"Malam gelap apa maksudmu?" tanya Olidia yang tidak paham dan tetap lahap memakan makannya.
"Dunia pelacur, kau bisa tinggal di sini bersamaku!" ucap Dax yang membuat Olidia menjatuhkan ayam yang sedang dia makan.
Matanya menatap heran pada Dax, apa yang dia dengar ini nyata? Pria itu ingin bersamanya, tapi apakah ada maksud dibalik itu.
"Kau jangan bercanda, Tuan Dax. Bahkan keluargaku saja tidak menginginkanku," ucap Olidia yang kembali memakan ayam itu.
"Bukannya kau sudah lelah dengan pekerjaan ini?" tanya Dax yang membuat Olidia tetap memakan makanan, walau ingin sekali menerima tawaran tersebut, namun ia takut jatuh semakin dalam.
Ia mohon pada Tuhan agar tidak membiarkan Dax terlalu baik padanya, jika bukan pria itu takdirnya.
Olidia tiba-tiba bangkit, membuat Dax menatap heran. "Tuan Dax, seperti aku pergi saja."
Wanita itu mengemas semua barangnya dan membersihkan kekacauan yang terjadi. Dax tidak paham, di dalam kamusnya tidak ada kata bantuan jika bukan orang yang terlalu dekat dengannya.
Namun hanya dalam waktu satu setengah tahun itu sudah membuat dia seperti ini, berarti Olidia cukup berarti dalam hidup, namun wanita itu selalu menolak kebaikannya.
Kenapa? Apa wanita itu tidak menyukainya seperti yang lain? Dimana yang katanya semua orang memuja seorang Dax Agustian Zhepyros?
"Kenapa?" tanya Dax tanpa sadar.
Olidia menoleh sebentar, lalu berlanjut berjalan kearah dapur. "Apanya yang kenapa?"
"Kenapa kau menolaknya? Apa aku lebih senang bersama para pria itu? Apa sangat menyukai barang-barang mereka? Hingga menolak ajakanku?"
Olidia menoleh kearahnya, dalam jarak 3 meter mereka saling bertatap tanpa ada satu katapun.
Hingga Olidia tersenyum padanya. "Tuan Dax, aku harap kau tidak terlalu baik padaku, karena aku tidak butuh kasihanmu, dan untuk apa kau mengasihi pelacur sepertiku?"
Dax terdiam, Olidia mengambil ponselnya dan berlalu pergi dari rumah itu, niat hati ingin bermalam namun Olidia memilih untuk pergi sebelum perasaan semakin larut.
Ia hanya ingin memposisikan dirinya sebagai seorang wanita bayaran, tidak ada masa depan yang indah di sana sekalipun bergelimpangan harat pelanggan.
.
.
Malam semakin larut, Dax memilih kembali ke klub dan meminum alkohol sebanyak yang ia mau, antara kesal juga tak tau dengan perasaannya, membuat dia memilih melampiaskannya dengan minum semua air keras itu.
"Sial, apa yang salah dengan wanita tak tau diri? Dua bahkan bisa menikmati kekayaan kapanpun yang dua mau, semua orang ingin bersama denganku tapi dia ...."
Saat sedang meracau karena mabuk, ketiga temannya datang dengan wajah heran.
Berisiknya musik malam itu dengan lampu kelap kelip membuat suasana tampak semakin ramai walau pagi hampir menampakkan diri.
Dax yang baru sadar dengan kedatangan pada sahabatnya segera memeluk pria yang profesional sebagai dokter itu. "Ziu, tumben kau tidak sibuk malam ini?"
Pria yang bernama Ziu itu menatap tajam padanya. "Aku hanya takut kau membuat masalah, lagipula ada dokter lain yang bertugas, malam ini biarkan aku santai sedikit."
Ziu mengambil sebatang rokok milik Dax, dia melihat orang-orang yang berjoget tak arah itu dengan heran.
"Gino, kau lihat wanita itu?" tanya Ziu yang membuat pria yang memakai masker juga topi itu melihat kearah yang ditunjuk Ziu.
"Itukan artis senior, seperti dia bukan suaminya? Astaga ini berita besar," ucap Gino sambil menggeleng.
Pria di samping Gino menutup ponselnya lalu minum air yang diminum Dax. "Diamlah! Biarkan itu urusan mereka, jika kau bicara ini pada publik karirmu yang akan jadi taruhannya!"
"Hei siapa juga yang mau membongkar hal ini, hanya saja kau terkejut, berani sekali dia melakukan aksi gila itu di publik," balas Gino yang heran.
"Olidia, harusnya kau jangan menolaknya!" ujar Dax yang membuat ketiga temannya menatap heran pada pria itu.
"Aku heran kenapa dia cukup baik pada wanita bernama Olidia itu? Seberapa cantik sih wanita bayaran itu?" tanya Gino yang heran.
"Dia tidak terlalu cantik, hanya wanita biasa. Mungkin ada hal unik tentang wanita itu," balas Ziu.
"Hei Leo, gadis asuhanmu cantik juga," ucap Gino yang membuat Leo menatap dengan tatapan setajam pisau.
Pria yang berkerja sebagai bodyguard ini memang cukup sensitif dengan gadis yang dia jaga.
Ziu menutup hidungnya saat mencium aroma alkohol yang kuat dari Dax, seberapa banyak yang dia minum.
Saat sedang ada masalah pria itu selalu saja ke klub entah untuk minum atau menjamah pada wanita, intinya semua yang ada di dalamnya membuat dia melupakan segalanya dalam sesaat.
Namun yang bahaya, saat pria itu dalam pengaruh alkohol, dia akan membuat hal yang tak terduga keesokan harinya. Bukan tentang memperkosa wanita, namun marah-marah tak jelas dan merusak segala hal.
Jadi karena kebiasaan itu, Dax selalu menelpon teman-temannya untuk menghentikan aksi gilanya.
Mata Dax yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka dan berdiri dengan tatapan tajam. Ketiga temannya yang melihat itu sontak saja kaget.
"Dax! Apa kau sadar! Dax!" ucap Ziu yang mencoba berkomunikasi dengan Dax yang ia harap kepribadian aslinya tidak keluar.
"BAJINGAN! MENJAUHLAH DARI OLIDIA!" teriak Dax yang tiba-tiba berlari dan menendang salah satu pelanggan di klub itu.
Gino menepuk-nepuk bahu Leo guna menyelamatkan orang itu sebelum berakhir di rumah sakit. "Leo, ayo lakukan sesuatu!"
"Kenapa dia selalu seperti ini?!" tanya Leo yang heran, Ziu juga Gino menatapnya sinis.
Mereka tidak pernah bicara, namun tingkahnya cukup mirip dengan Dax hanya saja Leo tidak suka terlalu banyak minum alkohol, mereka berdua bahkan tidak bisa bayangkan jika keduanya mabuk berdua, dan mereka sama sekali tidak bisa menghentikannya entah apa yang terjadi.
Pukulan membabi buta Dax berikan, membuat semua orang yang melihat itu berteriak.
"KALIAN PARA BAJINGAN! KALIAN SELALU MEMBUAT WANITA ITU MENJAUH DARIKU, DASAR BRENGSEK!" ucap Dax penuh emosi.
Bugh! Sebuah pukulan balok tongkat besi Membuat semua orang melongo.
Brak! Tubuh Dax tumbang karena terkena benda keras itu, kedua temannya menatap tak percaya, namun Dax memang tidak bisa di ajak bicara jika sedang dalam pengaruh alkohol.
Satu-satunya yang membuat dia berhenti melakukan aksi gila ya dengan cara membuat pria itu pingsan.
Leo membungkuk. "Maaf atas keributannya, temanku terlalu mabuk, aku akan bayar ganti ruginya!"
Leo membopong tubuh Dax seperti memanggul sekarung beras, akhirnya mereka pergi dari sana meninggal kekacauan yang Dax buat.
Ketiganya berjalan menuju mobil dan memasukan Dax ke bagasi seakan pria itu bukan manusia, lalu menutupnya.
"Aku rasa anak itu harus di buang saja ke sungai."
"Tidak, kelaut saja, itu tidak akan berbau busuk."
"Mutilasi Saja, lalu kasih makan anjing kita," balas Leo yang membuat keduanya mengangguk setuju.
Walau sirkel mereka agak gila, namun mereka saling peduli dan tolong menolong saat salah satunya kesusahan, entah berapa tahun pertemanan keempat sekawan itu, namun dalam segala hal mereka selalu semena-mena.
Suasana Klub nampak cukup ramai malam itu, dan di sana lah Olidia berada tepatnya sedang memandang semua orang sambil memegang gelas yang berisikan anggur merah kegemaran hampir setiap orang.
Penawaran yang pria itu berikan masih terbayang jelas di otak Olidia, dia ingin sekali menerima itu, namun ia takut jika suatu saat Tuan muda itu akan bosan dan membuangnya seperti orang tuanya dulu.
Mengingat kejadian menyakitkan itu, membuat Olidia semakin larut dalam pikirannya.
Saat tengah mengingat masa lalu, sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya yang tentu saja membuat wanita cantik itu menoleh.
"Hai sayang! Kenapa kau melamun saja?" tanya Brandon, salah satu pelanggannya.
"Maaf Tuan, aku saat ini sedang tidak mood, seperti yang lain masih menunggu pelanggan disana."
Tangan besar itu menyentuh kedua pundak Olidia dari belakang dan mendekatkan wajahnya ke telinga wanita cantik itu. "Aku tau, maka dari itu aku mau mengajakmu ke pesta malam ini, lalu setelah moodmu bagus, kau bisa melayaniku."
Olidia menatap datar pada Brandon, ia rasa itu bukan ide yang bagus dan bisa-bisanya pria itu malah tersenyum tanpa rasa bersalah. "Bagaimana?"
"Tidak terimakasih, Tuan!"
"Aku hanya bercanda sayang, atau kau sedang bersama teman ranjangmu itu ya?" tanya Brandon yang menatap sekeliling berharap melihat pria yang hampir sempurna bak pahatan tuhan yang diciptakan begitu spesial.
"Jika dia ada, kau tidak mungkin selamat, Brandon," ucap salah satu teman Olidia, dia berjalan selayaknya wanita bayaran yang lain.
"Ya, ya aku tau dia cukup protektif pada Olidia, tapi aku tidak terlalu memikirkannya, karena pria itu pasti ada saatnya bosan bersama Olidia."
Ucapan itu membuat Olidia yang sadar diri semakin menyadari kalau mereka begitu jauh berbeda, tak lama wanita cantik itu tersenyum sambil menaruh gelasnya. "Baiklah, malam ini kita mau kemana?"
Temannya yang cukup tau perasaan Olidia, segera memukul lengan Brandon yang kerap kali datang ke sini jika ada waktu luang.
Tentu saja pria itu menatap heran pada Melda, teman Olidia itu. "Kenapa denganmu?"
"Olidia, kau jangan terlalu mendengar ucapan iblis ini, dia memang gila," ucap Melda pada Olidia, yang berusaha menghibur agar tidak terlalu berkecil hati tentang dirinya.
"Hei, apa maksudmu? Aku memang sering tidur denganmu tapi kau jangan kurang ajar ya!"
Plak! Satu pukulan lagi Melda berikan Brandon yang membuat pria itu semakin kesal. "Kau lihat saja ya!"
Pria itu menarik tangan Olidia menjauh dari kerumunan ramai itu. Melda yang melihat hanya menggeleng.
.
.
Sebelum ke pesta Brandon membawa Olidia ke salon terdekat agar penampilan wanita cukup pantas ada di sana.
Dan di sanalah mereka, berada di kerumunan orang yang jauh berbeda dengan klub dimana dia berada, tempat terang di mana orang elegan berbau uang ada di sini.
Semuanya tampak cantik juga tampan dalam balutan jas dan gaun mewah mereka, ucapan mereka pun bukan lagi tentang sehari-hari namun sudah dengan pencapaian yang mereka raih.
"Hei Olidia!" panggil Brandon yang heran dengan wanita itu yang melamun sambil memperhatikan sekitar.
Tangan Olidia melingkar erat di lengan Brandon, berharap mereka tidak berpisah di banyak manusia ini.
Olidia menoleh dengan heran. "Kenapa?"
"Kenapa kau melamun saja? Apa kau baru ke pesta?"
"Iya, aku baru datang ke acara seperti ini? Apa menurutmu aku pantas ada diantara orang-orang ini?"
Ucapan itu membuat Brandon tersenyum. "Hei, kenapa kau sangat tidak percaya diri seperti itu? Mereka manusia dan kau? Sama sajakan? Tidak berbeda!"
Olidia mengangguk. "Ya tidak berbeda, hanya saja rekeningnya lebih banyak."
Mendengar hal itu Brandon menggeleng, dan melihat seseorang diantara orang-orang itu. "Eh sepertinya itu teman ranjangmu, Dax!"
Olidia mengikuti arah tangan Brandon menuju orang yang paling ia impikan di dunia ini, tepatnya sedang menggandeng seorang wanita cantik dengan gaun kuning yang nampak cantik seperti putri kerajaan.
Balutan jas hitam dengan dasi senada, menambah kesan dewasa pada diri Dax, pria itu tertawa palsu pada orang-orang di depannya.
Ia pernah melihat tawa asli Dax dan itu lebih mengagetkan dari yang ia bayangkan, dia sangat lucu dengan tangan yang tak henti-henti memukul sesuatu yang ada di dekatnya.
"Kau menyukainya ya?"
Olidia melihat Brandon dengan wajah sedih, dia menunduk sebentar untuk menetralkan perasaannya. "Siapa yang tidak suka padanya?"
"Kau benar, oh iya Olidia kira-kira Melda menyukai sesuatu seperti apa?"
Saat sedang merasa patah hati, Brandon bertanya padanya dengan wajah seperti seorang yang sedang kasmaran. Ia merasa pria seperti menari-nari di atas lukanya yang masih sangat basah.
"Sebenarnya kau membawaku ke sini untuk apa sih?"
"Hei kenapa kau marah? Aku dan Melda sedang ada masalah jadi aku mengajakmu."
"Kau---jadi kau membawaku hanya untuk menjadi pelampiasanmu? Brandon kamu benar-benar."
"Kenapa kau marah?! Kalian memang hadir untuk menghibur bukan?"
Olidia yang mendengar itu, segera menginjak kaki Brandon yang membuat pria itu spontan berteriak karena ulah Olidia. "Makan itu menghibur!"
"Aws, Olidia kau mau kemana?"
Wanita itu pergi dari sana dengan perasaan kesal, hingga sampailah ia di toilet.
Olidia membasuh wajahnya untuk menghentikan amarah yang tak seharusnya ia keluarkan, mungkin karena efek cemburu brandon jadi terkena imbasnya.
Padahal dia memang bekerja untuk itu, jadi tak ada yang salah dari ucapan Brandon.
Olidia melihat wajahnya di cermin setelah membasuh mukanya. "Tak apa, Olidia! Ini bukan pertama kalinya kau melihat itu di depan matamu, kau harus kuat!"
"Kuat untuk apa?" tanya seseorang di belakang Olidia, melihat siapa yang ada di sana wanita itu Sontak menoleh dan mendapati Dax yang menatap heran padanya. "Sedang apa kau di sini?"
"Tuan Dax, bukannya harusnya aku yang bertanya seperti itu? Kenapa kau masuk ke toilet perempuan, bagaimana kalau yang lain terganggu?"
"Siapa perempuan itu? Memang kau pernah lihat seorang wanita risih dengan kedatanganku?" tanyanya dengan sombong, namun ucapan itu memang tidak bisa Olidia sangkal.
"Tuan Besar! Kau sangat sombong, aku akui itu tapi tetap saja itu tidak sopan!"
"Kau datang bersama pria itu?" tanya Dax tiba-tiba, tangannya dengan cepat mengambil tas Olidia dan mengambil ponsel miliknya.
"Brandon? Ya, aku datang bersamanya. Oh iya wanita yang tadi bersamamu mana? Dia sangat cantik, apa aku bisa kenal dengannya."
"Jangan bermimpi, bahkan menjabat tangannya saja kau terlihat tidak pantas!" balas Dax yang mengambil tas juga ponselnya.
Olidia terdiam mendengar ucapan itu, apa dia sekotor itu, hingga tidak berhak berkomunikasi dengan wanita yang tadi bersamanya, apa Dax memiliki perasaan lebih pada dia?
Seberapa jauh? Berapa lama pria itu kenal dengannya? Semakin ia bayangkan hatinya semakin sesak.
"Dia wanita yang cukup sombong, aku tidak ingin kau dekat dengannya, bagaimana jika kita keluar dari sini?!" ujar Dax yang membuat Olidia merasa ada hembusan angin yang mengenai mereka berdua.
Ucapan yang tidak pernah dia sangka, membuat kabut hitam itu terhempas hilang entah kemana berganti menjadi awan indah berhiaskan pelangi, entah surga atau bencana ia akan terus mengikuti alur ini.