Bab 1

London, UK.

Seorang wanita cantik berlari menghampiri sahabatnya yang tengah menikmati makan siangnya di salah satu caffe. Wanita cantik ini melepaskan heels-nya, berlari ke arah sahabatnya.

“Miranda, lari!” Suara teriakan wanita cantik bernama Helen membuat Miranda terkejut.

“Ada apa, Helen?” tanya Miranda yang panik dan cemas melihat Helen berlari ke arahya.

“Tidak ada waktu sekarang! Kita harus berlari! Anak buah ayahmu mengejarku!” seru Helen dengan napas yang tersengal-sengal. Dia menyentuh dadanya, mengatur napasnya.

Miranda menoleh ke belakang, seketika dia terkejut mendapati enam orang anak buah ayahnya sedang berlari menghampirinya. “Damn it!” umpatnya dengan tangan terkepal kuat.

Tanpa menunggu lama, Miranda langsung melepas sepatu heels-nya, menarik tangan Helen dan berlari meninggalkan caffe itu. Suara teriakan memanggil nama Miranda membuat Miranda semakin menambah kecepatannya.

“Miranda sialan, kenapa kau harus menyusahkanku!” gerutu Helen, sahabat Miranda yang ikut berlari kini napasnya begitu tersengal-sengal. Kaki Helen sudah tidak mampu lagi berlari kencang. Sesaat dia melirik ke belakang, keenam anak buah dari ayah Miranda masih terus mengejarnya.

“Berisik kau, Helen! Ini bukan waktunya kau mengeluh.” Miranda terus berlari, sesekali dia pun menoleh ke belakang. Kini mata Miranda menatap sebuah gudang kosong. Dengan cepat Miranda menarik tangan Helen untuk bersembunyi di gudang kosong itu.

Miranda dan Helen langsung duduk di lantai dengan kaki yang diluruskan. Mereka tidak lagi memedulikan pakaian yang mereka pakai akan kotor atau tidak. Napas mereka tersengal-sengal. Kaki mereka bahkan tidak mampu lagi berdiri.

“Miranda, kau sungguh menyusahkan hidupku! Anak buah ayahmu terus mengikutiku! Kenapa kau tidak pulang? Orang tuamu sudah menunggumu! Jika aku tahu seperti ini, aku akan lebih dulu berangkat ke Las Vegas. Menikmati liburanku mencari pria tampan di sana,” seru Helen kesal. Dia memijit pelan kakinya yang sakit karena berlari kencang. Kakinya begitu sakit, akibat terus berlari. Sejak tadi Helen berlari kencang karena menghindari anak buah dari ayah sahabatnya ini.

“Kau ini kenapa perhitungan sekali! Anggap saja kau sedang berolahraga,” jawab Miranda seenaknya.

Helen mendengkus. “Lari dari kejaran anak buah ayahmu, kau katakan sama dengan berolahraga? Hebat sekali kau Skyla Miranda Spencer. Otakmu begitu cerdas.”

“Sudahlah jangan mengeluh, besok penerbangan kita ke Las Vegas. Aku ingin menikmati hidupku sebelum mendapatkan tanggung jawab sialan itu,” jawab Miranda yang kesal.

Perkataan Miranda sukses membuat Helen tertawa rendah seraya menggelengkan kepalanya. “Tanggung jawab sialan? Kau sungguh lucu, Miranda. Kau diminta ayahmu memimpin hotel keluargamu. Kau juga sudah menyelesaikan master degree-mu. Tiga bulan sudah sejak kau lulus, tapi kau masih belum kembali ke Roma. Itulah yang membuat ayahmu murka dan meminta anak buahnya menarik paksa dirimu. Jika saja kau menurut, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Kau sangat mengenal dengan baik sifat keras ayahmu, tapi kau malah selalu membuat ayahmu marah.”

Skyla Miranda Spencer, seorang wanita yang sangat cantik berusia 22 tahun. Berambut pirang dan berkulit putih serta memiliki warna mata perak, membuat dirinya tampak begitu sempurna. Miranda baru saja menyelesaikan master degree di University of Cambridge. Miranda lulus dengan nilai yang memuaskan. Lulus dengan predikat cumlaude membuat kedua orang tuanya bangga atas dirinya.

Namun Miranda tidak sesempurna itu. Di balik parasnya yang cantik dan otaknya yang cerdas. Miranda terkenal pemberontak. Miranda selalu menentang keinginan sang ayah. Sifat Miranda yang keras, sering kali bertengkah dengan ayahnya. Lebih tepatnya, Miranda tidak pernah ingin menerusakan bisnis keluarganya. Jika saja Miranda memiliki pilihan, sudah pasti dia memilih meninggalkan Roma dan memilih tinggal di negara yang dia inginkan. Tentu jauh dari ayahnya yang selalu melarang dirinya itu.

Miranda mendengkus, menatap kesal Helen. “Aku tidak ingin memimpin hotel keluargaku. Aku ingin menjadi model. Tapi orang tuaku menentang. Memangnya apa salahnya menjadi seorang model? Aku yakin jika nanti aku menjadi seorang model, pasti aku akan menjadi model yang sangat terkenal. Tidak bukan hanya itu, tapi aku juga yakin, diriku mampu berada di puncak tertinggi karirku. Jika saja ayahku tidak menentang impianku, maka sudah pasti aku akan mewujudkan apa yang telah menjadi mimpiku sejak dulu.”

Helen terkekeh pelan. “Kau sungguh menyusahkan hidupmu, Miranda. Kau cukup duduk manis tanpa harus bekerja keras kau sudah sangat kaya. Kau sangat aneh, jika aku berada di posisimu maka aku akan menikmati hidupku. Aku tidak perlu lagi memikirkan sulitnya mencari uang. Dengan apa yang aku miliki, aku bisa membelikan apa pun yang aku inginkan. Andai posisi bisa ditukar, maka aku akan menukar menjadi dirimu.”

“Diamlah, Helen! Aku tidak ingin mendengar nasihatmu. Lebih baik pikirkan besok. Besok kita harus bersenang-senang, aku ingin menikmati kebebasan, sebelum kembali ke Roma,” ujar Miranda dengan senyuman di wajahnya.

“Ya, ya. Kau benar. Kita memang harus bersenang-senang. Aku juga ingin mencari pria tampan di sana,” balas Helen yang juga tersenyum seraya membayangkan dirinya mendapatkan pria impiannya di sana.

“Terserah! Sekarang aku ingin tanya, bagaimana dengan koperku? Apa semuanya sudah pindah ke apartemenmu?” tanya Mirada sambil menatap Helen.

Helen berdecak pelan. “Sudah, aku sudah memindahkan kopermu ke apartemenku. Sungguh, kau itu benar-benar menyusahkan hidupku, Miranda. Barang-barangmu begitu banyak di dalam apartemenku. Dan kau harus tahu, karena aku membantumu memindahkan barang-barangmu itu, aku jadi gagal pergi berkencan dengan seorang pria yang baru saja kemarin aku berkenalan dengannya.”

Miranda tertawa renyah. “Pria mana yang sedang dekat denganmu? Kau ini bahkan selalu mengganti priamu dalam hitungan minggu. Aku saja sampai tidak bisa mengingatnya.”

Helen mendengus. “Kau ini sungguh menyebalkan. Itu namanya tidak ada kecocokan. Lagi pula, aku yakin suatu saat akan menemukan pria yang terbaik di hidupku,” jawabnya dengan penuh percaya diri.

Miranda menggeleng pelan. “Terserah kau saja, Helen. Kepalaku pusing melihat kau begitu banyak berkencan dengan pria yang berbeda.”

“Apa kau ini ingin menjadi biarawati, Miranda? Bahkan kau tidak pernah berkencan. Kau sungguh menyukai seorang pria, kan? Aku hanya takut kau tidak normal. Kita terlalu dekat, orang sering berpikir kau ini tidak menyukai pria,” tukas Helen yang sengaja mnyindir Miranda. Kedekatannya selama ini dengan Miranda, membuat banyak orang yang menganggap mereka sepasang kekasih. Pasalnya, Miranda belum juga memiliki pasangan. Jika ditanya alasannya, tentu karena Miranda menginginkan pria yang sempurna untuk hidupnya. Sejak dulu, Miranda terkenal pemilih dalam pria. Dia tidak mudah jatuh cinta pada seorang pria.

Miranda berdecak pelan. “Sialan kau, Helen. Siapa yang ingin menjadi biarawati. Aku hanya menunggu seorang pria yang membuatku jantungku berdetak kencang ketika berada di dekatnya. Selain itu aku juga menginginkan pria sempurna untukku. Aku tidak mungkin memilih pria sembarangan. Aku ingin pria yang tepat dan pantas bersanding denganku,” jawabnya dengan nada angkuh.

Helen memutar bola matanya malas. “Terserah, lebih baik kita pulang ke apartemenku. Aku ingin segera berendam. Tubuhku sangat lelah berlari sekencang tadi. Pengalaman gila bersamamu selalu dikejar anak buah ayahmu, membuat tubuhku remuk. Sudah, aku tidak ingin lagi dikejar oleh ayahmu.”

“Setelah ini, aku harus segera melakukan berbagai perawatan kulitku. Besok kita sudah berangkat. Aku ingin tampil sempurna ketika bertemu pria-pria tampan di sana.” Helen melanjutkan perkataannya seraya membayangkan pria-pria yang nanti dia temui di Las Vegas.

Miranda menggeleng tak percaya dengan apa yang dia dengar itu. “Ya sudah, kita pulang ke apartemenmu sekarang. Hari ini, aku akan mentraktirmu makan. Besok kita akan ke Las Vegas, kita akan bersenang-senang. Tenang saja, anak buah ayahku tidak akan lagi mengejar kita.”

“Good, itu yang aku harapkan,” tukas Helen. “Ingat, kau juga harus membayar perawatanku, karena anak buah ayahmu, tubuhku jadi remuk seperti ini.”

“Berisik sekali kau, Helen. Nanti aku akan membayarnya. Kau tenang saja,” balas Miranda dengan tatapan kesal pada sahabatnya itu.

Kemudian, Miranda bangkit berdiri, lalu dia mengulurkan tangannya membantu Helen berdiri. Dengan kaki telanjang dan tangan yang memegang sepatu heels mereka. Mereka meninggalkan gudang kosong itu dan segera kembali ke apartemen, mempersiapkan barang yang akan mereka bawa ke Las Vegas.

Bab 2

Las Vegas, Nevada.

Sebuah klub mewah di Las Vegas ini menjadi salah satu tempat yang sering didatangi oleh para artis dan kalangan atas. XS Nightclub, klub mewah yang berada di Las Vegas ini tidak pernah sepi. Setiap harinya selalu ramai dengan para pengunjung. Kehidupan malam di Las Vegas memang sudah terkenal.

Miranda dan Helen yang sudah tiba di Las Vegas tadi pagi. Mereka langsung mengunjungi XS Nightclub, Mereka sudah tidak sabar untuk bersenang-senang menikmati kebebasan mereka. Terutama Miranda, dia harus bersenang-senang sebelum kembali ke Roma

Miranda melangkah masuk ke dalam club malam. Tubuhnya telah terbalut oleh mini dress berwarna gold yang terlihat begitu sempurna. Sangat seksi, dress ini benar-benar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Begitu pun Helen, tidak kalah cantik dari Miranda. Helen mengenakan mini dress berwarna merah dan lipstik merah. Warna merah yang begitu terlihat menggoda.

Miranda dan Helen duduk di kursi tepat di hadapan bartender, mereka langsung memesan vodka. Tidak lama kemudian, bartender memberikan vodka yang telah mereka pesan pada Miranda dan Helen. Mereka pun langsung menyesap minuman mereka perlahan seraya menikmati suara dentuman musik.

“Miranda, apa kau tidak lihat? Pria di ujung sana terus memperhatikanmu,” ucap Helen yang tak lepas menatap pria itu dengan sebuah tatapan kagumnnya.

Miranda menaikkan sebelah alisnya, dia menatap seorang pria yang tengah bersama dengan beberapa wanita di sekelilingnya. Pria itu memang sangat tampan. Namun dengan cepat Miranda mengalihkan pandangannya, kala dia melihat salah satu wanita di sana, tiba-tiba mencium bibir pria itu. Rasanya menyebalkan sekali kalau dirinya melihat adegan mesra seperti ini. Sial, sejak dulu Miranda memang membenci melihat dua insan yang bermesraan di hadapan publik.

“Tidak perlu kau pedulikan, apa kau tidak lihat? Pria itu dikelilingi banyak wanita,” Miranda memesan kembali vodka yang ada di tangannya, lalu menenggaknya hingga tandas.

“Tapi kau lebih cantik daripada wanita-wanita di sana,” tukas Helen meyakinkan. “Ya sudah, lebih baik kita berdansa saja. Kita bisa mendapatkan pria tampan di sana,” lanjutnya seraya melirik para pria yang ada di sekitarnya.

“Tidak, kau saja, aku sedang tidak ingin,” tolak Miranda cepat. Dia terus menenggak vodka yang baru diberikan oleh bartender.

Helen berdecak kesal. “Kalau begitu kau tunggu di sini, aku ingin bersenang-senang. Aku ingin mencari pria untuk menemani malamku,” ujarnya dengan senyuman di wajahnya.

Miranda mengibaskan tangannya sebagai jawaban membiarkan Helen, mencari apa yang dia inginkan. Dengan senang hati, Helen langsung beranjak dari tempat duduknya, dia menuju lantai dansa.

“Vodka, please,” ucap Miranda pada sang bartender tepat di saat Helen meninggalkannya.

“Alright, Miss.” Sang bartender pun memberikan vodka pada Miranda.

Miranda kembali menenggak vodkanya. Entah sudah gelas keberapa, dia pun tidak peduli. Dengan minum, segala beban yang ada di pikirannya akan menghilang.

“Sepertinya kau terlihat begitu kesepian. Temanmu memilih berdansa dengan para pria, tapi kau memilih duduk di sini menyendiri.” Suara bariton menyapa, sontak membuat Miranda sedikit terkejut, dan langsung mengalihkan pandangannya.

“Kau—” Kening Miranda berkerut, menatap sosok pria tampan yang berdiri di sampingnya. Miranda bersumpah, pria yang berdiri di sampingnya, begitu tampan. Rahang tegas, rambut cokelat gelap serta manik mata cokelat dan tubuh tegapnya, membuat pria itu benar-benar sempurna.

“Apa kau sejak tadi memperhatikanku?” Pria itu kini duduk di samping Miranda, dia menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada bartender untuk memberikannya minuman. Sang bartender pun memberikan wine untuk pria itu. Kemudian, dia mengambil minumannya dan menyesapnya perlahan.

Miranda melirik sekilas pria yang duduk di sampingnya. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang kala duduk di samping pria itu. Namun dengan cepat Miranda bersikap tenang dan seolah dirinya tidak peduli. “Untuk apa kau di sini? Kau bukannya tadi bersama dengan para wanita?” ucapnya seraya menyesap minumannya dan tampak mengabaikan pria itu.

Pria itu terkekeh dengan suara rendah yang terdengar begitu seksi. “Jadi benar, kau tadi memperhatikanku?”

“Tidak,” Miranda meletakkan gelas sloki di tangannya ke atas meja, lalu mengalihkan pandangannya ke pria yang berdiri di sampingnya itu. “Aku tidak memperhatikanmu. Aku hanya tidak sengaja melihatmu. Sekarang lebih baik kau kembali pada wanitamu, Tuan. Aku tidak ingin dia memikirkan hal buruk tentang diriku,” lanjutnya mengingatkan.

Pria itu kembali terkekeh, dia tak lepas menatap Miranda. “Mereka bukan wanitaku. Kau jauh lebih menarik di mataku daripadanya.”

“Dia bukan wanitamu?” Miranda menautkan alisnya, menatap pria itu dengan begitu lekat.

“Ya,” Pria itu menyesap kembali wine yang ada di tangannya. “Berciuman dengannya, bukan diartikan sebagai pasangan kekasih, bukan? Lagi pula, sejak kau masuk ke dalam klub malam, tatapanku tidak lepas menatap dirimu. Dan aku rasa bukan hanya diriku. Tapi kau mampu menarik perhatian para pria di sini.”

Miranda tersenyum tipis. “Berikan aku alasan kenapa kau harus menatapku? Masih banyak wanita yang lebih cantik. Harusnya kau menatap wanita lain bukan diriku.”

“Well, sayangnya apa yang kau ucapkan salah.” Pria itu mendekat ke arah Miranda. Kini jarak di antara keduanya begitu dekat. Hingga membuat jantung Miranda berdegup kencang. Miranda mengumpat kala dia merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Dengan cepat Miranda berusaha bersikap dingin. “Kenyataannya, kau jauh lebih cantik dari wanita di sini.” Pria itu kembali melanjutkan perkataannya dengan nada rendah yang terdengar begitu menggoda—dia kembali menyesap wine yang masih ada di tangannya, dan tatapan yang terus menatap manik mata perak Miranda.

Miranda tersenyum miring. “Aku tidak mempan dengan rayuanmu, Tuan. Simpan saja rayuanmu untuk wanita lain,” tukasnya dengan nada sinis.

Pria itu tertawa rendah mendengar perkataan Miranda. Sedangkan Miranda, tak henti menatap pria itu yang tengah tertawa. Ya, Miranda benar-benar mengakui, pria yang berdiri di sampingnya ini mampu menggoda para wanita. Tubuhnya yang terbalut dengan kemeja slim fit, dada bidang dan otot lengannya benar-benar sempurna. Miranda berusaha mengalihkan pandangannya, tapi nyatanya matanya tak ingin lepas menatap pria itu.

“Aku tidak suka merayu, Nona. Aku hanya berkata sesungguhnya. Dan aku mengakui kau memang jauh lebih cantik dari wanita di sini,” jawab pria itu dengan seringai di wajahnya.

Miranda hanya tersenyum tipis. Dia tidak lagi menjawab perkataan pria itu. Tiba-tiba kepalanya semakin memberat. Entah sudah berapa gelas dia menenggak vodka di tangannya. Namun, meski pengaruh alkohol itu membuat tubuhnya hampir ambruk, tapi Miranda masih melihat dengan jelas wajah pria yang ada di sampingnya itu.

Kemudian, tatapan Miranda teralih pada sosok wanita yang berambut cokelat tidak jauh darinya, yang menatap pria yang berada di sampingnya itu. “Lebih baik kau merayu wanita yang di sana. Dia terlihat begitu mengagumimu. Aku yakin, tidak masalah baginya untuk bercinta satu malam denganmu,” ujarnya memberi tahu.

Pria itu melirik sekilas wanita yang dimaksud Miranda. Tepat di saat dia melihat ke arah wanita yang duduk tak jauh darinya, dia pun hanya menyunggingkan senyuman tipis. Lalu dia kembali menatap Miranda seraya berkata, “Kau jauh lebih cantik dan menarik darinya.”

Miranda tersenyum sinis seraya menggelengkan kepalanya. “Kau benar-benar seorang perayu, Tuan.”

Pria mengangkat bahunya tak acuh. Kemudian dia semakin mendekat ke arah Miranda. Namun, tiba-tiba tubuh Miranda hampir ambruk. Dengan cepat pria itu langsung merengkuh pinggang Miranda. “Kau sudah mabuk,” dia berbisik serak di telinga Miranda.

“Tidak, aku tidak mabuk.” Kini Miranda mengaitkan tangannya ke leher pria itu, saat tubuhnya benar-benar tidak mampu berdiri. Miranda mencium aroma parfume di tubuh pria itu. Parfume maskulin yang benar-benar menggodanya. Sesaat dia dan pria itu saling menatap satu sama lain. Sebuah tatapan yang tak mampu Miranda hindari.

“Apa kau ingin berdansa denganku?” Pria itu mengelus pipi Miranda dengan begitu lembut. Serta menatap lekat manik mata perak Miranda.

Miranda bersumpah, tatapan pria itu benar-benar menghipnotis dirinya. Dia bahkan tidak mampu rasanya jauh dari pria itu. Alkohol sialan, membuat dirinya tidak mampu menjauh dari pria yang kini berada di hadapannya. Jika bukan karena pengaruh alkohol, mungkin dirinya masih bisa menjauh.

“Apakah aku harus menerima tawaranmu?” jawab Miranda dengan senyuman di wajahnya. Sebuah senyuman yang terlihat begitu menggoda.

Bab 3

Pria itu menyeringai, kemudian dia mendekatkan bibirnya ke telinga Miranda seraya berbisik dengan nada rendah, “Akan lebih bagus jika kau menerimanya. Aku ingin berdansa dengan wanita secantik dirimu. Dan aku rasa, kau juga menginginkan berdansa denganku.”

Miranda tertawa pelan. Lalu dia membawa tangannya mengelus rahang pria itu. “Sudah berapa banyak wanita yang berhasil kau rayu? Aku yakin, banyak wanita yang terjebak dengan rayuanmu itu, Tuan. Dari bicaramu, kau perayu yang begitu handal.”

Pria itu tersenyum tipis, lalu dia menarik dagu Miranda—mendekatkan bibirnya ke bibir Miranda dan mengecupnya. “Aku tidak perlu merayu wanita. Karena wanita yang selalu datang padaku. Mereka akan selalu bertekuk lutut padaku, tanpa harus aku merayunya. Sangat berbeda denganmu.”

“Well, tampaknya aku begitu special,” Miranda kembali tertawa rendah. Tanpa Miranda sadari, dia begitu berhasil menarik perhatian pria yang ada di sampingnya itu.

“Ya, kau memang sangat special.” Pria itu menangkup kedua pipi Miranda, awalnya dia hanya mengecup bibirnya. Namun perlahan, kecupan itu tergantikan dengan sebuah lumatan yang begitu lembut, hingga membuat Miranda tak mampu menolaknya. “Berdansalah denganku.” Dia berbisik tepat di depan bibir Miranda.

Miranda mengangguk sebagai jawaban dia menyetujui ajakan pria itu untuk berdansa dengannya. Kemudian pria itu merengkuh pinggang Miranda, menuju lantai dansa.

Kini musik berganti dengan slow motion, para pasangan yang menari di lantai dansa tampak begitu mesra. Miranda yang bersama dengan pria yang mengajaknya pun tampak begitu mesra. Dia mengalungkan tangannya ke leher pria itu dan menempelkan dadanya pada dada bidang milik pria itu. Pria itu memeluk pinggang Miranda, membantunya menjaga keseimbangannya, karena kini Miranda benar-benar sudah hampir ambruk akibat terlalu banyak minum.

Pria itu meremas dengan lembut pinggang Miranda. “Aku belum bertanya, siapa namamu?” bisik pria itu tepat di depan bibir Miranda.

“Kau bisa memanggilku Miranda.” Miranda membawa tangannya menyentuh rahang pria itu.

“Nama yang sangat cantik. Sesuai dengan pemiliknya,” balas pria itu dengan nada rendah. Miranda hanya tersenyum mendengar pujian pria itu.

“Kau bisa memanggilku Athes,” bisik pria yang bernama Athes tepat di depan bibir Miranda.

Miranda kembali tersenyum saat mendengar nama pria tampan di hadapannya. Nama yang indah, sesuai dengan penampilan pria di hadapannya. Wajah bagai dewa yunani. Sangat tampan, dengan tubuh tegap, dada bidang dan ototnya begitu menggoda. Miranda hampir gila melihat pria di hadapannya ini. Dalam hidup, ini pertama kali dirinya bertemu pria yang mampu menggodanya. Dan tentu, pria yang ada di hadapanya itu adalah pria tertampan yang pernah dia temui.

“Namamu juga indah, Athes. Sepertinya nama yang cocok untuk pria yang hebat merayu seorang wanita,” jawab Miranda dengan tatapan yang tak lepas menatap manik mata cokelat milik Athes.

Bukannya menjawab ucapan Miranda, Athes langsung menyambar bibir wanita itu, lalu memagutnya dengan lembut. Pengaruh alkohol membuat Miranda berani membalas ciuman seorang pria. Mereka berciuman begitu panas dan liar. Athes merapatkan tubuh Miranda pada tubuhnya. Athes meremas bokong seksi milik Miranda. “Damn! Kau sungguh cantik dan seksi, Miranda. Aku tidak akan pernah mampu mengendalikan diriku ketika bersama denganmu,” bisik Athes serak.

“Dan kau sungguh tampan, Athes,” balas Miranda di sela-sela ciuman mereka. Kini Miranda membawa tangannya meraba dada bidang milik Athes dan meremas dengan lembut lengan kekar Athes yang begitu menggoda.

Miranda sungguh lupa diri dan tidak lagi memedulikan siapa pria di hadapannya itu. Dia bahkan seakan menggoda pria di hadapannya. Jangan salahkan Miranda, karena selama ini Miranda memang menunggu pria yang tampan dan seksi yang membangkitkan hasratnya. Dan sekarang, pria di hadapannya mampu membangkitkan hasratnya.

“Aku ingin menghabiskan malamku dengan wanita secantik dirimu,” bisik Athes di telinga Miranda yang terdengar begitu menggoda. Sesaat Athes mengecupi leher Miranda dan tangannya terus meremas pinggang Miranda.

Tubuh Miranda meremang, merasakan helaan napas Athes menyentuh lehernya. Sungguh, dia tidak mampu lagi menahan dirinya. Dia merasakan panas di seluruh tubuhnya. Jika bukan Athes memeluk pinggangnya, mungkin tubuh Miranda sudah ambruk. Pria di hadapannya itu benar-benar mampu menggodanya, dan tubuhnya seolah merespon setiap sentuhannya.

Hingga kemudian, Miranda tersenyum mendengar ucapan Athes. Dia mengusap lembut dada bidang Athes. Miranda mendekatkan bibirnya pada bibir Athes seraya berbisik sensual, “Terdengar tidak buruk. Menghabiskan waktu bersama dengan pria tampan.”

“Oh, shit! Kau penggoda yang luar biasa ketika kau mabuk, Miranda.” Athes kembali menyambar bibir Miranda, dan memagutnya dengan sedikit kasar.

“Bukannya kau menyukainya?” jawab Miranda saat pagutannya terlepas. Lalu dia mengelus rahang Athes dan memberikan kedipan di sebelah matanya.

Athes menyeringai mendengar ucapan Miranda. “Damn it, kau begitu menggodaku.”

Tiba-tiba tubuh Miranda hampir ambruk. Dengan sigap, tangan Athes langsung memeluk erat pinggang Miranda. Tanpa menunggu lama, Athes langsung membawa Miranda meninggalkan lantai dansa menuju hotel terdekat dengan klub malam itu.

Sudah sejak tadi Athes menginginkan Miranda. Wanita yang mampu menarik perhatian dirinya. Rasanya, dia tidak bisa menahan diri kala melihat Miranda. Tidak peduli dalam keadaan mabuk atau tidak. Bagi Athes, dia ingin menghabiskan malamnya bersama dengan wanita itu.

***

Di sisi lain Helen tengah berdansa dengan pria yang bernama Mark. Tanpa mengaja, dia mengalihkan pandangannya ke arah tempat duduk Miranda. Namun, seketika dia terkejut, melihat tempat duduk Miranda kosong. Helen mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Miranda, tapi dia tidak menemukannya.

“Mark, sorry, aku harus menemui temanku,” bisik Helen di telinga Mark.

“Oke, Baby. Jangan terlalu lama. Aku tidak sanggup menunggumu terlalu lama,” jawab Mark seraya mengecup singkat bibir Helen.

Kemudian, Helen langsung melangkah meninggalkan pria yang bernama Mark, yang masih berada di lantai dansa. Dengan cepat Helen menghampiri tempat duduk Miranda, dia menatap tas milik Miranda pun sudah tidak ada di sana.

“Hey, apa kau melihat sahabatku?” tanya Helen pada sang bartender yang tengah meracik minuman.

“Ah, wanita berambut pirang yang kau maksud?” Sang bartender kembali bertanya memastikan.

Helen mengangguk. “Ya, yang tadi bersama denganku. Ke mana dia? Harusnya dia ada di sini?” tanyanya yang mulai cemas.

“Nona, kau tenang saja. Temanmu tengah menemukan teman kencannya,” jawab sang bartender sontak membuat Helen terkejut.

“Tunggu, teman kencan? Maksudmu apa?” Helen menatap dingin sang bartender, sebuah tatapan penuh peringatan dia layangkan. Terlihat wajahnya kini begitu mencemaskan keberadaan Miranda. Pasalnya, Miranda ke klub malam ini bersama dirinya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.

“Temanmu berkencan dengan pria yang tadi di ujung sana. Saat kau tengah dansa, pria yang tadi bersama dengan wanita berambut cokelat di ujung sana meghampiri temanmu.” Sang bartender menunjuk tempat di mana pria yang berkencan dengan Miranda sebelumnya beranda.

Helen terkejut mendengar apa yang diucapkan sang bartender. Dengan cepat dia menjawab, “Kau tidak membohongiku, kan? Maksudku, apa yang kau katakan itu benar? Miranda berkencan dengan pria yang duduk di sana yang sebelumnya bersama wanita berambut cokelat?” tanyanya memastikan.

Sang bartender tersenyum. “Aku tidak mungkin berbohong padamu, Nona. Temanmu memang berkencan dengan pria itu. Sekarang kau tenang saja, kau bisa menikmati waktumu di sini. Karena temanmu telah menemukan teman kencannya,” ujarnya memberi tahu.

Helen menyeringai puas, kala mendengar ucapan sang bartender. “Terima kasih.”

Kemudian, Helen kembali melangkah menuju lantai dansa. Terlihat wajahnya tampak begitu senang, ketika mendengar Miranda telah mendapatkan teman kencan. Ya, tentu Helen menjadi orang yang paling bahagia melihat Miranda berkencan dengan seroang pria.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED