“Buka bajumu, sekarang!” perintahnya dengan memandangi wajah Maya yang sulit diartikan.
“A-apa? Bu-buka baju?” Makin tak karuan dan bingung Maya dibuatnya.
“Kamu nggak tuli kan? Aku bilang buka baju!” hardiknya.
Pria tadi nggak sabar dan merobek baju yang digunakannya.
Srekk srekk! Spontan dan cukup membuat pria tadi terkejut. Dua gunung kembar dan besar mendadak menyumbul keluar. Bentuknya padat, kencang, mulus dan putih. Itulah yang pertama kali dia lihat dan tanpa sadar dia menelan salivanya.
“Aakkhh! Dasar pria mesum. Kurang ajar. Aakkhh!”
Maya nggak kalah kaget, menjambak rambut pria tadi dengan kasar dan tanpa Maya sadar tangannya malah menuntun wajah pria tadi membenam semakin dalam di kedua gunung kembarnya.
Maya menekannya lebih dalam karena kaget. Pria tadi pun nggak kalah kaget. Dia seperti mendapatkan durian runtuh dadakan. Sempat menikmati sesaat.
Namun, dia segera menepis kesalahpahaman. Pria tadi mencengkaram balik kedua tangan Maya. Menghentikan gerakan berbahayanya.
“Diam. Jangan terus menggodaku. Aku ini masih pria normal!” ucapnya.
Sontak menbuat Maya kelimpungan, kaget dan melepaskan jambakan tangannya.
Dia gugup. Takut dan benar-benar tak bergerak. Apalagi wajah pria tadi masih membenam di gunung kembarnya.
Kemudian pria tadi menarik wajahnya. Ada rasa panas dan sesuatu dari balik celananya yang menyempit gara-gara diamuk mendadak gunung kembar Maya.
“Ma-maafkan saya, Pak. Tapi, saya nggak jual diri!” ceplos Maya. Menutupi gunung kembarnya dengan menyilangkan kedua tangan.
“Aku kan sudah bilang, buka bajumu!” ucapnya. Nada bicaranya sekarang naik satu oktaf. Gemas dan kesal karena dia merasa sedang diburu oleh waktu.
Pria tadi memjaman sesaat matanya. Menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba mengkondisikan rasa sesak dibawah sana.
“Berikan padaku!” Ucapnya lagi menengadahkan tangan ke depan kursi supir dan terlihat si supir memberikannya satu paper bag.
“Buka bajumu lalu ganti. Pakai ini!”
benar-benar membuat Maya terkejut. Kemudian paper bag tadi dilemparkan begitu saja pada Maya. Hingga membuatnya terhuyung lebih dalam dikursi.
Maya melongok dan mengeluarkan isi. Satu buah gaun putih nan cantik. Seperti mirip gaun pengantin bergaya modern.
“Wah bajunya cantik banget, ini pasti mahal.” Maya masih sibuk dengan pikirannnya, “Cepat pakai, acara sudah akan dimulai dan berikan kartu identitasmu!” pria itu masih memberikan perintah dengan kecut.
Maya menurut dan reflek tangannya memberikan tas pada pria tadi dan di oper lagi ke kursi supir. Lalu, tangan orang tadi menekan tombol penutup agar Maya bebas ganti baju. Pria itu lakukan karena melihat Maya celingak celinguk terus ke depan saat mendengar perintahnya.
“Cepat ganti bajumu atau aku yang akan menggantikannya!”
Kembali dia memberikan perintah dengan sikap arogan. Matanya tak bisa berbohong, tertuju pada dua bongkahan padat milik Maya.
“Tidak usah, aku bisa ganti sendiri!”
Maya kesal setengah mati, entah darimana datangnya pria ini. Terpaksa Maya membuang kaos yang sudah sobek ke wajah pria tadi saking kesalnya. Detik kemudian semua gerakan dimata pria tadi terlihat sensual. Saat Maya memasukkan gaun model sabrina yang langsung mengekspos dua gunungnya dengan pas terbentuk.
Pria tadi terus menelan salivanya. Mungkin jika dihadapannya ini wanita penghangat ranjang yang sering dia bayar dan waktunya tidak sedang mepet, pria tadi sudah memakan wanita itu sampai habis.
“To-tolong!” Maya membalikan punggung putihnya. Pria tadi masih saja menelan salivanya membayangkan tubuh setengah polos Maya yang dilahap habis habisan olehnya.
Namun, dengan cepat dia menutup resletingnya. Kemudian, mau tak mau Maya menggerakkan lagi tubuhnya, membuka celana panjang yang dia pakai. Gerakan meliak liuk Maya membuat kembali celana pria tadi sesak.
“Hah, aku bisa gila kalau begini terus. Setelah acara ini selesai. Aku harus segera mencari penyaluran. Kalau tidak kepalaku bisa sakit sampai besok pagi.”
Begitulah kata hati pria tadi. Dia terus membuang nafas dan menarik nafasnya agar sesuatu yang sesak tadi kembali tenang dan kembali ke bentuk semula.
Setelah Maya menganti bajunya, dia mengambil lagi baju yang disobek dan celananya kedalam paper bag.
“Ingat baik-baik, namaku, Reno Baskoro.” Maya manggut-manggut saat pria tadi memperkenalkan diri.
“Baik Pak. Lalu tugas saya apa?” Reno menatap lagi wajah polos Maya. Maya sepertinya hanya mengerti kalau dia sedang menjalankan pekerjaan dengan bayaran uang muka yang diterimanya tadi.
“Oh, nama-mu?”
“Um, Maya Sari Bakti!” kembali Reno menarik kerut dahinya,
“Kenapa Pak? Aneh ya nama saya?” balas Maya saat melihat pria tadi menarik kerut di dahinya.
“Tidak, hanya saja … orangtua-mu bukan penggemar salah satu bus perkotaan kan?” jadinya Reno membahas hal yang tak penting.
“Heheheh, banyak yang ngomong begitu sih Pak, mungkin aja sih,” tapi pria tadi mengibas tangannya. Bahasannya benar-benar nggak penting.
“Lupakan. Kamu harus ingat namaku baik baik. Panggil saja aku, Reno, oke!”
“Oke, lanjut!” Reno sedikit menaikan sudut bibirnya, tersenyum geli melihat tingkahya.
“Reno Baskoro, mulai sekarang adalah suami dari Maya Sari Bakti!”
Gleger. Maya seperti mendengar gluduk, tapi nggak ada hujannya. Maya mendelik tajam.
“A-apa? Su-suami? Bapak suami saya? Serius, Pak? Jangan main-main, ini pasti kesalahan.”
“Tidak. Ini beneran!” Reno sudah melipat kedua tangannya.
“Ng-nggak. Nggak mau. Saya belum nikah dan masih single. Dan kita baru kenal satu jam lalu, itu kan udah jelas, kita bukan suami istri!” mulut Maya merepet kayak petasan cabe rawit.
“Terserah. Kalo kamu nggak mau. Kembalikan uang-ku tadi dan dendanya 5 kali lipat!”
Maya kleyengan sendiri. Diatas kepalanya seperti banyak bintang berputar. Bikin pusing tujuh keliling.
Satu jam yang lalu
Maya mendapatkan telpon dari rumah sakit. Dia berjalan tertatih menyusuri lorong rumah sakit. Dia terpaksa meminta izin dari tempatnya bekerja sebagai kasir mini market. Pikirannya sudah melayang dengan kondisi ibunya.
“Ba-bagaimana kondisi ibu saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?”
wajah Maya sudah menahan sesak dan tangisnya yang akan siap meleleh kapan saja dari wajah cantiknya.
“Masih dalam kondisi kritis, harus segera dilaksanakan operasi jika ingin ibu anda selamat!” ucap dokter terdengar seperti sambaran petir yang menyambar dirinya hingga membeku.
“O-operasi, Dok? Kira-kira berapa biayanya?” tanya Maya dengan wajah yang sulit diekspresikan.
Bingung karena saat ini dia belum gajian dan kalau pun gajian pasti biaya yang diminta pun tidak akan bisa menutupinya.
“Setidaknya untuk uang muka kamu harus memiliki 500 juta. Ini hanya uang muka, belum alat-alat, obat-obatan, kamar dan lainnya. Yang terpenting saat ini ada biaya dimuka dulu untuk menangani dan memeriksa kondisi ibu kamu terlebih dulu!”
Maya benar-benar membeku. Dia tak mengira untuk biaya menangani dan memeriksa ibunya akan sebesar itu. Dia tak tahu harus darimana mendapatkan uang tersebut. Dia hanya seorang kasir dengan gaji UMR. Biaya untuk makan dan sehari-hari mereka berdua saja kadang masih kekurangan.
Ayah Maya meninggal saat dia masih teramat kecil. Dia hanya memiliki seorang ibu untuk tempatnya berteduh dan mengadu keluh kesahnya.
“Berikan penanggan yang terbaik untuk ibunya?” Suara dari belakang Maya membuatnya terkejut. Suara baritaon, tegas dan tenang seakan memberikan perintah yang tak dapat ditolak.
Maya menoleh pria dibelakangnya. Tubuh besar, kekar dan tingginya saja sudah membuat Maya seperti mendangkan kepala.
“Ini untuk biaya awalnya, didalam ada 1 milyar dan kartu namaku untuk kalian hubungin, jika kalian kekurangan biaya!” ucapnya lagi pada dokter tadi dan menyerahkan apa yang dikatakan.
Maya bingung. Darimana pria tampan itu datang. Dia bahkan tidak mengenalnya, atau mungkin pria tadi salah mengenali orang.
“Baik, saya akan proses semuanya!” ucap dokter tadi langsung pergi setelah menerima pembayaran awal yang dimintanya.
“Kamu, ikut aku!” perintahnya lagi. Makin tak mengerti Maya dengan yang terjadi. Maya masih bengong, tak bergerak sama sekali.
“Hei wanita bodoh, kamu, ikut aku! Aku tidak punya banyak waktu!” ucapnya seperti tergesa. Mau tak mau secara reflek Maya mengekor padanya.
Maya yang kebingungan, tahu-tahu langkah cepatnya sudah berada di dalam mobil bersama pria yang nggak sama sekali dikenalnya….
Maya bergumam sendiri disaat dia memasuki ballroom hotel mewah. Dia hanya mengintil pada pria didepannya yang berjalan tergesa.
Pria tadi berdiri di depan lift. Maya baru sadar penampilan pria tadi dengan gaun yang dipakainya sangat senada. Seperti pakaian couple.
Mata maya masih celingak celinguk, “Ho—hotel? Mau apa kesini ya?” gumamnya yang terdengar ditelinga Reno.
"Ops, maaf aku lupa mengatakan, ini adalah resepsi pernikahan kita. Jadi, nanti kamu harus akting yang benar ya. Ingat aku bayaran kamu mahal. Aku nggak mau kecewa hanya kesalahan kecil saja dari kamu." Maya melonggo. Tahu-tahu resepsi pernikahan. Bagaimanapun itu bisa terjadi dalam satu jam dia mengalami hal hal diluar nalarnya. Ada orang yang membiayai perawatan ibunya dan sekaligus dia tahu tahu sudah menikah.
"Pak, jangan bercanda, saya menikah dengan, Bapak? Itu bagaimana ceritanya. Benar-benar tidak masuk akal," Maya berkata sambil menyentuh tangannya.
Namun, sedetik kemudian tangannya ditarik kembali dengan cepat saat Reno memicingkan tajam matanya.
"Kita akan bicarakan kontraknya nanti. Yang terpenting sekarang, kamu nanti di hadapan ibu, ayah dan adikku jangan buat masalah. Aku akan mengalihkan semua, kamu cukup tersenyum saja." Maya masih belum mengerti apa yang akan dilakukan oleh laki-laki yang menolongnya. Meski dari ucapannya terdengar mudah, pasti saat dijalankan luar biasa.
"Ko-kontrak? Kontrak apa, Pak maksudnya?" masih dalam kebingungan dengan ucapan Reno.
"Reno, Reno Baskoro. Sayang, honey atau beb. Panggil aku dengan salah satu itu saat ada dihadapan ibu, ayah atay adikku. Aku mau kamu ingat itu mulai sekarang saat memanggilku. Jangan sampai kamu lupa, Reno suami Maya mulai sekerang. ingat itu. Jangan tanya lagi pokoknya sekarang kamu harus senyum!" Reno meraih pinggang Maya, dia sangat terkejut tiba-tiba lelaki yang nggak dikenalnya melakukan itu.
"Ini tidak akan lama, dua jam paling lama. Kamu hanya perlu berada disampingku saat menyapa keluarga dan tamu undangan, kamu mengerti kan, Maya?" Meski Maya ingin menggelengkan kepala atau menolaknya. Itu nggak dia lakukan selain mengikuti permainan dan sandiwara yang Reno inginkan.
Pintu ruangan terbuka, jelas Reno dan Maya langsung jadi tokoh utama dalam tayangan sinetron yang sedang mereka lakoni. Jantung Maya ketar ketir nggak karuan. Dia nggak bisa membayangkan dalam satu waktu yang tak terduga, dia tiba-tiba menghadiri pesta resepsi pernikahan yang nggak pernah sama sekali dia lakukan.
"Mah, Pah, perkenalkan ini Maya, istrinya Reno. Bukan Reno mau menyembunyikan semua, Reno hanya nggak mau kalau Mama terus menerus jodohin Reno. Jadinya sekarang Reno bawa kehadapan Mama, biar Mama dan Papa percaya. Aku nggak berbohong, cuma maafkan Reno, Mah, Pah, Maya tidak seperti lain yang suka memamerkan diri. Dia gadis sederhana yang bisa menaklukkan hati Reno, Mah, Pah!" Maya hanya bengong mendengar karangan yang sedang dibuat Reno. Bagaimana laki-laki berkata seolah nggak terjadi apapun. Apalagi tangannya dengan leluasa memeluk pinggang dan mengecup kening Maya.
“Cantik, dia cantik sekali, Reno. Dia memang sedikit berbeda dari para wanita yang sering kau bawa, uhm,” wanita yang disapa oleh Reno tadi menyentuh pipi Maya dan tersenyum.
“Kamu pasti sangat bekerja keras untuk menaklukan hati anak playboy Mama ini kan, May? Ah, sampai lupa, nama Mama, Siska Amelia, kamu bisa panggil Mama, Mama Siska atau Mama Amel, sama saja kok. Ini Papanya Reno, Tomi Baskoro,” wanita yang memperkenalkan dirinya dan suami.
“I—iya, Mama Amel, namaku, Maya Sari Bakti,” mereka menautkan kening dan terkekeh kecil saat mendengar nama Maya.
“Sudah sudah yang penting Mama bahagia dan senang. Mama ingin kamu segera dapat momongan biar keluarga Baskoro nggak sepi lagi. Pokoknya kalau bisa kamu bikin yang banyak ya, May.” Maya hampir tesedak saat mendengar ucapan ibunya Reno. Sedikit terkejut, keluarga yang terlihat kaya seperti keluarga Baskoro biasa saja saat menerima calon menantu.
“Dimana Rama, Mah, Pah?” kemudian Reno terdengar mempertanyakan seseorang.
“Dia sedang menyambut tamu dan bersama Nadia, tadi Mama lihat mereka sedang disa—,” ucap Mama Amel menggantung, “Nah tuh mereka, mereka ada dipojokan sedang mengobrol!” tunjuk kembali Mama Amel. Setelah perkenalan yang tidak banyak bicara Ayah Reno. Dia terlihat menatap terus Maya seolah ada satu hal yang dia tangkap.
“Ya sudah, aku kesana dulu ya, mau memperkenalkan Maya dengan mereka,” ucapnya. Reno terlihat sumringah saat mendengar nama Nadia. Lalu dia menggandeng Maya ikut bersamanya lagi, tanpa Maya sempat berkata apapun. Hanya tersenyum dan menganggukan kepala persis seperti yang dikatakan olehnya.
“Rama,” panggil Reno saat mendekat kearah mereka. Maya mengkrejabkan matanya, dia terkejut dengan sosok laki-laki dihadapannya. Wajahnya benar—benar mirip dengan Reno.
“Maya, kenalin, ini adikku Rama Baskoro, adik kembar aku,” Maya hanya bisa mematung saat mengulurkan tangannya. Dia nggak sangka akan bertemu dengan laki—laki kembar yang kalau dilihat dari kasat mata itu nggak ada bedanya sama sekali. Dan kebetulan banget baju yang dipakainya pun mirip dengan mereka. Berwarna putih.
Maya mengulurkan tangannya perlahan, “Ma—Maya,” sedikit ada perasaan aneh saat Maya menatap laki—laki dihadapannya. Entah apa dia tidak suka dengan Maya atau ada hal lainnya saat Rama menyambut tangannya. Tangan Rama dingin saat bersentuhan dengan tangan hangat Maya.
“Ram, gue titip bini gue sebentar. Lo temenin dia dulu makan, dia kayaknya belum makan sejak siang tadi. Gue ada urusan dulu sama Nadia, ada yang harus kita obrolin soal pekerjaan, bukan begitu, Nad?” Nadia seolah mengerti dan memehami maksud dari ucapan mendadak Reno.
“Ah, iya,kontrak yang kemarin itu kan, Ren,” sambut Nadia dengan jawabannya sambil tersenyum.
“Iya, penting banget. Yang kontrak di perusahaan Mawar itu, yuk!” Reno melepaskan tangannya dari pinggang Maya dan meraih pinggang Nadia. Makin nggak karuan Maya. Dia belum kenal semua, tapi sudah ditinggalkan pergi begitu saja.
“Kita kesini kakak ipar,” ucap Rama membuatku terkejut. Suaranya benar benar mirip juga dengan Reno. Orang nggak akan sangka kalau Maya berbicara dengan orang lain.
“I-iya,” Maya menurut saat Rama mengajaknya duduk ke sudut sofa dan memanggil beberapa orang pelayan untuk mengambilkan beberapa minuman dan camilan.
“Minumlah,” Maya nggak tahu minuman apa yang diberikan oleh Rama.
“I—ini, tidak beralkohol kan? Aku nggak bisa minum itu. Aku takut mabuk seperti yang ada di teve—teve,” Rama terkejut dan menarik sudut bibirnya kecut. Dia nggak akan sangka akan mendapatkan jawaban yang begitu waspada.
“Tenang saja kakak ipar, kalau kakak ipar mabuk, masih ada aku atau Kak Reno. Mau aku atau Kak Reno sama saja kan, pasti bisa membuat kakak ipar senang,” Rama tiba—tiba mendekat, berbisik dan menyusupkan tangannya dibalik gaun yang Maya gunakan.
"Um, Nad, ayo kita lakukan ah," Reno baru saja menutup pintu ruangan sebelah yang disiapkan khusus olehnya.
Reno sedang sudah membuka gaun Nadia hingga turun ke perut dan memangku Nadia duduk. Reno sedang rakus menikmati dia bongkahan kenyal milik Nadia. Dia menjilat mengesap dan mengulumnya dengan rakus. Tak membiarkan Nadia bergerak dalam dekapannya hingga saat melakukan itu tangan Reno bebas menarik gaun bawahnya hingga perut.
"Ahh hmm enak banget, Ren, umm!" Nadia bak cacing kepanasan di pangkuan Reno dan dia tak sabaran juga membuka resleting celana milik Rena dan Nadia yang hanya menggunakan kain penutup di intinya hanya seujung jari memudahkannya masuk kepemilikan Reno dengan sempurna.
"Ahh nikmat banget, Nad. Ayo goyang yang dalam umm ahh," Reno melepaskan belitan mulutnya di dua benda kenyal milik Nadia, kini Reno meremasnya dengan kuat saat Nadia sedang bergoyang di atasnya.
"Umm, Reno itu benaran istri kamu," selidik Nadia, dia sebenarnya kecewa saat harus datang ke resepsi pernikahan Reno.
"Iya, aku baru menjemputnya tadi. Dia gadis sederhana, nggak liat seperti kamu, Nad, ahh lebih kencang lagi Nad, ah disitu enak banget Nad!" Rancu Reno menikmati hentakan dari Nadia yang sedang bekerja keras diatasnya.
Meski dalam kondisi menikmati tubuh Nadia. Reno nggak mungkin kejebak dengan ucapan Nadia yang sedang menyelidikinya. Dia tahu, Nadia menyukai sejak lama. Bahkan Nadia rela memberikan perawannya untuk Reno, tapi sejak dulu Reno memang sangat sulit ditaklukkan hatinya. Nadia hanya bisa dekat dengan Reno saat Reno membutuhkan dirinya di ranjang. Sama seperti adiknya, Rama, Nadia juga menjadi pemuas gairah mereka saat sedang membutuhkan.
Nadia rela melakukannya karena perusahaan Nadia memang membutuhkan sokongan dari keluarga Baskoro. Jadi, jika hanya harus mengorbankan diri untuk kelangsungan perusahaan peninggalan ayahnya, Nadia rela. Hanya saja, dia terbawa perasaan saat bercinta dengan Reno. Dia jatuh cinta, sedangkan meski Rama mirip dengannya, Nadia hanya melakukan dengan cinta saat bersama dengan Reno.
"Sungguh dia istrimu, kalau begitu kita sudah nggak bisa begini lagi dong," Nadia berkata lirih sesaat menghentikan goyangannya.
"Ahh jangan berhenti, Nad. Kamu gila, lagi enak enaknya, sebentar lagi aku mau keluar!" Reno sedikit meninggalkan suaranya saat Nadia menghentikan gerakan. Selama bercinta dengan wanita manapun. Baik Reno atau Rama, mereka berdua nggak mau bekerja keras, mereka membiarkan wanita yang memberikan kepuasan bagi mereka.
Reno dan Rama kembar identik hampir tidak ada yang tahu perbedaannya. Bedanya di Rama, dia kidal sedangkan Reno tidak. Tapi, kadang tidak ada yang menyadari itu karena diam diam Rama mempelajari bagaimana cara mengendalikan tangan kidalnya. Karena saat dibutuhkan sebagai pengganti mendadak oleh kakaknya, Rama harus terlihat mirip dengannya.
"Akhh, umm, aku mau keluar, Nad, menyingkirkanlah dan buka mulutmu," saat mendengar tanda dari Reno, Nadia segera bangun dan tepat saat Nadia membuka mulutnya. Reno menyumpalkan miliiknya hingga laharnya masuk semua kedalam mulut Nadia.
Inilah keduanya, Reno dan Rama, saat mereka bercinta dengan wanita manapun mereka selalu memastikan cairan mereka tidak tertinggal di rahim manapun. Karena mereka berdua akan menggunakan wanita yang sama saat berhubungan. Tapi, cairannya hanya akan di buang ke lantai atau ke mulut wanita itu.
"Datanglah besok ke kantor, kau bisa menemui aku atau Rama. Sama saja, dia akan mengurus kontrak perusahaanmu," Reno bergegas merapikan celananya.
"Apa aku juga tetap harus melayani, Rama saat meminta kontraknya?" Tanya Nadia sedikit kesal. Sebenarnya dia nggak mau melakukan itu.
"Tanya saja dengan Rama langsung, aku nggak bisa memutuskan. Bagian kontraknya dia yang menyetujui. Kalau dia menginginkannya kau berikan saja. Ini kan bukan kontrak pertama kamu, masih aja kamu mempertanyakan itu, Nad. Sudah aku mau keluar kasihanan istriku kalau kelamaan sama Rama," ucap Reno.
Nadia cuma bisa menggigit jari saat Reno berkata seperti itu. Sebenarnya dia nggak mau hanya jadi pemuas ranjang kakak beradik itu, tapi besarnya nama perusahaan Reno dan memiliki banyak cabang di dalam dan luar negeri membuatnya mau nggak mau menuruti kemaun Reno dan Rama.
Setelah sentuhan yang meresahkan bagi Maya dari tangan Rama, dia segera menjauh. Dia nggak mau mendekat dengan Rama, meskipun Rama sepertinya enggan berjauhan dari Maya.
"Kakak ipar kok jauh banget duduknya, sini dong. Aku kan cuma pengen dekat dan ngobrol bareng kakak ipar," goda Rama, dia sedikit terkejut saat Maya menepis tangannya dengan kasar.
Biasanya, wanita manapun, hanya di lirik oleh Reno atau Rama langsung meleleh kayak es batu, tapi kasus itu nggak berlaku untuk Maya.
Duk! Maya terkejut saat merasakan tubuhnya di peluk dari belakang. Tangan seseorang melingkar dipinggang dan kepalanya tertunduk lelah dibahunya.
"Aku lelah banget sayang, kita pulang saja ya. Ini kan malam pertama kita. Aku ingin segera mencicipi kamu," bisiknya. Seketika Maya menghindari, menarik tubuhnya dan brukk Maya malah tak sengaja merobohkan tubuhnya ke pelukan Rama yang tepat di hadapannya.
Kedua benda kenyal milik Maya tak sengaja menggesek di dada Rama. Membuat Rama kalang kabut dan kaget. Pasalnya sejak tadi dia sudah menelan air liurnya. Rama tak sabar ingin mencicipi dua benda kenyal milik kakak iparnya. Seperti itulah yang terlihat di benak Rama. Dia merasa, wanita manapun yang dibawa kakaknya boleh dia ikutan mencicipi.
Tapi kali ini ada yang berbeda dari sikap Reno. Dia menarik tubuh Maya dengan cepat. Bersikap posesif pada Maya. Seakan Maya nggak boleh disentuh oleh siapapun. Dan itu sangat disadari oleh Rama karena kakaknya tanpa bicara membawanya pergi.
"Wanto, kamu tunggu saja disitu," Reno mencegah supir sekaligus asistennya masuk mobil. Wanti mengerti dan mengangguk.
Brukk! Maya terkejut saat dirinya dilemparkan kasar lagi ke mobil.
"Aw, sakit sih Mas Reno, pelan-pelan. Aku ini manusia bukan barang," Celetuk Maya kesal karena laki-laki itu seenaknya saja berbuat yang dia mau.
Reno menarik sudut bibirnya kecut, dia paling nggak suka dibentak atau diperintah oleh orang lain. Tapi, saat Maya yang melakukannya dia merasa sedikit lucu dan menggemaskan.
"Buka resleting gaunmu atau aku yang akan melakukannya!" perintah Reno.
"Bu-buka? Nggak, nggak mau. Aku kan sudah bilang, aku nggak jual diri, Mas," ucap Maya menolak permintaan Reno.
"Cih, sejak dokter menangani perawatan ibumu, kamu itu sudah menjual diri padaku. Aku harap kamu masih perawan agar uang yang aku keluarkan sebagai uang muka dirumah sakit nggak sia sia," celetuk Reno sudah membuat kedua mata Maya membulat lebar.
"Maksudnya?" Maya sedang bingung dengan perkataan Reno.
Reno yang nggak sabar, padahal belum lama dia sudah menikmati tubuh Nadia, tapi saat melihat tubuh Maya, benda miliknya semakin nggak busa dikendalikan dan terus menerus mengeras untuk meminta dikeluarkan.
"Ahh umm sshh," Maya terkejut saat tubuhnya ditarik Reno kepelukan dan tangan Reno dengan lincah menurunkan resleting miliknya hingga dua benda kenyal milik Maya keluar tanpa ada kain penghalang.
"Umm bibir kamu ternyata manis juga May, ahh dan ini sejak tadi menantangku terus," Maya spontan merebahkan kepalanya di pundak Reno saat tangan Reno mulai memilin kedua benda kecil milik Maya agar makin menegang dan kencang.