balkon lantai dua kontrakan.

"Yan..Lian. Nih hasil dokumentasi pementasan drama kemarin malam."

Terdengar suara Edi memanggilku dari lantai 1 dimana kamar kami berada.

Aku segera turun sambil membawa minumanku yang habis separuh.

'Oy mas. Jarang -jarang dirimu menghabiskan waktu begadang di balkon. Kusut lagi kayak baju belum disetrika tuh muka" celetuk nya tanpa rem. "

Aku lagi suntuk Ed. Aku di jodohkan sama ibu pantiku dengan putrinya donatur tetap panti hanya karena balas Budi.

Bab 2

Padahal aku belum pernah bertemu gadisnya., bukannya ini menjengkelkan. Mirip seperti kisah Siti Nurbaya tapi versi lelaki."

Kulihat raut wajah Edi berubah sendu, kelihatannya ia ikut bersimpati dengan apa yang sedang kuhadapi.

" Kalau menurut aku nih mas. Untuk menyenangkan hati bunda panti mu, kamu penuhi saja keinginan nya untuk bertemu dan berkenalan dengan putri Bu Nurma. Hanya berkenalan. Tak ada salahnya kan . Proses selanjutnya nanti tergantung kalian berdua. Belum tentu kan perempuannya juga mau. Apalagi katamu dia dokter." nasehat Edi sedikit membuat ku lega.

" Tapi bunda Naila mengancam tak akan urunan biaya pernikahanku jika tak menikah dengan perempuan itu Di.'

" Yaahh... Masalah itu mah nanti bisa kita bicarakan belakangan. Lagian kamu kan sudah punya penghasilan dan punya banyak relasi di organisasi. Insya Allah kita akan bantu deh mas. Eh ,,emangnya mau cepet menghalalkan Yasmin biar lepas dari perjodohan absurd itu?'

'Ah enggak lah bro,,, dia masih kuliah juga. Kasihan kalau aku merusak masa depannya dengan seabreg kewajiban sebagai istri"

POV PENULIS

"hallo assalamualaikum Bu Nayla."

" Walaikumussalam Bu Nurma. Wah kebetulan sekali menghubungi malam ini"

" Iya, soalnya saya mau menanyakan masalah yang kita bicarakan kemarin.. mengenai perjodohan Lian dan putriku, Tania. Apakah dia bersedia?'"

"Oh ya jelas mau to bu. Lian itu bukan hanya cerdas tapi juga berbakti sejak i masih menjadi penghuni panti. Yoo langsung mau to Bu."

" Sekarang tinggal satu masalah lagi. Bersediakah Lian menerima keadaan Tania yang berstatus janda dengan dua anak kembar."

"Insya Allah Lian bisa menerima bu. Diakan orangnya penyayang apalagi sama anak-anak. Bu Nurma lihat sendiri kan kalau dia mendongeng luwes banget, Lian juga ndak canggung bermain dengan adik-adik pantinya"

"Lha ya itu juga yang membuat saya tertarik untuk menjadikannya mantu. Pasti dia akan bertanggung jawab dengan Tania dan mampu mengasuh si kembar karena sudah terbiasa. Selain itu Lian juga ganteng. Serasilah denganTania" Kata Bu Nurma bersemangat.

" Iya ya Bu, sudahlah Tania ditelantarkan Papanya sejak kecil, eh ketika menikah suaminya juga hilang dalam musibah kapal tenggelam. Semoga Lian menjadi lelaki terakhirnya ya. Waah kalo mereka menikah nanti hubungan keluarga kita jadi tambah kuat ya Bu." Bu Naila tak mampu menyembunyikan girangnya.

" Bener jeng. Aku kok jadi kasian ya sama nasib putriku. Dia seakan-akan hidup tanpa kasih sayang laki-laki. Eh Bu, Lian asalnya darimana ya kalau boleh tau?"

"Ohh dia berasal dari Lombok bu. Dulu orang tuanya merantau ke Jakarta tapi sayangnya maninggal ketika Lian berusia tujuh tahun. Elly, salah seorang pengurus panti membawanya ke panti saat menjadi tutor literasi dan melihat bakatnya menulis di sekitar lingkungan rumahnya. Ketika ia menjadi yatim piatu maka Elly membawanya pada kami untuk dirawat"

"Ohh dari Lombok ya. Wah padahal aku sudah bebarapa kali ke Lombok ke pantai Senggigi dan Gilinya ternyata sekarang calon mantuku sendiri dari Lombok."

"Wahh seneng ya. Eh besok jangan lupa Tania juga harus ikut ke panti ya bu? Biar sekalian Lian melihat calon istrinya. Maaf besok disambung, saya ngantuk."

Setelah disanggupi Bu Nurma, Bu Naila yang sudah ngantuk meminta izin untuk mematikan video call dan tidur karena sudah larut.

"Tania, ini lho Lian yang mau ibu perkenalkan. Lihat dia ganteng kan. Yang paling penting dia orangnya baik dan sayang anak-anak. Jabat tangannya. Jangan sungkan." Perintah Bu Nurma.

Sementara Lian yang hari itu menggunakan celana jeans, t shirt dan kemeja nampak terlihat segar. Ia hanya terpana melihat kecantikan alami Tania yang mirip dengan artis-artis Korea yang selama ini dilihatnya dalam drama Korea. Lian menikmati wajah oriental itu dan menyebutkan namanya ketika Tania menjabat tangannya.

"Saya Tania Yamamoto. Senang berkenalan dengan anda." Kata Tania kaku.

"Saya Rakha Liansyah. Panggil saja Lian. Senang bertemu dengan dek Tania." Balas Lian senang.

Duh tangan perempuan itu halus sekali. Pasti ia pandai merawat tubuhnya pikir Lian.

" Nak, ini lho orang yang ibu jodohkan dengan kamu. Insya Allah serasi karena ibu perhatikan selama ini dia penyayang dan tak bermasalah. Istilahnya pria green flag." Kata Bu Nurma.

Bab 3

Bah, Mama ini masak aku mau dijodohkan dengan orang jebolan panti asuhan yang tidak jelas asal-usulnya sih. Nanti kalau orang tuanya menderita penyakit turunan kan berpengaruh juga pada keturunanku. Kali ini mama sembrono sekali bertindak rutuknya dalam hati.

Bunda Nayla yang dari tadi diam, menyela agar pembicaraan kedua belah pihak tidak kaku.

"Hayuk atuh Lian. Tanya apa saja sama non Tania supaya makin kenal. Tak kenal maka tak sayang "

"Oh..eh..iya. Tadi namanya Tania Yamamoto kan? Kok nama belakangnya seperti nama Jepang?"

"Iya emang Papa dari Jepang." Jawabnya singkat.

"Terus dek Tania bekerja dimana?"

"Aku bekerja di rumah sakit royal medical center dan buka praktek dokter spesialis anak. Udah puas?"

Bu Nurma menegur ketidak sopanan Tania yang berkata ketus kepada calon suaminya.

Lian tertawa melihat reaksi Tania yang ia anggap menggemaskan. Wah nih cewek pinter jual mahal juga .yang ini nih yang aku suka bisik batin Lian.

" Kalo mas, ngajar di SMP swasta insan cendekia jadi guru bahasa Indonesia."

" Meski masih sebagai guru honorer,. Lian juga menjadi pelatih teater di universitas tempat dia kuliah dulu. Jam terbangnya tinggi" Sambung bunda Nayla riang.

Namum tidak dengan Tania, ia kaget luar biasa begitu mengetahui status Lian yang masih guru honorer. Ia sudah membayangkan gaji yang diterima lelaki itu pastilah di bawah upah minimun provinsi.

Ia yakin sekali kalau gaji Lian jauh lebih rendah dibandingkan dirinya yang bekerja di dua tempat sekaligus.trus apa tadi, menjadi pelatih teater. Duh dari dulu ia suka geli sendiri melihat anggota teater kampus berperan menjadi pelbagai karakter dan profesi yang jauh dari jati diri mereka. Seperti tak ada kerjaan lain. Begitu pikirnya waktu itu

"Ah bunda Nayla berlebihan." Sahut Lian malu.

" Apakah mas sudah pernah menikah atau masih bujang?" Tania bertanya tanpa Tedeng Aling Aling.

"Alhamdulillah meski hampir kepala tiga tapi saya masih perjaka Ting ting.'

"owh,,, karena kamu masih perjaka,.apa tidak sebaiknya kamu memilih yang masih gadis saja. Diriku statusnya janda dengan sepasang balita kembar karena suamiku hilang dalam kecelakaan kapal!"

Duar, dada Bu Nurma terkejut luar biasa dengan pernyataan Tania yang berani. Dia jadi tak nyaman sendiri karena ia memang ingin bermenantukan Lian yang telaten pada bocah bocah tapi malah putrinya yang memintanya mencari seorang gadis.

Ia pun menepuk punggung tangan Tania.

Diluar dugaan, ternyata Lian sama sekali tak marah. Ia bahkan mengatakan bahwa ia akan menerima kedua anak Tania dengan tangan terbuka karena menurutnya a anak-anak siapapun mereka berhak atas kasih sayang dan kehidupan normal.

Tania yang melihat wajah cerah Lian cerah, malah makin meradang.

Lian sama sekali bukan tipenya. Terlalu sederhana dan bukan berasal dari kalangan berada seperti dirinya.

Dih kepedean banget sih ini orang. Dipikirnya aku ikhlas dengan perjodohan ini apa?. Ya jelaslah dia kelihatan banget sumringah. Pasti nggak pernah berhadapan dengan wanita bening terawat kayak aku sinis Tania lagi dalam hati.

Lian mencuri pandang kearah calon istrinya yang kini tengah menunduk. Duh, ia tak percaya kalau di depannya kini ada seorang bidadari. Namun matanya membulat ketika melihat suguhan minum tamu istimewanya. Hanya air mineral gelas yang sudah habis dan biskuit kacang yang tak disentuh.

Lian berinisiatif untuk ke pantry panti dan membuat sirup markisa dingin. Ia lupa kemarin membawa tiga botol sirup markisa kesukaan Bu Nayla. Semoga saja belum habis. Maklum adik-adiknya di panti juga banyak menggemari sirup markisa.

Dengan rasa percaya diri, Lian membawa nampan berisi sirup markisa ke ruang tamu.

Bu Nurma menatap takjub pada calon menantunya. Berbanding terbalik dengan Tania yang selalu memasang wajah masam.

Dasar tukang cari perhatian, kan bisa saja dia menyuruh staf panti membuatkan minuman rutuknya kesal.

Ibu Nayla bangga, meski laki-laki ternyata Lian sangat peka dengan keadaan sekitarnya.

"Lian ,itu memang rajin dari dulu Bu. Jangan heran. Dia bisa diandalkan dalam urusan kerja rumah. Nyapu bisa, masak ok, perbaiki listrik dan pipa juga terampil."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED