Di waktu yang sama, di sebuah hotel bintang lima.
Emery Olivia La Carlistee, putri keluarga pembunuh bayaran Carlistee yang terkenal misterius dan kejam, tengah bermalam di sebuah kamar bersama seorang pria gagah dan tampan. Namun, sepertinya mereka tidak di sana untuk meluapkan hasrat, karena sang pria terlihat ketakutan di bawah tubuh sang wanita yang duduk di perutnya.
"Jadi... kau bilang tidak akan memberikan perusahaan itu untukku?" Emery menekan dada pria di bawahnya dengan tangan kirinya, memainkan telinga pria itu dengan tangan kanannya, dan berbisik lembut.
Pria itu adalah Olander Cassiene, salah satu pemilik puluhan usaha di bawah naungan keluarga Cassiene. Dan pria berkuasa itu, saat ini tengah gemetar oleh birahi dan ketakutan yang merambati seluruh sel tubuhnya. Tubuhnya telanjang bulat, tak pernah terbayangkan olehnya, wanita yang begitu lembut satu jam yang lalu bisa berubah demikian brutal saat ini. Parahnya, dia tidak bisa bergerak di bawah himpitan paha Emery. Seolah paha itu besi penjara yang sulit tergoyahkan.
"A-aku tidak pernah menjanjikan perusahaan itu, Emery. To-tolong jangan lakukan ini padaku," ucap Olander lirih, napasnya sesak oleh tekanan tangan wanita itu. Dia tidak mengerti, kenapa tangan indah nan cantik itu begitu kuat menekan dadanya.
"Mmmm, jadi... kau bilang sekarang kau melupakannya?" ucap Emery, kini lebih dekat di telinga Olander, membuat napas pria itu semakin berat. Terlebih, buah dada tanpa penutup Emery begitu menempel di dadanya, begitu halus dan lembut.
Glek.
"Ti-tidak. Bukan begitu. Aku hanya meminta waktu, kita baru bertemu sekali ini, aku tidak mungkin mem-memberikan perusahaan itu begitu saja. Ak-aku—"
"Ehem?" potong Emery, menarik dadanya menjauh dari pria itu. "Intinya, kau tidak akan memberikan perusahaan itu. Bukankah aku sudah bilang, aku menginginkannya? Aku akan membangun sebuah hotel di sana, dan perusahaan kecilmu menghalanginya. Bukankah tidur denganku sudah penawaran yang sangat menyenangkan?"
Emery tersenyum licik.
Olander yang diliputi birahi saat ini, menatap Emery yang begitu anggun membuat akal sehatnya tidak berfungsi. Dan, melihat kekuatan wanita itu, membuatnya tersadar jika dia harus melakukan sesuatu jika ingin keluar dengan selamat dari sana. Dia mendengar banyak berita tentang keluarga Carlistee, tapi sebelumnya tidak pernah terpikirkan kebenaran dari berita itu. Berita yang mengatakan keluarga Carlistee bisa membunuh lawan hanya dalam kedipan mata. Namun, melihat sosok Emery saat ini, dia meyakini sendiri berita itu.
"Ba-baiklah, aku akan memberikan perusahaanku yang lebih besar, tapi jangan perusahaan itu. Perusahaan itu baru saja aku bangun dengan keringatku sendiri. Emery, aku berjanji aku—"
Emery memotong ucapan pria Olander dengan menempelkan telunjuknya di bibir pria itu, menyuruhnya diam.
"Aku sangat kaya, aku tidak membutuhkan perusahaan besarmu, Olander sayang.... Aku hanya menginginkan perusahaan itu karena aku harus merubuhkannya demi hotelku. Apa kau masih belum paham?"
Olander menggelengkan kepala. "Tidak, jangan Emery. Aku mohon aku akan memberikanmu apa pun, tapi tidak dengan perusahaan itu."
Emery menarik napas dalam, menatap mata Olander dalam, membuat pria itu semakin was-was. Kemudian Emery melekatkan bibirnya di bibir pria itu dengan lembut, mencumbunya, melilitkan lidah, dan menikmati permainannya yang dibalas lidah Olander dengan buruan nafsu.
Desahan tak tertahankan keluar dari rongga bibir Olander sebelum cecapan kembali merebut kuasa atas seluruh rongga mulutnya, membuatnya mabuk kebayang. Hingga sebuah sayatan membuatnya membuat matanya terbelalak lebar. Andai saja bibirnya tidak dihisap begitu kuat oleh Emery, dia yakin suaranya mampu membuat serigala menegakkan bulunya dan ikut meraung.
"Arghhhh!!!" Olander melepaskan suara terakhirnya begitu Emery melepaskan bibirnya. Mata pria itu menatap kosong menatap langit-langit kamar hotel.
Darah merayap membasahi lantai hotel, berasal dari sayatan di leher Olander yang terbuka lebar.
Emery menatap korban di bawahnya dengan senyuman manis dan polos.
"Sayang sekali aku harus membunuhnya. Ck, tidak apalah, aku akan mendapatkan perusahaan itu besok," gumam Emery, mengusap dada Olander dengan tangan kanannya yang berlumur darah. Pisau kecil di tangannya segera dia bersihkan dengan pakaian Olander yang teronggok tak jauh dari sana.
Emery kemudian bangkit dan meraih ponselnya.
"Aku tidak sengaja membunuhnya. Aku akan keluar sekarang juga," ucapnya di ponsel itu. Sebelum seseorang di seberang menjawab, dia sudah mematikan panggilan dan meringis.
"Ck, mereka selalu saja mengeluh," keluh Emery, menyambar gaun merah seksinya yang terdampar indah di bawah sebuah meja. Dia memperhatikan gaun itu saksama. Merasa kecewa karena lagi-lagi gaun itu tidak bisa dia gunakan untuk memuaskan pasangannya.
Dalam beberapa menit saja, Emery sudah berpakaian lengkap. Tubuh indah dengan kaki jenjangnya terlihat begitu memikat, didukung wajah cantik dan polos dengan tatapan mematikan, sungguh perpaduan berbahaya. Rambut cokelat bergelombang panjangnya dia biarkan tergerai begitu saja. Lipstick yang sudah terhapus dari bibirnya, segera dia tumpuk dengan pulasan baru. Bibirnya kini merah merona. Dia menatap wajahnya di cermin, senyuman yang tampil di cermin itu begitu manis. Dia pun mengakui sendiri kecantikannya. Mata cokelat cerah itu pun dibingkai dengan kelopak mata yang indah. Terlebih alis matanya yang sedikit tebal, membuat wajahnya begitu indah.
"Aku bisa membunuh siapa pun dengan wajah ini," gumamnya bangga.
Beberapa saat kemudian, tiga ketukan terdengar di pintu. Emery segera tahu siapa yang berada di luar. Dia pun segera menyambar tas merah kecilnya dan melenggang keluar dari kamar. Begitu pintu terbuka, dua orang pria dengan wajah nyaris sama, tampak menyambut dengan kerutan di dahi mereka. Mereka membawa peralatan kebersihan.
"Aku akan ke mobil. Cepat selesaikan kurang dari setengah jam," perintah Emery, sebelum salah satu dari mereka membuka mulut.
Emery berjalan cepat menyusuri koridor, meninggalkan dua orang berjas hitam itu. Mereka adalah dua dari tiga ajudan kepercayaan Emery. Kyle dan Ezio, si kembar dengan paras rupawan dan jenaka. Tubuh mereka tinggi menjulang ditambah otot yang menghias dada dan perut, menunjukkan keprofesionalan mereka sebagai bodyguard. Rambut cepak hitam mereka tertata rapi, kecuali Kyle yang lebih suka rambutnya sedikit berantakan. Keduanya memiliki senyum menggoda dan ramah, mata hitam yang selalu berkilat jenaka. Namun, saat ini tatapan mata mereka terlihat tidak senang, mereka mendesah berulang kali.
"Emery sepertinya harus tahu kapan mengontrol sifat ingin membunuhnya itu. Sungguh membahayakan," ucap Ezio, menarik plastik dari dalam troli dan memasukkan mayat Olander ke dalam plastik super besar itu.
"Kau benar, tapi aku menyukai Emery yang ganas seperti itu. Aku tidak sabar menunggu kehebohan di mansion Carlistee nanti," sahut Kyle tertawa terbahak.
Ezio menatap saudara kembarnya, "Jangan lupa kita juga akan terkena hukuman. Kau tahu terakhir apa yang kita dapatkan?"
Kyle yang tengah membersihkan lantai segera terhenti dan menatap Ezio horor. Seolah baru saja dia menyadari sesuatu.
"Sial! Kau benar! Aku tidak ingin dicambuk lagi, Ezio!!" ratap Kyle, dengan matanya yang membulat penuh.
Ezio mendesah, dia tidak tahu kenapa Kyle bisa begitu berbeda darinya. Dia yakin ketika lahir, otak saudaranya itu terkikis sedikit. Tanpa menjawab Kyle, dia menuntaskan pekerjaan dengan cepat dan menutup troli dengan kain putih layaknya troli dari hotel.
Kyle pun memastikan tidak ada jejak apa pun yang tertinggal. Setelah mereka yakin seluruh kamar telah "bersih", mereka membawa troli keluar dari kamar dengan cepat.
Kyle segera mengeluarkan ponsel dan menekan sejumlah angka, "Kami akan ke bawah. Kau butuh bantuan?"
Terdengar suara di seberang, "Tidak, aku sudah selesai."
Kyle yakin Sebastian akan menyelesaikan tugasnya di ruang CCTV tanpa masalah. Setelah mematikan ponsel, dia segera berjalan cepat mengikuti langkah Ezio. Mereka berjalan hampir tanpa suara, hanya gemeretak troli yang melibas lantai koridor.
Di dalam mobil, Emery mengerang ketika melihat layar ponselnya. Dia dalam perjalanan pulang seorang diri dan panggilan dari kakeknya merupakan pertanda buruk. Apa mungkin pria tua itu menyadari sesuatu? Emery harus menemukan alasan bagus jika Lozardy Farhu Callistee, sang kakek, menginterogasinya.
Emery langsung turun dari mobil di garasi mansion Carlistee. Mansion megah itu berada di tengah hutan, menurut Emery, karena butuh sepuluh menit menembus jalanan tanpa penduduk untuk sampai ke mansion besar layaknya kastil itu. Meski besar, tapi Emery merasa mansion itu terlalu kecil untuk seluruh keluarga Carlistee. Bayangkan saja, tiga keluarga, putra dan putri Lozardy berada di bawah satu naungan atap. Meski sekarang masih banyak kamar kosong, tapi Emery yakin, beberapa generasi lagi, mereka harus menemukan tempat tinggal baru. Seharusnya, sejak saat ini mereka memikirkan untuk menemukan tempat tinggal, bukannya tinggal satu rumah dengan sang kepala keluarga Lozardy yang kejam. Namun, orang tua Emery selalu mengatakan jika mereka tidak bisa pergi begitu saja, mengingat bahaya yang akan mereka hadapi di luar sana, mengingat banyaknya musuh Carlistee dari kalangan konglomerat.
Emery memainkan kunci mobil di tangannya dan berjalan dengan santai memasuki mansion dan langsung menuju ruang kerja sang kakek. Bibi Amber yang melihatnya langsung berdecak.
"Bersiaplah kau, Emery. Kejahatan apalagi yang kau lakukan?" ucap Amber. Emery tersenyum, baru-baru ini bibinya itu mengganti kata 'kenakalan' dengan 'kejahatan'. Sepertinya dia memang sudah sedewasa itu. Benar, usianya tahun ini sudah dua puluh lima tahun.
"Aku baru saja mendapatkan jackpot, Bibi. Bulan depan kau akan aku undang ke peletakan batu pertama hotelku," jawab Emery, menyombongkan diri.
Amber hanya menggelengkan kepala, tapi dia mengikuti langkah Emery menuju ruang Lozardy. Seluruh keluarga harus hadir ketika sebuah masalah terjadi. Dan saat ini, Lozardy menganggap apa yang dilakukan Emery adalah masalah besar bagi mereka.
Emery memasuki ruangan, dia melihat orang tuanya sudah duduk di kursi di hadapan Lozardy, bersama dengan saudara dan sepupu-sepupunya. Dia tersenyum manis melihat sambutan menyeramkan itu. Meski tangannya sedikit berkeringat, tapi dia sangat antusias dengan situasi menegangkan itu.
"Papa, Mama!!" pekiknya melambaikan tangan serambi berjalan mendekat.
Ergio Le Carlistee dan Natasha Morgan menarik napas dalam, meski Emery putri mereka, tapi mereka sangat tahu bagaimana memperlakukan keluarga yang bersalah. Untuk itu, mereka meminta Emery tak mendekati mereka, justru menunjuk kursi "terpidana" yang saat ini kosong di hadapan Lozardy. Emery tahu itu, jadi dia tersenyum dan langsung duduk di sana. Ruangan itu mirip ruangan persidangan dengan Lozardy sebagai hakim.
Lozardy berdeham dalam, membuat suasana semakin mencekam.
"Apa yang aku dengar itu benar? Kau membawa Olander?" tanya Lozardy tanpa basa basi.
Emery langsung mengangguk. "Iya, Kakek."
"Lalu, apa yang kau lakukan padanya?"
"Aku membunuhnya. Di Hotel Heavenly," jawab Emery mantap.
Jawaban wanita itu membuat semua orang di ruangan itu mendesah.
"Kau punya alasan untuk itu?" tanya Lozardy, tenang.
"Ya, aku butuh perusahaan Olander. Tapi mereka menolak penawaranku mentah-mentah bulan lalu. Aku tidak menerimanya. Jadi, aku meminta langsung pada Olander, tapi dia membuatku kecewa," jawab Emery.
Lozardy menatap cucunya lekat, kemudian tersenyum. "Lalu, apa yang akan kau lakukan jika polisi melacak pelakunya?"
Melihat senyum Lozardy, Emery bernapas lega. Dia tahu, saat ini kakeknya hanya mengetes kesiapannya dalam menjalankan rencana. Tentu saja dia sudah mempersiapkan segalanya. Dia adalah wanita Carlistee, dia bukan wanita bodoh. Dia sudah dilatih untuk membunuh sejak dia dilahirkan ke dunia.
"Aku sudah memastikan mereka tidak akan menemukanku. Jika pun ada detektif jenius yang bisa menemukan jejakku, akan aku pastikan, hari itu adalah hari terakhirnya menghirup udara," balas Emery bangga.
Lozardy menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dan menatap Emery semakin lekat.
"Kau tahu dengan jelas siapa keluarga Cassiene. Mereka tidak akan diam saja membiarkanmu lolos setelah apa yang kau lakukan pada anak kesayangan mereka. Apa rencanamu untuk itu?"
Emery mengerjapkan mata, dia belum memikirkan hal itu. Karena....
"Aku akan serahkan pada Kakek!" balas Emery lantang.
Terang saja, semua orang kembali mendesah, seolah sudah menduga jawaban Emery. Lozardy menatap cucunya tajam. Kali ini dia tersenyum licik. Hal itu membuat Emery merinding.
"Baiklah, hukumanmu kali ini, hadapi keluarga Cassiene tanpa melibatkan aku. Aku sangat sibuk."
Mendengar keputusan Lozardy, membuat Emery cemberut. "Bagaimana kalau aku mati?"
Lozardy langsung tertawa. "Bukankah itu konsekuensi pertama yang harus kau pikirkan sebelum melakukan eksekusi?"
Emery menatap kakeknya tajam, dia bertekad akan membuktikan pada kakeknya jika dia bisa menyelesaikan ini seorang diri. Lagipula apa hebatnya Cassiene.
***
"Mereka membunuh puluhan keluarga kaya, dan keluarga kaya nomor tiga. Jika mereka membunuhmu saat ini, mereka akan lepas dengan mudah, semudah mengembuskan napas."
Sebastian, ajudan nomor satu Emery mengemukakan pengetahuannya. Pria tampan berkaca mata itu tampak tenang, tatapannya tajam, seolah mampu menarik jiwa siapa pun yang menjadi lawan bicaranya keluar. Rambut blondenya sebahu dan terikat rapi ke belakang. Jasnya tampak paling rapi di antara ketiganya. Jelas sekali penampilannya menunjukkan dia pria berpengetahuan.
Emery mengetukkan jemarinya di tepian kursi. Dia tampak berpikir. Sebelumnya dia tidak akan ambil pusing, karena selama ini kakeknya selalu berada di belakangnya. Namun, jika perlindungan kakeknya hilang, dia harus khawatir sekarang, apalagi yang dihadapi ternyata sekelas Cassiene.
"Aku harus mendapatkan perlindungan lebih," ucap Emery, seolah pada dirinya sendiri.
"Anda benar," sahut Bastian cepat.
Kyle dan Ezio tampak pucat, dan kini terbaring di sofa di kamar sang Nona. Mereka bertiga baru saja terkena hukuman cambuk 50 kali, dan hanya Bastian yang tampak tangguh. Ezio dan Kyle sudah hampir muntah.