Bab 1

"Tolong, jangan temui saya lagi. Saya tidak menyukai Anda." Erios Danbert, menatap seorang wanita di depannya dengan sopan. Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan apa pun atas apa yang telah dia ucapkan baru saja.

Wanita di depannya tampak terdiam cukup lama, mencerna ucapan Erios. Terlihat di wajahnya, dia seperti tidak siap menerima pengakuan tersebut.

"Baiklah." Hanya itu jawaban yang diberikan sang wanita, membuat Erios bernapas lega.

Namun, beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka kemudian terbanting menutup. Suara langkah sepatu high heels menggema di sepanjang koridor lantai satu mansion keluarga Danbert yang tersohor.

"Papa, ayo kita pergi! Percuma kita datang kemari!!" Wanita yang baru saja membanting pintu itu berteriak marah pada sekumpulan orang yang tengah duduk di ruang tengah. Wajahnya kini dihiasi kekecewaan yang teramat sangat.

Seorang pria berusia lima tahun lebih, memijit keningnya, sebelum berdiri. "Maafkan keponakan saya. Bisakah kita jadwalkan ulang pertemuan kita? Saya yakin Erios akan menerima Anda, Nona Julia."

Pria yang duduk di hadapan pria itu ikut berdiri, menghela napas. "Kami permisi dulu, Tuan Armando. Sepertinya benar rumor yang kami dengar, keponakan Anda belum siap untuk menikah. Jadi, kenapa Anda memaksakan kehendaknya? Anda sendiri sudah tahu hal ini akan terjadi. Tuan Erios telah membuat keputusan yang salah dengan menghina putri keluarga kami."

Pria itu menggelengkan kepala, kemudian berbalik melangkah pergi bersama wanita yang dipanggil Julia.

Armando tidak berusaha mengejar, karena dia tahu akan percuma. Dia akhirnya kembali duduk dan mendengkus kesal.

"Alton, bicara pada anak tidak tahu diri itu! Aku sungguh lelah menghadapinya!" perintah Armando pada putra sulungnya yang sedari tadi duduk tenang.

Alton Danbert, pria bertubuh tegap dan kokoh, wajahnya tampan dengan rahang kuat, segera berdiri. Dari penampilannya, bisa dipastikan dia sosok yang tidak suka banyak bicara. Mendengar perintah itu pun, dia hanya mengangguk dan melangkah ke arah kamar di mana wanita tadi keluar. Kamar sepupunya, Erios Danbert.

Alton tidak perlu mengetuk pintu, dia membuka pintu dan langsung mendekati sosok yang saat ini berada di teras belakang. Sosok itu tengah duduk tenang di kursi roda membelakangi kamar.

"Erios...," panggil Alton, memberitahu pria itu tentang kehadirannya.

Erios segera menoleh.

"Sepertinya aku mengacaukan perjodohan ini lagi." Erios nyengir hingga sudut matanya tertarik. Wajahnya tak kalah tampan, meski terdapat guratan kurang tidur di bawah mata, tapi sosok itu masih sanggup menggetarkan hati para wanita. Sorot matanya lembut, suaranya dalam dan manis. Jauh berbeda dengan sosok Alton yang terlihat tegas dan tanpa ampun.

"Ini bukan hal yang patut ditertawakan. Julia adalah wanita ke delapan yang kau tolak. Apa maumu sebenarnya?" Alton berdiri di sebelah kursi roda Erios dan ikut menatap taman belakang yang tersambung ke kamar itu dengan tatapan dingin.

"Kau tahu apa mauku. Aku tidak ingin menikah."

Suara Erios terdengar lemah, tapi dia masih menyunggingkan senyuman sinis.

"Kau harus menikah," tegas Alton, tangan kirinya menepuk kepala Erios dan mengusap rambut pria itu kasar.

Erios menepis tangan itu lembut, lalu menatap Alton lekat.

"Supaya kau bisa mengusirku dari sini? Bukankah aku sudah bilang, kalian bisa mengusirku tanpa harus memaksaku menikah."

"Tidak ada yang memaksamu."

"Kalian memaksaku!"

"Kami hanya ingin yang terbaik untukmu."

"Bullshit!"

"Kami memberikan pilihan, kau bisa menentukan pilihanmu sendiri. Tidak ada yang memaksamu menikahi gadis yang tidak kau cintai."

"Tapi aku tidak ingin dijodohkan, apa pun alasannya! Tetap saja itu pemaksaan!"

Alton menoleh, tatapannya sinis. "Lalu, apa kau yakin bisa mencari pendamping dengan kemampuanmu sendiri? Dengan keadaanmu saat ini, kau bahkan tidak bisa melepaskan pakaianmu sendiri tanpa bantuan Hans!"

"Hentikan, Al. Jangan menghinaku."

Erios, menatap Alton semakin tajam. Bibirnya mengatup rapat, menahan amarah.

"Itu kenyataan. Apa kau marah karena aku memberitahumu kebenarannya?"

"Hentikan aku bilang! Apa kau tahu, kau sangat menyebalkan! Tidak ada yang meminta pendapatmu!"

"Ya, kau memang tidak memintanya. Karena kau takut pada kenyataan. Kenyataan bahwa kau memang lemah dan... tidak berguna."

"HENTIKAN!!!" pekik Erios, suaranya menggema di taman belakang, membuat Alton tersenyum.

Erios kemudian membuang muka, "Keluarlah."

Alton menepuk pundak Erios, lalu melanjutkan, "Jika kau tidak menikah sebelum Kakek mengumumkan pemegang jabatan Danbert Corp, kau tahu apa yang akan aku lakukan, Erios."

Suara Alton sangat lembut bagai air yang mengalir tenang, tapi dampak dari ucapannya, membuat badai besar di dasar relung hati Erios. Hingga tanpa sadar, Erios mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat.

Alton tersenyum, berjalan meninggalkan Erios seorang diri di sana. Namun, begitu dia hendak keluar dari kamar, dia berhenti di depan seorang pria seumuran Erios yang berdiri tenang di samping pintu.

"Hans, Erios lebih mendengarkan dirimu. Kau yang lebih paham apa yang terjadi jika dia tidak segera menemukan pendamping. Kau tahu kan, aku tidak akan meninggalkan dia sendirian, tanpa pendamping?"

Hans menunduk hormat, "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Tuan Erios lebih kuat dari yang Anda pikirkan. Saya akan melakukan apa pun untuk membuatnya menikah jika itu demi kebaikannya."

Alton terdiam beberapa detik, sebelum terkekeh tanpa suara. Dia masih belum mengerti bagaimana Hans bisa begitu setia pada tuannya yang cacat tanpa merasa terbebani sama sekali.

Hans tidak bergerak sampai Alton pergi dari hadapannya. Setelah yakin pintu tertutup, Hans segera berjalan mendekati tuannya.

"Anda tidak apa-apa, Tuan?" Hans mendekat sedekat mungkin dengan kursi roda Erios. Tampak tuannya itu masih mengepalkan tangannya hingga jemarinya memutih. Hans dengan tenang, mengusap lengan Erios, membuat pria itu tersadar kehadiran ajudannya.

"Ah... Hans." Erios seketika mengendurkan otot-ototnya, lalu menghela napas.

"Anda tidak apa-apa?" ulang Hans.

Erios segera mengangguk. "Ya, aku hanya lelah hari ini. Sepertinya langit juga tidak memberiku pemandangan bagus."

Hans menatap langit yang kelabu, tanpa bulan mau pun bintang. Hanya kegelapan.

"Aku tidak tahu, kenapa aku masih hidup," ucap Erios lirih.

"Tuan—"

"Aku hanya ingin hidup tenang. Aku tidak menginginkan harta atau kekuasaan apa pun. Apakah itu masih berlebihan? Aku tidak ingin menikahi siapa pun saat ini, mereka hanya melihatku sebagai pewaris Danbert yang kaya. Mereka akan mendepakku begitu tahu Alton akan mengusirku dari sini. Aku tidak mau hidup seperti itu."

Erios kembali mengepalkan tangan, kebiasaannya jika hatinya tengah diliputi amarah dan kegundahan.

"Saya akan melindungi Anda, apa pun yang terjadi. Anda tidak perlu khawatir jika harus pergi dari sini, kita akan pergi bersama."

"Tapi Alton mengancamku. Aku harus menikah sebelum kakek memberikan pengumuman. Jika tidak, aku tahu dia akan melakukan apapun untuk membuat orang-orang di sekitarku menderita. Jika aku menikah, mereka punya alasan untuk mengusirku jauh dari sini."

"Lalu, Anda akan menerima tawaran perjodohan selanjutnya?"

Erios terdiam, kemudian menggelengkan kepala, sorot matanya menunjukkan keteguhan hati. "Lebih baik aku mati."

Bab 2

Di waktu yang sama, di sebuah hotel bintang lima.

Emery Olivia La Carlistee, putri keluarga pembunuh bayaran Carlistee yang terkenal misterius dan kejam, tengah bermalam di sebuah kamar bersama seorang pria gagah dan tampan. Namun, sepertinya mereka tidak di sana untuk meluapkan hasrat, karena sang pria terlihat ketakutan di bawah tubuh sang wanita yang duduk di perutnya.

"Jadi... kau bilang tidak akan memberikan perusahaan itu untukku?" Emery menekan dada pria di bawahnya dengan tangan kirinya, memainkan telinga pria itu dengan tangan kanannya, dan berbisik lembut.

Pria itu adalah Olander Cassiene, salah satu pemilik puluhan usaha di bawah naungan keluarga Cassiene. Dan pria berkuasa itu, saat ini tengah gemetar oleh birahi dan ketakutan yang merambati seluruh sel tubuhnya. Tubuhnya telanjang bulat, tak pernah terbayangkan olehnya, wanita yang begitu lembut satu jam yang lalu bisa berubah demikian brutal saat ini. Parahnya, dia tidak bisa bergerak di bawah himpitan paha Emery. Seolah paha itu besi penjara yang sulit tergoyahkan.

"A-aku tidak pernah menjanjikan perusahaan itu, Emery. To-tolong jangan lakukan ini padaku," ucap Olander lirih, napasnya sesak oleh tekanan tangan wanita itu. Dia tidak mengerti, kenapa tangan indah nan cantik itu begitu kuat menekan dadanya.

"Mmmm, jadi... kau bilang sekarang kau melupakannya?" ucap Emery, kini lebih dekat di telinga Olander, membuat napas pria itu semakin berat. Terlebih, buah dada tanpa penutup Emery begitu menempel di dadanya, begitu halus dan lembut.

Glek.

"Ti-tidak. Bukan begitu. Aku hanya meminta waktu, kita baru bertemu sekali ini, aku tidak mungkin mem-memberikan perusahaan itu begitu saja. Ak-aku—"

"Ehem?" potong Emery, menarik dadanya menjauh dari pria itu. "Intinya, kau tidak akan memberikan perusahaan itu. Bukankah aku sudah bilang, aku menginginkannya? Aku akan membangun sebuah hotel di sana, dan perusahaan kecilmu menghalanginya. Bukankah tidur denganku sudah penawaran yang sangat menyenangkan?"

Emery tersenyum licik.

Olander yang diliputi birahi saat ini, menatap Emery yang begitu anggun membuat akal sehatnya tidak berfungsi. Dan, melihat kekuatan wanita itu, membuatnya tersadar jika dia harus melakukan sesuatu jika ingin keluar dengan selamat dari sana. Dia mendengar banyak berita tentang keluarga Carlistee, tapi sebelumnya tidak pernah terpikirkan kebenaran dari berita itu. Berita yang mengatakan keluarga Carlistee bisa membunuh lawan hanya dalam kedipan mata. Namun, melihat sosok Emery saat ini, dia meyakini sendiri berita itu.

"Ba-baiklah, aku akan memberikan perusahaanku yang lebih besar, tapi jangan perusahaan itu. Perusahaan itu baru saja aku bangun dengan keringatku sendiri. Emery, aku berjanji aku—"

Emery memotong ucapan pria Olander dengan menempelkan telunjuknya di bibir pria itu, menyuruhnya diam.

"Aku sangat kaya, aku tidak membutuhkan perusahaan besarmu, Olander sayang.... Aku hanya menginginkan perusahaan itu karena aku harus merubuhkannya demi hotelku. Apa kau masih belum paham?"

Olander menggelengkan kepala. "Tidak, jangan Emery. Aku mohon aku akan memberikanmu apa pun, tapi tidak dengan perusahaan itu."

Emery menarik napas dalam, menatap mata Olander dalam, membuat pria itu semakin was-was. Kemudian Emery melekatkan bibirnya di bibir pria itu dengan lembut, mencumbunya, melilitkan lidah, dan menikmati permainannya yang dibalas lidah Olander dengan buruan nafsu.

Desahan tak tertahankan keluar dari rongga bibir Olander sebelum cecapan kembali merebut kuasa atas seluruh rongga mulutnya, membuatnya mabuk kebayang. Hingga sebuah sayatan membuatnya membuat matanya terbelalak lebar. Andai saja bibirnya tidak dihisap begitu kuat oleh Emery, dia yakin suaranya mampu membuat serigala menegakkan bulunya dan ikut meraung.

"Arghhhh!!!" Olander melepaskan suara terakhirnya begitu Emery melepaskan bibirnya. Mata pria itu menatap kosong menatap langit-langit kamar hotel.

Darah merayap membasahi lantai hotel, berasal dari sayatan di leher Olander yang terbuka lebar.

Emery menatap korban di bawahnya dengan senyuman manis dan polos.

"Sayang sekali aku harus membunuhnya. Ck, tidak apalah, aku akan mendapatkan perusahaan itu besok," gumam Emery, mengusap dada Olander dengan tangan kanannya yang berlumur darah. Pisau kecil di tangannya segera dia bersihkan dengan pakaian Olander yang teronggok tak jauh dari sana.

Emery kemudian bangkit dan meraih ponselnya.

"Aku tidak sengaja membunuhnya. Aku akan keluar sekarang juga," ucapnya di ponsel itu. Sebelum seseorang di seberang menjawab, dia sudah mematikan panggilan dan meringis.

"Ck, mereka selalu saja mengeluh," keluh Emery, menyambar gaun merah seksinya yang terdampar indah di bawah sebuah meja. Dia memperhatikan gaun itu saksama. Merasa kecewa karena lagi-lagi gaun itu tidak bisa dia gunakan untuk memuaskan pasangannya.

Dalam beberapa menit saja, Emery sudah berpakaian lengkap. Tubuh indah dengan kaki jenjangnya terlihat begitu memikat, didukung wajah cantik dan polos dengan tatapan mematikan, sungguh perpaduan berbahaya. Rambut cokelat bergelombang panjangnya dia biarkan tergerai begitu saja. Lipstick yang sudah terhapus dari bibirnya, segera dia tumpuk dengan pulasan baru. Bibirnya kini merah merona. Dia menatap wajahnya di cermin, senyuman yang tampil di cermin itu begitu manis. Dia pun mengakui sendiri kecantikannya. Mata cokelat cerah itu pun dibingkai dengan kelopak mata yang indah. Terlebih alis matanya yang sedikit tebal, membuat wajahnya begitu indah.

"Aku bisa membunuh siapa pun dengan wajah ini," gumamnya bangga.

Beberapa saat kemudian, tiga ketukan terdengar di pintu. Emery segera tahu siapa yang berada di luar. Dia pun segera menyambar tas merah kecilnya dan melenggang keluar dari kamar. Begitu pintu terbuka, dua orang pria dengan wajah nyaris sama, tampak menyambut dengan kerutan di dahi mereka. Mereka membawa peralatan kebersihan.

"Aku akan ke mobil. Cepat selesaikan kurang dari setengah jam," perintah Emery, sebelum salah satu dari mereka membuka mulut.

Emery berjalan cepat menyusuri koridor, meninggalkan dua orang berjas hitam itu. Mereka adalah dua dari tiga ajudan kepercayaan Emery. Kyle dan Ezio, si kembar dengan paras rupawan dan jenaka. Tubuh mereka tinggi menjulang ditambah otot yang menghias dada dan perut, menunjukkan keprofesionalan mereka sebagai bodyguard. Rambut cepak hitam mereka tertata rapi, kecuali Kyle yang lebih suka rambutnya sedikit berantakan. Keduanya memiliki senyum menggoda dan ramah, mata hitam yang selalu berkilat jenaka. Namun, saat ini tatapan mata mereka terlihat tidak senang, mereka mendesah berulang kali.

"Emery sepertinya harus tahu kapan mengontrol sifat ingin membunuhnya itu. Sungguh membahayakan," ucap Ezio, menarik plastik dari dalam troli dan memasukkan mayat Olander ke dalam plastik super besar itu.

"Kau benar, tapi aku menyukai Emery yang ganas seperti itu. Aku tidak sabar menunggu kehebohan di mansion Carlistee nanti," sahut Kyle tertawa terbahak.

Ezio menatap saudara kembarnya, "Jangan lupa kita juga akan terkena hukuman. Kau tahu terakhir apa yang kita dapatkan?"

Bab 3

Kyle yang tengah membersihkan lantai segera terhenti dan menatap Ezio horor. Seolah baru saja dia menyadari sesuatu.

"Sial! Kau benar! Aku tidak ingin dicambuk lagi, Ezio!!" ratap Kyle, dengan matanya yang membulat penuh.

Ezio mendesah, dia tidak tahu kenapa Kyle bisa begitu berbeda darinya. Dia yakin ketika lahir, otak saudaranya itu terkikis sedikit. Tanpa menjawab Kyle, dia menuntaskan pekerjaan dengan cepat dan menutup troli dengan kain putih layaknya troli dari hotel.

Kyle pun memastikan tidak ada jejak apa pun yang tertinggal. Setelah mereka yakin seluruh kamar telah "bersih", mereka membawa troli keluar dari kamar dengan cepat.

Kyle segera mengeluarkan ponsel dan menekan sejumlah angka, "Kami akan ke bawah. Kau butuh bantuan?"

Terdengar suara di seberang, "Tidak, aku sudah selesai."

Kyle yakin Sebastian akan menyelesaikan tugasnya di ruang CCTV tanpa masalah. Setelah mematikan ponsel, dia segera berjalan cepat mengikuti langkah Ezio. Mereka berjalan hampir tanpa suara, hanya gemeretak troli yang melibas lantai koridor.

Di dalam mobil, Emery mengerang ketika melihat layar ponselnya. Dia dalam perjalanan pulang seorang diri dan panggilan dari kakeknya merupakan pertanda buruk. Apa mungkin pria tua itu menyadari sesuatu? Emery harus menemukan alasan bagus jika Lozardy Farhu Callistee, sang kakek, menginterogasinya.

Emery langsung turun dari mobil di garasi mansion Carlistee. Mansion megah itu berada di tengah hutan, menurut Emery, karena butuh sepuluh menit menembus jalanan tanpa penduduk untuk sampai ke mansion besar layaknya kastil itu. Meski besar, tapi Emery merasa mansion itu terlalu kecil untuk seluruh keluarga Carlistee. Bayangkan saja, tiga keluarga, putra dan putri Lozardy berada di bawah satu naungan atap. Meski sekarang masih banyak kamar kosong, tapi Emery yakin, beberapa generasi lagi, mereka harus menemukan tempat tinggal baru. Seharusnya, sejak saat ini mereka memikirkan untuk menemukan tempat tinggal, bukannya tinggal satu rumah dengan sang kepala keluarga Lozardy yang kejam. Namun, orang tua Emery selalu mengatakan jika mereka tidak bisa pergi begitu saja, mengingat bahaya yang akan mereka hadapi di luar sana, mengingat banyaknya musuh Carlistee dari kalangan konglomerat.

Emery memainkan kunci mobil di tangannya dan berjalan dengan santai memasuki mansion dan langsung menuju ruang kerja sang kakek. Bibi Amber yang melihatnya langsung berdecak.

"Bersiaplah kau, Emery. Kejahatan apalagi yang kau lakukan?" ucap Amber. Emery tersenyum, baru-baru ini bibinya itu mengganti kata 'kenakalan' dengan 'kejahatan'. Sepertinya dia memang sudah sedewasa itu. Benar, usianya tahun ini sudah dua puluh lima tahun.

"Aku baru saja mendapatkan jackpot, Bibi. Bulan depan kau akan aku undang ke peletakan batu pertama hotelku," jawab Emery, menyombongkan diri.

Amber hanya menggelengkan kepala, tapi dia mengikuti langkah Emery menuju ruang Lozardy. Seluruh keluarga harus hadir ketika sebuah masalah terjadi. Dan saat ini, Lozardy menganggap apa yang dilakukan Emery adalah masalah besar bagi mereka.

Emery memasuki ruangan, dia melihat orang tuanya sudah duduk di kursi di hadapan Lozardy, bersama dengan saudara dan sepupu-sepupunya. Dia tersenyum manis melihat sambutan menyeramkan itu. Meski tangannya sedikit berkeringat, tapi dia sangat antusias dengan situasi menegangkan itu.

"Papa, Mama!!" pekiknya melambaikan tangan serambi berjalan mendekat.

Ergio Le Carlistee dan Natasha Morgan menarik napas dalam, meski Emery putri mereka, tapi mereka sangat tahu bagaimana memperlakukan keluarga yang bersalah. Untuk itu, mereka meminta Emery tak mendekati mereka, justru menunjuk kursi "terpidana" yang saat ini kosong di hadapan Lozardy. Emery tahu itu, jadi dia tersenyum dan langsung duduk di sana. Ruangan itu mirip ruangan persidangan dengan Lozardy sebagai hakim.

Lozardy berdeham dalam, membuat suasana semakin mencekam.

"Apa yang aku dengar itu benar? Kau membawa Olander?" tanya Lozardy tanpa basa basi.

Emery langsung mengangguk. "Iya, Kakek."

"Lalu, apa yang kau lakukan padanya?"

"Aku membunuhnya. Di Hotel Heavenly," jawab Emery mantap.

Jawaban wanita itu membuat semua orang di ruangan itu mendesah.

"Kau punya alasan untuk itu?" tanya Lozardy, tenang.

"Ya, aku butuh perusahaan Olander. Tapi mereka menolak penawaranku mentah-mentah bulan lalu. Aku tidak menerimanya. Jadi, aku meminta langsung pada Olander, tapi dia membuatku kecewa," jawab Emery.

Lozardy menatap cucunya lekat, kemudian tersenyum. "Lalu, apa yang akan kau lakukan jika polisi melacak pelakunya?"

Melihat senyum Lozardy, Emery bernapas lega. Dia tahu, saat ini kakeknya hanya mengetes kesiapannya dalam menjalankan rencana. Tentu saja dia sudah mempersiapkan segalanya. Dia adalah wanita Carlistee, dia bukan wanita bodoh. Dia sudah dilatih untuk membunuh sejak dia dilahirkan ke dunia.

"Aku sudah memastikan mereka tidak akan menemukanku. Jika pun ada detektif jenius yang bisa menemukan jejakku, akan aku pastikan, hari itu adalah hari terakhirnya menghirup udara," balas Emery bangga.

Lozardy menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dan menatap Emery semakin lekat.

"Kau tahu dengan jelas siapa keluarga Cassiene. Mereka tidak akan diam saja membiarkanmu lolos setelah apa yang kau lakukan pada anak kesayangan mereka. Apa rencanamu untuk itu?"

Emery mengerjapkan mata, dia belum memikirkan hal itu. Karena....

"Aku akan serahkan pada Kakek!" balas Emery lantang.

Terang saja, semua orang kembali mendesah, seolah sudah menduga jawaban Emery. Lozardy menatap cucunya tajam. Kali ini dia tersenyum licik. Hal itu membuat Emery merinding.

"Baiklah, hukumanmu kali ini, hadapi keluarga Cassiene tanpa melibatkan aku. Aku sangat sibuk."

Mendengar keputusan Lozardy, membuat Emery cemberut. "Bagaimana kalau aku mati?"

Lozardy langsung tertawa. "Bukankah itu konsekuensi pertama yang harus kau pikirkan sebelum melakukan eksekusi?"

Emery menatap kakeknya tajam, dia bertekad akan membuktikan pada kakeknya jika dia bisa menyelesaikan ini seorang diri. Lagipula apa hebatnya Cassiene.

***

"Mereka membunuh puluhan keluarga kaya, dan keluarga kaya nomor tiga. Jika mereka membunuhmu saat ini, mereka akan lepas dengan mudah, semudah mengembuskan napas."

Sebastian, ajudan nomor satu Emery mengemukakan pengetahuannya. Pria tampan berkaca mata itu tampak tenang, tatapannya tajam, seolah mampu menarik jiwa siapa pun yang menjadi lawan bicaranya keluar. Rambut blondenya sebahu dan terikat rapi ke belakang. Jasnya tampak paling rapi di antara ketiganya. Jelas sekali penampilannya menunjukkan dia pria berpengetahuan.

Emery mengetukkan jemarinya di tepian kursi. Dia tampak berpikir. Sebelumnya dia tidak akan ambil pusing, karena selama ini kakeknya selalu berada di belakangnya. Namun, jika perlindungan kakeknya hilang, dia harus khawatir sekarang, apalagi yang dihadapi ternyata sekelas Cassiene.

"Aku harus mendapatkan perlindungan lebih," ucap Emery, seolah pada dirinya sendiri.

"Anda benar," sahut Bastian cepat.

Kyle dan Ezio tampak pucat, dan kini terbaring di sofa di kamar sang Nona. Mereka bertiga baru saja terkena hukuman cambuk 50 kali, dan hanya Bastian yang tampak tangguh. Ezio dan Kyle sudah hampir muntah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED