"Huaaaa,"
"Duh Fey, udah dong. Mau sampe kapan kamu nangis gini?" Vina menyodorkan lembaran tisu terakhir yang ditariknya dari dalam kotak.
"Prooottt,"
Fey mengambilnya dan langsung meniup peluit panjang untuk membuang semua ingus yang menumpuk di hidungnya. Fey mengembalikan tisu bekas pakai itu kembali pada Vina.
Vina bergidik jijik sedangkan Geby disampingnya tertawa geli.
"Udah abis aja tuh tisu." Kode Geby melalui kerlingan mata.
Vina mengabaikan reaksi Geby. Meski keduanya sudah terbiasa dengan penyakit patah hati Fey, tetap saja - melihat sahabatnya dengan wajah merah dan hidung meler - Vina merasa cemas.
"Fey, si Carrots kan pacar ke - 32. Harusnya kamu udah cukup pengalaman sama patah hati. Jadi ngak perlu berlebihan gini dong." Usik Geby.
Ia mulai jengah, dua jam di Bar hanya duduk sambil mendengar keluhan dan tangisan Fey.
"Namanya Carrel bukan wortel," protes Fey di sela Isak tangisannya.
"Geb," desis Vina kesal. Temannya itu selalu saja tidak bisa membaca situasi.
Geby mengangkat bahu tanda dia tidak perduli.
"Aku mau turun, kali aja di bawah dapat cowok ganteng plus tajir melintir."
"Huaaaa," melihat sikap cuek Geby membuat tangisan Fey semakin keras.
Sebenarnya alasan utama Fey menangis bukan karena terpukul setelah memergoki Carrel selingkuh dengan seketaris nya. Alasan itu terlalu sepele bagi Fey yang telah puluhan kali patah hati.
Alasan utamanya terlihat sangat sedih, mengingat sindiran ucapan Mama belakangan ini yang menuntut Fey untuk membawa calon suami atau minimal pacar ke hadapan mereka.
Sampai tadi pagi Fey masih memupuk harapan hingga siang hari saat berkunjung ke kantor Carrel untuk makan siang bersama, harapan itu pun musnah. Fey harus menerima kenyataan kalau selama ini dia telah di dua-tigakan oleh playboy cap racun tikus itu.
"Fey, mau kemana?" Tanya Vina.
Fey melambai asal. Kepalanya pusing, efek terlalu banyak menangis ditambah dua botol bir yang membuat seluruh dunia berputar seakan bergerak menjauhinya.
Fey harus segera mencapai toilet terdekat sebelum isi perutnya berontak keluar dan membuat seisi Bar melihatnya sebagai mahkluk freak..
***
"Napa Lex," sapa Bima. Mengalihkan perhatian Alex yang sedari tadi fokus pada satu titik.
"Menarik," gumam Alex sambil menarik seulas senyum misterius.
"Mau kemana?" Tahan Bima cepat.
Keduanya baru saja menginjakkan kaki di Bar ini. Bima tidak ingin Alex tiba-tiba menghilang dengan berbagai alasan untuk pulang ke rumah. Entah apa yang selalu di lakukan duda muda itu di rumah.
"Toilet, Napa? Kamu mau ikut?" Goda Alex. Dia tahu Bima hanya tidak mau Alex pulang dan mengagalkan acara hang out nya malam ini.
"Asal ngak kabur aja." Ujar Bima menginggatkan sepupunya itu.
"Tenang, cuma mau ke toilet trus nyari angin."
Alex berlalu pergi meninggalkan meja yang ditempatinya bersama Bima. Langkah Alex berhenti di lorong masuk yang memisahkan toilet wanita dan laki-laki.
"Dimana dia?" Batin Alex. Matanya tak lepas dari pintu masuk toilet. Menunggu sosok yang telah menarik perhatiannya muncul dari balik pintu.
***
"Sialan wortel," runtuk Fey marah. "Kenapa kamu ngak nunggu besok atau lusa aja sih buat selingkuh. Kalau gini semua rencana ku bisa buyar." Gerutunya setengah sadar.
Fey memijit pelipisnya, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi. Sepertinya Fey harus segera pulang dan menegak dua dosis aspirin untuk menghilangkan sakit di kepalanya.
Ia berbalik, berjalan tertatih sembari bersandar di dinding untuk menopang tubuhnya yang mulai sempoyongan.
"Sialan! Harusnya aku tidak pernah menegak alkohol terkutuk itu." Umpatnya dalam hati.
Setiap kali patah hati, Fey selalu saja melupakan batas toleransi alkoholnya. Harusnya Fey cukup sadar kalau dia hanya diperbolehkan menyentuh Mocktail.
"Kamu baik-baik saja?"
Fey mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik suara yang menyapanya. Efek alkohol semakin menjadi, bahkan kini Fey bisa melihat wajah Sani - cinta pertamanya, tengah mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri tegak.
"San, kamu kemana aja?" Racau Fey. Ia melilitkan tangannya ke leher orang didepannya.
"San, jangan tinggalin aku lagi. Aku cinta sama kamu Sani." Rintih Fey. "Aku janji San, aku akan ngelakuin apa aja buat mempertahankan cinta kita." Lirih Fey perih.
Masa lalu merasuk ke dalam alam bawah sadarnya. Membangkitkan memori tergelap dalam hidupnya.
"Sani?" Gumam suara yang membawa Fey dalam dekapan hangatnya. "Akan ku buat kamu melupakan nama itu untuk selamanya." Desisnya yakin.
******
TO BE CONTINUE ...
Hai, hai ...
Kalo kalian suka sama karya Author, jangan lupa tinggalkan jejak ya ...
LIKE ✅
COMMENT ✅
SUBSCRIBE ✅
THANK YOU AND SEE YOU SOON ... ❤️
Alex mengangkat dagu wanita dalam dekapannya, mendaratkan ciuman di bibir merah itu. Dia mengeram senang begitu mendengar lenguhan. Lidah Alex menyapu permukaan bibir indah itu, meminta izin padanya untuk masuk. Wanita itu menyambut dengan membuka bibirnya membuai lidah Alex masuk untuk menyapa. Lidah keduanya saling mengait, menghisap dan memutar, menjelajahi kesenangan dunia sampai waktu berlalu tanpa disadari.
"Hmm." Wanita itu mengeram pelan. Dia merasa tubuhnya terbakar oleh gairah hingga tidak bisa lagi mengendalikan diri.
Alex melepaskan pangutannya lalu berdecak puas dengan hasil karyanya. Bibir itu merah merekah dan terlihat sedikit bengkak. Sang wanita meletakkan dahinya di dada Alex sementara tangannya meraih pakaian depan lawannya sambil terengah-engah. Alex tersenyum puas lalu membawa wanita itu dalam gendongannya menuju ranjang empuk apartemen.
Yah, ini pertama kalinya setelah perceraiannya. Pertama kali setelah dua tahun yang panjang bagi Alex. Sudah lama sekali rasanya dia tidak merasakan debaran ini. Perasaan khawatir dan senang saat pertama kali jatuh cinta.
Setelah membaringkan tubuh sempurna itu di atas ranjangnya, Alex segera menekan tubuh indah itu sementara tangannya membelai pinggang wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Mulai malam ini kamu milik ku," desah Alex sembari memuja.
Wajah sang wanita memerah, dia merasa tersanjung. Perlahan dia mengangguk malu-malu sebagai respon atas pernyataan Alex. Alex mencium sudut bibi pujaannya kemudian melumat bibir itu. Perlahan lembut lalu ritmenya berubah kasar dan cepat mengimbangi gairah yang semakin membumbung tinggi. Sang wanita merasa senang hingga sebuah erangan lolos dari bibirnya.
"Ahhh ..."
Tangan Alex perlahan merayap dari pinggang lalu naik ke atas dan menarik resleting celana jeans yang dikenakan wanitanya turun. Di dalam ruangan yang sunyi itu, suara resleting yang bergerak turun terdengar sangat keras. Mendengar suara, tubuh sang wanita mendadak kaku. Ketakutan merayap masuk menggelayuti hatinya menjadi sebuah keraguan.
"Sssttt! Jangan takut," bisik Alex yang sadar akan reaksi lawan jenisnya.
Ketika Sang wanita sayup-sayup mendengar suara Alex, tubuhnya menjadi lebih rileks seakan kata-kata yang diucapkan Alex menjadi mantra penenang baginya. Dia tidak lagi merasa takut dan membiarkan Alex menanggalkan pakaiannya.
Satu potong, dua potong sampai semua pakaian bagian atas tubuhnya menghilang. Alex menciumi leher wanitanya dan perlahan-lahan menjilat ke tulang selangka sambil mengigit lembut untuk meninggalkan banyak tanda di kulit halus itu. Tangan Alex mulai aktif membelai dan menyentuh dada sang wanita yang menantangnya. Alex memberi tekanan di atas gundukan itu, meremasnya.
Sang wanita menggeliat, rangsangan yang dilancarkan Alex membuat tubuhnya bergetar. Dia merasakan sensasi kesemutan akibat remasan lembut di puncak dadanya. Melihat reaksi wanita dalam dekapannya yang semakin memanas, Alex mendekatkan bibirnya untuk mencetak satu ciuman basah, kemudian dia membuka mulutnya untuk mengigit salah satu puncak yang menonjol. Perlahan dan lembut, mengulumnya sementara ujung lidah terus bermain dengan kerikil kecil yang ada disana.
Sang wanita merintih keras, "Hmm ... Hmmm." Dia mengigit bibir bawahnya karena gagal menahan erangan yang keluar dari bibirnya. Sang wanita segera menggunakan tangannya untuk meredam suara tapi Alex segera menarik tangannya turun.
"Lepaskan, Sayang. Biarkan aku mendengar suara mu," bisik Alex merayu.
Mendengar kalimat Alex, sang wanita tidak lagi menahan tapi mengerang sekali lagi.
"Ahhh."
Alex kembali ke pekerjaannya, menciumi sisi kiri puncak gunung sementara tangannya melancarkan serangan intens dengan meremas dan mencubit sisi kanan. Beberapa saat kemudian, Alex bangkit untuk menanggalkan pakaiannya. Tidak butuh waktu lama, dia segera kembali. Menurunkan tubuhnya kearah sang wanita sampai kulit keduanya saling menyapa. Mengikis jarak diantara keduanya.
Sentuhan lembut dan hangat di kulitnya membuat sang wanita bersemangat, dia mengosongkan dirinya sendiri pada tubuh Alex. Hal itu membuat Alex yang dari awal telah terbakar gairah menjadi semakin tidak tertahankan. Dia menarik turun jeans hingga lepas dan menanggalkan penutup terakhir di tubuh sang wanita. Meninggalkan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
Wajah sang wanita semakin memerah karena malu. Dia menutupi bagian intimnya dengan kedua tangan.
Alex tersenyum kecil sembari membelai tungkai kaki wanitanya. Merenggangkan pertahanan sang wanita, dengan menempatkan dirinya diantara dua paha atas sang wanita. Perlahan Alex membelai punggungnya sembari jari-jarinya masuk dan menjelajahi lubang surgawi.
Sang wanita menopang tubuhnya karena rasa tidak nyaman terhadap serangan yang diarahkan ke tubuh bagian bawahnya. Alex mencondongkan tubuhnya ke depan dan dengan lembut mencium bibirnya untuk menenangkan.
"Jangan takut, Sayang. Serahkan semuanya pada ku," desah Alex dengan suara serak, berusaha keras menahan gairah yang memburunya.
Tubuh sang wanita menjadi lebih santai. Merasa keadaan membaik, jari Alex bergerak dari satu jari menjadi dua lalu tiga hingga empat jari. Alex bergerak perlahan dalam melakukan ekspansi, menahan dirinya untuk tidak terburu-buru mencapai inti. Sang wanita yang melihat Alex menurunkan tempo nya, berinisiatif menggunakan kakinya untuk mengait dan tanpa sadar merayu Alex.
"Cepat," gumamnya lirih.
Alex langsung menggila begitu mendengar suara pujaannya. Miliknya langsung bersiap di depan pintu masuk, perlahan menekan hingga tongkat panjang nan panas itu melesak masuk. Butuh sedikit perjuangan saat milik Alex menerobos lorong sempit dan kesat itu hingga dia harus merintih pelan karena miliknya serasa di remas oleh pijatan dinding yang menyelubungi lorong.
Sang wanita mengernyit, merintih kesakitan bahkan wajahnya menjadi pucat. Ia merasa tubuhnya seakan terbelah menjadi dua. Hasrat yang tadinya membumbung tinggi seketika lenyap digantikan rasa nyeri yang menyengat. Air mata perlahan bergulir dari kedua sudut matanya.
Alex yang melihat perubahan ekspresi di wajah sang wanita, tidak berani bergerak lebih jauh, sebaliknya dia mencoba menghibur.
"Tenang, Sayang. Santai," hibur Alex. Sesekali dia mengernyit kesakitan karena remasan ketat pada miliknya.
Sang wanita secara alami tahu, bahwa laki-laki yang berada diatasnya juga kesakitan jadi dia mencoba untuk membuat tubuhnya sedikit lebih santai. Alex merasa lubang di bawah sana mulai mengendurkan cengkeramannya, dengan sekali hentakan cepat Alex berhasil melesakkan miliknya masuk sepenuhnya yang disambut rintihan panjang dari wanita di bawahnya.
Alex kembali menurunkan tempo nya begitu melihat wajah kesakitan, ia memutuskan untuk bergerak perlahan, menunggu sang wanita beradaptasi dengan benda asing di dalam tubuhnya.
Pada awalnya sang wanita merintih kesakitan namun perlahan-lahan gerakan maju mundur dengan ritme teratur itu meninggalkan jejak kenikmatan yang sulit untuk dijelaskan. Setelah terbiasa, Dia mengikuti tempo dari gerakan laki-laki yang ketampanan wajahnya hanya terlihat samar di mata sang wanita. Saat tempo dinaikkan, wanita ikut tenggelam dalam sensasi yang menyenangkan hingga pada Alex berhasil menemukan satu titik yang membuat sang wanita menjerit. Dia mencengkram punggung Alex, meninggalkan jejak kuku yang menancap dalam dan mulutnya mulai mengeluarkan desahan seksi.
"Hmmm ... ah ... Sani!"
Kening Alex mengerut begitu mendengar nama orang lain yang menjadi pengiring dari hasil kerja kerasnya. Dengan emosi yang meluap, Alex mempercepat gerakannya hingga membuat sang wanita kewalahan oleh kenikmatan yang diberikan Alex, sensasi itu mengantarkan tubuhnya pada puncak hingga tanpa sadar melengkungkan punggungnya dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Ahhhhh ..." Desahan panjang dari sang wanita menjadi pertanda tercapainya orgasme yang berulang. Tubuhnya luruh dengan nafas terengah-engah.
Alex tersenyum puas, ia mengerakkan miliknya perlahan. Memberi kesempatan bagi sang wanita untuk menikmati pelepasannya. Setelah merasa cukup, Alex melanjutkan desakan gairahnya, tidak tahu berapa lama akhirnya Alex berhasil menembakkan cairannya bersamaan dengan pelepasan sang wanita untuk kedua kalinya.
Tubuh sang wanita bersandar lemah dalam pelukan, Alex mendaratkan kecupan lembut di keningnya.
"Akhirnya kau jadi milikku, Fey. Aku sudah menantikan saat-saat ini," ucap Alex pada orang yang telah lama terlelap setelah pelepasan terakhirnya.
*****
Fey membuka matanya perlahan, berkas sinar yang masuk secara tiba-tiba membuat Fey mengernyitkan dahinya. "Silau," gumamnya. Fey sedikit terkejut dengan suara serak yang keluar dari tenggorokannya yang kering.
"Hmm, dimana aku? Kok kamarnya beda? Apa di rumah Vina?" batin Fey setelah sadar ranjang yang ditidurinya terasa jauh lebih empuk. "Bukan! Rumah Vina mah kandang kebo. Nggak mungkin se-bersih dan se-rapi ini," desisnya yakin dalam hati.
"Akh, sakit!" Rintih Fey begitu berusaha bangun.
Seluruh sendi di tubuhnya berderit nyeri.
Fey kembali merebahkan tubuhnya. Dia terdiam sesaat, mencoba menggali kembali ingatannya tentang apa yang terjadi tadi malam.
"Aku hang out bersama Vina dan Geby dalam rangka menangisi perselingkuhan Carrel. Aku merasa pusing karena terlalu banyak minum, lalu ..." Fey mengumpulkan puzzle ingatannya hingga sampai pada titik yang membuatnya terkejut dan menyumpahi kebodohannya.
"Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?" Desahnya panik sembari mengacak rambut panjangnya.
Fey melirik kiri dan kanan, mencari sosok laki-laki yang telah menghabiskan malam bersamanya tapi dia tidak menemukan seorangpun hanya gemericik suara air yang terdengar dari balik ruangan berpintu kaca buram.
"Dia pasti lagi mandi," batin Fey.
Dengan kecepatan super, Fey bangkit dari ranjang, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Fey mengumpulkan potongan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Sebelum memakainya, Fey sempat melihat pantulan dirinya dari balik kaca.
"Oh my god, ini gila!" Serunya begitu melihat tanda merah di sekujur tubuh. Leher, tulang selangka, dada, perut hingga ke bagian dalam paha dan tungkai kakinya.
"Pantas saja seluruh badan ku sakit dan sialnya aku ngak ingat apapun." Kekehnya konyol. Menertawakan kebodohannya sendiri.
Setelah berpakaian lengkap, Fey mencari tas dan ponselnya tapi tidak menemukannya dimana pun. Suara jerit pintu seketika membuat Fey panik, tanpa menunggu aba-aba dia langsung berlari secepat kilat menyongsong pintu dan keluar dari sana.
***
Alex terdiam ditempatnya berdiri. Lima menit yang lalu dia keluar dari bathroom dan mendapati kamar kosong. Wanita yang bersamanya semalam tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Alex mengangkat ponselnya untuk menghubungi Bima - sepupunya. "Bim, kamu dimana?" Seru Alex langsung begitu sambutan Bima terdengar dari balik ponsel.
"Wuoooo, ma man! Santai. Kamu yang dari mana aja, semalaman ngilang. Tante sibuk nyariin tuh," balas Bima.
"Ah, aku lupa ngabarin ke Mama semalam," batin Alex sadar.
"Kamu lagi di Bar?"
"Ya Iyalah, jam segini waktunya ngerjain laporan. Kenapa? Kok suara kamu kedengarannya kayak panik banget."
"Aku kesana sekarang." Putus Alex. Dia menggenggam erat ponsel di tangannya. Amarahnya muncul ke permukaan begitu menyadari wanita yang menghabiskan malam indah bersamanya tiba-tiba saja pergi tanpa sepatah katapun.
***
"Kamu kenapa sih, Fey? Celingak-celinguk udah kayak Waria di kejar Kamtibmas aja."
Fey mendelik kesal, tapi dia tidak berusaha membalas ejekan sahabatnya itu. Fey masih berhutang penjelasan tentang apa yang terjadi semalam. Dia yakin dia tidak akan bisa menjelaskan apapun untuk saat ini, lebih baik dia menahan diri untuk tidak memancing rasa penasaran Vina lebih jauh.
Dahi Vina mengerut heran melihat kelakuan sahabatnya. Pagi ini, Fey tiba-tiba muncul di depan rumahnya tanpa kabar apapun. Biasanya wanita itu akan memborbardir ponsel Vina terlebih dahulu sebelum benar-benar tiba di pintu apartemennya, tapi kali ini Fey tiba-tiba muncul dengan wajah panik dan penampilan acak-acakan. Semuanya serba kusut, mulai dari baju, rambut sampai wajahnya.
Fey menarik naik syal yang digunakannya untuk menutupi setengah wajahnya. "Aku agak takut ketemu sama sekuriti depan, soalnya uang buat nalangin taksinya belum ku bayar." Alihnya sebagai alasan.
"Emang dompet sama handphone kamu ke mana?"
"Ketinggalan."
"Lho? Ketinggalan dimana?"
Fey terdiam sesaat lalu beralih menatap Vina ragu. "Udah deh, nanti aja diomongin. Kita udah telat ke kantor."
Vina melengos malas. Dia sudah hafal kelakuan absurd Fey setiap kali berbohong. "Ya udah cepetan. Ntar kita telah ke kantor," buru Vina.
Fey mengangguk cepat dan segera memasuki mobil.
***
"Kenapa sih, Lex? Tiba-tiba kamu datang, biasanya harus di paksa dulu," cerca Bima begitu melihat Alex muncul di depan pintu ruang kerjanya.
"Aku mau lihat rekaman CCTV semalam," tukas Alex langsung. Dia menuju meja kerja Bima dan mulai mengutak-atik komputernya.
"Emang ada apaan? Dompet kamu di copet orang?" Serunya panik karena ini menyangkut nama baik Bar-nya.
"Nggak, ada yang aku cari." Alex mencocokkan tanggal dan jam saat dia bertemu wanitanya di depan lorong menuju toilet.
"Catch you!" Seru Alex dalam hati.
"Aku minta salinannya ya." Tanpa menunggu jawaban Bima, Alex langsung mengcopy video rekaman CCTV ke ponselnya.
"Siapa dia?"
"Calon kakak ipar mu."
Bima terkejut. Baru kali ini dia melihat Alex begitu antusias pada seorang wanita. "Terus semalam kamu ngilang bareng cewek ini?" Selidiknya.
Alex melirik sepupunya tajam. "Jangan sampai kamu ngomong macam-macam sama Mama. Awas aja!" Ancamnya untuk mengantisipasi mulut comel Bima.
Bima meringis, dia menjepit dua jarinya dan membentuk gerakan menutup resleting di depan mulutnya sebagai pertanda kalau dia akan menutup mulutnya rapat-rapat.
Alex melengos malas. Dia tidak percaya Bima mampu menutup mulutnya di depan Mama karena setiap kali Alex menjalin hubungan, Mama selalu selangkah lebih cepat, sudah pasti dia mendapatkan informasinya dari bocah bawel ini.
***
Sepekan berlalu ...
“Apa! Dijodohkan?”
Dengung suara nyaring seketika menarik perhatian seluruh penghuni restoran. Pandangan tajam langsung tertuju ke meja yang di huni seorang laki-laki paruh baya bersama dua orang wanita. Disampingnya duduk wanita yang tampak anggun dengan tunik bermotif batik sedangkan di hadapan keduanya duduk wanita yang baru saja menjadi pusat perhatian seluruh penghuni restoran.
Tidak terlihat raut bahagia di wajah wanita yang baru saja merayakan pertambahan usianya yang ke-33, malahan ekspresi kesal yang tergambar disana setelah mendengar penjelasan dari orangtuanya.
“Fey, kecilkan suaramu. Kamu membuat Mama malu," desis Mama malu. Laki-laki yang duduk disampingnya yang tidak lain adalah suami sekaligus Papa Fey, mengangguk setuju.
Fey menggeleng keras. “Ma, Pa, ini bukan jaman Siti Nurbaya. Nggak perlu ada perjodohan." Protes Fey.
“Kami mengerti Fey, kami tidak akan melakukan ini kalau kamu bisa membawa laki-laki di usia 25, tapi sampai umur 33 kamu tidak membawa satupun laki-laki untuk di perkenalkan pada kami," pungkas Mei - Mama Fey. Dia tampak sangat yakin dengan keputusannya.
Fey menyibakkan poninya ke belakang dan memijit keningnya. “Ma, Pa, sepertinya pembicaraan kita mulai tidak sehat. Fey masih ada rapat penting, jadi kita anggap saja pembicaraan ini sudah selesai kalau perlu Fey akan menganggap hal ini tidak pernah ada."
“Fey, Mama tidak pernah mengajarkan mu untuk berlaku tidak sopan pada orangtua. Kata-kata orangtua adalah perintah bagi seorang anak, jadi suka atau tidak kamu harus bertemu dengan Ferdinand. Masalah tanggal pernikahan Mama dan Papa sudah membicarakan dengan Pak Steven." Perintah Mei tanpa mau mendengar protes putri satu-satunya.
WHAT?!
Fey tercengang. Jadi untuk apa orangtuanya membicarakan hal ini kalau mereka sudah mengatur segalanya. Kenapa nggak sekalian aja, menyeret leher Fey ke atas pelaminan?! Batinnya geram.
“Ma." Fey masih mencoba bicara dan melancarkan aksi memelas. Namun melihat sikap tegas ibunya membuat Fey yakin tidak ada kesempatan baginya.
"Pa." Kali ini Fey beralih pada sang Papa, walaupun Fey yakin itu sia-sia. Papa adalah anggota perkumpulan S2TK (Suami-suami takut istri).
"Cukup. Mama ada janji penting ke salon bersama calon ibu mertua mu. Ini kartu nama Ferdinand, segera temui dia. Ayo, Pa." Mama mengandeng lengan suaminya, sebelum keluar Papa sempat menepuk pundak Fey untuk menyemangati anaknya.
Fey menatap keduanya nanar. Apa-apaan ini? Dan sejak kapan ke salon jadi kegiatan penting? MAMA ...
*****