Bab 1

"Jadi nama kamu Habibie Burhanuddin, seorang lelaki yang sama sekali tidak punya harga diri?" tanya Arini sinis, pada pemuda yang menunduk memeluk plastik kresek berisi kotak makan.

Burhan mengangguk, menatap Arini sekilas, lalu menunduk lagi. Hanya sekilas kelopak itu mengembang--memancar bagai blitz kamera, yang ditatap justru menyorot tajam--memindai mangsa.

Meletakkan plastik hitam di sampingnya, memasang sepatu, mengikat dua tali yang masih berjalin satu, Arini menahan tali sepatu agar tidak terikat sempurna.

Burhan kepalang. Kekuatan lelakinya menguap walau sekadar menepis tangan Arini. Lelaki itu hanya menunduk, membuang wajah ke sebelah kanan.

Arini masih setia dengan tarikan garis bibirnya, berada di sebelah kiri, mengejek pemuda bernama Burhan.

Burhan sekuat daya menetralisir aliran darahnya agar terlihat biasa.

Lelaki mana yang tahan dengan godaan baju dengan belahan tepat di bagian dada. Arini seperti sengaja mempermainkan lelaki yang ada di depannya.

"Apa sebagai lelaki kamu tidak lagi punya harga diri sampai harus rela menjalani pernikahan kontrak hanya demi uang," cecar Arini membolakan kerjapan Burhan.

Terbelalak dengan ucapan Arini yang sangat pedas, justru ia kembali menunduk mengikat tali sepatunya setelah sebelah kembali dilepas Arini secara paksa.

Senyum menghina masih menaungi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Burhan berdiri, meraih pintu, keinginan terbesarnya hari itu, berlalu secepatnya dari Arini.

Namun sayang, begitu gegas Arini menghalangi pintu tersebut. Kembali dengan sengaja membusungkan dada, memancing intuisi Burhan sebagai lelaki.

"Maaf, saya harus segera sampai ke kantor."

Begitu pongah, ia melewati Arini. Tidak tinggal diam, Arini menarik paksa tangan Burhan. Membalikkan segera dengan kuat.

Tenaga dari kepalan kecil yang sama sekali tanpa perlawanan dari Burhan memantulkan tubuh Burhan tepat menimpa Arini.

Bukan cuma menimpa Arini, bibir lelaki itu menyentuh lembut pipi Arini tanpa sengaja. Menyadari kekeliruan, buru-buru Burhan berdiri. Merapikan kemeja berwarna hitam dengan garis pinggiran putih. Wanita yang sengaja menarik tubuhnya agar tertimpa itu menyeringai tajam.

"hmmp" Seperti kehausan ia menarik wajah Burhan mendekat, sekali hentak bibirnya berhasil melumat bibir lelaki itu sangat seduktif.

"Nyonya, apa yang kau lakukan!" Burhan berusaha melepaskan pagutan Arini. Akalnya hampir saja hilang. Andai Arini melakukannya karena cinta pasti Burhan dengan begitu rela membalasnya. Mungkin lebih panas dari sekadar melumat bibir saja. Ia akan dengan bahagia menggendong Arini ke ranjang hangat mereka. Menyatukan cinta dalam lautan bara menggelora. Tapi, kisah mereka bukan kisah cinderela, bukan pula sepasang pengantin yang merindukan asmara. Kisah merea sungguh berbeda.

"Hei, kamu laki-laki atau banci?" bentak Arini, sekonyong menggigit leher Burhan. Lelaki itu menahan napas sesaknya. Meraba pelan hasil gigitan Arini. Menghirup oksigen lebih banyak.

"Nyonya, saya bisa telat. Nanti saya kan datang tepat waktu, Nyonya makanlah!"

Arini justru tertawa terbahak mendengar kalimat perhatian itu. Seketika melingkarkan tangannya pada leher Burhan dengan santai, kerlingan nakal tak lupa Arini sisipkan. "Bibirmu manis, apa kau pernah mencium perempuan selain aku?" tanya Arini sesekali mendesah. "Saya tidak pernah mencium wanita yang bukan mahrom saya," jawab Burhan. Pelan--menepis tangan Arini.

"Aku sudah sah jadi istrimu, mari kita bercinta!" Lagi-lagi Arini memeluk Burhan kuat. Mengecup paksa telinga lelaki itu yang berusaha mengelak.

"Nyonya, maafkan aku." Iris legam itu lurus menatap, mata tajamnya membola kaget. Apa yang akan dilakukan wanita ini? Pikirnya kawatir, melirak ke arah jalan, apakah Ilham sang bos telah tiba. Sungguh ia sangat kawatir.

Srek.

Bunyi pakaian dikoyak. Arini mengkoyak sendiri bajunya tepat bagian dada di depan Burhan. Untuk kesekian kali lelaki itu tak mampu menepis kasar. Hanya terbelalak kaget. Menelan salivanya berkali-kali. Menatap keindahan, kemulusan, kepolosan di depan matanya. Secara agama tentu saja wanita itu halal untuknya.

Menggenggam kresek semakin kuat, di posisi serba salah, Burhan segera menarik diri. Arini sedikit terpental. Senyum menghina tetap ia kirim untuk lelaki yang tengah mengatur napas, merapikan rambutnya, kemeja yang sedikit kusut karena ulah Arini.

Burhan melangkah menarik daun pintu. Menepis pelan tangan Arini yang lepas dari pergelangannya.

Tanpa berbicara apapun. Burhan gegas melangkah lagi, Namun, sayangnya tangan Arini lebih cepat menahan pergelangan kanan yang masih mengayun.

"Hei, kamu budek ya, aku tanya sekali lagi, yang di depanku ini, banci atau lelaki? kamu gay, ngak selera lihat perempuan. Tubuhku masih aduhai dibanding pelacur bernama Mira. Lihat sini!" Arini menarik tangan Burhan menyentuh dua kembar miliknya. Naluri kelelakian Burhan mendadak meronta. Refleks lima jarinya bergerak meremas.

buck ...

Suara sesuatu kena injak.

"Au!"pekik Burhan tertahan antara napasnya yang memburu dan kakinya yang sakit. Dengan tatapan sinis Arini menginjak keras kaki Burhan. Mengaduh rasa nyeri di tapak, Burhan memejam matanya, mengumpat sesuatu hak meminta dilepaskan segera. Ia harus memalingkan diri. Ini tidak bisa dibiarkan. Kembali tidak menghiraukan pertanyaan Arini. Ia berpura-pura menatap langit di atas pintu, bermohon pada Tuhan agar Arini segera beranjak dari hadapannya. Sebekum akal sehatnya kalah oleh naluri kelelakiannya.

Sekuat tenaga menahan bulir yang hendak jatuh, Burhan akhirnya menatap dua manik coklat berlensa yang kini justru melorotkan semua pakaiannya pula. Tubuh polos itu kini tersenyum begitu memikat di hadapan Burhan.

"Apa yang anda lakukan, Nyonya? Pak Ilham bisa marah besar sama saya, saya mohon jangan sulitkan saya," ucap Burhan melipat dua tangan, berkali-kali menahan getar di jantungnya.

Menatap lurus tanpa menghiraukan adegan mantan istri bos di hadapan. Padahal segala ornamen di tubuhnya bagai tersengat listrik dadakan. Ia menghirup oksigen sebanyak mungkin, seolah udara sumber nyawa itu akan hilang dari peredaran.

"Dasar, Banci! Cemen, pengecut, baru ditolak dikit udah loyo," umpat Arini mendorong tubuh Burhan keluar rumah. sebelumnya Arini sengaja menyenggol benda keramat milik Burhan. Bibirnya menyunggingkan senyum serupa ejekan, hinaan dan pelampiasan kekecewaan.

Burhan hanya diam. Berterimakasih pada Tuhan, Arini tidak berbuat di luar yang diprediksinya. Lebih baik ia dihina banci atau sejenisnya daripada mengorbankan ibu, dan adik perempuannya yang kini butuh transfusi darah, juga perawatan intensif akibat kecelakaan beberapa bulan lalu.

"Oke, sekarang kamu selamat, kita liat sampai kapan kamu bisa bertahan," tantang Arini tertawa sinis. Menutup pintu dengan bantingan keras.

Burhan mengusap telinganya. Menghela napas kembali melangkah, mendekap sarapan yang ia buat sedari subuh. Ia harus kembali ke rumah ibunya untuk menyiram diri. Sengatan listrik akibat perbuatan Arini masih menyentrum seluruh ornamen di tubuhnya.

Bayang tubuh porprosional itu bermain di mata Burhan.

Arini kembali ke dapur, senyum mengejek masih menempel di bibir. Tertawa puas setelah berhasil membuat suruhan mantan suami itu kelimpungan tak karuan.

Aroma khas nasi goreng menggugah penciuman. Masakan buatan Burhan. Arini tidak habis pikir, lelaki itu diam selayaknya orang bisu, tapi begitu perhatian.

Setiap bangun pagi, Arini sudah disuguhi sarapan dengan rasa masakan sangat enak. Arini selalu memakannya tanpa sisa. Selain lapar. Ia sudah tidak peduli malu. Apalagi urusan sungkan. Hatinya tidak lagi bisa dikenali.

Patah telah mencipta jiwanya mengerdilkan rasa, tak bisa terprediksi sakit itu seperti apa.

Perih, bagai belati menghunjam di segala sisi.

Burhan. Ya, dia kini telah resmi menjadi suami Arini, sah secara agama tapi tidak pada negara. Disaksikan para saksi, begitu juga mantan suami Arini--Ilham yang mengenalkan Burhan, sekaligus mengatur semua skenario pernikahan itu. Bahkan Ilham pula yang mengatur semua rencana peristiwa yang terjadi esok hari untuk Arini.

Burhan menikahi Arini sebagai muhallil. Kelak masa aktif kontraknya habis, mereka akan bercerai dan Arini kembali menikah dengan Ilham, suami yang telah mentalak tiga dirinya, setelah tujuh tahun bersama.

Air muka wanita itu tenang bagai telaga, tapi tidak pada hatinya. Pecah berkeping, retak diberbagai sisi, hatinya telah tiada rasa. Ia benci laki-laki.

Niatnya tadi menggoda Burhan bukan karena ingin menggoda sebenar-benar menggoda selayaknya jalang pada mangsa, seperti Mira yang berhasil menggoda suaminya.

Mana mungkin sekelas Arini ingin tidur bersama si culun Burhan, si irit kata, tak pernah bicara sekalipun hal penting.

Hanya kesumat kepada tiap lelaki. Menjadikan dirinya tak lagi bisa dikenali. Burhan seolah menjadi komedian, kelinci percobaan untuk keahlian menggoda ala Arini.

Jika saja tadi Burhan tidak menolak. Dengan senang hati Arini akan membuat video adegan mereka berdua kemudian mengirimnya pada Ilham.

Gila.

Ya, dia telah gila, separuh kewarasannya terenggut cinta buta. Hingga air mata tak lagi merembes melewati pipi mulusnya, melainkan menyusur ke dalam jiwa, begitu menyakitkan.

Belum sembuh kata talak pertama dari mulut Ilham, ia harus dihadapkan dengan begitu banyak konflik hingga membawanya ke tahap ini. Talak tiga telah lolos dari lidah seorang Ilham. Sang suami yang mendapat gelar bersamanya the best couple pada masa remaja.

Arini dipaksa menikah dengan laki-laki lain demi bisa kembali kepada mantan suaminya--Ilham.

'Apa bagi mereka pernikahan serupa permainan, hanya karena Arini tidak bisa melawan, tidak lagi memiliki orang tua, Arini benar-benar bertumpu pada Ilham. Lalu, seenaknya mempermainkan ikatan sakral.

Yatim piatu yang hanya memiliki satu saudara, Lela. Lela yang kini jauh di negeri Sumatra Utara, tidak mengetahui kabar Arini, telah mengantongi tabungan talak sebanyak tiga kali.

Orangtua mereka telah tiada. Nasib rumahtangga telah pula mempermainkan rasa.

Sudah satu minggu Arini menikah dengan Burhan. Wanita yang dulu anggun itu kini bagai singa kecil menemukan lawan. Ia sengaja menggoda Burhan. Sebab sakit hati yang begitu mendalam pada Ilham.

Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar mengarungi biduk rumah tangga. Ucapan talak bukan permainan catur, apalagi monopoli kerjasama. Bagi Arini, nikah itu sakral.

Menatap nasi goreng yang masih mengepul asap, dengan wangi seledri menguar, Arini menarik garis bibirnya. Ia benci Ilham, sorot tajam bola mata lentik tanpa eyelash curler, melambangkan permusuhan namun begitu manis ia tahan.

Kesumat mengakar, cinta itu pudar tanpa peduli kesakralan.

Arini tidak peduli siapa Burhan. Bahkan jijik untuk sekadar berdekatan, tapi, wajah angkuh lelaki itu membuat Arini akhirnya merancang perhitungan, agar Burhan paham pernikahan bukan untuk monopoli pekerjaan.

Arini tidak tahu, apa motif Burhan rela menikah dengannya, setelah enam bulan kelak akan menceraikan. Sesuai perjanjian.

Kalian pikir siapa kalian di mataku? umpat Arini.

Seminggu yang lalu,

"Sah," kor suara para saksi di dalam aula yang dipesan oleh Ilham sendiri. Lelaki di samping Arini menunduk dalam.

"Ini tempat kamu sementara, Arini."

Ilham membawa mereka ke sebuah perumahan sederhana tipe 36, Namun elegant karena didesaign bermode villa unik. Sepanjang jalan Burhan hanya diam, Ilham berceloteh apa yang boleh dan tidak boleh.

Arini tertawa dalam hati. Sejak talak tiga yang tercipta tanpa ucapan, bahkan jika Arini ridho, talak fasakh juga sah untuk pernikahan mereka.

Fasakh merupakan jatuh talak tanpa ucapan.

Walau selanjutnya Ilham bersujud meminta maaf, hati Arini telah beku di saat itu.

"Sampai kapan aku akan tinggal di sini bersama kawanmu yang bego itu?" tanya Arini sinis. Menatap Burhan yang mengekor mereka.

Ilham tersenyum penuh arti. Ia tidak sia-sia menjadikan Burhan sebagai muhallil. Arini tidak akan tertarik dengannya.

Kamar mereka bahkan terpisah. Pernikahan macam apa ini?

Tanpa Ilham sadari senyum dengan tatapan kosong tersurat jelas dari cetakan wajah Arini.

Burhan, siap-siaplah patah hati karenaku.

Dan kau ... Ilham, bersiaplah masuk rumah sakit jiwa karena telah mempermainkan hal paling sakral di atas dunia.

Ia melipat tangannya ke dalam kantong. Sekilas Burhan menangkap sorot kesumat itu. Lekas berpaling, degub jantungnya bermasalah kala bersirobok dengan netra sendu milik Arini, sejak kalimat sah serentak disorakkan para saksi dan beberapa kolega Ilham di aula itu.

Burhan seolah merasa harus melindungi wanita itu. Tapi sayang, Arini bagai merpati cantik yang tak dapat ia miliki.

'Ini hanya rasa kasihan' bhatin Burhan menolak setitik rasa iba yang muncul. Tatapan tajam dari Arini menarik lega napas Ilham.

Lebih baik begitu. Lebih baik dia tidak menanggapi pernikahan ini. Lebih baik rasa benci di hatinya semakin mengakar.

Hati Burhan tenang, saat ia tahu, Arini begitu sinis menanggapi kehadirannya.

Namun setelah seminggu pernikahan mereka, Arini seolah sengaja menggodanya berkali-kali. Nyaris membuat Burhan sesak napas menahan naluri kelelakiannya sebagai suami sah.

"Nyonya, kalau keluar jangan pakai handuk begitu, takutnya nyonya masuk angin," ucap Burhan masih menundukkan wajah.

Tiga hari lalu, Burhan menasehati Arini yang memang sengaja keluar kamar hanya dengan lilitan handuk. Tawa Arini serupa ejekan menjawab nasehat Burhan. Ia malah pergi ke dapur mengambil sesuatu di atas meja--seperti sebuah pil.

Entahlah. Burhan tidak berani bertanya.

Semakin hari, Arini semakin agresif, Burhan tidak mengerti kenapa kesinisan Arini bisa berubah kalem. Bahkan liar.

Walau masih menyebutnya banci, dan hinaan lain, Arini masih terus menggoda Burhan berkali-kali. Tentu punya niat terselubung yang tidak diketahui Burhan.

Sampai kapan Burhan bertahan?

Bab 2

"Kau Benar-benar tidak selera melihatku, Banci! apa aku kurang cantik di matamu?"

Burhan terbelalak. Baru saja tapak kakinya mendarat di depan pintu. Ia Mendapati Arini dengan lingerie super seksi. Make up tebal dengan alis diukir sembarangan.

"Nyonya, apa Nyonya sudah makan? saya akan siapkan segera," ucap Burhan bergidik. Naluri kelelakiannya sekuat tenaga berusaha ia tahan. Wanita di hadapan tidak seperti perempuan kebanyakan.

"Kau suamiku, Bukan? mengapa kau tidak ingin menyentuhku. Apa kau jijik?"

Arini menarik Burhan, menempel erat ke tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan, Nyonya?"

"Apa tubuhku penuh dengan korengan? Katakan hei pria impot---t--ten, kau bahkan tidak ingin sekedar menggandeng tanganku. Di mana-mana istri menyambut suami dengan cium tangan dan memeluknya, apalagi Amrik bisa langsung melumat bibirnya."

Wanita itu melebarkan mata. Tersenyum menggoda. Memaksa tubuh Burhan menempel erat di tubuhnya.

"Nyonya!"

"Mengapa? Mengapa kau harus takut? aku ini istrimu, apa kau sama dengan Ilham, sama-sama tidak punya otak. Mengabaikan istri hanya karena seorang wanita bahenol."

Wanita itu melebarkan matanya lagi. Memaksa tubuh Burhan yang sempat terlepas terkungkung lagi.

"Nyonya, di dapur ada bubur kesukaan Nyonya."

"Jangan banyak alasan, darimana kau tau bubur kesukaanku. Apa kau sedang ingin meracunku? biar kau bebas meniduri wanita lain?"

Burhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tentu saja ia tahu apapun tentang wanita yang kini tanpa jarak dengannya. Belum saatnya wanita itu tau siapa dia. Menghela napas berat, Burhan mengusap wajahnya. Berpikir keras cara mengembalikan Arini.

"Aku tau Nyonya sangat menyukai bubur jagung, aku sering melihat nyonya memesan bubur yang sama di seberang kantor Pak Ilham. Tunggu di sini! Saya ambilkan bubur jagung manis buat Nyonya."

"Tidak perlu. Aku hanya menyukai bubur jagung buatan Kak Asti. Aku acap membeli bubur di depan kantor bos-mu itu karena aku merindukan kakak sepupuku Asti."

"Nyonya bisa menghubungi Asti."

"Kau mengenal kak Asti?"

Burhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyugar tipis ke aarh samping.

"Saya tidak mengenal Asti tapi saya ingin Nyonya melepas rindu pada kakak sepupu Nyonya. Siapa tau Nyonya bahagia mendengar suaranya. Tiba-tiba mata Arini memerah. Melotot ke arah Burhan. Tubuhnya mendekat. Sedetik kemudian ia mencekal kerah baju Burhan.

"Mempermainkan kesakralan pernikahan. Kau dan Ilham, kalian berdua sama busuknya. Apa kau ingin aku lebih hancur dari ini? jangan memutar balik cerita. Aku tidak suka kau sok perhatian padaku, padahal otakmu hanya duit dan duit. dasar pria pengecut tak punya harga diri. Cih!" Burhan terkesiap mendapat perlakuan mendadak. Semprotan saliva mendarat di wajah mulusnya. Mengambil tisu, burhan hening sambil mengusap sisa lelehan saliva milik Arini.

"Nyonya, istigfar. Dengarkan saya. Percayalah! Pak Ilham sangat mencintai Nyonya. Silakan membenci saya, tapi apa yang saya katakan tidak ada unsur pura-pura. Saya tidak berniat memanfaatkan anda, Nyonya. Ini semua terjadi karena Pak Ilham menyesali kesalahannya. Llau ingin rujuk kembali. Artinya ia amat mencintai anda Nyonya."

"Hah. Kau bicara Cinta? Apa semua lelaki di atas dunia ini sama. Cinta. cuih. Kalau cinta tidak akan ada wanita hamil selain istrinya."

"Saya akan segera buatkan makan malam untuk Nyonya. Pasti Nyonya suka. Istirahatlah! Nyonya pasti lelah."

Burhan melepaskan pelan tangan Arini yang mengait kuat pada pinggangnya. Ya, Arini berceloteh dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Burhan. Entah apa maksud Arini. Sengaja membuat Burhan kelimpungan menahan jiwa lelakinya.

"Tidak. Kau harus menemaniku," ucap Arini tepat di telinga Burhan. Dengan intonasi sengaja mendesah manja.

"Saya akan selalu menemani Nyonya di manapun dan kapan pun itu. Sekarang, perut Nyonya harus diisi lebih dulu."

"Kau siapa mengatur-ngatur aku."

"Bukankah aku suami Nyonya."

"Oh, ya. Benar. Kau suamiku. Tapi, kau lupa kewajiban suami adalah meniduri istrinya. Ini sudah berapa hari dari pernikahan kita, kau sama sekali tidak pernah menyentuhku. Baru saja aku memeluk pinggangmu kau sudah mengelak. Apa aku bau badan sampai Ilham dan sekarang kau tidak mau memelukku dengan kehangatan yang tulus?" Burhan terdiam bingung. Berpikir sejenak lalu menarik Arini mendekat.

"Ada masa di mana kita saling menyentuh bukan karena gejolak di sini." Burhan menunjuk dada Arini. Berbisik mesra, dengan mata menatap iris coklat muda milik Arini dengan begitu intens.

"Tapi ... karena cinta yang tulus tanpa sarat apapun." Hening.

Ucapan Burhan berhasil membuat Arini diam. Bulu lentik matanya bergoyang. Mengerjap berkali-kali. Seolah mencerna ucapan lelaki yang kini merentang tangan tersenyum begitu lembut.

"Kau berbohong! Dasar munafik." Wanita itu menarik bawahan lingerie--nya. Menarik tangan Burhan ke dalam kamar.

Nyaris Burhan kehilangan napas oleh ulahnya. Kantong kresek berisi kotak makan yang ia bawa terlepas ke sembarang tempat. Arini begitu agresif.

"Kalau kau memang tulus menikahiku karena cinta. Tunjukkan di sini!"

Mendorong sekuat tenaganya, tubuh Burhan terhempas di atas ranjang.

Hendak mengelak, tapi, takut menyakiti wanita itu. Ia hanya menahan tangan Arini yang kembali mengoyak lingerie yang ia kenakan hingga terbelah dua.

"Nyonya Pliss, jangan lampiaskan emosi anda seperti ini. Anda perempuan terhormat yang pernah saya kenal."

Buck.

Burhan yang berusaha bangkit, kembali terjatuh ke atas ranjang. Arini menarik baju Burhan sampai koyak.

Lelaki itu menahan retinanya agar tidak mengeluarkan air mata.

"Emosi apa? Bukankah lebih cepat lebih baik kita beradu peluh, beradu tenaga untuk bercinta. Bukankah setelah pergumulan mesra ini kau bisa segera menceraikan aku, segera?"

Arini kalap. Berkali-kali Burhan menepis tangan Arini yang begitu agresif. Imannya benar-benar tergoda.

"Kau gay, apa Ilham sengaja menyuruh aku menikah dengan gay?" Harga diri Burhan memang sengaja digores Arini, ia ingin melihat seberapa mampu Burhan bertahan demi Ilham--mantan suaminya.

"Di sini!" Arini menarik pelan tangan Burhan menuju dua kembar miliknya. Nyaris Burhan kelabakan. Tubuhnya terbakar, mengejang tanpa peduli situasi, napasnya tertahan. Begitu hebat sengatan kulit Arini menyentuh jantungnya, bergemuruh tak karuan. Burha bukan laki-laki yang cari kesempatan, ia hanya ingin tidur dengan wanita yang ikhlas mempersembahkan cinta untuknya. Bukan karena keterpaksaan.

"Nyonya, Pak Ilham melarang saya untuk menyentuh Nyonya. Saya hanya sebagai muhallil, sarat agar Nyonya bisa kembali rujuk dengan Pak Ilham."

"Kalian bukan hanya mempermainkan ikatan sakral, tapi, kalian juga melanggar hukum Tuhan. Bedebah! aku tidak ingin ikut serta dalam kubangan dosa yang kalian berdua ciptakan. Cepat! buka bajumu!"

"Astaghfirullah. Nyonya. istigfar." Burhan berusaha berkali-kali menyadarkan Arini. Ia tahu, wanita itu sedang tidak baik-baik saja.

Sama sekali tidak menyangka. Di balik kata iya yang diucapkan wanita itu untuk sebuah hubungan yang kembali terajut. Ternyata di hatinya menyimpan luka yang begitu dalam.

Entah sampai kapan. Burhan lelaki satu-satunya yang akan terus melihat duka sayat di jiwa perempuan itu.

Tak tahan air matanya meluncur. Arini melotot melihat Burhan menangis. Pikirannya kacau. Dalam pikiran Arini. Burhan hanyalah bersandiwara seperti orang-orang yang ia cintai dalam hidupnya.

"Kau mengucap nama Tuhan. Dalam agamaku, dosa besar jika lelaki menikahi wanita dengan niat akan menceraikan di kemudian hari, untuk apa kau menangis? Air mata buaya!"

"Sadarlah Nyonya. Jangan seperti ini."

Burhan kembali bangkit. Nalurinya tiba-tiba mendorong tangannya menyentuh kepala Arini. Mentransfer ketenangan.

"Aku tau dosa besar jika kurun lebih berminggu belum menyentuh istrinya. Pernikahan bisa tidak sah dan dianggap batal. Tapi, aku ingin menyentuh istriku tanpa paksaan, suka rela karena Tuhan."

Arini terdiam. Sentuhan lembut telapak tangan Burhan di kepalanya mengalirkan kesejukan yang menelusup dalam jiwa.

Namun, sakit akibat luka yang telah ditorehkan belum mampu membuat dirinya berpikir realistis. Menepis tangan Burhan dengan kasar. Arini berkacak pinggang.

"Apa kalian perlu kuajari pemahaman agama? atau kau penganut atheis?"

"Tidak Nyonya. Saya mohon! Mari kita bicarakan di ruang tamu saja. Dengan kepala dingin, percayalah! apapun yang terjadi aku akan membantumu, apapun itu."

Arini melepas tangan Burhan. Berlalu keluar duduk di sofa dengan ekspresi datar. Pandangan lurus tapi kosong. Nyaris seperti orang linglung kehilangan arah tujuan.

Lelaki itu langsung duduk di sampingnya. Menatap lamat wajah sendu. Menunduk lemah. Satu sisi hatinya membenarkan ucapan Arini.

Ilham tidak akan bisa kembali jika Ia belum menyentuh Arini. Sah Nikah menjadi batal.

"Maafkan saya Nyonya. Tidak ada di hati saya ingin menceraikan Nyonya," ucapnya hati-hati.

"Lalu, kau ingin menjadi suamiku selamanya. cih!" Arini mendecih.

Tiba-tiba menarik wajah Burhan mendekat secara paksa. Burhan tidak sempat mengelak. Jantungnya sudah tak karuan bertalu.

Secepat detik berlalu, Arini menggigit bibir Burhan bahkan melumat dengan rakus, bak perempuan komersil yang tengah dipaksa melayani orderan.

Burhan memicing mata saking kagetnya. Jantungnya bergetar hebat. Sama sekali tidak ingin menarik diri dari permainan Arini. Tapi, ia sadar. Perempuan itu melakukannya dalam keadaan tidak stabil.

Arini melakukan itu tanpa sadar. Terbukti dengan air yang menggenang di sudut matanya.

"Nyonya, Berhentilah! jangan menyulitkan saya."

Aku dan saya berganti-ganti Burhan sematkan memanggil dirinya, sebab semakin bingung menghadapi Arini.

"Apa kau tidak menyukai permainanku."

"Saya mohon!"

Burhan mengusap air matanya. Kasihan dan merasa ingin melindungi mendominasi di hati.

Sosok di depannya hanya istri di atas kertas. Kelak wajib ia ceraikan. Untuk itu ia tak boleh larut dalam buaian.

Burhan mundur segera, menepis pelan, dan mendorong wajah Arini menjauh. Burhan menarik napas dalam-dalam. Menatap iba pada sosok di depannya.

Mengusap bibirnya sendiri. Tanpa sadar tersenyum tipis. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ia berciuman dengan seorang wanita.

"Nyonya. Maafkan saya. Jangan lakukan ini lagi. Pak Ilham bisa mendadak datang. Saya mohon." Ilham mengatup dua tangan ke dada. Bermohon lagi.

Hari ini Ilham berjanji akan datang menjelang siang. Andai ia melihat semua, kacau lah perencanaan.

"Kau lebih takut dengan manusia ketimbang Tuhan. Pantas hidupmu persis pecundang."

Burhan terkesiap. Tidak menyangka Arini mengucapkan kalimat pedas itu. Menundukkan matanya dari belahan lingerie pas bagian dada.

Burhan menelan salivanya berkali-kali.

"Apa aku harus menjadi seorang penjaja cinta jalanan untuk tidur denganmu?" Arini kembali menantang.

"Tidak Nyonya, anda wanita yang sangat saya hormati. Wanita terhormat daripada wanita lainnya."

"Gombalanmu tidak bermutu. Cih."

Buck.

Lagi tubuh Burhan menimpa Arini tepat di atas Sofa. Kali ini Arini sengaja menarik kuat menimpa dirinya. Bahkan mengunci dengan kakinya.

Burhan sudah merasa tak sanggup menahan gejolak sentruman di setiap inci organ tubuhnya.

"Kau seperti gedebong pisang, nyaris mirip lelaki imp*ten," bisik Arini sengaja mengejek Burhan dengan desahan tepat di telinga.

Lelaki itu terkesiap. Harga dirinya terinjak.

Tiitttr.

Suara klakson panjang.

Berbunyi serentak bersama padam suluh naluri kelelakian seorang Habibie Burhanuddin.

"Alhamdulillah." Bhatin Burhan berucap.

Bersyukur pada Tuhan. Ilham tepat waktu datang menyelamatkan.

hmmmp

Decap suara lidah begitu mendadak bermain ekspres di wajah Burhan. Suara pintu mobil di buka jelas terdengar. Burhan sekuat tenaga berdiri dari posisi semula.

"Au, sakit Nyonya." Burhan meringis, Arini lagi-lagi menggodanya. Kini, bibir Burhan jadi korban. Mengigit dengan kecepatan kilat sebelum Burhan berhasil melepas diri.

"Orang bilang ciuman itu mengasikkan, mengapa kau merasa sakit?"

"Pak Ilham datang, rapikan rambut Nyonya."

"Ilham, mantan suamiku? Kenapa kau takut. Katakan padanya jangan mengganggu bulan madu kita."

"Nyonya, pliss ... jangan sulitkan saya, Pak Ilham sudah di depan pintu."

tittt ....

Suara bel rumah berderit panjang pertanda ada tamu yang datang.

"Tidakkah kau merasa berdosa menolak bercumbu dengan istrimu, Burhan?" Suara bel berbunyi lagi. Burhan menatap lamat perempuan yang kini berdiri di sampingnya, dengan rambut acak-acakan, lipstik yang tidak karuan, baju yang sengaja tersingkap ke atas.

Pelan Burhan meraih Arini mendekat. Merapikan rambutnya, mengusap lembut pipinya. Lalu, membersihkan sisa lipstik dengan bibirnya. Penuh kelembutan, Nyaris Arini bagai patung berdiri. Diam di tempat bak diberi perekat.

"Nyonya terlalu berharga untuk disakiti. Buatlah Pak Ilham menyesal seumur usianya telah memberikanmu padaku." Suara itu seolah mengembalkan kewarasan Arini yang tujuh puluh persen telah hilang. Burhan menarik tengkuk Arini lebih dekat. Menyatukan bibirnya dengan lembut.

"Burhan! ada orang di dalam?" Suara Ilham melepaskan kuncian Burhan.

"Temui dia, aku akan selalu ada di sini untuk Nyonya." Pelan Burhan mengusap rambut Arini. Sebelum keduanya bangkit bersama menuju pintu.

Bab 3

"Ini namanya Berlian, yang ini Intan dan yang kecil Menik."

Burhan menyiapkan teh hangat untuk Arini. Memperkenalkan satu persatu adiknya.

"Assalamualaikum Kakak," salim Berlian meraih tangan Arini. Disusul adik-adik Burhan yang lain.

"Panggilnya Nyonya, bukan Kakak."

Burhan melotot pada Berlian. Arini malah tersenyum.

"Biarkan mereka memanggil dengan apapun, tidak salah, panggil nama juga bagiku sah-sah saja. Kenapa kamu yang sewot," cibir Arini pada Burhan.

"Ini teh--nya, Nyonya. Silakan diminum!" ucap Burhan pelan. Menunduk, masih melirik adiknya tanda tak suka, Burhan takut Arini merasa tidak dihargai.

Berlian yang tidak tahu menahu urusan abangnya dan Arini, mencelos, mencibir mengejek Burhan, merasa menang--sudah dibela Arini.

Berlian ke dapur menyiapkan keripik pisang ke dalam pinggan. Menaruhnya di depan Arini.

"Kak Arini masih muda gini, masa dipanggil nyonya, jelek, ah." Berlian protes pada Burhan.

Berlian, intan dan Menik berdiri sejajar, bersandar pada dinding. Seperti penyanyi seriosa hendak konser.

"Kenapa kalian tidak duduk?" tanya Arini sungkan. Melihat ketiga adik Burhan, serentak memindai wajahnya, seakan menatap barang langka, geleng-geleng kepala.

Berlian berpakaian SMA, sedangkan intan kelas tiga SMP, hari ini seragam Pramuka, Menik kelas enam SD memakai baju bebas, karena Jumat ada kelas Qur'an menjelang pulang.

"Ayah kamu kerja di mana?" tanya Arini pada Burhan yang baru saja mengeluarkan lembar lusuh untuk adik-adiknya.

"Ayah sudah meninggal dunia empat tahun lalu, Kak. Ayah riwayat diabetes juga," jawab Intan sendu. Tidak menunggu Burhan bicara.

Arini jadi tidak enak hati. Menyesal telah mencipta luka di mata-mata polos mereka.

Sedangkan ibunya, sejak Ayah Burhan meninggal, Bu Dena sakit-sakitan. Kalau itu Arini tahu. Ilham yang memberitahu tentang Bu Dena pada Arini sebelum menikahkan mereka berdua. Bukan hanya sakit-sakitan Bu Dena masih harus dirawat intensif akibat kecelakaan saat pergi rawat jalan ke rumah sakit.

"Maaf, saya tidak bermaksud .... "

"Gak papa, lo, Kak, maut itu urusan Allah," sela Berlian tersenyum tulus.

"Maaf ya, Kak. Intan jadi melow."

Arini mengatup bibirnya. Rasa nyaman, sejuk memandang ketulusan hadir di hatinya, hanya dengan menatap wajah-wajah polos adik-adik Burhan.

Menjadi gadis dengan saudara jauh di seberang, Arini merindukan keluarga seperti yang dirasakannya hari ini.

Ilham berjanji pada Burhan, akan memberikan rumah sederhana tipe 36 itu untuk keluarga mereka, jika ia menikah dengan Arini kemudian mentalaknya lagi.

Tanpa sadar mereka telah melakukan dosa pernikahan, karena menikah dapat menjadi terlarang, bahkan berdosa besar. Apabila berniat menceraikan istri dalam batas waktu tertentu.

Satu-satunya jalan agar Arini kembali dengan Ilham adalah dengan nikah secara muhallil. Muhallil adalah sebutan bagi orang yang menikahi seorang perempuan yang telah ditalak tiga oleh suami sebelumnya dengan niat bukan untuk membina rumah tangga.

Niatnya hanya untuk menceraikan si perempuan itu setelah menggaulinya agar si suami yang pertama bisa menikahinya kembali.

Dalam Islam nikah muhallil bisa menjadi haram karena melanggar tujuan daripada pernikahan itu sendiri.

Rasulullah menyatakan dengan jelas, menikah bertujuan menciptakan kebahagiaan. Diharamkan oleh beberapa kalangan ulama menikah dengan niat bercerai kembali.

فإن طلقها ثلاثا لم تحل له إلا بعد وجود خمس شرائط انقضاء عدتها منه وتزويجها بغيره ودخوله بها وإصابتها وبينونتها منه وانقضاء عدتها منه

Artinya: Jika sang suami telah menalaknya dengan talak tiga, maka tidak boleh baginya (rujuk/nikah) kecuali setelah ada lima syarat: yang pertama, sang istri sudah habis masa iddah darinya

Kedua, sang istri harus dinikah lebih dulu oleh laki-laki lain (muhallil).

Ketiga, si istri pernah bersenggama/tidur bersama dan muhallil benar-benar penetrasi kepadanya.

Keempat, si istri sudah berstatus talak ba’in dari muhallil.

Kelima, masa iddah si istri dari muhallil telah habis.

Jika kelima sarat itu sudah terpenuhi maka mantan istri diperbolehkan untuk kembali pada mantan suaminya.

Burhan bekerja salah satu office boy di kantor sahabat Ilham, tapi--pemilik sahamnya adalah Keluarga Ilham juga. Masih satu induk perusahaan. Untuk itu, Ilham bisa sesuka hati memperlakukan Burhan bak pembokat tanpa daya, meskipun harga diri sebagai taruhannya.

Hari ini, agar Arini tidak lagi mengganggu Burhan, dengan berbagai tekanannya, kadang wanita itu sedikit mengancam, Burhan akhirnya membuka komunikasi, sengaja mengajak Arini untuk ikut serta melihat keadaan keluarganya.

Ia ingin Arini tidak lagi mengatakan banci, menggodanya atau melakukan hal absurd memancing intuisi nalurinya sebagai lelaki.

Ia sangat paham. Wanita sebenarnya punya hati selembut beludru. Maka, ia harus menaklukkan perempuan itu dengan kelembutan.

Harga diri Burhan rasanya terkoyak dengan segala adegan yang Arini lakukan. Padahal ia rela melakukan nikah muhallil ini hanya demi keluarga. Bahkan jauh di relung hatinya, Burhan sama sekali tidak ingin menceraikan Arini. Ia akan berusaha dengan segala daya untuk mempertahankan sang istri. Membuatnya jatuh cinta kembali.

"Berlian ke sekolah dulu, ya, Kak." Gadis remaja itu kembali membawa nampan ke dapur, menyandang tas selempang dengan beberapa jahitan. Mengulur tangan pada Arini. Mencium punggung tangan itu takzim. Arini membalas dengan senyuman hangat.

"Kakak punya tas rajut, apa Berlian suka. Besok bisa jemput ke rumah."

Berlian tersenyum tipis. Tas rajut adalah dambaannya. Seperti mendapat jackpot. Ia terkejut Arini mengatakan hal yang paling ia damba selama ini. Luar biasa.

"Ini jajan buat Berlian dan adik." Arini memberikan selembar merah ke tangan Berlian.

Meskipun ia tidak menyukai Burhan dan Ilham, meskipun kebencian pada cinta telah menjalar, sakit pada harga dirinya, namun, sisi hati terdalam masih tersentuh melihat keadaan manusia di rumah sempit itu.

"Kebanyakan, Kak," tolak Berlian sungkan.

"Terimalah. Bagi sama-sama."

Gadis itu akhirnya menerima. Intan dan Menik giliran menyalami Arini. Menunduk melirik malu pada lembar merah di tangan Berlian. Burhan diam saja. Membiarkan Arini berinteraksi dengan adik-adiknya.

"Kami pamit ya, Bang. Assalamualaikum." Berlian mewakili dua adiknya. Memakai sepatu dalam diam. Mereka bertiga sudah di depan pintu.

Berlalu sekitar dua menit.

"Kak Arini, makasih ya, kakak cantik deh," ungkap Menik yang tiba-tiba kembali muncul sambil tertawa kecil memamerkan deretan gigi rapinya. Melongok kepala ke pintu lalu menghilang sambil cekikikan bernada malu.

"Kenapa kakinya Menik?" tanya Arini penasaran melihat ada yang berbeda dengan kaki adik bungsu Burhan.

"Kecelakaan," jawab Burhan singkat.

"Untuk itu kau banyak menghabiskan duit, transfusi darah pasca kecelakaan, operasi bedah kaki. Dan sekarang ibumu baru selesai dioperasi--diamputasi."

"Maaf, Nyonya, terimakasih sudah mengerti keadaan kami. Tapi, saya berjanji akan membayar semua pengobatan ibu dan adik saya."

"Kak Arini, kakak kok cantik banget."

Menik balik lagi ke dalam, sambil tertawa cekikikan khas gadis pemalu. Kembali lari menyusul kakaknya.

Arini ikut tertawa. Untuk pertama kali sekian bulan sejak kata talak tanpa ucapan hadir antara dirinya dan Ilham, Arini tidak pernah tertawa. Diam-diam Burhan menatap bahagia ke arah wajah sendu di hadapan. Satu kata. ‘Bahagia’ Ia rasa tak percaya ada bahagia melihat tawa itu.

Bersyukur, setidaknya di usia pernikahan mereka selama tiga minggu Arini bisa tertawa lepas tanpa beban.

Tidak seperti biasanya. Tertawa penuh beban, menangis, marah dalam satu waktu, dengan sorot mata datar. Kadang berkata kasar, kadang diam saja. Entah mengapa hati Burhan sakit, campur kasihan melihat itu semua. Hari ini, ia melihat sorot berbeda dari mata yang selama ini buram tak berdaya.

Tuhan, terimakasih!

"Entar pulang sekolah aku ke rumah kakak--boleh ya, aku main sama Satya. Satya ganteng pakai banget, deh." Menik nongol lagi setelah tadi menghilang beberapa menit.

"Astaghfirullah, Menik! Eh, udah telat ni. Kamu mau disuruh berdiri di bawah tiang bendera." Berlian menarik tangan Menik paksa. Sudah berjalan sedikit jauh Menik kembali berlari ke belakang.

"Kak, kakak pacarnya Bang Burhan, ya? jangan tinggalin Bang Burhan lagi. Kesian. Move on--nya lama."

Arini kembali tertawa melihat tingkah Menik. Melirik sedikit ke arah Burhan yang mendelik tajam ke arah adiknya. Arini seolah menemukan kehidupan kembali. Sebuah keluarga sederhana namun Cemara.

Di ujung pintu, Burhan yang berdiri di sana, menarik garis bibirnya ke samping sama rata, entah mengapa hatinya begitu lega, melihat tawa Arini yang lepas sekali.

"Kamu memang cantik. Apalagi ketawa lepas begitu nambah cantiknya." Burhan tanpa sadar mengeluarkan kalimat. Arini menoleh ke arahnya. Burhan menunduk malu. Ia hanya keceplosan. Keceplosan yang menimbulkan rona merah di pipi Arini.

Apa kata Menik? Move on--nya lama. Artinya si Burhan ini punya pacar dahulunya. Arini berpikir.

Hai, Kenapa juga kepo? Arini mengumpat dirinya sendiri yang justru ingin tahu.

"Bunda!" teriak suara Satya. Rupanya bocah mungil yang baru saja pandai bicara itu sudah bangun, dia tertidur dalam perjalanan menuju rumah Burhan.

Mereka berjalan kaki dari Villa menuju rumah papan di ujung kota, tempat kehidupan Burhan sehari-hari bersama keluarganya.

"Bunda di sini, sayang." Arini merentang tangan. Satya berdiri sambil mengucek matanya, kebiasaan sehabis bangun tidur. Berjalan manja memeluk Arini.

"Mau makan apa, Nak. Satya dari tadi belum makan."

"Saya beli sebentar sarapannya, nyonya juga belum makan." Burhan beranjak menuju pintu.

"Aku udah sarapan, kok. Kan kamu yang masakin. Mie goreng campur telur dadar subuh tadi," ucap Arini tersenyum, tidak terlihat genit. Normal.

Burhan bernapas lega. Akhirnya ia bisa bebas dari kegenitan Arini.

"Loh, Nyonya makan masakan saya?" Kikuk Burhan bertanya. Arini mengangguk dengan senyum yang masih melekat.

Burhan memang masak subuh sekali. Ia pikir berangkat subuh hari sebelum Arini terbangun tidak akan mendapat gangguan godaan. seperti hari sebelumnya, ternyata, pagi itu, Arini justru bangun lebih dulu.

Pulang larut malam, bangun lebih dini, pikir Burhan mampu menghindari Arini, ia hanya melaksanakan perintah Ilham. Agar tidak bersua malam hari dengan Arini.

Tapi, tidak sesuai perkiraan. Bangun fajar buta, wanita tanpa ekpresi itu telah menyambut duduk santai di sofa.

"Mau ke mana, suamiku?" tanya dengan nada genit, berjalan ke arah Burhan. Arini sengaja memilin bawah lingerie seksinya sedikit ke atas. Burhan tersedak.

Semakin dekat. Arini meraih pinggang Burhan yang diam di tempat. Mengalungkan dua tangannya di leher Burhan. Mendongakkan kepala, dengan sengaja membuka mulut yang sudah disemprot pewangi yang kini hanya berjarak dua senti dari bibir Burhan

"Astaghfirullah," ucap Burhan tanpa sadar. Tangannya menggigil. Menutup mata sepenuh kesadaran. Menguatkan hati untuk tidak mengikuti permainan Arini.

Bisa saja perempuan itu hanya menjebak. Dalam perjanjian yang dibuat oleh Ilham, jika Burhan berani menyentuh Arini, maka nota kesepakatan batal. Semua biaya perawatan sang ibu wajib Burhan bayar secara tunai.

Tapi, Arini justru bersikukuh, jika Burhan tidak berani menyentuhnya mana mungkin bisa mereka bercerai. Firman Allah jelas, hadist Rasulullah juga jelas. Ia harus seranjang bersama Arini baru boleh mentalak.

"Nyonya, saya mohon! Ibu saya sedang sekarat di rumah sakit. Adik-adik saya butuh biaya. Saya mohon Nyonya. Jangan sulitkan saya," ucap Burhan menahan air di ujung matanya untuk tidak meluncur.

Bukan karena dia lelaki yang lemah. Menahan diri dari hidangan gratis, halal, dan menggoda hal paling sulit yang pernah ia lakukan.

Degub frekuensi jantungnya sangatlah tidak normal, bagai mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dan rem sengaja sudah blong. Sungguh tidak nyaman.

Arini menghentikan aksinya demi mendengar satu kata 'ibu.'

Ia sangat mencintai seorang ibu. Menjadi sebatang kara tidaklah bahagia.

Karena tidak berani menyakiti seorang ibu, makanya Arini menerima tawaran nikah muhallil demi kembali pada Ilham. Meli--sang mertua, Ibu dari Ilham mantan suaminya. Kasih sayangnya melebihi ibu kandung sendiri. Kasih sayang itu kemudian menjebak Arini mengaminkan diri untuk nikah muhallil.

"Ibu? Maksud kamu?"

Wanita lemah itu mundur mengamati Burhan. Lingerie yang sengaja hendak ia jatuhkan dari tubuhnya, kembali melekat.

"Sa--saya melakukan ini semua demi ibu, Nyonya. Ibu saya harus rutin cek darah, rutin makan obat, juga rutin terapi, ibu saya stroke, kolesterol, kurang darah juga, diabetes mengharuskan ibu saya untuk operasi. Plus beberapa waktu lalu ibu saya kecelakan." Burhan menjelaskan keadaan ibunya

Lepas juga bebannya selama ini. Burhan menarik napas panjang. Menceritakan perihal ibunya yang sakit keras. Butuh biaya kesehatan yang tidak sedikit.

"Kamu mau ke sana sekarang?" tanya Arini, berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada rona kegenitan apalagi raut menggoda seperti biasa Begitulah hati seorang wanita. Begitu mudah dikelabui rasa iba.

"Iya, Nyonya. Saya mau jenguk adik-adik dulu, hari ini saya masuk siang. Besok saya kerja shift malam."

Burhan menjelaskan sedikit.

"Saya ikut." Tiba-tiba Arini mengucapkan kata itu.

Arini terdiam mundur setelah melepaskan kalimat. Entah mengapa, hati kecilnya ingin mengenal keluarga Burhan.

"Maksud, Nyonya?"

"Saya ikut ke rumah kamu, bagaimanapun di mata agama kita ini adalah suami istri. Aku istri kamu," jawab Arini sedikit membentak.

Burhan hening. Bingung mau berkata apa.

"Burhan, aku mengangguk kepala saat wali hakim menikahkan kita, tandanya aku tidak keberatan dengan pernikahan ini. Aku berhak mengenal keluarga suamiku, apa kau keberatan?"

Burhan menatap bingung. Entah apa yang merasuki mantan istri bosnya itu, ia pasrah mengikutsertakan Arini ke rumahnya.

Sekarang, di sinilah mereka, saling diam dalam kebingungan, bingung memulai kalimat sapa.

"Di mana ibumu dirawat?"

Akhirnya Arini memulai kata.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED