Selepas libur yang panjang, hari pertama sekolah adalah halyang ditunggu-tunggu. Banyak kisah-kisah selama liburan yang akan dirangkum dan diceritakan kepada teman-teman kelas. Setiap teman-teman akan berlomba-lomba siapa yang lebihduluan untuk bercerita. Suasana akan ricuh. Melompat dari kisah yang satu ke kisah yang menarik lainnya.
Aku telah mandi selepas subuh, berolahraga sedikit di depan halaman rumah. Setelah olahraganya terasa cukup aku segera mandi. Mandi sembari menyanyikan lagu cinta.
Ibu sudah mempersiapkan sarapan pagi. Bapak juga sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Kakak belum terlihat keluar dari kamar. Dulu kakakku bersekolah di SMA favorit di desa sebelah. Aku sekolah di SMA di kampung saja. Jarak umurku dengan kakakku dua tahun. Aku kelas dua SMA dan kakak baru saja lulus dan akan meneruskan pendidikan keperguruan tinggi di provinsi.
Bapak selalu saja membanding-bandingkan aku dengan kakak. Kakak yang lebih pintarlah. selalu juara kelas, bisa diandalkandan banyak hal lain lagi yang membuat aku selalu dipojokkan. Tetapi ibu selalu ada dipihakku. Menjadi penengah dan pembelaku. Aku selalu berharap aku memiliki banyak ibu seperti ibuku. Agar aku selalu bisa bahagia dan dijaga dari orang-orang yang ingin menjahatiku.
Aku sarapan sekadarnya saja. Aku memang tidak begitu suka makan. Bagiku makan hanya menghilangkan lapar saja. Makanya badanku tidak begitu gemuk dan juga tidak kurus. Tapi otot di badanku tidak terlihat. Tapi aku kencang berlari jika bermain bola.
Hari ini adalah hari pertama sekolah pada tahun ajaran baru. Kini aku sudah duduk di bangku kelas dua. Aku tidak sabar bertemu dengan teman-temanku. Aku ingin mendengarkan ceritanya selama liburan akhir tahun. Momen ini biasanya menjadi waktu yang menarik dan ditunggu-tunggu.
Aku memakai sepeda motor jadul, astrea grand. Tapi sepeda motornya sudah aku modifikasi sehingga terlihat klasik dan bersih. Aku suka dengan hal-hal yang bernuansa klasik dan unik. Jadi aku merasa nyaman mengendarai sepeda motor tersebut.
Jarak rumahku dengan sekolah lebih kurang lima belas menit menggunakan sepeda motor. Jika ditafsir lebih kurang satu setengah kilo. Jika berjalan kaki butuh setengah jam. Rumahku di atas bukit dan di kelilingi oleh kebun petani. Sesuatu hal yang indah jika dinikmati pada pagi hari. Awan rendah akan menyelimuti atap rumahku. Hawa dingin dan udara terasa segar. Aku menyukai itu.
Aku meliuk-liuk di tikungan jalan yang menurun. Kebun karet dan sawah petani di kiri kanan. Sekarang sudah musim panen. Padi petani menguning dan indah dipandang.
"Hai, Pak. Semoga panennya melimpah!" teriakku kepada salah satu petani yang sedang berjalan menuju sawahnya. Aku melambaikan tangan. "Aamiin, Anak Muda. Semangat sekolahnya!" teriak Bapak Tani tersebut padaku.
Aku terus tancap gas menuju sekolah. Banyak petani yang aku temui di jalan. Di sini petani pagi-pagi sudah turun ke kebun atau ke sawah. Jarang sekali petani yang tidur pagi. Katanya, bekerja di pagi hari sangat menyenangkan, sebelum matahari yang terik menyengat dan menghitamkan kulit.
Keindahan alam di kampungku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sakin indahnya. Suasana alam yang masih terjaga dan terpelihara. Bukit Barisan yang sambung-menyambung dan tertata rapi. Menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata. Jika masalah dan beban yang berat menumpuk, datanglah ke kampungku untuk rehat sejenak. Niscaya masalah akan hilang dan semangat melewati hari-hari akan tumbuh kembali.
Tidak terasa aku sudah sampai di sekolah. Aku datang sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Tapi teman-temanku sudah ramai yang datang. Aku memarkirkan sepeda motorku di tempat yang sudah ditentukan. Aku rapikan rambut dan pakaianku. Lalu melangkah dengan gagah menuju kelas baruku.
Aku sekarang sudah naik ke kelas dua. Tentu akan ada beberapa orang teman baru. Karena setiap tahunnya kelas selalu diacak. Kata wali kelas agar kami bisa bergaul dan beradaptasi dengan teman-teman yang lainnya, tidak itu-itu saja. Aku tidak benar-benar mengerti. Tapi aku tidak bisa juga protes dan menolak keputusan dari wali kelas.
Suasana sekolah terasa berbeda. Dinding sekolah kami sepertinya baru saja dicat ulang dengan warna putih dan merahyang bersinar dan menyala jika dipandang. Tapi cukup bagus menurut penilaianku.
Sesampai di kelas teman-teman sudah duduk melingkar. "Hei, Rianda Manales! Temanku yang baik hati suka menabung dan tidak punya pacar." Reno langsung saja menyapaku saat aku baru masuk kelas. Aku hanya tersenyum cengengesan.
Aku meletakkan tasku di meja dan langsung bergabung bersama teman-teman yang sudah ramai saja. "Apa-apa kamu ini, Reno. Meneriakkan aku tidak punya pacar segala." Aku protes dan tidak terima atas lelucon Reno. Aku pukul Pundak Reno.
"Santai-santai! Tapi memang benar kamu tidak punya pacar kan Rianda sahabatku?" Reno terus saja mengejekku. Aku tidak melayaninya. Reno memang temanku yang usil. Jika dilayani keusilannya, maka tidak akan usai. Aku memilih mengalah saja. Tapi Reno teman yang baik hati dan selalu nyambung jika diajak curhat. Salah satunya itulah alasanku bisa berteman dengannya hingga saat ini.
"Cerita apa nih?" Tanyaku dan bergabung. "Ini Andino pergiliburan ke kampung bapaknya. Ia berkenalan dengan cewek cantik. Tapi sayangnya ia lupa meminta nomor telepon cewekitu," terang Reno. Kami tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Andino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Andino merasa menyesal lupa meminta nomor telepon cewek itu.
"Jangan-jangan cewek itu tetanggaku," aku ikut membercandai Andino. Kami semua tertawa lagi. "Kamu ada-ada saja, Rianda. Jika benar cewek itu tetanggamu, aku yakin kamu yang sikat duluan. Tapi sayangnya kamu masih menjomblo," Andino balik melawan. Aku ditertawakan bersama-sama. Aku juga ikut tertawa. Karena keempat temanku yang ada di sana masih jomblo juga. Hanya saja Reno yang baru jadian dengan anak IPA, kelas sebelah. Andino baru saja diputuskan pacarnya saat mau ujian naik kelas kemarin.
Alasan Andino diputuskan pacarnya yaitu pacarannya maufokus dulu untuk menghadapi ujian. Orang tuanya melarang pacaran untuk sementara. Tetapi saat class meeting dan menunggu penerimaan lapor, mantan pacarnya itu sudah jadian lagi dengan teman sekelasnya. Apes sekali Andino kala itu.
Andino menangis dan marah-marah. Tetapi kejadian itu hanya kami saja yang tahu. Mantan pacarnya jangan sampai tahu, begitu tegas Andino. Kami sepakat dengan hal itu. Kami tidak tega jika nanti Andino ditertawakan oleh anak-anak lain di sekolahku.
Kami terus tertawa terbahak-bahak mendengar berbagai pengalaman liburan dari teman-teman. Sebenarnya aku tidak ada kemana-mana liburan kali ini. Aku hanya di kampung saja membantu kakek ke sawah dan pergi memancing. Pengalaman memancing inilah yang menarik aku ceritakan kepada teman-temanku.
Begini ceritanya, aku pergi ke sawah dengan kakek menghalau hama burung pipit yang memakan padi. Setelah sore hari aku memancing di sungai yang ada di dekat sawah. Aku semangat memancing ikan. Tetapi bukan ikan yang aku dapatkan tetapi kura-kura sebesar piring. Teman-temanku tertawa hingga sakit perut mendengar ceritaku. Aku juga ikut tertawa. Mancing ikan malah dapat kura-kura.
Wali kelas akhirnya datang. Pembicaraan kami terpaksa terhenti. Jika ada waktu akan dilanjutkan kembali. Itu pun jika ada cerita yang menarik.
Ibu wali kelas membentuk daftar piket dan susunan kepengurusan kelas. Aku terpilih menjadi wakil ketua kelas. Padahal aku sudah mengelak-elak untuk menjadi pengurus kelas. Dikarenakan aku ingin menjadi siswa biasa saja. Tapi teman-temanku mengajukan dan menunjukku. Singkat ceritaaku mendapat suara nomor dua terbanyak. Secara tidak langsung aku terpilih menjadi wakil ketua kelas.
Kami berdiskusi dan menunjuk penanggung jawab untuk membuat daftar piket, susunan kepengurusan kelas, jadwal mata pelajaran, pengadaan foto presiden dan wakil presiden, dan keperluan kelas lainnya.
Bel istirahat berbunyi. Aku dan teman-teman pergi makan ke kantin sekolah. Memesan makanan dan minuman kesukaan masing-masing. Sudah hampir sebulan aku tidak lagi mencicipi masakan ibu kantin. Aku jadi rindu dan melahap makanan dengan ganasnya. Lagi pula aku tadi sarapan sedikit. Jadi energiku telah terkuras karena tertawa-tawa di kelas tadi. Maka aku terasa lapar sekali. Aku makan dengan tanpa bercanda dengan teman-teman.
Setelah selesai makan aku merenggangkan tubuh. Mencoba bersandar di kursi. Mengamati seisi kantin. Tanpa sengaja mataku tertuju pada seorang siswi yang aku tafsir adalah anak baru. Aku amati siswi itu lamat-lamat. Saat siswi itu melihatku, aku membuang muka. Seolah-olah melihat ke sisi lain.
Beberapa kali aku memandangnya. Tapi kenapa rasanya berbeda dengan memandang siswi yang lain. Rasa penasaranku muncul begitu saja. Aku pandangi ia menyuap makanannya. Sungguh ayu sekali. Siswi itu bersama dua orang temannya. Kedua temannya aku juga tidak kenal.
Teman-temanku sibuk saja bercanda sambil makan. "Rianda kamu lihat siapa?" Tanya Reno yang membuat aku terkejut dan belum siap merapikan diri. "Tidak ada. Aku hanya mengamati pengunjung di kantin ini saja," aku mencoba mengalihkan perhatian. Reno sejenak memandang lurus ke pandangan akutadi. Untung saja Reno tidak curiga kalau aku memandangi seorang siswi yang anggun yang membuat darah di kepalaku berdesir. Yang sanggup membuat napasku tidak karuan. Yang mampu membuat dadaku berdetak kencang seperti genderang mau perang.
Aku baru pertama kali ini melihat siswi itu. Tapi rasanya akusudah sangat dekat sekali dengannya. Aku jadi berpikiran yang aneh-aneh.
Setelah teman-temanku selesai makan dan membayarnya, kami kembali ke kelas, dua menit lagi bel masuk akan berbunyi. Saat berjalan keluar kantin aku menyempatkan diri untuk memandang Kembali kepada siswi baru itu. Aku harus tahu namanya. Aku harus bisa berkenalan dengannya. Siswi yang membuat aku berantakan dan darahku mengalir deras ke ubun-ubun.
Aku terus kepikiran siswi itu. Tapi aku tidak berani mengungkapkan kepada teman-temanku. Ada beberapa hal aku tidak mau terbuka kepada Reno dan yang lainnya. Salah satunya Reno adalah sahabat yang fakboy. Sedikit saja bisa suka dengan cewek. Nanti jika aku menceritakan perihal siswi yang baru aku lihat tadi. Takutnya Reno diam-diam juga suka padanya.
Maka lebih baik aku menyimpan rahasiaku sendiri. Dikunci rapat dan tidak ada seorang pun ingin aku beri tahu.
Malamnya aku terus mengingatnya. Mengingat caranya memegang sendok dan garpu. Mengingat cara makannya yang lembut dan tertata serta tidak tergesa-gesa. Aku pelan-pelan mengaguminya.
Malam harinya aku terbawa mimpi bisa berkenalan dengan siswi yang aku lihat di kantin sekolah tadi. Aku terbangun dari mimpiku. Hingga pagi mataku sulit untuk dipejamkan. Pikiranku tidak bisa dialihkan dari mengingat wajahnya siswi itu. Ia telah mengusik ketenangan tidurku. Aku harus bisa berkenalan dengannya. Aku harus tahu siapa namanya.
Embun masih menyelimuti bukit di depan rumahku. Burung-burung bernyanyi riang dan terbang dari dahan yang satu kedahan yang lainnya. Tupai keluar dari sarangnya, lalu, melompatke pohon kelapa. Musim buah-buahan sebentar lagi, begitu kata ibu kepadaku.
Aku sudah terbangun dan olahraga secukupnya. Aku selalu menjaga kondisi tubuhku. Meski otot di tubuhku tidak begitu tampak perkembangan.
Beberapa hari ini tidurku tidak nyenyak. Pagi terasa lama dan malam begitu panjang. Aku tidak sabar untuk ke sekolah dan ingin melihat siswi yang hadir dalam mimpiku itu.
Sudah satu pekan sekolah tahun ajaran baru berlangsung. Akutidak lagi semangat untuk belajar. Gejolak ingin dihargai dan bisa memiliki seorang kekasih di dalam dadaku tidak terbendung. Reno dan teman-teman yang lainnya tidak henti-hentinya mengejekku lelaki kesepian.
Aku sungguh menikmati hidupku tanpa pacaran. Tetapi jika akusaja terus-terusan yang menjadi bahan lelucon. Aku tentu tidak terima. Tidak enak rasanya dipojokkan begitu. Harga diriku sebagai lelaki robek terkoyak. Aku tidak terima selalu dibilang begitu.
Waktu cepat berlalu. Tetapi aku tetap tidak berani menemuiNaira secara langsung. Aku selalu saja mencoba curi-curipandang dengannya. Saat ada di kantin sekolah, saat upacarabendera, saat Naira lewat di depan kelasku, dan ada kalanya juga aku yang sengaja lewat di depan kelasnya hanya semata inginmencari kesempatan bertemu dengan Naira. Tapi semua itu tidakpernah berhasil.
Sudah dua bulan saja sekolah tahun ajaran baru berjalan. Akutetap saja menjadi lelaki jomblo. Teman-temanku sudah berapakali gonta-ganti pacar. Misalnya Reno sudah balikan lagi denganmantannya. Selepas seminggu ia putuskan lagi mantannya dan jadian dengan adik kelas. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Memang Reno tidak berperasaan, begitu umpatku. Tetapi akutidak benar-benar berani mengungkapkannya kepada Reno.
Jika aku bilang Reno kurang ajar, maka aku balik yang akankena serang dengan mulutnya yang setajam pisau dapur. NantiReno akan mengata-ngatai aku lagi jomblo permanen. Aku kesaldipanggil jomblo permanen. Bukan spidol aja yang permanen, tetapi aku juga dibilang jomblo permanen. Kalau masalahmenjelekkan teman memang Reno biang keroknya.
Sebelum pulang sekolah kami rapat kelas. Kami harusmempersiapkan lomba antar kelas, Porseni SMA. Porseni ataudisebut Pekan Olahraga dan Seni. Setiap cabang olahraga dan seni diperlombakan antar kelas. Ada kategori bola kaki, futsal, basket, tenis meja, volly ball, tari, baca puisi, drama, dan pidatokebangsaan.
Kami hanya diberikan waktu seminggu untuk mempersiapkankelas untuk mengikuti setiap kategori lomba. Aku hanya ikutkategori futsal dan bola kaki. Selebihnya aku menolak ketikaketua kelas menyuruhku mewakili kelas untuk kategorimembaca puisi. Aku malu jika nanti penampilanku tidak baik. Berbeda dengan bola kaki dan futsal, aku sudah suka dan hobisejak SMP. Sekarang aku sudah menjadi salah satu pemainandalan di timku. Maka aku harus membuktikan kualitaspermainanku pada Porseni SMA tahun ini.
***
Pertandingan bola kaki antara kelas XIA dengan XB, suarapembawa acara terdengar nyaring memberikan informasi denganpengeras suara. Aku terkejut. Tim dari kelasku harus berhadapandengan kelasnya Naira. Aku memanggil teman-teman tim sepakbola untuk segera menuju lapangan bola kaki. SMA kami memiliki lapangan bola sendiri. Jadi jika anak SMA inginberlatih atau bertanding tinggal izin kepada pihak sekolah sajauntuk memakainya.
"Ayo, cepat kamu pasang sepatu Reno! Nanti takutnya wasitmenggugurkan tim kita jika telat masuk lapangan," akumenegaskan Reno yang masih berlama-lama. Ia mengajakpacarnya untuk menonton tim kami bermain. Awalnya pacarnyatidak mau ikut menonton. Reno terus merayunya dan akhirnyapacarnya ikut juga menonton. Aku geleng-geleng kepala melihattingkahnya.
Wasit meniup peluit menandakan babak pertama akan dimulai. Aku deg-degan. Napasku naik turun. Aku menjadi kapten timbola untuk kelasku. Menjadi seorang pemimpin di lapangantidaklah mudah. Harus tetap tenang dan tidak boleh terpancingemosi. Jika terjadi apa-apa antara timku dengan tim lawan akuyang harus turun tangan untuk menenangkan.
Bola terus dioper dari kaki ke kaki. Timku mendominasipermainan. Aku sebagai gelandang serang menjadi pengaturserangan. Aku membawa bola ke arah pertahanan lawan. Reno sudah berdiri bebas di depan gawang. Aku mengumpan ke arahReno yang sedang berlari. Bolanya datar tetapi cukup kencang. Reno bebas dari perangkap offside. Bola antara Reno dan penjaga gawang.
Reno memang larinya sedikit lambat dan belum benar-benarbelum siap menerima sodoran bola dariku. Akhirnya penjagagawang keluar dari sarangnya dan mengamankan gawangnya. Serangan pertama tim kami gagal total.
Kini kami mendapatkan tekanan dari tim kelas XB. Seranganbalik dari tim lawan membuat pertahanan kocar-kacir. Karena gelandang dan penyerang dari timku sudah terlanjur di depan. Butuh waktu untuk kembali membantu pertahanan.
"Ayo, ayo, ayo, XB bisa. XB jadi pemenang, XB sang juara," para suporter dari kelas XB bersorak-sorak di tepi lapangan. Ada Naira Asqalani di antara yang bersorak-sorak itu. Aku jadikaget. Ini bisa membuat malu timku, terutama diriku jika timkukalah. Teman-teman kelasku tidak ada yang bersorakmenyemangati kami yang sedang bermain. Suporter tim lawansemakin heboh saja.
"Gol..." Suporter tim XB suaranya menggema. Timkukebobolan. Skor sementara satu kosong untuk kelas XB. Tim lawan merayakan gol mereka. Aku menunduk lesu. Keasyikanmenyerang dan lambat kembali bertahan membuat timku harusmemungut bola dari gawang. Aku mengusap kening yang berkeringat.
"Ayo...ayo...! Kita pasti bisa mengembalikan kedudukan," akumenyoraki teman-temanku yang terkulai lesu. Baru sepuluhmenit pertandingan berjalan. Kami sudah kebobolan satu gol. Inimembuat mental timku jatuh. Aku harus berjuang sekuat tenagadi lini tengah.
Naira terus saja menyoraki timnya. Aku jadi gugup. Aku harusbisa membuat Naira terkesan padaku. Aku berjuangmemenangkan duel di lini tengah. Permainan lawan semakintenang saja. Mereka memperlambat tempo permainan. Tim lawan mencoba mengulur-ulur waktu. Membuat timku semakinpanik.
Reno tidak bergerak lagi. Ia dikawal oleh dua orang pemainbelakang lawan. Ruang gerak Reno sangat sempit. Aku kesulitanuntuk mengumpan bola ke lini serang. Andino membantuserangan dari sisi kiri. Aku melihat pergerakan Andino. Akumengumpan bola atas ke Andino yang berlari kencang ke depan.
Andino bisa mengontrol bola dengan baik. Andino mencobamengolah bola dan mengecoh pemain belakang lawan. Reno memiliki sedikit ruang gerak. Ada celah besar di dalam kotakpinalti. Aku terus bergerak menusuk ke kotak pinalti.
Andino mengumpan bola ke Reno. Reno terus dikawal. Ia sulitmengontrol bola. Tapi Reno hanya menyentuh bola sedikit dan mengubah arah sedikit ke tengah. Aku datang dengan barlarikencang. Aku punya ruang untuk menendang bola ke dalamgawang.
Pemain belakang lawan segera mencoba menutupi ruangtembakku. Aku mencoba pura-pura menendang bola dan memutar sedikit arah ke kananku. Dua pemain terkecoh secarabersamaan. Lalu aku punya kesempatan untuk menendangdengan kaki kiri. Aku mengarahkan tendangan mendatar ke sisikiri penjaga gawang.
Penjaga gawang membaca tendanganku dan ia melompat untukmenepisnya. Ujung jari penjaga gawang bisa menyentuh bola, dikarenakan tendanganku terlalu kencang sehingga bola tidakbegitu berubah arah. Bola masuk ke dalam gawang. Skor berubah menjadi satu sama.
Suporter kelasku bersorak-sorak dan menyanyikan namaku. Akujadi bersemangat. Rasa lelah ditubuhku langsung hilang. TerlihatNaira dan teman-temannya terlihat kesal karena tim kami bisamenyamai kedudukan.
Permainan semakin sengit saja. Pelanggaran demi pelanggarantercipta. Perebutan bola selalu saja terjadi. Aku kesulitan untukmengola bola dan mengumpan. Tapi berkat stamina dan dayatahan tubuhku yang selalu dijaga membuat daya tahanku sangatbaik. Aku terus bergerak membuka ruang di lini tengah. Akutidak kelelahan walau selalu bergerak untuk bertahan dan membantu serangan.
Stamina tim lawan kehabisan. Aku memiliki banyak ruanguntuk bergerak. Aku bawa bola menusuk ke dalam jantungpertahanan lawan. Dua pemain belakang sedang menjaga Reno. Andino juga menusuk masuk ke kotak pinalti. Pemain bertahanlawan sulit untuk mengawal pergerakan kami.
Aku terus membawa bola, meliuk-liuk, membuka ruang, lalumenendang bola sekuat-kuatnya. Bola melaju di udara dengankencangnya. Sulit untuk dilihat penjaga gawang. Penjagagawang tidak menyangka aku akan menendang bola denganjarak sejauh itu.
Penjaga gawang tengah sibuk membaca pergerakan Reno dan Andino sehingga ia tidak menyangka aku senekat itu untukmenendang bola dari jarak jauh. Bola melaju kencang ke sudutkanan atas penjaga gawang. Bola masuk ke dalam gawang tanpabisa ditepis penjaga gawang. "Gol...gol..."
Kami bersorak-sorak gembira. Aku melompat tinggi ke udarauntuk merayakan gol keduaku. Teman-teman memelukku daribelakang. Kami unggul dua satu dari tim XB.
Pertandingan semakin ketat. Kartu kuning banyak dikeluarkanwasit. Hingga babak kedua berakhir skor dua satu untukkemenangan timku dari kelas XB. Aku menjadi pemain terbaikuntuk pertandingan tadi. Aku bisa mencetak dua gol. Dan berkatkepiawaianku mengolah bola di lini tengah bisa membuat timkumenang dan sanggup bertahan dengan baik.
Naira memandangiku saat aku keluar lapangan. Aku curi-curi pandang dengan Naira. Aku merasa bangga telah bermain baik. Apalagi aku bisa membuat Naira kagum padaku, aku yakin itu.
Naira Asqalani, gadis berkulit putih, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, ditafsir tingginya seratus enam puluh duasenti, bertubuh ramping tetapi enak dipandang. Wajahnya oval tetapi berdagu runcing dan hidung mancung. Gadis yang ideal untuk dijadikan pacar apalagi seorang istri.
Naira Asqalani, gadis yang senang dipanggil Naira. Kononkatanya, Naira adalah salah satu nama daerah kelahiran nenekmoyangnya. Keluarga Naira perantau di kampungku ini. TetapiNaira sudah lahir di sini. Nenek dan kakeknya yang berasal dariBanda Naira, Provinsi Maluku. Maka untuk mengenang tanahleluhurnya, Kakek Naira memberi namanya sesuai dengan tanahkelahiran leluhurnya. Alasannya nanti akan diceritakan lebihdetail.
Naira anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya ada dua orang laki-laki, kembar. Adik kembar Naira duduk di kelas dua SD. Naira tinggal di kampung sebelah dari kampungku, pantesan akubelum pernah melihatnya sebelumnya.
Naira memiliki dua teman, yang pertama Niskala, dan yang kedua Aurora. Mereka tiga sekawan yang selalu saja bersamakemana-mana. Naira, Niskala, dan Aurora satu kelas. Maka iajarang berpisah. Di kantin dan di dalam kelas selalu bersama. Jika disuruh oleh guru untuk berpisah karena beda kelompok, mereka akan menolaknya. Mereka akan membujuk gurunya agar bisa disatukan dalam satu kelompok. Tidak jarang mereka kenamarah karena itu. Tapi mereka tidak perduli.
***
Pertandingan antara kelasku dengan kelas XIIC dimulai. Merebut juara satu kategori sepak bola. Aku sebagai kapten timmerasa gugup. Ini adalah pertandingan penentu. Aku harusmenang dan beban tim ada di pundakku.
Tim kelas XIIC adalah juara bertahan sepak bola tahun lalu. Pemainnya sudah berpengalaman. Aku harus melawan seniorkusendiri. Tapi seminggu ini aku dan teman-teman kelas sudahberlatih sekuat tenaga. Berlatih kebugaran, ketahanan, kecepatan, kelincahan, dan strategi.
Kami harus memenangkan pertandingan final ini. Tidak adapilihan lain agar aku menjadi salah satu idola baru di tahun ini. Tahun lalu tim sepak bola kelasku langsung kalah pada pertandingan pertama. Sekarang tim kelasku dibilang tim kudahitam oleh kelas lain. Tidak diunggulkan tetapi bisa meraihkemenangan dramatis.
Pertandingan sembilan puluh menit waktu normal sangatlahpanjang. Tetapi bisa saja terasa sebentar jika kita tertinggal gol. Tim harus butuh gol untuk menyamakan dan berbalik unggul.
Pertandingan sangat ketat dan sengit. Aku diganjar kartu kuningoleh wasit. Pemain belakang lawan terkena kartu merah. Pemainlawan harus bermain sepuluh orang. Setelah pemain belakanglawan menjatuhkan Reno di kotak terlarang. Berbuah pinaltiuntuk timku. Aku yang dipercaya menjadi algojo pinalti suksesmenyarangkan bola di sudut kanan atas gawang. Penjagagawang tidak sempat menghalau tendanganku yang kencang dan terarah. Bola tepat di sudut kanan atas. Sangat sulit untukdijangkau penjaga gawang di mana pun. Skor satu kosong untukkemenangan timku hingga peluit panjang dibunyikan wasit.
Aku menjadi pemain terbaik kategori sepak bola Porseni SMA untuk tahun ini. Aku mendapatkan piala pemain terbaik. Banyak anak-anak yang minta berfoto denganku. Baik yang laki-lakimaupun perempuan. Aku menunggu-menunggu Naira memintafoto denganku. Aku mencoba mencari di mana Biara. Tapi akutidak menemukannya.
Aku bahagia sekali bisa memenangkan pertandingan final kali ini. Tapi kebahagiaanku belum sempurna karena tidakmendapatkan perhatian khusus dari Naira. Aku berharap jikatimku memenangkan pertandingan maka Naira akanmenemuiku. Aku akan jadi idola selama satu tahun kedepannya. Naira akan terkagum-kagum kepadaku. Singkat cerita aku bisaberkenalan dengan Naira dan bertukar nomor telepon.
Tapi harapan dan angan-anganku hanya tinggal mimpi. Naira menghilang dan tidak tahu kemana setelah timku memenangkanpertandingan final. Saat awal pertandingan dimulai aku melihatNaira bersama teman-teman di pinggir lapangan. Pada babakkedua aku tidak melihatnya lagi. Apakah Naira pindah posisimenonton? Aku tidak tahu pasti.
Acara puncak Porseni SMA tahun ini ditutup oleh kepalasekolah. Sekaligus penyerahan hadiah untuk semua kategoripemenang. Aku naik podium untuk menerima piala kategorisepak bola. Aku merasa di atas angin. Aku seperti pemain bola nasional. Aku sungguh bangga sekali. Kami merayakankemenangan timku dengan membawa piala berlari kelilinglapangan sembari berteriak juara.
Porseni SMA tahun ini telah usai. Naira mendapatkan juara satukategori lomba bernyanyi. Tetapi ia diwakili oleh temankelasnya untuk mengambil piala. Naira tidak kelihatan. KemanaNaira?
***
Waktu terus saja berlalu tanpa bisa dihentikan. Sudah tiga bulantahun ajaran baru berjalan. Tugas semakin banyak, ruangbermain semakin sedikit, pikiran dibebani dengan tugas dan tugas. Ruang gerakku semakin dibatasi. Sibuk dengan tugassekolah yang tidak pernah henti-hentinya.
Lambat-laun aku sebagai pemain terbaik kategori sepak bola semakin lama semakin dilupakan. Piala pemain terbaik di rumahku tidak bisa dibanggakan lagi. Aku sekarang menjadisiswa biasa. Tidak lagi diidolakan oleh kaum hawa. Aku tidakbersedih. Hanya saja kenapa terlalu cepat waktu berlalu. Akutidak mengumpat-umpat.
Naira belum juga aku bisa taklukkan. Apanya ditaklukkan? Mendapatkan nomor teleponnya saja sampai saat ini belum juga dapat. Aku tidak berani menemui Naira langsung ke kelasnya. Jika Reno tahu aku senekat itu pasti aku akan jadi bahanomongan. Untung saja jika misiku berhasil. Jika gagal malahakan menjadi bahan olok-olokan sepanjang hari. Aku tidak siapdengan resiko itu.
Aku terus mencari-cari waktu untuk bisa bertemu dengan Naira. Tapi tetap saja tidak bisa. Naira tidak pernah sendiri, ia selalubersama teman-temannya. Jika ia bersama temannyakeberanianku menciut. Aku pura-pura membelok jalan ke arahlain dan tidak berani bersisian dengan Naira.
Tapi aku selalu saja mencari waktu untuk bertemunya. Di sela-sela istirahat. waktu mau pulang, aku berharap bisa bertemudengan Naira di parkiran. Tapi tidak pernah terwujud. Angan-angan hanya tinggal angan-angan. Tidak benar-benar pernahmenjadi kenyataan.
"Kamu kemana aja, Rianda? Selepas makan di kantin tiba-tibasaja menghilang. Kamu janjian sama gebetan ya?" Reno mengintrogasiku. Aku terasa dipojokkan. Apakah Reno memata-mataiku? Aku terdiam.
"Mana ada. Aku ada perlu di perpustakaan," aku mengarangalasan. Kebetulan kelasnya Naira memang di sebelah pustakasekolah. Jadi di saat aku mau ketemu Naira dan ternyata Naira bersama temannya aku langsung pura-pura ke perpustakaan. Membaca novel dan beberapa karya sastra lainnya. Setelah bosan aku akan keluar dari perpustakaan. Kemudian kembalimenjadi pengintai. Mengintai Naira secara diam-diam.
Aku tetap saja menyembunyikan perasaan suka kepada Naira dari teman-temanku. Aku simpan rasa suka dan kagumku ituserapi mungkin. Aku tidak ingin siapapun tahu soal itu. Tidakjuga dengan orang tuaku. Aku menjadi pendiam.
Pada suatu pagi, aku terlambat datang ke sekolah karena adasedikit insiden di rumah. Aku buru-buru berlari di lorongsekolah. Tanpa sengaja aku menabrak seorang siswi. Akuterjatuh. Tetapi siswi itu hanya terpeleset sedikit. Aku mencobamengelakkan siswi itu sehingga aku yang terpelanting jauh.
"Hai, kamu Rianda pemain terbaik kategori sepak bola itu ya?" Tanya siswi itu. Aku hanya diam. Aku terkejut. Siswi ini kantemannya Naira, aku membatin.
"Iyaa...Kenapa?" Tanyaku sembari membantu teman Naira itumerapikan buku-buku yang berserakan karena tabrakan tadi.
"Ada temanku kagum pada permainanmu. Kamu tidak apa?" Aku belum bisa merapikan diri. Teman yang dimaksud ituapakah Naira?
"Tidak. Tidak, aku baik-baik saja. Maaf aku buru-buru," kata-kata yang tidak beraturan itu keluar dari mulutku. Teman Inayaitu diam sejenak.
"Siapa temanmu itu?" Tanyaku balik, aku gelagapan.
"Naira. Naira Asqalani teman kelasku." Jantungku berdetakkencang. Naira mengagumiku. Aku belum percaya itu. TemanNaira buru-buru izin pergi ke kelasnya.
"Apakah aku boleh meminta nomor telepon Naira?" Aku tidaksadar menjadi seberani itu. Aku tidak ingin menyia-nyiakankesempatan emas ini. Teman Naira itu berbalik dan berhentisejenak.
"Nanti sepulang sekolah tunggu aku di parkiran. Aku akan kasihnomor telepon Naira padamu. Sekarang aku tidak membawatelepon genggamku. Jadi aku tidak ingat nomornya," temanNiara melambaikan tangan. Ia tergesa-gesa pergimeninggalkanku yang belum benar-benar bisa mengendalikandiri.
Mimpi apa aku semalam. Petaka membawa nikmat. Takmengapa aku tertabrak seperti ini asalkan bisa mendapatkannomor teleponnya Naira. Dadaku terasa mengembang. Akuberjalan dengan gagahnya menuju kelasku. Aku sangat senangsekali pagi itu. Tidak mengapa aku dihukum guru karenaterlambat. Biarlah, tak mengapa.
Selama jam pelajaran aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku tidaksabar menunggu bel pulang berbunyi. Pikiranku tidak lagi ada di kelas. Hanya raga saja di dalam kelas.
Aku membayangkan bisa berkenalan dengan Naira. Membicarakan banyak hal. Tentang hobi, warna kesukaan, makanan kesukaan, dan apa saja yang membuat kami bahagia. Aku menjadi lelaki yang bahagia jika itu jadi kenyataan.
Aku senyum-senyum sendiri saat guru menjelaskan pelajaran. Pikiranku benar-benar tidak ada di ruang kelas. Aku tidak sabarwaktu pulang tiba. Jam di tanganku terlihat enggan bergerak. Aku jadi tidak sabaran. Aku pandangi teman-teman satu persatu. Mereka fokus mendengarkan guru di depan.
Ibu guru seolah-olah berceramah mengenai unsur-unsur intrinsikdan ekstrinsik yang ada dalam sebuah novel. Pelajaran bahasaIndonesia salah satu yang aku suka. Tapi untuk hari ini aku tidakbisa fokus. Aku sedang berada di dunia lain. Dunia yang akusaja bisa mengendalikannya. Sesuka dan sesenangku saja.
Ibu memberi tugas membaca satu novel di rumah. Terserahnovel apa saja. Nanti tentukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Aku mencatat tugas yang diberikan guru. Tidaklama kemudian bel pulang berbunyi. Aku melompat kegirangan. Teman-temanku memandang dengan aneh. Aku seperti anak-anak SD saja senang mendengar suara bel pulang.
Aku melihat ke teman-temanku. Mereka meledekku. Aku tidakpeduli lagi. Aku kemasi peralatan sekolah, seperti buku paket, buku catatan, pen, dan keperluan belajar lainnya. Ketua kelasmemimpin doa pulang. Aku berdoa dengan semangat. Suarakupaling lantang. Seisi kelas jadi keheranan.
"Anak stres plus galau," ujar Reno kepadaku. Aku tidakmenghiraukannya. Reno terlihat kesal. Aku menyalami guru dan langsung menuju tempat parkir. Aku berjalan dengan kencang. Aku lihat Reno ke belakang. Ia tidak menyusulku.
Tempat parkir sepeda motorku dengan Reno berbeda. Dikarenakan arah jalan kami pulang pun berbeda. Jadi kami berpisah di pintu kelas dan menuju parkiran masing-masing.
Aku merasa lega tidak diawasi Reno. Aku duduk di atas sepedamotorku menunggu temannya Naira datang. Teman-teman yang lain sudah pada pulang. Mereka mengambil sepeda motornya, menghidupkan, dan tancap gas. Aku senyum dan sekedarmenyapa siapa saja posisi motornya yang berada di sebelahmotorku.
Aku semakin gelisah. Kenapa temannya Naira belum juga datang. Sudah sekitar sepuluh menit aku menunggu sendiri. Sekolah sudah mulai sepi. Apakah teman Naira lupa denganjanjinya tadi? Pikiran yang aneh-aneh menghantuiku. Akumelihat ke sekeliling sekolah. Anak-anak sudah pada pulang. Di parkiran hanya tinggal beberapa motor saja lagi.
Aku semakin gelisah. Haruskah aku pulang saja. Ataumenunggu sebentar lagi. Aku menggaruk pinggang yang tidakgatal. Dadaku terasa naik turun. Deg-degan tidak menentu. Keringat dingin mengalir di leherku. Aku melihat ke arah kelastidak ada orang lagi. Aku mencari kunci sepeda motorku. Di saataku ingin menghidupkan motor aku dikagetkan dengan sebuahsuara.
"Ternyata masih sanggup menunggu," aku melihat ke arahsumber suara. Aku terperanjat. Ada Naira dan temannya. "Eeh, tidak. Tidak mengapa." Aku tidak karuan, sulit untukmengendalikan diri. Ada wanita yang aku sukai sudah berbulan-bulan lamanya. Aku tidak sanggup menatap wajahnya yang ayu.
"Katanya kamu ingin berkenalan dengan Naira?" Teman Naira langsung menodongku. Aku benar-benar belum siap dengankenyataan ini. Aku berkhayal pertemuan ini seindah mungkin. Tetapi kenapa begini. Aku menjadi lelaki yang penakut.
“Iya, kenalkan aku Rianda anak kelas XIB," aku mengulurkantangan kepada Naira. Naira menunggu beberapa detik lalumenjabat tanganku. "Aku Naira Asqalani," senyuman Naira sungguh tidak bisa aku jelaskan dengan kata. Tangannya lembut, kulitnya putih bersih.
"Sudah! Jangan terlalu lama berjabat tangannya!" ternyatatemannya Naira cerewet juga, aku membatin. Aku melepaskanjabatan tangannya.
"Maaf membuat lama menunggu. Tadi aku harus piket kelasdulu," ujar Naira. Aku mengangguk. Suaraku terasa tertahan. Bibirku terasa terkunci rapat.
"Iya, tidak mengapa. Aku cuma menunggu sebentar. Tidaklahlama. Senang berkenalan dengan Naira," kalimat itu terbata-batakeluar dari mulutku. Bibirku terasa bergetar. Keringat dinginkuterus saja mengalir.
"Iya, senang juga berkenalan denganmu," Naira merapikantasnya yang miring ke kanan. Teman Naira berdiri di sampingNaira. Menjadi saksi bisu pertemuan pertama antara aku dan Naira. Berkat ia juga aku akhirnya bisa bertemu dengan Naira secara khusus.
"Boleh berbagi nomor teleponnya!?" Kata-kata itu keluar begitusaja dari mulutku tanpa aku sadari. Aku begitu nekat. Nekat atautidak tahu diri. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku tidak inginmembuang-buang kesempatan ini. Sudah berbulan-bulan akumenunggu kesempatan ini.
"Boleh, bentar ya!" Naira membuka tasnya dan mengambilkertas kecil. Kemudian Niara menulis nomor teleponnya di sana. Lalu ia memberikannya kepadaku. Aku menerima kertas berisinomor telepon Naira tersebut. Hatiku sangat senangnya sekali.
"Aku pamit ya!" Naira melambaikan tangan menandakan ia tidak punya waktu lagi untukku. Aku mengangguk dan tersenyum. Entah senyumanku itu senyuman paling termanisyang aku punya. Aku tidak tahu itu. Aku telah berusahatersenyum. Tapi aku benar-benar tidak karuan saat pertama kali bertemu secara langsung dengan Naira.
Aku menghidupkan sepeda motor dan langsung tancap gas menuju rumah. Aku bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan. Hari yang indah penuh warna. Langit hijau dan cuaca sungguh cerah. Terlebih hatiku juga cerah dan sempurna.